Sebulan terakhir ini saya mengamati fenomena aneh dalam perjalanan menggunakan pesawat udara. Selama ini kita tahu (dan dalam logika kita) bahwa low cost airline seharusnya lebih laku dibandingkan full service airline (walaupun kita tahu juga, di antara perusahaan penerbangan yang mengaku "low cost", sebenernya ada perusahaan yang ngasih tarif nggak jauh beda dengan full service airline, cuman layanannya low cost... ironis bo...).
Tapi kurang lebih sebulan yang lalu, saya mencari tiket untuk Ibu saya yang mendadak harus mengunjungi kerabatnya di Jawa Tengah. Yang pertama kami lakukan adalah menelfon call center full service airline, yang konon memasang tarif tiket paling mahal, dengan asumsi mestinya tiketnya lebih mudah dicari, karena harganya lebih mahal dibandingkan tiket airline lain. Guess what? Tiket untuk hari itu hampir semua jadwal full booked, bahkan sampai kelas bisnis! Rasanya pengen nyeletuk, busyet... hari gini ternyata banyak juga yang naik pesawat mahal ya? (padahal airline itu punya banyak jadwal, dan hampir semuanya penuh, baru available di jadwal sore). Terus kita mampir ke loket airline yang (katanya) low cost carrier dengan harga premium, ehh... penuh juga! Akhirnya kita ke loket airline lain yang harganya lebih miring dibandingkan 2 airline sebelumnya, baru deh dapat tiket...
Kejadian serupa juga saya alami baru-baru ini saat memesan tiket untuk ke Surabaya, hampir semua penerbangan full booked/harus waiting list, padahal harga tiketnya juga nggak lagi murah. Baru saya sadar, tingkat kemahalan tiket pesawat sebuah airline ternyata tidak memiliki korelasi tertentu dengan tingkat occupancy pesawatnya... mau harganya mahal, tetep aja pesawatnya penuh, malah beberapa low cost carrier ternyata tidak selalu terisi penuh walaupun harganya 'agak' miring... kenapa ya?
Wednesday, December 10, 2008
Difference Between American & Japanese Crochet Pattern
I just bought 3 books of crocheted bouquet pattern, one in American style pattern (by narration/description) and two in Japanese style (by picture/graphic). I just realized, b'coz I'm used to read description crochet pattern since 1997, it's a little bit confusing for me to follow the Japanese/graphic style pattern, although I was using graphic style pattern when I learned to crochet for the 1st time in 1987. Once when I started to learn reading description pattern at 1997, I thought it would be difficult, coz at that time I'm not used to imagine the final result of the crocheted things (even with the photograph of the final result, it still hard to imagine how the crochet process will be done!). But after years of practice, once I got any description crochet pattern, mostly I can imagine form, the process, and the final result of the crochet work. And now, since I bought two Japanese crochet pattern books (which has graphic style pattern, and notes in Japanese font, hiks...), I have to recover my ability to read the graphic pattern, since I already (almost) forgot it years ago...But anyway, it was a great challenge, and I'm happy with the result. For the bouquet I made from the books, please visit my masterpiece gallery here.
Sunday, November 23, 2008
"Pencarian Terakhir"
Sabtu kemarin aku 'curi-curi waktu' nonton film "Pencarian Terakhir" (soalnya takut filmnya keburu hilang dari peredaran, hiks...). Udah sempet baca-baca di internet, banyak yang bilang filmnya lumayan. Dan sejujurnya, alasanku nonton adalah selain karena tertarik melihat posternya di Jl. Kemang Raya, adalah karena temanya yang lain daripada yang lain : naik gunung! Jadi pengen tahu, apa bener filmnya seperti yang dibilang di internet...Dan setelah aku nonton, walaupun dari awal aku tahu film ini nasibnya tidak akan seperti Laskar Pelangi (yang menurutku memang film yang bagus banget!), menurutku film "Pencarian Terakhir" ini OK banget. Aku takjub karena pada akhirnya ada orang yang berani membuat film seperti ini di Indonesia. Ceritanya emang nggak terlalu berat (mungkin buat para penggemar drama 'berat' yang nontonnya mesti pake' mikir, film ini konon 'terlalu datar', seperti komentar yang ditulis di salah satu harian Nasional), tapi cukup logis dan realistis. Lokasi, penggambaran tokoh, kostum dan propertinya juga cukup realistis, tidak seperti film Indonesia ato sinetron pada umumnya. Banyak juga adegan yang kita pikir bakalan 'klise' (karena sebenernya mudah ditebak apa yang terjadi selanjutnya), ternyata justru ditampilkan dengan cara yang 'kreatif'. Karena film ini 'katanya' termasuk thriller, film ini cukup membuat merinding... dan yang membuat film ini menjadi menarik untuk ditonton adalah penggambaran hal-hal yang 'membuat merinding' itu memang hal-hal yang sangat mungkin ada atau terjadi di atas gunung (demikian menurut pengakuan mereka-mereka yang pernah naik gunung). Jadi kalau ada yang bilang film ini 'nyaris terjebak menjadi horor picisan', aku jadi bingung, apa yang membuat film ini terlihat seperti horor picisan, dibandingkan sama horor picisan beneran???
Film ini bagus, karena selain cerita dan penggambarannya cukup realistis, banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini, termasuk bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan alam, bagaimana sikap sebagai teman, serta proses gimana kalau tim SAR itu mencari orang hilang di gunung. Jadi, daripada nonton film yang nggak genah, kusarankan untuk nonton film ini, dijamin gak menyesal...
Monday, March 31, 2008
Kembali ke ShowBiz!!
Finally, after years of hard working in training & consultation environment, I'm return to showbiz!!When was the last time I stood on-stage? Not really remember... maybe on 2002, either in ballet performance, or choir performance. Sometimes I missed those times, doing something different than my formal "occupation", to be someone a little bit different than my daily "images" known by my colleague.
And couple of days ago, on March 28th 2008, after vacuum for a long time, suddenly I felt it once again : the centerstage! It was quite an experience to be involved in a unique performance of ITB Voices Night, Great Movie Theme. The concept of the show was great, by combining live singers' performance supporting with video clip of the movie we sung to build the 'feel' of the movie. Even though it wasn't a perfect performance (smooth enough, but not really smooth as we expected), but for me it was good, since everybody only got time less than 2 months to prepare the whole performance!
And here is the photograph of 15 members of "Marine Team" after the performance, with "James Bond" costumes...
Monday, March 24, 2008
Kenapa Pesawat Bisa Delay
K'lo kita lagi nungguin pesawat mau berangkat ato ngejemput orang, k'lo dah delay, biar kata cuman 30 menit, rasanya bisa jadi sangat menyebalkan. K'lo delaynya karena cuaca, oke lah... gak ada penerbangan yang kebal ama cuaca buruk, bahkan airline-airline "jagoan" pun harus ngalah ama cuaca buruk. Ato k'lo ada kendala teknis, dan diumumkan secara jelas, kita sebagai penumpang mungkin ngomel, tapi rasanya kita bisa terima alasannya, daripada tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan waktu terbang... Yang bikin sebal kan kalau penyebab delaynya gak jelas, seperti yang pernah kualamin di Pontianak, naik Batavia Air kena delay hampir 5 jam, yang 3 jam jelas karena cuaca buruk, tapi yang 2 jam karena ketidakjelasan yang tidak pernah ada penjelasannya...
Tapi rupanya ada penyebab delay yang sangat tidak terduga, dan ternyata bisa saja terjadi, seperti kejadian berikut ini :
Seminggu setelah "Mendadak Dinas" ke Singapore, aku kembali ke Singapore, kali ini memang terencana, bawa serombongan peserta tour yang mau jalan-jalan. Karena satu dan lain hal, terjadi kekisruhan dalam pemesanan tiket dan hotel, jadilah kita terbang ke Singapore naik Lion Air! Wow! Tapi boleh juga dicoba... kalau nggak pernah nyoba, kan gak akan pernah tahu... Sehari sebelum berangkat, aku sempat menelfon ke Lion, pengen tahu ada service apa aja di atas pesawat. Ternyata... gak ada bedanya antara penerbangan domestik dan internasional Lion Air
: sama-sama cuman ngasih aqua gelas! Dan yang sempet bikin rada sebel, kalau di penerbangan internasional dengan airline lain, sebelum mendarat di bandara tujuan mereka membagikan kartu imigrasi. Pas kemaren mau mendarat di Changi, aku baru sadar, kok kartu imigrasi Singapore-nya belum dapat. Pas nanya sama pramugarinya, eh, katanya dah dibagikan di belakang, dan abis.... hu-uh... masa' sih bisa kehabisan??? Ngerepotin penumpang ajah... kan jadi gak bisa ngisi di atas pesawat, padahal lumayan lho k'lo ngisi kartu imigrasi di atas pesawat, bisa mengurangi waktu di "wahana antrian" Imigrasi.
Pas mau pulang ke Jakarta, naik Lion Air lagi. Waktu masuk ruang tunggu (tepatnya aku lagi ngantri untuk diperiksa boarding passnya), tiba-tiba terlihat sedikit keributan di dalam ruang tunggu, sampe' ada yang berantem-berantem segala (sampai sekuriti bandara Changi di ruang tunggu dah teriak-teriak minta tolong ama temennya di luar). Setelah aku nanya sama temen-temen yang udah di ruang tunggu, katanya sih ada penumpang yang hiperaktif (kebetulan perempuan), terus ribut dan berkelahi ama kakaknya sendiri. Ohhh... family matter... Ibu-ibu yang ngantri pemeriksaan boarding pass di belakangku dah sempet komentar : nanti kalau dia kumat di atas pesawat, gimana ya? Wah, bener juga yaaa... Kita sempet liat petugas bandaranya berdiskusi, tapi kita juga gak tahu apa kesimpulannya.
Begitu dipanggil untuk boarding, everybody was very happy to go home. Semua udah duduk di kursinya masing-masing. Boardingnya cukup cepat, jadi sebenarnya kita bisa berangkat on-time. Pas pesawat udah lepas dari garbarata dan mundur untuk siap-siap ke taxi way, waktu mbak pramugarinya lagi ngecek para penumpang yang seharusnya semua sudah duduk dan mengenakan seat belt, tiba-tiba si Ms. Hiperaktif itu berdiri, dan mulai memukul-mukul penumpang di sebelahnya! Oooo... kejadian... Si mbak pramugari sebenarnya sudah mencoba menenangkan Ms. Hiperaktif, tapi gak bisa. Akhirnya dia lapor sama pilot-nya, dan kemudian kita kembali ke apron, terus membuka pintu pesawat dan pasang garbarata lagi... Waktu itu terasa banget, semua penumpang pada tegang dan gelisah, karena nggak kebayang bagaimana penyelesaianya masalahnya, sementara kita juga nggak bisa donk ditahan terlalu lama... Gak lama, ada petugas bandara yang naik, tapi masalah masih belum teratasi, malah Ms. Hiperaktif makin parah, karena semakin banyak penumpang yang dia pukul-pukul. Setelah itu ada petugas sekuriti bandara, dia mencoba menyuruh Ms. Hiperaktif untuk turun pesawat, tapi masih tetep ngotot gak mau turun. Akhirnya petugas sekuriti memaksa Ms. Hiperaktif untuk turun dengan cara mengambil tasnya, dan doi akhirnya jalan keluar pesawat, tadinya masih sambil marah-marah. Di bagian depan, Ms. Hiperaktif ketemu sama salah satu peserta rombonganku, nggak tahu dibacain apa, tiba-tiba Ms. Hiperaktif lemas, terus akhirnya digotong keluar pesawat, dan gak lama kemudian pramugari mengambil barang-barangnya dan dibawa keluar pesawat. Baru setelah itu pintu pesawat ditutup, pesawat keluar apron, melewati taxi way, dan akhirnya take-off menuju Cengkareng (finally...) Kejadian ini berlangsung agak lama juga, ada sekitar 30 menit atau lebih, bahkan sampai pesawat Garuda yang harusnya berangkat 20 menit lebih belakangan dari Lion Air bisa berangkat duluan. Baru kali ini aku mengalami pesawat didelay bukan karena cuaca atau masalah teknis, tapi masalah yang bener-bener non-teknis...Dan kita semua mengakui, keputusan pilot untuk kembali ke apron dan menurunkan penumpang bermasalah itu adalah keputusan yang benar.
Jadi, lain kali kalau menemukan pesawat delay, tanya dulu, adakah sebuah kejadian luar biasa terjadi di atas pesawat?
Tapi rupanya ada penyebab delay yang sangat tidak terduga, dan ternyata bisa saja terjadi, seperti kejadian berikut ini :
Seminggu setelah "Mendadak Dinas" ke Singapore, aku kembali ke Singapore, kali ini memang terencana, bawa serombongan peserta tour yang mau jalan-jalan. Karena satu dan lain hal, terjadi kekisruhan dalam pemesanan tiket dan hotel, jadilah kita terbang ke Singapore naik Lion Air! Wow! Tapi boleh juga dicoba... kalau nggak pernah nyoba, kan gak akan pernah tahu... Sehari sebelum berangkat, aku sempat menelfon ke Lion, pengen tahu ada service apa aja di atas pesawat. Ternyata... gak ada bedanya antara penerbangan domestik dan internasional Lion Air
: sama-sama cuman ngasih aqua gelas! Dan yang sempet bikin rada sebel, kalau di penerbangan internasional dengan airline lain, sebelum mendarat di bandara tujuan mereka membagikan kartu imigrasi. Pas kemaren mau mendarat di Changi, aku baru sadar, kok kartu imigrasi Singapore-nya belum dapat. Pas nanya sama pramugarinya, eh, katanya dah dibagikan di belakang, dan abis.... hu-uh... masa' sih bisa kehabisan??? Ngerepotin penumpang ajah... kan jadi gak bisa ngisi di atas pesawat, padahal lumayan lho k'lo ngisi kartu imigrasi di atas pesawat, bisa mengurangi waktu di "wahana antrian" Imigrasi.
Pas mau pulang ke Jakarta, naik Lion Air lagi. Waktu masuk ruang tunggu (tepatnya aku lagi ngantri untuk diperiksa boarding passnya), tiba-tiba terlihat sedikit keributan di dalam ruang tunggu, sampe' ada yang berantem-berantem segala (sampai sekuriti bandara Changi di ruang tunggu dah teriak-teriak minta tolong ama temennya di luar). Setelah aku nanya sama temen-temen yang udah di ruang tunggu, katanya sih ada penumpang yang hiperaktif (kebetulan perempuan), terus ribut dan berkelahi ama kakaknya sendiri. Ohhh... family matter... Ibu-ibu yang ngantri pemeriksaan boarding pass di belakangku dah sempet komentar : nanti kalau dia kumat di atas pesawat, gimana ya? Wah, bener juga yaaa... Kita sempet liat petugas bandaranya berdiskusi, tapi kita juga gak tahu apa kesimpulannya.
Begitu dipanggil untuk boarding, everybody was very happy to go home. Semua udah duduk di kursinya masing-masing. Boardingnya cukup cepat, jadi sebenarnya kita bisa berangkat on-time. Pas pesawat udah lepas dari garbarata dan mundur untuk siap-siap ke taxi way, waktu mbak pramugarinya lagi ngecek para penumpang yang seharusnya semua sudah duduk dan mengenakan seat belt, tiba-tiba si Ms. Hiperaktif itu berdiri, dan mulai memukul-mukul penumpang di sebelahnya! Oooo... kejadian... Si mbak pramugari sebenarnya sudah mencoba menenangkan Ms. Hiperaktif, tapi gak bisa. Akhirnya dia lapor sama pilot-nya, dan kemudian kita kembali ke apron, terus membuka pintu pesawat dan pasang garbarata lagi... Waktu itu terasa banget, semua penumpang pada tegang dan gelisah, karena nggak kebayang bagaimana penyelesaianya masalahnya, sementara kita juga nggak bisa donk ditahan terlalu lama... Gak lama, ada petugas bandara yang naik, tapi masalah masih belum teratasi, malah Ms. Hiperaktif makin parah, karena semakin banyak penumpang yang dia pukul-pukul. Setelah itu ada petugas sekuriti bandara, dia mencoba menyuruh Ms. Hiperaktif untuk turun pesawat, tapi masih tetep ngotot gak mau turun. Akhirnya petugas sekuriti memaksa Ms. Hiperaktif untuk turun dengan cara mengambil tasnya, dan doi akhirnya jalan keluar pesawat, tadinya masih sambil marah-marah. Di bagian depan, Ms. Hiperaktif ketemu sama salah satu peserta rombonganku, nggak tahu dibacain apa, tiba-tiba Ms. Hiperaktif lemas, terus akhirnya digotong keluar pesawat, dan gak lama kemudian pramugari mengambil barang-barangnya dan dibawa keluar pesawat. Baru setelah itu pintu pesawat ditutup, pesawat keluar apron, melewati taxi way, dan akhirnya take-off menuju Cengkareng (finally...) Kejadian ini berlangsung agak lama juga, ada sekitar 30 menit atau lebih, bahkan sampai pesawat Garuda yang harusnya berangkat 20 menit lebih belakangan dari Lion Air bisa berangkat duluan. Baru kali ini aku mengalami pesawat didelay bukan karena cuaca atau masalah teknis, tapi masalah yang bener-bener non-teknis...Dan kita semua mengakui, keputusan pilot untuk kembali ke apron dan menurunkan penumpang bermasalah itu adalah keputusan yang benar.
Jadi, lain kali kalau menemukan pesawat delay, tanya dulu, adakah sebuah kejadian luar biasa terjadi di atas pesawat?
Wednesday, March 05, 2008
Mendadak Dinas!!!
Seumur-umur gue kerja di tempat yang sekarang (tepatnya dah hampir 5 tahun), baru kali ini ngalamin dinas mendadak, super duper mendadak, luar biasa mendadak. Kenapa juga dinas mendadak harus ke Singapore... (bener-bener mengalahkan rekor "dinas mendadak" sebelumnya yang antara perintah dan tanggal keberangkatan jaraknya kurang dari 24 jam, dan kali ini kurang dari 12 jam...)
Hari itu hari Selasa, 26 Februari 2008. Pas sampe' kantor, tiba-tiba diriku dipanggil oleh pak Dirut, kirain aya naon, ternyata aku diminta untuk menggantikan beliau menghadiri seminar. Guess, seminarnya di mana? Di Singapore... masa' mau nolak?? :-) Pas aku tanya seminarnya kapan, ternyata jadwalnya tanggal 27 Februari 2008. Loh, itu kan berarti.... BESOK?!?!?! Oooooo..... berarti nanti malam aku harus berangkat ke Singapore?!?!?! Hah?!?!?! Oh God.... Astagfirullah.... Subhanallah... dan berbagai kata-kata lain yang sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah minta tolong cariin tiket dan hotel, aku ngibrit pulang untuk ngepak barang, terus balik lagi ke kantor untuk ambil tiket sama voucher hotel (sambil degdegan juga di jalan, soalnya hujan deras dan jalanan pastinya macet). Aji gile... selama ini dinas domestik kagak pernah sangat mendadak kaya' begini... kenapa juga sekali-kalinya dinas sangat mendadak terjadi pada my first overseas assignment???
Akhirnya, dengan GA 834, diriku berangkat ke Singapore. Sebenernya sih daku punya "cita-cita luhur", pengennya naik SQ, boleh donk sekali-sekali... tapi apa daya, "nasionalisme" mengalahkan segalanya, akhirnya aku memilih naik Garuda. Sebenernya ini bukan pertama kalinya aku ke luar negeri, dan juga bukan pertama kalinya aku ke Singapore, makanya aku berani berangkat mendadak, malam-malam, sendirian pula... gelo... Pas nunggu di ruang tunggu E2, kepikiran aja, udah berapa kali aku dinas domestik naik Garuda, dan sebenernya aku sangat jarang terbang malam dari Cengkareng, kecuali ke Yogya sama Denpasar. Suasana di ruang tunggu gak jauh beda sama di terminal F, karena isinya banyakan juga orang Indonesia, dan di penerbangan ke Yogya sama Denpasar kan banyak bule-nya juga. Pas dipanggil untuk boarding, baru aku sadar, iya ya, kali ini gue kan bukan mau ke Denpasar ato Yogya, tapi mau ke Singapura, pertama kali dinas keluar negeri, sendirian pula...
Begitu masuk pesawat, baru sadar, ada yang beda antara penerbangan domestik dan penerbangan internasional dengan Garuda. Pertama, di kursi ada bantalnya. Kedua, instead dikasih permen, pas dateng dikasih juice jeruk, yummm.... K'lo makan sih sebenernya sama, maksudnya sama aja dengan makanan waktu terbang ke Medan ato Makassar, malah gak bisa milih, menunya cuman ada 1 macam.
Mendarat di Changi, seperti biasa, ambil brosur sebanyak-banyaknya... Beda banget ama Indonesia, Singapore itu sangat informatif, mereka emang sangat niat dalam mempromosikan pariwisatanya. Udah gitu, berhubung masih menganut "aji pengiritan", jadi aku pergi dari airport ke hotel naik MRT, hehehe... padahal mendarat di Singapore udah jam 10.30 waktu setempat, dah malem bo. Setelah keluar di stasiun Lavender, ternyata hotelnya jauuuh.... mas-mas yang di loket MRT bilangnya "15 minutes walk", haa-aah... jadi dalam kondisi malam-malam, rada "buta" ama kondisi jalan, bawa-bawa koper (untung gak becek, dan di sana gak ada ojek...), akhirnya diriku "mendarat" dengan selamat di hotel. Waktu itu di Singapore hotel lagi penuh-penuhnya, jadi diriku kebagian hotelnya di 81 Elegance, deket Lavender Street. K'lo menurut internet, katanya di Bugis Vicinity, tapi itu teh kaya'nya lebih deket ke Little India gak seh? Teuing ah...
Keesokan paginya, dah lumayan segar. Dan mulailah perjalanan menyusuri kembali jalan yang tadi malam menuju ke stasiun MRT, mau ke tempat seminar di Hotel Marriot. Alhamdulillah, hotelnya persis di atas stasiun MRT, jadi jalannya gak jauh! Horeh! Setelah urusan pendaftaran selesai (yang mana ternyata daku kurang bawa duit pendaftaran, gara-gara pak Dirut salah baca formulir, hiks...), mbak-mbak panitianya ada yang sempet nanya : "nginep di mana?" Aku bilang di Little India, soalnya di Orchard hotel semua dah penuh. Terus dia nanya lagi : "ke sininya naik apa?" Naik MRT atuh Mbak, namanya juga ngirit.... Si Mbak kaya'nya sempet bingung, tapi komentar berikutnya adalah sebagai berikut : "pilihan yang bagus, soalnya jalanan sering macet!" (andaikan busway bisa seoptimum MRT...)
Di seminar selama 2,5 hari, ternyata orang Indonesia-nya banyak lho... mungkin 1/3 dari isi ruangan itu isinya orang Indonesia. Yang bikin rada-rada sungkan adalah pertanyaan "nginepnya di mana?". Meni malu, soalnya tidurnya di budget hotel, abis dapetnya itu sih (secara aku juga gak sempat cari sendiri, mana sempaaaaaat.....), sementara peserta Indonesia lainnya tidurnya di Marriot, atau Meritus Mandarin. Untung terbangnya naik Garuda, coba naik "budget airline" juga, kebayang peserta Indonesia lainnya pasti mikirnya ni' company niat gak seh ngirim pegawainya dinas keluar negeri... meni pengiritan pisan... Udah gitu sempet rada jiper juga, peserta lain kan memang job-desnya untuk pengembangan pembelajaran pekerja di setiap perusahaannya (dan isi seminarnya emang pas banget buat mereka), sementara kalau aku kan dari training provider dan consultation company, jadi menurutku sebenernya ada orang lain yang lebih pantas untuk ikut seminar ini. Tapi gak pa-pa, kita mah seneng aja, dikasih dinas keluar negeri, ketemu hal baru, dan pasti kepake koq... Dan sebenernya ada hikmahnya juga dapet nginep di budget hotel (yang untungnya bagus, k'lo cuman buat tidur ama mandi mah cukup banget!) dan bukan di Orchard, jadi sempat melihat juga "sisi lain" dari Singapore, eniwei, orang Singapore kan juga manusia...
Berhubung minggu depan perusahaanku ada acara lagi di Singapore (tepatnya bawa klien ke Singapore), jadi selain ikut seminar, aku juga punya "misi" untuk mengatur tour di Singapore-nya. Jadilah, selama 2 hari aku pulang malam terus, ketemu sama kenalan kami yang akan meng-arrange tour-nya. Tapi shopping mah gak ketinggalan... dah sampe' Orchard gitu loh... Rada nyebelinnya, aku dah sempet beli-beli di Border (toko buku), eh, pas di Seminar ada game ice breaking, terus karena aku ada dalam kelompok yang berhasil "memenangkan" games-nya, moderatornya ngebagiin voucher SGD 10 untuk belanja di Border! Huh, tahu gitu belanjanya ke Border ditunda dulu, lumayan khan... (jadi terpaksa balik lagi dech...)
Aku sendiri kadang gak mudheng, orang-orang Indonesia yang pada belanja ke Singapore itu beli apa ya? Mau beli baju? Mendingan ke ITC, lebih seru! Beli makanan aneh? Di supermarket Indonesia juga mulai banyak... Beli buku pun sekarang dah banyak toko buku di Indonesia yang jual buku dan stationary impor, tapi memang banyak buku yang (kaya'nya) gak bakalan masuk ke Indonesia. Bahkan barang-barang handicraft kaya' benang wool ama jarum rajut pun sekarang gak susah ditemukan di Indonesia (dan sekarang banyak juga benang-benang rajut bikinan Bandung yang sama lucunya dengan benang impor), tapi tetep aja, selalu ada barang yang nggak ada di Indonesia. Jadilah kemarin itu aku rada "kalap", ngeborong majalah kristik, abis di Indonesia itu kan barang langka, dan k'lo pun ada, edisinya udah lewat 2 tahun... Sempet juga ke Spotlight dan menemukan 1/3 isi toko itu terdiri dari benang wool, buku kristik, benang sulam, jarum rajut, dan barang-barang handicraft lainnya... rasanya seisi toko pengen dibeli semua....
Oh iya, ada 1 barang lagi yang agak susah carinya di Indonesia (sebenernya gak susah amat, tapi jarang dapat yang bagus), tapi di Singapore ada dan lumayan banyak : Eeyore... di mana-mana ada Eeyore : di 7-11, di Takashimaya, di Watsons, di Mustafa Center dan bahkan di airport!
Pas pulang, berhubung barang bawaan dah banyak (yah, namanya juga belanja... dan salah bawa koper, kopernya terlalu kecil, hehehe...), terpaksalah diriku membatalkan "niat mulia" untuk pergi ke airport naik MRT, dan akhirnya naik taksi. Eh, ternyata supir taksinya pernah jadi supplier untuk salah satu kilang minyak dengan kapasitas terbesar di Indonesia, jadi nyambung banget ngomongnya... saking asiknya ngobrol, sampe' doi sempet salah belok. Dan akhirnya, setelah sekali lagi terbang dengan Garuda Indonesia (dengan layanan yang... yah, standar lah!), aku mendarat dengan selamat di tanah air...
Keesokan paginya, dah lumayan segar. Dan mulailah perjalanan menyusuri kembali jalan yang tadi malam menuju ke stasiun MRT, mau ke tempat seminar di Hotel Marriot. Alhamdulillah, hotelnya persis di atas stasiun MRT, jadi jalannya gak jauh! Horeh! Setelah urusan pendaftaran selesai (yang mana ternyata daku kurang bawa duit pendaftaran, gara-gara pak Dirut salah baca formulir, hiks...), mbak-mbak panitianya ada yang sempet nanya : "nginep di mana?" Aku bilang di Little India, soalnya di Orchard hotel semua dah penuh. Terus dia nanya lagi : "ke sininya naik apa?" Naik MRT atuh Mbak, namanya juga ngirit.... Si Mbak kaya'nya sempet bingung, tapi komentar berikutnya adalah sebagai berikut : "pilihan yang bagus, soalnya jalanan sering macet!" (andaikan busway bisa seoptimum MRT...)
Di seminar selama 2,5 hari, ternyata orang Indonesia-nya banyak lho... mungkin 1/3 dari isi ruangan itu isinya orang Indonesia. Yang bikin rada-rada sungkan adalah pertanyaan "nginepnya di mana?". Meni malu, soalnya tidurnya di budget hotel, abis dapetnya itu sih (secara aku juga gak sempat cari sendiri, mana sempaaaaaat.....), sementara peserta Indonesia lainnya tidurnya di Marriot, atau Meritus Mandarin. Untung terbangnya naik Garuda, coba naik "budget airline" juga, kebayang peserta Indonesia lainnya pasti mikirnya ni' company niat gak seh ngirim pegawainya dinas keluar negeri... meni pengiritan pisan... Udah gitu sempet rada jiper juga, peserta lain kan memang job-desnya untuk pengembangan pembelajaran pekerja di setiap perusahaannya (dan isi seminarnya emang pas banget buat mereka), sementara kalau aku kan dari training provider dan consultation company, jadi menurutku sebenernya ada orang lain yang lebih pantas untuk ikut seminar ini. Tapi gak pa-pa, kita mah seneng aja, dikasih dinas keluar negeri, ketemu hal baru, dan pasti kepake koq... Dan sebenernya ada hikmahnya juga dapet nginep di budget hotel (yang untungnya bagus, k'lo cuman buat tidur ama mandi mah cukup banget!) dan bukan di Orchard, jadi sempat melihat juga "sisi lain" dari Singapore, eniwei, orang Singapore kan juga manusia...
Berhubung minggu depan perusahaanku ada acara lagi di Singapore (tepatnya bawa klien ke Singapore), jadi selain ikut seminar, aku juga punya "misi" untuk mengatur tour di Singapore-nya. Jadilah, selama 2 hari aku pulang malam terus, ketemu sama kenalan kami yang akan meng-arrange tour-nya. Tapi shopping mah gak ketinggalan... dah sampe' Orchard gitu loh... Rada nyebelinnya, aku dah sempet beli-beli di Border (toko buku), eh, pas di Seminar ada game ice breaking, terus karena aku ada dalam kelompok yang berhasil "memenangkan" games-nya, moderatornya ngebagiin voucher SGD 10 untuk belanja di Border! Huh, tahu gitu belanjanya ke Border ditunda dulu, lumayan khan... (jadi terpaksa balik lagi dech...)
Aku sendiri kadang gak mudheng, orang-orang Indonesia yang pada belanja ke Singapore itu beli apa ya? Mau beli baju? Mendingan ke ITC, lebih seru! Beli makanan aneh? Di supermarket Indonesia juga mulai banyak... Beli buku pun sekarang dah banyak toko buku di Indonesia yang jual buku dan stationary impor, tapi memang banyak buku yang (kaya'nya) gak bakalan masuk ke Indonesia. Bahkan barang-barang handicraft kaya' benang wool ama jarum rajut pun sekarang gak susah ditemukan di Indonesia (dan sekarang banyak juga benang-benang rajut bikinan Bandung yang sama lucunya dengan benang impor), tapi tetep aja, selalu ada barang yang nggak ada di Indonesia. Jadilah kemarin itu aku rada "kalap", ngeborong majalah kristik, abis di Indonesia itu kan barang langka, dan k'lo pun ada, edisinya udah lewat 2 tahun... Sempet juga ke Spotlight dan menemukan 1/3 isi toko itu terdiri dari benang wool, buku kristik, benang sulam, jarum rajut, dan barang-barang handicraft lainnya... rasanya seisi toko pengen dibeli semua....
Oh iya, ada 1 barang lagi yang agak susah carinya di Indonesia (sebenernya gak susah amat, tapi jarang dapat yang bagus), tapi di Singapore ada dan lumayan banyak : Eeyore... di mana-mana ada Eeyore : di 7-11, di Takashimaya, di Watsons, di Mustafa Center dan bahkan di airport!
Pas pulang, berhubung barang bawaan dah banyak (yah, namanya juga belanja... dan salah bawa koper, kopernya terlalu kecil, hehehe...), terpaksalah diriku membatalkan "niat mulia" untuk pergi ke airport naik MRT, dan akhirnya naik taksi. Eh, ternyata supir taksinya pernah jadi supplier untuk salah satu kilang minyak dengan kapasitas terbesar di Indonesia, jadi nyambung banget ngomongnya... saking asiknya ngobrol, sampe' doi sempet salah belok. Dan akhirnya, setelah sekali lagi terbang dengan Garuda Indonesia (dengan layanan yang... yah, standar lah!), aku mendarat dengan selamat di tanah air...
Wednesday, February 27, 2008
Negeri Anging Mamiri yang Harus Dikunjungi Lagi
Finally, setelah selama kwartal terakhir 2007 aku "singgah" di beberapa kota besar di Indonesia, akhirnya sampai juga ke Makassar... Dalam sejarah perjalanan keluargaku, Makassar adalah kota di mana kakek dan nenekku bertemu dan menikah (bayangkan, itu Makassar berapa puluh tahun yang lalu...)
Berangkat dari Cengkareng dengan Lion Air 737 seri 900 (yang katanya pesawat baru dan Lion merupakan pembeli pertama). Pesawatnya lumayan panjang... sempet kaget juga dapet nomor kursi 32, seumur-umur naik 737 belum pernah dapet di kursi nomor kepala 3... tapi ini juga belum paling belakang, karena yang paling belakang ternyata nomor 38... tapi tetep, jarak antar tempat duduk kurang dari 30 cm... tadinya sama petugas check-in ditaruh di 32E, alah, kejepit lagi deh, untung ternyata Ibu-ibu yang harusnya duduk di gang memilih di 32E, ma kasih ya Bu... Sepanjang jalan cuaca konstan, maksudnya konstan berawan, sama sekali tidak terlihat daratan.
Di Bandara Hasanuddin, ternyata pada saat yang bersamaan trainer yang dari Surabaya juga sudah mendarat dengan selamat, jadi kita bisa bareng-bareng pergi ke hotelnya. Dan ternyata.... seperti yang sudah disampaikan oleh rekan-rekan seperjuangan di kantor, bandaranya jauh nian dari kota! Padahal tempat trainingnya direncanakan di SPBU punya Pertamina yang dekat bandara, wah, para trainer harus pindah hotel neh. Tapi sementara kita nginep di Bumi Asih, yang sebenernya lokasinya lumayan strategis, dekat mall, dekat fotokopi, dekat toko ATK, dan dekat Kantor Unit Pertamina... cuman tetep jauh dari tempat training (nah lo!). Hotelnya lumayan enak, dan pas dapet kamar di pojok, jadi jendelanya ada 2.
Keesokan paginya, ceritanya bangun pagi, ikut waktu lokal. Ternyata... jam 5.30 waktu setempat itu masih gelap bo! Akhirnya jam 8,20 sampai juga kami di Kantor Pertamina UPms 7. Setelah berkoordinasi sejenak, kita cari bank dulu, terus cari makan. Eh, Bapak mobil rental-nya membawa kita ke pantai Losari, jadi foto2 dulu deh. Sayangnya cuaca kurang mendukung alias mendung, jadi pemandangan kurang begitu bagus. Unfortunately, salah satu trainerku ada yang nggak doyan daging dan seafood, jadi agak susah mau wisata kuliner ala Makassar, hhhh.... (soalnya cotto sama konro kan isinya daging...). Dari makan siang, kita balik ke Kantor Pertamina, terus menuju SPBU tempat pelatihannya.
Di SPBU tempat pelatihan, kita "dikeroyok" para pengawas dan cleanernya, jadi persiapan yang biasanya bisa makan waktu 2,5 jam, selesai dalam waktu 1 jam! Cuman sayang, hari udah sore, jadi kita belum sempat mampir ke mana-mana lagi. Dan besoknya dah harus ngadain training, udah nggak akan sempet ke mana-mana lagi, karena aku harus pulang duluan ke Jakarta... (soalnya waiting list training udah menanti neh...)
Berhubung pemandangan di Losari lagi gak bagus, wisata kuliner gak tuntas, belum mampir Fort Rotterdam, makanya harus balik lagi ke Makassar...
Berangkat dari Cengkareng dengan Lion Air 737 seri 900 (yang katanya pesawat baru dan Lion merupakan pembeli pertama). Pesawatnya lumayan panjang... sempet kaget juga dapet nomor kursi 32, seumur-umur naik 737 belum pernah dapet di kursi nomor kepala 3... tapi ini juga belum paling belakang, karena yang paling belakang ternyata nomor 38... tapi tetep, jarak antar tempat duduk kurang dari 30 cm... tadinya sama petugas check-in ditaruh di 32E, alah, kejepit lagi deh, untung ternyata Ibu-ibu yang harusnya duduk di gang memilih di 32E, ma kasih ya Bu... Sepanjang jalan cuaca konstan, maksudnya konstan berawan, sama sekali tidak terlihat daratan.
Di Bandara Hasanuddin, ternyata pada saat yang bersamaan trainer yang dari Surabaya juga sudah mendarat dengan selamat, jadi kita bisa bareng-bareng pergi ke hotelnya. Dan ternyata.... seperti yang sudah disampaikan oleh rekan-rekan seperjuangan di kantor, bandaranya jauh nian dari kota! Padahal tempat trainingnya direncanakan di SPBU punya Pertamina yang dekat bandara, wah, para trainer harus pindah hotel neh. Tapi sementara kita nginep di Bumi Asih, yang sebenernya lokasinya lumayan strategis, dekat mall, dekat fotokopi, dekat toko ATK, dan dekat Kantor Unit Pertamina... cuman tetep jauh dari tempat training (nah lo!). Hotelnya lumayan enak, dan pas dapet kamar di pojok, jadi jendelanya ada 2.
Keesokan paginya, ceritanya bangun pagi, ikut waktu lokal. Ternyata... jam 5.30 waktu setempat itu masih gelap bo! Akhirnya jam 8,20 sampai juga kami di Kantor Pertamina UPms 7. Setelah berkoordinasi sejenak, kita cari bank dulu, terus cari makan. Eh, Bapak mobil rental-nya membawa kita ke pantai Losari, jadi foto2 dulu deh. Sayangnya cuaca kurang mendukung alias mendung, jadi pemandangan kurang begitu bagus. Unfortunately, salah satu trainerku ada yang nggak doyan daging dan seafood, jadi agak susah mau wisata kuliner ala Makassar, hhhh.... (soalnya cotto sama konro kan isinya daging...). Dari makan siang, kita balik ke Kantor Pertamina, terus menuju SPBU tempat pelatihannya.
Di SPBU tempat pelatihan, kita "dikeroyok" para pengawas dan cleanernya, jadi persiapan yang biasanya bisa makan waktu 2,5 jam, selesai dalam waktu 1 jam! Cuman sayang, hari udah sore, jadi kita belum sempat mampir ke mana-mana lagi. Dan besoknya dah harus ngadain training, udah nggak akan sempet ke mana-mana lagi, karena aku harus pulang duluan ke Jakarta... (soalnya waiting list training udah menanti neh...)
Berhubung pemandangan di Losari lagi gak bagus, wisata kuliner gak tuntas, belum mampir Fort Rotterdam, makanya harus balik lagi ke Makassar...
Thursday, February 14, 2008
My First Book
Akhirnya... buku pertamaku terbit, dan sudah bisa diperoleh di toko-toko buku dengan harga Rp 35.000 per eksemplar. Jangan lupa beli ya!
Wednesday, January 30, 2008
Kebon strawberry di Selabintana, yummy....
Sabtu 26 Januari 2008 yang lalu, kami pergi ke Selabintana (k'lo ada yang gak tahu Selabintana letaknya di mana, Selabintana itu 7 km dari Sukabumi ke arah utara), ceritanya bokap mau ada reuni-an Mahawarman. Seminggu sebelumnya, kami sudah mencari tahu dulu gimana caranya pergi ke sana naik kendaraan umum, karena rencananya aku sama adikku mau menyusul bokap dan nyokap (yang sudah pergi ke sana hari Jum'atnya). Ternyata gak ada bou... aneh sekali ke Sukabumi itu, bener-bener gak ada travel, gak ada bis eksekutif, jalur kereta api Bogor-Sukabumi juga ada tutup, adanya cuman angkot, elf dan bis ekonomi (yang berhenti di tiap tikungan). Terpaksa deh, memberangkatkan 1 mobil lagi dari rumah...
Sabtu pagi, nyusul nih ke Selabintana. Tol Jagorawi, lancarr.... di Ciawi, seperti yang sudah diprediksi, mulai terjadi antrian-antrian. Ditotal-total, perjalanan Jakarta-Sukabumi itu menghabiskan waktu 4 jam, dan yang 3 jam itu cuman dari Ciawi sampe' Sukabumi yang jaraknya cuman 50 km! (padahal udah ngirit jarak dan waktu dengan lewat tol JORR) Masa' jarak cuman 110 km dari Jakarta, waktu tempuhnya lebih lama daripada Jakarta-Bandung! Tapi karena emang udah siap-siap bakalan lama di jalan, jadi perbekalannya dah lengkap. Ada dodol coklat asli dari Aceh, kacang Rahayu asli dari Bali (oleh-oleh travelling sebelumnya), sama kue-kue lainnya.
Di jalan menuju Selabintana, tiba-tiba ditarikin retribusi! Ya ampun.... emangnya kita angkot??? Pas udah sampe' di hotel venue reuninya (tepatnya hotel pariwisata Selabintana, yang ada di dalam tempat wisatanya), ternyata bokap udah sampe' sana (dan berpesan, jangan lupa k'lo lewat gerbang hotelnya, bilang aja mau ikut acara reuni Mahawarman, biar kagak ditarikin bayaran). Di hotel Selabintana, tempatnya sih luas dan asik, cuman terlalu banyak orang (soalnya terbuka untuk umum). Karena satu dan lain hal, kami nggak nginep di situ, tapi di "sebelah"nya, tepatnya di hotel Pangrango (yang kondisi kamarnya lebih baik daripada hotel Selabintana, tapi harganya juga "jauh lebih baik"...). Bungalownya lucu juga (ini "lucu"nya orang Bandung nya'!), berbentuk rumah panggung, lantainya kayu, ada 2 kamar, lengkap ama TV, kulkas, termos air panas, dan kamar mandinya dilengkapi air panas.
Pada dasarnya di Selabintana itu enak banget, soalnya hawanya dingin (dah lama gak liburan ke tempat dingin, biasanya k'lo dinas ke tempat yang panasnya luar biasa...), sempet juga ngeliat kabut, dah lama bo gak liat kabut... Waktu liat websitenya hotel Pangrango, banyak obyek wisata yang seolah-olah deket dari hotelnya, seperti tea walk di perkebunan Warnasari, budidaya jamur merang (yang cuman 10 meter dari hotel, begitu kata websitenya), budidaya ikan koi, dlsb. Ehhh... pas disurvey (tepatnya mencari Pondok Halimun, dan pondoknya tetep aja gak ketemu), ternyata budidaya jamurnya dah tutup, perkebunan Warnasarinya juga jauh banget, apalagi Curug Cibeureumnya! (tepatnya kami dah sempet offroad sebentar di kebun teh, jalurnya jalan tanah dan cuman cukup untuk 1,25 mobil) Alah.... Tapi ternyata kami menemukan obyek lain yang gak ada di daftar obyek wisata hotel Pangrango : kebon strawberry.... hmmm....
Pas hari Minggu-nya, sementara yang reuni lagi punya acara, kami bikin acara sendiri : pergi ke kebon strawberry. Ternyata di jalur menuju Pondok Halimun itu ada 2 kebon strawberry, dan kami memilih satu yang keliatannya fasilitasnya paling lengkap dan paling rame. Ternyata emang bener, di tempat yang kita datangi jualan bibit strawberry, juice strawberry, souvenir strawberry, dan juga tanaman lain. Masuknya nggak bayar, strawberry-nya boleh metik sendiri (terus ditimbang dan dihargain Rp 6.000/ons), dan pohonnya yang boleh dipetik banyak bangettttt... (gak cuman seuprit seperti wisata strawberry lainnya di sekitar Bandung). Setelah "berjuang" di seantero kebon strawberry mencari strawberry yang besar dan merah, ternyata cuman kekumpul 1,5 ons... tapi strawberry-nya enak banget, segar dan manis, gak kaya' strawberry yang beli di Pasar Minggu...
Sabtu pagi, nyusul nih ke Selabintana. Tol Jagorawi, lancarr.... di Ciawi, seperti yang sudah diprediksi, mulai terjadi antrian-antrian. Ditotal-total, perjalanan Jakarta-Sukabumi itu menghabiskan waktu 4 jam, dan yang 3 jam itu cuman dari Ciawi sampe' Sukabumi yang jaraknya cuman 50 km! (padahal udah ngirit jarak dan waktu dengan lewat tol JORR) Masa' jarak cuman 110 km dari Jakarta, waktu tempuhnya lebih lama daripada Jakarta-Bandung! Tapi karena emang udah siap-siap bakalan lama di jalan, jadi perbekalannya dah lengkap. Ada dodol coklat asli dari Aceh, kacang Rahayu asli dari Bali (oleh-oleh travelling sebelumnya), sama kue-kue lainnya.
Di jalan menuju Selabintana, tiba-tiba ditarikin retribusi! Ya ampun.... emangnya kita angkot??? Pas udah sampe' di hotel venue reuninya (tepatnya hotel pariwisata Selabintana, yang ada di dalam tempat wisatanya), ternyata bokap udah sampe' sana (dan berpesan, jangan lupa k'lo lewat gerbang hotelnya, bilang aja mau ikut acara reuni Mahawarman, biar kagak ditarikin bayaran). Di hotel Selabintana, tempatnya sih luas dan asik, cuman terlalu banyak orang (soalnya terbuka untuk umum). Karena satu dan lain hal, kami nggak nginep di situ, tapi di "sebelah"nya, tepatnya di hotel Pangrango (yang kondisi kamarnya lebih baik daripada hotel Selabintana, tapi harganya juga "jauh lebih baik"...). Bungalownya lucu juga (ini "lucu"nya orang Bandung nya'!), berbentuk rumah panggung, lantainya kayu, ada 2 kamar, lengkap ama TV, kulkas, termos air panas, dan kamar mandinya dilengkapi air panas.
Pada dasarnya di Selabintana itu enak banget, soalnya hawanya dingin (dah lama gak liburan ke tempat dingin, biasanya k'lo dinas ke tempat yang panasnya luar biasa...), sempet juga ngeliat kabut, dah lama bo gak liat kabut... Waktu liat websitenya hotel Pangrango, banyak obyek wisata yang seolah-olah deket dari hotelnya, seperti tea walk di perkebunan Warnasari, budidaya jamur merang (yang cuman 10 meter dari hotel, begitu kata websitenya), budidaya ikan koi, dlsb. Ehhh... pas disurvey (tepatnya mencari Pondok Halimun, dan pondoknya tetep aja gak ketemu), ternyata budidaya jamurnya dah tutup, perkebunan Warnasarinya juga jauh banget, apalagi Curug Cibeureumnya! (tepatnya kami dah sempet offroad sebentar di kebun teh, jalurnya jalan tanah dan cuman cukup untuk 1,25 mobil) Alah.... Tapi ternyata kami menemukan obyek lain yang gak ada di daftar obyek wisata hotel Pangrango : kebon strawberry.... hmmm....
Pas hari Minggu-nya, sementara yang reuni lagi punya acara, kami bikin acara sendiri : pergi ke kebon strawberry. Ternyata di jalur menuju Pondok Halimun itu ada 2 kebon strawberry, dan kami memilih satu yang keliatannya fasilitasnya paling lengkap dan paling rame. Ternyata emang bener, di tempat yang kita datangi jualan bibit strawberry, juice strawberry, souvenir strawberry, dan juga tanaman lain. Masuknya nggak bayar, strawberry-nya boleh metik sendiri (terus ditimbang dan dihargain Rp 6.000/ons), dan pohonnya yang boleh dipetik banyak bangettttt... (gak cuman seuprit seperti wisata strawberry lainnya di sekitar Bandung). Setelah "berjuang" di seantero kebon strawberry mencari strawberry yang besar dan merah, ternyata cuman kekumpul 1,5 ons... tapi strawberry-nya enak banget, segar dan manis, gak kaya' strawberry yang beli di Pasar Minggu...Perjalanan pulang, yang kita perkirakan macet banget, ternyata jauh lebih cepat dari waktu berangkat. Untuk jalur Selabintana-Ciawi yang diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 4 jam, ternyata karena jalannya lancar, cuman 2 jam perjalanan, jadi kami bisa mampir dulu untuk mengicipi makroni panggang di Bogor yang tersohor itu. Sayangnya, di Selabintana belum sempet wisata kuliner, jadi belum sempat makan bubur ayam Sukabumi di Sukabumi deh... (berarti harus balik ke Sukabumi dech...)
Monday, December 10, 2007
Bandung : Kota Kembang (???)
9 Desember 2007, my beloved grandma has passed away. Kami seluruh keluarga besar berduka, dan kami sudah mengikhlaskan beliau untuk kembali ke Rahmatullah. Mudah-mudahan perjalanan beliau di alam barzah memperoleh kemudahan, dan dikaruniai surga yang indah di sisi-Nya, aamiin...
Karena almarhumah tinggal di Bandung, dan beliau berwasiat untuk dimakamkan di Bandung di sisi almarhum kakekku, jadi kami semua berangkat ke Bandung. Jam 10 malam, baru kepikir, kita belum beli bunga tabur untuk di makam dan melati untuk dirangkai di keranda jenasah-nya. Jadi kita langsung keluar mencari bunga. Katanya, tadi siang ibu-ibu sudah banyak yang mencari di pasar Wastukencana, tapi katanya tidak ada. Menurut budeku yang perias pengantin, bulan-bulan ini lagi banyak perkawinan, jadi cari bunga agak susah, ooo.... Tapi Bandung khan kota kembang, mestinya nggak susah ya cari bunga.
Pertama-tama, kita mencoba lagi di pasar Wastukencana. Walah, cari bunga tabur, apalagi mawar, ternyata susah bo! Kita udah masuk dari toko ke toko, ternyata pada nggak punya bunga tabur yang mawar, dan pedagang bunganya juga nggak mau ngasih alternatif mencari di tempat lain (walaupun akhirnya kami menemukan 1 toko yang menjual dengan harga relatif murah --> soalnya ternyata bunga di Bandung itu mahal! --> soalnya dibandingkan dengan di Jawa Tengah, dengan harga yang sama, di Bandung cuman dapet 1 keranjang kecil, di Jawa Tengah bisa dapet 2 karung...). Akhirnya aku meng-SMS salah satu temanku yang lama tinggal di Bandung, dan dapet alternatif untuk pergi ke Jl. Pandu.
Di Jl. Pandu, ternyata cuman ada 1 toko yang jualan mawar, itu pun harganya gak bisa dibilang murah. Setelah dengan sedikit "perang urat saraf" dalam tawar menawar (untungnya mang penjualnya baik, dan dia punya melati), akhirnya kami memborong beberapa ikat mawar aneka warna, dan 1 kg melati. Untungnya (lagi), besok paginya, mawar-mawar aneka warna itu mekar dengan indahnya, dan kakak-kakak sepupuku menata bunga-bunga tabur itu demikian cantik, untuk mengiringi kepergian nenek tercinta kami ke peristirahatan terakhirnya.Dengan pengalaman cari bunga di Bandung yang syusyah banget, aku jadi mikir, apakah Bandung masih layak dinamai "Kota Kembang"? Atau memang ada "kembang" lain yang lebih mudah dicari di Bandung?
PS. Ini salah satu fotoku dengan my beloved grandma, waktu kami ziarah ke makam bu Tien Suharto di Karanganyar, Jawa Tengah, dalam rangka reuni besar Varia Orang Jauhari tahun 1996.Tuesday, September 25, 2007
Manado, Kota Tinutuan
Belum ada seminggu mendarat dari Banda Aceh, udah harus berangkat lagi ke Manado, eleuh-eleuh... Tapi ya gimana lagi, demi tugas (tepatnya demikian...), harus berangkat deh.
Hari Minggu, perjalanan dimulai dari bandara Cengkareng terminal 1 (again!). Kali ini terbangnya naik Batavia, dan katanya direct Jakarta-Manado, nggak pake' mampir-mampir. Pas nimbang bagasi, alamak, kelebihannya 113 kg! (again!) Tapi ternyata ongkos kelebihan bagasi di Batavia gak semahal waktu Lion ke Banda Aceh (padahal jarak kan kira-kira sama...), jadi kami cuman bayar sekitar 1,8 juta (dan masih tetap lebih mahal daripada tiket sekali jalan Jakarta-Manado, even pake' Garuda sekalipun...).
Untungnya, penerbangannya tepat waktu. Ternyata kita naik pesawat Airbus A319 (yang tidak segede Airbus 330, cuman lebih gede sedikit daripada Boeing 737 seri 400). Pesawatnya lumayan enak, jarak antar kursi cukup lebar, cukup buat leyeh-leyeh ... dan yang penting, masih dapet kue kotak (biarpun cuman roti dan lemper, tapi kan nggak cuman aqua gelas doank!). Dan ternyata, memang kita terbang direct dari Jakarta ke Manado, tanpa transit. Pilotnya cukup informatif dengan memberi informasi rute penerbangan, ditambah sedikit keterangan " di atas Kalimantan cuaca berawan dan sangat mungkin terjadi goncangan-goncangan kecil..." (walaupun goncangannya cukup sering, tapi ternyata nggak terlalu parah kok...)
Mendarat di Manado, ternyata bandara Sam Ratulangi sudah jadi bandara yang canggih dan modern (ditandai dengan banyaknya garbarata di mana-mana). Dari bandara Sam Ratulangi menuju hotel Sahid Kawanua kita menggunakan taksi. Di sana ternyata taksi nggak terlalu ramai, dan walaupun dilengkapi dengan argo, tapi harus pake' "argo mulut" alias tawar-menawar (macam bajaj saja!). Dan ternyata hotelnya terletak persis di depan kantor Pertamina Cabang Manado, jadi kalau mau ke Pertamina, tinggal kepleset sajah...
Berhubung perjalanan dari bandara menuju ke hotel kita melintasi daerah yang agak berbukit-bukit, dalam bayangan kita Manado hawanya agak dingin. Ternyata, salah besar... Hotelnya itu cuman sepelemparan batu dari pantai, dan hawanya luar biasa panas... panasnya makin terasa karena matahari bersinar terik, dan jarang ada angin, hhh.... Makanya selama 3 hari di sana, jalan-jalannya baru setelah matahari terbenam, selain menunggu setelah buka puasa dan shalat Maghrib, juga sambil nunggu hawanya lebih bersahabat.
Mumpung udah di Manado, aku mencari tahu tentang tempat wisata di sana. Ternyata k'lo di dalam kota, nggak ada tempat wisata yang spesifik, dan tempat tujuan wisata yang disebut ya selalu B yang satu itu : BUNAKEN (yang mana masih harus naik kapal sekitar 30-45 menit dari pelabuhan...). Di kota Manado, adanya malah mall dan pertokoan di Jl. Boulevard (yang katanya merupakan hasil reklamasi pantai), dan isinya mah sama kaya' mall di Jakarta. Tapi wisata kulinernya lumayan lengkap... dan ternyata di kota Manado tidak susah mencari makanan halal, masih banyak rumah makan Padang, Cotto Makassar dan ikan bakar di mana-mana (dan jaraknya dari hotel juga gak jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki). Unfortunately, lagi-lagi karena bulan puasa, jadi belum sempat mencicipi Tinutuan alias Bubur Manado yang tersohor itu, karena katanya adanya cuman di pagi hari sampai tengah hari (wah, harus balik ke Manado lagi nih...).
Hari Senin, mulailah kita siap-siap di kantor Pertamina Cabang Manado. Ternyata di dalam kantornya lebih "sauna" daripada di luar, karena AC sentralnya tidak dinyalakan (tepatnya, AC cuman dinyalakan di ruangan-ruangan, karena setelah restrukturisasi di Pertamina Penjualan, kantornya yang begitu besar jadi kosong, pegawai organiknya tinggal beberapa orang, jadilah harus berhemat listrik...). Untung Kepala Cabangnya berbaik hati untuk menambah 1 AC lagi di ruangan training, supaya ruangannya nggak terlalu panas.
Malamnya, kami makan di resto seafood di Malalayang. Kata yang nganterin, jenis ikannya adalah ikan karang. Tapi pas kita konfirmasikan sama mbak-mbak pelayannya, dia aja nggak tau itu ikan jenis apa.... Ikannya besar, kita aja cuman makan sepotong dari badannya (lengkap dengan sambal dabu-dabu dan sayur pepaya, slurp!) udah kekenyangan.... Di luar, sempat kelihatan juga ada orang yang jalan-jalan di pantai mencari ikan dengan lampu TL, dan juga terlihat lampu-lampu dari pantai yang direklamasi, cantiknya...
Hari Selasa, training dimulai. Waktu kita mendata peserta, ternyata yang puasa mencapai 50%, wow... untung konsumsinya sudah disiapkan dalam kotak, jadi bisa dibawa pulang dengan mudah. Sempet 2x kebagian mati lampu, wah, wah... Dan walaupun AC-nya sudah ditambah satu, tapi ternyata tetep aja hawanya panas. Untungnya peserta terlihat cukup aktif, jadi instrukturnya cukup senang.
Jam 11.30, aku harus meninggalkan 2 instrukturku itu kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke hotel untuk mengambil bagasi yang dititipkan di sana, aku menyempatkan diri memotret pal yang menandai titik nol kota Manado (yang ternyata pal-nya tersembunyi di dekat lampu lalu lintas di perempatan jalan, dekat pagar gedung, nyaris tak terperhatikan...). Dari hotel, tadinya mau langsung ke Bandara, tapi setelah iseng-iseng tanya sama pak supir di mana tempat beli oleh-oleh, akhirnya aku mampir sebentar ke toko oleh-oleh, beli kipas Krawang.
Di Bandara Sam Ratulangi, what a surprise! Waktu cek in di counter Garuda, ternyata kalau member GFF Silver di bandara ini ada lounge-nya. Walaupun nggak pakai AC (dan snack-nya nggak bisa dimakan karena lagi puasa), tapi lumayan banget, nggak perlu rebutan kursi dengan penumpang lain di luar. Sengaja pulang ke Jakarta milih naik Garuda, biar merasakan transit di Makassar... Waktu masuk ruang tunggu, tiba-tiba petugas bandara memberi pengumuman : "Para penumpang Garuda dengan tujuan Makasar, Denpasar dan Jakarta..." Ooo... masa' gue mesti transit di Denpasar lagi??? Toloooong..... Tapi ternyata, setelah di dalam pesawat, flight attendant memberi pengumuman yang lebih jelas, bahwa penerbangan ini adalah tujuan Jakarta yang transit di Makasar, thanks God.... (ternyata penumpang yang ke Denpasar itu pindah pesawatnya di Makasar).
Waktu transit di Makasar, proses transitnya jauuuuuh lebih nyaman daripada di Polonia. Tidak ada antrian panjang. Jadi masih sempat liat-liat suvenir, walaupun akhirnya nggak beli apa-apa. Dan akhirnya, setelah terbang kurang lebih 3,5 jam, akhirnya liat Cengkareng lagi.... (dan entah kenapa, akhir-akhir ini cuaca Jakarta kurang begitu bersahabat, sangat berawan, untung pendaratan tidak ada masalah....)
Hari Minggu, perjalanan dimulai dari bandara Cengkareng terminal 1 (again!). Kali ini terbangnya naik Batavia, dan katanya direct Jakarta-Manado, nggak pake' mampir-mampir. Pas nimbang bagasi, alamak, kelebihannya 113 kg! (again!) Tapi ternyata ongkos kelebihan bagasi di Batavia gak semahal waktu Lion ke Banda Aceh (padahal jarak kan kira-kira sama...), jadi kami cuman bayar sekitar 1,8 juta (dan masih tetap lebih mahal daripada tiket sekali jalan Jakarta-Manado, even pake' Garuda sekalipun...).
Untungnya, penerbangannya tepat waktu. Ternyata kita naik pesawat Airbus A319 (yang tidak segede Airbus 330, cuman lebih gede sedikit daripada Boeing 737 seri 400). Pesawatnya lumayan enak, jarak antar kursi cukup lebar, cukup buat leyeh-leyeh ... dan yang penting, masih dapet kue kotak (biarpun cuman roti dan lemper, tapi kan nggak cuman aqua gelas doank!). Dan ternyata, memang kita terbang direct dari Jakarta ke Manado, tanpa transit. Pilotnya cukup informatif dengan memberi informasi rute penerbangan, ditambah sedikit keterangan " di atas Kalimantan cuaca berawan dan sangat mungkin terjadi goncangan-goncangan kecil..." (walaupun goncangannya cukup sering, tapi ternyata nggak terlalu parah kok...)
Mendarat di Manado, ternyata bandara Sam Ratulangi sudah jadi bandara yang canggih dan modern (ditandai dengan banyaknya garbarata di mana-mana). Dari bandara Sam Ratulangi menuju hotel Sahid Kawanua kita menggunakan taksi. Di sana ternyata taksi nggak terlalu ramai, dan walaupun dilengkapi dengan argo, tapi harus pake' "argo mulut" alias tawar-menawar (macam bajaj saja!). Dan ternyata hotelnya terletak persis di depan kantor Pertamina Cabang Manado, jadi kalau mau ke Pertamina, tinggal kepleset sajah...
Berhubung perjalanan dari bandara menuju ke hotel kita melintasi daerah yang agak berbukit-bukit, dalam bayangan kita Manado hawanya agak dingin. Ternyata, salah besar... Hotelnya itu cuman sepelemparan batu dari pantai, dan hawanya luar biasa panas... panasnya makin terasa karena matahari bersinar terik, dan jarang ada angin, hhh.... Makanya selama 3 hari di sana, jalan-jalannya baru setelah matahari terbenam, selain menunggu setelah buka puasa dan shalat Maghrib, juga sambil nunggu hawanya lebih bersahabat.
Mumpung udah di Manado, aku mencari tahu tentang tempat wisata di sana. Ternyata k'lo di dalam kota, nggak ada tempat wisata yang spesifik, dan tempat tujuan wisata yang disebut ya selalu B yang satu itu : BUNAKEN (yang mana masih harus naik kapal sekitar 30-45 menit dari pelabuhan...). Di kota Manado, adanya malah mall dan pertokoan di Jl. Boulevard (yang katanya merupakan hasil reklamasi pantai), dan isinya mah sama kaya' mall di Jakarta. Tapi wisata kulinernya lumayan lengkap... dan ternyata di kota Manado tidak susah mencari makanan halal, masih banyak rumah makan Padang, Cotto Makassar dan ikan bakar di mana-mana (dan jaraknya dari hotel juga gak jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki). Unfortunately, lagi-lagi karena bulan puasa, jadi belum sempat mencicipi Tinutuan alias Bubur Manado yang tersohor itu, karena katanya adanya cuman di pagi hari sampai tengah hari (wah, harus balik ke Manado lagi nih...).
Hari Senin, mulailah kita siap-siap di kantor Pertamina Cabang Manado. Ternyata di dalam kantornya lebih "sauna" daripada di luar, karena AC sentralnya tidak dinyalakan (tepatnya, AC cuman dinyalakan di ruangan-ruangan, karena setelah restrukturisasi di Pertamina Penjualan, kantornya yang begitu besar jadi kosong, pegawai organiknya tinggal beberapa orang, jadilah harus berhemat listrik...). Untung Kepala Cabangnya berbaik hati untuk menambah 1 AC lagi di ruangan training, supaya ruangannya nggak terlalu panas.
Malamnya, kami makan di resto seafood di Malalayang. Kata yang nganterin, jenis ikannya adalah ikan karang. Tapi pas kita konfirmasikan sama mbak-mbak pelayannya, dia aja nggak tau itu ikan jenis apa.... Ikannya besar, kita aja cuman makan sepotong dari badannya (lengkap dengan sambal dabu-dabu dan sayur pepaya, slurp!) udah kekenyangan.... Di luar, sempat kelihatan juga ada orang yang jalan-jalan di pantai mencari ikan dengan lampu TL, dan juga terlihat lampu-lampu dari pantai yang direklamasi, cantiknya...
Hari Selasa, training dimulai. Waktu kita mendata peserta, ternyata yang puasa mencapai 50%, wow... untung konsumsinya sudah disiapkan dalam kotak, jadi bisa dibawa pulang dengan mudah. Sempet 2x kebagian mati lampu, wah, wah... Dan walaupun AC-nya sudah ditambah satu, tapi ternyata tetep aja hawanya panas. Untungnya peserta terlihat cukup aktif, jadi instrukturnya cukup senang.
Jam 11.30, aku harus meninggalkan 2 instrukturku itu kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke hotel untuk mengambil bagasi yang dititipkan di sana, aku menyempatkan diri memotret pal yang menandai titik nol kota Manado (yang ternyata pal-nya tersembunyi di dekat lampu lalu lintas di perempatan jalan, dekat pagar gedung, nyaris tak terperhatikan...). Dari hotel, tadinya mau langsung ke Bandara, tapi setelah iseng-iseng tanya sama pak supir di mana tempat beli oleh-oleh, akhirnya aku mampir sebentar ke toko oleh-oleh, beli kipas Krawang.
Di Bandara Sam Ratulangi, what a surprise! Waktu cek in di counter Garuda, ternyata kalau member GFF Silver di bandara ini ada lounge-nya. Walaupun nggak pakai AC (dan snack-nya nggak bisa dimakan karena lagi puasa), tapi lumayan banget, nggak perlu rebutan kursi dengan penumpang lain di luar. Sengaja pulang ke Jakarta milih naik Garuda, biar merasakan transit di Makassar... Waktu masuk ruang tunggu, tiba-tiba petugas bandara memberi pengumuman : "Para penumpang Garuda dengan tujuan Makasar, Denpasar dan Jakarta..." Ooo... masa' gue mesti transit di Denpasar lagi??? Toloooong..... Tapi ternyata, setelah di dalam pesawat, flight attendant memberi pengumuman yang lebih jelas, bahwa penerbangan ini adalah tujuan Jakarta yang transit di Makasar, thanks God.... (ternyata penumpang yang ke Denpasar itu pindah pesawatnya di Makasar).Waktu transit di Makasar, proses transitnya jauuuuuh lebih nyaman daripada di Polonia. Tidak ada antrian panjang. Jadi masih sempat liat-liat suvenir, walaupun akhirnya nggak beli apa-apa. Dan akhirnya, setelah terbang kurang lebih 3,5 jam, akhirnya liat Cengkareng lagi.... (dan entah kenapa, akhir-akhir ini cuaca Jakarta kurang begitu bersahabat, sangat berawan, untung pendaratan tidak ada masalah....)
Friday, September 21, 2007
Semalam di NAD
Pergi ke Aceh?? Gak pernah kebayang sebelumnya... apalagi kalau dengar cerita mengenai syariah Islam yang ditegakkan dengan sangat ketat, wah, wah, wah....Tapi ya begitulah, setelah sukses memberangkatkan 2 orang trainer ke wilayah Indonesia Timur (yang ternyata "nggak segitunya"), akhirnya tiba juga giliran para operator SPBU dari ujung Barat Indonesiauntuk mendapatkan training.
Berangkat naik Lion, waktu cek-in di Cengkareng 2 rekan perjalananku dengan gagah perkasanya mengangkat kardus-kardus berisi peralatan training (ceritanya sih mau ngirit biaya portir). Ehhh, pas ditimbang, ternyata 2 dari 5 kardus yang kami bawa itu beratnya 60 kg! Kata mas-mas yang jaga di counternya Lion, kasian kan yang angkat, jadi harus dikasih uang kopi, yah, tetep aja.... Setelah diitung-itung, kelebihannya aja 113 kg (padahal kita udah punya allowance sampe' 90 kg, buseeet....), jadi mesti bayar sekitar Rp 2,5 jt! Ya ampun, lebih mahal dari harga tiketnya...
Nunggu di ruang A-1, maaaak, pinuh pisang! Pasti ada yang delay... Akhirnya kita memutuskan untuk nunggu di luar. Di luar, pengumumannya agak kurang terdengar, sampe takut juga, jangan-jangan udah kelewat panggilannya. Dan ternyata, seperti yang sudah diduga, delay 45 menit (biasa....).
Perjalanan ke Aceh ditempuh dalam waktu 4 jam (sebenernya sih 3 jam, yang 1 jam untuk transit di Medan). Naik Lion?? Hhhh.... jarak antar tempat duduk cuman 20 cm!! Tapi gimana, for the sake of penghematan, gimana lagi... Akhirnya, dengan posisi kaki terjepit, dan duduk terjepit di 11E (dan terpisah dari 2 temanku yang lain), diriku menempuh perjalanan selama 3 jam di udara. Udah gitu, selama di pesawat, flight attendantnya "lumayan" cerewet, dikit-dikit ada pengumuman, tapi pengumumannya gak tuntas. Masak waktu turun di Medan, sama sekali gak ada pengumuman tentang yang transit untuk ke Aceh, jadi seolah-olah kita ini pesawat jurusan Jakarta-Medan, terus yang mau ke Aceh gak jelas, akan naik pesawat yang sama, atau pindah pesawat. Yang parahnya, pesawat belum mendarat dengan sempurna, masa' udah terdengar ada HP yang bunyi!! Please donk! Di Bandara Polonia, gak kalah kacau, antrian transit panjang banget, sampe' pada waktu kita masuk ruang tunggu, masih ngantri di X-Ray kedua, ehhh, udah dipanggil naik ke pesawat! Gak sempet window shopping neh!
Begitu mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, liat kiri-kanan dulu, kok gak pada pake' kerudung ya? Oh, mungkin belum lewat "batas suci", hehehe. Di Bandara, setelah dijemput sama orang Pertamina (dan yang mana barang-barang kita yang begitu banyak ternyata cukup dalam 1 bagasi Kijang Innova... memang, Kijang tiada duanya...), kita ke kantor Pertamina Cabang Pemasaran Banda Aceh. Begitu memasuki batas kota, langsung deh, kerudungnya dipake (hahaha!). Setelah koordinasi kiri dan kanan, akhirnya kita berangkat ke Hotel Sulthan (konon satu-satunya hotel bintang 3 yang tersisa setelah tsunami, dan ternyata lumayan deket dari kantor Pertamina).
Setelah puas leyeh-leyeh di hotel, tibalah saatnya untuk ngabuburit. "Cilaka"nya, tadi pagi kan sahurnya masih ikut waktu Jakarta, bukanya kan harus ikut waktu setempat, which is 45 menit lebih lambat daripada Jakarta! Alamak! Jadilah, ngabuburit sore itu kita jalan-jalan ke Mesjid Baiturahman (yang ternyata nggak terlalu jauh dari hotel, jalan kaki paling 20 menit...). Tadinya sih mau cari ta'jil gratisan di mesjid, tapi kok gak ada tanda-tandanya ya?? Jam 18.00 WIB (di mana di Jakarta sudah waktu buka), masih terang donk... Akhirnya jam 18.40, kira-kira 5 menit sebelum buka, kita ber-3 udah nongkrong di tukang es campur di depan mesjid Baiturahman. Ditunggu-tunggu, kok nggak ada bunyi beduk atau adzan... Ternyata penanda waktu berbuka puasa-nya nggak pake' beduk, tapi pake' sirine, dan lama juga, ada kali 2-3 menit bunyi sirinenya sebelum adzan.
Balik ke hotel, shalat, terus jam 9 baru cari makan malam. Berhubung di deket hotel tidak ada yang jualan mie Aceh, akhirnya masuk aja ke tukang jualan sate Lamongan. Ternyata pas pesen soto, sotonya more spicy daripada yang di Jawa... Tapi suasananya emang... gimana gitu ya, mau berkeliaran sendiri rasanya nggak nyaman, apalagi pasti ketahuan bukan orang lokal (belum lagi k'lo pas apes, ditangkap gara-gara pergi sama bukan muhrimnya, wah, jangan sampe' deh...)
Besok paginya, sahur di hotel. Lumayan banyak pilihan, karena hotelnya nyediain buffet, dan yang sahur juga lumayan banyak, serasa jam breakfast aja. Pagi-pagi, tadinya dah SMS minta dijemput dari Pertamina, tapi kok gak dijawab-jawab ya? Akhirnya dengan gagah berani, kita jalan kaki ke Pertamina Cabang Banda Aceh (which is ternyata jauh, bo.... puasa gitu loh...), dan begitu sampai di Cabang Banda Aceh, untungnya mereka belum jadi ngirim mobil untuk menjemput....
Pembukaan training, biasa-biasa aja. Pesertanya juga keliatan gak bersemangat, entah karena bulan puasa, atau karena dasarnya emang begitu (padahal instrukturnya sudah cukup bersemangat...). Waktu break (yang tanpa coffee, karena lagi bulan puasa), aku turun ke lapangan parkir, khusus untuk memotret pompa dispenser model super jadul, seperti yang ada di foto sebelah.
Jam 12, aku meninggalkan 2 trainerku itu untuk kembali ke Jakarta. Begitu masuk airport Sultan Iskandar Muda, serasa udah sampe' di Medan.... langsung deh, kerudungnya dicopot (kembali ke dunia nyata, ehm...). Pulang ke Jakarta naik Garuda, wah, beda banget dari waktu berangkatnya. Jarak antar tempat duduknya lebih lebar, dapet konsumsi (yang bisa dibawa pulang, karena puasa gitu loh...), dan yang lebih menyenangkan lagi, antrian transitnya di Bandara Polonia gak separah Lion, jadi masih sempat mampir toko untuk beli Bolu Meranti (abis dari Aceh nggak bisa bawa apa-apa, karena gak jelas oleh-olehnya apa, masa' mau bawa ganja???). Udah gitu flight attendantnya gak terlalu cerewet, pengumuman seperlunya aja, dan cukup jelas (terutama buat penumpang transit, jadi jelas kita mesti ngapain). Memang, naik Garuda itu emang enak....
Mendarat nih di Cengkareng. Pas masih di atas, wah, syerem.... cuacanya berawan, entah jarak pandangnya berapa, pokoknya daratannya seperti tidak kelihatan. Udah gitu ada anak kecil yang rewel, hhh, suasananya jadi (makin) mencekam. Namun akhirnya kita mendarat dengan selamat di Cengkareng (dan paling tidak penumpang Garuda masih lebih "sopan", nggak terlalu banyak terdengar bunyi HP waktu pesawat belum berhenti di landasan...). Di ruang pengambilan bagasi, ternyata banyak counter-counter ta'jil gratis, dan alhamdulillah, terdengar adzan Maghrib... (karena tadi sahurnya di Aceh, jadi puasanya di"korting" 45 menit...)
Berangkat naik Lion, waktu cek-in di Cengkareng 2 rekan perjalananku dengan gagah perkasanya mengangkat kardus-kardus berisi peralatan training (ceritanya sih mau ngirit biaya portir). Ehhh, pas ditimbang, ternyata 2 dari 5 kardus yang kami bawa itu beratnya 60 kg! Kata mas-mas yang jaga di counternya Lion, kasian kan yang angkat, jadi harus dikasih uang kopi, yah, tetep aja.... Setelah diitung-itung, kelebihannya aja 113 kg (padahal kita udah punya allowance sampe' 90 kg, buseeet....), jadi mesti bayar sekitar Rp 2,5 jt! Ya ampun, lebih mahal dari harga tiketnya...
Nunggu di ruang A-1, maaaak, pinuh pisang! Pasti ada yang delay... Akhirnya kita memutuskan untuk nunggu di luar. Di luar, pengumumannya agak kurang terdengar, sampe takut juga, jangan-jangan udah kelewat panggilannya. Dan ternyata, seperti yang sudah diduga, delay 45 menit (biasa....).
Perjalanan ke Aceh ditempuh dalam waktu 4 jam (sebenernya sih 3 jam, yang 1 jam untuk transit di Medan). Naik Lion?? Hhhh.... jarak antar tempat duduk cuman 20 cm!! Tapi gimana, for the sake of penghematan, gimana lagi... Akhirnya, dengan posisi kaki terjepit, dan duduk terjepit di 11E (dan terpisah dari 2 temanku yang lain), diriku menempuh perjalanan selama 3 jam di udara. Udah gitu, selama di pesawat, flight attendantnya "lumayan" cerewet, dikit-dikit ada pengumuman, tapi pengumumannya gak tuntas. Masak waktu turun di Medan, sama sekali gak ada pengumuman tentang yang transit untuk ke Aceh, jadi seolah-olah kita ini pesawat jurusan Jakarta-Medan, terus yang mau ke Aceh gak jelas, akan naik pesawat yang sama, atau pindah pesawat. Yang parahnya, pesawat belum mendarat dengan sempurna, masa' udah terdengar ada HP yang bunyi!! Please donk! Di Bandara Polonia, gak kalah kacau, antrian transit panjang banget, sampe' pada waktu kita masuk ruang tunggu, masih ngantri di X-Ray kedua, ehhh, udah dipanggil naik ke pesawat! Gak sempet window shopping neh!
Begitu mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, liat kiri-kanan dulu, kok gak pada pake' kerudung ya? Oh, mungkin belum lewat "batas suci", hehehe. Di Bandara, setelah dijemput sama orang Pertamina (dan yang mana barang-barang kita yang begitu banyak ternyata cukup dalam 1 bagasi Kijang Innova... memang, Kijang tiada duanya...), kita ke kantor Pertamina Cabang Pemasaran Banda Aceh. Begitu memasuki batas kota, langsung deh, kerudungnya dipake (hahaha!). Setelah koordinasi kiri dan kanan, akhirnya kita berangkat ke Hotel Sulthan (konon satu-satunya hotel bintang 3 yang tersisa setelah tsunami, dan ternyata lumayan deket dari kantor Pertamina).
Setelah puas leyeh-leyeh di hotel, tibalah saatnya untuk ngabuburit. "Cilaka"nya, tadi pagi kan sahurnya masih ikut waktu Jakarta, bukanya kan harus ikut waktu setempat, which is 45 menit lebih lambat daripada Jakarta! Alamak! Jadilah, ngabuburit sore itu kita jalan-jalan ke Mesjid Baiturahman (yang ternyata nggak terlalu jauh dari hotel, jalan kaki paling 20 menit...). Tadinya sih mau cari ta'jil gratisan di mesjid, tapi kok gak ada tanda-tandanya ya?? Jam 18.00 WIB (di mana di Jakarta sudah waktu buka), masih terang donk... Akhirnya jam 18.40, kira-kira 5 menit sebelum buka, kita ber-3 udah nongkrong di tukang es campur di depan mesjid Baiturahman. Ditunggu-tunggu, kok nggak ada bunyi beduk atau adzan... Ternyata penanda waktu berbuka puasa-nya nggak pake' beduk, tapi pake' sirine, dan lama juga, ada kali 2-3 menit bunyi sirinenya sebelum adzan.Balik ke hotel, shalat, terus jam 9 baru cari makan malam. Berhubung di deket hotel tidak ada yang jualan mie Aceh, akhirnya masuk aja ke tukang jualan sate Lamongan. Ternyata pas pesen soto, sotonya more spicy daripada yang di Jawa... Tapi suasananya emang... gimana gitu ya, mau berkeliaran sendiri rasanya nggak nyaman, apalagi pasti ketahuan bukan orang lokal (belum lagi k'lo pas apes, ditangkap gara-gara pergi sama bukan muhrimnya, wah, jangan sampe' deh...)
Besok paginya, sahur di hotel. Lumayan banyak pilihan, karena hotelnya nyediain buffet, dan yang sahur juga lumayan banyak, serasa jam breakfast aja. Pagi-pagi, tadinya dah SMS minta dijemput dari Pertamina, tapi kok gak dijawab-jawab ya? Akhirnya dengan gagah berani, kita jalan kaki ke Pertamina Cabang Banda Aceh (which is ternyata jauh, bo.... puasa gitu loh...), dan begitu sampai di Cabang Banda Aceh, untungnya mereka belum jadi ngirim mobil untuk menjemput....
Pembukaan training, biasa-biasa aja. Pesertanya juga keliatan gak bersemangat, entah karena bulan puasa, atau karena dasarnya emang begitu (padahal instrukturnya sudah cukup bersemangat...). Waktu break (yang tanpa coffee, karena lagi bulan puasa), aku turun ke lapangan parkir, khusus untuk memotret pompa dispenser model super jadul, seperti yang ada di foto sebelah.Jam 12, aku meninggalkan 2 trainerku itu untuk kembali ke Jakarta. Begitu masuk airport Sultan Iskandar Muda, serasa udah sampe' di Medan.... langsung deh, kerudungnya dicopot (kembali ke dunia nyata, ehm...). Pulang ke Jakarta naik Garuda, wah, beda banget dari waktu berangkatnya. Jarak antar tempat duduknya lebih lebar, dapet konsumsi (yang bisa dibawa pulang, karena puasa gitu loh...), dan yang lebih menyenangkan lagi, antrian transitnya di Bandara Polonia gak separah Lion, jadi masih sempat mampir toko untuk beli Bolu Meranti (abis dari Aceh nggak bisa bawa apa-apa, karena gak jelas oleh-olehnya apa, masa' mau bawa ganja???). Udah gitu flight attendantnya gak terlalu cerewet, pengumuman seperlunya aja, dan cukup jelas (terutama buat penumpang transit, jadi jelas kita mesti ngapain). Memang, naik Garuda itu emang enak....
Mendarat nih di Cengkareng. Pas masih di atas, wah, syerem.... cuacanya berawan, entah jarak pandangnya berapa, pokoknya daratannya seperti tidak kelihatan. Udah gitu ada anak kecil yang rewel, hhh, suasananya jadi (makin) mencekam. Namun akhirnya kita mendarat dengan selamat di Cengkareng (dan paling tidak penumpang Garuda masih lebih "sopan", nggak terlalu banyak terdengar bunyi HP waktu pesawat belum berhenti di landasan...). Di ruang pengambilan bagasi, ternyata banyak counter-counter ta'jil gratis, dan alhamdulillah, terdengar adzan Maghrib... (karena tadi sahurnya di Aceh, jadi puasanya di"korting" 45 menit...)
Label:
garuda indonesia,
spbu,
sumatra,
training,
travel
Monday, September 03, 2007
Bukittinggi, I'll be back (soon)!!
On last week of August 2007, I went to Padang and Bukittinggi, preparing gas station training for Pertamina. Wow.... I've been planned this for months, and I'm glad I got chance to survey the location before planning a "real vacation".
We (me and training team) arrived on Minangkabau International Airport (which was not so big, as I assumed before...), then we went to Pertamina Cabang Padang (which is 25 km from the airport). Padang is a nice city : not big (but not so small), not crowded and clean. Unfortunately we didn't have much time to city tour in Padang, because we have to prepare the classroom in Bukittinggi.
After lunch (which was on Padang restaurant, of course! But the taste is rather different than Padang restaurant at Jakarta), we travelled to Bukittinggi. The scene was very beautiful, very green. The road looked like Bandung-Sumedang route at Cadas Pangeran, along the route we found rock cliff everywhere. We passed Lembah Anai and waterfall on the road side, wow, what a scene... What made the tour more dramatic was the railroad along the route, there were lot of railroad bridge and tunnel crossing the road (unfortunately, the train is not operated regularly anymore....). After Padang Panjang, we passed many village, looked very traditional and unique (although not in remote area). The village's (or disctrict, perhaps) name were sounds cute, for example, we saw a name plate written X Koto, it was read Sepuluh Koto, mean 10 villages.
After 2 hours, we arrived at Bukittinggi. It was cool, and the air was clean (not polluted by big industries gas emission). Guess what? Our room at the hotel was without air-con, but when I wake up on the next morning, it was COLD! After we prepare the meeting room for the next day, at night we went to supermarket to buy couple of things, and have dinner at Kapau restaurant (the taste was different than Padang, more spicy, I thought). I took photo on Jam Gadang, the landmark of Bukittinggi. Not a perfect photo (because it was dark, and the clock was tall), but enough to show that I has take a step at Bukittinggi.
On the next day, after lunch, I got to go back to Padang, catch the flight to Jakarta. Before leaving Bukittinggi, I stopped by Ngarai Sianok, the famous canyon at Bukittinggi (which was only a stone throw away from the hotel!). The scene is very beautiful, very unique. After that, I bought some souvenirs at Pasar Atas. The most popular souvenirs was needleworks clothes, it was very beautiful, and also rather expensive... :-) Unfortunately, since I didn't have much time, I haven't survey the Rumah Gadang, Bung Hatta's house, and other interesting place at Bukittinggi. So, after buying some special food from Bukittinggi (the famous krupuk Sanjay, of course!), I left Bukittinggi to the airport at Padang.
He-uh, what a travelling, should be back there soon...
We (me and training team) arrived on Minangkabau International Airport (which was not so big, as I assumed before...), then we went to Pertamina Cabang Padang (which is 25 km from the airport). Padang is a nice city : not big (but not so small), not crowded and clean. Unfortunately we didn't have much time to city tour in Padang, because we have to prepare the classroom in Bukittinggi.
After lunch (which was on Padang restaurant, of course! But the taste is rather different than Padang restaurant at Jakarta), we travelled to Bukittinggi. The scene was very beautiful, very green. The road looked like Bandung-Sumedang route at Cadas Pangeran, along the route we found rock cliff everywhere. We passed Lembah Anai and waterfall on the road side, wow, what a scene... What made the tour more dramatic was the railroad along the route, there were lot of railroad bridge and tunnel crossing the road (unfortunately, the train is not operated regularly anymore....). After Padang Panjang, we passed many village, looked very traditional and unique (although not in remote area). The village's (or disctrict, perhaps) name were sounds cute, for example, we saw a name plate written X Koto, it was read Sepuluh Koto, mean 10 villages.
After 2 hours, we arrived at Bukittinggi. It was cool, and the air was clean (not polluted by big industries gas emission). Guess what? Our room at the hotel was without air-con, but when I wake up on the next morning, it was COLD! After we prepare the meeting room for the next day, at night we went to supermarket to buy couple of things, and have dinner at Kapau restaurant (the taste was different than Padang, more spicy, I thought). I took photo on Jam Gadang, the landmark of Bukittinggi. Not a perfect photo (because it was dark, and the clock was tall), but enough to show that I has take a step at Bukittinggi.
On the next day, after lunch, I got to go back to Padang, catch the flight to Jakarta. Before leaving Bukittinggi, I stopped by Ngarai Sianok, the famous canyon at Bukittinggi (which was only a stone throw away from the hotel!). The scene is very beautiful, very unique. After that, I bought some souvenirs at Pasar Atas. The most popular souvenirs was needleworks clothes, it was very beautiful, and also rather expensive... :-) Unfortunately, since I didn't have much time, I haven't survey the Rumah Gadang, Bung Hatta's house, and other interesting place at Bukittinggi. So, after buying some special food from Bukittinggi (the famous krupuk Sanjay, of course!), I left Bukittinggi to the airport at Padang.He-uh, what a travelling, should be back there soon...
Lokasi:
Bukittinggi, Indonesia
Tuesday, June 26, 2007
Bali, unforgetable getaway
Early of June, I made a trip to Bali (this is my 9th trip to Bali!). Since I had to stay there on weekend (before my program started on the next Monday), then I arranged trip to some tourism and historical object (later, my plan was interrupted by the car rental owner! Anyway, I still have lots of fun...).
One of the interesting place is Bedugul, a cool and peaceful place. You can find a Hindu temple on Bratan lake (like a floating temple), and also a Budhist stupa (I think the place is suitable for meditation, it is cool, calm, with beautiful scenery). See the photo, you can see the Ulun Danu temple on the background.

My trip ended at Dreamland, a "virgin" beach (but not so virgin after all... many tourists, still), where I watched sunset. The sunset scenery looks very awesomeeee... Just a perfect place to forget all your troubles (for a while, before returning to reality, hehehe...).
One of the interesting place is Bedugul, a cool and peaceful place. You can find a Hindu temple on Bratan lake (like a floating temple), and also a Budhist stupa (I think the place is suitable for meditation, it is cool, calm, with beautiful scenery). See the photo, you can see the Ulun Danu temple on the background.
My trip ended at Dreamland, a "virgin" beach (but not so virgin after all... many tourists, still), where I watched sunset. The sunset scenery looks very awesomeeee... Just a perfect place to forget all your troubles (for a while, before returning to reality, hehehe...).
Monday, April 16, 2007
Nagabonar (jadi) 2 : Apa Kata Dunia??

2 minggu yang lalu, kami baru aja nonton film Nagabonar (Jadi) 2. Setelah melalui perjuangan yang cukup heboh (udah sempet mau nonton di Plangi, tapi ternyata di Plangi 21 gak ada, hiks....), sambil sempet icip-icip masakan India di Sarinah (which very very Indian taste... gak nyesel sih ke sana, tapi k'lo mau ke sana lagi, tunggu ada yang traktir dech, hehehe), akhirnya kami berhasil mencapai Jakarta Theatre XXI. Buat aku (yang mana terakhir kali nonton di Jakarta Theatre mungkin udah lebih dari 15 tahun yang lalu), udah banyak banget yang berubah di Jakarta Theatre, termasuk setting bioskop yang lebih canggih dibandingin 15 tahun yang lalu.
Mulailah filmnya diputar. Adegan pertama, Bonaga yang bergaya metroseksual, sedang naik mobil melintasi perkebunan kelapa sawit, sambil dengerin i-Pod. Alamak, E'i' s'kalee!! (note : E'i' itu teman kami yang juragan kelapa sawit beneran dari Medan :-) ) Jadi, pada saat penonton yang lain (mungkin) baru berpikir "ooh... ini si Bonaga", kami udah tertawa duluan, karena langsung kebayang si E'i' yang lagi inspeksi kebun kelapa sawitnya...
Adegan demi adegan bergulir, menggambarkan konflik antar generasi yang dikemas ala komedi satire yang (cukup) ringan, tapi dalem banget. Bagi mereka yang belum pernah nonton Nagabonar 1 (which is ternyata salah satu adekku juga belum pernah nonton), ada beberapa hal (baik yang lucu maupun serius) yang mungkin perlu waktu untuk dipahami (soalnya k'lo gak ngerti, ketawanya suka telat, hehehe). Misalnya tentang paman Bujang, yang mati saat ia memakai seragam Nagabonar dan bertempur melawan Belanda hingga tewas. Kalau kita nggak pernah nonton Nagabonar 1, ada kemungkinan kita nggak faham kenapa Nagabonar marah-marah kepada Bujang yang sudah terbujur kaku di liang kubur, dimakan cacing pula. Dan mungkin juga kita nggak tahu bahwa paman Bujang itu bukan adiknya Nagabonar, tapi sobatnya Nagabonar.
K'lo secara keseluruhan, filmnya cukup menghibur. Memang mungkin ada beberapa hal yang gak pas, ato gak logis, ato maksa. Salah satunya adalah adegan bajaj di Bundaran HI, mana mungkin bajaj bisa masuk wilayah itu, lah wong semua akses ke Bundaran HI ketutup buat bajaj... (anyway, adegannya cukup lucu, dan nyindir abissss....) Untuk akting para aktornya, berhubung filmnya judulnya Nagabonar (jadi) 2, sah-sah aja k'lo bang Deddy Mizwar mendominasi hampir semua bagian cerita di film itu (karena kaya'nya yang ditonjolin di film ini adalah konflik batin tokoh Nagabonar yang masih kebayang-bayang jaman kemerdekaan, sementara jaman sudah berubah dan yang ada di depan mata adalah jaman internet), dan aktingnya Bang Deddy masih tetep oke (sambil berusaha ngebayangin kembali, 20 tahun yang lalu Nagabonar kaya' apa ya?). Sedangkan untuk tokoh Bonaga yang dimainkan Tora Sudiro, buat kami para penggemar Extravaganza, susah banget untuk menghilangkan image Tora sebagai komedian Extravaganza. Film ini ngingetin kita juga, bahwa Tora punya sisi lain dalam kemampuannya berakting, di mana Tora gak cuman bisa ngocol di sketsa Extravaganza, tapi bisa juga berakting di film yang serius. Anyway, aku gak kebayang k'lo tokoh Bonaga ini dimainin aktor lain, mengingat tokoh Nagabonar yang sableng abis, mestinya anaknya juga rada sableng, jadi harus diperankan oleh aktor yang bisa berakting sableng (walopun ternyata Bonaga gak sesableng bapaknya, hahahaha...). K'lo aktor-aktor lain, well done, terutama buat Lukman Sardi yang memerankan Umar si tukang bajaj ngerangkep guru ngaji, sama Indra Birowo si tukang karpet (yang namanya udah muncul dari credit title awal, tapi orangnya baru nongol menjelang akhir, kita nunggu-nunggu loh, kapan Indra-nya keluar...)
Satu pesan yang sangat dalam dari film ini adalah : segala permasalahan bisa diselesaikan dengan cinta. Yang aku suka dari film ini, dari awal kita tahu bahwa film ini akan menampilkan konflik antar generasi, tapi konflik itu ditampilkan dengan sangat indah, tidak ditunjukkan dengan kekerasan, lebih banyak ke main kata-kata dan ekspresi. Digambarkan juga bahwa kesuksesan Bonaga tidak membuat ia lupa diri, karena digambarkan Bonaga seorang yang idealis dan sangat menghormati Bapak-nya. Nilai-nilai seperti ini yang sangat jarang kita temukan di televisi kita, yang cenderung lebih banyak menonjolkan kekerasan, anak berkelahi dan tidak hormat sama orang tua, dlsb dlsb.
Bagi mereka para pecinta sinema yang mengharapkan film ini bisa setara dengan Nagabonar 1, siap-siap aja, karena mungkin ekspektasi anda tidak akan terpenuhi. K'lo penilaianku, k'lo Nagabonar 1 nilainya 9 skala 10, Nagabonar (Jadi) 2 ini nilainya 8, lah. Dari segi alur cerita, kadang-kadang terasa agak kurang enak ngikutinnya, kaya' loncat-loncat. Kemudian ada beberapa adegan terasa gak logis ato maksa. Tapi dari segi ide cerita, dialog, sentilan, dan berbagai nilai yang disampaikan, film ini sangat orisinil, beda banget dengan film-film lokal lain yang saat ini beredar di pasaran, dan lebih bisa dinikmati semua umur, gak terbatas penonton dewasa (bisa dianggap film keluarga lah). Maka, bagi mereka yang nonton film ini untuk cari hiburan, film ini Te-O-Pe Be-Ge-Te alias TOPH BUANGETTT!!
Label:
cinta,
film,
kelapa sawit,
nagabonar,
nagabonar 2
Monday, October 30, 2006
Lebaran di Ancol
Lebaran di Ancol? Pasti udah pada liat fotonya di koran. Penuh banget!! (mungkin lebih penuh daripada cendol ato es campur...) Mulai dari mereka yang naik kendaraan umum, sampai mereka-mereka yang "mengungsi" ke hotel karena ditinggal mudik para pramuwisma. Wahana yang paling banyak diminati : "wahana antrian", karena di mana-mana ada antrian, mulai dari pintu masuk Ancol, di dalam Ancol, bahkan sampai di lobby hotel pun penuh dengan antrian. Anyway, salut untuk pengelola Ancol Bay City, karena dalam kondisi yang sangat penuh (koran Kompas bahkan menyebutkan bahwa pada weekend setelah Lebaran, jumlah pengunjung mencapai 300 ribu!), mereka masih berusaha menjaga kelancaran lalu lintas di dalam kompleks Ancol.
Berikut ini beberapa "oleh-oleh" dari Ancol :

Baby Dugong di Sea World lagi menghisap jempol
Ikan Purba (looks like alien from Star Trek!)

Sebastian, the lost crab from Little Mermaid ("adopted" from Sea World Ancol)

Alamak, penuhnya.... nyaris tak tersisa....
Berikut ini beberapa "oleh-oleh" dari Ancol :

Baby Dugong di Sea World lagi menghisap jempol
Ikan Purba (looks like alien from Star Trek!)

Sebastian, the lost crab from Little Mermaid ("adopted" from Sea World Ancol)

Alamak, penuhnya.... nyaris tak tersisa....
Monday, October 16, 2006
Kantor Pertamina KEBAKARAN!!
Senin pagi (16/10/06), kami menerima SMS yang sangat mengejutkan : Kantor Pusat Pertamina KEBAKARAN!! OMG.... Terus kita ngecek di Metro TV, katanya yang kebakaran lantai 19-20, lah, itu khan kantornya Direksi... Akhirnya pagi-pagi kami melewati daerah Gambir (yang pada jam 07.30 ternyata tidak semacet yang dibayangkan), apinya masih keliatan di sisi utara gedung (yang mana menurut saksi mata yang dapat dipercaya, jam 08.00 api mulai terlihat menjalar di sisi selatan gedung). Di kantor, berita tentang kantor pusat Pertamina yang kebakaran terus dimonitor, mulai dari jam 10.40 katanya api mulai padam, tapi jam 11.00 ada api menyala lagi. Untungnya berita jam 12.00 menyatakan bahwa api dapat dipadamkan seluruhnya.
Di bawah ini adalah 2 foto kondisi gedung Pertamina pada hari Senin pagi jam 07.30, diambil dari dalam mobil. Hiks....
Di bawah ini adalah 2 foto kondisi gedung Pertamina pada hari Senin pagi jam 07.30, diambil dari dalam mobil. Hiks....
Saturday, August 05, 2006
Bekerja Dengan Cinta
Saat ini aku sedang duduk di gerbong kereta yang membawaku menuju tanah kelahiranku. Beberapa hari yang lalu, aku masih berkutat dengan teman-temanku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sangat menantang. Tanpa terasa, sudah lebih dari sebulan kami jungkir-balik menyelesaikan pekerjaan ini, dengan penuh suka duka, dalam canda dan air mata. Aku merenungi kembali masa-masa itu, sungguh tak kukira, bahwa kami memiliki tekad yang sama : menyelesaikan pekerjaan ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh totalitas, demi sesuatu yang lebih berharga daripada materi, yaitu nama baik. Sayup-sayup di headsetku terdengar lantunan merdu...
"Bekerja dengan cinta, bagai sang pencipta
Membentuk citra insaninya..."
Aku tersentak. Ah, apakah ini yang sesungguhnya pantas disebut sebagai "Bekerja dengan Cinta"? Bekerja dengan mencurahkan segala perasaan dan penuh totalitas untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan sebaik-baiknya?
Deru roda kereta semakin kencang. Terik matahari semakin menerpa kaca jendela gerbong kereta. Aku merenung kembali, mengingat apa yang pernah dilontarkan temanku tentang "Bekerja dengan Cinta", bahwa "Bekerja dengan Cinta" itu adalah bekerja untuk seseorang yang semata-mata dilandasi oleh cinta kita pada orang itu. Namun aku melihat hasil pekerjaannya tidak menunjukkan suatu kualitas seperti yang dapat dicapai bila pekerjaan itu dilakukan dengan sepenuh hati. Apakah "cinta" yang dimaksud hanya sedangkal itu?
Kumengingat kata Sang Pujangga :
"Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan mengenakannya nanti."
Ah! Sang Pujangga telah menyiratkan, bahwa bekerja dengan rasa cinta itu adalah mencurahkan segala perasaan dengan penuh totalitas, sehingga akan menghasilkan suatu mahakarya yang sempurna.
Dan kemarin itu, setelah segala daya upaya tercurah, setelah segala rasa tertumpah, setelah pada akhirnya semua totalitas itu dituangkan menjadi suatu hasil karya, barulah aku sadar, mungkin inikah yang disebut dengan "Bekerja dengan Cinta"...
Bunyi peluit kereta api menyadarkanku dari lamunan, ah, ternyata kami sedang berhenti di sebuah stasiun, menunggu giliran lewat. Tanpa sadar, kaset di walkmanku sudah mencapai akhir. Aku membalik kaset di walkmanku, dan terdengarlah lantunan merdu : "Bulan merah jambu...."
Posting ini dipersembahkan bagi sahabat-sahabat terdekatku yang telah memberiku inspirasi dalam memaknai "Bekerja dengan Cinta".
"Bekerja dengan cinta, bagai sang pencipta
Membentuk citra insaninya..."
Aku tersentak. Ah, apakah ini yang sesungguhnya pantas disebut sebagai "Bekerja dengan Cinta"? Bekerja dengan mencurahkan segala perasaan dan penuh totalitas untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan sebaik-baiknya?
Deru roda kereta semakin kencang. Terik matahari semakin menerpa kaca jendela gerbong kereta. Aku merenung kembali, mengingat apa yang pernah dilontarkan temanku tentang "Bekerja dengan Cinta", bahwa "Bekerja dengan Cinta" itu adalah bekerja untuk seseorang yang semata-mata dilandasi oleh cinta kita pada orang itu. Namun aku melihat hasil pekerjaannya tidak menunjukkan suatu kualitas seperti yang dapat dicapai bila pekerjaan itu dilakukan dengan sepenuh hati. Apakah "cinta" yang dimaksud hanya sedangkal itu?
Kumengingat kata Sang Pujangga :
"Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan mengenakannya nanti."
Ah! Sang Pujangga telah menyiratkan, bahwa bekerja dengan rasa cinta itu adalah mencurahkan segala perasaan dengan penuh totalitas, sehingga akan menghasilkan suatu mahakarya yang sempurna.
Dan kemarin itu, setelah segala daya upaya tercurah, setelah segala rasa tertumpah, setelah pada akhirnya semua totalitas itu dituangkan menjadi suatu hasil karya, barulah aku sadar, mungkin inikah yang disebut dengan "Bekerja dengan Cinta"...
Bunyi peluit kereta api menyadarkanku dari lamunan, ah, ternyata kami sedang berhenti di sebuah stasiun, menunggu giliran lewat. Tanpa sadar, kaset di walkmanku sudah mencapai akhir. Aku membalik kaset di walkmanku, dan terdengarlah lantunan merdu : "Bulan merah jambu...."
Posting ini dipersembahkan bagi sahabat-sahabat terdekatku yang telah memberiku inspirasi dalam memaknai "Bekerja dengan Cinta".
Monday, July 31, 2006
Gift from Garuda Indonesia
Bulan Juli yang lalu aku dapet "rejeki" dari Garuda. They upgraded my flight seat from Economy to Executive Class! Dan kejadian ini bukan cuman terjadi 1x, tapi 2x. K'lo bayar sendiri, mana mungkin diriku duduk di Executive Class (kecuali kepepet, tentu saja), apalagi untuk penerbangan dengan durasi kurang dari 1 jam, belum sempat menikmati indulgence di Executive Class, pesawatnya udah keburu turun...
Kejadian pertama, penerbangan Semarang-Jakarta tanggal 9 Juli 2006 jam 18.10. Hari itu sebenarnya sudah diwarnai dengan berbagai ketidaknyamanan di bandara A. Yani Semarang. Mulai dari bandara yang lagi direnovasi, nyaris ditolak masuk Exec Lounge yang dijaga oleh penjaga pintu yang amat sangat tidak kooperatif (padahal untuk penumpang Garuda dan pemegang Gold Credit Card, sebenarnya bisa langsung masuk ke Garuda Lounge!), ditambah ternyata pesawatnya delay 30 menit. Sempet ngobrol sama seorang Ibu di Garuda Lounge, bahwa beda antara Economy dan Executive Class itu cuman handuk panas dan jus jeruk, dan berhubung si Ibu duduk di Executive Class dan suaminya duduk di Economy, beliau berjanji akan membelikan jus jeruk sebotol untuk suaminya sebagai kompensasi. :) Lah kok tiba-tiba pada waktu boarding ujug-ujug boarding passku ditukar dan aku disuruh duduk di Executive Class.... Sempet terkejut-kejut, gak percaya dan bolak-balik nanya ama ground crew-nya Garuda, apa yang sebenarnya terjadi? Katanya sih karena pesan tiketnya dengan Garuda Frequent Flyer. Ohh... Jadilah diriku menikmati jus jeruk dan handuk panas seharga Rp 250 rebong, for free (of course!).
Kejadian kedua, penerbangan Jakarta-Solo tanggal 27 Juli 2006 jam 09.30. Semalam sebelumnya, karena Eyang di Solo meninggal dan kami harus terbang ke Solo, kami sudah booking 2 tiket Ekonomi (yang mana itu 2 seat terakhir!). Ceritanya kami sudah mengenyangkan diri di Exec Lounge (siap-siap untuk tidak makan siang, karena kami harus menghadiri pemakaman Eyang). Lah kok pas boarding, ujug-ujug ground crew-nya bilang bahwa tiketku diupgrade ke Executive Class! Ohh... rejeki nomplok lagi. Ya sudah, akhirnya diriku dan adekku menikmati (kembali) indulgence di Executive Class. Hmmm... yummy...
Kejadian pertama, penerbangan Semarang-Jakarta tanggal 9 Juli 2006 jam 18.10. Hari itu sebenarnya sudah diwarnai dengan berbagai ketidaknyamanan di bandara A. Yani Semarang. Mulai dari bandara yang lagi direnovasi, nyaris ditolak masuk Exec Lounge yang dijaga oleh penjaga pintu yang amat sangat tidak kooperatif (padahal untuk penumpang Garuda dan pemegang Gold Credit Card, sebenarnya bisa langsung masuk ke Garuda Lounge!), ditambah ternyata pesawatnya delay 30 menit. Sempet ngobrol sama seorang Ibu di Garuda Lounge, bahwa beda antara Economy dan Executive Class itu cuman handuk panas dan jus jeruk, dan berhubung si Ibu duduk di Executive Class dan suaminya duduk di Economy, beliau berjanji akan membelikan jus jeruk sebotol untuk suaminya sebagai kompensasi. :) Lah kok tiba-tiba pada waktu boarding ujug-ujug boarding passku ditukar dan aku disuruh duduk di Executive Class.... Sempet terkejut-kejut, gak percaya dan bolak-balik nanya ama ground crew-nya Garuda, apa yang sebenarnya terjadi? Katanya sih karena pesan tiketnya dengan Garuda Frequent Flyer. Ohh... Jadilah diriku menikmati jus jeruk dan handuk panas seharga Rp 250 rebong, for free (of course!).
Kejadian kedua, penerbangan Jakarta-Solo tanggal 27 Juli 2006 jam 09.30. Semalam sebelumnya, karena Eyang di Solo meninggal dan kami harus terbang ke Solo, kami sudah booking 2 tiket Ekonomi (yang mana itu 2 seat terakhir!). Ceritanya kami sudah mengenyangkan diri di Exec Lounge (siap-siap untuk tidak makan siang, karena kami harus menghadiri pemakaman Eyang). Lah kok pas boarding, ujug-ujug ground crew-nya bilang bahwa tiketku diupgrade ke Executive Class! Ohh... rejeki nomplok lagi. Ya sudah, akhirnya diriku dan adekku menikmati (kembali) indulgence di Executive Class. Hmmm... yummy...
Thursday, June 29, 2006
Gado-Gado Semarangan
Bulan lalu, perusahaanku menyelenggarakan training di Semarang, dan mengirim aku untuk dinas ke Semarang. This is my little thought about Semarang....
Untuk sebuah Ibu Kota Propinsi, Semarang terlalu sepi. But it's a nice and unique city. Buat orang yang senang ketenangan, Semarang cocok banget untuk tempat tinggal. Suasana Semarang mengingatkanku pada Bandung di tahun 1980-an, di mana kontur kota berbentuk pegunungan dengan lalu lintas tidak terlalu ramai (please note : Bandung mah sekarang sudah *terlalu* ramai!). Kontur Semarang menjadi unik, karena Semarang terletak di tepi pantai, namun sebagian kota Semarang terletak di daerah pegunungan. Saking sepinya, pusat perbelanjaan di Semarang pun gak terlalu banyak (dan yang *agak* menyedihkan : suplai kelengkapan komputer ternyata susah dicari di Semarang, hiks....).
Di Semarang ternyata gak banyak tempat wisata, yang menjadikan salah satu kendala kami dalam menentukan tempat tujuan wisata buat peserta training. Pusyiiiing..... Pilihan yang ada cuma gedung Lawang Sewu (yang konon merupakan the most haunted building di Semarang), taman Maerokoco (yang udah sepiiii banget), museum Ronggowarsito, dan wisata budaya klenteng Sam Po Kong (seperti yang terlihat di gambar sebelah kiri, foto ini diambil tahun 2005, saat persiapan menjelang festival 600 tahun pelayaran Cheng Ho keliling dunia), yang k'lo kita masuk ke dalamnya, serasa berada di Cina (padahal kuil di Cina ternyata nggak seperti ini loh...). Jadinya kalau mau piknik, kita terpaksa harus mencari ke arah Ungaran, atau ke arah Demak.
Anyway, tapi asik juga sih berlibur, eh, berdinas ke Semarang, soalnya di sana jarang banget ketemu sama yang namanya macet.... :)
Untuk sebuah Ibu Kota Propinsi, Semarang terlalu sepi. But it's a nice and unique city. Buat orang yang senang ketenangan, Semarang cocok banget untuk tempat tinggal. Suasana Semarang mengingatkanku pada Bandung di tahun 1980-an, di mana kontur kota berbentuk pegunungan dengan lalu lintas tidak terlalu ramai (please note : Bandung mah sekarang sudah *terlalu* ramai!). Kontur Semarang menjadi unik, karena Semarang terletak di tepi pantai, namun sebagian kota Semarang terletak di daerah pegunungan. Saking sepinya, pusat perbelanjaan di Semarang pun gak terlalu banyak (dan yang *agak* menyedihkan : suplai kelengkapan komputer ternyata susah dicari di Semarang, hiks....).
Di Semarang ternyata gak banyak tempat wisata, yang menjadikan salah satu kendala kami dalam menentukan tempat tujuan wisata buat peserta training. Pusyiiiing..... Pilihan yang ada cuma gedung Lawang Sewu (yang konon merupakan the most haunted building di Semarang), taman Maerokoco (yang udah sepiiii banget), museum Ronggowarsito, dan wisata budaya klenteng Sam Po Kong (seperti yang terlihat di gambar sebelah kiri, foto ini diambil tahun 2005, saat persiapan menjelang festival 600 tahun pelayaran Cheng Ho keliling dunia), yang k'lo kita masuk ke dalamnya, serasa berada di Cina (padahal kuil di Cina ternyata nggak seperti ini loh...). Jadinya kalau mau piknik, kita terpaksa harus mencari ke arah Ungaran, atau ke arah Demak.Anyway, tapi asik juga sih berlibur, eh, berdinas ke Semarang, soalnya di sana jarang banget ketemu sama yang namanya macet.... :)
Subscribe to:
Posts (Atom)