Sunday, May 17, 2020

[Travel Writing Mash-Up] Dari Gedung Stovia Hingga Salemba 6

Indonesia merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran modern. Pendidikan kedokteran di Indonesia berawal di pertengahan abad ke-19, atas prakarsa dr. Willem Bosch, Kepala Dinas Jawatan Kesehatan (Tentara dan Sipil) Hindia Belanda. Saat itu muncul berbagai wabah penyakit, dan tenaga medis pemerintah Hindia Belanda kewalahan memberantas wabah penyakit tersebut, salah satunya adalah karena kekurangan tenaga. Dr. Bosch mengusulkan untuk mendirikan korps kesehatan dengan tenaga Bumiputera, yang direspon dengan keputusan Gubernemen tahun 1849 untuk mendidik 30 pemuda Jawa di rumah sakit militer untuk menjadi asisten dokter dan “vaccinateur” (mantri cacar).

Fasad Gedung STOVIA yang menjadi Museum Kebangkitan Nasional

Tanggal 1 Januari 1851 berdirilah Onderwijs van Inlandsche Eleves voor de Geneeskunde en Vaccine (Sekolah Pendidikan Vacinateur), yang diselenggarakan di rumah sakit militer Weltevreden (saat ini RSPAD Gatot Soebroto). Tahun 1853, pendidikan tersebut berganti nama menjadi Sekolah Dokter Jawa, dan para lulusannya diberi gelar Dokter Djawa. Lulusan Sekolah Dokter Jawa kemudian dipekerjakan sebagai mantri cacar, diperbantukan di rumah sakit, dan membantu dokter militer merangkap dokter sipil. Beberapa lulusan Sekolah Dokter Djawa yang terkenal adalah dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Abdoel Rivai, yang kemudian memegang peran penting dalam perjuangan pergerakan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Diorama Suasana Kelas Terbuka di STOVIA
Tahun 1896, dr. Hermanus Frederik Roll, seorang dokter militer, dipercaya untuk memimpin sekolah ini. Di masa kepemimpinannya sekolah ini berkembang dengan pesat dalam pendidikannya. Tahun 1898, Sekolah Dokter Jawa berganti nama menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera dengan lama pendidikan 9 tahu, dan lulusannya dapat melanjutkan pendidikan ke universitas di Belanda. Agar tidak mengganggu aktivitas rumah sakit militer, atas usul dr. Roll pada tahun 1899 dibangun gedung baru di sebelah rumah sakit militer, tepatnya di Hospitaalweg. Gedung baru ini mulai beroperasi pada tahun 1902, dan dilengkapi dengan asrama.

Batu Nisan HF Roll di Museum Taman Prasasti
Sekolah ini menjadi saksi pada hari Minggu tanggal 20 Mei 1908, di salah satu ruang kelas STOVIA yang biasa digunakan untuk mata kuliah anatomi, Soetomo menyatakan bahwa hari depan bangsa dan tanah air ada di tangan mereka, dan menjelaskan gagasannya untuk mendirikan organisasi. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, dan para pelajar STOVIA lainya kemudian mendeklarasikan berdirinya organisasi modern pertama Boedi Oetomo, yang menjadi cikal bakal pergerakan Indonesia menuju kemerdekaan.

Diorama suasana Ruang Anatomi saat deklarasi berdirinya Boedi Oetomo 
Selama beroperasi di Hospitaalweg, STOVIA telah meluluskan beberapa dokter bumiputera, termasuk di antaranya dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. R. Soetomo (pendiri Boedi Oetomo), dr. Jacob Bernadus Sitanala (peneliti kusta), dr. Achmad Mochtar (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala lembaga Eijkman), dan dr. RM Djoehana Wiradikarta (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala lembaga Pasteur).

Lembaga Eijkman di RSCM
dr. Achmad Mochtar adalah salah satu asisten dr. Christian Eijkman dalam meneliti penyakit beri-beri. Di masa pendudukan Jepang, dr. Mochtar bersama koleganya ditahan Kempetai dengan tuduhan mencemari vaksin TCD sehingga menyebabkan kematian para romusha. dr. Mochtar mengajukan diri untuk melindungi koleganya, sehingga koleganya dibebaskan dan sejak itu dr. Mochtar tak diketahui nasibnya. Pencarian jejak dr. Mochtar dilakukan oleh prof Sangkot dan Kevin Baird, hingga menemukan bahwa dr. Mochtar telah menjadi korban kekejaman Kempetai dan dimakamkan di Ereveld Ancol.

Nisan Makam Prof. dr. Achmad Mochtar di Ereveld Ancol
Tahun 1916, pemerintah Hindia Belanda mulai memikirkan untuk memindahkan STOVIA ke lokasi baru. Lokasi baru dipilih di Salemba, untuk mendirikan bangunan sekolah yang lebih representatif dan rumah sakit terpadu yang dapat menampung lebih banyak pelajar. Peletakan batu pertama Gedung di Salemba dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 1916 oleh istri gubernur jenderal Hindia Belanda Catharina Maria Rolina van Limburg Stirum.

Prasasti Peletakan Batu Pertama Gedung GHS di Salemba (koleksi iMuseum FKUI)
Pada tahun 1919 berdiri Rumah Sakit Pusat Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ, sekarang menjadi RSCM), yang merupakan rumah sakit pendidikan pelajar STOVIA, karena sarana dan prasarananya lebih lengkap dan modern. Selanjutnya dibangun gedung baru di sebelah CBZ sebagai tempat pendidikan. Tanggal 5 Juli 1920, dengan berdirinya gedung pendidikan kedokteran di sebelah Rumah Sakit Pusat CBZ, seluruh fasilitas Sekolah Pendidikan Dokter Hindia dipindahkan ke gedung tersebut (sekarang dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Adapun gedung STOVIA lama sempat dipergunakan sebagai asrama pelajar, karena para pelajar STOVIA diberi kebebasan untuk memilih tetap tinggal di asrama STOVIA, atau kos di rumah penduduk di sekitar Salemba.

Tanggal 9 Agustus 1927, STOVIA resmi berubah menjadi Geneeskundige Hoogeschol (pendidikan tinggi kedokteran), dan syarat masuknya semakin diperketat, yaitu minimum lulusan Hogere Burger School (HBS) atau Algemene Middelbare School (AMS). Lulusan GHS bergelar Arts dan setara dengan dokter dari Belanda. Beberapa lulusan GHS yang terkenal di antaranya adalah dr. Johannes Leimena (wakil perdana menteri 2 kabinet Soekarno), dr. Abdoel Patah, dr. Moewardi, dr. Abdulrachman Saleh (bapak faal Indonesia, perintis radio, dan tokoh AURI), dan dr. Julie Sulianti Saroso.

Patung dr. Abdulrachman Saleh di FKUI Salemba 
Ketika masa kolonialisme Belanda di Hindia Belanda berakhir pada tahun 1942, GHS sempat ditutup selama beberapa waktu, sebelum pemerintah Jepang mendirikan sekolah kedokteran Ika Daigaku. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, pada 19 Agustus 1945 Ika Daigaku berubah menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran, yang merupakan salah satu fakultas Badan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI). Saat tentara NICA menguasai Jakarta, BPTRI “mengungsi” ke Klaten, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Tahun 1946, NICA mendirikan Geneeskundige Faculteit-Nood Universiteit di Jakarta. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia di akhir tahun 1949, BPTRI kembali ke Jakarta. Pada tahun 1950 Perguruan Tinggi Kedokteran dan Geneeskundige Faculteit-Nood Universiteit dilebur menjadi satu, menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang berkedudukan di Jl. Salemba 6.

Saturday, September 21, 2019

Sabar Menanti: Pelajaran Dari Seekor Rakun

Memotret satwa merupakan kegiatan yang susah-susah gampang, karena satwa tidak bisa diatur sebagaimana manusia. Selain tahu momen yang tepat, perlu kesabaran ekstra menunggu para satwa menunjukkan momen, gaya, ekspresi, atau emosi yang menarik untuk dipotret. Sepanjang pengalaman saya memotret satwa, lama kelamaan kita paham karakteristik masing-masing satwa, mana yang mudah untuk dipotret, dan mana yang perlu kesabaran dan kejelian. Seperti jerapah, mereka relatif mudah dipotret karena pergerakannya yang lambat. Ada juga satwa tertentu yang sulit dipotret karena mereka sangat dinamis dan tak terduga, misalnya burung unta, atau kocheng (ya, di Kebun Binatang Ragunan banyak kocheng berkeliaran di luar kandang!).


 


Tapi ada satwa yang sulit dipotret karena hobi ngumpet. Ya, rakun – hewan berwarna abu-abu berekor belang bermata panda yang diimpor dari Kanada - sudah menjadi penghuni Kebun Binatang Ragunan sejak tahun 2010. Tapi 3 tahun pertama keberadaannya di Ragunan, saya tidak melihat keberadaannya, sampai dengan ketika pengelola Ragunan memindahkan kandangnya ke bagian depan dekat pintu masuk Utara. Itu pun saya masih jarang melihat penampakannya, sampai dengan di penghujung tahun 2013, baru saya melihat penampakan fisik sang rakun. Ternyata karena dia hobi ngumpet, agak sulit untuk menemukannya di kerumunan tumbuhan di dalam kandang. Baru di awal tahun 2014 saya berhasil mendapatkan foto si rakun, itu pun saya beruntung karena saat itu ia sedang anteng dan tidak banyak bergerak, sehingga mudah untuk dipotret.



Tahun 2019, saya iseng hunting foto lagi di Kebun Binatang Ragunan, dan lagi-lagi ingin menjenguk kawan abu-abu berekor belang bermata panda ini. Namun hari itu ternyata dia memilih untuk bobok siang di balik pepohonan, mungkin karena cuaca sangat panas dan tidak bersahabat untuk dirinya yang berasal dari Kanada… Jadi dengan amat sangat terpaksa saya mengabadikan dirinya sedang “menjepitkan” diri di batang pohon sekaligus berteduh di balik daun-daunan… hhh…



Seminggu kemudian, saya berkesempatan ke Ragunan lagi, dan pagi-pagi iseng menjenguk kandang si kawan abu-abu ini. Dia sudah tidak bersembunyi di balik pohon, tapi dia leyeh-leyeh sambil memamerkan pantat dan ekornya yang belang-belang! Hadeuh… macam mana ini? Akhirnya saya memutuskan untuk olahraga dulu, mana tahu nanti agak siangan si kawan abu-abu ini sudah lebih aktif.



Selesai olahraga, saya kembali mampir ke kandang si kawan abu-abu. Mungkin karena hari semakin siang, sang rakun mulai lebih aktif. Terlihat dia mulai menggali-gali tanah, dan sesekali terlihat seperti membersihkan kedua kaki depannya, lebih mirip orang yang mencuci tangan. Nah, finally… eh tapi belum bisa dapat foto dengan momen yang pas ini.



Setelah saya duduk selama kurang lebih 5 menit untuk minum dan melap keringat, ketika saya berdiri, lah kok mukanya sang rakun pas menghadap ke saya dengan pose yang unyu? Tanpa buang waktu saya ambil kamera, dan voila! Tertangkap sebuah potret rakun yang menggemaskan!


Dari pengalaman hari ini, jelas kesabaran adalah koentji untuk mendapatkan momen yang pas dari sang rakun. Kalau pas apes, sang rakun bisa tidak terlihat di mana-mana, karena bisa jadi dia sedang bersembunyi di balik pohon untuk menahan terik matahari. Jadi kuncinya adalah sabar menanti selama beberapa menit, kalau perlu pergi dulu dan kembali lagi, hanya untuk memastikan sang rakun sudah kembali aktif dan mendapatkan momen yang tepat. Btw, seandainya rakun ini jinak, rasanya ingin saya bawa pulang saja, soalnya lucu banget, kaya blasteran antara panda dan kucing. Tapi berhubung mereka sejatinya binatang liar – dan memelihara binatang liar merupakan pelanggaran undang-undang -- saya pelihara keluarga rakun ini saja lah…


Saturday, February 09, 2019

U-S-S-D-E-K

No, ini bukan USDEK yang berbau-bau politik Orde Lama. Ini USSDEK yang membawa kenikmatan, alias tata cara jamuan khas Surakarta.

Apa yang dimaksud dengan USSDEK? Rupanya USSDEK merupakan singkatan dari Unjukan-Snack-Sop-Dahar-Es-Kondur. Ini merupakan urutan dari hidangan yang disajikan dalam sebuah jamuan makan, baik dalam sebuah hajatan pernikahan (yang paling umum ditemui) maupun hajatan-hajatan lain. Kemungkinan besar USSDEK merupakan modifikasi tata cara jamuan makan gaya Eropa, yang disesuaikan dengan kearifan lokal Jawa Tengah, sebab banyak kemiripan yang bisa kita temukan. Mari kita bandingkan dengan jamuan makan gaya Eropa, yang kita pelajari di kursus table manner.

Dari sisi perbedaannya, jamuan makan gaya Eropa biasanya dilakukan di round table atau meja panjang, jamuan USSDEK hanya menyediakan tempat duduk saja tanpa meja. Sedangkan dari sisi persamaannya adalah pada menunya. Jika jamuan USSDEK diawali dengan Unjukan (biasanya teh manis hangat), di jamuan gaya Eropa para pelayan akan mengisi gelas-gelas kita dengan air putih. Untuk Snack, di jamuan makan gaya Eropa merupakan appetizer. Sedangkan Sop, di jamuan makan gaya Eropa ya tetap sop. Bedanya kalau jamuan USSDEK sopnya umumnya sop bening, di jamuan gaya Eropa umumnya berbentuk cream soup. Selanjutnya adalah Dahar atau main course. Jika di USSDEK dahar-nya bisa berbentuk selat Solo atau paket nasi dan lauknya, main course di jamuan makan Eropa biasanya adalah steak lengkap dengan ubo rampe-nya. Menu selanjutnya adalah Es atau dessert, dalam bentuk es buah atau puding. Biasanya, kalau Es alias dessert-nya sudah dikeluarkan, para tamu bersiap-siap untuk Kondur alias pulang. Saatnya tuan rumah berdiri di pintu, bersalaman dengan para tamu dan mengucapkan terima kasih atas kehadirannya.

Jamuan makan gaya USSDEK ternyata bukan monopoli wilayah Surakarta. Saya pernah menemui tata cara serupa di daerah Banyumas. Dan jamuan di Banyumas tersebut tidak diselenggarakan di gedung pertemuan, melainkan di rumah. Takjub ketika saya tahu bahwa gaya jamuan seperti ini lumrah dilakukan di daerah lain di Jawa Tengah, karena sebelumnya saya pikir USSDEK hanya ada di daerah-daerah kekuasaan keraton Mataram saja.

Apakah jamuan gaya USSDEK kurang praktis? Mungkin iya untuk beberapa orang yang terbiasa dengan jamuan gaya prasmanan. Apalagi kalau tinggal di Jakarta yang dalam satu waktu harus menghadiri hajatan di 2-3 tempat yang berbeda. Namun menurut saya, itulah keunikan dari USSDEK. Di satu sisi, setiap tamu dihormati karena mereka tinggal duduk manis dan dilayani oleh pelayan. Di sisi lain, dipastikan semua tamu yang hadir akan kebagian makanan, tidak ada issue kehabisan makanan.

Btw, ini salah satu hidangan Snack atau appetizer USSDEK favorit saya: kroket ala Solo. Dan kroket di foto ini dibuat oleh salah satu catering tertua dan terbaik (menurut saya) dalam penyelenggaraan USSDEK di Solo. Mudah-mudahan budaya USSDEK ini jangan hilang ditelan masa...


Sunday, August 12, 2018

Creating Beautiful Travel Photography

Nowadays, taking photo is the most popular activities doing (almost) by everybody. Especially when travelling, people taking photo of the objects they've seen, people they've met, or just taking selfie for keeping personal memories of the journey. Since everybody wants to keep good memories, how can we create beautiful travel photos?



First of all, travel photography is all about moments. Making a beautiful travel photos mean catching the right moments, i.e. right person, right time, right situation, or combination of them.

But how do you know when you meet the right moments? It depends on your judgement.

To find the right moments, you have to wait patiently and be considerate. Pick point of interest, and wait for the right person, right time, or right situation to come.

Practice make perfect, so taking more photos means practicing your judgement to find the right moments.

Mastering basic photography technique is also important: composition, lighting, exposure.

Composition is the most important, since this is the one that (almost) cannot be manipulated by software. You should master photo composition by practice, practice and practice.

Try to take photo of one object/spot from many angles or point of view, to get the sense of composition.

Never worry about the camera, because travel photography is never about the camera. Whether you use pocket camera, smartphone camera, or sophisticated DSLR camera, all of that can make a good travel photos.

But whatever camera you use, you have to know how to use it very well. Better understand all camera features, so you can maximize it to get the excellent travel photos.

Making travel photography is a fun things to do. But please remember that there are some objects or moments you should avoid. For example, don’t take photo if it disturbing someone’s privacy. Or if you find interesting objects but it related to military or politics, please ask permission before taking photo.

Last but not least, don’t take photo if it threaten your or your object’s safety (i.e. taking photo in the edge of a cliff). Travel photography is fun, of course, but safety also important.

Thursday, June 14, 2018

[Travel Writing Mash-Up] Gili Keadilan di Bali dan Lombok

Dalam bahasa Bali dan Lombok, “gili” berarti pulau kecil, dan di antara gili-gili yang ada, gili yang paling terkenal adalah Gili Trawangan. Namun ternyata yang disebut “gili” tidak melulu pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut. Baik Bali maupun Lombok memiliki gili yang terletak di tengah pulau, dan bisa dikatakan keduanya berfungsi sebagai “Gili Keadilan”.

Taman Gili Kerta Gosa 
Terletak di Kota Semarapura, 40 km di sisi timur Kota Denpasar, Taman Gili Kerta Gosa semula merupakan bagian dari Kompleks Keraton Semarapura atau keraton Kerajaan Klungkung. Dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe, saat ini Kompleks Keraton Semarapura nyaris tak bersisa akibat dihancurkan saat perang puputan Klungkung tahun 1908, hanya menyisakan Taman Gili Kerta Gosa dan Pemedal Agung (Gapura Keraton Semarapura).

Lukisan Kamasan di langit-langit bangunan
Taman Gili Kerta Gosa terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Kedua bangunan tersebut memiliki ciri arsitektur tradisional Bali yang sangat kental. Keunikan dari kedua bangunan ini adalah di langit-langitnya yang dihiasi lukisan tradisional Bali gaya Kamasan. Semula lukisan ini terbuat dari kain dan parba. Pada tahun 1930, langit-langit ini diganti dengan bahan yang lebih awet, kemudian lukisan tersebut direstorasi sesuai gambar aslinya. Restorasi yang dilakukan para seniman lukis Kamasan tersebut baru selesai pada tahun 1960.

Kursi untuk pengadilan adat
Bale Kerta Gosa yang terletak di sudut kompleks berfungsi sebagai tempat pengadilan tradisional yang dipimpin oleh raja sebagai hakim tertinggi. Fungsi ini sangat terkait dengan kisah yang ditampilkan pada lukisan di langit-langit bangunan, yaitu kisah Tantri Kamandaka serta hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan manusia). Ketika kerajaan Klungkung ditaklukan oleh Belanda, Kerta Gosa masih digunakan sebagai balai pengadilan adat. Saat ini di dalam bangunan tersebut dapat dilihat replika kursi dan meja dari kayu berukir yang digunakan untuk pengadilan adat tradisional di masa lalu. Balai Kerta Gosa juga menyimpan jejak hubungan kerajaan Bali dengan dunia internasional di masa lampau, dengan adanya patung orang Portugis, Belanda, dan Cina. Inilah bukti bahwa Kerajaan Klungkung telah menjalin kerjasama dengan bangsa-bangsa tersebut sejak masa lalu, jauh sebelum Bali dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Bale Kambang
Sedangkan Bale Kambang merupakan bangunan pendopo yang terletak di Taman Gili atau pulau diatas kolam teratai. Bale ini berfungsi sebagai tempat pertemuan, jamuan makan, atau tempat upacara keagamaan. Lukisan-lukisan yang terdapat di langit-langit Bale Kambang serupa dengan lukisan di atas Bale Kerta Gosa, namun temanya lebih kepada tata cara kehidupan masyarakat Bali, tata cara upacara, serta kisah Sutasoma yang melawan Purusadha. Di sepanjang dinding jembatan menuju Bale Kambang terdapat patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh dari kisah pada lukisan di langit-langit.

Pamedalan Agung
Antara Bale Kambang dengan Museum Semarajaya terdapat Gapura Pemedalan Agung yang merupakan sisa gapura Keraton Semarapura. Semula gapura ini merupakan pintu gerbang masuk ke Jeroan Puri atau tempat tinggal raja dan keluarganya. Walau hanya berupa pintu gerbang, Pemedalan Agung tersebut disucikan sehingga hanya mereka yang akan beribadah yang bisa memasuki area dekat gerbang tersebut.

Taman Mayura 
Dari Klungkung kita menyeberang Selat Lombok menuju Taman Mayura di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Kompleks Taman Mayura pertama kali dibangun oleh Raja Anak Agung Made Karangasem pada tahun 1744, ketika kerajaan Karangasem menguasai sebagian Lombok Barat. Tempat ini diperuntukkan sebagai Istana Musim Hujan dengan nama Taman Istana Kelepug, di mana nama “Kelepug” berasal dari bunyi air yang mengalir dan jatuh di kolam istana.


Pura Kelepug
Tahun 1866, atas perintah Raja Anak Agung Ngurah Karangasem, taman ini direnovasi, dan berganti nama menjadi Taman Mayura. Nama “Mayura” berasal dari kata Mayora, yang dalam bahasa Sansekerta berarti burung merak. Burung merak ini didatangkan dari Makassar untuk mengusir ular berbisa, yang pada saat itu berkeliaran di sekitar taman dan mengganggu aktivitas umat dalam beribadah.

Raad Kerta
Primadona dari Taman Mayura adalah Bale Kambang yang terletak di atas pulau kecil (gili) di atas kolam. Bale Kambang ini dikenal dengan nama Rat Kerte, yang berasal dari kata Raad Kerta (Raad Van Kerta), yaitu nama lembaga hukum adat Hindu. Bale Kambang ini dulu berfungsi sebagai tempat musyawarah atau ruang sidang pengadilan milik istana kerajaan Karangasem di Lombok.

Gerbang Biru untuk masuk ke Raad Kerta
Untuk memasuki Raad Kerta pengunjung harus melalui sebuah gerbang indah yang dikawal sepasang dwarapala. Gerbang ini merupakan simbolisasi hal-hal yang harus dilakukan sebelum memasuki Raad Kerta dan mencapai kesepakatan yang adil. Pintu gerbang dengan hiasan berwarna emas merupakan lambang hati yang bisa membedakan antara baik dan buruk. Di sisi atas terdapat sepasang piring keramik Delft yang melambangkan mata sebagai pintu pertama masuknya pengaruh. Bagian atas gerbang berbentuk seperti mahkota yang melambangkan akal pikiran manusia untuk memilih antara baik dan buruk. Sedangkan daun pintu berwarna biru merupakan lambang keimanan sebagai pertahanan terakhir untuk menyingkirkan segala keburukan sebelum memasuki Raad Kerta.

Patung Penyebar Agama Islam
Walaupun pendopo di Raad Kerta dan di Bale Kambang Kerta Gosa sama-sama memiliki arsitektur gaya Bali, namun bangunan ini tidak memiliki ornamen seindah Bale Kambang di Kerta Gosa. Jika Bale Kambang Kerta Gosa dikelilingi patung para dewa, maka Raad Kerta juga dikelilingi beberapa candi kecil dan beberapa patung. Candi-candi kecil melambangkan umat Hindu, sedangkan patung-patung orang melambangkan para penyebar agama Islam yang masuk ke Lombok, yaitu pedagang dari Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Sedangkan patung-patung binatang yang ada di sekitar pendopo juga memiliki beberapa makna, seperti patung kuda yang bermakna pengendalian nafsu, serta patung singa yang bermakna sifat manusia jika tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.

Patung Kuda yang melambangkan pengendalian nafsu
Jika Taman Gili Kerta Gosa dilengkapi dengan Pamedalan Agung yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, Taman Mayura dilengkapi 2 buah pura. Pura pertama adalah Pura Kelepug yang digunakan untuk raja Mataram Karangasem dan keluarganya. Pura ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Taman Kelepug. Yang unik, pura ini memiliki pancuran berbentuk kepala naga, yang melambangkan ular-ular berbisa yang dulu pernah banyak terdapat di tempat ini. Sedangkan pura yang kedua adalah Pura Jagatnata, yang merupakan pura pusat agama Hindu di Lombok, dan digunakan untuk beribadah kaum Brahmana. Di dalam Pura Jagatnatha terdapat 3 pelinggih yang melambangkan 3 gunung yang dikeramatkan umat Hindu: Gunung Semeru di Jawa, mengingatkan bahwa agama Hindu berasal dari Majapahit, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani.

Sunday, June 03, 2018

[Travel Writing Mash-Up] The Sleeping Buddha Statue

The Biggest Sleeping Buddha in The World 
Dalam agama Buddha, rupang atau patung digunakan sebagai simbol yangmewakili sosok Sang Buddha sebagai teladan hidup. Setiap rupang memiliki makna yang berbeda, sesuai dengan karakter kebuddhaan yang disimbolkan. Salah satu bentuk rupang yang paling dikenal adalah Sleeping Buddha, atau rupang Buddha Parinibbana. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha sedang berbaring di bawah pohon Sala, sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Patung Bernuansa Tiongkok di Wat Pho
Rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia terletak di Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan, atau kita kenal sebagai Wat Pho. Vihara ini merupakan vihara tertua dan terbesar di Bangkok. Wat Pho dibangun pada abad ke-16, di masa kerajaan Ayutthaya. Dana untuk membangun Wat Pho berasal dari donasi orang-orang Tiongkok, sehingga tak heran jika di Wat Pho terlihat patung-patung dan ornamen bangunan dengan ciri arsitektur Tiongkok.

 
Tampak Kepala dan Tampak Kaki Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho

Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia. Sedemikan besarnya, sangat sulit untuk memotret rupang secara utuh dalam satu frame. Rupang Sleeping Buddha ini dibuat dari batu bata yang dilapis kertas emas, dengan mata dan telapak kaki dihiasi ornamen 108 karakter Buddha yang terbuat dari mother of pearl (bagian dalam tiram/remis yang memproduksi mutiara). Selain menjadi rumah bagi rupang Sleeping Buddha, Wat Pho juga menyimpan tidak kurang dari 394 arca Buddha yang berasal dari candi-candi yang hancur atau ditinggalkan selama perang di luar Kota Bangkok.

Sebagian Deretan Arca Buddha di Wat Pho


The Biggest Sleeping Buddha in Indonesia 
Jika belum berkesempatan ke Bangkok untuk melihat rupang Sleeping Buddha di Wat Pho, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia di Mahavihara Majapahit, Trowulan. Mahavihara Majapahit didirikan pada tahun 1985 oleh Banthe Viriyanadi Mahathera, biksu asal Mojokerto.

Rupang Sleeping Buddha di Mahavihara Majapahit
Rupang Sleeping Buddha berwarna emas di Mahavihara Majapahit memiliki ukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia, dan terbesar ketiga di dunia setelah rupang Sleeping Buddha di Thailand dan Nepal. Rupang Sleeping Buddha ini diletakkan tempat terbuka, di atas landasan berhias relief kehidupan Buddha Gautama, hukum karmaphala dan hukum tumimbal lahir. Landasan ini dikelilingi sebuah kolam yang indah, dengan latar belakang berupa dinding batu buatan yang menggambarkan suasana pegunungan.

Tampak Kepala dan Tampak Kaki Rupang Sleeping Buddha di Mahavihara Majapahit

Keunikan rupang ini dibandingkan rupang Sleeping Buddha di tempat-tempat lain adalah rupang ini dijaga oleh sepasang patung Dwarapala, dengan bentuk khas Dwarapala di Jawa. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang, yang dipasang untuk melindungi tempat suci atau tempat yang dianggap keramat.

Salah Satu Dwarapala Penjaga Rupang Sleeping Buddha


Sleeping Buddha Under Cannonball Tree 
Indonesia ternyata tidak hanya memiliki satu rupang Sleeping Buddha. Jika Anda berada di sekitar Semarang, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha yang berada di kompleks Vihara Buddhagaya Watugong. Vihara yang didirikan pada tahun 1955 ini merupakan vihara pertama yang didirikan di Indonesia sejak kehancuran kerajaan Majapahit yang bersamaan dengan lenyapnya umat Buddha di Nusantara. Keunikan dari vihara ini adalah adanya bangunan Pagoda Avalokitesvara yang kental dengan nuansa budaya Tiongkok, serta Ruang Dhammasala yang memiliki altar dengan rupang Sang Buddha bergaya India.

Rupang Sleeping Buddha di Pagoda Avalokitesvara Watugong
Namun rupang Sleeping Buddha justru terletak di luar bangunan, tepatnya di sisi timur bangunan Pagoda, dan terletak agak ke bawah. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha dalam posisi berbaring dengan mengenakan jubah warna coklat. Penggambaran ini sangat bersahaja jika dibandingkan rupang di Wat Pho atau di Mahavihara Majapahit. Rupang Sleeping Buddha ini digambarkan sedang tidur di bawah pohon sala (Couroupita guianensis atau cannonball tree), sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh Pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Pagoda Avalokitesvara di Kala Senja
Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong sangat mudah dikenali dengan adanya Pagoda Avalokitesvara setinggi 45 meter sebagai landmark kompleks tersebut. Pagoda Avalokitesvara dibangun untuk menghormati Boddhisatwa Avalokitesvara (Buddha Welas Asih), yang dalam agama Buddha gaya Tiongkok digambarkan sebagai perwujudan Dewi Kwan Im. Di atas altar pagoda terdapat rupang Boddhisatwa Avalokitesvara yang terbuat dari logam kuning berukuran tinggi 5 meter. Rupang ini digambarkan dengan posisi telapak tangan kanan terbuka dan menghadap ke depan, menggambarkan Sang Buddha sedang memberi pelajaran atau restu keselamatan bagi umat manusia.

Rupang Buddha di bawah Pohon Boddhi
Sebelum memasuki area pagoda, terdapat pohon boddhi (Ficus religiosa) yang menjadi tempat Sang Buddha Gautama mendapat Pencerahan Sempurna untuk pertama kali. Pohon ini adalah salah satu dari 2 pohon yang dibawa pada tahun 1934 oleh Bhante Narada Mahathera, yang semula ditanam di Borobudur. Tahun 1955, salah satu pohon dipindahkan ke halaman Vihara Watugong. Di bawah pohon boddhi ini terdapat patung Buddha bersemadi dengan posisi wara mudra, atau memberikan anugrah.

Rupang Sang Buddha di Ruang Dhammasala
Jangan lupa untuk mengunjungi Bangunan Dhammasala yang merupakan bangunan induk kompleks vihara. Di lantai atas bangunan terdapat Ruang Dhammasala yang menjadi tempat ibadah umat Buddha. Di altar yang terdapat dalam Ruang Dhammasala terdapat rupang Sang Buddha dengan posisi duduk dan posisi tangan “dharma cakra pravartana mudra” (memutar roda dharma). Posisi rupang seperti ini sama seperti patung Dhyani Buddha Vairocana yang terdapat di Candi Mendut.


Sleeping Buddha Near Borobudur 
Apabila berkesempatan mengunjungi Borobudur, Anda bisa singgah di Vihara Buddha Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha. Vihara ini terletak bersebelahan dengan Candi Mendut, dan didirikan di atas tanah yang semula ditempati oleh biara Katholik. Ketika tanah ini dibagi-bagikan kepada rakyat pada tahun 1950-an, sebuah yayasan Buddha membeli tanah ini dan membangun vihara.

Rupang Sleeping Buddha di Vihara Mendut
Rupang Sleeping Buddha di vihara ini terletak di halaman depan vihara, dinaungi sebuah pendopo kecil. Rupang ini terbuat dari marmer berwarna gading dengan detail ornamen berwarna emas. Rupang Sleeping Buddha yang seolah berbaring di atas hamparan bunga teratai ini diletakkan di atas landasan batu yang dihiasi ornamen berbentuk bunga, dan di bagian tengah landasan terdapat ornamen kura-kura.

Pendopo yang Menaungi Rupang Sleeping Buddha
Bersebelahan dengan Rupang Sleeping Buddha di vihara ini, terdapat rupang Buddha Amithaba yang tengah dinaungi ular kobra. Rupang ini merupakan simbol peristiwa ketika Sang Buddha tengah bermeditasi di bawah pohon Mucalinda. Tiba-tiba langit mendung, halilitan menyambar-nyambar, dan turun hujan lebat. Namun Sang Buddha tak beringsut dari tempatnya, beliau tetap khusuk bermeditasi. Tiba-tiba datang seekor ular kobra raksasa dan melilitkan badannya tujuh kali memutari Sang Buddha, kemudian memayungi Sang Buddha dengan kepalanya agar tidak kehujanan.

Rupang Sang Buddha Dinaungi Ular Kobra

Thursday, May 31, 2018

[Travel Writing Mash-Up] 4-Faced Buddha Erawan vs 4-Faced Buddha Kenjeran

Four-Faced Buddha Erawan 
Four-Faced Buddha di Kuil Erawan, atau nama lengkapnya San Thao Maha Phrom (Shrine of Lord Brahma The Great), merupakan arca Dewa Brahma yang terletak di pusat Kota Bangkok. Kuil ini terletak di halaman Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, tidak jauh dari stasiun Bangkok Skytrain Chitlom, dan dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan seperti Gaysorn, Central World, dan Amarin Plaza.

San Thao Maha Phrom
Dewa Brahma adalah dewa agama Hindu, dan arca Phra Phrom mewujudkan Dewa Brahma memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Hal ini yang membuat arca ini secara salah kaprah sering disebut sebagai Four-Faced Buddha. Keempat wajah Phra Phrom melambangkan kekuatan Brahma, serta melambangkan 4 sifat baik, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Phra Phrom digambarkan memiliki 8 tangan, yang melambangkan kehadiran dan kekuatan. Dari 8 tangan tersebut, 4 tangan memegang benda suci, sedangkan 4 tangan lainnya memegang senjata untuk mengusir kebathilan.

Penjual Perlengkapan Ibadah di Sekitar Kuil Erawan
Kuil Erawan sendiri didirikan bersamaan dengan pembangunan Hotel Erawan pada tahun 1956, di lahan yang saat ini ditempati Hotel Grand Hyatt Erawan. Saat Hotel Erawan didirikan, banyak hambatan dalam pembangunannya, sehingga pemerintah Thailand sebagai pemiliknya merasa perlu untuk membangun sebuah kuil untuk menetralisir karma buruk tersebut. Adapun patung Phra Phrom merupakan hasil rancangan Departemen Seni Rupa, dan didirikan pada tanggal 9 November 1956. Percaya atau tidak, setelah pendirian kuil ini, pembangunan Hotel Erawan berjalan lancar. Tahun 1987, hotel ini diruntuhkan, dan di atas lahannya digunakan untuk Hotel Grand Hyatt Erawan.

Para Penari Tradisional Thailand
Dengan lokasi yang berada di sudut persimpangan besar dan merupakan kuil terbuka, Kuil Erawan banyak dikunjungi orang, baik mereka yang akan beribadah ataupun wisatawan yang hanya melihat-lihat. Di trotoar sekitar Kuil Erawan banyak deretan penjual bunga dan perlengkapan untuk ibadah, sehingga kuil ini terlihat hidup dan penuh warna. Para penziarah mempersembahkan karangan bunga marigold, dupa, dan lilin, serta memanjatkan doa meminta perlindungan dan agar segala hambatan disingkirkan. Sesekali terdapat pertunjukan dari para penari tradisional Thailand yang melambangkan persembahan doa kepada Dewa Brahma dari para penziarah, atau sebagai perwujudan rasa syukur setelah doa di kuil tersebut dikabulkan.

Phra Phi Khanet di depan Central World
Selain Kuil Erawan, dalam radius 500 meter dari kuil tersebut terdapat beberapa kuil Hindu lainnya, yaitu Phra Trimurati (Trimurti) dan Phra Phi Khanet (Ganesha) yang terletak di depan Central World, Phra Mae Umadhevi (Uma) yang terletak di depan Big-C Supercenter, serta Thao Amarindradhiraja (Indra), dan Phra Narai Song Suban (Narayana di atas Garuda) di depan Amarin Plaza.


Four-Faced Buddha Kenjeran 
Namun untuk melihat arca Four-Faced Buddha, Anda tak perlu jauh-jauh ke Bangkok. Di Kawasan Wisata Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, terdapat arca Four-Faced Buddha yang merupakan tiruan Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca ini diresmikan pada tanggal 9 November 2004, dan pembangunannya menghabiskan dana kurang lebih 4 miliar Rupiah. Patung ini berlapis emas, dan untuk menyempurnakan lapisan emasnya digunakan kertas kimpo atau kertas emas dari Thailand.

Four Faced Buddha di Pantai Ria Kenjeran
Ukuran arca Four-Faced Buddha di Kenjeran jauh lebih besar dibandingkan arca Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca dengan panjang sisi alas 9 meter dan tinggi 9 meter ini diletakkan di dalam bangunan yang disangga 4 pilar berwarna hijau emas, dengan panjang sisi alas 15 meter dan total tinggi 36 meter. Ukuran-ukuran ini banyak mengandung angka 9, karena angka 9 memiliki makna khusus sebagai angka tunggal tertinggi, sekaligus merupakan lambang kesempurnaan.

Detail dari Four-Faced Buddha
Karena ukurannya yang besar, maka kita bisa melihat lebih jelas detail dari arca tersebut. Sama seperti Phra Phrom, arca ini memiliki 8 tangan, dan masing-masing tangan memegang 1 benda. Salah satu dari tangan kanan memegang dada, sedangkan di 3 tangan kanan yang lain memegang cupu berisi air suci, tongkat kebesaran dan cakram (sejenis senjata berbentuk piringan). Adapun tangan kiri patung terlihat sedang memegang tasbih, teratai, kitab suci dan kerang. Air suci merupakan perlambang energi penciptaan semesta, sedangkan teratai merupakan lambang kekuatan yang memunculkan alam semesta. Kedua hal ini merupakan perwujudan sifat Brahma sebagai dewa pencipta dalam agama Hindu.

Berbeda dengan kuil Erawan yang ramai, arca Four-Faced Buddha tidak banyak dikunjungi orang. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung memiliki maksud untuk beribadah. Mereka membakar hio dan berdoa di depan arca tersebut, dan sebagian ada yang berdoa sambil mengelilingi patung searah jarum jam. Selain beribadah di depan arca, penziarah juga bisa menggunakan Ruang Meditasi.

Arca Ganesha di Pantai Ria Kenjeran
 Jika di sekitar Kuil Erawan terdapat beberapa kuil Hindu, Four-Faced Buddha di Kenjeran hanya “ditemani” oleh arca Ganesha. Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu, yang dengan mudah dikenali karena berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut buncit. Arca Ganesha ini diletakkan di dalam sebuah pendopo kecil yang terletak di sisi utara arca Four-Faced Buddha.