Beberapa waktu yang lalu, kami dapat permintaan untuk membuat training tapi nggak mau di ruang kelas, tapi syaratnya jangan di luar kota, supaya memudahkan peserta untuk datang sendiri ke lokasi training. Jadi kami harus survey ke beberapa lokasi di dalam kota Jakarta yang memungkinkan untuk outdoor training, dengan syarat lokasinya masih di dalam kota Jakarta dan cukup nyaman untuk digunakan sebagai lokasi outing training.
Sunday, May 16, 2010
Berburu Lokasi Training Outdoor
Beberapa waktu yang lalu, kami dapat permintaan untuk membuat training tapi nggak mau di ruang kelas, tapi syaratnya jangan di luar kota, supaya memudahkan peserta untuk datang sendiri ke lokasi training. Jadi kami harus survey ke beberapa lokasi di dalam kota Jakarta yang memungkinkan untuk outdoor training, dengan syarat lokasinya masih di dalam kota Jakarta dan cukup nyaman untuk digunakan sebagai lokasi outing training.
Papan Reklame Aneh

Wednesday, April 07, 2010
One Million Giraffes
Sejak lama jerapah menarik perhatian manusia, karena "fitur-fitur"nya yang luar biasa. Jerapah merupakan binatang dengan tinggi badan tertinggi yang hidup di darat. Pada waktu laksamana Cheng Ho membawa jerapah untuk dipersembahkan kepada kaisar Tiongkok, karena jerapah persembahan itu tidak bisa melewati gerbang istana, bahkan kaisar pun beranjak dari singgasananya untuk melihat binatang yang menakjubkan ini. Jerapah juga binatang yang selalu ingin tahu, perhatikan kalau di kebun binatang, jerapah di kebun binatang sering menjulurkan kepalanya untuk mendekat ke arah pengunjung.
Pada waktu saya mencari-cari informasi tentang jerapah, saya menemukan website ini : One Million Giraffe. Intinya, pemilik website ini (Ola) bertaruh dengan temannya, bahwa melalui internet dia bisa mengumpulkan 1 juta jerapah. Wow... project yang kreatif! Dan saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi menyumbang jerapah.
Inilah jerapah pertama yang saya sumbangkan buat Ola, dan masih akan menyusul jerapah-jerapah yang lain.
Sunday, February 28, 2010
Trip to Bumi Sriwijaya
Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, yang pendiriannya ditandai oleh prasasti Kedukan Bukit. Hasil interpretasi dari prasasti tersebut memperkirakan bahwa kota Palembang sudah berdiri sejak 16 Juni 682. Banyak yang menjuluki Palembang sebagai "Venesia dari Timur", karena kota ini didominasi oleh perairan. Palembang merupakan kota terbesar kedua di pulau Sumatera (setelah Medan), dan saat ini mulai berbenah untuk menjadi kota bertaraf internasional.
Sejak sebelum berangkat, survey sudah dilakukan untuk mengetahui obyek-obyek wisata unggulan di Palembang dan sekitarnya. Namun survey membuktikan adalah *sulit* untuk memperoleh informasi yang up-to-date mengenai obyek-obyek wisata di Palembang. Padahal saya berharap cukup banyak obyek-obyek menarik yang bisa dikunjungi, secara Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, dan di masa silam Palembang merupakan pusat kerajaan Sriwijaya yang sudah terkenal ke mancanegara.
Pada akhirnya, kami sempat berwisata di beberapa obyek "unggulan" di Palembang, yang walaupun belum bisa disamakan dengan obyek-obyek wisata di Yogya atau Bandung, namun cukup mewakili budaya dan ciri khas Palembang. Banyak dari obyek unggulan di Palembang merupakan wisata ziarah ke makam raja-raja Palembang, jadi karena kami tidak berniat untuk ziarah, kami mencoret tempat-tempat wisata ziarah tersebut dari daftar kami. Akhirnya dari sekian banyak pilihan wisata, kami memilih untuk melakukan wisata sejarah.
Pemberhentian pertama adalah museum Balaputradewa. Menurut info dari berbagai website, museum ini dikelola oleh Depdiknas, dan tampaknya kurang terpelihara (apalagi beberapa pemberitaan menyebutkan bahwa telah terjadi pencurian koleksi museum, ironis sekali...). Namun info-info itu juga menyebutkan bahwa koleksi yang terkait dengan kerajaan Sriwijaya disimpan di museum ini, jadi masa' sih nggak ada yang diliat sama sekali? Jadi kami memberanikan diri untuk masuk.
Waktu pertama kali masuk ke museumnya, museumnya sangat sepi sekali (kalimat ini terdengar berlebihan, namun pada kenyataannya hanya kami ber-5 pengunjung di museum itu), tidak ada penjaganya (tepatnya penjaganya baru menghampiri kami ketika mereka melihat kami sedang longok-longok di lobi museum). Setelah membeli karcis, petugas karcis cuma mengatakan supaya kami mengikuti temannya. Kita pikir temannya ini mau jadi guide, eh, ternyata cuman membukakan pintu saja, alahalah...
Ruang koleksi pertama adalah ruangan yang menceritakan tentang Melaka. Rupanya pada masa lalu, Palembang termasuk bagian dari kerajaan Melaka, jadi saat ini pemerintah negara Melaka menjalin kerjasama dengan pemda Sumsel, kemudian mereka membuat 1 ruangan berisi display foto2 peninggalan sejarah di Melaka (yang kata orang-orang pengelolaannya jauh lebih baik daripada di Indonesia, huh....). Masuk ruang koleksi yang berisi peninggalan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Palembang, gelap bo... (tepatnya lampu ruangan tidak dinyalakan) jadi aja menambah kesan spooky (padahal museum ini termasuk bangunan baru, bukan bangunan lama yang dijadikan museum). Di bagian belakang museum terdapat replika rumah limas, tapi juga cuman bisa dilihat dari luar, tidak bisa melihat dalamnya. Yah, akhirnya paling foto-foto sama patung aja deh...

Patung Budha ini merupakan salah satu bukti bahwa kerajaan Sriwijaya pernah menjadi pusat agama Budha di Asia Tenggara.

Ini patung orang naik gajah, salah satu peninggalan era megalitikum di Palembang. Masyarakat menganggap patung ini merupakan bagian dari legenda Si Pahit Lidah, di mana siapa pun yang dikutuk olehnya akan berubah menjadi batu. Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini.
Mau nggak mau akhirnya kami membandingkan dengan museum sejenis seperti Museum Sri Baduga (Museum propinsi Jawa Barat) wah, jauh banget... selain suasana museum Sri Baduga yang lebih terang benderang dan koleksinya juga lebih beragam, kami menemukan banyak anak sekolah yang (sepertinya) mendapat tugas dari sekolah dan melihat-lihat koleksi museum (padahal waktu itu hari Minggu, dan tidak terlihat ada rombongan karyawisata dengan sekolah). Belum lagi museum juga dijadikan tempat berbagai event, jadi museumnya cukup rame. Mungkin faktor lokasi yang kurang menguntungkan juga sangat berpengaruh, karena museum Balaputradewa ini tidak terletak di tepi jalan protokol.
Pemberhentian berikutnya adalah museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Museum ini dikelola oleh Pemda, dan menempati bangunan tua dan antik bekas kantor residen pada masa kolonial Belanda. Konon kabarnya lokasi tempat berdirinya bangunan ini merupakan situs bekas Benteng Kuto Lamo yang merupakan keraton tempat Sultan Palembang bertahta, yang dibumihanguskan oleh Belanda, untuk kemudian dibangun lagi menjadi bangunan yang kita lihat sekarang. Museumnya jauh lebih kecil daripada Balaputradewa, dengan koleksinya yang kurang lebih sama : replika prasasti, barang-barang kebudayaan Sumatera Selatan, dan sejarah kesultanan Palembang. Tapi kalau kita mencoba mencari di search engine, museum ini jauh lebih populer dibandingkan museum Balaputradewa (531000 entry untuk "museum SMB II", dibandingkan 2450 entry untuk "museum Balaputradewa").

Secara lokasi, museumnya memang jauh lebih mudah ditemukan, karena terletak sangat dekat dengan jembatan Ampera dan Monpera sebagai landmark utama kota Palembang. Kemudian penjaga museumnya lebih mudah ditemukan, sehingga kami tidak kesulitan untuk bertanya dan beli karcis. Suasana di dalam museum pun tidak menyeramkan, karena penerangan lampu yang cukup. Selain itu museum ini juga banyak pengunjung, yang walaupun tidak sepadat museum Geologi di Bandung, namun cukup untuk membuat suasana tidak terlalu sepi.
Di sisi kanan museum terdapat Benteng Kuto Besak, yaitu benteng pertahanan buatan Belanda, yang juga menjadi salah satu landmark kota Palembang. Benteng ini dibangun oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1780 selama 17 tahun. Sayangnya, benteng ini tidak dibuka untuk umum, karena digunakan untuk kantor Kodim. Kalau melihat sisi benteng yang menghadap Sungai Musi, tampilannya sih oke. Tapi kalau melihat sisi benteng yang menghadap Jl. Rumah Bari / Kantor Ledeng, halah... mbok ya temboknya itu dicat... abis keliatan dekil... :(

Kami juga sempat mengunjungi Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) di daerah Bukit Siguntang dan Bukit Besar, yang diduga merupakan situs pusat kerajaan Sriwijaya, karena di daerah tersebut banyak ditemukan benda-benda peninggalan sejarah. Kalau lihat penjelasan di website dan informasi di hotel, sepertinya Taman Purbakala ini menarik untuk dikunjungi. Tapi kalau menurut supir rental mobil yang kami tanya (dan keterangan dari pelaku wisata yang pernah mengunjungi Bukit Siguntang), katanya kok cuman tempat pacaran aja. Ah, udah sampai Palembang kok nggak nyobain ke situ...
Ternyata... apa yang dikatakan supir rental mobil itu benar adanya... (hiks...) Di TPKS Bukit Siguntang, kami cuman melihat pohon dan pohon (dan orang pacaran...). Memang ada makam Putri Kembang Dadar, tapi karena kami tidak berniat wisata ziarah, jadi kami juga nggak berziarah ke makam keramat tersebut. Tidak ada keterangan atau tanda-tanda yang menunjukkan bahwa tempat itu merupakan tempat menemukan peninggalan sejarah. Ato paling nggak mereka menaruh replika prasasti atau patung di tempat semula ditemukan. Sayang banget... Pada akhirnya, tempat ini bisa berfungsi sebagai "hutan kota", lumayan lah...
Di Bukit Besar (daerah Kedukan), kita malah disambut dua acara pernikahan. Wow... kondisinya kurang lebih sama seperti TPKS Bukit Siguntang, yang kelihatan hanya pohon dan pohon (dan tamu-tamu undangan pernikahan). Sebenarnya kami melihat bangunan museum Sriwijaya, tapi kok tutup dan kaya nggak terawat gitu? Gak jadi (lagi) deh... Tanpa sadar saya membandingkan kondisi ini dengan kondisi Candi Borobudur dan Candi Prambanan (serta candi-candi lain di Jateng dan DIY) sebagai situs bekas kerajaan Mataram Hindu, kok pengelolaan situs sejarah ini nggak bisa seperti candi-candi itu ya? Sayang aja, mengingat Sriwijaya merupakan negara besar yang sudah terkenal ke mancanegara, namun di tempat di mana diduga merupakan letak kerajaan Sriwijaya tersebut malah tidak bisa "mengangkat" kembali kebesaran Sriwijaya tersebut.
Wisata lain yang juga menjadi andalan kota Palembang dan sangat menarik untuk dicoba adalah wisata Musi. Sungai sepanjang 750 km yang membelah kota Palembang ini merupakan sungai terpanjang di pulau Sumatera, dan juga berperan sebagai sarana transportasi. Di atas sungai Musi membentang jembatan Ampera sebagai sarana menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir dari kota Palembang. Jembatan ini juga menjadi landmark kota Palembang. Jembatan ini dibangun pada tahun 1962 atas prakarsa Bung Karno, dan semula diberi nama Jembatan Bung Karno. Pada masa itu, jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Namun pada masa awal orde baru, jembatan ini berganti nama menjadi Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera). Pada awalnya badan jembatan ini bisa diangkat sehingga kapal besar bisa melintas di bawahnya, namun sejak tahun 1970 tidak pernah diangkat lagi karena mengganggu lalu lintas. Untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan beban jembatan Ampera, saat ini terdapat Jembatan Musi II, dan rencananya akan dibangun juga Jembatan Musi III.
Di depan museum SMB II terdapat dermaga Benteng Kuto Besak, di mana kalau kita ingin wisata menyusuri sungai Musi, banyak tukang perahu yang menawarkan kapalnya. Selain itu Pemda Sumsel juga menyediakan KM Putri Kembang Dadar yang melayani wisatawan untuk menyusuri sungai Musi setiap Sabtu, Minggu dan hari libur nasional, dengan harga tiket Rp 70.000 per orang. Waktu mendarat di Palembang, sebenarnya kami ingin langsung naik KM Putri Kembang Dadar, namun ketika menghubungi petugasnya, rupanya kapalnya sudah dicarter oleh salah seorang pejabat negeri ini yang merupakan putra daerah Sumatera Selatan. Yah, suds lah... sering-sering aja ya Pak, biar tamu-tamu dan teman-temannya makin kenal Palembang dan sungai Musi, hehehe...Akhirnya, 2 hari kemudian kami berkesempatan juga naik kapal ini. Naik KM Putri Kembang Dadar, banyak hal menarik yang ditemukan, antara lain rumah rakit yang menjadi pemukiman penduduk, PT Pusri, pelabuhan, Kompleks Perumahan Pertamina Bagus Kuning, dan pulau Kemaro (sayangnya kapal KM Putri Kembang Dadar tidak bisa merapat di pulau Kemaro, jadi kalau mau ke pulau itu disarankan untuk memanfaatkan jasa sewa perahu perorangan berupa kapal kayu atau speedboat dari dermaga Benteng Kuto Besak). Hal menarik lainnya adalah kita bisa melihat bahwa masih banyak masyarakat di Sumsel yang memanfaatkan sungai Musi sebagai sarana transportasi. Kami melihat beberapa kapal tradisional mengangkut bahan makanan, termasuk gas LPG dalam tabung 3 kg, dalam kapal-kapal tersebut.



Wisata lain yang wajib dicoba di Palembang adalah wisata kuliner. Mulai dari pempek sebagai makanan khas Palembang, mulai dari kapal selam, lenjer, adaan, pistel, dan pempek keriting. Belum lagi "kawan-kawan"nya pempek : model tekwan, laksan, celimpungan, burgo, dlsb. Banyak jenis pempek yang tidak bisa dibawa sebagai oleh-oleh jarak jauh, jadi cara menikmatinya ya harus makan di tempat. :) Kemudian ada mie celor, dengan mie yang besar-besar berkuah dan diberi udang. Ada juga sambal tempoyak, tapi unfortunately kami nggak doyan duren, maaph ya... Ada juga martabak Har, yang isinya fully egg (sangat beda dengan martabak telur yang kita kenal), bisa milih mo telur ayam atau telur bebek. Jangan lupa juga mencoba es kacang (merah), hmmm...
Yang top markotop adalah masakan pindang dari berbagai daerah Sumsel (ada 4 macam pindang : Palembang, Musi Rawas, Meranjat, Pegagan) yang bisa diperoleh warung sederhana di pinggir jalan Kertapati-Indralaya, sampai ke restoran besar seperti RM Sri Melayu di Jl. Lebar Daun. Pindang ini bisa dibuat dari ikan (biasanya ikan patin), daging (disebut pindang tulang), ato udang. Kalau belum makan pindang di Palembang, hmmm.... belum lengkap bo!
So, where will we go for the next trip??
Saturday, December 05, 2009
mBatik is ... fun!!!
Setelah sekian lama ditawari untuk ikut kursus mBatik (dan tiap kali tidak jadi ikut karena alasan kesibukan... alasan yang klise, tapi unfortunately itu adalah fakta...), akhirnya tanggal 6 Desember 2009 kemarin saya berkesempatan untuk ikut kursus Mbatik Yuuk yang diberikan oleh ibu Indra Tjahjani.
Dari segi teori, sebelum ikut kursus, saya cukup tahu proses pembuatan batik secara tradisional, mulai dari mencuci kain-pemberian malam-pewarnaan-dijemur-malamnya dikerok-diberi malam lagi-diwarnai lagi-dijemur lagi-malamnya dikerok lagi-dst. Kemudian untuk jenis-jenis batik, saya juga cukup familiar, mengingat keluarga kami adalah penggemar batik.
Namun dengan ikut kursus ini, saya merasakan banyak manfaat, selain kita bisa mendapat tambahan pengetahuan tentang batik, tujuan utamanya adalah merasakan sendiri bagaimana menggunakan canting untuk membubuhi malam pada pola di kain, kemudian melihat proses pewarnaan, dan diperoleh hasil akhir berupa kain yang jadi batik.
Sebelum workshop dimulai, bu Indra memberikan sedikit presentasi tentang batik, apa yang dimaksud dengan "batik". Jadi yang namanya "batik" itu sebenarnya bukan sekedar motifnya, tapi juga proses pembuatannya. Namun dengan perkembangan jaman, ditemukan inovasi baru, dan tidak hanya motifnya yang berkembang, namun proses pembuatannya pun dimodifikasi, membuat batik dapat dikenakan oleh berbagai kalangan. Selain itu, proses membatik juga bisa dijadikan sebagai proses "meditasi", di mana untuk dapat menghasilkan karya yang baik diperlukan ketenangan dan konsentrasi.
Setelah selesai presentasi, maka workshop dimulai. Peserta membatik di atas kain yang sudah diberi pola oleh bu Indra dan tim. Kalo liat teorinya, kaya'nya gampang aja membubuhkan malam di atas kain. Ternyata sama sekali tidak... memakai canting itu ternyata perlu kesabaran, ketelatenan dan kemahiran. Soalnya, salah sedikit, garisnya nggak rata. Miring sedikit, malamnya netes ke kain, menodai pola yang indah! (Huaaa!!) Belum lagi kalau secara tidak sengaja malamnya terciprat ke tangan, wah, panas euy. But it was fun... really fun... apalagi setelah diberi warna dan terlihat hasil akhirnya, waaa... gak nyangka ya... gue bisa membatik... (tapi soal skill sih pasti masih kalah jauh sama para pengrajin tradisional, bayangkan saat mereka membuat batik tulis motif truntum, kaya' apa ya...).
Setelah merasakan sendiri proses membatik yang baik dan benar, saya semakin sadar bahwa betapa sulitnya menghasilkan batik yang sangat halus dengan motif yang indah. Untuk itu mari kita menghargai para pengrajin batik tulis, betapa mereka sangat ahli dan telaten untuk dapat menghasilkan sebuah kain batik yang indah.
Wednesday, November 11, 2009
Samgyetang oh Samgyetang
Salah satu makanan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah Samgyetang alias sup ayam ginseng. Pertama kali makan Samgyetang adalah waktu city tour di Seoul. Waktu tour guidenya bilang bahwa satu orang akan dapat ayam satu ekor, kok besar ya... udah gitu gak kebayang kaya' apa rasanya, sup ayam dimasak pakai ginseng. Tapi setelah melihat barangnya dan mencicipi rasanya, hmmm... mak nyusss... uenak tenan...
Di waktu yang lain, saya akhirnya mampir ke counter Han Gang Kitchen, dan mencoba Samgyetang yang dijual di situ (kebetulan harganya relatif gak mahal, "cuman" 40 ribu-an per porsi). Pas hidangannya keluar... alamak! (ya iya lah... harga segitu kok mintanya seperti yang asli...) Penampakannya seperti foto di bawah ini.

Sekarang, kita bandingkan dengan versi originalnya :
Klo di versi original, ayamnya satu ekor utuh, terus nasinya agak lengket, jadi gampang disendok. Kuahnya lebih kaya' kuah opor, tapi putih. Kemudian selain ginseng, kita juga menemukan chestnut di dalamnya. Selain itu, kita juga dikasih soju, minuman (wine) khas Korea, yang katanya sih untuk menghilangkan bau amis ayamnya (padahal sih nggak terlalu amis). Katanya kalau nggak mau diminum, boleh dicampurkan ke kuahnya. Aku sih memilih nggak mencampur ke kuah, takut rasa kuahnya hilang. Tapi pas ngicipin sojunya, alamak... soju-nya lumayan "keras" bo...


Sunday, October 18, 2009
Barang Handicraft di Korea
Korea sangat terkenal dengan kerajinan jahit menjahit. Di majalah di pesawat, saya sempat baca bahwa ada ungkapan di Korea, seorang wanita Korea (tradisional) seumur hidupnya akan menjahit dan menjahit. Ungkapan itu tidak berlebihan adanya, karena hampir semua oleh-oleh khas Korea yang dijual di toko umumnya terbuat dari kain, dan dihias dengan teknik jahit tindas (quilt) atau bordir. Termasuk di antaranya adalah gantungan HP yang bentuknya macam-macam dan dibuat dalam aneka warna.
Waktu ada kesempatan jalan-jalan di Seoul, saya sempat menemukan satu toko grosiran benang rajut di pasar Namdaemun. Suasana pasarnya mengingatkan saya pada Pasar Asemka, jadi toko itu mungkin setara dengan toko Sunflower. Iseng-iseng saya tanya sama yang jual berapa harga benang rajutnya (sambil harap-harap cemas, apakah penjaga tokonya bisa bahasa Inggris...), dia bilang segulung 10.000 won (kalau di-kurs kira-kira Rp 80.000,-). Yah... klo harganya segitu, mendingan beli di tanah air, harganya sama aja, dan gak bikin muatan koper tambah penuh... (hikmah lainnya yang bisa saya ambil : cintailah produk dalam negeri Indonesia!)
Namun saya cukup beruntung, karena menjelang kembali ke Jakarta, kami sempat mampir di toko buku, dan saya dapat buku kristik berbahasa Korea yang harganya 15.000 won (dikurs sekitar Rp 120.000,-, masih lebih murah dibandingkan buku-buku di Kinokuniya, mengingat buku yang saya dapat lumayan besar dan tebal), itu pun dikorting lagi menjadi 5.800 won (sekitar Rp 47.000,-). Setelah sampai di rumah dan saya lihat-lihat lagi, rupanya bukunya dikorting karea di bagian belakang ada pola yang terlipat, di situ rupanya robek. Padahal robekannya di bagian yang kosong (jadi tidak mengganggu gambarnya), sementara bagian dalam bukunya saya lihat mulus-mulus aja. Lumayan...
Ada hal yang menarik yang saya temukan. Di asrama tempat kami menginap di Ansan, beberapa mobil menggantung hiasan kristik di kaca depan mobilnya, tepatnya di pojok kiri (kalau dilihat dari dalam mobil). Tadinya saya pikir untuk gaya-gayaan aja, sampai saya melihat ada sederet angka, dan angkanya beda-beda tiap mobil. Begitu saya bandingkan dengan mobil lain yang tidak menggantung hiasan kristik, rupanya di tempat yang sama terpasang stiker dengan sederet angka, mungkin itu semacam stiker langganan parkir atau apa lah. Ohhh... lucu juga ya...
Tuesday, August 18, 2009
"Merah-Putih" : Nasionalisme vs. Hollywood
Tanggal 17 Bulan 8 Tahun 2009, aku memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dengan menonton film Merah Putih. Sejujurnya, salah satu alasan utamaku menonton film ini adalah karena yang main adalah Lukman Sardi (sambil ngebatin terus menerus, duh, dia main jadi apa lagi ya???). Selain itu, pengen tahu juga tentang film ini, secara menurut saya film ini termasuk salah satu terobosan yang cukup berani, dengan menampilkan film bertema perjuangan di antara film-film horror dan komedi gak jelas yang saat ini merajai bioskop di Indonesia.Setelah menonton filmnya, ternyata... tidak seperti yang dibayangkan (Eits, ini tidak berarti sesuatu yang negatif!). Mungkin karena referensi film perjuangan yang dulu saya tonton adalah film seperti Janur Kuning, ato karena udah sempet tahu bahwa film ini diilhami oleh Peristiwa Lengkong pada tahun 1946 (which is sebenernya tidak ada kaitannya dengan alur cerita film), atau aku juga (terlanjur) berusaha mencocokkan kejadian di film Merah Putih dengan catatan sejarah bangsa Indonesia pada masa itu, jadi filmnya tidak cocok dengan praduga awalnya. Beberapa hal yang cukup mengganggu bagiku antara lain :
(1) Pada jaman itu, tentara di Indonesia sudah bersatu dalam wadah Tentara Nasional Indonesia (tepatnya 3 Juni 1947), jadi saat Tomas diusir oleh petugas pendaftaran dan disarankan untuk pindah ke kelompok Tentara Sipil... hmmm... ada ya kelompok Tentara Sipil? Bukannya k'lo sipil itu udah pasti bukan militer? Mungkin buku sejarahnya harus sama-sama dibuka lagi...
(2) Di dalam catatan sejarah Indonesia, rasanya Tentara Belanda tidak pernah menang kalau perang melawan gerilya di dalam hutan. Belanda itu hanya menang dalam pertempuran frontal (e.g. Puputan Margarana), ato di meja perundingan (bahkan mereka "menunggangi" Sekutu waktu mau masuk Surabaya, ya tho?). Kalau di film ini digambarkan Tentara Belanda bisa menghabisi seluruh pasukan Mayor Taufik di hutan dan menyisakan 4 pemeran utama saja... kaya'nya tentara kita nggak segitunya deh.
(3) Pas udah sampe' rumah, baru aja mau cerita apa yang ditonton, rupanya bokap memperhatikan pada waktu melihat preview filmnya di TV, properti yang dipakai tidak sesuai dengan apa yang dipakai tentara Indonesia pada masa itu. Memang betul senjatanya berasal dari jaman Perang Dunia II, tapi tentara Indonesia belum punya, maklum... masih pake' senjata peninggalan/rampasan dari Jepang...
Tapi rupanya semua itu bisa dijelaskan oleh Yadi Suganda, sang sutradara. Rupanya memang baik ceritanya maupun properti pendukungnya di-fiksi-kan, sehingga para pembuat film tidak perlu melakukan riset yang sangat teliti, dan memungkinkan untuk melakukan berbagai "pelanggaran legal" tanpa mengurangi nilai ceritanya (dan mudah-mudahan lanjutan sequelnya gak terlalu melenceng juga dari sejarah, aamiin).
Mengutip pernyataan Darius Sinathrya, pemeran Marius, yang bangga dan kecewa untuk film ini, aku sepakat dengan Darius. Bangga karena pada akhirnya ada yang membuat film dengan tema perjuangan dan nasionalisme, sedikit kecewa karena... ya itu, kok idenya, pembuat ceritanya, bahkan sampai tim produksinya banyak yang "produk impor", padahal di negeri kita ini dari jaman baheula sampai saat ini sangat banyak insan perfilman yang mampu membuat film yang sangat berkualitas.
Kembali ke Yogyakarta
Waktu aku berjalan kembali menuju alun-alun utara, di sisi kiri terlihat ada Museum Kareta Karaton (demikian yang tertulis di papan namanya). Masuk dulu ahhh... (sebenarnya yang membuat tertarik bukan keretanya, tapi karena ada 2 patung kepala kuda di pintu masuk museum...). Tapi walaupun museumnya kecil (lebih tepatnya museum itu adalah "garasi"nya kereta milik kraton), isinya luar biasa... keretanya antik-antik, sambil membayangkan di masa lalu kereta itu diimpor dari Eropa, kemudian digunakan untuk pelesir, ato untuk upacara.
Pas mau keluar, ada delman lagi parkir di halaman museum. Eh, kok ada ibu-ibu penjual minuman menawarkan barangkali aku mau foto sama delmannya. Eh lah kok aku meng-iya-kan... untung mas-mas kusirnya baik, dia mau mengambilkan foto, jadilah aku foto dengan delman (dan jaran, eh, kuda-nya...).
Dalam perjalanan pulang ke Jakarta via bandara Adisucipto, rupanya diriku berkesempatan "mencicipi" pesawat 737 seri 800 NG keluaran terbaru milik Garuda. Jarak antar kursinya sebenarnya lebih sempit dibandingkan 737 seri 300, 400 ato 500 yang biasa dipake' Garuda, tapi ada TV-nya di masing-masing tempat duduk... tapi aku "gak sempat" menikmati TV-nya, soalnya ternyata yang duduk di sebelahku adalah kakak kelasku yang sempat nyanyi bareng di ITB Voice Night, lebih seru ngobrolnya tho daripada acara TV-nya...
Kapan ya ke Jogja lagi...
Wednesday, June 17, 2009
Star Trek XI : Pro dan Kontra
Star Trek XI : The Future Begin mulai main di bioskop-bioskop di Indonesia sejak 9 Juni 2009. Dan di luar dugaan, "nasib"nya jauh lebih baik daripada "pada pendahulu"nya, reaksi publik sangat positif, karena selama beberapa minggu film ini tayang di bioskop, studio bioskop selalu terisi penuh, bahkan di hari kerja sekalipun. Entah apa yang membuat orang berminat untuk menonton, apakah karena penasaran (mengingat promonya yang sedemikian gencar), bosan dengan film yang "itu-itu aja", atau karena memang sudah lama merindukan kelanjutan dari Star Trek sejak terakhir Star Trek X beredar (dan saya cukup yakin dari sekian banyak penonton, mungkin maksimal hanya 40% yang beneran Trekker atau Trekkies, sisanya ya temen-temennya... :-) )Dari berbagai review (dan spoiler) di milis Star Trek Indonesia, banyak yang pro, kontra, ataupun dua-duanya. Yang pasti, semua membandingkan film ST XI ini dengan serial dan film Star Trek yang universe-nya sudah dikenal sejak dulu. Bagi saya pribadi, secara sinematografis filmnya bagus (sangat mungkin ini yang bikin orang non-Trekker/non-Trekkies bisa menikmati filmnya). Dari ceritanya pun lumayan lah, gak terlalu berat sampai harus mikir, tapi gak terlalu cetek alias murahan. Dan yang lebih penting, ceritanya memang pantas untuk dijadikan film layar lebar.
Tapi k'lo dibandingkan dengan Star Trek Universe yang sudah dikenal sebelumnya... I miss so many things! Satu hal besar yang hilang dari film ini adalah "nyawa" Gene Roddenberry, orang yang bertanggungjawab atas lahirnya Star Trek. Sekian puluh tahun saya menonton Star Trek (bahkan hingga serial dan film yang dibuat saat Gene Roddenberry sudah tiada), "nyawa" itu selalu ada. Kalau kita simak baik-baik, Star Trek mencerminkan cita-cita Roddenberry akan sebuah alam semesta yang (hampir) ideal, di mana hampir semua serial dan film Star Trek menggambarkan tentang bagaimana nilai-nilai kemanusiaan berhadapan dengan semua permasalahan di alam semesta. Dan nilai ini nyaris hilang di film ST XI, yang bagi saya, akhirnya membuat ST XI lebih terlihat seperti film action (yang, sejujurnya, terlihat *sedikit* lebih sadis dibandingkan film-film Star Trek sebelumnya). But nothing wrong with that. Di beberapa artikel, JJ Abrams, sutradara ST XI memang menyatakan bahwa ia kurang menyukai membuat film yang slow pace, maka dia membuat ST XI dengan gaya yang cepat.
Saya juga sempat membaca sinopsis/spoiler dari Internet Movie Data Base, dan sekilas saya sempat "berburuk sangka", jangan-jangan nanti filmnya malah jadi seperti Star Wars, ups... Star Trek is not equal to Star Wars! Tapi setelah menonton sendiri filmnya, untungnya prasangka saya tidak terbukti... ST XI masih tetap sebuah "film Star Trek", karena (menurut saya) karakter, cerita dan dialog-dialognya masih "Star Trek banget".
Memang untuk jalan ceritanya, mungkin banyak yang mempertanyakan, kok kaya'nya beda sama 'universe' Star Trek yang kita kenal selama ini. Namun setelah membaca berbagai argumen, akhirnya saya menyetujui suatu kesimpulan bahwasanya ST XI ini bukan merupakan prequel dari ST:TOS yang kita kenal selama ini, tapi merupakan alternate universe, dan itu sah-sah aja siy.
Nonton ST XI juga membangkitkan banyak kenangan dari serial dan film Star Trek sebelumnya (walaupun mungkin hanya para Trekkers/Trekkies yang punya kenangan akan hal ini). Banyak adegan yang mengingatkan kita pada karakter di ST:TOS (Star Trek : The Original Series) atau dialog atau kejadian dari film-film sebelumnya. Misalnya saja ketika Kirk bertanya pada Sulu dia bisa berkelahi dengan apa, Sulu menjawab dia bisa main anggar (this one is funny, karena mengingatkan saya pada adegan Sulu di ST:TOS yang bermain anggar saat terjangkit virus). Dialog paling te-o-pe yang membuat saya mengenang kembali film-film Star Trek sebelumnya adalah dialog ketika Ambassador Spock (Leonard Nimoy) di planet bersalju berhadapan dengan Kirk (Chris Pine) yang tidak percaya bahwa Kirk dan Spock (akan) bersahabat baik : "I will, and always be your friend." Kalimat ini pernah diucapkan Spock (Leonard Nimoy) kepada Kirk (William Shatner) di Star Trek II, ketika Spock mengorbankan diri untuk memperbaiki warp core Enterprise NCC 1701 agar bisa melarikan diri dari ledakan pesawat Khan.
Yang kata orang-orang masih belum 'pas' adalah karakternya, karena katanya masih kurang mirip dengan karakter di ST:TOS yang asli. Well... secara yang main udah beda gitu loh, selain pastinya gak gampang, mungkin juga emang karena permintaan sutradara... Yang main Kirk (Chris Pine) dan Spock (Zachary Quinto) dari segi fisik lumayan mirip lah, k'lo dari segi karakter, Kirk-nya cukup 'Kirk' (cukup banyak adegan berkelahi dan wanita... hehehe...), cuman untuk Spock jadi agak terlalu emosional, karena as far as I know, Spock itu Vulcan yang selalu berusaha nunjukin bahwa dia itu logis banget, walaupun sesekali ditunjukin juga pergolakan emosinya dari sisi manusianya (mungkin ini yang mau diangkat sama sutradaranya). Yang paling gak mirip dari segi fisik adalah McCoy (perasaan Dr. Mc Coy di ST:TOS gak terlalu tinggi dan kecil, kok di ST IX dia tiba-tiba tinggi dan berbodi ya? Tapi kesinisannya sih dah lumayan mirip). Yang agak berlebihan mungkin Pavel Chekov (rasanya Chekov dulu logatnya gak berlebihan seperti itu, udah gitu secara fisik gak mirip), but I have to admit that he gives the fun side of the movie! Sedangkan yang karakternya paling nggak sama dari karakter aslinya adalah Montgomerry Scott, di mana Scotty-nya kurang Inggris banget... (no bloody 'bloody'...).
Ada beberapa fakta menarik di film ST XI ini :
1. Randy Pausch (alm), dosen yang terkenal dengan The Last Lecture, mendapat 1 peran figuran sebagai salah satu kru USS Enterprise
2. Christopher Doohan, putra dari James Doohan (alm.), pemeran Scotty, ikut main dalam film ini
Trivia-trivia lainnya bisa dilihat di sini.
Kesimpulannya, secara keseluruhan, film ini cukup bagus (4 dari skala 5), jadi kalau ada yang mau mengajak saya nonton lagi, boleh lah...
Friday, May 22, 2009
Oleh-oleh dari Gunung Kareumbi
Perjalanan dimulai dari Jakarta, masuk tol Cikampek-Purbaleunyi, dan keluar di pintu tol Cileunyi. Dari pintu tol itu kita menuju ke arah Cicalengka, kira-kira pada jarak 11 km dari pintu tol Cileunyi, ada tanda jalan menuju Curug Cindulang (rambunya cukup besar), kita belok ke arah Curug Cindulang. Jarak dari jalan raya Cicalengka ke kawasan Gunung Kareumbi kurang lebih 12 km, jadi kita akan melewati Curug Cindulang.
Kondisi jalan saat memasuki belokan ke Curug Cindulang lumayan bagus, hanya jalannya agak sempit, sehingga kalau 2 mobil berpapasan harus cukup sabar untuk saling bermanuver. Menjelang masuk ke kawasan Gunung Masigit-Kareumbi, jalan mulai berbatu, dan sinyal telpon seluler mulai hilang (sangat cocok bagi mereka yang mau menghilang sejenak dari keriuhan komunikasi), kecuali dari ProXL (itu pun katanya hanya di beberapa titik).
Kalau kita melihat sekilas di kawasan hutannya, kelihatannya pohonnya cukup rimbun, namun menurut keterangan beberapa pihak, masih ada beberapa titik gundul akibat illegal logging di masa lalu yang harus dihijaukan. Beberapa pihak bahkan sudah mulai ikut menghijaukan beberapa bukit secara massal, sebut saja ada hutan BNI dan bukit TOP (alumni sekolah St. Aloysius, Bandung). Banyaknya peminat ini membuat pengelola menjadi sedikit kewalahan sekaligus senang, karena berarti mereka harus menyediakan bibit dalam jumlah cukup untuk memenuhi permintaan tersebut. Kita juga bisa ikut serta dalam program Baby Tree ini dengan biaya Rp 50.000 untuk setiap pohon yang akan ditanam. Biaya ini akan digunakan untuk pemeliharaan setiap bibit pohon selama 5 tahun, sejak bibit pohon ditanam hingga pohon mencapai usia aman.
Thursday, April 16, 2009
Bangun Pagi Murah Rejeki!
Hari ini saya berencana untuk membeli beberapa barang elektronik "titipan", dan setelah malam sebelumnya saya browsing dan survey mengenai keberadaan dan harga barang tersebut, saya memutuskan untuk membelinya di mall Ambasador.
Kendala pertama yang saya temui adalah : saya datang kepagian! Yah, berhubung jam kantor saya di Simprug dimulai pukul 7, jadi pukul 7 lebih dikit saya sudah sampai di kantor klien di Kramat dan dengan sukses menemui beberapa klien saya. Setelah urusan dengan klien sudah selesai, dalam perjalanan pulang ke Simprug saya "mampir" ke mall Ambasador. Ternyata jam 9 pagi di mall Ambasador, tokonya masih pada tutup, gelap bo... untung resto Chow King sudah buka dan menyediakan menu sarapan, jadi sambil menunggu jam 10 (di mana aktivitas mall dimulai) saya nongkrong dulu di Chow King.
Jam 10, rupanya belum semua toko pada buka (bahkan ada satu toko baju yang saya sempat hampiri karena pintunya terbuka, penjaganya 'mengusir' saya dan berkata toko belum buka, ealah...), jadi mampir dulu deh ke Trimedia. Dari Trimedia, saya melihat masih banyak toko-toko elektronik (baca : toko komputer dan toko handphone) yang belum buka. Di beberapa toko yang sudah mulai buka, saya mulai survey-survey sedikit mengenai keberadaan barang yang sedang saya cari. Dan ternyata, toko yang kemarin saya survey di internet belum ada yang buka! Akhirnya saya 'mendarat' di salah satu toko (toko ini tidak ada di list saya), dan saya mendapat salah satu barang yang saya cari dengan harga yang ekonomis! Yah... saya pikir kami berdua sama-sama beruntung, saya dapat barang dengan harga ekonomis, toko itu dah dapat penglaris pagi-pagi. Coba dia belum buka, pasti saya nggak jadi beli di situ dech... Sambil menunggu barangnya diproses, saya nanya-nanya, kok toko yang lain belum buka? Para penjaga toko itu bilang, kalau toko-toko lain ada yang baru buka jam 12. Lah... masa' aku disuruh nungguin dia buka?? Capek deh... mending cari di toko lain!
Saya jadi terpikir, toko tempat saya beli barang itu sungguh beruntung, karena dia buka pagi-pagi, jadi saya bisa beli di toko dia. Terbukti memang kata para sesepuh, "bangun pagi murah rejeki"... gak cuman toko dapat pembeli, kita juga terhindar dari macet, masuk kantor tidak telat, ketemu klien juga bisa lebih santai dlsb dlsb.
(tapi... susah banget ya untuk bangun pagi-pagi... :P)
Monday, March 09, 2009
Opera Ganesha Dies Emas ITB 2009
Setelah setahun 'vakum' dari dunia entertainment dan lebih banyak berkutat di dunia proyek (halah!), akhirnya tanggal 8 Maret 2009 ini saya 'manggung lagi bersama PSM ITB, kali ini untuk acara Opera Ganesha, dalam rangka Dies Natalis Emas ITB.Banyak yang bertanya-tanya, kok ITB umurnya baru 50 tahun? Padahal katanya udah berdiri sejak 1920?? Jadi begini : pendidikan tinggi teknik di Indonesia memang dimulai tahun 1920, dengan berdirinya jurusan Teknik Sipil di kampus Ganesha 10. Jadi, kampus di Jl. Ganesha No. 10 itu memang sudah sejak 1920, tapi resmi bernama Institut Teknologi Bandung sejak tahun 1959, begicu...
Opera yang judulnya Opera Ganesha ini temanya adalah "Napak Tilas Gajah Kencana Meniti Kala", alias perjalanan gajah emas dari waktu ke waktu. Pengisi acaranya umumnya para mahasiswa, yang tergabung dari berbagai unit kesenian, termasuk angklung, seni tari & karawitan, kesenian Minang, marching band, orkestra, dan juga paduan suara. Ini pun masih ditambah dengan orkestranya kang Purwacaraka. Secara singkat, Opera ini isinya adalah tentang 'gajah', karena baik kostum maupun properti yang digunakan oleh para penari malam itu bertema gajah (mulai dari gagajahan, gajah lumping, dan semua penari mengenakan topeng gajah). Jadilah, malam itu Sasana Budaya Ganesha penuh dengan 'gajah-gajah berwarna emas' menari di atas panggung (hmm... I wonder, barangkali Way Kambas pas tanggal 8 Maret 2009 itu kosong melompong, karena gajahnya dipanggil semua ke Bandung, hwehehe...).
Sebagai (mantan) penari dan penyanyi, saya salut kepada semua pengisi acara (orkestra, musik tradisional, penari, dlsb), secara umum penampilannya lumayan banget (nilai 8 dari skala 10), bisa dibilang tidak ada 'kecelakaan' selama penampilan, walaupun latihannya dah mepet banget. Terutama salut kepada para penari, yang siangnya sempat (atau 'terpaksa'?) gladi bersih sampai 2 kali, cuman beberapa jam sebelum tampil! Staminanya bol-jug, euy! Tapi di satu sisi, saya kasian juga ama penarinya, udah tampil keren, tapi sepanjang pertunjukan harus pakai topeng gajah... duuh...
Tapi saya merasa bahwa Opera-nya sendiri tidak terlalu berkesan. Konsep Opera-nya kaya'nya kurang mantap, soalnya instead of 'perjalanan gajah kencana meniti kala', aku malah melihat ceritanya cuman seputar "gerakan mahasiswa", dan terkesan terlalu menonjolkan jaman-jaman kejadian era tahun 1970-an (a.l. peristiwa Rene Conrad dan saat tentara masuk kampus 1978). Bagi saya pribadi, ITB bukan cuman 'Rene Conrad' dan 'Buku Putih', ITB itu jauh lebih besar daripada itu! Udah gitu, biarpun judulnya 'Opera', tapi ternyata yang dapet porsi sangat besar adalah tim orkestra dan penari. Jadi ada juga penonton yang bertanya-tanya : mana operanya?
Saya jadi ingat waktu kami latian paduan suara, hampir semua penyanyi bertanya-tanya, ini Opera-nya tentang apa sih? Kita nyanyi di bagian mana? Tapi nggak ada yang bisa jawab (termasuk pimpro yang ada di Bandung), dan pada akhirnya jawabannya baru ditemukan last minute pas pertunjukannya! Capek deh... Belum lagi banyak perubahan yang terjadi waktu last minute... waduh, kaya'nya persiapannya ga mateng, ya... tapi kembali lagi, alhamdulillah final performance-nya lumayan baik, jadi persiapan yang kurang mateng itu gak terlalu keliatan.
Tapi saya tidak menyesali keputusan untuk ikut dalam grup paduan suara yang mendukung Opera Ganesha ini. Biarpun kami cuman nyanyi 3 lagu (sebenernya yang SATB cuman 2, yang satu kan mengiringi bapak Ketua Panitia bernyanyi unison, secara lagunya baru diganti 1 minggu sebelum acara...), tapi penampilan PSM ITB kali ini sangat khusus dan unik. Kapan lagi bisa ngumpulin penyanyi dari angkatan 1961 sampai angkatan 2008, untuk nyanyi bareng di acara-nya ITB?? Kalau diliat latar belakang, jurusannya, profesinya, etnisnya, kita beda-beda semua (ada yang mahasiswa baru masuk, ada yang dosen, ada yang pekerja kantoran, ada yang pekerja lapangan, ada yang freelance, ada juga yang pak Deputi Menteri), kita cuman sama dalam 2 hal : mahasiswa (atau minimal pernah jadi mahasiswa) ITB, dan anggota PSM ITB. Sebenernya, panitia sudah menghimbau Unit Kesenian pengisi acara lainnya untuk mendatangkan alumninya juga (secara ini kan acara Dies Emas ITB gitu loh!), tapi ternyata yang terkumpul (dan kebetulan cukup banyak) ya cuman PSM ITB. Konon kabarnya, ini lebih karena emang kitanya yang 'banci tampil' dan 'demam panggung', alias demam k'lo ga naik panggung....
Salah satu penyanyi, Jukie, sudah menulis tentang apa yang ia rasakan setelah melihat penampilan kami di Opera Ganesha, katanya "Hanya PSM ITB yang bisa begini", dan saya sangat setuju dengannya. Dengan bernyanyi, kita menyatukan perbedaan di antara kita, dan menjadi satu identitas : PSM ITB. Belum tentu sebulan, setahun, bahkan sepuluh tahun lagi kita bisa mengumpulkan anggota dan bernyanyi di occasion yang unik seperti ini lagi, and I'd love to be part of it!
One more things, pemilihan lagu Naik Delman, yang walaupun menurut saya gak nyambung sama sekali dengan narasi di Opera-nya, itu oke banget. Lagu ini diaransir oleh alm. pak Sudjoko, sesepuh PSM ITB yang aransemennya sangat khas (walaupun pak Djoko seringkali 'menabrak' kaidah-kaidah kepaduansuaraan, but that's pak Djoko!). Biarpun banyak suara-suara protes terutama dari penyanyi sepuh yang merasa bahwa lagunya jadi 'kurang pak Djoko' (karena ada pemotongan sedikit di sana-sini), tapi karena musik pengiringnya diaransir sedemikian rupa, kemudian ditambah iringan tradisional dari angklung dan gamelan, it sounds great!
Trip to Bandung, March 2009
On March 2009, my trip to Bandung is a different one than usual. I planned to go to Bandung by train. It was a nostalgic trip, since before the era of Cipularang tollroad, I always go from-to Bandung by Parahyangan train, at Business class (as students at that time, we have to be very economist, hehehe). But after the tollroad is opened, there were lot of travel, and we prefer use travels since it cut the trip duration significantly.
So, in the morning of March 6th 2009, I went to the Gambir station, bought Parahyangan ticket, and enjoyed the trip. It really a nostalgic one... The scene is a little bit different from the last time I went to Bandung by train. The towers, the train station buildings, and the trees still looks the same, only this time we could see many tall bridges of Cipularang tollroad across the hills. What a scene! Maybe trip by train is not as fast as by travel, but the sensation is still different. And if you took trip by train, you can enjoy the trip, even you can open your laptop and get work done while you still on the road (you may not do this on travel, it can disturb the person who sit next to you!).
Here are some photos from my trip to Bandung by train :

Situation outside and inside the executive wagon
Tall buildings of Jakarta

Train passed bridge crossing above the Cipularang tollroad (around Purwakarta).

Jatiluhur lake from the distance

Terrasering rice field at Purwakarta
Cikubang tollroad bridge (length 520 meter, height 60 meter) , viewed from Sasaksaat railway bridge

Cipada tollroad bridge (length 600 meter, height 45 meter)

Near Cikamuning tollgate, we can see the arteri road (Padalarang-Purwakarta old route) and Cipularang tollroad side-by-side
Bandung train station tower
Train monument at old Bandung train station.
I also took some walking at Braga street, and bought the book about Braga at Djawa bookstore, the famous small old bookstore at the middle of Braga steet. After reading the book, I just realized, there are not much different between the people at 1900 era and 2000 era, they all come to Bandung for some refreshment and entertainment, including shows performance, fashion shopping, and last but not least : culinary tourism! The different only if at the 1900 era the visitor are Dutchs from the plantation, but in nowaday, the visitor is Indonesian who came from many places, especially Jakarta.
But when I returned to Jakarta by car, things is really different. The Cipularang tollroad was very full, it was the longest traffic jam I ever seen! At 16.00 WIB, we enter the Pasteur tollgate, and near the Cimahi/Baros tollgate, the traffic just started to stuck. I turned on the radio, and found out that the traffic jam occur along the Cipularang tollroad until km 57 of Cikampek tollroad! Oooo... if we continue the trip, we would trapped in the traffic jam, and it must be a tired one. So we decide to turn back and return to my grandma's home, waiting until the traffic is not so crowded. At last, we start the trip back to Jakarta at 02.00 WIB in the middle of the night, and we safely arrive at our home at 06.00 WIB in the morning, phew... (and the traffic is not so clear at all, since we still found the jam at Karawang for several kilometres).