Showing posts with label vacation. Show all posts
Showing posts with label vacation. Show all posts

Monday, May 28, 2018

[Travel Writing Mash-Up] Berliner Mauer vs Tembok Berlin

Situs Berliner Mauer, Sisa-Sisa Kejayaan Perang Dingin Eropa 
Tembok Berlin (Berliner Mauer) adalah obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi jika kita singgah di ibukota negara Jerman. Namun hari ini kita tidak akan menemukan bangunan tembok besar yang semula membelah Kota Berlin secara fisik dan ideologi tersebut. Yang bisa kita temukan hanyalah situs tapak tembok, sisa-sisa tembok, dan beberapa bekas pos perbatasan di sepanjang tembok.

Sisa Tembok Berlin
Tembok Berlin dibangun oleh pihak Jerman Timur mulai 13 Agustus 1961, membentang dari barat ke timur, membentuk wilayah enklave di sisi barat Berlin. Bukan sekadar tembok beton, tembok ini juga dilengkapi menara pengawas, parit berisi ranjau, dan perangkat pertahanan lainnya. Keberadaan tembok ini seolah menjadi saksi bisu perang dingin antara dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Sovyet. Dengan adanya perubahan politik yang radikal di kawasan Blok Timur, serta berkurangnya pengaruh Uni Sovyet, pada tanggal 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur mengumumkan bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Mereka serta merta memanjat dan menyeberangi Tembok Berlin untuk merayakan atmosfer kebebasan. Tembok Berlin secara resmi mulai dibongkar sejak 13 Juni 1990, hingga terbongkar seluruhnya di tahun 1992. Pembongkaran Tembok Berlin ini juga menandai reunifikasi Jerman yang diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1990.

Checkpoint Charlie
Antara tahun 1947 sampai dengan 1991, terdapat 9 pintu perbatasan yang tersebar di antara Berlin Timur hingga Berlin Barat, namun yang paling terkenal adalah Checkpoint Charlie, yang terletak di pojokan Friedrichstrasse dan Zimmerstrasse. Saat itu Checkpoint Charlie secara terbatas hanya digunakan untuk lalu lintas orang asing dan tentara Sekutu. Hari ini, lokasi yang semula merupakan Checkpoint Charlie dijadikan semacam monumen Perang Dingin yang membelah Berlin dan Jerman. Di tempat yang saat ini merupakan salah satu daya tarik wisata Kota Berlin, masih tersisa pos penjagaan, dan di dekatnya terdapat Museum Sekutu serta eksibisi terkait Tembok Berlin.

Menikmati Sunset di Tembok Berlin 
Namun tahukah jika Anda bisa menikmati sunset dari Tembok Berlin? Tentu saja bukan dari Checkpoint Charlie yang sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi, melainkan dari Pantai Dofior di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.

"Tembok Berlin" di Kota Sorong
Pantai Dofior adalah pantai sempit yang merupakan pantai Kota Sorong. Pantai ini lebih dikenal sebagai Pantai “Tembok Berlin”, karena terdapat tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak. Posisi pantai menghadap ke arah barat, sehingga sangat ideal untuk melihat panorama sunset.

Pantai Dofior dan "Tembok Berlin"
Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin. Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong, seperti Pulau Doom dan Pulau Raam.

Panorama Sunset di Pantai Dofior

Friday, August 15, 2014

Asyik, Jelajah Nusantara!

Alhamdulillah, antologi kedua saya akhirnya terbit ...

Masih dari grup Diva Press, dan masih berhubungan dengan passion saya akan traveling, buku antologi Asyik Jelajah Nusantara yang ditulis oleh para penulis dari Komunitas Kampung Sastra ini sejatinya ditulis sebelum Love Journey #2, namun atas kebijakan dari Diva Press, Love Journey #2 ternyata diterbitkan terlebih dulu daripada buku ini. Mari kita lihat sinopsisnya.

Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan tempat-tempat eksotis. Hal inilah yang menyebabkan banyak wisatawan, baik dari manca maupun lokal, yang tertarik untuk mengunjunginya, walaupun sangat jauh dari tempat tinggal. Selain menawarkan keindahan pesona alam, ada juga tempat yang menyajikan kekayaan budaya atau sejarah masa lalu. Tidak banyak negara yang mempunyai potensi negara yang sedemikian elok. Hanya di negara kita, negara Indonesia.

Lalu, tempat-tempat wisata apa sajakah yang menawarkan banyak pesona itu? Baca saja buku ini! Di dalamnya, diberikan gambaran beberapa tempat wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari Gua Jepang dan Gua Belanda di Jawa Barat sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Semuanya disajikan secara lugas dalam penuturan beberapa penulis yang benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut.

Buku terbitan Diva Press ini dibandrol dengan harga Rp 50.000, dan sudah beredar di toko-toko buku sejak pertengahan tahun 2014. Segera dapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda!

Tuesday, December 24, 2013

Love Journey #2 : Mengeja Seribu Wajah Indonesia


Alhamdulillah, akhirnya antologi pertama saya terbit ... (setelah 3 buku solo dan 1 buku self publishing, hehehe)

Buku ini berisi kumpulan kisah-kisah perjalanan para traveler di Indonesia. Berbeda dengan tulisan traveling yang umumnya menceritakan tentang keindahan sebuah tempat, buku ini justru mengupas sisi lain dari perjalanan tersebut. Ada suka, duka, perayaan, tragedi, kekayaan budaya, dan hal-hal lain yang terkadang luput dari perhatian kita selama melakukan perjalanan.

Tulisan dalam buku ini berasal dari peserta kompetisi yang digawangi Lalu Abdul Fatah dan Dee An, setelah mereka berdua menelurkan buku antologi Love Journey : Ada Cinta di Tiap Perjalanan. Melalui seleksi dan penilaian, terpilih 20 tulisan dan 3 yang mengisi buku ini, dan salah satunya adalah kisah perjalanan saya blusukan ke para pengrajin batik di Pekalongan. Bagaimana kisah lengkap lahirnya buku ini, Anda bisa mengikutinya dari blog Lalu Abdul Fatah berikut ini: http://lafatah.wordpress.com/2013/12/24/di-balik-mengeja-seribu-wajah-indonesia/.

Buku terbitan de Teens (imprint dari Diva Press) ini dibandrol dengan harga Rp 58.000, dan rencananya akan beredar di toko-toko buku pada awal tahun 2014. Nantikan kehadirannya di toko-toko buku terdekat di kota Anda!


Thursday, March 07, 2013

Travel Writing 101

Alhamdulillah, buku kedua saya akhirnya terbit!

Mungkin ada yang bertanya-tanya : sudah buku kedua? Ya, ini adalah buku kedua yang diterbitkan oleh penerbit. Buku pertama saya adalah buku kerajinan tangan yang diterbitkan oleh Puspa Swara di awal tahun 2008. Dan tepat 5 tahun kemudian, buku kedua dengan tema yang sama sekali "tidak nyambung" dengan kerajinan tangan ini terbit. Di antara buku pertama dan kedua, ada satu buku lagi yang saya terbitkan secara indie. Yang diterbitkan secara indie memang belum memberikan hasil yang signifikan, namun dampak intangible-nya adalah saya merasakan sendiri pengalaman bagaimana proses penerbitan, distribusi dan pemasaran buku secara mendalam.

Buku ini merupakan buah karya dari passion saya yang lain, selain kristik dan crochet. Saya baru menulis artikel perjalanan sejak tahun 2005, tapi perjalanan wisata sebenarnya telah menjadi bagian hidup saya sejak kecil. Demikian juga memotret, ehm, tepatnya mendokumentasikan perjalanan. Walaupun hasil fotonya tidak hebat dan canggih seperti foto-foto di National Geographic, tapi ternyata kebiasaan ini membantu saya berlatih untuk menangkap momen-momen menarik di perjalanan, yang menjadi salah satu nilai tambah bagi seorang travel writer. Jadi, buku ini menggabungkan passion-passion saya : jalan-jalan, motret, sama menulis.

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Agensi Naskah Indscript Creative, karena tanpa mereka buku ini belum tentu bisa terwujud. Terima kasih juga diucapkan kepada tim Elex Media, khususnya Mbak Satwika, yang banyak mensupport hingga buku ini bisa terbit.

Akhir kata, sebelum Anda pergi ke toko buku dan mencari buku ini, saya kutip tulisan di cover belakang buku untuk memberi gambaran Anda mengenai isi bukunya :

Melakukan perjalanan wisata saat ini telah menjadi kegiatan yang digemari banyak orang. Dengan semakin banyak orang melakukan wisata dan perjalanan, maka semakin banyak media, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memuat artikel-artikel wisata yang didukung foto-foto yang menawan.

Buku “Travel Writing 101” ini berawal dari ide bahwa semakin banyak orang yang menulis tentang perjalanan wisata serta membuat foto-foto perjalanan, namun belum banyak buku panduan penulisan artikel perjalanan dan foto pelengkapnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat dipergunakan sebagai panduan bagaimana menjadi seorang travel writer dan travel photographer.

Berawal dari hobi travelling, menulis, dan membuat foto dokumentasi perjalanannya, Arin memadukan ketiga hal tersebut dan memulai penjelajahan dalam bidang travel writing dan travel photography. Beberapa artikel yang pernah ditulisnya terpilih menjadi pemenang dalam event Adira Best 100 Faces of Indonesia 2011. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail arini.tathagati@gmail.com atau Twitter @tathagati.

Banner4

Thursday, January 03, 2013

#LiburanLokal? Siapa Takut!



Membaca kicauan @mrshananto pada akhir Desember 2012 yang lalu tentang #LiburanLokal, hati saya tergelitik untuk menulis opini ini, sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan #LiburanLokal di Nusantara.

Saya yakin, banyak yang kepingin pergi ke luar negeri untuk berlibur. Saya pun juga begitu. Dan saya percaya, dana yang saya miliki cukup untuk melakukan hal itu (apalagi setelah ikut kursus FinPlan-nya@mrshananto, jadi makin pede untuk menabung dana liburan, hihihi). Kendala saya hanya masalah jadwal, jadi untuk berlibur lebih dari 2 hari, persiapan di kantor pun harus matang, karena saya tidak ingin liburan saya terganggu.

Tapi, akhirnya muncul pertanyaan, apakah yang namanya berlibur itu harus ke luar negeri? Apalagi kalau dalihnya "keluar negeri lebih murah daripada di dalam negeri". Coba kita hitung-hitung lagi. Kalau ke luar negeri, kenapa bisa lebih murah? Karena kita akan pakai tiket promo, menginap di hotel bintang 2 atau 3, terus ke mana-mana naik angkutan umum, atau pergi secara berombongan. Kalau kita melakukan hal yang sama di sini, pasti #LiburanLokal kita juga bisa hemat kok.

Saya mulai belajar merencanakan #LiburanLokal secara hemat ketika saya sering berdinas keluar kota. Kebanyakan travelling saya adalah “travelling abidin”, alias "atas biaya dinas". Berhubung project yang saya tangani memiliki anggaran akomodasi yang pas-pasan, saya harus mencari hotel bintang 2 atau 3 untuk akomodasi. Dari sini saya belajar bahwa ada hotel-hotel murah dengan layanan yang baik, dan sebaliknya, tinggal di hotel mahal tidak menjamin kenyamanan saat bepergian. Sebagai contoh, Anda memilih menginap di hotel resort yang terletak di jalan menuju Kaliurang, padahal tujuan Anda ke Yogyakarta adalah pergi belanja ke Malioboro. Jadi musti keluar ongkos lagi khan? Belum lagi kalau di resort bintang 5, yang namanya internet seringkali tidak gratis. Kalau saya, saya akan memilih menginap di hotel budget yang bersih, nyaman dan aman, dekat keramaian (jadi tak perlu keluar ongkos terlalu besar), dan internetnya gratis.

Bukan di Malibu tapi di Bukit Malimbu, Lombok

Demikian juga dengan transportasi di tempat tujuan, saya berkesempatan mempelajari ada transport umum apa saja, murah atau tidak, nyaman atau tidak, dan praktis atau tidak. Beberapa kota di Indonesia memang belum memiliki transportasi umum yang memadai, sehingga seringkali kita harus menyewa kendaraan. Tapi bagi kota-kota di Indonesia dengan fasilitas transportasi umum yang memadai, walaupun mungkin kita harus sering naik taksi dari satu tempat ke tempat lain, namun jika dihitung-hitung bisa jauh lebih murah daripada sewa mobil seharian. Dari kedua hal ini, saya bisa merencanakan perjalanan #LiburanLokal saya atas biaya sendiri, biayanya bisa lebih hemat daripada kalau pakai tour, namun dengan standar kenyamanan dan keamanan yang tetap terjaga.

Bukan di Eropa tapi di Tangkubanperahu
Tentang tiket pesawat, kasusnya lain lagi. Memang betul, tiket murah dari low cost airline memungkinkan kita pergi ke mana-mana dengan biaya sangat ekonomis. Tapi saya orang yang butuh kenyamanan dalam naik pesawat : ruang tunggu yang nyaman, kabin pesawat dengan jarak tempat duduk agak longgar (secara kaki saya panjang), dan kelakuan penumpang lain yang tidak annoying. Oleh karena itu, airline favorit saya adalah airline plat merah yang warna catnya biru (ehm!). Mengingat harga tiketnya yang tidak murah (tapi berbanding lurus dengan segala kenyamanan yang diberikan, baik sebelum maupun saat terbang), ada beberapa trik yang saya lakukan untuk mendapat tiket murah airline tersebut : cari jam aneh untuk terbang, pesan jauh-jauh hari, atau manfaatkan poin program loyalti. Namun demikian, tidak ada yang salah dengan low cost airline, hanya kita perlu sadar bahwa ketika kita memilih menggunakan low cost airline, berarti kita sudah bersedia dan siap menerima sepaket konsekuensinya. Pada kenyataannya, beberapa destinasi #LiburanLokal favorit saya tidak dilayani oleh airline favorit saya, seperti Belitung dan Raja Ampat, sehingga saya pun harus menggunakan airline lainnya.


Bukan di Bencoolen Street Singapura, tapi di Bengkulu (the real Bencoolen)
Salah satu #LiburanLokal hasil travelling abidin saya adalah liburan keluarga ke Ranah Minang. Sudah lama saya bercita-cita liburan ke Sumatra Barat, tapi belum pernah menemukan alasan yang tepat untuk ke sana. Tahun 2007, saya berkesempatan untuk berdinas ke Bukittinggi, sehingga saya mendapatkan gambaran singkat mengenai suasana di Ranah Minang. Enam bulan kemudian, saya memprovokasi keluarga untuk berlibur ke Ranah Minang (tentunya dengan segala bujuk rayu dan daftar apa saja yang bisa dilihat di sana). Akhirnya provokasi saya berhasil, dan kami memesan tiket 3 bulan sebelumnya. Hasil akhir dari perjalanan ini memuaskan semua orang, karena apa yang kami peroleh selama liburan melebihi ekspektasi awal. #LiburanLokal ke Ranah Minang di tahun 2008 itu akan menjadi salah satu kenangan manis liburan kami.

Bukan di Cina tapi di Sam Poo Kong, Semarang
Bagi saya, liburan bukan cuman sekedar pindah tidur ke hotel mewah sambil berenang di kolam renangnya. Dalam liburan harus ada sesuatu yang baru, memiliki pengetahuan baru, atau menikmati/melakukan hal yang berbeda dengan rutinitas sehari-hari. Dan yang paling betul adalah liburan itu harus bebas dari urusan pekerjaan (namanya juga libur!). Kalau masih diganggu juga sama urusan kerjaan, itu namanya pindah tidur (atau lebih parah lagi, pindah kantor).

Kembali ke urusan #LiburanLokal. Gara-gara dijadikan project officer pelatihan yang diselenggarakan di seluruh antero Nusantara, saya berkesempatan melihat banyak kota, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Ternyata kata orang-orang memang betul, Indonesia memiliki kekayaan pariwisata yang sangat beragam. Dari perjalanan-perjalanan itu, menurut saya kalau kita ada niatan melakukan #LiburanLokal, pasti bisa! Di era informasi seperti sekarang ini, info liburan itu sangat banyak, tinggal tanya mbah Google, langsung keluar berbagai info tempat wisata, akomodasi, dan transportasi. Malas buka mbah Google? Di toko buku juga banyak buku2 panduan wisata dalam negeri hasil karya anak bangsa.

Masih teringat dalam benak saya, ketika saya mewawancara seorang kandidat anggota tim pengajar di Surabaya. Suatu hari, dalam percakapan via messenger, sang kandidat (yang akhirnya terpilih sebagai anggota tim) bertanya, saya di Surabaya sudah ke mana saja? Menurut dia (yang notabene orang lokal), di Surabaya tidak ada obyek menarik selain mall dan wisata kuliner, paling banter Jembatan Suramadu. Saya bilang, saya sudah pernah ke Kebon Binatang Surabaya, Jembatan Suramadu hingga Bangkalan, Monumen Kapal Selam, Patung Joko Dolog, House of Sampoerna dan Surabaya Heritage Tour, Tugu Pahlawan,dan saat itu saya baru saja mengunjungi 4-Faced Buddha di Kenjeran, yang belum tinggal Museum Mpu Tantular. Sang kandidat hanya bisa berkata : Owww. Ternyata, permasalahan minimnya info #LiburanLokal bukan karena kita gak mau, tapi karena kebanyakan dari kita gak sadar kalau sebenarnya banyak hal menarik di sekitar kita yang berpotensi untuk dijadikan destinasi #LiburanLokal.


Bukan di Eropa, tapi di Stasiun Tanjung Priok
Oh ya, sebelum lupa. #LiburanLokal juga tidak berarti kita harus pergi keluar kota dan menginap. Lihat dulu di sekeliling rumah kita, jangan-jangan ada obyek yang menarik yang perlu disambangi. Misalnya bagi kita yang tinggal di Jakarta, sebelum pergi menjebakkan diri di tengah kemacetan Bandung untuk berlibur, sempatkan diri untuk mengunjungi Museum Nasional dengan gedung barunya. Atau yang tadinya berencana mau ke Malioboro tapi kehabisan tiket, tengok dulu Petak Sembilan dan Pasar Asemka, bisa jadi Anda menemukan hal menarik yang tidak akan Anda temukan di Malioboro. Keliling Kota Jakarta dengan busway atau KRL Commuter juga merupakan hal menarik yang bisa dicoba.
  
Bukan di Smithsonian tapi di Museum Geologi, Bandung
So, apa saja keuntungan #LiburanLokal? Bagi kita yang melakoninya, kita bisa dapat pengetahuan baru, pengalaman baru, teman-teman baru, networking baru. Di sisi lain, #LiburanLokal juga merupakan kesempatan untuk memajukan perekonomian bangsa dari industri pariwisata. Bayangkan dengan melakukan #LiburanLokal, akan meningkatkan pendapatan perusahaan transportasi domestik (mulai dari PT KAI, perusahaan penerbangan), akomodasi (terutama penginapan dan jaringan hotel domestik), rumah makan, tempat wisata, dan lain sebagainya.  Jangan lupakan juga pendapatan para penduduk setempat, mulai dari mereka yang berusaha di kaki lima, hingga para pegawai hotel bintang lima. Jadi, dengan #LiburanLokal, kita untung bangsa untung.

Sunday, August 12, 2012

[Love Journey] - Kembali ke Bukittinggi


Saya sudah banyak melakukan perjalanan ke berbagai penjuru Nusantara, namun baru kali ini ada sebuah destinasi wisata yang memberikan perasaan seperti “jatuh cinta pada pandangan pertama”, dan tempat itu adalah Bukittinggi. Ya, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini di tahun 2007, saya langsung jatuh cinta pada keindahan alamnya. Sayangnya waktu itu saya hanya punya waktu satu malam, sehingga saya tak sempat menjelajahi Bukittinggi yang juga terkenal dengan berbagai peninggalan sejarahnya. Saya pun bertekad suatu hari saya harus kembali lagi untuk menjelajahi Bukittinggi. 

Akhirnya, setahun setelah kunjungan pertama saya, saya berhasil mengajak keluarga saya untuk berwisata di Bukittinggi, tentu saja dengan bujukan-bujukan yang mengatakan bahwa banyak tempat menarik yang bisa dilihat di sana. Persiapan kami lakukan kurang lebih selama sebulan untuk mengatur itinerary, tiket pesawat, transportasi dan akomodasi selama di sana. Dan akhirnya, bertepatan dengan libur Hari Natal tahun 2008, saya dan keluarga menginjakkan kaki ke Bukittinggi.

Setelah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, dengan menggunakan kendaraan sewaan kami langsung berangkat ke Bukittinggi. Sepanjang perjalanan menuju Bukittinggi, kami melewati jalur Padang-Padangpanjang-Bukittinggi yang berbukit-bukit. Dengan pemandangan yang begitu hijau dan rimbun, membuat anggota keluarga saya yang lain langsung ikut jatuh cinta pada panorama alam Sumatra Barat. Pertama kali kami berhenti di Aia Tajun Lembah Anai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya terletak jauh di dalam hutan atau kebun raya, air terjun setinggi 30 meter ini terletak di pinggir jalan utama, sehingga melihatnya saja sudah memberikan sensasi tersendiri, apalagi saat kami turun dan menyentuhkan tangan di air yang dingin. Perasaan ini ditambah dengan suasana segar di sekitar air terjun, serta pemandangan dramatis berupa paduan jembatan rel kereta api dan jalan raya yang melintas area dekat Aia Tajun Lembah Anai. Sulit mencari pemandangan seperti ini di tempat lain yang pernah kami kunjungi.

Setelah 2 jam perjalanan dari Bandara Minangkabau, kami tiba di Bukittinggi. Sebelum memasuki kota, dari kejauhan terlihat panorama Gunung Singgalang, salah satu gunung yang mengapit Kota Bukittinggi. Begitu kami keluar dari kendaraan, terasa hawa dingin khas pegunungan. Bukittinggi memang kota paling dingin di Sumatra Barat, dengan ketinggian 930 meter di atas permukaan laut, dan suhu udara pada rentang 16-25 derajat Celcius. Saya teringat kembali saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dan menghirup udara dingin beraroma bersih dan segar, mungkin hal inilah yang membuat saya jatuh cinta dan ingin kembali ke Bukittinggi.

Ketika kami meletakkan barang-barang di hotel dan membuka jendela, terlihat panorama kota yang penuh bangunan, yang merupakan perpaduan bangunan modern dan bangunan bergaya tradisional. Yang membuat lebih menarik, bangunan-bangunan ini berpadu dengan panorama alam berupa gunung yang mengelilingi Kota Bukittinggi. Rasanya tidak bosan melihat pemandangan yang unik seperti ini. Namun kami tak bisa berlama-lama di hotel, karena tak sabar lagi untuk menjelajahi Kota Bukittinggi.

Salah satu tujuan kami ke Bukittinggi adalah melakukan wisata sejarah, sebuah kegiatan wisata yang merupakan passion kami. Banyak bangunan lama dan peninggalan sejarah yang masih terawat di kota ini, di antaranya adalah Fort de Kock, Rumah Kelahiran Bung Hatta, Museum Rumah Adat Baanjuang, dan Lubang Jepang. Tempat yang menjadi tujuan pertama kami adalah Taman Bundo Kanduang, untuk melihat Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Benteng Fort de Kock berdiri di atas Bukit Jirek, didirikan oleh Captain Bauer pada tahun 1825. Sebenarnya nama asli dari Fort de Kock adalah “Sterreschans”, yang berarti bintang pelindung. Sedangkan yang disebut sebagai “Fort de Kock” sebenarnya adalah area di sekitar benteng Sterreschans, yang sekarang menjadi Kota Bukittinggi. Nama Fort de Kock diambil dari nama Jendral Baron Hendrik Markus De Kock yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jendral Hindia Belanda. 

Ketika kami memasuki area benteng, kami mendapatkan sebuah “kejutan” : mana bentengnya? Tadinya saya berharap akan melihat sebuah bangunan yang kokoh, atau setidaknya sisa bangunan tersebut. Kami hanya menemukan menara air, beberapa meriam dan parit perlindungan di atas bukit. Jadi sepertinya yang disebut benteng Fort de Kock adalah area berkontur tinggi yang digunakan sebagai sarana pertahanan terhadap serangan Kaum Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Setelah puas melihat-lihat di Fort de Kock, kami menyeberangi jembatan cantik yang dihiasi tiang beratap gonjong (atap khas rumah gadang) bernama Jembatan Limpapeh. Saking cantiknya, saya mencoba memotret jembatan ini dari berbagai sudut, untuk bisa memperoleh foto yang “sempurna”. Dari atas jembatan, kami menikmati pemandangan yang menakjubkan : keindahan alam Bukittinggi dengan gunung dan sawah menghijau, berpadu dengan keramaian Jl. Ahmad Yani yang berada di bawah jembatan. Rasanya tidak bosan-bosan kami melintas bolak-balik di atas jembatan yang cantik ini.

Di sisi seberang jembatan, kami menuju Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Kebun binatang ini satu-satunya kebun binatang di Sumatra Barat, dan merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Area ini dibangun pada tahun 1900 oleh Controlleur Strom Van Govent, dan dijadikan kebun binatang oleh Dr. J Hock pada tahun 1929. Di dekat kebun binatang, terdapat rumah gadang yang merupakan tempat Museum Rumah Adat Baanjuang. Rumah adat Minangkabau ini dibangun oleh Mr. Modelar Countrolleur di tahun 1935, untuk menghimpun benda-benda sejarah dan budaya Minangkabau. Di museum ini kami melihat bukti-bukti kekayaan budaya khas Minangkabau, seperti pakaian adat, alat musik, alat ketrampilan, dan senjata.

Keluar dari Taman Bundo Kanduang, kami bergegas menuju Jam Gadang, landmark Bukittinggi yang terletak di Taman Sabai Nan Aluih, tepat di pusat Kota Bukittinggi. Ibaratnya, belum ke Bukittinggi kalau belum menginjakkan kaki di Jam Gadang. Pada kunjungan saya untuk pertama kalinya di tahun 2007, saya hanya berkesempatan melihat landmark ini di malam hari. Namun ketika saya datang lagi, melihat menara Jam Gadang yang begitu megah dan unik, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bosan untuk mengunjungi tempat ini. Secara harfiah, “Jam Gadang” berarti jam besar, dan tidak mengherankan karena diameter jam ini berukuran 80 centimeter, jauh lebih besar daripada ukuran jam pada umumnya. Menara Jam Gadang setinggi 26 meter ini didirikan oleh Controlleur Rook Maker pada tahun 1926, sebagai tempat untuk meletakkan jam besar yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda. Bangunan menara yang ada sekarang memiliki bentuk atap gonjong khas rumah adat Minangkabau, dan merupakan rancangan Jazid dan Sutan Gigih Amen. Karena saat itu suasana tidak terlalu ramai, kami pun berfoto-foto dalam berbagai posisi, sekaligus untuk menunjukkan bahwa tak hanya London yang punya Big Ben, Bukittinggi pun punya Jam Gadang.

Setelah makan siang, kami pergi ke Taman Panorama. Sebelum menikmati keindahan Ngarai Sianok, kami mengunjungi Lubang Jepang. Walaupun namanya berawal dengan kata “lubang”, tempat ini sebenarnya adalah jaringan terowongan buatan yang digunakan tentara Jepang sebagai markas di Kota Bukittinggi. Terowongan ini dibuat pada tahun 1942 di bawah pimpinan Jendral Watanabe, dan ditinggalkan saat Jepang menyerah pada Sekutu di tahun 1945. Tahun 1946, penduduk secara tak sengaja menemukan terowongan ini. Pemda Bukittinggi kemudian merenovasi terowongan dan menambahkan fasilitas seperti tangga, lampu dan pemandu bersertifikat, sehingga wisatawan dapat masuk ke dalam terowongan dengan nyaman, sekaligus mendapatkan informasi mengenai kisah sejarah terowongan tersebut.
Hari itu kami dipandu pak Jeffri, pemandu bersertifikat di Taman Panorama. Ia menjelaskan bahwa Lubang Jepang merupakan jaringan terowongan di kedalaman 50 meter dengan total panjang mencapai 1470 meter, membuat Lubang Jepang sebagai gua Jepang terpanjang di Indonesia. Untuk memasuki terowongan, pak Jeffri membawa kami ke pintu masuk yang terletak di Taman Panorama. Pintu ini sebenarnya adalah lubang ventilasi, yang kemudian diperbesar dan diberi anak tangga berjumlah 128 buah. Ketika kami menuruni anak tangga tersebut, ternyata 40 meter itu tidak dekat, karena rasanya tidak sampai-sampai.
Di dalam terowongan, Pak Jeffri menjelaskan bahwa terowongan ini dibangun dengan tangan manusia tanpa menggunakan alat berat. Terowongan ini tak hanya berupa lorong-lorong, tetapi juga terdapat beberapa ruangan seperti barak militer, tempat tidur, ruang amunisi, ruang makan romusha dan ruang sidang. Sebagai pelengkap, terdapat ruang dapur dan ruang penjara. Pak Jeffri bercerita bahwa di dekat ruang dapur terdapat lubang tempat pembuangan sampah dapur dan mayat tahanan tentara Jepang yang sudah tewas. Rasanya merinding membayangkan keadaan pada masa itu, mengingat para romusha bekerja membangun terowongan dengan tangannya, serta bagaimana para tahanan tewas dengan mengenaskan dan dibuang keluar. Setelah melihat-lihat di sepanjang terowongan, kami pun kembali mendaki anak tangga sejauh 40 meter, dan rasanya lega sekali setelah kami tiba di permukaan.
Keluar dari Lubang Jepang, mulailah kami menikmati panorama Ngarai Sianok, “The Grand Canyon of Indonesia”. Ngarai Sianok adalah lembah curam sedalam 100 meter yang terletak di jantung kota Bukittinggi, dan memanjang sejauh 15 km dari selatan Koto Gadang hingga Palupuh, Agam. Nama “Sianok” berarti diam, yang diberikan karena pada jaman dahulu di dasar ngarai banyak ditemukan jenasah korban penyiksaan tentara Jepang, yang hanya ‘membisu’ ketika dilempar dari atas ngarai. Di dasar ngarai, terdapat sungai Batang Sianok yang jernih. Kami berkesempatan untuk naik ke menara pandang, agar dapat menyaksikan pemandangan Ngarai Sianok dengan lebih leluasa. Melihat betapa panjang dan luasnya Ngarai Sianok, hati ini bergetar, betapa indahnya panorama Kota Bukittinggi.

Paduan keindahan panorama alam yang menakjubkan, hawa sejuk segar tanpa polusi, serta banyaknya peninggalan sejarah dan kekayaan budaya Bukittinggi, membuat sulit untuk tidak jatuh cinta pada kota ini. Sayang sekali, waktu kami di Bukittinggi terbatas, sehingga kami belum bisa menjelajahi seluruh penjuru kota. Masih banyak obyek peninggalan sejarah yang belum sempat kami kunjungi, seperti Rumah Kelahiran Bung Hatta dan Museum Perjuangan Eka Sapta Darma. Seandainya diberi kesempatan lagi, saya ingin sekali kembali ke Bukittinggi, untuk meneruskan penjelajahan di kota yang penuh romansa ini.


Note : Kenang-kenangan posting di Multiply untuk ikut lomba travelling blog [Love Journey], pindahan dari : http://tathagati.multiply.com/journal/item/111/Love-Journey-Kembali-ke-Bukittinggi

Friday, June 15, 2012

Menelusuri Jejak Akhir Majapahit di Candi Cetho



Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada ketinggian 1496 meter di atas permukaan laut. Dalam bahasa Jawa, kata ‘cetho’ berarti jelas. Nama ini diberikan pada dusun tempat candi ini berada, karena dari tempat ini kita dapat melihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Bersama Candi Sukuh, Candi Cetho merupakan obyek pariwisata andalan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Candi Cetho merupakan kompleks bangunan yang dibuat pada lahan bertingkat. Dari ciri-ciri berupa lingga dan lambang surya Majapahit yang ditemukan di Candi Cetho, diketahui bahwa candi ini merupakan candi  agama Hindu dan berasal dari abad ke-15, kurang lebih pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Candi ini pernah dipugar pada tahun 1975-1976, dan hasilnya adalah candi yang dapat dilihat pada saat ini. Hingga hari ini, Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah oleh penduduk sekitar candi yang beragama Hindu, serta dijadikan tempat meditasi bagi para penganut kepercayaan Kejawen.

Memasuki kompleks Candi Cetho, akan ditemukan banyak keunikan candi ini yang tidak ditemukan pada candi-candi Jawa Tengah pada umumnya. Keunikan pertama yang ditemui adalah gapura besar berbentuk candi bentar, serupa dengan gapura kompleks candi di Jawa Timur. Saat mendaki dari loket tempat membeli karcis menuju gapura besar tersebut, kita akan menemui beberapa arca. Berbeda dengan arca dwarapala yang biasa menyambut di bangunan-bangunan tradisional, arca yang menyambut kita sebelum gerbang Candi Cetho memiliki bentuk yang berbeda, dengan pembuatan yang kurang halus dan bergaya primitif. Dari gaya serta kehalusan pembuatan arca tersebut, para ahli menduga bahwa arca beserta kompleks bangunan Candi Cetho tidak dibuat oleh para pekerja dan seniman istana, melainkan oleh para penduduk dari desa sekitar candi.

 Melangkahkan kaki memasuki gapura besar, dari teras pertama terlihat bahwa Kompleks Candi Cetho terletak pada lahan berteras-teras, sehingga bentuknya menyerupai pundek berundak. Jumlah total teras ketika candi ini ditemukan adalah 14 teras, namun setelah pemugaran tahun 1976 hanya tersisa 9 teras. Masing-masing teras dibatasi oleh tembok batu dan memiliki gapura. Semakin tinggi terasnya, maka pintu gapuranya semakin sempit. Menurut salah satu juru kunci Candi Cetho, teras yang bertingkat-tingkat ini melambangkan perjalanan menuju nirwana, semakin tinggi tingkatannya maka tingkat kesulitan untuk mencapainya pun semakin tinggi.

Obyek yang menjadi primadona di Candi Cetho adalah tataan batu mendatar di permukaan tanah teras ketiga, yang menggambarkan simbol phallus (simbol kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dan kura-kura raksasa. Berdasarkan interpretasi para ahli, phallus merupakan simbol penciptaan manusia, sedangkan kura-kura merupakan simbol penciptaan alam semesta. Obyek lain yang juga menarik adalah jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala di teras keempat. Kisah Sudhamala adalah kisah pewayangan yang mendasari upacara ruwatan, berkisah tentang Sadewa yang berhasil merawat Uma (istri Batara Syiwa) yang dikutuk menjadi Durga. Dari keberadaan lambang phallus, kura-kura dan relief Sudhamala, maka para ahli menduga bahwa Candi Cetho dibangun dengan tujuan untuk upacara ruwatan.


 Naik terus menuju teras tertinggi melalui gapura-gapura yang semakin sempit, di teras kedelapan terdapat 2 buah arca yang diletakkan di dalam pondok kecil. Masyarakat setempat mempercayai bahwa kedua arca ini adalah perwujudan Sabdopalon dan Nayagenggong, abdi sekaligus penasehat spiritual Prabu Brawijaya V, raja terakhir dari kerajaan Majapahit. Sedangkan di teras kesembilan terdapat 2 buah arca yang diletakkan dalam pondok kecil. Arca yang terletak di sisi utara berbentuk lingga, sedangkan arca yang terletak di sisi selatan dipercaya merupakan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud Mahadewa. Arca-arca di teras kedelapan dan kesembilan ini tidak sehalus arca yang ditemukan di candi-candi Jawa Tengah, Jawa Timur atau Bali, namun memberikan ciri khas tersendiri.


Di teras tertinggi, terdapat bangunan batu berbentuk punden berundak, yang diberi pintu teralis yang terkunci. Di dalam bangunan tersebut terlihat sebuah bangunan batu persegi empat yang ujungnya terlihat dari luar. Pengunjung boleh masuk ke dalam bangunan tersebut untuk berdoa atau bermeditasi di dalamnya, dengan minta izin kepada juru kunci. Di dalam bangunan, akan terlihat bahwa bangunan batu persegi empat yang ada di dalamnya diberi kain merah putih mengelilingi keempat sisinya. Agar doanya terkabul, juru kunci akan minta pengunjung untuk mengelilingi bangunan batu tersebut sebanyak tiga kali sebelum memanjatkan doa.


Candi Cetho merupakan sebuah cagar budaya sekaligus obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi karena keunikannya. Walaupun letaknya cukup jauh dari Kota Surakarta sebagai kota besar terdekat (kurang lebih 40 km), namun akses menuju ke sana cukup mudah, karena tersedia angkutan umum menuju ke Desa Cetho. Bagi yang membawa kendaraan sendiri, tersedia lahan parkir. Tiket masuk ke candi ini pun cukup murah, untuk wisatawan domestik Rp 3.000,- dan untuk wisatawan mancanegara Rp 10.000. Di hari-hari biasa, obyek wisata ini cukup sepi, namun di hari-hari libur seperti Hari Raya Idul Fitri, obyek ini ramai dikunjungi tak hanya oleh penduduk sekitar, namun juga wisatawan dari kota-kota lainnya.



Disertakan pada lomba Blog Dalam Rangka HUT Komunitas Blogger Nganjuk ke-3 http://kotaangin.com






Saturday, October 29, 2011

Situ Babakan, Oase di tengah Jakarta

Barangkali kita tidak pernah membayangkan bahwa di tengah kepadatan kota Jakarta, rupanya masih ada tempat yang bisa menjadi "oase" untuk melepas kejenuhan sekaligus berlibur sambil menikmati menikmati wisata alam yang murah dan mengasikkan.
Salah satu danau di Ibu Kota yang bisa dikunjungi adalah Setu Babakan. Setu Babakan terletak di Jl. Raya Moh. Kahfi II, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dalam bahasa Betawi, Setu berarti Danau. Setu Babakan merupakan danau buatan dengan luas area 32 hektar, di mana airnya berasal dari sungai Ciliwung. Danau ini dibangun pemerintah kolonial Belanda untuk menanggulangi masalah banjir di Jakarta, sehingga selain sebagai sarana rekreasi dan cagar budaya, keberadaan Setu Babakan juga penting karena fungsinya sebagai daerah penangkap air tanah.
Setu Babakan merupakan salah satu lokasi wisata favorit, banyak orang yang datang dan duduk-duduk di sisi danau untuk menikmawi suasana segar. Setu ini juga dimanfaatkan bagi mereka yang gemar memancing. Bagi yang ingin berwisata air, dapat memanfaatkan sepeda air. Apabila bosan dengan rekreasi air, anda bisa menyewa delman untuk keliling kawasan Setu Babakan yang luasnya 165 hektar.
Selain menjadi tempat wisata alam, Setu Babakan juga merupakan cagar budaya, karena danau ini menjadi bagian dari Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, kawasan perkampungan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan warisan budaya asli Betawi. Di kawasan ini anda dapat melihat lingkungan pemukiman penduduk Betawi, dengan bentuk rumah-rumah khas Betawi yang memiliki teras luas dan bentuk atap yang unik. Sebagai pusat konservasi budaya Betawi, di Setu Babakan sering ditampilkan atraksi pertunjukan seni asli Betawi, mulai dari Qasidah, Marawis, Keroncong, Tajidor, Gambang Kromong, Lenong, Gambus, serta tari Cokek, tari Topeng dan Ondel-Ondel sebagai icon budaya Betawi. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Setu Babakan adalah antara bulan Juni-Juli, di mana banyak diadakan festival untuk memperingati HUT kota Jakarta.
Bagi mereka yang hobi wisata kuliner, anda akan menemukan surga masakan Betawi. Di sepanjang pinggiran danau terdapat penjaja makanan tradisional Betawi, seperti soto mie, kerak telor, toge goreng, laksa, gulali, nasi uduk, kue ape, roti buaya, soto betawi, ketoprak, karedok, rujak bebek, rujak cuhi, manisan kolang kaling, sayur gabus pucung, opor jengkol, dan Bir Pletok. Selain wisata kuliner dan wisata budaya, di kawasan Setu Babakan juga terdapat wisata agro. Anda bisa mengunjungi rumah-rumah penduduk yang terdapat tanaman buah khas Betawi. Jika ingin memetik dan membawa pulang buah-buah tersebut, anda bisa minta ijin kepada pemilik rumah dan membayar buah yang anda petik.
Kawasan Setu Babakan terbuka untuk umum, dari pagi hingga sore hari pukul 18.00 WIB. Mengingat tempat ini merupakan bagian dari cagar budaya tradisi Betawi dengan adat ketimuran yang kental, sangat disarankan untuk mengenakan pakaian yang sopan dan tidak terbuka.