Thursday, June 14, 2018

[Travel Writing Mash-Up] Gili Keadilan di Bali dan Lombok

Dalam bahasa Bali dan Lombok, “gili” berarti pulau kecil, dan di antara gili-gili yang ada, gili yang paling terkenal adalah Gili Trawangan. Namun ternyata yang disebut “gili” tidak melulu pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut. Baik Bali maupun Lombok memiliki gili yang terletak di tengah pulau, dan bisa dikatakan keduanya berfungsi sebagai “Gili Keadilan”.

Taman Gili Kerta Gosa 
Terletak di Kota Semarapura, 40 km di sisi timur Kota Denpasar, Taman Gili Kerta Gosa semula merupakan bagian dari Kompleks Keraton Semarapura atau keraton Kerajaan Klungkung. Dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe, saat ini Kompleks Keraton Semarapura nyaris tak bersisa akibat dihancurkan saat perang puputan Klungkung tahun 1908, hanya menyisakan Taman Gili Kerta Gosa dan Pemedal Agung (Gapura Keraton Semarapura).

Lukisan Kamasan di langit-langit bangunan
Taman Gili Kerta Gosa terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Kedua bangunan tersebut memiliki ciri arsitektur tradisional Bali yang sangat kental. Keunikan dari kedua bangunan ini adalah di langit-langitnya yang dihiasi lukisan tradisional Bali gaya Kamasan. Semula lukisan ini terbuat dari kain dan parba. Pada tahun 1930, langit-langit ini diganti dengan bahan yang lebih awet, kemudian lukisan tersebut direstorasi sesuai gambar aslinya. Restorasi yang dilakukan para seniman lukis Kamasan tersebut baru selesai pada tahun 1960.

Kursi untuk pengadilan adat
Bale Kerta Gosa yang terletak di sudut kompleks berfungsi sebagai tempat pengadilan tradisional yang dipimpin oleh raja sebagai hakim tertinggi. Fungsi ini sangat terkait dengan kisah yang ditampilkan pada lukisan di langit-langit bangunan, yaitu kisah Tantri Kamandaka serta hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan manusia). Ketika kerajaan Klungkung ditaklukan oleh Belanda, Kerta Gosa masih digunakan sebagai balai pengadilan adat. Saat ini di dalam bangunan tersebut dapat dilihat replika kursi dan meja dari kayu berukir yang digunakan untuk pengadilan adat tradisional di masa lalu. Balai Kerta Gosa juga menyimpan jejak hubungan kerajaan Bali dengan dunia internasional di masa lampau, dengan adanya patung orang Portugis, Belanda, dan Cina. Inilah bukti bahwa Kerajaan Klungkung telah menjalin kerjasama dengan bangsa-bangsa tersebut sejak masa lalu, jauh sebelum Bali dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Bale Kambang
Sedangkan Bale Kambang merupakan bangunan pendopo yang terletak di Taman Gili atau pulau diatas kolam teratai. Bale ini berfungsi sebagai tempat pertemuan, jamuan makan, atau tempat upacara keagamaan. Lukisan-lukisan yang terdapat di langit-langit Bale Kambang serupa dengan lukisan di atas Bale Kerta Gosa, namun temanya lebih kepada tata cara kehidupan masyarakat Bali, tata cara upacara, serta kisah Sutasoma yang melawan Purusadha. Di sepanjang dinding jembatan menuju Bale Kambang terdapat patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh dari kisah pada lukisan di langit-langit.

Pamedalan Agung
Antara Bale Kambang dengan Museum Semarajaya terdapat Gapura Pemedalan Agung yang merupakan sisa gapura Keraton Semarapura. Semula gapura ini merupakan pintu gerbang masuk ke Jeroan Puri atau tempat tinggal raja dan keluarganya. Walau hanya berupa pintu gerbang, Pemedalan Agung tersebut disucikan sehingga hanya mereka yang akan beribadah yang bisa memasuki area dekat gerbang tersebut.

Taman Mayura 
Dari Klungkung kita menyeberang Selat Lombok menuju Taman Mayura di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Kompleks Taman Mayura pertama kali dibangun oleh Raja Anak Agung Made Karangasem pada tahun 1744, ketika kerajaan Karangasem menguasai sebagian Lombok Barat. Tempat ini diperuntukkan sebagai Istana Musim Hujan dengan nama Taman Istana Kelepug, di mana nama “Kelepug” berasal dari bunyi air yang mengalir dan jatuh di kolam istana.


Pura Kelepug
Tahun 1866, atas perintah Raja Anak Agung Ngurah Karangasem, taman ini direnovasi, dan berganti nama menjadi Taman Mayura. Nama “Mayura” berasal dari kata Mayora, yang dalam bahasa Sansekerta berarti burung merak. Burung merak ini didatangkan dari Makassar untuk mengusir ular berbisa, yang pada saat itu berkeliaran di sekitar taman dan mengganggu aktivitas umat dalam beribadah.

Raad Kerta
Primadona dari Taman Mayura adalah Bale Kambang yang terletak di atas pulau kecil (gili) di atas kolam. Bale Kambang ini dikenal dengan nama Rat Kerte, yang berasal dari kata Raad Kerta (Raad Van Kerta), yaitu nama lembaga hukum adat Hindu. Bale Kambang ini dulu berfungsi sebagai tempat musyawarah atau ruang sidang pengadilan milik istana kerajaan Karangasem di Lombok.

Gerbang Biru untuk masuk ke Raad Kerta
Untuk memasuki Raad Kerta pengunjung harus melalui sebuah gerbang indah yang dikawal sepasang dwarapala. Gerbang ini merupakan simbolisasi hal-hal yang harus dilakukan sebelum memasuki Raad Kerta dan mencapai kesepakatan yang adil. Pintu gerbang dengan hiasan berwarna emas merupakan lambang hati yang bisa membedakan antara baik dan buruk. Di sisi atas terdapat sepasang piring keramik Delft yang melambangkan mata sebagai pintu pertama masuknya pengaruh. Bagian atas gerbang berbentuk seperti mahkota yang melambangkan akal pikiran manusia untuk memilih antara baik dan buruk. Sedangkan daun pintu berwarna biru merupakan lambang keimanan sebagai pertahanan terakhir untuk menyingkirkan segala keburukan sebelum memasuki Raad Kerta.

Patung Penyebar Agama Islam
Walaupun pendopo di Raad Kerta dan di Bale Kambang Kerta Gosa sama-sama memiliki arsitektur gaya Bali, namun bangunan ini tidak memiliki ornamen seindah Bale Kambang di Kerta Gosa. Jika Bale Kambang Kerta Gosa dikelilingi patung para dewa, maka Raad Kerta juga dikelilingi beberapa candi kecil dan beberapa patung. Candi-candi kecil melambangkan umat Hindu, sedangkan patung-patung orang melambangkan para penyebar agama Islam yang masuk ke Lombok, yaitu pedagang dari Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Sedangkan patung-patung binatang yang ada di sekitar pendopo juga memiliki beberapa makna, seperti patung kuda yang bermakna pengendalian nafsu, serta patung singa yang bermakna sifat manusia jika tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.

Patung Kuda yang melambangkan pengendalian nafsu
Jika Taman Gili Kerta Gosa dilengkapi dengan Pamedalan Agung yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, Taman Mayura dilengkapi 2 buah pura. Pura pertama adalah Pura Kelepug yang digunakan untuk raja Mataram Karangasem dan keluarganya. Pura ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Taman Kelepug. Yang unik, pura ini memiliki pancuran berbentuk kepala naga, yang melambangkan ular-ular berbisa yang dulu pernah banyak terdapat di tempat ini. Sedangkan pura yang kedua adalah Pura Jagatnata, yang merupakan pura pusat agama Hindu di Lombok, dan digunakan untuk beribadah kaum Brahmana. Di dalam Pura Jagatnatha terdapat 3 pelinggih yang melambangkan 3 gunung yang dikeramatkan umat Hindu: Gunung Semeru di Jawa, mengingatkan bahwa agama Hindu berasal dari Majapahit, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani.

Sunday, June 03, 2018

[Travel Writing Mash-Up] The Sleeping Buddha Statue

The Biggest Sleeping Buddha in The World 
Dalam agama Buddha, rupang atau patung digunakan sebagai simbol yangmewakili sosok Sang Buddha sebagai teladan hidup. Setiap rupang memiliki makna yang berbeda, sesuai dengan karakter kebuddhaan yang disimbolkan. Salah satu bentuk rupang yang paling dikenal adalah Sleeping Buddha, atau rupang Buddha Parinibbana. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha sedang berbaring di bawah pohon Sala, sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Patung Bernuansa Tiongkok di Wat Pho
Rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia terletak di Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan, atau kita kenal sebagai Wat Pho. Vihara ini merupakan vihara tertua dan terbesar di Bangkok. Wat Pho dibangun pada abad ke-16, di masa kerajaan Ayutthaya. Dana untuk membangun Wat Pho berasal dari donasi orang-orang Tiongkok, sehingga tak heran jika di Wat Pho terlihat patung-patung dan ornamen bangunan dengan ciri arsitektur Tiongkok.

 
Tampak Kepala dan Tampak Kaki Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho

Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia. Sedemikan besarnya, sangat sulit untuk memotret rupang secara utuh dalam satu frame. Rupang Sleeping Buddha ini dibuat dari batu bata yang dilapis kertas emas, dengan mata dan telapak kaki dihiasi ornamen 108 karakter Buddha yang terbuat dari mother of pearl (bagian dalam tiram/remis yang memproduksi mutiara). Selain menjadi rumah bagi rupang Sleeping Buddha, Wat Pho juga menyimpan tidak kurang dari 394 arca Buddha yang berasal dari candi-candi yang hancur atau ditinggalkan selama perang di luar Kota Bangkok.

Sebagian Deretan Arca Buddha di Wat Pho


The Biggest Sleeping Buddha in Indonesia 
Jika belum berkesempatan ke Bangkok untuk melihat rupang Sleeping Buddha di Wat Pho, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia di Mahavihara Majapahit, Trowulan. Mahavihara Majapahit didirikan pada tahun 1985 oleh Banthe Viriyanadi Mahathera, biksu asal Mojokerto.

Rupang Sleeping Buddha di Mahavihara Majapahit
Rupang Sleeping Buddha berwarna emas di Mahavihara Majapahit memiliki ukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia, dan terbesar ketiga di dunia setelah rupang Sleeping Buddha di Thailand dan Nepal. Rupang Sleeping Buddha ini diletakkan tempat terbuka, di atas landasan berhias relief kehidupan Buddha Gautama, hukum karmaphala dan hukum tumimbal lahir. Landasan ini dikelilingi sebuah kolam yang indah, dengan latar belakang berupa dinding batu buatan yang menggambarkan suasana pegunungan.

Tampak Kepala dan Tampak Kaki Rupang Sleeping Buddha di Mahavihara Majapahit

Keunikan rupang ini dibandingkan rupang Sleeping Buddha di tempat-tempat lain adalah rupang ini dijaga oleh sepasang patung Dwarapala, dengan bentuk khas Dwarapala di Jawa. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang, yang dipasang untuk melindungi tempat suci atau tempat yang dianggap keramat.

Salah Satu Dwarapala Penjaga Rupang Sleeping Buddha


Sleeping Buddha Under Cannonball Tree 
Indonesia ternyata tidak hanya memiliki satu rupang Sleeping Buddha. Jika Anda berada di sekitar Semarang, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha yang berada di kompleks Vihara Buddhagaya Watugong. Vihara yang didirikan pada tahun 1955 ini merupakan vihara pertama yang didirikan di Indonesia sejak kehancuran kerajaan Majapahit yang bersamaan dengan lenyapnya umat Buddha di Nusantara. Keunikan dari vihara ini adalah adanya bangunan Pagoda Avalokitesvara yang kental dengan nuansa budaya Tiongkok, serta Ruang Dhammasala yang memiliki altar dengan rupang Sang Buddha bergaya India.

Rupang Sleeping Buddha di Pagoda Avalokitesvara Watugong
Namun rupang Sleeping Buddha justru terletak di luar bangunan, tepatnya di sisi timur bangunan Pagoda, dan terletak agak ke bawah. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha dalam posisi berbaring dengan mengenakan jubah warna coklat. Penggambaran ini sangat bersahaja jika dibandingkan rupang di Wat Pho atau di Mahavihara Majapahit. Rupang Sleeping Buddha ini digambarkan sedang tidur di bawah pohon sala (Couroupita guianensis atau cannonball tree), sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh Pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Pagoda Avalokitesvara di Kala Senja
Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong sangat mudah dikenali dengan adanya Pagoda Avalokitesvara setinggi 45 meter sebagai landmark kompleks tersebut. Pagoda Avalokitesvara dibangun untuk menghormati Boddhisatwa Avalokitesvara (Buddha Welas Asih), yang dalam agama Buddha gaya Tiongkok digambarkan sebagai perwujudan Dewi Kwan Im. Di atas altar pagoda terdapat rupang Boddhisatwa Avalokitesvara yang terbuat dari logam kuning berukuran tinggi 5 meter. Rupang ini digambarkan dengan posisi telapak tangan kanan terbuka dan menghadap ke depan, menggambarkan Sang Buddha sedang memberi pelajaran atau restu keselamatan bagi umat manusia.

Rupang Buddha di bawah Pohon Boddhi
Sebelum memasuki area pagoda, terdapat pohon boddhi (Ficus religiosa) yang menjadi tempat Sang Buddha Gautama mendapat Pencerahan Sempurna untuk pertama kali. Pohon ini adalah salah satu dari 2 pohon yang dibawa pada tahun 1934 oleh Bhante Narada Mahathera, yang semula ditanam di Borobudur. Tahun 1955, salah satu pohon dipindahkan ke halaman Vihara Watugong. Di bawah pohon boddhi ini terdapat patung Buddha bersemadi dengan posisi wara mudra, atau memberikan anugrah.

Rupang Sang Buddha di Ruang Dhammasala
Jangan lupa untuk mengunjungi Bangunan Dhammasala yang merupakan bangunan induk kompleks vihara. Di lantai atas bangunan terdapat Ruang Dhammasala yang menjadi tempat ibadah umat Buddha. Di altar yang terdapat dalam Ruang Dhammasala terdapat rupang Sang Buddha dengan posisi duduk dan posisi tangan “dharma cakra pravartana mudra” (memutar roda dharma). Posisi rupang seperti ini sama seperti patung Dhyani Buddha Vairocana yang terdapat di Candi Mendut.


Sleeping Buddha Near Borobudur 
Apabila berkesempatan mengunjungi Borobudur, Anda bisa singgah di Vihara Buddha Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha. Vihara ini terletak bersebelahan dengan Candi Mendut, dan didirikan di atas tanah yang semula ditempati oleh biara Katholik. Ketika tanah ini dibagi-bagikan kepada rakyat pada tahun 1950-an, sebuah yayasan Buddha membeli tanah ini dan membangun vihara.

Rupang Sleeping Buddha di Vihara Mendut
Rupang Sleeping Buddha di vihara ini terletak di halaman depan vihara, dinaungi sebuah pendopo kecil. Rupang ini terbuat dari marmer berwarna gading dengan detail ornamen berwarna emas. Rupang Sleeping Buddha yang seolah berbaring di atas hamparan bunga teratai ini diletakkan di atas landasan batu yang dihiasi ornamen berbentuk bunga, dan di bagian tengah landasan terdapat ornamen kura-kura.

Pendopo yang Menaungi Rupang Sleeping Buddha
Bersebelahan dengan Rupang Sleeping Buddha di vihara ini, terdapat rupang Buddha Amithaba yang tengah dinaungi ular kobra. Rupang ini merupakan simbol peristiwa ketika Sang Buddha tengah bermeditasi di bawah pohon Mucalinda. Tiba-tiba langit mendung, halilitan menyambar-nyambar, dan turun hujan lebat. Namun Sang Buddha tak beringsut dari tempatnya, beliau tetap khusuk bermeditasi. Tiba-tiba datang seekor ular kobra raksasa dan melilitkan badannya tujuh kali memutari Sang Buddha, kemudian memayungi Sang Buddha dengan kepalanya agar tidak kehujanan.

Rupang Sang Buddha Dinaungi Ular Kobra

Thursday, May 31, 2018

[Travel Writing Mash-Up] 4-Faced Buddha Erawan vs 4-Faced Buddha Kenjeran

Four-Faced Buddha Erawan 
Four-Faced Buddha di Kuil Erawan, atau nama lengkapnya San Thao Maha Phrom (Shrine of Lord Brahma The Great), merupakan arca Dewa Brahma yang terletak di pusat Kota Bangkok. Kuil ini terletak di halaman Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, tidak jauh dari stasiun Bangkok Skytrain Chitlom, dan dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan seperti Gaysorn, Central World, dan Amarin Plaza.

San Thao Maha Phrom
Dewa Brahma adalah dewa agama Hindu, dan arca Phra Phrom mewujudkan Dewa Brahma memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Hal ini yang membuat arca ini secara salah kaprah sering disebut sebagai Four-Faced Buddha. Keempat wajah Phra Phrom melambangkan kekuatan Brahma, serta melambangkan 4 sifat baik, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Phra Phrom digambarkan memiliki 8 tangan, yang melambangkan kehadiran dan kekuatan. Dari 8 tangan tersebut, 4 tangan memegang benda suci, sedangkan 4 tangan lainnya memegang senjata untuk mengusir kebathilan.

Penjual Perlengkapan Ibadah di Sekitar Kuil Erawan
Kuil Erawan sendiri didirikan bersamaan dengan pembangunan Hotel Erawan pada tahun 1956, di lahan yang saat ini ditempati Hotel Grand Hyatt Erawan. Saat Hotel Erawan didirikan, banyak hambatan dalam pembangunannya, sehingga pemerintah Thailand sebagai pemiliknya merasa perlu untuk membangun sebuah kuil untuk menetralisir karma buruk tersebut. Adapun patung Phra Phrom merupakan hasil rancangan Departemen Seni Rupa, dan didirikan pada tanggal 9 November 1956. Percaya atau tidak, setelah pendirian kuil ini, pembangunan Hotel Erawan berjalan lancar. Tahun 1987, hotel ini diruntuhkan, dan di atas lahannya digunakan untuk Hotel Grand Hyatt Erawan.

Para Penari Tradisional Thailand
Dengan lokasi yang berada di sudut persimpangan besar dan merupakan kuil terbuka, Kuil Erawan banyak dikunjungi orang, baik mereka yang akan beribadah ataupun wisatawan yang hanya melihat-lihat. Di trotoar sekitar Kuil Erawan banyak deretan penjual bunga dan perlengkapan untuk ibadah, sehingga kuil ini terlihat hidup dan penuh warna. Para penziarah mempersembahkan karangan bunga marigold, dupa, dan lilin, serta memanjatkan doa meminta perlindungan dan agar segala hambatan disingkirkan. Sesekali terdapat pertunjukan dari para penari tradisional Thailand yang melambangkan persembahan doa kepada Dewa Brahma dari para penziarah, atau sebagai perwujudan rasa syukur setelah doa di kuil tersebut dikabulkan.

Phra Phi Khanet di depan Central World
Selain Kuil Erawan, dalam radius 500 meter dari kuil tersebut terdapat beberapa kuil Hindu lainnya, yaitu Phra Trimurati (Trimurti) dan Phra Phi Khanet (Ganesha) yang terletak di depan Central World, Phra Mae Umadhevi (Uma) yang terletak di depan Big-C Supercenter, serta Thao Amarindradhiraja (Indra), dan Phra Narai Song Suban (Narayana di atas Garuda) di depan Amarin Plaza.


Four-Faced Buddha Kenjeran 
Namun untuk melihat arca Four-Faced Buddha, Anda tak perlu jauh-jauh ke Bangkok. Di Kawasan Wisata Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, terdapat arca Four-Faced Buddha yang merupakan tiruan Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca ini diresmikan pada tanggal 9 November 2004, dan pembangunannya menghabiskan dana kurang lebih 4 miliar Rupiah. Patung ini berlapis emas, dan untuk menyempurnakan lapisan emasnya digunakan kertas kimpo atau kertas emas dari Thailand.

Four Faced Buddha di Pantai Ria Kenjeran
Ukuran arca Four-Faced Buddha di Kenjeran jauh lebih besar dibandingkan arca Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca dengan panjang sisi alas 9 meter dan tinggi 9 meter ini diletakkan di dalam bangunan yang disangga 4 pilar berwarna hijau emas, dengan panjang sisi alas 15 meter dan total tinggi 36 meter. Ukuran-ukuran ini banyak mengandung angka 9, karena angka 9 memiliki makna khusus sebagai angka tunggal tertinggi, sekaligus merupakan lambang kesempurnaan.

Detail dari Four-Faced Buddha
Karena ukurannya yang besar, maka kita bisa melihat lebih jelas detail dari arca tersebut. Sama seperti Phra Phrom, arca ini memiliki 8 tangan, dan masing-masing tangan memegang 1 benda. Salah satu dari tangan kanan memegang dada, sedangkan di 3 tangan kanan yang lain memegang cupu berisi air suci, tongkat kebesaran dan cakram (sejenis senjata berbentuk piringan). Adapun tangan kiri patung terlihat sedang memegang tasbih, teratai, kitab suci dan kerang. Air suci merupakan perlambang energi penciptaan semesta, sedangkan teratai merupakan lambang kekuatan yang memunculkan alam semesta. Kedua hal ini merupakan perwujudan sifat Brahma sebagai dewa pencipta dalam agama Hindu.

Berbeda dengan kuil Erawan yang ramai, arca Four-Faced Buddha tidak banyak dikunjungi orang. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung memiliki maksud untuk beribadah. Mereka membakar hio dan berdoa di depan arca tersebut, dan sebagian ada yang berdoa sambil mengelilingi patung searah jarum jam. Selain beribadah di depan arca, penziarah juga bisa menggunakan Ruang Meditasi.

Arca Ganesha di Pantai Ria Kenjeran
 Jika di sekitar Kuil Erawan terdapat beberapa kuil Hindu, Four-Faced Buddha di Kenjeran hanya “ditemani” oleh arca Ganesha. Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu, yang dengan mudah dikenali karena berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut buncit. Arca Ganesha ini diletakkan di dalam sebuah pendopo kecil yang terletak di sisi utara arca Four-Faced Buddha.

Monday, May 28, 2018

[Travel Writing Mash-Up] Berliner Mauer vs Tembok Berlin

Situs Berliner Mauer, Sisa-Sisa Kejayaan Perang Dingin Eropa 
Tembok Berlin (Berliner Mauer) adalah obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi jika kita singgah di ibukota negara Jerman. Namun hari ini kita tidak akan menemukan bangunan tembok besar yang semula membelah Kota Berlin secara fisik dan ideologi tersebut. Yang bisa kita temukan hanyalah situs tapak tembok, sisa-sisa tembok, dan beberapa bekas pos perbatasan di sepanjang tembok.

Sisa Tembok Berlin
Tembok Berlin dibangun oleh pihak Jerman Timur mulai 13 Agustus 1961, membentang dari barat ke timur, membentuk wilayah enklave di sisi barat Berlin. Bukan sekadar tembok beton, tembok ini juga dilengkapi menara pengawas, parit berisi ranjau, dan perangkat pertahanan lainnya. Keberadaan tembok ini seolah menjadi saksi bisu perang dingin antara dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Dengan adanya perubahan politik yang radikal di kawasan Blok Timur, serta berkurangnya pengaruh Uni Sovyet, pada tanggal 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur mengumumkan bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Mereka serta merta memanjat dan menyeberangi Tembok Berlin untuk merayakan atmosfer kebebasan. Tembok Berlin secara resmi mulai dibongkar sejak 13 Juni 1990, hingga terbongkar seluruhnya di tahun 1992. Pembongkaran Tembok Berlin ini juga menandai reunifikasi Jerman yang diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1990.

Checkpoint Charlie
Antara tahun 1947 sampai dengan 1991, terdapat 9 pintu perbatasan yang tersebar di antara Berlin Timur hingga Berlin Barat, namun yang paling terkenal adalah Checkpoint Charlie, yang terletak di pojokan Friedrichstrasse dan Zimmerstrasse. Saat itu Checkpoint Charlie secara terbatas hanya digunakan untuk lalu lintas orang asing dan tentara Sekutu. Hari ini, lokasi yang semula merupakan Checkpoint Charlie dijadikan semacam monumen Perang Dingin yang membelah Berlin dan Jerman. Di tempat yang saat ini merupakan salah satu daya tarik wisata Kota Berlin, masih tersisa pos penjagaan, dan di dekatnya terdapat Museum Sekutu serta eksibisi terkait Tembok Berlin.

Menikmati Sunset di Tembok Berlin 
Namun tahukah jika Anda bisa menikmati sunset dari Tembok Berlin? Tentu saja bukan dari Checkpoint Charlie yang sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi, melainkan dari Pantai Dofior di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.

"Tembok Berlin" di Kota Sorong
Pantai Dofior adalah pantai sempit yang merupakan pantai Kota Sorong. Pantai ini lebih dikenal sebagai Pantai “Tembok Berlin”, karena terdapat tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak. Posisi pantai menghadap ke arah barat, sehingga sangat ideal untuk melihat panorama sunset.

Pantai Dofior dan "Tembok Berlin"
Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin. Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong, seperti Pulau Doom dan Pulau Raam.

Panorama Sunset di Pantai Dofior

Saturday, February 20, 2016

Kuliah Jurusan Apa? Teknik Kimia Aja!


Alhamdulillah, buku ini sudah terbit sejak November 2015...

Buku ini merupakan satu dari rangkaian judul seri “Kuliah Jurusan Apa?” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Penulisan buku ini berawal dari peluang yang ditawarkan Agensi Naskah Indscript Creative, untuk menuliskan buku-buku tentang bagaimana kuliah di perguruan tinggi. Gayung bersambut, sudah lama saya dan beberapa teman punya ide menulis buku tentang Teknik Kimia untuk orang awam. Dan buku ini pun didasari kegalauan saya, karena masih banyak orang yang mengira Teknik Kimia itu hanya berkutat di bidang ilmu kimia dan laboratorium. In fact, Chemical Engineering is much more fun and interesting!

Kenapa di buku ini saya kembali menggunakan nama asli saya? Yes, it’s still a matter of "Personal Branding". Walaupun nama “Arini Tathagati” awalnya digunakan untuk branding buku-buku craft dan traveling, tapi Teknik Kimia is always be part of my life, jauh sebelum saya tergila-gila dengan handicraft, dan jauh sebelum saya mendalami genre travel writing. Dengan memakai nama asli, saya tidak hanya memperkenalkan kepada publik mengenai latar belakang pendidikan saya. Lebih dari itu, branding saya akan diperkuat oleh para civitas akademika Teknik Kimia, termasuk bapak-ibu dosen, para alumni, dan rekan-rekan yang dulu sama-sama kuliah bersama saya.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Mbak Chika Ananda atas dukungan mereka sehingga buku ini bisa terwujud. Terima kasih saya sampaikan juga kepada kedua orang tua saya yang mengilhami saya untuk menempuh kuliah di Teknik Kimia. Saya sampaikan juga terima kasih kepada komunitas Teknik Kimia ITB atas sambutannya yang hangat dengan terbitnya buku ini. Semoga buku ini bisa bermanfaat memberikan gambaran bagaimana kuliah di Program Studi Teknik Kimia, khususnya bagi adik-adik calon lulusan SLTA yang sedang galau dalam memilih program studi untuk pendidikan yang lebih tinggi.

Yang ingin beli buku ini tapi belum sempat ke Gramedia, bisa beli secara online di sini. Kalau yang ingin beli e-booknya, bisa langsung klik Scoop. O ya, buku ini juga sudah ada di Amazon.com, jadi bagi teman-teman di luar Indonesia yang memerlukan buku ini, silakan klik di sini.

Friday, August 15, 2014

Asyik, Jelajah Nusantara!

Alhamdulillah, antologi kedua saya akhirnya terbit ...

Masih dari grup Diva Press, dan masih berhubungan dengan passion saya akan traveling, buku antologi Asyik Jelajah Nusantara yang ditulis oleh para penulis dari Komunitas Kampung Sastra ini sejatinya ditulis sebelum Love Journey #2, namun atas kebijakan dari Diva Press, Love Journey #2 ternyata diterbitkan terlebih dulu daripada buku ini. Mari kita lihat sinopsisnya.

Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan tempat-tempat eksotis. Hal inilah yang menyebabkan banyak wisatawan, baik dari manca maupun lokal, yang tertarik untuk mengunjunginya, walaupun sangat jauh dari tempat tinggal. Selain menawarkan keindahan pesona alam, ada juga tempat yang menyajikan kekayaan budaya atau sejarah masa lalu. Tidak banyak negara yang mempunyai potensi negara yang sedemikian elok. Hanya di negara kita, negara Indonesia.

Lalu, tempat-tempat wisata apa sajakah yang menawarkan banyak pesona itu? Baca saja buku ini! Di dalamnya, diberikan gambaran beberapa tempat wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari Gua Jepang dan Gua Belanda di Jawa Barat sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Semuanya disajikan secara lugas dalam penuturan beberapa penulis yang benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

Buku terbitan Diva Press ini dibandrol dengan harga Rp 50.000, dan sudah beredar di toko-toko buku sejak pertengahan tahun 2014. Segera dapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda!

Wednesday, May 14, 2014

Step by Step Membuat SOP



Alhamdulillah, buku keempat saya terbit...

Penantian selama 6 bulan rupanya tak terlalu lama, namun sama seperti sebelumnya, terbitnya buku ini pun tanpa sepengetahuan penulis, saya baru tahu kalau buku ini sudah terbit gara-gara ada yang komplain karena salah cetak :(.

Awal dari buku ini juga tidak terduga. Berawal dari adanya permintaan penulisan buku tentang SOP di Agensi Naskah Indscript Creative, karena setelah sekian lama belum ada yang merespon, saya coba-coba mengirimkan proposal naskah, dan voila! Segera setelah outline disetujui, saya pun langsung menuliskan buku ini. Semula agak sulit untuk menuliskan bagaimana menyusun SOP secara gamblang agar mudah dimengerti dengan bahasa awam, karena saya terbiasa dengan sistem prosedur di korporat yang sudah sangat terstruktur (dan kadang-kadang menggunakan "bahasa dewa"). Namun akhirnya hambatan ini bisa terselesaikan, dan inilah hasilnya.

Lagi-lagi, mungkin banyak yang bertanya, kok saya tidak konsisten dengan "Personal Branding" saya sendiri sebagai travel writer dan penggemar handicraft, karena kali ini saya kembali menggunakan nama asli saya untuk menulis di buku manajemen. Betul sekali, saya tetap konsisten dengan branding saya sebagai penulis dan tukang jalan-jalan. Saya juga sempat terpikir barangkali saya perlu punya nama pena lain. Namun setelah saya renungkan kembali, membuat SOP adalah salah satu kompetensi inti saya di pekerjaan formal saya. Jadi kali ini, saya memutuskan untuk kembali menggunakan nama asli saya, agar pembaca teringat bahwa seorang Arini Tathagati yang hobby traveling dan handicraft itu memiliki kompetensi formal dalam pembuatan SOP.

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Bang Rony Nugroho atas dukungan mereka sehingga buku ini bisa terwujud. Mudah-mudahan buku ini bisa memberikan setitik sumbangsih bagi dunia manajemen Indonesia, untuk meningkatkan kompetensi dari bangsa kita tercinta.