Thursday, March 07, 2013

Travel Writing 101

Alhamdulillah, buku kedua saya akhirnya terbit!

Mungkin ada yang bertanya-tanya : sudah buku kedua? Ya, ini adalah buku kedua yang diterbitkan oleh penerbit. Buku pertama saya adalah buku kerajinan tangan yang diterbitkan oleh Puspa Swara di awal tahun 2008. Dan tepat 5 tahun kemudian, buku kedua dengan tema yang sama sekali "tidak nyambung" dengan kerajinan tangan ini terbit. Di antara buku pertama dan kedua, ada satu buku lagi yang saya terbitkan secara indie. Yang diterbitkan secara indie memang belum memberikan hasil yang signifikan, namun dampak intangible-nya adalah saya merasakan sendiri pengalaman bagaimana proses penerbitan, distribusi dan pemasaran buku secara mendalam.

Buku ini merupakan buah karya dari passion saya yang lain, selain kristik dan crochet. Saya baru menulis artikel perjalanan sejak tahun 2005, tapi perjalanan wisata sebenarnya telah menjadi bagian hidup saya sejak kecil. Demikian juga memotret, ehm, tepatnya mendokumentasikan perjalanan. Walaupun hasil fotonya tidak hebat dan canggih seperti foto-foto di National Geographic, tapi ternyata kebiasaan ini membantu saya berlatih untuk menangkap momen-momen menarik di perjalanan, yang menjadi salah satu nilai tambah bagi seorang travel writer. Jadi, buku ini menggabungkan passion-passion saya : jalan-jalan, motret, sama menulis.

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Agensi Naskah Indscript Creative, karena tanpa mereka buku ini belum tentu bisa terwujud. Terima kasih juga diucapkan kepada tim Elex Media, khususnya Mbak Satwika, yang banyak mensupport hingga buku ini bisa terbit.

Akhir kata, sebelum Anda pergi ke toko buku dan mencari buku ini, saya kutip tulisan di cover belakang buku untuk memberi gambaran Anda mengenai isi bukunya :

Melakukan perjalanan wisata saat ini telah menjadi kegiatan yang digemari banyak orang. Dengan semakin banyak orang melakukan wisata dan perjalanan, maka semakin banyak media, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memuat artikel-artikel wisata yang didukung foto-foto yang menawan.

Buku “Travel Writing 101” ini berawal dari ide bahwa semakin banyak orang yang menulis tentang perjalanan wisata serta membuat foto-foto perjalanan, namun belum banyak buku panduan penulisan artikel perjalanan dan foto pelengkapnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat dipergunakan sebagai panduan bagaimana menjadi seorang travel writer dan travel photographer.

Berawal dari hobi travelling, menulis, dan membuat foto dokumentasi perjalanannya, Arin memadukan ketiga hal tersebut dan memulai penjelajahan dalam bidang travel writing dan travel photography. Beberapa artikel yang pernah ditulisnya terpilih menjadi pemenang dalam event Adira Best 100 Faces of Indonesia 2011. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail arini.tathagati@gmail.com atau Twitter @tathagati.

Banner4

Wednesday, February 13, 2013

Buku Panduan Museum

Gara-gara pernah terlibat pembicaraan soal buku panduan museum di timeline @museumceria, saya jadi terpikir sesuatu.

Sempat geli sendiri pas ada yang nulis bahwa setahu dia kalau di museum pemerintah buku panduan gratis, karena sudah masuk anggaran pemerintah. Tapi karena itu saya jadi berpikir, betulkah itu? Itu di museum pemerintah RI yang mana ya? Seumur-umur saya ke museum pemerintah, belum pernah tuh ada yang ngasih buku panduan gratis. Paling-paling brosur, itu pun kalau tidak kehabisan (namanya juga gratis, cepat habis!). Saya lebih sering beli buku panduan, dan alhamdulillah banget kalau museumnya bisa mencetak buku panduan, karena ada beberapa museum yang ga punya buku panduan sama sekali (Museum Propinsi Bengkulu, misalnya)

Karena ada pembicaraan itu, saya jadi punya pertanyaan-pertanyaan lainnya :

  • Ada ya anggaran bikin brosur/buku panduan untuk museum pemerintah?
  • Sebenernya anggaran untuk perawatan museum itu dikasih berapa sih? Cukup apa nggak?
  • Toh di museum2 swasta yang bayarnya mahal, tetep aja musti beli buku panduan juga. Perlu diketahui, cetak buku itu gak murah ya! Klo mau murah, bukunya cetakannya jelek. Klo mau bagus, modalnya ga dapet 10.000. Emang uangnya cuman buat buku? Berapa banyak museum pemerintah yang harus didanai? Banyak lho!

    Mungkin tiket masuk museum pemerintah itu keliatannya murah ya. Tapi coba kita hitung-hitung, berapa banyak dana yg harus dikeluarkan utk perawatan koleksi museum? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan utk operasional museum, perawatan bangunan, gaji para petugasnya, dan lain sebagainya? Jadi kalau saya sih maklum aja kalau tiba-tiba ada yang jualan buku tentang panduan museum, selama hasil penjualannya memang digunakan kembali untuk kepentingan museum, atau setidaknya untuk peningkatan kesejahteraan para pegawainya. Asal jangan hasil penjualannya dikorup aja, amit-amit!

    Tuesday, January 29, 2013

    Senang Berbatik? Kenali dan Rawat Batik Dengan Tepat!

    Hare gene gak berbatik? Ketinggalan jaman! Batik memang merupakan warisan budaya Nusantara sejak masa silam yang saat ini kembali menjadi populer. Dimulai dengan himbauan mengenakan batik di kantor pemerintahan dan kantor BUMN setiap hari Jumat mulai tahun 2004, serta diperkuat oleh ketetapan UNESCO bahwa batik merupakan Warisan Kemanusiaan Untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2 Oktober 2009, maka batik kembali populer dan menjadi identitas bangsa.

    Kata “batik” berasal dari kata “amba” yang berarti menulis, dan kata “titik” yang bermakna bahwa motif batik merupakan hasil dari rangkaian titik yang dituliskan pada kain. Batik tidak sekedar merujuk pada motif yang dihasilkan, melainkan juga pada cara pembuatannya berupa pembuatan rangkaian titik menggunakan malam dan canting.

    Saat ini batikdapat diperoleh dengan mudah. Mulai dari toko batik dan butik batik yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan, sentra-sentra pengrajin batik, serta tempat-tempat wisata, hingga berbagai toko batik online, seperti www.berbatik.com. Dengan berbagai pilihan batik yang ditawarkan oleh toko-toko tersebut, ada baiknya kita memiliki pengetahuan dasar tentang batik, agar kita cermat dan tidak salah dalam membeli, khususnya ketika kita belanja dari toko batik online di mana kita tidak melihat secara langsung batik yang ditawarkan.

    Cara Pembuatan Batik
    Batik dapat dibedakan dari cara pembuatannya, yang juga akan mempengaruhi harga jual batik. Semakin rumit cara pembuatannya, maka harganya pun akan semakin mahal.

    Batik yang dibuat secara tradisional adalah batik tulis. Untuk membuat batik tulis, kain yang digunakan biasanya adalah kain katun prima, katun primis, rayon, atau birkolin. Sebelum diberi malam, kain katun prima dan katun primis harus dikanji dan dikemplong terlebih dahulu, agar malam dan zat warna dapat melekat dengan mudah. Sedangkan kain rayon dan birkolin yang merupakan kain sintetis tidak perlu diolah terlebih dahulu, karena malam dan zat warna lebih mudah melekat. Setelah diolah, kain kemudian diberi pola batik menggunakan malam dan canting. Setelah diberi pola, kain kemudian dicelupkan pada zat warna, dan bagian kain yang tertutup malam tidak akan terkena zat warna dan akan tetap berwarna putih, sehingga akan meninggalkan pola. Proses pemberian malam dan pencelupan zat warna bisa dilakukan berulang kali, bergantung pada pola yang akan dibuat. Setelah didapatkan pola batik sesuai dengan yang diinginkan, maka kain kemudian dilorot dalam air panas untuk melarutkan malam pada kain.

    Belajar Membatik dengan Canting


    Selain batik tulis, batik juga dibuat dengan teknologi cap, dan dikenal dengan nama Batik Cap. Pola batik dibuat dalam cap yang terbuat dari tembaga, kemudian cap tersebut dicelupkan ke dalam malam, dan dicapkan pada kain.

    Belajar Membatik Dengan Cap

    Dengan kemajuan teknologi, saat ini batik juga sudah dibuat dengan menggunakan teknologi printing, atau pencetakan motif langsung pada kain. Kain yang dihasilkan tentunya harganya lebih murah dibandingkan kain batik yang dibuat dengan canting atau cap. Untuk membedakan apakah sebuah kain batik dibuat dengan canting, cap, atau printing, Anda bisa membolak balik kain batik. Batik yang dibuat dengan canting akan memiliki kualitas pewarnaan yang sama pada kedua permukaannya, sedangkan pada batik printing salah satu permukaannya akan berwarna lebih pucat/putih dibandingkan permukaan lainnya.

    Aneka Motif dan Warna Batik
    Selain dibedakan dari cara pembuatan, batik juga dibedakan dari jenis-jenis motifnya. Jenis motif batik dapat dibedakan terutama berdasarkan asal daerah, serta berdasarkan fungsinya.

    Pada awalnya, batik merupakan busana yang dipakai oleh keluarga Keraton keturunan kerajaan Mataram Islam (Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Pakualaman) dan para abdi dalemnya, sehingga kebanyakan motif batik yang ada sekarang merupakan pengembangan dari motif-motif batik yang dibuat di keraton-keraton tersebut. Motif-motif batik yang dikembangkan di keraton merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Hindu dan Islam. Beberapa motif batik keraton yang saat ini masih digunakan secara luas antara lain adalah :
  • Gurdo : Gurdo merupakan penggambaran Garuda, burung suci kendaraan Sang Hyang Wisnu. Motif Gurdo berbentuk dua buah sayap, yang bermakna menaungi kehidupan di bumi.
  • Truntum : pola truntum merupakan simbolisasi dari kuncup bunga melati, yang melambangkan cinta yang bersemi. Batik truntum biasanya digunakan oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan, bermakna orang tua bisa menuntun calon pengantin.
  • Kawung : batik kawung dicirikan dengan 4 buah elips yang mengelilingi satu titik di tengah, melambangkan raja dan 4 “bawahannya”. Kawung juga merupakan kata lain dari “aren”, tumbuhan dengan berbagai macam kegunaan, ditafsirkan bahwa siapa pun yang mengenakan motif ini harus berguna bagi banyak pihak, seperti pohon kawung. Motif ini dikenakan raja dan keluarga terdekatnya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan.
  • Parang : “parang” merupakan senjata yang melambangkan kekuasaan, kekuatan, dan kecepatan, sehingga ksatria yang mengenakan batik ini bisa berlipat kekuasaannya. Di masa lalu, motif parang hanya boleh dikenakan oleh raja atau kerabat keraton, dan ukuran motifnya akan menunjukkan status seseorang . Semakin tinggi kedudukan seseorang, maka motif parang yang dikenakan akan semakin besar.
  • Sekarjagat : nama Sekarjagat berasal dari kata “Kar Jagat”, yang bermakna harfiah peta dunia. Ciri dari batik ini adalah banyak motif yang dimasukkan dalam selembar kain batik. Makna dari motif ini adalah siapa yang memakainya akan menaklukan dunia.


  • Motif Kawung Versi Yogyakarta

    Dengan adanya pemerintah kolonial Belanda, terjadi konflik dan peperangan yang menyebabkan banyak kerabat keraton dan para pengrajin batik yang mengungsi dan menetap di daerah baru. Sebaliknya, masyarakat juga mulai meniru motif batik yang dikenakan oleh kerabat kerajaan, untuk dikenakan sehari-hari. Perkembangan batik juga didukung dengan munculnya para pengusaha batik di wilayah-wilayah pengrajin batik, baik dari kalangan pribumi, keturunan Tionghoa, maupun pengusaha Belanda. Dari mereka inilah muncul berbagai macam motif batik yang merupakan hasil perpaduan dengan budaya setempat, menghasilkan batik dengan motif dan warna khas masing-masing daerah.

    Berikut ini adalah berbagai jenis batik dengan ciri motif dan warna khasnya :
  • Surakarta : Batik Surakarta dicirikan dengan motif yang anggun, dengan warna-warna didominasi warna sogan/coklat kekuningan
  • Yogyakarta : Batik Yogyakarta adalah jenis batik yang berkembang setelah kerajaan Mataram Islam pecah menjadi 4. Batik ini dicirikan dengan motif yang lebih sederhana, dengan warna dasar batik umumnya putih.
  • Pekalongan : Batik Pekalongan merupakan salah satu contoh batik pesisir dengan ciri khas warna cerah. Motif batik Pekalongan banyak dipengaruhi oleh budaya Cina dan Belanda, seperti motif buketan atau bunga.
  • Madura : Batik Madura didominasi warna hitam dan warna merah, dengan ciri motif yang egaliter, seperti karakter masyarakat Madura pada umumnya.
  • Garut : Batik Garut memiliki motif serupa dengan batik Keraton, namun didominasi warna-warna cerah. Konon para pengrajinnya merupakan keturunan pengrajin batikdari Yogyakarta dan Surakarta yang mengungsi ke Garut.
  • Cirebon : motif batik Cirebon juga merupakan jenis batik pesisir yang dikembangkan oleh Keraton Cirebon, serta banyak mendapat pengaruh Cina, seperti motif Mega Mendung.
  • Lasem : Ciri khas batik Lasem adalah motifnya yang merupakan kombinasi budaya Jawa dan Cina, serta memiliki warna merah cerah yang khas dengan nama merah getih pithik (merah darah ayam). Warna merah ini terbentuk akibat pengaruh air tanah yang digunakan di daerah tersebut untuk memproduksi batik.
  • Batik Jawa Hokokai : Jenis batik ini merupakan varian Batik Pekalongan, yang motifnya dipengaruhi dari budaya Jepang, seperti bunga sakura, bunga krisan, dan kupu-kupu. Ciri khas batik ini adalah jenis pola yang disebut “pagi-sore”, karena dalam 1 helai kain terdapat 2 tipe motif, yang satu berwarna terang untuk dikenakan pagi hari, dan yang berwarna lebih gelap untuk dikenakan pada malam hari
  • Batik Lawasan : jenis batik ini merupakan batik yang dibuat seolah-olah warnanya pudar karena sudah lama (lawas = lama).


  • Batik Pekalongan yang Didominasi Warna-Warna Cerah


    Cara Merawat Batik
    Setelah mengetahui jenis batik dari cara pembuatan dan dari jenis motif serta warnanya, tentunya kita akan semakin cermat saat memilih dan membeli batik, baik dari toko batik, butik batik, maupun belanja batik online, sehingga kita bisa mendapatkan produk batik dengan kualitas yang sepadan dengan harga yang kita bayarkan.

    Setelah mendapatkan batik sesuai dengan keinginan kita, jangan lupa untuk merawatnya dengan baik, agar batik kita, khususnya batik tulis atau batik cap, tetap awet, cerah, dan nyaman dikenakan. Berikut ini adalah beberapa tips perawatan batik yang perlu diperhatikan :
  • Batik sebaiknya dicuci menggunakan lerak. Lerak biasanya dapat dibeli di pasar tradisional, namun saat ini sudah tersedia lerak cair di supermarket.
  • Jika batik tidak terlalu kotor, cukup dibilas dengan air hangat. Namun jika terdapat kotoran, cuci kocoran tersebut dengan sabun mandi atau kulit jeruk, dengan menggosokkan sabun atau kulit jeruk pada tempat yang kotor saja
  • Jangan mencuci batikdengan detergen
  • Jangan mengucek atau memelintir batik, karena akan melarutkan pewarnanya sehingga batik berwarna mbladus/pucat
  • Jemur batik pada tempat yang teduh, jangan dijemur di bawah terik matahari. Tarik ujung batik agar serat-seratnya tidak mengerut
  • Hindari penyetrikaan. Namun jia terpaksa harus disetrika, gunakan temperatur rendah,dan letakkan kain tipis antara batik dan setrika
  • Simpan batik di dalam plastik untuk menghindari ngengat. Jangan gunakan bola kamper/phenolphtalein ball, karena senyawanya dapat merusak batik
  • Sebulan sekali keluarkan batik dari lemari, angin-anginkan untuk menghilangkan debu dan ngengat, gantungkan di luar lemari kurang lebih selama 1 jam
  • Gunakan kertas roti untuk mengalasi batik jika disimpan di lemari. Jangan gunakan kertas koran karena tintanya dapat merusak batik.
  • Jangan semprotkan parfum atau eau de toilette pada permukaan batik sutera


  • Daftar Pustaka
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Batik
  • Aep S. Hamidin (2010). Batik Warisan Budaya Asli Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Narasi.
  • Abdul Aziz Sa’du (2010). Buku Panduan Mengenal dan Membuat Batik. Jakarta : Diva Press.
  • Kunjungan ke Museum Batik Kuno Danar Hadi, Surakarta

  • Foto-foto merupakan koleksi pribadi

    Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog Berbatik dari www.berbatik.com.



    Thursday, January 03, 2013

    #LiburanLokal? Siapa Takut!



    Membaca kicauan @mrshananto pada akhir Desember 2012 yang lalu tentang #LiburanLokal, hati saya tergelitik untuk menulis opini ini, sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan #LiburanLokal di Nusantara.

    Saya yakin, banyak yang kepingin pergi ke luar negeri untuk berlibur. Saya pun juga begitu. Dan saya percaya, dana yang saya miliki cukup untuk melakukan hal itu (apalagi setelah ikut kursus FinPlan-nya@mrshananto, jadi makin pede untuk menabung dana liburan, hihihi). Kendala saya hanya masalah jadwal, jadi untuk berlibur lebih dari 2 hari, persiapan di kantor pun harus matang, karena saya tidak ingin liburan saya terganggu.

    Tapi, akhirnya muncul pertanyaan, apakah yang namanya berlibur itu harus ke luar negeri? Apalagi kalau dalihnya "keluar negeri lebih murah daripada di dalam negeri". Coba kita hitung-hitung lagi. Kalau ke luar negeri, kenapa bisa lebih murah? Karena kita akan pakai tiket promo, menginap di hotel bintang 2 atau 3, terus ke mana-mana naik angkutan umum, atau pergi secara berombongan. Kalau kita melakukan hal yang sama di sini, pasti #LiburanLokal kita juga bisa hemat kok.

    Saya mulai belajar merencanakan #LiburanLokal secara hemat ketika saya sering berdinas keluar kota. Kebanyakan travelling saya adalah travelling abidin, alias "atas biaya dinas". Berhubung project yang saya tangani memiliki anggaran akomodasi yang pas-pasan, saya harus mencari hotel bintang 2 atau 3 untuk akomodasi. Dari sini saya belajar bahwa ada hotel-hotel murah dengan layanan yang baik, dan sebaliknya, tinggal di hotel mahal tidak menjamin kenyamanan saat bepergian. Sebagai contoh, Anda memilih menginap di hotel resort yang terletak di jalan menuju Kaliurang, padahal tujuan Anda ke Yogyakarta adalah pergi belanja ke Malioboro. Jadi musti keluar ongkos lagi khan? Belum lagi kalau di resort bintang 5, yang namanya internet seringkali tidak gratis. Kalau saya, saya akan memilih menginap di hotel budget yang bersih, nyaman dan aman, dekat keramaian (jadi tak perlu keluar ongkos terlalu besar), dan internetnya gratis.

    Bukan di Malibu tapi di Bukit Malimbu, Lombok

    Demikian juga dengan transportasi di tempat tujuan, saya berkesempatan mempelajari ada transport umum apa saja, murah atau tidak, nyaman atau tidak, dan praktis atau tidak. Beberapa kota di Indonesia memang belum memiliki transportasi umum yang memadai, sehingga seringkali kita harus menyewa kendaraan. Tapi bagi kota-kota di Indonesia dengan fasilitas transportasi umum yang memadai, walaupun mungkin kita harus sering naik taksi dari satu tempat ke tempat lain, namun jika dihitung-hitung bisa jauh lebih murah daripada sewa mobil seharian. Dari kedua hal ini, saya bisa merencanakan perjalanan #LiburanLokal saya atas biaya sendiri, biayanya bisa lebih hemat daripada kalau pakai tour, namun dengan standar kenyamanan dan keamanan yang tetap terjaga.

    Bukan di Eropa tapi di Tangkubanperahu
    Tentang tiket pesawat, kasusnya lain lagi. Memang betul, tiket murah dari low cost airline memungkinkan kita pergi ke mana-mana dengan biaya sangat ekonomis. Tapi saya orang yang butuh kenyamanan dalam naik pesawat : ruang tunggu yang nyaman, kabin pesawat dengan jarak tempat duduk agak longgar (secara kaki saya panjang), dan kelakuan penumpang lain yang tidak annoying. Oleh karena itu, airline favorit saya adalah airline plat merah yang warna catnya biru (ehm!). Mengingat harga tiketnya yang tidak murah (tapi berbanding lurus dengan segala kenyamanan yang diberikan, baik sebelum maupun saat terbang), ada beberapa trik yang saya lakukan untuk mendapat tiket murah airline tersebut : cari jam aneh untuk terbang, pesan jauh-jauh hari, atau manfaatkan poin program loyalti. Namun demikian, tidak ada yang salah dengan low cost airline, hanya kita perlu sadar bahwa ketika kita memilih menggunakan low cost airline, berarti kita sudah bersedia dan siap menerima sepaket konsekuensinya. Pada kenyataannya, beberapa destinasi #LiburanLokal favorit saya tidak dilayani oleh airline favorit saya, seperti Belitung dan Raja Ampat, sehingga saya pun harus menggunakan airline lainnya.


    Bukan di Bencoolen Street Singapura, tapi di Bengkulu (the real Bencoolen)
    Salah satu #LiburanLokal hasil travelling abidin saya adalah liburan keluarga ke Ranah Minang. Sudah lama saya bercita-cita liburan ke Sumatra Barat, tapi belum pernah menemukan alasan yang tepat untuk ke sana. Tahun 2007, saya berkesempatan untuk berdinas ke Bukittinggi, sehingga saya mendapatkan gambaran singkat mengenai suasana di Ranah Minang. Enam bulan kemudian, saya memprovokasi keluarga untuk berlibur ke Ranah Minang (tentunya dengan segala bujuk rayu dan daftar apa saja yang bisa dilihat di sana). Akhirnya provokasi saya berhasil, dan kami memesan tiket 3 bulan sebelumnya. Hasil akhir dari perjalanan ini memuaskan semua orang, karena apa yang kami peroleh selama liburan melebihi ekspektasi awal. #LiburanLokal ke Ranah Minang di tahun 2008 itu akan menjadi salah satu kenangan manis liburan kami.

    Bukan di Cina tapi di Sam Poo Kong, Semarang
    Bagi saya, liburan bukan cuman sekedar pindah tidur ke hotel mewah sambil berenang di kolam renangnya. Dalam liburan harus ada sesuatu yang baru, memiliki pengetahuan baru, atau menikmati/melakukan hal yang berbeda dengan rutinitas sehari-hari. Dan yang paling betul adalah liburan itu harus bebas dari urusan pekerjaan (namanya juga libur!). Kalau masih diganggu juga sama urusan kerjaan, itu namanya pindah tidur (atau lebih parah lagi, pindah kantor).

    Kembali ke urusan #LiburanLokal. Gara-gara dijadikan project officer pelatihan yang diselenggarakan di seluruh antero Nusantara, saya berkesempatan melihat banyak kota, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Ternyata kata orang-orang memang betul, Indonesia memiliki kekayaan pariwisata yang sangat beragam. Dari perjalanan-perjalanan itu, menurut saya kalau kita ada niatan melakukan #LiburanLokal, pasti bisa! Di era informasi seperti sekarang ini, info liburan itu sangat banyak, tinggal tanya mbah Google, langsung keluar berbagai info tempat wisata, akomodasi, dan transportasi. Malas buka mbah Google? Di toko buku juga banyak buku2 panduan wisata dalam negeri hasil karya anak bangsa.

    Masih teringat dalam benak saya, ketika saya mewawancara seorang kandidat anggota tim pengajar di Surabaya. Suatu hari, dalam percakapan via messenger, sang kandidat (yang akhirnya terpilih sebagai anggota tim) bertanya, saya di Surabaya sudah ke mana saja? Menurut dia (yang notabene orang lokal), di Surabaya tidak ada obyek menarik selain mall dan wisata kuliner, paling banter Jembatan Suramadu. Saya bilang, saya sudah pernah ke Kebon Binatang Surabaya, Jembatan Suramadu hingga Bangkalan, Monumen Kapal Selam, Patung Joko Dolog, House of Sampoerna dan Surabaya Heritage Tour, Tugu Pahlawan,dan saat itu saya baru saja mengunjungi 4-Faced Buddha di Kenjeran, yang belum tinggal Museum Mpu Tantular. Sang kandidat hanya bisa berkata : Owww. Ternyata, permasalahan minimnya info #LiburanLokal bukan karena kita gak mau, tapi karena kebanyakan dari kita gak sadar kalau sebenarnya banyak hal menarik di sekitar kita yang berpotensi untuk dijadikan destinasi #LiburanLokal.


    Bukan di Eropa, tapi di Stasiun Tanjung Priok
    Oh ya, sebelum lupa. #LiburanLokal juga tidak berarti kita harus pergi keluar kota dan menginap. Lihat dulu di sekeliling rumah kita, jangan-jangan ada obyek yang menarik yang perlu disambangi. Misalnya bagi kita yang tinggal di Jakarta, sebelum pergi menjebakkan diri di tengah kemacetan Bandung untuk berlibur, sempatkan diri untuk mengunjungi Museum Nasional dengan gedung barunya. Atau yang tadinya berencana mau ke Malioboro tapi kehabisan tiket, tengok dulu Petak Sembilan dan Pasar Asemka, bisa jadi Anda menemukan hal menarik yang tidak akan Anda temukan di Malioboro. Keliling Kota Jakarta dengan busway atau KRL Commuter juga merupakan hal menarik yang bisa dicoba.
      
    Bukan di Smithsonian tapi di Museum Geologi, Bandung
    So, apa saja keuntungan #LiburanLokal? Bagi kita yang melakoninya, kita bisa dapat pengetahuan baru, pengalaman baru, teman-teman baru, networking baru. Di sisi lain, #LiburanLokal juga merupakan kesempatan untuk memajukan perekonomian bangsa dari industri pariwisata. Bayangkan dengan melakukan #LiburanLokal, akan meningkatkan pendapatan perusahaan transportasi domestik (mulai dari PT KAI, perusahaan penerbangan), akomodasi (terutama penginapan dan jaringan hotel domestik), rumah makan, tempat wisata, dan lain sebagainya.  Jangan lupakan juga pendapatan para penduduk setempat, mulai dari mereka yang berusaha di kaki lima, hingga para pegawai hotel bintang lima. Jadi, dengan #LiburanLokal, kita untung bangsa untung.

    Monday, December 03, 2012

    [EnjoyJakarta] Rumah Si Pitung, Warisan Budaya Pesisir di Jakarta Utara

    Rumah Si Pitung adalah obyek wisata sejarah dan budaya yang terletak di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Rumah yang terletak di lahan seluas 700 meter persegi ini sebenarnya bukan rumah kelahiran atau milik keluarga Si Pitung, melainkan milik Haji Syafiuddin, seorang pengusaha “sero” yang menurut masyarakat setempat pernah dirampok oleh Pitung, jawara Betawi yang terkenal akan perjuangannya melawan ketidakadilan penguasa Hindia Belanda di Betawi, dengan merampok orang-orang kaya dan membagikan hasil rampokannya kepada rakyat miskin. Berdasarkan peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 9 tahun 1999, rumah ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

    Rumah Si Pitung berbentuk rumah panggung dengan gaya arsitektur Bugis. Gaya arsitektur rumah panggung ini sesuai dengan lokasi rumah yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai, sehingga berpotensi terkena ombak besar atau banjir rob. Dari sumber yang mengatakan bahwa rumah ini dirampok Pitung pada tahun 1883, rumah ini diperkirakan berdiri pada abad 19. Rumah panggung sepanjang 15 meter, lebar 5 meter dengan tinggi 2 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, sehingga penduduk menyebutnya sebagai Rumah Tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan dua buah beranda, masing-masing di sisi depan dan belakang rumah yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter. Rumah ini memiliki empat buah pintu dan sepuluh buah jendela.
    Saat ini di dalam Rumah Si Pitung terdapat beberapa perabot khas Betawi, seperti kursi tamu, tempat tidur, meja rias, permainan congklak, dan peralatan dapur. Sebagian perabot kuno ini bukan berasal dari interior asli rumah, melainkan sumbangan dari berbagai pihak. Di dinding rumah terdapat panel yang menceritakan kisah Si Pitung, yang diambil dari artikel “Si Pitung, Perampok atau Pemberontak?” yang ditulis Ridwan Saidi dan dimuat di Majalah Tani pada tahun 2009.

    Rumah ini pernah direnovasi beberapa kali. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1972, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Beberapa penggantian yang dilakukan pada renovasi ini adalah perubahan interior rumah dari semula memiliki 3 kamar menjadi tinggal 1 kamar, penggantian lantai bambu menjadi lantai kayu jati, dan pengecatan dinding kayu rumah dengan warna merah delima. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010, dengan penambahan panggung beton setinggi 50 cm, untuk memastikan rumah ini tidak terendam banjir saat air pasang menggenangi pekarangan dan kolong rumah.

    Untuk mencapai Rumah Si Pitung, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan angkutan umum arah Marunda. Patokannya adalah papan petunjuk menuju kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jl. Marunda Makmur, Cilincing. Jika menggunakan angkutan umum, turun di depan jalan masuk Kampus STIP, sedangkan jika menggunakan kendaraan pribadi, telusuri jalan di samping kampus menuju ke arah pantai. Di sisi kanan akan tampak tanah lapang dengan warung-warung yang dijadikan tempat parkir untuk kendaraan pribadi. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan beton di atas Sungai Blencong ke arah Marunda Pulo. Rumah Si Pitung berjarak kurang lebih 300 meter dari jembatan Sungai Blencong, menelusuri pematang beton yang melintasi rawa-rawa.

    Sunday, August 12, 2012

    [Love Journey] - Kembali ke Bukittinggi


    Saya sudah banyak melakukan perjalanan ke berbagai penjuru Nusantara, namun baru kali ini ada sebuah destinasi wisata yang memberikan perasaan seperti “jatuh cinta pada pandangan pertama”, dan tempat itu adalah Bukittinggi. Ya, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini di tahun 2007, saya langsung jatuh cinta pada keindahan alamnya. Sayangnya waktu itu saya hanya punya waktu satu malam, sehingga saya tak sempat menjelajahi Bukittinggi yang juga terkenal dengan berbagai peninggalan sejarahnya. Saya pun bertekad suatu hari saya harus kembali lagi untuk menjelajahi Bukittinggi. 

    Akhirnya, setahun setelah kunjungan pertama saya, saya berhasil mengajak keluarga saya untuk berwisata di Bukittinggi, tentu saja dengan bujukan-bujukan yang mengatakan bahwa banyak tempat menarik yang bisa dilihat di sana. Persiapan kami lakukan kurang lebih selama sebulan untuk mengatur itinerary, tiket pesawat, transportasi dan akomodasi selama di sana. Dan akhirnya, bertepatan dengan libur Hari Natal tahun 2008, saya dan keluarga menginjakkan kaki ke Bukittinggi.

    Setelah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, dengan menggunakan kendaraan sewaan kami langsung berangkat ke Bukittinggi. Sepanjang perjalanan menuju Bukittinggi, kami melewati jalur Padang-Padangpanjang-Bukittinggi yang berbukit-bukit. Dengan pemandangan yang begitu hijau dan rimbun, membuat anggota keluarga saya yang lain langsung ikut jatuh cinta pada panorama alam Sumatra Barat. Pertama kali kami berhenti di Aia Tajun Lembah Anai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya terletak jauh di dalam hutan atau kebun raya, air terjun setinggi 30 meter ini terletak di pinggir jalan utama, sehingga melihatnya saja sudah memberikan sensasi tersendiri, apalagi saat kami turun dan menyentuhkan tangan di air yang dingin. Perasaan ini ditambah dengan suasana segar di sekitar air terjun, serta pemandangan dramatis berupa paduan jembatan rel kereta api dan jalan raya yang melintas area dekat Aia Tajun Lembah Anai. Sulit mencari pemandangan seperti ini di tempat lain yang pernah kami kunjungi.

    Setelah 2 jam perjalanan dari Bandara Minangkabau, kami tiba di Bukittinggi. Sebelum memasuki kota, dari kejauhan terlihat panorama Gunung Singgalang, salah satu gunung yang mengapit Kota Bukittinggi. Begitu kami keluar dari kendaraan, terasa hawa dingin khas pegunungan. Bukittinggi memang kota paling dingin di Sumatra Barat, dengan ketinggian 930 meter di atas permukaan laut, dan suhu udara pada rentang 16-25 derajat Celcius. Saya teringat kembali saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dan menghirup udara dingin beraroma bersih dan segar, mungkin hal inilah yang membuat saya jatuh cinta dan ingin kembali ke Bukittinggi.

    Ketika kami meletakkan barang-barang di hotel dan membuka jendela, terlihat panorama kota yang penuh bangunan, yang merupakan perpaduan bangunan modern dan bangunan bergaya tradisional. Yang membuat lebih menarik, bangunan-bangunan ini berpadu dengan panorama alam berupa gunung yang mengelilingi Kota Bukittinggi. Rasanya tidak bosan melihat pemandangan yang unik seperti ini. Namun kami tak bisa berlama-lama di hotel, karena tak sabar lagi untuk menjelajahi Kota Bukittinggi.

    Salah satu tujuan kami ke Bukittinggi adalah melakukan wisata sejarah, sebuah kegiatan wisata yang merupakan passion kami. Banyak bangunan lama dan peninggalan sejarah yang masih terawat di kota ini, di antaranya adalah Fort de Kock, Rumah Kelahiran Bung Hatta, Museum Rumah Adat Baanjuang, dan Lubang Jepang. Tempat yang menjadi tujuan pertama kami adalah Taman Bundo Kanduang, untuk melihat Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Benteng Fort de Kock berdiri di atas Bukit Jirek, didirikan oleh Captain Bauer pada tahun 1825. Sebenarnya nama asli dari Fort de Kock adalah “Sterreschans”, yang berarti bintang pelindung. Sedangkan yang disebut sebagai “Fort de Kock” sebenarnya adalah area di sekitar benteng Sterreschans, yang sekarang menjadi Kota Bukittinggi. Nama Fort de Kock diambil dari nama Jendral Baron Hendrik Markus De Kock yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jendral Hindia Belanda. 

    Ketika kami memasuki area benteng, kami mendapatkan sebuah “kejutan” : mana bentengnya? Tadinya saya berharap akan melihat sebuah bangunan yang kokoh, atau setidaknya sisa bangunan tersebut. Kami hanya menemukan menara air, beberapa meriam dan parit perlindungan di atas bukit. Jadi sepertinya yang disebut benteng Fort de Kock adalah area berkontur tinggi yang digunakan sebagai sarana pertahanan terhadap serangan Kaum Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Setelah puas melihat-lihat di Fort de Kock, kami menyeberangi jembatan cantik yang dihiasi tiang beratap gonjong (atap khas rumah gadang) bernama Jembatan Limpapeh. Saking cantiknya, saya mencoba memotret jembatan ini dari berbagai sudut, untuk bisa memperoleh foto yang “sempurna”. Dari atas jembatan, kami menikmati pemandangan yang menakjubkan : keindahan alam Bukittinggi dengan gunung dan sawah menghijau, berpadu dengan keramaian Jl. Ahmad Yani yang berada di bawah jembatan. Rasanya tidak bosan-bosan kami melintas bolak-balik di atas jembatan yang cantik ini.

    Di sisi seberang jembatan, kami menuju Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Kebun binatang ini satu-satunya kebun binatang di Sumatra Barat, dan merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Area ini dibangun pada tahun 1900 oleh Controlleur Strom Van Govent, dan dijadikan kebun binatang oleh Dr. J Hock pada tahun 1929. Di dekat kebun binatang, terdapat rumah gadang yang merupakan tempat Museum Rumah Adat Baanjuang. Rumah adat Minangkabau ini dibangun oleh Mr. Modelar Countrolleur di tahun 1935, untuk menghimpun benda-benda sejarah dan budaya Minangkabau. Di museum ini kami melihat bukti-bukti kekayaan budaya khas Minangkabau, seperti pakaian adat, alat musik, alat ketrampilan, dan senjata.

    Keluar dari Taman Bundo Kanduang, kami bergegas menuju Jam Gadang, landmark Bukittinggi yang terletak di Taman Sabai Nan Aluih, tepat di pusat Kota Bukittinggi. Ibaratnya, belum ke Bukittinggi kalau belum menginjakkan kaki di Jam Gadang. Pada kunjungan saya untuk pertama kalinya di tahun 2007, saya hanya berkesempatan melihat landmark ini di malam hari. Namun ketika saya datang lagi, melihat menara Jam Gadang yang begitu megah dan unik, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bosan untuk mengunjungi tempat ini. Secara harfiah, “Jam Gadang” berarti jam besar, dan tidak mengherankan karena diameter jam ini berukuran 80 centimeter, jauh lebih besar daripada ukuran jam pada umumnya. Menara Jam Gadang setinggi 26 meter ini didirikan oleh Controlleur Rook Maker pada tahun 1926, sebagai tempat untuk meletakkan jam besar yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda. Bangunan menara yang ada sekarang memiliki bentuk atap gonjong khas rumah adat Minangkabau, dan merupakan rancangan Jazid dan Sutan Gigih Amen. Karena saat itu suasana tidak terlalu ramai, kami pun berfoto-foto dalam berbagai posisi, sekaligus untuk menunjukkan bahwa tak hanya London yang punya Big Ben, Bukittinggi pun punya Jam Gadang.

    Setelah makan siang, kami pergi ke Taman Panorama. Sebelum menikmati keindahan Ngarai Sianok, kami mengunjungi Lubang Jepang. Walaupun namanya berawal dengan kata “lubang”, tempat ini sebenarnya adalah jaringan terowongan buatan yang digunakan tentara Jepang sebagai markas di Kota Bukittinggi. Terowongan ini dibuat pada tahun 1942 di bawah pimpinan Jendral Watanabe, dan ditinggalkan saat Jepang menyerah pada Sekutu di tahun 1945. Tahun 1946, penduduk secara tak sengaja menemukan terowongan ini. Pemda Bukittinggi kemudian merenovasi terowongan dan menambahkan fasilitas seperti tangga, lampu dan pemandu bersertifikat, sehingga wisatawan dapat masuk ke dalam terowongan dengan nyaman, sekaligus mendapatkan informasi mengenai kisah sejarah terowongan tersebut.
    Hari itu kami dipandu pak Jeffri, pemandu bersertifikat di Taman Panorama. Ia menjelaskan bahwa Lubang Jepang merupakan jaringan terowongan di kedalaman 50 meter dengan total panjang mencapai 1470 meter, membuat Lubang Jepang sebagai gua Jepang terpanjang di Indonesia. Untuk memasuki terowongan, pak Jeffri membawa kami ke pintu masuk yang terletak di Taman Panorama. Pintu ini sebenarnya adalah lubang ventilasi, yang kemudian diperbesar dan diberi anak tangga berjumlah 128 buah. Ketika kami menuruni anak tangga tersebut, ternyata 40 meter itu tidak dekat, karena rasanya tidak sampai-sampai.
    Di dalam terowongan, Pak Jeffri menjelaskan bahwa terowongan ini dibangun dengan tangan manusia tanpa menggunakan alat berat. Terowongan ini tak hanya berupa lorong-lorong, tetapi juga terdapat beberapa ruangan seperti barak militer, tempat tidur, ruang amunisi, ruang makan romusha dan ruang sidang. Sebagai pelengkap, terdapat ruang dapur dan ruang penjara. Pak Jeffri bercerita bahwa di dekat ruang dapur terdapat lubang tempat pembuangan sampah dapur dan mayat tahanan tentara Jepang yang sudah tewas. Rasanya merinding membayangkan keadaan pada masa itu, mengingat para romusha bekerja membangun terowongan dengan tangannya, serta bagaimana para tahanan tewas dengan mengenaskan dan dibuang keluar. Setelah melihat-lihat di sepanjang terowongan, kami pun kembali mendaki anak tangga sejauh 40 meter, dan rasanya lega sekali setelah kami tiba di permukaan.
    Keluar dari Lubang Jepang, mulailah kami menikmati panorama Ngarai Sianok, “The Grand Canyon of Indonesia”. Ngarai Sianok adalah lembah curam sedalam 100 meter yang terletak di jantung kota Bukittinggi, dan memanjang sejauh 15 km dari selatan Koto Gadang hingga Palupuh, Agam. Nama “Sianok” berarti diam, yang diberikan karena pada jaman dahulu di dasar ngarai banyak ditemukan jenasah korban penyiksaan tentara Jepang, yang hanya ‘membisu’ ketika dilempar dari atas ngarai. Di dasar ngarai, terdapat sungai Batang Sianok yang jernih. Kami berkesempatan untuk naik ke menara pandang, agar dapat menyaksikan pemandangan Ngarai Sianok dengan lebih leluasa. Melihat betapa panjang dan luasnya Ngarai Sianok, hati ini bergetar, betapa indahnya panorama Kota Bukittinggi.

    Paduan keindahan panorama alam yang menakjubkan, hawa sejuk segar tanpa polusi, serta banyaknya peninggalan sejarah dan kekayaan budaya Bukittinggi, membuat sulit untuk tidak jatuh cinta pada kota ini. Sayang sekali, waktu kami di Bukittinggi terbatas, sehingga kami belum bisa menjelajahi seluruh penjuru kota. Masih banyak obyek peninggalan sejarah yang belum sempat kami kunjungi, seperti Rumah Kelahiran Bung Hatta dan Museum Perjuangan Eka Sapta Darma. Seandainya diberi kesempatan lagi, saya ingin sekali kembali ke Bukittinggi, untuk meneruskan penjelajahan di kota yang penuh romansa ini.


    Note : Kenang-kenangan posting di Multiply untuk ikut lomba travelling blog [Love Journey], pindahan dari : http://tathagati.multiply.com/journal/item/111/Love-Journey-Kembali-ke-Bukittinggi

    Tuesday, July 10, 2012

    Mencari Sangkuriang di Tangkubanparahu

    Hampir semua orang yang (pernah) tinggal di Bandung mengenal tahu gunung Tangkubanparahu. Ya, saat cuaca cerah, di sisi utara Bandung akan terlihat jelas gunung yang berbentuk seperti perahu “nangkub” (terbalik) itu. Gunung Tangkubanparahu merupakan salah satu tujuan wisata favorit di Bandung, baik oleh wisatawan domestik dan mancanegara dari berbagai kalangan. Terutama bagi wisatawan mancanegara, umumnya mereka takjub bahwa tak jauh dari Kota Bandung yang ramai ternyata terdapat gunungapi yang masih aktif.

    Gunung Tangkubanparahu setinggi 2084 meter di atas permukaan laut berada dalam kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Tangkubanparahu. Kawasan seluas 90 hektar ini terletak di perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang, sekitar 25 km ke arah utara Kota Bandung, meliputi desa Sagalaherang, Subang dan desa Cikole, Lembang. Suhu rata-rata harian di sekitar Gunung Tangkubanparahu adalah 17derajat C pada siang hari, dan mencapai 2 derajat C pada malam hari. Gunung Tangkubanparahu tergolong gunung api aktif, yang ditandai dengan munculnya gas belerang dan adanya sumber air panas di kaki gunung, seperti sumber air panas yang terkenal di Desa Ciater, Kabupaten Subang. Keunikan gunung ini adalah bentuknya yang memanjang dari arah timur-barat sepanjang kurang lebih 1100 meter, sehingga jika dipandang dari jauh bentuknya seperti perahu terbalik. Namun jika diperhatikan baik-baik, bentuk gunung yang seperti perahu terbalik ini hanya terlihat dari sisi selatan saja, tepatnya dari Kota Bandung, sedangkan dari sisi lain bentuknya serupa seperti gunung pada umumnya.


    Perjalanan ke Tangkubanparahu
    Gunung Tangkubanparahu dapat dikunjungi dari arah Bandung maupun Subang. Apabila kita berjalan dari arah Subang, kita akan melewati Wisata Air Panas Ciater. Dari Ciater ke arah Tangkuban Perahu, kita bisa menikmati perkebunan teh Ciater yang dikelola oleh PT Perkebunan Nusantara VIII. Sedangkan kalau kita berasal dari Bandung, kita akan melewati Kota Lembang dan Cikole. Gerbang kawasan TWA Gunung Tangkubanparahu terletak tepat di perbatasan antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang.

    Tiket masuk TWA Tangkubanparahu saat ini adalah Rp 13.000/orang. Jika menggunakan kendaraan pribadi, tiket masuk kendaraan adalah Rp 10.000/kendaraan. Keunikan dari Gunung Tangkubanparahu adalah adanya jalan menuju puncak gunung, yang dibangun pada tahun 1906 atas prakarsa Bandoeng Vooruit, sehingga Anda bisa membawa kendaraan Anda hingga ke puncak gunung. Di sepanjang jalan menuju puncak, terdapat panorama pepohonan pinus yang rimbun serta bunga-bunga terompet yang cantik. Namun untuk kendaraan besar seperti bis, hanya bisa mencapai terminal Jayagiri. Dari terminal tersebut terdapat shuttle resmi dari pengelola TWA Tangkubanparahu untuk menuju ke puncak gunung dengan tariff Rp 2.500 per orang sekali jalan.

    Bunga Lili di Sepanjang Jalan
     Untuk mencapai gerbang kawasan TWA Tangkubanparahu dengan kendaraan umum, dapat dilakukan dengan beberapa alternatif rute :
    •    Dari Terminal Subang menggunakan elf jurusan Bandung
    •    Dari Terminal Leuwipanjang Bandung menggunakan elf jurusan Indramayu via Subang
    •    Dari Terminal Ledeng Bandung menggunakan elf jurusan Subang
    Untuk mencapai puncak gunung, Anda bisa menyewa angkot dari gerbang, dengan tariff Rp 30.000 sekali jalan sampai puncak.

    Wisata Vulkanik Tangkubanparahu
     Tak hanya memiliki bentuk yang unik, keistimewaan Gunung Tangkubanparahu yang lain adalah jumlah kawahnya yang cukup banyak. Gunung ini termasuk gunung yang aktif, dan tercatat pernah beberapa kali meletus, hingga menghasilkan Sembilan kawah yang ada saat ini. Kesembilan kawah tersebut adalah Kawah Ratu, Upas, Domas, Jarian, Badak, Siluman, dan Kawah Baru. Letusan pertama yang tercatat terjadi di Kawah Ratu dan Kawah Domas pada tanggal 4 April 1829. Saat ini aktivitas Gunung Tangkubanparahu terus dipantau, dan terkadang wisatawan tidak diperbolehkan mendaki apabila ditemukan indikasi peningkatan aktivitas vulkanik.

    Kawah utama dan yang terbesar dari Gunung Takubanperahu adalah Kawah Ratu. Kawah ini dikenal juga dengan nama Kawah Pangguyangan Badak. Kawah ini berdiameter 800 meter, dan bentuknya seperti mangkuk raksasa yang luas dan dalam. Nama Kawah Ratu diberikan oleh penduduk, karena kawah ini dipercaya merupakan tempat Dayang Sumbi membenamkan diri ke dalam perut bumi karena tidak sudi dipersunting oleh Sangkuriang, anak kandungnya sendiri. Untuk mengunjungi kawah Ratu, mobil pribadi bisa mencapai ke atas dan parkir tepat di bibir kawah. Di bibir kawah terdapat pembatas pagar kayu yang dipasang untuk mencegah pengunjung terjatuh. Saat cuaca cerah, kita bisa melihat dengan jelas dasar kawah dan lekukan-lekukan di dinding kawah, disertai asap yang keluar dari kawah, menciptakan pemandangan yang spektakuler dan menggetarkan hati. Tanah di sekitar kawah Ratu berwarna putih, dengan beberapa batu belerang berwarna kuning. Untuk turun ke dasar kawah, perlu dipertimbangkan resiko adanya akumulasi gas beracun yang keluar dari kawah.

    Kawah Ratu Saat Cuaca Cerah
    Kawah Ratu yang Tidak Kelihatan Saat Cuaca Berkabut
    Kawah Upas terletak bersebelahan dengan Kawah Ratu, dan merupakan kawah tertua di gunung Tangkuban Perahu. Kawah ini bentuknya lebih kecil dan dasarnya lebih dangkal dan datar dibandingkan Kawah Ratu. Kawah Upas dapat ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih 25 menit dari Menara Pandang, mengitari tepi Kawah Ratu dengan arah berlawanan jarum jam. Di salah satu sisi dasar kawah, kita bisa melihat pepohonan liar tampak banyak tumbuh, namun di sisi barat kita bisa melihat sisa pepohonan yang hancur karena terpapar uap sulfur secara terus menerus. Dari sisi Kawah Upas, kita bisa melihat pemandangan Kawah Ratu dari sisi yang berbeda, karena terdapat sisi Kawah Ratu dan Kawah Upas yang menyatu dalam satu jalur pendakian.

    Kawah Domas terletak lebih bawah daripada Kawah Ratu. Terdapat 2 cara menuju Kawah Domas, bisa melalui pintu gerbang menuju Kawah Domas yang terletak di bawah, atau jika dari kawasan Kawah Ratu menggunakan jalur menurun kurang lebih 1200 meter. Atraksi yang menarik dan unik dari kawah ini adalah adanya sumber mata air panas di dasar Kawah Domas, sehingga jika kita memasukkan telur ke dalam kawah, maka telur tersebut akan matang menjadi telur rebus. Sepanjang jalan menuju Kawah Domas, banyak warung yang menjual telur ayam dan bebek mentah, yang biasanya ditawarkan untuk “direbus” dalam air Kawah Domas. Telur yang direbus di Kawah Domas ini mengandung belerang, sehingga dinamakan “telur dewa”, dan konon berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Untuk mencapai Kawah Domas memakan waktu ¾ sampai 1 jam, dan disarankan untuk menggunakan jasa pemandu karena banyak rerimbunan semak dan tumbuhan serta anjing-anjing liar berkeliaran di jalur menuju kawah tersebut.

    Gunung Tangkubanparahu sangat ideal untuk dinikmati ketika cuaca sedang cerah, sehingga selain cuaca lebih hangat dan ramah. akan terlihat bentuk kawah dan kepulan asap yang menandakan bahwa gunung tersebut masih aktif. Namun jika Anda kurang beruntung dan menemukan kabut pekat sedang menutupi Gunung Tangkubanparahu, jangan buru-buru kecewa karena Anda tak bisa menikmati panorama kawah-kawah di Gunung Tangkubanparahu tersebut. Anda tetap bisa menikmati sensasi berada di puncak gunung di sela-sela kabut yang mungkin sulit Anda temui di tempat lain.

    Suasana Tangkubanparahu Saat Cerah
    Suasana Tangkubanparahu Saat Berkabut
    Jangan khawatir mengenai fasilitas umum di sekitar puncak Gunung Tangkubanparahu. Di dekat Menara Pandang terdapat pusat informasi wisata di mana wisatawan bisa bertanya mengenai Tangkubanparahu dan wisata Bandung lainnya. Tersedia pula fasilitas toilet dan mushola, serta atraksi kuda tunggang mengitari kawah yang menjadi favorit anak-anak. Bagi mereka yang ingin membeli cemilan, tersedia makanan dan minuman hangat seperti mie rebus, bandrek, ketan bakar, dan lain sebagainya. Anda bisa juga membawa oleh-oleh seperti syal, kupluk, tas, pernik asesoris, pajangan dari kayu, atau bubuk belerang dan akar pohon pakis naga yang bermanfaat untuk obat.
    Kuda Tunggang di Tepi Kawah Ratu
      
    Legenda Sangkuriang
    Gunung Tangkubanparahu tidak bisa lepas dari legenda Sasakala Sangkuriang. Dikisahkan Sangkuriang adalah anak Dayang Sumbi dengan seekor anjing bernama Tumang. Suatu hari Sangkuriang membunuh Tumang, dan Dayang Sumbi mengusirnya dari rumah. Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang kembali ke desanya, dan ia jatuh cinta dan bermaksud mempersunting Dayang Sumbi yang tetap awet muda, tanpa menyadari bahwa Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya. Untuk menggagalkan niat anaknya menikahinya, Dayang Sumbi mengajukan syarat bahwa Sangkuriang harus bisa membuat perahu dalam semalam sebelum fajar terbit. Menjelang terbit fajar, Dayang Sumbi berlari ke puncak bukit sambil mengibarkan selendangnya, membuat ayam jantan mengira hari telah pagi, dan ia mulai berkokok. Karena perahu yang dibuat Sangkuriang belum selesai ketika ayam berkokok, Sangkuriang dinyatakan gagal. Ketika usahanya gagal, Sangkuriang marah dan menendang perahu itu, sehingga mendarat dalam keadaan terbalik, dan kemudian mengejar Dayang Sumbi. Dalam usahanya melarikan diri, Dayang Sumbi melompat ke dalam dalam perut bumi, dan meninggalkan lubang yang sangat besar. Perahu yang terbalik kemudian membentuk Gunung Tangkubanparahu, sedangkan lubang yang ditinggalkan Dayang Sumbi kemudian menjadi kawah yang dikenal sebagai Kawah Ratu.

    Relief Legenda Sangkuriang di Menara Pandang
     Legenda Sangkuriang menjadi daya pikat tersendiri bagi Gunung Tangkubanparahu, sehingga dua orang guru besar geologi berkebangsaan Belanda dari Technische Hogeschool (sekarang Institut Teknologi Bandung), Prof. H. Th. Klompe dan Prof. George Adrian de Neve, pernah mewasiatkan agar abu jenazahnya disebarkan ke dalam Kawah Ratu. Namun ternyata kisah Sangkuriang tidak berhenti sebagai sekedar legenda. Berdasarkan penelitian mengenai pembentukan Gunung Tangkubanparahu, para ahli geologi justru mengkaitkan legenda tersebut dengan teori Gunung Sunda purba. Mereka meyakini bahwa legenda Sangkuriang yang merupakan cerita masyarakat di sekitar kawasan Tangkubanparahu diyakini merupakan sebuah dokumentasi masyarakat kawasan Gunung Sunda purba terhadap peristiwa geologis pada saat itu yang kemudian membentuk Lembah Bandung dan menyisakan Gunung Tangkubanparahu sebagai sisa Gunung Sunda purba tersebut.


    Disertakan pada lomba Blog Dalam Rangka HUT Komunitas Blogger Nganjuk ke-3 http://kotaangin.com