Showing posts with label travel writing 101. Show all posts
Showing posts with label travel writing 101. Show all posts

Sunday, May 17, 2020

[Travel Writing Mash-Up] Dari Gedung Stovia Hingga Salemba 6

Indonesia merupakan negara pertama di Asia Tenggara yang menyelenggarakan pendidikan kedokteran modern. Pendidikan kedokteran di Indonesia berawal di pertengahan abad ke-19, atas prakarsa dr. Willem Bosch, Kepala Dinas Jawatan Kesehatan (Tentara dan Sipil) Hindia Belanda. Saat itu muncul berbagai wabah penyakit, dan tenaga medis pemerintah Hindia Belanda kewalahan memberantas wabah penyakit tersebut, salah satunya adalah karena kekurangan tenaga. Dr. Bosch mengusulkan untuk mendirikan korps kesehatan dengan tenaga Bumiputera, yang direspon dengan keputusan Gubernemen tahun 1849 untuk mendidik 30 pemuda Jawa di rumah sakit militer untuk menjadi asisten dokter dan “vaccinateur” (mantri cacar).

Fasad Gedung STOVIA yang menjadi Museum Kebangkitan Nasional

Tanggal 1 Januari 1851 berdirilah Onderwijs van Inlandsche Eleves voor de Geneeskunde en Vaccine (Sekolah Pendidikan Vacinateur), yang diselenggarakan di rumah sakit militer Weltevreden (saat ini RSPAD Gatot Soebroto). Tahun 1853, pendidikan tersebut berganti nama menjadi Sekolah Dokter Jawa, dan para lulusannya diberi gelar Dokter Djawa. Lulusan Sekolah Dokter Jawa kemudian dipekerjakan sebagai mantri cacar, diperbantukan di rumah sakit, dan membantu dokter militer merangkap dokter sipil. Beberapa lulusan Sekolah Dokter Djawa yang terkenal adalah dr. Wahidin Sudirohusodo dan dr. Abdoel Rivai, yang kemudian memegang peran penting dalam perjuangan pergerakan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.

Diorama Suasana Kelas Terbuka di STOVIA
Tahun 1896, dr. Hermanus Frederik Roll, seorang dokter militer, dipercaya untuk memimpin sekolah ini. Di masa kepemimpinannya sekolah ini berkembang dengan pesat dalam pendidikannya. Tahun 1898, Sekolah Dokter Jawa berganti nama menjadi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen) atau Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputera dengan lama pendidikan 9 tahu, dan lulusannya dapat melanjutkan pendidikan ke universitas di Belanda. Agar tidak mengganggu aktivitas rumah sakit militer, atas usul dr. Roll pada tahun 1899 dibangun gedung baru di sebelah rumah sakit militer, tepatnya di Hospitaalweg. Gedung baru ini mulai beroperasi pada tahun 1902, dan dilengkapi dengan asrama.

Batu Nisan HF Roll di Museum Taman Prasasti
Sekolah ini menjadi saksi pada hari Minggu tanggal 20 Mei 1908, di salah satu ruang kelas STOVIA yang biasa digunakan untuk mata kuliah anatomi, Soetomo menyatakan bahwa hari depan bangsa dan tanah air ada di tangan mereka, dan menjelaskan gagasannya untuk mendirikan organisasi. Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Soeraji, dan para pelajar STOVIA lainya kemudian mendeklarasikan berdirinya organisasi modern pertama Boedi Oetomo, yang menjadi cikal bakal pergerakan Indonesia menuju kemerdekaan.

Diorama suasana Ruang Anatomi saat deklarasi berdirinya Boedi Oetomo 
Selama beroperasi di Hospitaalweg, STOVIA telah meluluskan beberapa dokter bumiputera, termasuk di antaranya dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, dr. R. Soetomo (pendiri Boedi Oetomo), dr. Jacob Bernadus Sitanala (peneliti kusta), dr. Achmad Mochtar (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala lembaga Eijkman), dan dr. RM Djoehana Wiradikarta (orang Indonesia pertama yang menjadi kepala lembaga Pasteur).

Lembaga Eijkman di RSCM
dr. Achmad Mochtar adalah salah satu asisten dr. Christian Eijkman dalam meneliti penyakit beri-beri. Di masa pendudukan Jepang, dr. Mochtar bersama koleganya ditahan Kempetai dengan tuduhan mencemari vaksin TCD sehingga menyebabkan kematian para romusha. dr. Mochtar mengajukan diri untuk melindungi koleganya, sehingga koleganya dibebaskan dan sejak itu dr. Mochtar tak diketahui nasibnya. Pencarian jejak dr. Mochtar dilakukan oleh prof Sangkot dan Kevin Baird, hingga menemukan bahwa dr. Mochtar telah menjadi korban kekejaman Kempetai dan dimakamkan di Ereveld Ancol.

Nisan Makam Prof. dr. Achmad Mochtar di Ereveld Ancol
Tahun 1916, pemerintah Hindia Belanda mulai memikirkan untuk memindahkan STOVIA ke lokasi baru. Lokasi baru dipilih di Salemba, untuk mendirikan bangunan sekolah yang lebih representatif dan rumah sakit terpadu yang dapat menampung lebih banyak pelajar. Peletakan batu pertama Gedung di Salemba dilaksanakan pada tanggal 26 Agustus 1916 oleh istri gubernur jenderal Hindia Belanda Catharina Maria Rolina van Limburg Stirum.

Prasasti Peletakan Batu Pertama Gedung GHS di Salemba (koleksi iMuseum FKUI)
Pada tahun 1919 berdiri Rumah Sakit Pusat Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (CBZ, sekarang menjadi RSCM), yang merupakan rumah sakit pendidikan pelajar STOVIA, karena sarana dan prasarananya lebih lengkap dan modern. Selanjutnya dibangun gedung baru di sebelah CBZ sebagai tempat pendidikan. Tanggal 5 Juli 1920, dengan berdirinya gedung pendidikan kedokteran di sebelah Rumah Sakit Pusat CBZ, seluruh fasilitas Sekolah Pendidikan Dokter Hindia dipindahkan ke gedung tersebut (sekarang dikenal sebagai Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia). Adapun gedung STOVIA lama sempat dipergunakan sebagai asrama pelajar, karena para pelajar STOVIA diberi kebebasan untuk memilih tetap tinggal di asrama STOVIA, atau kos di rumah penduduk di sekitar Salemba.

Tanggal 9 Agustus 1927, STOVIA resmi berubah menjadi Geneeskundige Hoogeschol (pendidikan tinggi kedokteran), dan syarat masuknya semakin diperketat, yaitu minimum lulusan Hogere Burger School (HBS) atau Algemene Middelbare School (AMS). Lulusan GHS bergelar Arts dan setara dengan dokter dari Belanda. Beberapa lulusan GHS yang terkenal di antaranya adalah dr. Johannes Leimena (wakil perdana menteri 2 kabinet Soekarno), dr. Abdoel Patah, dr. Moewardi, dr. Abdulrachman Saleh (bapak faal Indonesia, perintis radio, dan tokoh AURI), dan dr. Julie Sulianti Saroso.

Patung dr. Abdulrachman Saleh di FKUI Salemba 
Ketika masa kolonialisme Belanda di Hindia Belanda berakhir pada tahun 1942, GHS sempat ditutup selama beberapa waktu, sebelum pemerintah Jepang mendirikan sekolah kedokteran Ika Daigaku. Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, pada 19 Agustus 1945 Ika Daigaku berubah menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran, yang merupakan salah satu fakultas Badan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (BPTRI). Saat tentara NICA menguasai Jakarta, BPTRI “mengungsi” ke Klaten, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Tahun 1946, NICA mendirikan Geneeskundige Faculteit-Nood Universiteit di Jakarta. Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia di akhir tahun 1949, BPTRI kembali ke Jakarta. Pada tahun 1950 Perguruan Tinggi Kedokteran dan Geneeskundige Faculteit-Nood Universiteit dilebur menjadi satu, menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang berkedudukan di Jl. Salemba 6.

Tuesday, December 24, 2013

Love Journey #2 : Mengeja Seribu Wajah Indonesia


Alhamdulillah, akhirnya antologi pertama saya terbit ... (setelah 3 buku solo dan 1 buku self publishing, hehehe)

Buku ini berisi kumpulan kisah-kisah perjalanan para traveler di Indonesia. Berbeda dengan tulisan traveling yang umumnya menceritakan tentang keindahan sebuah tempat, buku ini justru mengupas sisi lain dari perjalanan tersebut. Ada suka, duka, perayaan, tragedi, kekayaan budaya, dan hal-hal lain yang terkadang luput dari perhatian kita selama melakukan perjalanan.

Tulisan dalam buku ini berasal dari peserta kompetisi yang digawangi Lalu Abdul Fatah dan Dee An, setelah mereka berdua menelurkan buku antologi Love Journey : Ada Cinta di Tiap Perjalanan. Melalui seleksi dan penilaian, terpilih 20 tulisan dan 3 yang mengisi buku ini, dan salah satunya adalah kisah perjalanan saya blusukan ke para pengrajin batik di Pekalongan. Bagaimana kisah lengkap lahirnya buku ini, Anda bisa mengikutinya dari blog Lalu Abdul Fatah berikut ini: http://lafatah.wordpress.com/2013/12/24/di-balik-mengeja-seribu-wajah-indonesia/.

Buku terbitan de Teens (imprint dari Diva Press) ini dibandrol dengan harga Rp 58.000, dan rencananya akan beredar di toko-toko buku pada awal tahun 2014. Nantikan kehadirannya di toko-toko buku terdekat di kota Anda!


Saturday, May 25, 2013

Menyebar Virus Travel Writing Bersama IIDN

Travel Writing. Istilah ini mungkin terdengar baru, namun sebenarnya sudah dilakukan sejak masa silam. Genre ini menitikberatkan tulisannya tentang sebuah tempat atau daerah dan perjalanan menuju dan selama berada di tempat tersebut. Gaya penulisan travel writing pun bermacam-macam, mulai dari yang naratif hingga deskriptif, dari tulisan jurnalistik hingga karya sastra, dan bahkan bisa ditulis secara ringan hingga sangat serius. Saat ini travel writing biasanya diasosiasikan dengan perjalanan wisata, dengan tujuan memberikan informasi mengenai destinasi wisata tersebut kepada pembacanya.

Travel writing ternyata tidak semata-mata berbentuk trip guide, yang menuliskan tentang deskripsi tempat wisata, data-data teknis, dan cara menuju ke sana. Bentuk travel writing sangat banyak, namun yang dianggap sebagai jenis travel writing yang banyak dimuat di media adalah travel feature. Travel feature umumnya berbentuk artikel, dan diulas dari sudut pandang orang pertama, atau penulis sebagai pelaku perjalanan. Ciri khas dari artikel feature adalah sentuhan personal tentang aktivitas dan perasaan penulis selama melakukan perjalanan.

Sejak tahun 2005 saya membuat artikel travel writing, dengan menggabungkan ketiga hobi saya yaitu travelling, foto-foto, sama menulis. Namun saat itu artikel saya masih bercampur baur antara trip guide dan travel feature. Baru setelah saya mengikuti kursus travel writing di tahun 2009, tulisan-tulisan travelling saya menjadi semakin bervariasi. Artikel-artikel ini masih terbatas diterbitkan di majalah internal korporat, karena saya belum percaya diri untuk mengirimkan artikel-artikel saya ke media-media yang cakupannya lebih luas.

Saat saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada awal tahun 2011, di pertengahan tahun 2011 ada pengumuman kebutuhan penulis untuk proyek pembuatan Kamus Wisata Indonesia. Tertarik dengan proyek tersebut karena sangat berkaitan dengan travel writing, saya pun bergabung. Niat semula hanya menulis beberapa artikel tentang DKI Jakarta, namun karena masih banyak tulisan-tulisan yang dibutuhkan, pada akhirnya saya menulis tidak kurang dari 95 artikel untuk mensupport proyek tersebut. Pengalaman mengerjakan proyek Kamus Wisata Indonesia bersama Komunitas IIDN ini membuat pengalaman saya dalam travel writing menjadi lebih kaya, selain saya juga mendapat kesempatan berkenalan dengan ibu-ibu yang canggih  dalam menulis.

Februari 2012, saya ikut kopi darat Komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu sosok Indari Mastuti, pemilik Agensi Naskah Indscript Creative sekaligus pendiri Komunitas IIDN yang selama ini hanya saya temui di dunia maya. Sayang sekali, dalam acara kopi darat tersebut, saya belum berhasil bertemu Lygia Pecanduhujan, markom dari IIDN yang selama ini tulisan-tulisannya selalu berkibar di Komunitas IIDN. Usai acara, setiap peserta diminta untuk mengumpulkan proposal outline buku. Semula saya tidak terpikir untuk mengumpulkan karena sedang menunggu ide, namun desakan dari panitia yang terus menerus menelfon agar saya mengumpulkan proposal outline buku pun membuat saya akhirnya mengumpulkan proposal buku tersebut.

Sempat bingung, buku seperti apa yang mau saya buat berikutnya? Apakah buku ketrampilan? Saat itu ide saya sedang buntu, dan saya tahu sebuah buku ketrampilan membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena tidak hanya membuat tulisan, tetapi kita juga harus menyiapkan contoh barang dan fotografinya. Akhirnya setelah merenung beberapa lama, saya mendapat ide untuk menulis tentang Travel Writing. Ide ini muncul dari kenyataan di mana hingga saat ini sudah banyak guide book dan buku kisah perjalanan yang diterbitkan, namun belum banyak yang menulis mengenai cara menulis travel feature dan foto perjalanan secara komprehensif.

Gayung bersambut, kurang lebih 2 bulan kemudian, sebuah penerbit major sedang membutuhkan banyak naskah perjalanan, dan mbak Indari Mastuti membuat pengumuman proposal mana saja yang diterima penerbit major tersebut. Rupanya proposal buku Travel Writing saya ikut disetujui! Dalam waktu 1 bulan, saya ngebut menyelesaikan buku tersebut, dan menyerahkannya kembali pada Indscript Creative untuk ditindaklanjuti.

Sambil menunggu buku Travel Writing diterbitkan, saya kembali aktif memantau informasi di Komunitas IIDN. Kalau ada audisi antologi, iseng-iseng saya mencoba ikut, dan lebih sering tidak terpilih. Tapi tidak masalah, karena setelah saya pikirkan lagi, yang penting adalah menambah jam terbang, kalau tulisannya terpilih, itu bonus. Salah satu “bonus” yang akhirnya saya dapatkan adalah masuk sebagai kontributor buku Hot Chocolate for Broken Heart yang digawangi oleh markom IIDN Lygia Pecanduhujan. Selain informasi audisi antologi, saya juga menunggu informasi mengenai alamat-alamat media, khususnya media yang menerima artikel Travel Writing. Alhamdulillah, salah satu artikel perjalanan saya akhirnya diterbitkan di Republika edisi 10 Juli 2012.

Setelah 10 bulan menunggu, di akhir Februari 2013 saat yang dinanti-nanti tiba : Travel Writing 101 diterbitkan oleh Elex Media Komputindo! Saya pun menyebarkan berita gembira ini di Komunitas IIDN. Sebagai sarana untuk memperkenalkan buku ini, saya bekerjasama dengan Duta Buku IIDN untuk menyelenggarakan kuis. Melihat animo para peserta kuis, terlihat bahwa banyak ibu-ibu khususnya anggota Komunitas IIDN yang berminat untuk menulis karya travel writing, dan buku ini bisa menjadi jawaban atas keingintahuan mengenai travel writing tersebut.





Ya, walaupun selama ini travel writing lebih identik dengan para backpacker atau mereka yang bepergian ke tempat yang eksotik. Namun sejatinya, tidak ada batasan bahwa travel writing harus ditulis oleh kalangan tertentu, atau mengenai destinasi dengan kriteria tertentu. Bukan tidak mungkin para wanita yang tergabung dalam komunitas IIDN dapat memberikan sentuhan tersendiri pada artikel-artikel travel writing, khususnya melihat pengalaman suatu perjalanan dari sudut pandang wanita. Dan saya berharap, para anggota komunitas IIDN dapat turut menyebarkan virus Travel Writing ini, untuk bersama-sama menggugah para wanita dalam melakukan perjalanannya dan berbagi pengalaman perjalanan tersebut melalui travel writing.


Note: posting dimuat di http://iidn.satukan.com/2013/05/menyebar-virus-travel-writing-bersama-iidn/

Thursday, March 07, 2013

Travel Writing 101

Alhamdulillah, buku kedua saya akhirnya terbit!

Mungkin ada yang bertanya-tanya : sudah buku kedua? Ya, ini adalah buku kedua yang diterbitkan oleh penerbit. Buku pertama saya adalah buku kerajinan tangan yang diterbitkan oleh Puspa Swara di awal tahun 2008. Dan tepat 5 tahun kemudian, buku kedua dengan tema yang sama sekali "tidak nyambung" dengan kerajinan tangan ini terbit. Di antara buku pertama dan kedua, ada satu buku lagi yang saya terbitkan secara indie. Yang diterbitkan secara indie memang belum memberikan hasil yang signifikan, namun dampak intangible-nya adalah saya merasakan sendiri pengalaman bagaimana proses penerbitan, distribusi dan pemasaran buku secara mendalam.

Buku ini merupakan buah karya dari passion saya yang lain, selain kristik dan crochet. Saya baru menulis artikel perjalanan sejak tahun 2005, tapi perjalanan wisata sebenarnya telah menjadi bagian hidup saya sejak kecil. Demikian juga memotret, ehm, tepatnya mendokumentasikan perjalanan. Walaupun hasil fotonya tidak hebat dan canggih seperti foto-foto di National Geographic, tapi ternyata kebiasaan ini membantu saya berlatih untuk menangkap momen-momen menarik di perjalanan, yang menjadi salah satu nilai tambah bagi seorang travel writer. Jadi, buku ini menggabungkan passion-passion saya : jalan-jalan, motret, sama menulis.

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Agensi Naskah Indscript Creative, karena tanpa mereka buku ini belum tentu bisa terwujud. Terima kasih juga diucapkan kepada tim Elex Media, khususnya Mbak Satwika, yang banyak mensupport hingga buku ini bisa terbit.

Akhir kata, sebelum Anda pergi ke toko buku dan mencari buku ini, saya kutip tulisan di cover belakang buku untuk memberi gambaran Anda mengenai isi bukunya :

Melakukan perjalanan wisata saat ini telah menjadi kegiatan yang digemari banyak orang. Dengan semakin banyak orang melakukan wisata dan perjalanan, maka semakin banyak media, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memuat artikel-artikel wisata yang didukung foto-foto yang menawan.

Buku “Travel Writing 101” ini berawal dari ide bahwa semakin banyak orang yang menulis tentang perjalanan wisata serta membuat foto-foto perjalanan, namun belum banyak buku panduan penulisan artikel perjalanan dan foto pelengkapnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat dipergunakan sebagai panduan bagaimana menjadi seorang travel writer dan travel photographer.

Berawal dari hobi travelling, menulis, dan membuat foto dokumentasi perjalanannya, Arin memadukan ketiga hal tersebut dan memulai penjelajahan dalam bidang travel writing dan travel photography. Beberapa artikel yang pernah ditulisnya terpilih menjadi pemenang dalam event Adira Best 100 Faces of Indonesia 2011. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail arini.tathagati@gmail.com atau Twitter @tathagati.

Banner4