Showing posts with label garuda indonesia. Show all posts
Showing posts with label garuda indonesia. Show all posts

Tuesday, August 18, 2009

Kembali ke Yogyakarta

"Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu...Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat,
Penuh selaksa makna...
Terhanyut aku akan nostalgi...
Saat kita sering luangkan waktu,
Nikmati bersama, suasana Yogya..."

Akhirnya, setelah sekian lama, aku berkesempatan untuk menginjakkan kaki (lagi) di Yogyakarta. Sebenernya pengen juga keliling ke lebih banyak tempat, namun berhubung waktu yang terbatas (dan lagi "rada pelit"... bokek sih nggak, cuman lagi mode "aji pengiritan"), jadi kuputuskan untuk mengunjungi salah satu tempat wisata di Yogya yang paling te-o-pe be-ge-te sebagai landmark DI Yogyakarta : Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Perjalanan dimulai dengan KA Pramex dari Solo Balapan pukul 7, "mendarat" di stasiun Tugu pukul 8. Dari Tugu, mulailah diriku menyusuri jalan Malioboro dengan berjalan kaki (memang sudah diniatin, jadi nuwun sewu kepada pak becak, kusir delman, supir taksi dan tukang ojek yang sudah sibuk menawarkan jasanya untuk mengantar...). Eits, rupanya adikku mengajak sarapan dulu, jadi mampirlah di sebuah warung tenda di depan kantor DPRD untuk makan gudeg.

Dalam perjalanan menuju keraton, sempat juga mampir di Mirota, cari selendang-selendang lucu (soalnya k'lo di toko lain, biasanya selendangnya licin banget, ato bergaya ibu-ibu banget). Tapi berhubung "aji pengiritannya" masih cukup kuat (dan lagi mode "backpacker", jadi ga bisa bawa barang banyak-banyak), terpaksalah gak bisa beli banyak-banyak. Sungguh beruntung diriku, waktu itu karena ada promo dari salah satu kartu kredit terbitan bank lokal terkemuka, diriku mendapat diskon lumayan bo... tahu gitu belanja lagi...

Setelah menyebrang alun-alun utara (sambil berusaha menolak dengan sopan tawaran pak becak, malah ada yang berusaha ngibulin dengan bilang kraton lagi tutup, enak aja, kata siapa kraton tutup?!), akhirnya tibalah diriku di sitihinggil. Sambil melihat-lihat, sempat ngebatin juga, kok perasaan dulu kratonnya lebih besar ya... selidik punya selidik, ternyata bagian kraton yang besar (bagian dalam kraton) ada di belakang (musti jalan lagi kira-kira 200 meter), dan musti beli karcis lagi! Ouh... Pas beli karcis masuk ke bagian dalam, Mbak-Mbak penjaga loketnya kaya'nya sempat bingung karena aku datang sendiri, terus dia menyuruh aku bergabung dengan rombongan lain. Ndak usah bingung tho Mbak, selama masih ada yang bisa bicara bahasa Indonesia (dan bahasa Jawa huruf latin), kan ada yang bisa ditanya...


Ternyata, di bagian dalam Kraton suasananya lebih rame daripada di sitihinggil, dan isinya kebanyakan turis asing (dan keluarganya). Bahkan rombongan anak sekolah pun jumlahnya lebih sedikit daripada turis asingnya. Sempet bingung, sekaligus bangga, ternyata para turis asing itu masih banyak yang berani berwisata di tanah air, biarpun sempat ada serangan bom di JW Marriot dan Ritz Carlton...

Sempat juga nonton kelompok gamelan. Sebenernya emang niatnya menunggu pertunjukan wayang orang di pendopo yang diadakan tiap hari Minggu jam 11. Tapi pada waktu yang ditentukan, ternyata tarian pembukanya aja udah makan waktu 1 jam sendiri, lah terus kapan cerita wayangnya mulai?? Dah keburu laper nih... Akhirnya setelah look around di dalam kraton, lihat-lihat Museum Batik dan Museum HB IX, dan sempat "menghibur" Abdi Dalem yang mencoba memperlihatkan tipuan optik di lukisan para Sultan terdahulu, akhirnya aku menyudahi kunjunganku di kraton. Senangnya melihat warisan budaya kita masih terpelihara...



Waktu aku berjalan kembali menuju alun-alun utara, di sisi kiri terlihat ada Museum Kareta Karaton (demikian yang tertulis di papan namanya). Masuk dulu ahhh... (sebenarnya yang membuat tertarik bukan keretanya, tapi karena ada 2 patung kepala kuda di pintu masuk museum...). Tapi walaupun museumnya kecil (lebih tepatnya museum itu adalah "garasi"nya kereta milik kraton), isinya luar biasa... keretanya antik-antik, sambil membayangkan di masa lalu kereta itu diimpor dari Eropa, kemudian digunakan untuk pelesir, ato untuk upacara.

Keluar dari Museum Kereta, lah kok ada 2 ekor kuda di dalam kandang... setelah ditanya lebih lanjut sama orang-orang di sekitar situ, rupanya itu bukan kudanya keraton, tapi kuda penarik delman wisata, ohh... sempat aku men(curi)dengar salah satu guide di dalam museum kereta, konon pada waktu dilakukan salah satu upacara, dibutuhkan 8 ekor kuda berwarna putih, dan kuda-kuda itu didatangkan dari pasukan kavaleri di Bandung. Oalah, ternyata bukan hanya keretanya saja yang diimpor dari seberang lautan, kudanya juga diimpor dari propinsi tetangga!

Pas mau keluar, ada delman lagi parkir di halaman museum. Eh, kok ada ibu-ibu penjual minuman menawarkan barangkali aku mau foto sama delmannya. Eh lah kok aku meng-iya-kan... untung mas-mas kusirnya baik, dia mau mengambilkan foto, jadilah aku foto dengan delman (dan jaran, eh, kuda-nya...).

Puas melihat museum, aku kembali menelusuri alun-alun utara, masih sambil menolak tawaran pak becak. Bukan apa-apa, emangnya pak becak bersedia nggenjot dari alun-alun sampai Jl. Kaliurang?? Jauh lho Pak... Akhirnya di Jl. A. Yani, aku menghentikan sebuah taksi yang mengantarku ke hotel di Jl. Kaliurang.

Dalam perjalanan pulang ke Jakarta via bandara Adisucipto, rupanya diriku berkesempatan "mencicipi" pesawat 737 seri 800 NG keluaran terbaru milik Garuda. Jarak antar kursinya sebenarnya lebih sempit dibandingkan 737 seri 300, 400 ato 500 yang biasa dipake' Garuda, tapi ada TV-nya di masing-masing tempat duduk... tapi aku "gak sempat" menikmati TV-nya, soalnya ternyata yang duduk di sebelahku adalah kakak kelasku yang sempat nyanyi bareng di ITB Voice Night, lebih seru ngobrolnya tho daripada acara TV-nya...


Kapan ya ke Jogja lagi...

"Walau kini kau t'lah tiada tak kembali...
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi...
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi...
Bila hati mulai sepi tanpa terobati..."
(KLa Project - Yogyakarta)

Sunday, December 28, 2008

Bukittinggi, I'm coming (again)!!

Finally, after long discussion with my family, we decide to have vacation at West Sumatra!! Horeee!!! :-)

At Day 1, with flight of GA 160, we took-off on time, and arrived at Bandara International Minangkabaru. Using rental car from Dhilla Auto Rental, we directly went to Bukittinggi. We stop by a very beautiful Lembah Anai Waterfall (& very suprising, since it is very near to the main road!) to take some photograph. After that, we stop by at Pandai Sikek store.

After travelling for 2 hours, we arrived at Bukittinggi, and directly went to Gran Malindo hotel. Just the same as before, the hotel is without aircon. But don't worry, you won't need the aircon at Bukittinggi! After lunch at a Kapau restaurant (which is far than our expectation :-( ), the rental car driver suggested that we go to Lake Maninjau via Kelok 44, so tomorrow we can go around Bukittinggi town. Okay....

After arriving at Embun Pagi, we continued to move to Lake Maninjau. Wow.... what a 'kelok'! (kelok = turning). We rarely found the similar contour at Java, the keloks sometimes very steep and the turning degree is almost 180 degree, maybe more (sometimes we called it "the nose of Petruk", since Petruk, one of the Punakawan Member in wayang story, has a very long nose). I think it's exagerating, but if you're not sure you have a very excellent driving skill, please don't ever try to driving at the keloks, it's very dangerous... Fortunately, the driver has excellent driving skill and he understand the road very well, so we have no problem. Every kelok is numbered, and I took photograph at Kelok 43 to prove that I was there, hehehe.

At little town of Maninjau, we didn't come to the lakeside, just watch from the distance. Althought it wasn't like the Toba Lake, but I was surprised to find some motels and guesthouse at the lake side, similar like ones at Poppy Lane, Kuta. We also bought some siluak fish, the specific small fish from the Maninjau Lake. Returning to Bukittinggi, the driver took us throught a different route, and suddenly we were at the base of Ngarai Sianok! Wowowow...

At dinner time, we go to Family Restaurant at Benteng area (near the Fort de Kock gate). When we paid the bill, surprisingly the Mamak who own the restaurant asked us, are we from near area? Wowowow.... how come he thought we were Minang-ers? We never speak Minang language! :-)

On Day 2, our first itinerary was to Fort de Kock and Budaya Kinantan mini zoo at Taman Bundo Kanduang. FYI, the real name of the Fort de Kock building was Sterreschans, which mean guardian star, and "Fort de Kock" actually was to mention the surrounding area of Sterreschans fort. General Baron Hendrik Markus De Kock, whose name was immortalized as the fort's name, was Dutch general who lead the troops who battle with Paderi people at 1825 (and actually the Dutch always called Bukittinggi town as Fort de Kock town, but the Dutch name finally dissapeared on Japan colonalism era). When we entered the gate, another surprise, where was the fort??? I expected we will found a big strong building, or at least the remain of that. But no, we didn't found one. We only found a kind of water reservoir, some canons, and trenchs. But the water reservoir was at the top of the hill (the hill's name was Bukit Jirek), so we assume that the fort maybe not a big building, but the Dutch just using the contour of the hill as fort to defend from the attack of Imam Bonjol, one of our great hero from West Sumatra. After that, crossing the street via Jembatan Limpapeh, we continued our tour to mini zoo, and the rental car picked us at the zoo gate.

Next destination : Jam Gadang! Last time I went to Bukittinggi (just click here), I only got chance to take photograph at Jam Gadang at night, since I was working for the gas station training. But now, we got plenty of time to take photograph of Jam Gadang, and I can make sure that we got the picture much better than before, since I can "trust" the person who take my picture this time!

After having lunch, we go to Taman Panorama. First destination : Lubang Jepang. It was a net of tunnels built and used by Japanese soldier as headquarter at Bukittinggi. The tunnel was made at 1942, but abandoned at 1945 when Japan surrendered to Allied at WW II. Before found at 1946 by the local villager, nobody ever guess that there was a man-made cave under the town! Bukittinggi district government already renovated the cave and added some additional facilities (such as stairs, lamps and also licensed guides) so we could enter the cave and go around it comfortably, and also can find out the history of the cave at the same time.

After the cave, we took some photograph of Ngarai Sianok. Once again, since this time I can trust the person who took my photo, the photograph is much much better than before. Have a look!

Satisfied from the scene of Ngarai Sianok, our driver suggested that if we still had some energy, we could go to Lembah Harau. Why not? So we continued our trip to Lembah Harau, via Payakumbuh (another big town of West Sumatra). According to some survey, Lembah Harau is a "hidden paradise" of West Sumatra. Well, they're not exagerrating. It was really a hidden paradise... the rock wall, the cascading waterfall, and the vegetation is so natural... and fortunately, we got a chance to see a rainbow at the waterfall!

Night was falling, and we're hungry. We decided to go to Kubang restaurant, who sell Martabak Mesir (Egyptian Martabak) and Roti Cane (Cane Bread). Kubang is the name of village at Payakumbuh, and famous for the martabak (and I still can't figured out, why it is call Martabak Mesir, since it didn't come from Egypt). And yes, the taste of martabak was much better than martabak Kubang I bought near my grandma's house at Bandung... and also the roti cane, it was great, just missing the curry...

Day 3, we check-out from the Gran Malindo Hotel, with our next itinerary to Sawahlunto via Solok. The driver suggested we go via Singkarak lake, so the scene will be beautiful. The lake is a very long long one, as far as the eyes see, it was lake, lake and lake. We also pass the Tanah Datar (=flat land) area, which is not flat at all... At Tanah Datar, we took photograph of an antique old mosque, which has gonjong roof (the bull's-horn-like roof specific to Minang traditional house). Nowaday, only a few mosque at West Sumatra who had gonjong roof, mostly they had rounded roof as influence of Middle East or Turkey culture. But we got information, West Sumatra has plan to build great central mosque (mesjid raya) at Padang who has gonjong roof. I guess it's a good plan, since it preserved the real culture of Minangkabau.

Arriving at Sawahlunto, we were a little bit confuse. We couldn't ask anyone where are the tourist destination, cause it was time of Shalat Jum'at. At last, we found the tourist destination : Lubang Mbah Soero. At first, we thought it was kind of cave for meditation or kind of that, but later we found out that Lubang Mbah Soero is one of the main attraction of Sawahlunto : coal mining! The mining was built at 1889, and abandoned at 1932 for many reason. At 2007, the mining was opened for tourism. Entering the Lubang Mbah Soero was not as comfort as entering the Lubang Jepang, since it was built for mining, and there were lot of water flowing thought the mining. But we also got a guide who was the former worker of PT Bukit Asam, the state company who owned the coal mining at Sawahlunto. There are complete information at Inbox Building about the Lubang Mbah Soero, or about the history of coal mining at Sawahlunto itself.

After Lubang Mbah Soero, we went to Musem Goedang Ransoem, which we saw old (and very big) kithen utensils used to cook for the mining worker, and it was continued as Dapur Umum (public kithen) at the independence war of Indonesia. We also took photograph of Mak Itam (Mr. Black), the locomotive sent from Train Museum Ambarawa to Train Museum Sawahlunto, to be used as tourist train from Sawahlunto to Muara Kelaban vv. They even put the flyer on Minang language 'Mak Itam, Salamaik Datang di Ranah Minang, Akhirnyo Pulang Kampuang Juo, Ambo Lah Taragak Bana Andak Basuo', which can be translated as : 'Mr. Black, welcome to Ranah Minang, finally you're back home, we were longing to see you'. I give two thumbs and salute for Sawahlunto government, they had prepared the town for the tourist seriously, one thing they still have to do is to promote them to the world!

At the evening, we arrived at Hotel Ambacang, Padang. The hotel was at renovation, but the renovation wasn't disturbing the guests. They had antique atmosphere, the building was old one, and the staff wearing uniform as if it was at colonialism era. The hotel was good enough, and you can find more information here.

Day 4, after took the breakfast, our first destination is rock of Malin Kundang. According to legend, Malin Kundang is a rebellious son, and his mother cursed him to become rock. Long long time ago, some people said the rock of Malin Kundang was stand still, as if he was really cursed by his mother. But right now, the rock is very low, some people said that Malin Kundang already repent and prostrated, ask for appologize and forgiveness from his mother.

Leaving pantai Air Manis where the rock of Malin Kundang stood, we went to Teluk Bayur. Remember the famous song from Erni Johan, "nantikanlah aku di Teluk Bayur..."? Well, since nowaday is the era of airlines, the passenger's ships from Padang to other port of Indonesia is very rare. But we can still watch the port's activities, since it was lot of ship waiting for docking at the port.

After watching the scene of Teluk Bayur, we were back to hotel for check-out. After having lunch at small restaurant Talago Surya at Jl. Taman Siswa (but the food's taste is much better than a big one!), we went to Adityawarman Museum. It was a cultural museum, as the collection showed the history, tradition and culture of West Sumatra people.

And then, at 18.00, with GA 165, we have to leave West Sumatra, the beautiful country and full of cultural attraction. See you, West Sumatra, can't wait to be back there soon...

Wednesday, March 05, 2008

Mendadak Dinas!!!

Seumur-umur gue kerja di tempat yang sekarang (tepatnya dah hampir 5 tahun), baru kali ini ngalamin dinas mendadak, super duper mendadak, luar biasa mendadak. Kenapa juga dinas mendadak harus ke Singapore... (bener-bener mengalahkan rekor "dinas mendadak" sebelumnya yang antara perintah dan tanggal keberangkatan jaraknya kurang dari 24 jam, dan kali ini kurang dari 12 jam...)

Hari itu hari Selasa, 26 Februari 2008. Pas sampe' kantor, tiba-tiba diriku dipanggil oleh pak Dirut, kirain aya naon, ternyata aku diminta untuk menggantikan beliau menghadiri seminar. Guess, seminarnya di mana? Di Singapore... masa' mau nolak?? :-) Pas aku tanya seminarnya kapan, ternyata jadwalnya tanggal 27 Februari 2008. Loh, itu kan berarti.... BESOK?!?!?! Oooooo..... berarti nanti malam aku harus berangkat ke Singapore?!?!?! Hah?!?!?! Oh God.... Astagfirullah.... Subhanallah... dan berbagai kata-kata lain yang sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah minta tolong cariin tiket dan hotel, aku ngibrit pulang untuk ngepak barang, terus balik lagi ke kantor untuk ambil tiket sama voucher hotel (sambil degdegan juga di jalan, soalnya hujan deras dan jalanan pastinya macet). Aji gile... selama ini dinas domestik kagak pernah sangat mendadak kaya' begini... kenapa juga sekali-kalinya dinas sangat mendadak terjadi pada my first overseas assignment???

Akhirnya, dengan GA 834, diriku berangkat ke Singapore. Sebenernya sih daku punya "cita-cita luhur", pengennya naik SQ, boleh donk sekali-sekali... tapi apa daya, "nasionalisme" mengalahkan segalanya, akhirnya aku memilih naik Garuda. Sebenernya ini bukan pertama kalinya aku ke luar negeri, dan juga bukan pertama kalinya aku ke Singapore, makanya aku berani berangkat mendadak, malam-malam, sendirian pula... gelo... Pas nunggu di ruang tunggu E2, kepikiran aja, udah berapa kali aku dinas domestik naik Garuda, dan sebenernya aku sangat jarang terbang malam dari Cengkareng, kecuali ke Yogya sama Denpasar. Suasana di ruang tunggu gak jauh beda sama di terminal F, karena isinya banyakan juga orang Indonesia, dan di penerbangan ke Yogya sama Denpasar kan banyak bule-nya juga. Pas dipanggil untuk boarding, baru aku sadar, iya ya, kali ini gue kan bukan mau ke Denpasar ato Yogya, tapi mau ke Singapura, pertama kali dinas keluar negeri, sendirian pula...

Begitu masuk pesawat, baru sadar, ada yang beda antara penerbangan domestik dan penerbangan internasional dengan Garuda. Pertama, di kursi ada bantalnya. Kedua, instead dikasih permen, pas dateng dikasih juice jeruk, yummm.... K'lo makan sih sebenernya sama, maksudnya sama aja dengan makanan waktu terbang ke Medan ato Makassar, malah gak bisa milih, menunya cuman ada 1 macam.

Mendarat di Changi, seperti biasa, ambil brosur sebanyak-banyaknya... Beda banget ama Indonesia, Singapore itu sangat informatif, mereka emang sangat niat dalam mempromosikan pariwisatanya. Udah gitu, berhubung masih menganut "aji pengiritan", jadi aku pergi dari airport ke hotel naik MRT, hehehe... padahal mendarat di Singapore udah jam 10.30 waktu setempat, dah malem bo. Setelah keluar di stasiun Lavender, ternyata hotelnya jauuuh.... mas-mas yang di loket MRT bilangnya "15 minutes walk", haa-aah... jadi dalam kondisi malam-malam, rada "buta" ama kondisi jalan, bawa-bawa koper (untung gak becek, dan di sana gak ada ojek...), akhirnya diriku "mendarat" dengan selamat di hotel. Waktu itu di Singapore hotel lagi penuh-penuhnya, jadi diriku kebagian hotelnya di 81 Elegance, deket Lavender Street. K'lo menurut internet, katanya di Bugis Vicinity, tapi itu teh kaya'nya lebih deket ke Little India gak seh? Teuing ah...

Keesokan paginya, dah lumayan segar. Dan mulailah perjalanan menyusuri kembali jalan yang tadi malam menuju ke stasiun MRT, mau ke tempat seminar di Hotel Marriot. Alhamdulillah, hotelnya persis di atas stasiun MRT, jadi jalannya gak jauh! Horeh! Setelah urusan pendaftaran selesai (yang mana ternyata daku kurang bawa duit pendaftaran, gara-gara pak Dirut salah baca formulir, hiks...), mbak-mbak panitianya ada yang sempet nanya : "nginep di mana?" Aku bilang di Little India, soalnya di Orchard hotel semua dah penuh. Terus dia nanya lagi : "ke sininya naik apa?" Naik MRT atuh Mbak, namanya juga ngirit.... Si Mbak kaya'nya sempet bingung, tapi komentar berikutnya adalah sebagai berikut : "pilihan yang bagus, soalnya jalanan sering macet!" (andaikan busway bisa seoptimum MRT...)

Di seminar selama 2,5 hari, ternyata orang Indonesia-nya banyak lho... mungkin 1/3 dari isi ruangan itu isinya orang Indonesia. Yang bikin rada-rada sungkan adalah pertanyaan "nginepnya di mana?". Meni malu, soalnya tidurnya di budget hotel, abis dapetnya itu sih (secara aku juga gak sempat cari sendiri, mana sempaaaaaat.....), sementara peserta Indonesia lainnya tidurnya di Marriot, atau Meritus Mandarin. Untung terbangnya naik Garuda, coba naik "budget airline" juga, kebayang peserta Indonesia lainnya pasti mikirnya ni' company niat gak seh ngirim pegawainya dinas keluar negeri... meni pengiritan pisan... Udah gitu sempet rada jiper juga, peserta lain kan memang job-desnya untuk pengembangan pembelajaran pekerja di setiap perusahaannya (dan isi seminarnya emang pas banget buat mereka), sementara kalau aku kan dari training provider dan consultation company, jadi menurutku sebenernya ada orang lain yang lebih pantas untuk ikut seminar ini. Tapi gak pa-pa, kita mah seneng aja, dikasih dinas keluar negeri, ketemu hal baru, dan pasti kepake koq... Dan sebenernya ada hikmahnya juga dapet nginep di budget hotel (yang untungnya bagus, k'lo cuman buat tidur ama mandi mah cukup banget!) dan bukan di Orchard, jadi sempat melihat juga "sisi lain" dari Singapore, eniwei, orang Singapore kan juga manusia...

Berhubung minggu depan perusahaanku ada acara lagi di Singapore (tepatnya bawa klien ke Singapore), jadi selain ikut seminar, aku juga punya "misi" untuk mengatur tour di Singapore-nya. Jadilah, selama 2 hari aku pulang malam terus, ketemu sama kenalan kami yang akan meng-arrange tour-nya. Tapi shopping mah gak ketinggalan... dah sampe' Orchard gitu loh... Rada nyebelinnya, aku dah sempet beli-beli di Border (toko buku), eh, pas di Seminar ada game ice breaking, terus karena aku ada dalam kelompok yang berhasil "memenangkan" games-nya, moderatornya ngebagiin voucher SGD 10 untuk belanja di Border! Huh, tahu gitu belanjanya ke Border ditunda dulu, lumayan khan... (jadi terpaksa balik lagi dech...)

Aku sendiri kadang gak mudheng, orang-orang Indonesia yang pada belanja ke Singapore itu beli apa ya? Mau beli baju? Mendingan ke ITC, lebih seru! Beli makanan aneh? Di supermarket Indonesia juga mulai banyak... Beli buku pun sekarang dah banyak toko buku di Indonesia yang jual buku dan stationary impor, tapi memang banyak buku yang (kaya'nya) gak bakalan masuk ke Indonesia. Bahkan barang-barang handicraft kaya' benang wool ama jarum rajut pun sekarang gak susah ditemukan di Indonesia (dan sekarang banyak juga benang-benang rajut bikinan Bandung yang sama lucunya dengan benang impor), tapi tetep aja, selalu ada barang yang nggak ada di Indonesia. Jadilah kemarin itu aku rada "kalap", ngeborong majalah kristik, abis di Indonesia itu kan barang langka, dan k'lo pun ada, edisinya udah lewat 2 tahun... Sempet juga ke Spotlight dan menemukan 1/3 isi toko itu terdiri dari benang wool, buku kristik, benang sulam, jarum rajut, dan barang-barang handicraft lainnya... rasanya seisi toko pengen dibeli semua....

Oh iya, ada 1 barang lagi yang agak susah carinya di Indonesia (sebenernya gak susah amat, tapi jarang dapat yang bagus), tapi di Singapore ada dan lumayan banyak : Eeyore... di mana-mana ada Eeyore : di 7-11, di Takashimaya, di Watsons, di Mustafa Center dan bahkan di airport!

Pas pulang, berhubung barang bawaan dah banyak (yah, namanya juga belanja... dan salah bawa koper, kopernya terlalu kecil, hehehe...), terpaksalah diriku membatalkan "niat mulia" untuk pergi ke airport naik MRT, dan akhirnya naik taksi. Eh, ternyata supir taksinya pernah jadi supplier untuk salah satu kilang minyak dengan kapasitas terbesar di Indonesia, jadi nyambung banget ngomongnya... saking asiknya ngobrol, sampe' doi sempet salah belok. Dan akhirnya, setelah sekali lagi terbang dengan Garuda Indonesia (dengan layanan yang... yah, standar lah!), aku mendarat dengan selamat di tanah air...

Tuesday, September 25, 2007

Manado, Kota Tinutuan

Belum ada seminggu mendarat dari Banda Aceh, udah harus berangkat lagi ke Manado, eleuh-eleuh... Tapi ya gimana lagi, demi tugas (tepatnya demikian...), harus berangkat deh.

Hari Minggu, perjalanan dimulai dari bandara Cengkareng terminal 1 (again!). Kali ini terbangnya naik Batavia, dan katanya direct Jakarta-Manado, nggak pake' mampir-mampir. Pas nimbang bagasi, alamak, kelebihannya 113 kg! (again!) Tapi ternyata ongkos kelebihan bagasi di Batavia gak semahal waktu Lion ke Banda Aceh (padahal jarak kan kira-kira sama...), jadi kami cuman bayar sekitar 1,8 juta (dan masih tetap lebih mahal daripada tiket sekali jalan Jakarta-Manado, even pake' Garuda sekalipun...).

Untungnya, penerbangannya tepat waktu. Ternyata kita naik pesawat Airbus A319 (yang tidak segede Airbus 330, cuman lebih gede sedikit daripada Boeing 737 seri 400). Pesawatnya lumayan enak, jarak antar kursi cukup lebar, cukup buat leyeh-leyeh ... dan yang penting, masih dapet kue kotak (biarpun cuman roti dan lemper, tapi kan nggak cuman aqua gelas doank!). Dan ternyata, memang kita terbang direct dari Jakarta ke Manado, tanpa transit. Pilotnya cukup informatif dengan memberi informasi rute penerbangan, ditambah sedikit keterangan " di atas Kalimantan cuaca berawan dan sangat mungkin terjadi goncangan-goncangan kecil..." (walaupun goncangannya cukup sering, tapi ternyata nggak terlalu parah kok...)

Mendarat di Manado, ternyata bandara Sam Ratulangi sudah jadi bandara yang canggih dan modern (ditandai dengan banyaknya garbarata di mana-mana). Dari bandara Sam Ratulangi menuju hotel Sahid Kawanua kita menggunakan taksi. Di sana ternyata taksi nggak terlalu ramai, dan walaupun dilengkapi dengan argo, tapi harus pake' "argo mulut" alias tawar-menawar (macam bajaj saja!). Dan ternyata hotelnya terletak persis di depan kantor Pertamina Cabang Manado, jadi kalau mau ke Pertamina, tinggal kepleset sajah...

Berhubung perjalanan dari bandara menuju ke hotel kita melintasi daerah yang agak berbukit-bukit, dalam bayangan kita Manado hawanya agak dingin. Ternyata, salah besar... Hotelnya itu cuman sepelemparan batu dari pantai, dan hawanya luar biasa panas... panasnya makin terasa karena matahari bersinar terik, dan jarang ada angin, hhh.... Makanya selama 3 hari di sana, jalan-jalannya baru setelah matahari terbenam, selain menunggu setelah buka puasa dan shalat Maghrib, juga sambil nunggu hawanya lebih bersahabat.

Mumpung udah di Manado, aku mencari tahu tentang tempat wisata di sana. Ternyata k'lo di dalam kota, nggak ada tempat wisata yang spesifik, dan tempat tujuan wisata yang disebut ya selalu B yang satu itu : BUNAKEN (yang mana masih harus naik kapal sekitar 30-45 menit dari pelabuhan...). Di kota Manado, adanya malah mall dan pertokoan di Jl. Boulevard (yang katanya merupakan hasil reklamasi pantai), dan isinya mah sama kaya' mall di Jakarta. Tapi wisata kulinernya lumayan lengkap... dan ternyata di kota Manado tidak susah mencari makanan halal, masih banyak rumah makan Padang, Cotto Makassar dan ikan bakar di mana-mana (dan jaraknya dari hotel juga gak jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki). Unfortunately, lagi-lagi karena bulan puasa, jadi belum sempat mencicipi Tinutuan alias Bubur Manado yang tersohor itu, karena katanya adanya cuman di pagi hari sampai tengah hari (wah, harus balik ke Manado lagi nih...).

Hari Senin, mulailah kita siap-siap di kantor Pertamina Cabang Manado. Ternyata di dalam kantornya lebih "sauna" daripada di luar, karena AC sentralnya tidak dinyalakan (tepatnya, AC cuman dinyalakan di ruangan-ruangan, karena setelah restrukturisasi di Pertamina Penjualan, kantornya yang begitu besar jadi kosong, pegawai organiknya tinggal beberapa orang, jadilah harus berhemat listrik...). Untung Kepala Cabangnya berbaik hati untuk menambah 1 AC lagi di ruangan training, supaya ruangannya nggak terlalu panas.

Malamnya, kami makan di resto seafood di Malalayang. Kata yang nganterin, jenis ikannya adalah ikan karang. Tapi pas kita konfirmasikan sama mbak-mbak pelayannya, dia aja nggak tau itu ikan jenis apa.... Ikannya besar, kita aja cuman makan sepotong dari badannya (lengkap dengan sambal dabu-dabu dan sayur pepaya, slurp!) udah kekenyangan.... Di luar, sempat kelihatan juga ada orang yang jalan-jalan di pantai mencari ikan dengan lampu TL, dan juga terlihat lampu-lampu dari pantai yang direklamasi, cantiknya...

Hari Selasa, training dimulai. Waktu kita mendata peserta, ternyata yang puasa mencapai 50%, wow... untung konsumsinya sudah disiapkan dalam kotak, jadi bisa dibawa pulang dengan mudah. Sempet 2x kebagian mati lampu, wah, wah... Dan walaupun AC-nya sudah ditambah satu, tapi ternyata tetep aja hawanya panas. Untungnya peserta terlihat cukup aktif, jadi instrukturnya cukup senang.

Jam 11.30, aku harus meninggalkan 2 instrukturku itu kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke hotel untuk mengambil bagasi yang dititipkan di sana, aku menyempatkan diri memotret pal yang menandai titik nol kota Manado (yang ternyata pal-nya tersembunyi di dekat lampu lalu lintas di perempatan jalan, dekat pagar gedung, nyaris tak terperhatikan...). Dari hotel, tadinya mau langsung ke Bandara, tapi setelah iseng-iseng tanya sama pak supir di mana tempat beli oleh-oleh, akhirnya aku mampir sebentar ke toko oleh-oleh, beli kipas Krawang.

Di Bandara Sam Ratulangi, what a surprise! Waktu cek in di counter Garuda, ternyata kalau member GFF Silver di bandara ini ada lounge-nya. Walaupun nggak pakai AC (dan snack-nya nggak bisa dimakan karena lagi puasa), tapi lumayan banget, nggak perlu rebutan kursi dengan penumpang lain di luar. Sengaja pulang ke Jakarta milih naik Garuda, biar merasakan transit di Makassar... Waktu masuk ruang tunggu, tiba-tiba petugas bandara memberi pengumuman : "Para penumpang Garuda dengan tujuan Makasar, Denpasar dan Jakarta..." Ooo... masa' gue mesti transit di Denpasar lagi??? Toloooong..... Tapi ternyata, setelah di dalam pesawat, flight attendant memberi pengumuman yang lebih jelas, bahwa penerbangan ini adalah tujuan Jakarta yang transit di Makasar, thanks God.... (ternyata penumpang yang ke Denpasar itu pindah pesawatnya di Makasar).

Waktu transit di Makasar, proses transitnya jauuuuuh lebih nyaman daripada di Polonia. Tidak ada antrian panjang. Jadi masih sempat liat-liat suvenir, walaupun akhirnya nggak beli apa-apa. Dan akhirnya, setelah terbang kurang lebih 3,5 jam, akhirnya liat Cengkareng lagi.... (dan entah kenapa, akhir-akhir ini cuaca Jakarta kurang begitu bersahabat, sangat berawan, untung pendaratan tidak ada masalah....)

Friday, September 21, 2007

Semalam di NAD

Pergi ke Aceh?? Gak pernah kebayang sebelumnya... apalagi kalau dengar cerita mengenai syariah Islam yang ditegakkan dengan sangat ketat, wah, wah, wah....Tapi ya begitulah, setelah sukses memberangkatkan 2 orang trainer ke wilayah Indonesia Timur (yang ternyata "nggak segitunya"), akhirnya tiba juga giliran para operator SPBU dari ujung Barat Indonesiauntuk mendapatkan training.

Berangkat naik Lion, waktu cek-in di Cengkareng 2 rekan perjalananku dengan gagah perkasanya mengangkat kardus-kardus berisi peralatan training (ceritanya sih mau ngirit biaya portir). Ehhh, pas ditimbang, ternyata 2 dari 5 kardus yang kami bawa itu beratnya 60 kg! Kata mas-mas yang jaga di counternya Lion, kasian kan yang angkat, jadi harus dikasih uang kopi, yah, tetep aja.... Setelah diitung-itung, kelebihannya aja 113 kg (padahal kita udah punya allowance sampe' 90 kg, buseeet....), jadi mesti bayar sekitar Rp 2,5 jt! Ya ampun, lebih mahal dari harga tiketnya...

Nunggu di ruang A-1, maaaak, pinuh pisang! Pasti ada yang delay... Akhirnya kita memutuskan untuk nunggu di luar. Di luar, pengumumannya agak kurang terdengar, sampe takut juga, jangan-jangan udah kelewat panggilannya. Dan ternyata, seperti yang sudah diduga, delay 45 menit (biasa....).

Perjalanan ke Aceh ditempuh dalam waktu 4 jam (sebenernya sih 3 jam, yang 1 jam untuk transit di Medan). Naik Lion?? Hhhh.... jarak antar tempat duduk cuman 20 cm!! Tapi gimana, for the sake of penghematan, gimana lagi... Akhirnya, dengan posisi kaki terjepit, dan duduk terjepit di 11E (dan terpisah dari 2 temanku yang lain), diriku menempuh perjalanan selama 3 jam di udara. Udah gitu, selama di pesawat, flight attendantnya "lumayan" cerewet, dikit-dikit ada pengumuman, tapi pengumumannya gak tuntas. Masak waktu turun di Medan, sama sekali gak ada pengumuman tentang yang transit untuk ke Aceh, jadi seolah-olah kita ini pesawat jurusan Jakarta-Medan, terus yang mau ke Aceh gak jelas, akan naik pesawat yang sama, atau pindah pesawat. Yang parahnya, pesawat belum mendarat dengan sempurna, masa' udah terdengar ada HP yang bunyi!! Please donk! Di Bandara Polonia, gak kalah kacau, antrian transit panjang banget, sampe' pada waktu kita masuk ruang tunggu, masih ngantri di X-Ray kedua, ehhh, udah dipanggil naik ke pesawat! Gak sempet window shopping neh!

Begitu mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, liat kiri-kanan dulu, kok gak pada pake' kerudung ya? Oh, mungkin belum lewat "batas suci", hehehe. Di Bandara, setelah dijemput sama orang Pertamina (dan yang mana barang-barang kita yang begitu banyak ternyata cukup dalam 1 bagasi Kijang Innova... memang, Kijang tiada duanya...), kita ke kantor Pertamina Cabang Pemasaran Banda Aceh. Begitu memasuki batas kota, langsung deh, kerudungnya dipake (hahaha!). Setelah koordinasi kiri dan kanan, akhirnya kita berangkat ke Hotel Sulthan (konon satu-satunya hotel bintang 3 yang tersisa setelah tsunami, dan ternyata lumayan deket dari kantor Pertamina).

Setelah puas leyeh-leyeh di hotel, tibalah saatnya untuk ngabuburit. "Cilaka"nya, tadi pagi kan sahurnya masih ikut waktu Jakarta, bukanya kan harus ikut waktu setempat, which is 45 menit lebih lambat daripada Jakarta! Alamak! Jadilah, ngabuburit sore itu kita jalan-jalan ke Mesjid Baiturahman (yang ternyata nggak terlalu jauh dari hotel, jalan kaki paling 20 menit...). Tadinya sih mau cari ta'jil gratisan di mesjid, tapi kok gak ada tanda-tandanya ya?? Jam 18.00 WIB (di mana di Jakarta sudah waktu buka), masih terang donk... Akhirnya jam 18.40, kira-kira 5 menit sebelum buka, kita ber-3 udah nongkrong di tukang es campur di depan mesjid Baiturahman. Ditunggu-tunggu, kok nggak ada bunyi beduk atau adzan... Ternyata penanda waktu berbuka puasa-nya nggak pake' beduk, tapi pake' sirine, dan lama juga, ada kali 2-3 menit bunyi sirinenya sebelum adzan.

Balik ke hotel, shalat, terus jam 9 baru cari makan malam. Berhubung di deket hotel tidak ada yang jualan mie Aceh, akhirnya masuk aja ke tukang jualan sate Lamongan. Ternyata pas pesen soto, sotonya more spicy daripada yang di Jawa... Tapi suasananya emang... gimana gitu ya, mau berkeliaran sendiri rasanya nggak nyaman, apalagi pasti ketahuan bukan orang lokal (belum lagi k'lo pas apes, ditangkap gara-gara pergi sama bukan muhrimnya, wah, jangan sampe' deh...)

Besok paginya, sahur di hotel. Lumayan banyak pilihan, karena hotelnya nyediain buffet, dan yang sahur juga lumayan banyak, serasa jam breakfast aja. Pagi-pagi, tadinya dah SMS minta dijemput dari Pertamina, tapi kok gak dijawab-jawab ya? Akhirnya dengan gagah berani, kita jalan kaki ke Pertamina Cabang Banda Aceh (which is ternyata jauh, bo.... puasa gitu loh...), dan begitu sampai di Cabang Banda Aceh, untungnya mereka belum jadi ngirim mobil untuk menjemput....

Pembukaan training, biasa-biasa aja. Pesertanya juga keliatan gak bersemangat, entah karena bulan puasa, atau karena dasarnya emang begitu (padahal instrukturnya sudah cukup bersemangat...). Waktu break (yang tanpa coffee, karena lagi bulan puasa), aku turun ke lapangan parkir, khusus untuk memotret pompa dispenser model super jadul, seperti yang ada di foto sebelah.

Jam 12, aku meninggalkan 2 trainerku itu untuk kembali ke Jakarta. Begitu masuk airport Sultan Iskandar Muda, serasa udah sampe' di Medan.... langsung deh, kerudungnya dicopot (kembali ke dunia nyata, ehm...). Pulang ke Jakarta naik Garuda, wah, beda banget dari waktu berangkatnya. Jarak antar tempat duduknya lebih lebar, dapet konsumsi (yang bisa dibawa pulang, karena puasa gitu loh...), dan yang lebih menyenangkan lagi, antrian transitnya di Bandara Polonia gak separah Lion, jadi masih sempat mampir toko untuk beli Bolu Meranti (abis dari Aceh nggak bisa bawa apa-apa, karena gak jelas oleh-olehnya apa, masa' mau bawa ganja???). Udah gitu flight attendantnya gak terlalu cerewet, pengumuman seperlunya aja, dan cukup jelas (terutama buat penumpang transit, jadi jelas kita mesti ngapain). Memang, naik Garuda itu emang enak....

Mendarat nih di Cengkareng. Pas masih di atas, wah, syerem.... cuacanya berawan, entah jarak pandangnya berapa, pokoknya daratannya seperti tidak kelihatan. Udah gitu ada anak kecil yang rewel, hhh, suasananya jadi (makin) mencekam. Namun akhirnya kita mendarat dengan selamat di Cengkareng (dan paling tidak penumpang Garuda masih lebih "sopan", nggak terlalu banyak terdengar bunyi HP waktu pesawat belum berhenti di landasan...). Di ruang pengambilan bagasi, ternyata banyak counter-counter ta'jil gratis, dan alhamdulillah, terdengar adzan Maghrib... (karena tadi sahurnya di Aceh, jadi puasanya di"korting" 45 menit...)

Monday, July 31, 2006

Gift from Garuda Indonesia

Bulan Juli yang lalu aku dapet "rejeki" dari Garuda. They upgraded my flight seat from Economy to Executive Class! Dan kejadian ini bukan cuman terjadi 1x, tapi 2x. K'lo bayar sendiri, mana mungkin diriku duduk di Executive Class (kecuali kepepet, tentu saja), apalagi untuk penerbangan dengan durasi kurang dari 1 jam, belum sempat menikmati indulgence di Executive Class, pesawatnya udah keburu turun...

Kejadian pertama, penerbangan Semarang-Jakarta tanggal 9 Juli 2006 jam 18.10. Hari itu sebenarnya sudah diwarnai dengan berbagai ketidaknyamanan di bandara A. Yani Semarang. Mulai dari bandara yang lagi direnovasi, nyaris ditolak masuk Exec Lounge yang dijaga oleh penjaga pintu yang amat sangat tidak kooperatif (padahal untuk penumpang Garuda dan pemegang Gold Credit Card, sebenarnya bisa langsung masuk ke Garuda Lounge!), ditambah ternyata pesawatnya delay 30 menit. Sempet ngobrol sama seorang Ibu di Garuda Lounge, bahwa beda antara Economy dan Executive Class itu cuman handuk panas dan jus jeruk, dan berhubung si Ibu duduk di Executive Class dan suaminya duduk di Economy, beliau berjanji akan membelikan jus jeruk sebotol untuk suaminya sebagai kompensasi. :) Lah kok tiba-tiba pada waktu boarding ujug-ujug boarding passku ditukar dan aku disuruh duduk di Executive Class.... Sempet terkejut-kejut, gak percaya dan bolak-balik nanya ama ground crew-nya Garuda, apa yang sebenarnya terjadi? Katanya sih karena pesan tiketnya dengan Garuda Frequent Flyer. Ohh... Jadilah diriku menikmati jus jeruk dan handuk panas seharga Rp 250 rebong, for free (of course!).

Kejadian kedua, penerbangan Jakarta-Solo tanggal 27 Juli 2006 jam 09.30. Semalam sebelumnya, karena Eyang di Solo meninggal dan kami harus terbang ke Solo, kami sudah booking 2 tiket Ekonomi (yang mana itu 2 seat terakhir!). Ceritanya kami sudah mengenyangkan diri di Exec Lounge (siap-siap untuk tidak makan siang, karena kami harus menghadiri pemakaman Eyang). Lah kok pas boarding, ujug-ujug ground crew-nya bilang bahwa tiketku diupgrade ke Executive Class! Ohh... rejeki nomplok lagi. Ya sudah, akhirnya diriku dan adekku menikmati (kembali) indulgence di Executive Class. Hmmm... yummy...