Showing posts with label mash-up. Show all posts
Showing posts with label mash-up. Show all posts

Sunday, May 17, 2020

[Travel Writing Mash-Up] Dari Gedung Stovia Hingga Salemba 6

Indonesia merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran modern. Pendidikan kedokteran di Indonesia berawal di pertengahan abad ke-19, atas prakarsa dr. Willem Bosch, Kepala Dinas Jawatan Kesehatan (Tentara dan Sipil) Hindia Belanda. Saat itu muncul berbagai wabah penyakit, dan tenaga medis pemerintah Hindia Belanda kewalahan memberantas wabah penyakit tersebut, salah satunya adalah karena kekurangan tenaga. Dr. Bosch mengusulkan untuk mendirikan korps kesehatan dengan tenaga Bumiputera, yang direspon dengan keputusan Gubernemen tahun 1849 untuk mendidik 30 pemuda Jawa di rumah sakit militer untuk menjadi asisten dokter dan “vaccinateur” (mantri cacar).

Fasad Gedung STOVIA yang menjadi Museum Kebangkitan Nasional

Tanggal 1 Januari 1851 berdirilah Onderwijs van Inlandsche Eleves voor de Geneeskunde en Vaccine (Sekolah Pendidikan Vacinateur), yang diselenggarakan di rumah sakit militer Weltevreden (saat ini RSPAD Gatot Soebroto). Tahun 1853, pendidikan tersebut berganti nama menjadi Sekolah Dokter Jawa, dan para lulusannya diberi gelar Dokter Djawa. Lulusan Sekolah Dokter Jawa kemudian dipekerjakan sebagai mantri cacar, diperbantukan di rumah sakit, dan membantu dokter militer merangkap dokter sipil. Beberapa lulusan Sekolah Dokter Djawa yang terkenal adalah dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Abdoel Rivai, yang kemudian memegang peran penting dalam perjuangan pergerakan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Diorama Suasana Kelas Terbuka di STOVIA
Tahun 1896, dr. Hermanus Frederik Roll, seorang dokter militer, dipercaya untuk memimpin sekolah ini. Di masa kepemimpinannya sekolah ini berkembang dengan pesat dalam pendidikannya. Tahun 1898, Sekolah Dokter Jawa berganti nama menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera dengan lama pendidikan 9 tahu, dan lulusannya dapat melanjutkan pendidikan ke universitas di Belanda. Agar tidak mengganggu aktivitas rumah sakit militer, atas usul dr. Roll pada tahun 1899 dibangun gedung baru di sebelah rumah sakit militer, tepatnya di Hospitaalweg. Gedung baru ini mulai beroperasi pada tahun 1902, dan dilengkapi dengan asrama.

Batu Nisan HF Roll di Museum Taman Prasasti
Sekolah ini menjadi saksi pada hari Minggu tanggal 20 Mei 1908, di salah satu ruang kelas STOVIA yang biasa digunakan untuk mata kuliah anatomi, Soetomo menyatakan bahwa hari depan bangsa dan tanah air ada di tangan mereka, dan menjelaskan gagasannya untuk mendirikan organisasi. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, dan para pelajar STOVIA lainya kemudian mendeklarasikan berdirinya organisasi modern pertama Boedi Oetomo, yang menjadi cikal bakal pergerakan Indonesia menuju kemerdekaan.

Diorama suasana Ruang Anatomi saat deklarasi berdirinya Boedi Oetomo 
Selama beroperasi di Hospitaalweg, STOVIA telah meluluskan beberapa dokter bumiputera, termasuk di antaranya dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. R. Soetomo (pendiri Boedi Oetomo), dr. Jacob Bernadus Sitanala (peneliti kusta), dr. Achmad Mochtar (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala lembaga Eijkman), dan dr. RM Djoehana Wiradikarta (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala lembaga Pasteur).

Lembaga Eijkman di RSCM
dr. Achmad Mochtar adalah salah satu asisten dr. Christian Eijkman dalam meneliti penyakit beri-beri. Di masa pendudukan Jepang, dr. Mochtar bersama koleganya ditahan Kempetai dengan tuduhan mencemari vaksin TCD sehingga menyebabkan kematian para romusha. dr. Mochtar mengajukan diri untuk melindungi koleganya, sehingga koleganya dibebaskan dan sejak itu dr. Mochtar tak diketahui nasibnya. Pencarian jejak dr. Mochtar dilakukan oleh prof Sangkot dan Kevin Baird, hingga menemukan bahwa dr. Mochtar telah menjadi korban kekejaman Kempetai dan dimakamkan di Ereveld Ancol.

Nisan Makam Prof. dr. Achmad Mochtar di Ereveld Ancol
Tahun 1916, pemerintah Hindia Belanda mulai memikirkan untuk memindahkan STOVIA ke lokasi baru. Lokasi baru dipilih di Salemba, untuk mendirikan bangunan sekolah yang lebih representatif dan rumah sakit terpadu yang dapat menampung lebih banyak pelajar. Peletakan batu pertama Gedung di Salemba dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 1916 oleh istri gubernur jenderal Hindia Belanda Catharina Maria Rolina van Limburg Stirum.

Prasasti Peletakan Batu Pertama Gedung GHS di Salemba (koleksi iMuseum FKUI)
Pada tahun 1919 berdiri Rumah Sakit Pusat Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ, sekarang menjadi RSCM), yang merupakan rumah sakit pendidikan pelajar STOVIA, karena sarana dan prasarananya lebih lengkap dan modern. Selanjutnya dibangun gedung baru di sebelah CBZ sebagai tempat pendidikan. Tanggal 5 Juli 1920, dengan berdirinya gedung pendidikan kedokteran di sebelah Rumah Sakit Pusat CBZ, seluruh fasilitas Sekolah Pendidikan Dokter Hindia dipindahkan ke gedung tersebut (sekarang dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Adapun gedung STOVIA lama sempat dipergunakan sebagai asrama pelajar, karena para pelajar STOVIA diberi kebebasan untuk memilih tetap tinggal di asrama STOVIA, atau kos di rumah penduduk di sekitar Salemba.

Tanggal 9 Agustus 1927, STOVIA resmi berubah menjadi Geneeskundige Hoogeschol (pendidikan tinggi kedokteran), dan syarat masuknya semakin diperketat, yaitu minimum lulusan Hogere Burger School (HBS) atau Algemene Middelbare School (AMS). Lulusan GHS bergelar Arts dan setara dengan dokter dari Belanda. Beberapa lulusan GHS yang terkenal di antaranya adalah dr. Johannes Leimena (wakil perdana menteri 2 kabinet Soekarno), dr. Abdoel Patah, dr. Moewardi, dr. Abdulrachman Saleh (bapak faal Indonesia, perintis radio, dan tokoh AURI), dan dr. Julie Sulianti Saroso.

Patung dr. Abdulrachman Saleh di FKUI Salemba 
Ketika masa kolonialisme Belanda di Hindia Belanda berakhir pada tahun 1942, GHS sempat ditutup selama beberapa waktu, sebelum pemerintah Jepang mendirikan sekolah kedokteran Ika Daigaku. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, pada 19 Agustus 1945 Ika Daigaku berubah menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran, yang merupakan salah satu fakultas Badan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI). Saat tentara NICA menguasai Jakarta, BPTRI “mengungsi” ke Klaten, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Tahun 1946, NICA mendirikan Geneeskundige Faculteit-Nood Universiteit di Jakarta. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia di akhir tahun 1949, BPTRI kembali ke Jakarta. Pada tahun 1950 Perguruan Tinggi Kedokteran dan Geneeskundige Faculteit-Nood Universiteit dilebur menjadi satu, menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang berkedudukan di Jl. Salemba 6.

Thursday, June 14, 2018

[Travel Writing Mash-Up] Gili Keadilan di Bali dan Lombok

Dalam bahasa Bali dan Lombok, “gili” berarti pulau kecil, dan di antara gili-gili yang ada, gili yang paling terkenal adalah Gili Trawangan. Namun ternyata yang disebut “gili” tidak melulu pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut. Baik Bali maupun Lombok memiliki gili yang terletak di tengah pulau, dan bisa dikatakan keduanya berfungsi sebagai “Gili Keadilan”.

Taman Gili Kerta Gosa 
Terletak di Kota Semarapura, 40 km di sisi timur Kota Denpasar, Taman Gili Kerta Gosa semula merupakan bagian dari Kompleks Keraton Semarapura atau keraton Kerajaan Klungkung. Dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe, saat ini Kompleks Keraton Semarapura nyaris tak bersisa akibat dihancurkan saat perang puputan Klungkung tahun 1908, hanya menyisakan Taman Gili Kerta Gosa dan Pemedal Agung (Gapura Keraton Semarapura).

Lukisan Kamasan di langit-langit bangunan
Taman Gili Kerta Gosa terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Kedua bangunan tersebut memiliki ciri arsitektur tradisional Bali yang sangat kental. Keunikan dari kedua bangunan ini adalah di langit-langitnya yang dihiasi lukisan tradisional Bali gaya Kamasan. Semula lukisan ini terbuat dari kain dan parba. Pada tahun 1930, langit-langit ini diganti dengan bahan yang lebih awet, kemudian lukisan tersebut direstorasi sesuai gambar aslinya. Restorasi yang dilakukan para seniman lukis Kamasan tersebut baru selesai pada tahun 1960.

Kursi untuk pengadilan adat
Bale Kerta Gosa yang terletak di sudut kompleks berfungsi sebagai tempat pengadilan tradisional yang dipimpin oleh raja sebagai hakim tertinggi. Fungsi ini sangat terkait dengan kisah yang ditampilkan pada lukisan di langit-langit bangunan, yaitu kisah Tantri Kamandaka serta hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan manusia). Ketika kerajaan Klungkung ditaklukan oleh Belanda, Kerta Gosa masih digunakan sebagai balai pengadilan adat. Saat ini di dalam bangunan tersebut dapat dilihat replika kursi dan meja dari kayu berukir yang digunakan untuk pengadilan adat tradisional di masa lalu. Balai Kerta Gosa juga menyimpan jejak hubungan kerajaan Bali dengan dunia internasional di masa lampau, dengan adanya patung orang Portugis, Belanda, dan Cina. Inilah bukti bahwa Kerajaan Klungkung telah menjalin kerjasama dengan bangsa-bangsa tersebut sejak masa lalu, jauh sebelum Bali dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda.

Bale Kambang
Sedangkan Bale Kambang merupakan bangunan pendopo yang terletak di Taman Gili atau pulau diatas kolam teratai. Bale ini berfungsi sebagai tempat pertemuan, jamuan makan, atau tempat upacara keagamaan. Lukisan-lukisan yang terdapat di langit-langit Bale Kambang serupa dengan lukisan di atas Bale Kerta Gosa, namun temanya lebih kepada tata cara kehidupan masyarakat Bali, tata cara upacara, serta kisah Sutasoma yang melawan Purusadha. Di sepanjang dinding jembatan menuju Bale Kambang terdapat patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh dari kisah pada lukisan di langit-langit.

Pamedalan Agung
Antara Bale Kambang dengan Museum Semarajaya terdapat Gapura Pemedalan Agung yang merupakan sisa gapura Keraton Semarapura. Semula gapura ini merupakan pintu gerbang masuk ke Jeroan Puri atau tempat tinggal raja dan keluarganya. Walau hanya berupa pintu gerbang, Pemedalan Agung tersebut disucikan sehingga hanya mereka yang akan beribadah yang bisa memasuki area dekat gerbang tersebut.

Taman Mayura 
Dari Klungkung kita menyeberang Selat Lombok menuju Taman Mayura di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Kompleks Taman Mayura pertama kali dibangun oleh Raja Anak Agung Made Karangasem pada tahun 1744, ketika kerajaan Karangasem menguasai sebagian Lombok Barat. Tempat ini diperuntukkan sebagai Istana Musim Hujan dengan nama Taman Istana Kelepug, di mana nama “Kelepug” berasal dari bunyi air yang mengalir dan jatuh di kolam istana.


Pura Kelepug
Tahun 1866, atas perintah Raja Anak Agung Ngurah Karangasem, taman ini direnovasi, dan berganti nama menjadi Taman Mayura. Nama “Mayura” berasal dari kata Mayora, yang dalam bahasa Sansekerta berarti burung merak. Burung merak ini didatangkan dari Makassar untuk mengusir ular berbisa, yang pada saat itu berkeliaran di sekitar taman dan mengganggu aktivitas umat dalam beribadah.

Raad Kerta
Primadona dari Taman Mayura adalah Bale Kambang yang terletak di atas pulau kecil (gili) di atas kolam. Bale Kambang ini dikenal dengan nama Rat Kerte, yang berasal dari kata Raad Kerta (Raad Van Kerta), yaitu nama lembaga hukum adat Hindu. Bale Kambang ini dulu berfungsi sebagai tempat musyawarah atau ruang sidang pengadilan milik istana kerajaan Karangasem di Lombok.

Gerbang Biru untuk masuk ke Raad Kerta
Untuk memasuki Raad Kerta pengunjung harus melalui sebuah gerbang indah yang dikawal sepasang dwarapala. Gerbang ini merupakan simbolisasi hal-hal yang harus dilakukan sebelum memasuki Raad Kerta dan mencapai kesepakatan yang adil. Pintu gerbang dengan hiasan berwarna emas merupakan lambang hati yang bisa membedakan antara baik dan buruk. Di sisi atas terdapat sepasang piring keramik Delft yang melambangkan mata sebagai pintu pertama masuknya pengaruh. Bagian atas gerbang berbentuk seperti mahkota yang melambangkan akal pikiran manusia untuk memilih antara baik dan buruk. Sedangkan daun pintu berwarna biru merupakan lambang keimanan sebagai pertahanan terakhir untuk menyingkirkan segala keburukan sebelum memasuki Raad Kerta.

Patung Penyebar Agama Islam
Walaupun pendopo di Raad Kerta dan di Bale Kambang Kerta Gosa sama-sama memiliki arsitektur gaya Bali, namun bangunan ini tidak memiliki ornamen seindah Bale Kambang di Kerta Gosa. Jika Bale Kambang Kerta Gosa dikelilingi patung para dewa, maka Raad Kerta juga dikelilingi beberapa candi kecil dan beberapa patung. Candi-candi kecil melambangkan umat Hindu, sedangkan patung-patung orang melambangkan para penyebar agama Islam yang masuk ke Lombok, yaitu pedagang dari Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Sedangkan patung-patung binatang yang ada di sekitar pendopo juga memiliki beberapa makna, seperti patung kuda yang bermakna pengendalian nafsu, serta patung singa yang bermakna sifat manusia jika tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.

Patung Kuda yang melambangkan pengendalian nafsu
Jika Taman Gili Kerta Gosa dilengkapi dengan Pamedalan Agung yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, Taman Mayura dilengkapi 2 buah pura. Pura pertama adalah Pura Kelepug yang digunakan untuk raja Mataram Karangasem dan keluarganya. Pura ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Taman Kelepug. Yang unik, pura ini memiliki pancuran berbentuk kepala naga, yang melambangkan ular-ular berbisa yang dulu pernah banyak terdapat di tempat ini. Sedangkan pura yang kedua adalah Pura Jagatnata, yang merupakan pura pusat agama Hindu di Lombok, dan digunakan untuk beribadah kaum Brahmana. Di dalam Pura Jagatnatha terdapat 3 pelinggih yang melambangkan 3 gunung yang dikeramatkan umat Hindu: Gunung Semeru di Jawa, mengingatkan bahwa agama Hindu berasal dari Majapahit, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani.

Thursday, May 31, 2018

[Travel Writing Mash-Up] 4-Faced Buddha Erawan vs 4-Faced Buddha Kenjeran

Four-Faced Buddha Erawan 
Four-Faced Buddha di Kuil Erawan, atau nama lengkapnya San Thao Maha Phrom (Shrine of Lord Brahma The Great), merupakan arca Dewa Brahma yang terletak di pusat Kota Bangkok. Kuil ini terletak di halaman Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, tidak jauh dari stasiun Bangkok Skytrain Chitlom, dan dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan seperti Gaysorn, Central World, dan Amarin Plaza.

San Thao Maha Phrom
Dewa Brahma adalah dewa agama Hindu, dan arca Phra Phrom mewujudkan Dewa Brahma memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Hal ini yang membuat arca ini secara salah kaprah sering disebut sebagai Four-Faced Buddha. Keempat wajah Phra Phrom melambangkan kekuatan Brahma, serta melambangkan 4 sifat baik, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Phra Phrom digambarkan memiliki 8 tangan, yang melambangkan kehadiran dan kekuatan. Dari 8 tangan tersebut, 4 tangan memegang benda suci, sedangkan 4 tangan lainnya memegang senjata untuk mengusir kebathilan.

Penjual Perlengkapan Ibadah di Sekitar Kuil Erawan
Kuil Erawan sendiri didirikan bersamaan dengan pembangunan Hotel Erawan pada tahun 1956, di lahan yang saat ini ditempati Hotel Grand Hyatt Erawan. Saat Hotel Erawan didirikan, banyak hambatan dalam pembangunannya, sehingga pemerintah Thailand sebagai pemiliknya merasa perlu untuk membangun sebuah kuil untuk menetralisir karma buruk tersebut. Adapun patung Phra Phrom merupakan hasil rancangan Departemen Seni Rupa, dan didirikan pada tanggal 9 November 1956. Percaya atau tidak, setelah pendirian kuil ini, pembangunan Hotel Erawan berjalan lancar. Tahun 1987, hotel ini diruntuhkan, dan di atas lahannya digunakan untuk Hotel Grand Hyatt Erawan.

Para Penari Tradisional Thailand
Dengan lokasi yang berada di sudut persimpangan besar dan merupakan kuil terbuka, Kuil Erawan banyak dikunjungi orang, baik mereka yang akan beribadah ataupun wisatawan yang hanya melihat-lihat. Di trotoar sekitar Kuil Erawan banyak deretan penjual bunga dan perlengkapan untuk ibadah, sehingga kuil ini terlihat hidup dan penuh warna. Para penziarah mempersembahkan karangan bunga marigold, dupa, dan lilin, serta memanjatkan doa meminta perlindungan dan agar segala hambatan disingkirkan. Sesekali terdapat pertunjukan dari para penari tradisional Thailand yang melambangkan persembahan doa kepada Dewa Brahma dari para penziarah, atau sebagai perwujudan rasa syukur setelah doa di kuil tersebut dikabulkan.

Phra Phi Khanet di depan Central World
Selain Kuil Erawan, dalam radius 500 meter dari kuil tersebut terdapat beberapa kuil Hindu lainnya, yaitu Phra Trimurati (Trimurti) dan Phra Phi Khanet (Ganesha) yang terletak di depan Central World, Phra Mae Umadhevi (Uma) yang terletak di depan Big-C Supercenter, serta Thao Amarindradhiraja (Indra), dan Phra Narai Song Suban (Narayana di atas Garuda) di depan Amarin Plaza.


Four-Faced Buddha Kenjeran 
Namun untuk melihat arca Four-Faced Buddha, Anda tak perlu jauh-jauh ke Bangkok. Di Kawasan Wisata Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, terdapat arca Four-Faced Buddha yang merupakan tiruan Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca ini diresmikan pada tanggal 9 November 2004, dan pembangunannya menghabiskan dana kurang lebih 4 miliar Rupiah. Patung ini berlapis emas, dan untuk menyempurnakan lapisan emasnya digunakan kertas kimpo atau kertas emas dari Thailand.

Four Faced Buddha di Pantai Ria Kenjeran
Ukuran arca Four-Faced Buddha di Kenjeran jauh lebih besar dibandingkan arca Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca dengan panjang sisi alas 9 meter dan tinggi 9 meter ini diletakkan di dalam bangunan yang disangga 4 pilar berwarna hijau emas, dengan panjang sisi alas 15 meter dan total tinggi 36 meter. Ukuran-ukuran ini banyak mengandung angka 9, karena angka 9 memiliki makna khusus sebagai angka tunggal tertinggi, sekaligus merupakan lambang kesempurnaan.

Detail dari Four-Faced Buddha
Karena ukurannya yang besar, maka kita bisa melihat lebih jelas detail dari arca tersebut. Sama seperti Phra Phrom, arca ini memiliki 8 tangan, dan masing-masing tangan memegang 1 benda. Salah satu dari tangan kanan memegang dada, sedangkan di 3 tangan kanan yang lain memegang cupu berisi air suci, tongkat kebesaran dan cakram (sejenis senjata berbentuk piringan). Adapun tangan kiri patung terlihat sedang memegang tasbih, teratai, kitab suci dan kerang. Air suci merupakan perlambang energi penciptaan semesta, sedangkan teratai merupakan lambang kekuatan yang memunculkan alam semesta. Kedua hal ini merupakan perwujudan sifat Brahma sebagai dewa pencipta dalam agama Hindu.

Berbeda dengan kuil Erawan yang ramai, arca Four-Faced Buddha tidak banyak dikunjungi orang. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung memiliki maksud untuk beribadah. Mereka membakar hio dan berdoa di depan arca tersebut, dan sebagian ada yang berdoa sambil mengelilingi patung searah jarum jam. Selain beribadah di depan arca, penziarah juga bisa menggunakan Ruang Meditasi.

Arca Ganesha di Pantai Ria Kenjeran
 Jika di sekitar Kuil Erawan terdapat beberapa kuil Hindu, Four-Faced Buddha di Kenjeran hanya “ditemani” oleh arca Ganesha. Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu, yang dengan mudah dikenali karena berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut buncit. Arca Ganesha ini diletakkan di dalam sebuah pendopo kecil yang terletak di sisi utara arca Four-Faced Buddha.

Monday, May 28, 2018

[Travel Writing Mash-Up] Berliner Mauer vs Tembok Berlin

Situs Berliner Mauer, Sisa-Sisa Kejayaan Perang Dingin Eropa 
Tembok Berlin (Berliner Mauer) adalah obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi jika kita singgah di ibukota negara Jerman. Namun hari ini kita tidak akan menemukan bangunan tembok besar yang semula membelah Kota Berlin secara fisik dan ideologi tersebut. Yang bisa kita temukan hanyalah situs tapak tembok, sisa-sisa tembok, dan beberapa bekas pos perbatasan di sepanjang tembok.

Sisa Tembok Berlin
Tembok Berlin dibangun oleh pihak Jerman Timur mulai 13 Agustus 1961, membentang dari barat ke timur, membentuk wilayah enklave di sisi barat Berlin. Bukan sekadar tembok beton, tembok ini juga dilengkapi menara pengawas, parit berisi ranjau, dan perangkat pertahanan lainnya. Keberadaan tembok ini seolah menjadi saksi bisu perang dingin antara dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Dengan adanya perubahan politik yang radikal di kawasan Blok Timur, serta berkurangnya pengaruh Uni Sovyet, pada tanggal 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur mengumumkan bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Mereka serta merta memanjat dan menyeberangi Tembok Berlin untuk merayakan atmosfer kebebasan. Tembok Berlin secara resmi mulai dibongkar sejak 13 Juni 1990, hingga terbongkar seluruhnya di tahun 1992. Pembongkaran Tembok Berlin ini juga menandai reunifikasi Jerman yang diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1990.

Checkpoint Charlie
Antara tahun 1947 sampai dengan 1991, terdapat 9 pintu perbatasan yang tersebar di antara Berlin Timur hingga Berlin Barat, namun yang paling terkenal adalah Checkpoint Charlie, yang terletak di pojokan Friedrichstrasse dan Zimmerstrasse. Saat itu Checkpoint Charlie secara terbatas hanya digunakan untuk lalu lintas orang asing dan tentara Sekutu. Hari ini, lokasi yang semula merupakan Checkpoint Charlie dijadikan semacam monumen Perang Dingin yang membelah Berlin dan Jerman. Di tempat yang saat ini merupakan salah satu daya tarik wisata Kota Berlin, masih tersisa pos penjagaan, dan di dekatnya terdapat Museum Sekutu serta eksibisi terkait Tembok Berlin.

Menikmati Sunset di Tembok Berlin 
Namun tahukah jika Anda bisa menikmati sunset dari Tembok Berlin? Tentu saja bukan dari Checkpoint Charlie yang sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi, melainkan dari Pantai Dofior di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.

"Tembok Berlin" di Kota Sorong
Pantai Dofior adalah pantai sempit yang merupakan pantai Kota Sorong. Pantai ini lebih dikenal sebagai Pantai “Tembok Berlin”, karena terdapat tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak. Posisi pantai menghadap ke arah barat, sehingga sangat ideal untuk melihat panorama sunset.

Pantai Dofior dan "Tembok Berlin"
Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin. Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong, seperti Pulau Doom dan Pulau Raam.

Panorama Sunset di Pantai Dofior