Thursday, June 28, 2012

Kota Lama Yogyakarta, Kota Paling Indonesia

Mencari sesuatu hal yang paling Indonesia ternyata susah-susah gampang. Ketika kita membicarakan sebuah produk budaya Indonesia, jika ditelusuri hingga ke akarnya ternyata banyak produk budaya Indonesia yang merupakan hasil serapan dari budaya bangsa-bangsa lain di dunia, termasuk di antaranya bahasa, tari-tarian, bahkan batik yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya non-benda milik bangsa Indonesia. 

Namun akhirnya saya menemukan sebuah hal yang menurut saya sangat Indonesia, yaitu Kota Lama Yogyakarta. Kota Lama Yogyakarta merupakan salah satu kota tua di Indonesia yang dirancang dengan sangat jenius, berlandaskan falsafah kehidupan masyarakat Jawa. Berbeda dengan kota-kota tua di Indonesia yang umumnya dirancang oleh pemerintah Hindia Belanda sebelum masa kemerdekaan, tata letak Kota Lama Yogyakarta merupakan hasil rancangan Sultan Hamengkubuwono I, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Kota Lama Yogyakarta membentang dari selatan (Panggung Krapyak) sejauh 7 km ke arah utara (Tugu Yogyakarta), yang dihubungkan oleh poros imajiner, yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Tugu, Keraton Yogyakarta dan Pantai Parangtritis. Hampir semua wilayah atau bangunan asli di sepanjang titik tersebut memiliki makna. Secara sederhana, banyak yang menafsirkan bahwa Tugu Yogyakarta merupakan perwujudan dari lingga yang melambangkan laki-laki, Panggung Krapyak dianggap perwujudan yoni yang melambangkan perempuan,  dan Keraton dianggap badan jasmani manusia yang berasal dari keduanya. Jika makna dari seluruh bagian kota lama ini dirangkaikan, akan menyiratkan falsafah “Sangkan Paraning Dumadi” (dari mana manusia berasal dan ke mana manusia akan kembali). Dengan falsafah yang sangat dalam inilah, maka tata letak Kota Lama Yogyakarta diakui sebagai tata letak kota terbaik di dunia.

Untuk melihat filosofi Sangkan Paraning Dumadi secara komprehensif, penelusuran dapat dimulai dari Panggung Krapyak. Panggung Krapyak merupakan sebuah bangunan 2 lantai yang terbuat dari bata merah berlapis semen cor setinggi 10 meter, dan dahulu berfungsi sebagai menara pandang sekaligus tempat berburu. Wilayah di sekitar bangunan ini semula dikenal sebagai Hutan Krapyak. Poros Panggung Krapyak hingga Keraton menggambarkan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu hingga dewasa. Di sisi utara Panggung Krapyak terdapat Kampung Mijen, yang dapat dianggap sebagai lambang benih manusia sejak masih di dalam kandungan. 
Panggung Krapyak
Bergerak sejauh 2 km ke arah utara, terdapat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Keraton dapat dimaknai sebagai lambang jasmani manusia. dengan Sultan sebagai lambang jiwa sejati yang hadir ke dalam badan jasmani. Kata “Keraton” berasal dari kata “ke-Ratu-an”, yang berarti tempat Ratu (istilah bahasa Jawa halus untuk Raja). Seperti layaknya sebuah istana, Keraton memiliki dua fungsi, yaitu sebagai pusat pemerintahan sebuah kerajaan, sekaligus sebagai tempat tinggal Raja dan keluarganya. Kompleks bangunan keraton dibangun antara tahun 1755-1756 dengan arsitek Sri Sultan Hamengkubuwono I (HB I), pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keraton Yogyakarta mulai digunakan pada tanggal 7 Oktober 1756, dan menjadi istana resmi Kesultanan Yogyakarta sampai dengan tahun 1950, ketika pemerintah Republik Indonesia menjadikan wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Paku Alaman sebagai sebuah daerah berotonomi khusus setingkat provinsi dengan nama Daerah Istimewa Yogyakarta.

Bagian depan Keraton Yogyakarta
 Jika ditinjau dari segi arsitekturnya, bangunan-bangunan di Keraton Yogyakarta merupakan perwujudan arsitektur Jawa tradisional, dengan sedikit sentuhan gaya Eropa dan Cina di beberapa sudut. Setiap bagian dari Keraton, termasuk lokasi, bangunan, patung, relief, bahkan jenis tumbuhan, memiliki filosofi yang mendalam, melambangkan berbagai aspek kehidupan manusia menurut cara pandang masyarakat Jawa tradisional. Salah satunya adalah Regol (pintu gerbang) Danapertapa yang dikawal oleh sepasang patung Dwarapala bernama Cinkorobolo di sebelah kanan (perlambang kebaikan) dan Bolobuto di sebelah kiri (perlambang kejahatan).Sepasang Dwarapala ini bermakna bahwa manusia harus dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat. Contoh lainnya adalah sepasang Waringin Sengker (Beringin Kurung) yang terletak di alun-alun utara yang bernama Kyai Dewandaru dan Kyai Janandaru, kedua pohon beringin ini melambangkan dualisme antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara rakyat dan pemimpin, serta antara manusia dan sang pencipta. Demikian pula pohon sawo kecik yang berada di dalam kopleks Keraton, sawo kecil memiliki makna “sarwo becik” dalam bahasa Jawa, yang berarti manusia harus hidup dengan penuh kebaikan.
Dwarapala di Keraton Yogyakarta
Dari Keraton menuju Tugu akan melalui jalan yang lurus (Jl. Ahmad Yani-Jl. Malioboro-Jl. Pangeran Mangkubumi). Jalan yang lurus ini dapat diartikan sebagai proses manusia menuju kesempurnaan melalui mendekatkan diri dengan Sang Pencipta, di mana di kiri-kanannya penuh dengan godaan. Godaan-godaan ini disimbolkan oleh Pasar Beringharjo, Gedung Kepatihan,  serta bangunan-bangunan buatan pemerintah kolonial Belanda (benteng Vredeburg dan Gedung Agung). Pasar Beringharjo melambangkan godaan duniawi secara fisik berupa barang-barang mewah, perhiasan, makanan lezat, wanita cantik atau lelaki tampan. Gedung Kepatihan merupakan simbol godaan duniawi berupa kekuasaan. Sedangkan  Benteng Vredeburg dan Gedung Agung yang ditambahkan kemudian ditafsirkan sebagai godaan berupa pengaruh asing.
Benteng Vredeburg
Khususnya Jalan Malioboro, sejak pertama kali jalan ini dibangun oleh Sultan Hamengkubuwono I bersamaan dengan pembangunan Keraton Yogyakarta, kawasan ini merupakan pusat perdagangan di Yogyakarta. Terdapat beberapa dugaan mengenai nama “Malioboro”, salah satunya adalah Malioboro berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, dikarenakan jalan ini biasanya penuh dengan karangan bunga saat sedang ada acara di keraton. Sumber lain mengatakan bahwa nama “Malioboro” berasal dari kata Maliya saka Bara atau Mulia dari Pengembaraan. Apakah kemuliaan dari pengembaraan yang dimaksud adalah pengembaraan manusia dalam mencari kemanunggalan dengan Sang Pencipta, Wallahualam.

Tugu Yogyakarta yang merupakan bagian dari falsafah “Sangkan Paraning Dumadi” ini bukanlah tugu yang kita kenal sekarang. Tugu yang asli setinggi 25 meter berbentuk silinder (gilig) dengan puncak berbentuk bulat (golong), sehingga sering disebut Tugu Golong-Gilig. Tugu ini bermakna “Manunggaling Kawulo Gusti”, atau bersatunya Sang Pencipta dengan mahluknya. Di masa lalu ketika belum ada bangunan, dari singgasana Sultan di Siti Hinggil Keraton, Sultan dapat memandang Gunung Merapi sekaligus puncak tugu yang berbentuk golong.  Sebagian ahli berpendapat bahwa jalan poros Keraton sampai Tugu ini dapat diartikan sebagai simbol kesempurnaan raja dalam proses kehidupannya, yang dilandasi dengan keimanannya kepada Sang Pencipta, serta kesatuan tekad dengan rakyatnya (Tugu Golong-Gilig). Namun banyak yang mengartikan tugu ini sebagai semangat persatuan antara rakyat dan penguasa (dalam hal ini Kesultanan Yogyakarta) untuk melawan penjajah Belanda. Sayangnya, tugu yang asli rusak akibat gempa dahsyat pada tanggal 10 Juni 1867. Setelah terbengkalai kurang lebih 20 tahun, pemerintah kolonial Belanda membangun tugu yang baru dengan bentuk yang kita kenal sekarang. Tugu setinggi 15 meter ini dinamakan De Witt Paal atau Tugu Pal Putih.
Tugu (Pal Putih) Yogyakarta
Setelah memahami makna dari tata letak Kota Yogyakarta yang menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak lahir hingga mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, saya rasa tidak berlebihan jika Kota Lama Yogyakarta dianggap sebagai salah satu produk bangsa Indonesia yang begitu jenius, karena mampu mengintegrasikan antara tata letak kota dengan falsafah kehidupan yang begitu luhur. Bagi saya, Kota Lama Yogyakarta dapat dianggap sebagai salah satu hal paling Indonesia yang pernah saya temukan dan rasakan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita melestarikan peninggalan-peninggalan masa lalu di kota ini dan kota-kota lainnya, sebagai bekal dan pelajaran bagi kehidupan bangsa Indonesia di masa mendatang.


Disertakan pada Lomba Blog Paling Indonesia dari http://angingmammiri.org/  
 

Friday, June 15, 2012

Menelusuri Jejak Akhir Majapahit di Candi Cetho



Candi Cetho terletak di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada ketinggian 1496 meter di atas permukaan laut. Dalam bahasa Jawa, kata ‘cetho’ berarti jelas. Nama ini diberikan pada dusun tempat candi ini berada, karena dari tempat ini kita dapat melihat pemandangan ke berbagai arah dengan jelas. Bersama Candi Sukuh, Candi Cetho merupakan obyek pariwisata andalan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Candi Cetho merupakan kompleks bangunan yang dibuat pada lahan bertingkat. Dari ciri-ciri berupa lingga dan lambang surya Majapahit yang ditemukan di Candi Cetho, diketahui bahwa candi ini merupakan candi  agama Hindu dan berasal dari abad ke-15, kurang lebih pada masa akhir pemerintahan Majapahit. Candi ini pernah dipugar pada tahun 1975-1976, dan hasilnya adalah candi yang dapat dilihat pada saat ini. Hingga hari ini, Candi Cetho masih digunakan sebagai tempat ibadah oleh penduduk sekitar candi yang beragama Hindu, serta dijadikan tempat meditasi bagi para penganut kepercayaan Kejawen.

Memasuki kompleks Candi Cetho, akan ditemukan banyak keunikan candi ini yang tidak ditemukan pada candi-candi Jawa Tengah pada umumnya. Keunikan pertama yang ditemui adalah gapura besar berbentuk candi bentar, serupa dengan gapura kompleks candi di Jawa Timur. Saat mendaki dari loket tempat membeli karcis menuju gapura besar tersebut, kita akan menemui beberapa arca. Berbeda dengan arca dwarapala yang biasa menyambut di bangunan-bangunan tradisional, arca yang menyambut kita sebelum gerbang Candi Cetho memiliki bentuk yang berbeda, dengan pembuatan yang kurang halus dan bergaya primitif. Dari gaya serta kehalusan pembuatan arca tersebut, para ahli menduga bahwa arca beserta kompleks bangunan Candi Cetho tidak dibuat oleh para pekerja dan seniman istana, melainkan oleh para penduduk dari desa sekitar candi.

 Melangkahkan kaki memasuki gapura besar, dari teras pertama terlihat bahwa Kompleks Candi Cetho terletak pada lahan berteras-teras, sehingga bentuknya menyerupai pundek berundak. Jumlah total teras ketika candi ini ditemukan adalah 14 teras, namun setelah pemugaran tahun 1976 hanya tersisa 9 teras. Masing-masing teras dibatasi oleh tembok batu dan memiliki gapura. Semakin tinggi terasnya, maka pintu gapuranya semakin sempit. Menurut salah satu juru kunci Candi Cetho, teras yang bertingkat-tingkat ini melambangkan perjalanan menuju nirwana, semakin tinggi tingkatannya maka tingkat kesulitan untuk mencapainya pun semakin tinggi.

Obyek yang menjadi primadona di Candi Cetho adalah tataan batu mendatar di permukaan tanah teras ketiga, yang menggambarkan simbol phallus (simbol kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dan kura-kura raksasa. Berdasarkan interpretasi para ahli, phallus merupakan simbol penciptaan manusia, sedangkan kura-kura merupakan simbol penciptaan alam semesta. Obyek lain yang juga menarik adalah jajaran batu yang memuat relief kisah Sudhamala di teras keempat. Kisah Sudhamala adalah kisah pewayangan yang mendasari upacara ruwatan, berkisah tentang Sadewa yang berhasil merawat Uma (istri Batara Syiwa) yang dikutuk menjadi Durga. Dari keberadaan lambang phallus, kura-kura dan relief Sudhamala, maka para ahli menduga bahwa Candi Cetho dibangun dengan tujuan untuk upacara ruwatan.


 Naik terus menuju teras tertinggi melalui gapura-gapura yang semakin sempit, di teras kedelapan terdapat 2 buah arca yang diletakkan di dalam pondok kecil. Masyarakat setempat mempercayai bahwa kedua arca ini adalah perwujudan Sabdopalon dan Nayagenggong, abdi sekaligus penasehat spiritual Prabu Brawijaya V, raja terakhir dari kerajaan Majapahit. Sedangkan di teras kesembilan terdapat 2 buah arca yang diletakkan dalam pondok kecil. Arca yang terletak di sisi utara berbentuk lingga, sedangkan arca yang terletak di sisi selatan dipercaya merupakan arca Prabu Brawijaya V dalam wujud Mahadewa. Arca-arca di teras kedelapan dan kesembilan ini tidak sehalus arca yang ditemukan di candi-candi Jawa Tengah, Jawa Timur atau Bali, namun memberikan ciri khas tersendiri.


Di teras tertinggi, terdapat bangunan batu berbentuk punden berundak, yang diberi pintu teralis yang terkunci. Di dalam bangunan tersebut terlihat sebuah bangunan batu persegi empat yang ujungnya terlihat dari luar. Pengunjung boleh masuk ke dalam bangunan tersebut untuk berdoa atau bermeditasi di dalamnya, dengan minta izin kepada juru kunci. Di dalam bangunan, akan terlihat bahwa bangunan batu persegi empat yang ada di dalamnya diberi kain merah putih mengelilingi keempat sisinya. Agar doanya terkabul, juru kunci akan minta pengunjung untuk mengelilingi bangunan batu tersebut sebanyak tiga kali sebelum memanjatkan doa.


Candi Cetho merupakan sebuah cagar budaya sekaligus obyek wisata yang menarik untuk dikunjungi karena keunikannya. Walaupun letaknya cukup jauh dari Kota Surakarta sebagai kota besar terdekat (kurang lebih 40 km), namun akses menuju ke sana cukup mudah, karena tersedia angkutan umum menuju ke Desa Cetho. Bagi yang membawa kendaraan sendiri, tersedia lahan parkir. Tiket masuk ke candi ini pun cukup murah, untuk wisatawan domestik Rp 3.000,- dan untuk wisatawan mancanegara Rp 10.000. Di hari-hari biasa, obyek wisata ini cukup sepi, namun di hari-hari libur seperti Hari Raya Idul Fitri, obyek ini ramai dikunjungi tak hanya oleh penduduk sekitar, namun juga wisatawan dari kota-kota lainnya.



Disertakan pada lomba Blog Dalam Rangka HUT Komunitas Blogger Nganjuk ke-3 http://kotaangin.com






Thursday, April 26, 2012

Social Media dan Complaint Handling

Kemarin malam, saya dan keluarga pergi ke sebuah toko roti yang selalu woro-woro di social media (socmed) bahwa setelah pukul 6 sore produk mereka didiskon. Sampai di toko roti itu, yang ada kami "dipermalukan" oleh kasir, katanya hanya produk tertentu yang didiskon, dan produk yang sudah terlanjur kami beli tidak termasuk (saat itu kami merasa tertipu oleh promo yang digembargemborkan di socmed!). Belakangan, ketika kami tanyakan kembali, ternyata harusnya produk yang kami beli bisa didiskon, namun kasir hanya meminta maaf dan tidak bersedia mengembalikan kelebihan pembayaran kami. Yang membuat ibu saya sangat kesal adalah sikap kasir yang plin plan dan hanya cengar-cengir tanpa mencari solusi masalah tersebut, jadi kami mendapat kesan kasirnya ternyata bego.

Karena kesal, kami pergi dari toko tersebut sambil menggerutu, dan langsung mereply pengumuman di socmed tentang promo diskon toko tersebut dengan menyampaikan keluhan kami. Baru 1 jam kemudian keluhan tersebut ditanggapi. Sayangnya, tanggapannya adalah mereka menjanjikan akan memberi diskon dan mengembalikan uang kami. Dari tadi kemana aja? Dan sayangnya, solusinya yang ditawarkan menurut saya tidak masuk akal. Kami sudah pergi dari toko itu sejak 1 jam yang lalu, bagaimana caranya dia mau menemukan kami untuk mengembalikan uang kami? Saya langsung tepok jidat sendiri, kok cara menanggapi keluhannya bego begini. Saya balas lagi, bukan masalah uangnya yang membuat kami kesal, tapi sikap dan perlakuan kasir yang menjadi sumber kekesalan kami. Jadi begitu saya mendapat tanggapan keluhan yang sama-sama bego, langsung deh ambil kesimpulan, ternyata manajemen tokonya bego juga... Baru belakangan mereka minta kami mengirimkan data diri untuk mengembalikan uang kami, tapi kami sudah keburu ill-feel karena kebegoaan mereka, jadi kami sudah malas menanggapi posting yang minta kami mengirimkan data diri. Perasaan tertipu oleh promo yang digembar-gemborkan di socmed dan perasaan marah karena perlakuan kasir dan cara penanganan admin socmed yang bego jauh lebih menyakitkan daripada nilai uang yang mau mereka kembalikan.

Saya tiba-tiba teringat tim trainer kami yang selalu mengajarkan kepada murid-muridnya masalah penanganan keluhan pelanggan. Kami selalu mengingatkan pada para siswa, bahwa terkadang pelanggan tidak perlu solusi yang njelimet, mereka kadang-kadang hanya perlu didengar. Terkadang mengatakan maaf saja sudah menyelesaikan masalah, kecuali jika keluhan tersebut menjadi berkepanjangan. Lebih jauh lagi, kita seharusnya menghindari keluhan pelanggan dengan menjalankan SOP dengan baik. Saya lalu berpikir, apakah kasus kami di atas merupakan cerminan bahwa toko roti itu tidak punya SOP pelayanan pelanggan yang benar? Apakah manajemen pemilik toko sudah menginformasikan program promo mereka dengan benar kepada seluruh pekerjanya? Jika tidak, berarti kesalahan bukan semata-mata pada kasir yang bloon, tetapi manajemen pemilik tokonya juga tidak peduli pada moment-of-truth saat pelanggan ada di toko, dan hanya peduli dengan masalah promo-promo di socmed. Pada akhirnya, moment-of-truth kepuasan pelanggan terjadi saat pelanggan berinteraksi langsung dengan penjual, bukan melalui promo-promonya.

Ini bukan pertama kali internet dan socmed digunakan untuk menyampaikan keluhan dan menyebarkan ketidakpuasan pelanggan atas sebuah layanan. Kita masih ingat kasus Prita yang berbuntut panjang, karena Prita menceritakan keluhannya atas pelayanan yang tidak menyenangkan dari sebuah rumah sakit. Walaupun pada akhirnya Prita yang didakwa bersalah, namun rumah sakit tersebut pastinya sudah mengalami kerugian, baik moril maupun materiil. Memanfaatkan internet dan socmed untuk promo memang berbiaya rendah dan efektif, tapi kalau sudah ada komplain, ya efeknya juga tersebar ke mana-mana. Kalau mau memanfaatkan socmed, belajarlah dari perusahaan-perusahaan lokal besar yang sudah memanfaatkan jasa socmed, salah satunya adalah perusahaan taksi berlogo burung berwarna biru. Mereka memanfaatkan socmed untuk mendapat suara pelanggan. Sebagian besar pelanggan menyatakan puas, tapi saya pernah juga komplain masalah aplikasi mereka yang baru, dan cara mereka menanggapi keluhan saya membuat saya yakin bahwa perusahaan sebesar mereka sudah siap untuk memanfaatkan internet dan socmed sebagai sarana berkomunikasi dengan pelanggan.

Sebenarnya dengan saya menyampaikan keluhan melalui socmed, tanpa sengaja saya membuat black campaign. Saya sebenarnya tidak ingin melakukannya, tapi saya pikir kalau hal ini tidak disampaikan, berapa banyak lagi pelanggan yang akan "tertipu" dengan program promo yang tidak konsisten? Harus diingat, pelanggan yang kesal dan merasa tertipu bisa melakukan apa saja. Mungkin tidak semua pelanggan yang tidak puas akan menulis di socmed, tapi mereka bisa bercerita pada teman-temannya dan mengajak teman-temannya untuk tidak berbelanja di tempat itu. Berdasarkan teori, jumlah pelanggan yang tidak puas dan tidak menyampaikan keluhan jauh lebih banyak daripada yang menyampaikan keluhan. Jika keluhan di socmed ditanggapi dengan pernyataan yang "bodoh", sebuah produk tengah "menggali lubang" dan membuat black campaignnya semakin parah. Ingat, berita di socmed menyebar jauh lebih cepat daripada infotainment.

Jadi, saran saya, kalau Anda belum bisa konsisten melakukan SOP pelayanan pelanggan, dan belum bisa menangani keluhan pelanggan dengan bijak, nggak usah sok-sokan bikin program-program promo lewat socmed. Bisa jadi, socmed justru jadi bumerang jika Anda tidak bisa melayani pelanggan dengan benar.

Sunday, March 18, 2012

Batik Keraton, Salah Satu Cikal Bakal Batik Indonesia

Batik Indonesia merupakan warisan leluhur bangsa Indonesia, yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebagai sebuah kerajinan, batik merupakan bagian dari budaya Indonesia, dan memiliki nilai seni tinggi.

Kata “batik” berasal dari kata bahasa Jawa “amba” yang berarti “menulis” dan “titik”, yang bermakna bahwa motif batik dibuat dengan menulis rangkaian titik pada kain. Batik sebenarnya merujuk pada teknik pembuatan kain bercorak yang dilakukan dengan menuliskan titik malam pada kain menggunakan canting. Ketika kain tersebut dicelupkan pada zat warna, bagian kain yang tertutup malam tidak terkena zat warna, sehingga meninggalkan pola ragam hias pada kain. Namun saat ini batik juga merujuk pada pola ragam hias yang menjadi ciri khas batik. Di masa lalu, ketrampilan membatik menggunakan canting hanya dikuasai oleh para wanita. Baru setelah ditemukan teknik membatik dengan cap pada awal abad 20, kegiatan membatik juga dilakukan oleh kaum laki-laki.

Batik telah dikenal sejak Jaman Majapahit, dan terus berkembang pada masa-masa berikutnya. Salah satu pengembangan batik Majapahit yang kemudian menjadi dasar hampir semua Batik Indonesia khususnya di Jawa adalah Batik Keraton. Batik Keraton mendapatkan namanya karena batik ini mula -mula berkembang di kalangan keraton, dan hanya dikenakan oleh raja, keluarga keraton, dan para abdi dalemnya, terutama pada upacara resmi kerajaan. Batik biasanya dikenakan untuk jarit (kain panjang), kain dodot, dan kain kemben.

Batik Keraton mulai berkembang sejak awal masa kerajaan Mataram Islam, di masa pemerintahan Panembahan Senopati. Kala itu kerajinan batik mulai berkembang di pusat pemerintahan Mataram Islam di Desa Plered. Pada masa itu batik dibuat dengan teknik batik tulis yang sangat halus, dan dikerjakan oleh para wanita, yaitu putri-putri raja dan para pembatik ahli yang hidup di lingkungan keraton. Ketrampilan ini kemudian ditularkan kepada para wanita anggota kerabat keraton lainnya, antara lain istri pada abdi dalem dan istri para prajurit keraton. Setiap motif batik yang dibuat mengandung makna filosofis mendalam sesuai dengan fungsinya. Dengan makna yang mendalam tersebut, beberapa motif batik Keraton terlarang untuk digunakan oleh rakyat biasa.

Pada akhir abad 18 hingga awal abad 19, Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi 4 kerajaan, yaitu Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Keempat kerajaan ini kemudian mengembangkan Batik Keraton dengan motif dan warna yang menjadi ciri khas masing-masing kerajaan. Batik Kasunanan Surakarta dikenal memiliki warna dominan sogan (coklat kekuningan), dengan motif bentuk geometris berukuran kecil-kecil yang berkesan luwes. Batik Kesultanan Yogyakarta memiliki ciri warna latar terang seperti putih dan krem, dengan motif geometris berukuran besar dan lebih berkesan kuno atau antik. Kadipaten Pakualaman yang berada di wilayah yang berdekatan dengan kesultanan Yogyakarta memiliki batik dengan ciri lebih mirip batik Surakarta, karena KGPA Pakualam VII menikah dengan putri Pakubuwono X, sehingga sang permaisuri membawa budaya batik Surakarta ke kadipaten Pakualaman. Batik Pura Mangkunegaran memiliki ciri motif yang sangat detail, sehingga terlihat sangat cantik. Karena berangkat dari akar budaya yang sama, yaitu kerajaan Mataram Islam, beberapa motif batik di empat wilayah kerajaan tersebut memiliki bentuk dan makna yang hampir sama, walaupun dengan nama yang berbeda.

Motif Batik Keraton merupakan hasil perpaduan budaya asli Jawa, Hindu, dan Islam. Pengaruh budaya asli Jawa terlihat dari bentuk yang digunakan, seperti bentuk flora dan fauna. Unsur budaya Hindu tercermin dari motif-motif khas seperti Sawat, Gurdo/Garuda dan Pohon Meru. Pengaruh budaya Islam terlihat pada motif stilasi benda-benda alam sehingga tidak menyerupai bentuk aslinya. Beberapa motif Batik Keraton tergolong motif larangan atau batik sengkeran, karena di masa lalu motif-motif tersebut khusus dikenakan oleh raja. Di Museum Batik Keraton Yogyakarta, Museum Ullen Sentalu, dan Museum Batik Kuno House of Danar Hadi, kita dapat melihat motif-motif Batik Keraton yang jarang ditiru oleh batik-batik komersial yang ada saat ini.

Beberapa motif Batik Keraton yang masih ditemui saat ini dan digunakan secara luas antara lain adalah :
• Sawat: “sawat” secara harfiah berarti melempar. Motif ini merupakan simbol senjata Batara, dewa hujan dalam mitologi Hindu. Sawat disimbolkan dengan sayap sebelah, dan bermakna barang siapa yang mengenakannya akan mendapatkan perlindungan.
• Gurdo : Gurdo adalah simbol Garuda, burung suci kendaraan Sang Hyang Wisnu, dewa pemeliharaan dalam mitologi Hindu. Motif Gurdo berbentuk dua buah sayap, yang bermakna menaungi kehidupan di bumi.
• Meru : Meru merupakan kependekan dari “Mahameru”, nama gunung suci dalam mitologi Hindu tempat bersemayamnya Dewa Trimurti yaitu Sang Hyang Wisnu, Sang Hyang Brahma dan Sang Hyang Siwa. Dalam mitologi Hindu, terdapat kepercayaan bahwa di puncak Mahameru terdapat air suci bernama Tirta Kamandalu, yang merupakan sumber hidup abadi. Makna dari motif ini adalah siapa pun yang mengenakan batik dengan motif ini akan memperoleh berkah .
• Truntum : pola truntum mencerminkan kuncup bunga melati. Batik pola ini digunakan oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan, bermakna orang tua bisa menuntun calon pengantin.
• Sidomukti : “Sido” berarti berkesinambungan, dan “Mukti” berarti kesejahteraan dan kebahagiaan. Batik ini dicirikan dengan motif Gurdo, Meru dan Ukel (motif seperti koma). Kain ini digunakan oleh pengantin saat pernikahan, dengan makna filosofis agar para pengantin senantiasa dikaruniai hidup yang sejahtera dan bahagia.
• Kawung : batik ini dicirikan dengan 4 bentuk elips yang mengelilingi satu titik di tengah, melambangkan raja dan 4 “bawahannya”. Motif ini biasanya dikenakan raja dan keluarga terdekatnyanya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan. Kawung juga merupakan kata lain dari “aren”, tumbuhan dengan berbagai macam kegunaan, sehingga banyak yang menafsirkan bahwa filosofi dari motif ini adalah siapa pun yang memakainya harus berguna bagi banyak pihak, seperti pohon kawung.
• Parang : “parang” merupakan senjata yang melambangkan kekuasaan, kekuatan, dan kecepatan, sehingga ksatria yang mengenakan batik ini bisa berlipat kekuasaannya. Status seseorang dapat dilihat dari ukuran motif parang yang dikenakan. Kerabat keraton yang berkedudukan lebih tinggi akan mengenakan batik dengan motif parang lebih besar. Motif Parang merupakan salah satu motif larangan, dan di masa lalu motif ini hanya boleh dikenakan oleh raja atau kerabat keraton.
• Semen : “Semen” berasal dari kata “Semi”, yang berarti mekar, tumbuh. Motif ini bermula dari kepercayaan bahwa di atas gunung Mahameru terdapat beberapa pohon yang selalu mekar dan tumbuh. Makna dari motif ini adalah jika seseorang mengenakannya, diharapkan ia akan selalu didekatkan dengan Yang Maha Kuasa.
• Sekarjagat : nama Sekarjagat berasal dari kata “Kar Jagat”. Kar berarti peta, dan Jagat berarti dunia, sehingga Kar Jagat atau Sekarjagat secara harfiah berarti peta dunia. Ciri dari batik ini adalah adanya banyak motif dalam selembar kain batik. Makna dari motif ini adalah siapa yang memakainya akan menaklukan dunia.
• Cakar : Pola ini dicirikan dengan bentuk motif yang seperti cakar ayam, dan biasa dikenakan pengantin pada upacara pernikahan. Motif ini merupakan symbol agar para pengantin dapat mencari rejeki yang halal, seperti ayam mencari makanan menggunakan cakarnya.
• Motif Udan Liris di Surakarta, atau Rujak Senthe di Yogyakarta. “Udan Liris” secara harfiah berarti “gerimis”. Batik ini biasanya dikenakan dengan harapan agar rejeki bisa datang terus, seperti gerimis yang walaupun kecil namun datang terus menerus.

Perkembangan Batik Keraton dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah adanya peperangan antar wilayah kerajaan, termasuk di antaranya dengan Belanda. Akibat peperangan, banyak kerabat keraton dan para pengrajin batik yang mengungsi dan menetap di daerah baru. Penyebaran terjadi baik ke arah barat dan ke arah timur dari wilayah kerajaan Mataram. Ke arah barat, batik keraton menyebar hingga wilayah Banyumas, Pekalongan, Tegal, Priangan dan Cirebon. Sedangkan ke arah timur, batik keraton menyebar hingga wilayah Mojokerto, Tulungagung, Gresik, Surabaya dan Madura. Batik keraton kemudian berpadu dengan budaya setempat dan menghasilkan motif dan warna khas masing-masing daerah yang dikenal hingga sekarang. Sebagai contoh, batik Madura didominasi warna hitam dan warna merah dengan motif yang lebih egaliter, seperti halnya karakter masyarakat Madura. Batik Priangan di daerah Garut dan Tasikmalaya memiliki motif serupa Batik Keraton, namun didominasi warna cerah. Batik Cirebon mendapat pengaruh Cina, salah satunya seperti yang tercermin dalam motif Mega Mendung.

Batik mulai dikenakan masyarakat di luar keraton karena mereka tertarik pada busana yang dikenakan keluarga keraton. Mereka kemudian belajar membatik dari para pengrajin Batik Keraton yang tinggal di luar keraton, dan meniru motif-motif Batik Keraton. Lama kelamaan, masyarakat di luar keraton banyak yang menjadi pengrajin batik, dan batik kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari. Namun rakyat tetap tidak berani mengenakan motif-motif larangan atau batik sengkeran, karena tidak ingin dianggap menghina raja. Sampai saat ini, hal tersebut masih diperhatikan terutama oleh para pengrajin batik di Surakarta dan Yogyakarta. Jika mereka diminta untuk membuat batik dengan motif serupa batik sengkeran, umumnya mereka akan memodifikasi batiknya sehingga tidak betul-betul serupa dengan batik sengkeran.

Di akhir abad 19, muncul Batik Sudagaran, yang dibuat oleh para saudagar batik yang umumnya merupakan pedagang Tionghoa. Para saudagar batik menciptakan motif baru yang sesuai dengan selera masyarakat. Mereka meniru motif Batik Keraton dan memodifikasi bentuknya dengan detail yang lebih halus seperti isen-isen yang rumit, serta memberikan warna yang lebih berani, sehingga menghasilkan batik yang amat indah.

Di masa kini, batik telah menjadi busana nasional Indonesia, dan telah diakui sebagai busana formal. Saat ini semua orang bisa mengenakan batik dalam berbagai bentuk, termasuk batik dengan motif-motif yang meniru motif batik Keraton. Namun pada pelaksanaan upacara di Keraton, para tamu dihimbau tidak mengenakan batik dengan motif khas Keraton, agar tidak dianggap menghina kesakralan upacara tersebut.

Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

Wednesday, February 29, 2012

Museum Vulkanologi Gunung Merapi

Museum Vulkanologi Merapi ini termasuk museum baru, karena baru dibuka pada tahun 2010, bahkan ketika saya berkunjung ke sana museum belum seluruhnya terisi lengkap. Namun koleksi yang ada sekarang sudah sangat mewakili misi yang dibawa dalam pendirian museum ini, yaitu untuk mendokumentasikan sejarah gunung Merapi, serta sebagai sarana edukasi mengenai bahaya dan dampak positif dari keberadaan gunung Merapi.

Ketika saya tiba di Museum Vulkanologi Merapi, hari masih pagi, dan museum masih sangat sepi. Tidak heran, karena museum ini tidak terletak di jalan utama menuju tempat wisata Kaliurang. Setelah membeli tiket, saya masuk kedalam museum, dan seorang pemandu menemani saya berkeliling. Koleksi pertama yang kami lihat adalah foto-foto erupsi Merapi pada Oktober 2010. Melihat foto-foto tersebut, saya hanya bisa menyebut : Masya Allah... tak terbayangkan apa yang terjadi di wilayah yang dilewati "Wedhus Gembel". Museum Vulkanologi ini terletak di area yang masuk ring bahaya, sehingga walaupun bukan merupakan jalur yang dilewati Wedhus Gembel, museum ini juga ikut terkena tutup, dan ketika para petugas datang kembali, terlihat bahwa halaman museum kotor karena hujan abu dan pasir.

Kami kemudian melanjutkan ke area dalam museum. Sebelum berbicara mengenai gunungapi, terdapat penjelasan mengenai proses terbentuknya benua dan samudra. Di seberang penjelasan tersebut, terdapat peta yang menggambarkan letak gunung api di dunia. Di sebelahnya terdapat peta yang menggambarkan letak gunung api di Indonesia. Terdapat 80 gunung api aktif di Indonesia, yang aktivitasnya dipantau selama 24 jam. Tampilan berikutnya adalah penjelasan mengenai 6 model erupsi gunung. Dulu saya pernah belajar mengenai hal ini dalam pelajaran Geografi, tapi baru sekarang saya memahami bahwa karena keunikan pola erupsinya, erupsi gunung Merapi dimasukkan dalam 1 tipe tersendiri, yaitu tipe Merapi. Menurut pemandu yang mengantar saya, Merapi sebenarnya adalah gunungapi yang sangat bersahabat, setiap kali sebelum terjadi erupsi selalu ada tanda-tanda. Hanya pada letusan terakhir Oktober 2010, karakteristik Merapi berubah menjadi letusan vulkanik.

Setelah melihat penjelasan mengenai gunungapi secara umum, koleksi berikutnya menjelaskan mengenai sejarah gunung Merapi. Berdasarkan catatan sejarah, gunung ini sudah meletus sebanyak 68 kali sejak tahun 1548, namun pencatatan terhadap aktivitas gunung Merapi baru dimulai sejak tahun 1768. Di tengah ruangan terdapat maket bentuk Merapi. Di dinding terdapat foto-foto satelit mengenai bentuk puncak gunung Merapi yang berubah dari tahun ke tahun. Sebagai gunungapi yang aktif, Merapi terus menerus mengalami pertumbuhan kubah lava, membuat bentuk kawah dan puncaknya senantiasa berubah.

Untuk mengamati aktivitas gunung Merapi selama 24 jam, terdapat 5 pos pengamatan yang terletak di Kaliurang, Babadan, Ngepos (Magelang), Jrakah (Klaten), dan Selo (Boyolali). Pos pengamatan ini masih dibantu dengan 1 pos di Deles, Klaten, yang khusus untuk melihat pertumbuhan kubah lava dari sisi Timur Merapi. Semula terdapat pos pengamatan di Plawangan, namun semenjak tahun 2006 pos ini tidak dipakai lagi.

Tampilan berikutnya adalah mengenai lava gunung Merapi yang mengalir melalui sungai alam yang berhulu di gunung Merapi. Lava ini bercampur dengan air sungai menjadi lahar dingin. Setidaknya terdapat tiga aliran sungai yang “menampung” lava Merapi dan mengalir sebagai lahar dingin, yaitu Kali Gendol, Kali Kuning, dan Kali Adem. Untuk menahan laju lahar dingin, dibangun Sabo Dam. “Sabo” berasal dari bahasa Jepang yang berarti sabuk. Idealnya, jarak antar dam adalah 7 km. Namun pada kenyataannya, sabo dam yang ada di aliran lahar dingin Merapi berjarak kurang dari 7 km, sehingga kurang efektif dalam menahan laju lahar dingin tersebut, dan beberapa sabo dam bahkan mengalami kerusakan ketika diterjang lahar dingin.

Tampilan terakhir menunjukkan lukisan yang menggambarkan bahwa keberadaan gunung Merapi tidak lepas dari keraton Yogyakarta. Dalam mitologi Kraton Yogyakarta, gunung Merapi memiliki tempat tersendiri, dan tidak lepas dari legenda tentang hubungan khusus antara “penunggu” Merapi Kyai Sapu Jagad dengan lingkungan Keraton Yogyakarta. Konon terdapat perjanjian antara Sutawijaya, raja pertama Mataram Islam, dengan Kyai Sapu Jagad. Sutawijaya dan keturunannya bertanggungjawab untuk memberi sesaji, dan sebagai imbalannya rakyat Mataram akan dilindungi dari bencana. Penyerahan sesaji ini diwujudkan dalam bentuk Upacara Labuhan Merapi, yang diselenggarakan setiap tahun sekali pada tanggal 25 bulan Bakdamulud (Maulid Akhir). Upacara Labuan Merapi dipimpin oleh juru kunci yang ditunjuk Keraton Yogyakarta.

Setelah 1,5 jam mengelilingi museum ini, saya kemudian pamit pada pemandu yang mengantar saya berkeliling. Rasanya hari ini saya banyak memperoleh informasi, baik informasi yang terkait ilmu pengetahuan maupun non teknis mengenai gunung Merapi. Dan walaupun museum ini terletak cukup jauh dari kota Yogyakarta, saya melihat setidaknya ada 3 rombongan wisatawan mancanegara yang juga melihat ke museum ini. Rupanya fenomena gunung Merapi juga menarik perhatian internasional.

Dalam perjalanan kembali ke kota Yogyakarta, kami melewati daerah Petung dan Cangkringan. Kami melewati salah satu Sabo Dam yang melintas di atas Kali Kuning. Sabo Dam ini bagian pinggirnya rusak, karena diterjang lahar dingin erupsi Merapi Oktober 2010. Sementara itu, di salah satu Sabo Dam yang melintas di atas Kali Gendol, saya melihat bahwa nyaris tidak ada aliran air yang tersisa di atas Kali Gendol. Masih terlihat beberapa kendaraan berat yang berusaha mengeruk lahar dingin tersebut agar sungai bisa mengalir kembali. Di atas Sabo Dam bahkan terdapat batu besar yang terbawa aliran lahar dingin, dan belum berhasil dipindahkan ke tempat lain. Sungguh pemandangan yang tak terbayangkan sebelumnya...

Saturday, October 29, 2011

Situ Babakan, Oase di tengah Jakarta

Barangkali kita tidak pernah membayangkan bahwa di tengah kepadatan kota Jakarta, rupanya masih ada tempat yang bisa menjadi "oase" untuk melepas kejenuhan sekaligus berlibur sambil menikmati menikmati wisata alam yang murah dan mengasikkan.
Salah satu danau di Ibu Kota yang bisa dikunjungi adalah Setu Babakan. Setu Babakan terletak di Jl. Raya Moh. Kahfi II, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dalam bahasa Betawi, Setu berarti Danau. Setu Babakan merupakan danau buatan dengan luas area 32 hektar, di mana airnya berasal dari sungai Ciliwung. Danau ini dibangun pemerintah kolonial Belanda untuk menanggulangi masalah banjir di Jakarta, sehingga selain sebagai sarana rekreasi dan cagar budaya, keberadaan Setu Babakan juga penting karena fungsinya sebagai daerah penangkap air tanah.
Setu Babakan merupakan salah satu lokasi wisata favorit, banyak orang yang datang dan duduk-duduk di sisi danau untuk menikmawi suasana segar. Setu ini juga dimanfaatkan bagi mereka yang gemar memancing. Bagi yang ingin berwisata air, dapat memanfaatkan sepeda air. Apabila bosan dengan rekreasi air, anda bisa menyewa delman untuk keliling kawasan Setu Babakan yang luasnya 165 hektar.
Selain menjadi tempat wisata alam, Setu Babakan juga merupakan cagar budaya, karena danau ini menjadi bagian dari Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, kawasan perkampungan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan warisan budaya asli Betawi. Di kawasan ini anda dapat melihat lingkungan pemukiman penduduk Betawi, dengan bentuk rumah-rumah khas Betawi yang memiliki teras luas dan bentuk atap yang unik. Sebagai pusat konservasi budaya Betawi, di Setu Babakan sering ditampilkan atraksi pertunjukan seni asli Betawi, mulai dari Qasidah, Marawis, Keroncong, Tajidor, Gambang Kromong, Lenong, Gambus, serta tari Cokek, tari Topeng dan Ondel-Ondel sebagai icon budaya Betawi. Waktu terbaik untuk berkunjung ke Setu Babakan adalah antara bulan Juni-Juli, di mana banyak diadakan festival untuk memperingati HUT kota Jakarta.
Bagi mereka yang hobi wisata kuliner, anda akan menemukan surga masakan Betawi. Di sepanjang pinggiran danau terdapat penjaja makanan tradisional Betawi, seperti soto mie, kerak telor, toge goreng, laksa, gulali, nasi uduk, kue ape, roti buaya, soto betawi, ketoprak, karedok, rujak bebek, rujak cuhi, manisan kolang kaling, sayur gabus pucung, opor jengkol, dan Bir Pletok. Selain wisata kuliner dan wisata budaya, di kawasan Setu Babakan juga terdapat wisata agro. Anda bisa mengunjungi rumah-rumah penduduk yang terdapat tanaman buah khas Betawi. Jika ingin memetik dan membawa pulang buah-buah tersebut, anda bisa minta ijin kepada pemilik rumah dan membayar buah yang anda petik.
Kawasan Setu Babakan terbuka untuk umum, dari pagi hingga sore hari pukul 18.00 WIB. Mengingat tempat ini merupakan bagian dari cagar budaya tradisi Betawi dengan adat ketimuran yang kental, sangat disarankan untuk mengenakan pakaian yang sopan dan tidak terbuka.

Saturday, October 22, 2011

Museum Mainan Anak Kolong Tangga

Museum Mainan Anak Kolong Tangga barangkali merupakan salah satu museum yang paling jarang didengar. Museum ini terletak di Yogyakarta, tepatnya di dalam kompleks Taman Budaya, Jl. Sriwedani No. 1. Saya sendiri sempat kesulitan mencari letak museum ini, padahal Taman Budaya ternyata terletak di belakang Taman Pintar/Benteng Vredeburg. Sudah sampai di Taman Budaya pun masih harus cari-cari karena tidak ada petunjuk museum ini ada di gedung mana. Untung pak Satpam berbaik hati menunjukkan tempat museum ini pada saya...

Pada akhirnya, saya berhasil menemukan museum ini, yang terletak di lantai 2 gedung Taman Budaya. Rupanya nama "Kolong Tangga" memang mencerminkan posisi museum, walaupun tidak benar-benar di bawah kolong tangga. Museum ini terletak di bawah auditorium, di belakang 2 buah tangga menuju auditorium, jadi terlihat seolah-olah di kolong tangga. Tiket masuk museum juga tidak mahal, hanya Rp 4.000. Tapi di dalam museum tidak boleh memfoto koleksi, kecuali ada obyek orangnya... (berarti foto narsis boleh ya?) Sayang sekali, saya datang sendirian, jadi tidak bisa berfoto di dalam museum.

Koleksi museum ini memang unik dan berbeda dengan museum pada umumnya, karena berupa mainan anak-anak. Tadinya saya pikir museum ini hanya menyimpan koleksi mainan anak dari seluruh wilayah Indonesia, namun ternyata koleksi mainan di museum ini berasal dari seluruh dunia! Wow! Salah satu tampilan di museum ini adalah penjelasan dan foto-foto permainan anak-anak dari seluruh dunia. Saya rasa bukan cuman anak-anak yang senang diajak ke museum ini untuk melihat berbagai jenis mainan, bahkan saya pun bisa mendapat pengetahuan baru tentang berbagai mainan dan permainan anak yang ada di dunia ini.

Salah satu koleksi museum yang paling saya ingat adalah 1 lemari berisi mainan dengan tema Winnie The Pooh, dan tentu saja ada Eeyore, si keledai biru yang selalu muram. Eeyore is my favorite, so I love this collection!

Penerbitan Buku Indie

Di posting yang lalu, saya memperkenalkan buku self-publishing pertama saya, "Catatan Kecil dari Pojok Nusantara". Ini salah satu percobaan penerbitan buku secara Indie, dan ternyata tidak sulit untuk menerbitkan buku secara Indie. Postingan ini merupakan editan dari postingan original di grup Ibu-Ibu Doyan Nulis DKI :

Ide untuk menerbitkan buku secara self-publishing muncul setelah saya ikut Kursus Menulis Online yang diselenggarakan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pimpinan teteh Indari Mastuti.
Kemarin waktu saya ikut KMO, iseng-iseng saya tanya tentang penerbitan Indie, berapa modal yang harus dikeluarkan, dlsb dlsb. Teh Indari merekomendasikan untuk menghubungi mas Anang Yb, karena beliau ada paket produk Rp 800.000 utk 40 eksemplar. Dari mas Anang saya diteruskan ke Red Carpet Studio (http://redcarpetstudio.net).


Setelah saya mempelajari websitenya Red Carpet dan banyak bertanya sama bagian marketingnya, di situ ada ketentuan bahwa paket itu terbatas untuk buku maksimum 100 halaman A5, black-white, belum termasuk pengurusan ISBN, desain cover dan ongkos kirim. Tentu saja kita bisa punya desain cover sendiri untuk lebih hemat, ato mau ngurus ISBN sendiri juga bisa langsung dateng ke Perpustakaan Nasional karena prosesnya tidak sulit.... Paket ini belum termasuk editing dan layout, jadi kita harus mengedit dan melayout sendiri. Mereka ada juga jasa edit dan layout, tapi harus bayar lagi... Mereka juga "mengencourage" bahwa selain hasil cetakan ini bisa dijual secara Indie, buku cetakan ini juga bisa dilampirkan untuk penawaran naskah kita ke penerbit yang sudah mapan, jadi calon penerbit tidak hanya melihat proposal naskah, tapi sudah lihat "dummy"nya. (ada beberapa testimoni pelanggan mereka di website)


Jadi saya putuskan iseng-iseng mencoba mencetak buku di Red Carpet Studio, dengan tema antologi perjalanan wisata. Saya ambil paket yang "reguler" untuk mencetak 40 eksemplar buku. Cover saya minta dari Red Carpet yang mendesain, jadi ada tambahan biaya. Bagi saya, cover itu penting karena memberikan kesan pertama, jadi tidak masalah jika saya minta mereka saja yang mendesain cover. Dokumen yang siap dicetak dibuat dalam format PDF, kemudian dikirim ke mereka. Lama pengerjaan kira-kira 2 minggu-an. 

Keuntungan dari penerbitan Indie model Red Carpet Studio ini, buku sudah tercetak, kita bisa menentukan harga sendiri, dan kendali pemasaran serta distribusi sepenuhnya ada pada kita. Memang tidak mudah memasarkan buku secara online, biarpun sudah dibantu di blog sama web social networking. Saya membuktikan sendiri, setelah 2 bulan naik cetak, buku yang laku belum ada separo dari 40 eksemplar. Tapi kalau kita sudah tahu 40 eksemplar buku ini mau diapakan (apakah kita titipkan di jaringan distribusi, toko buku, untuk hadiah, atau untuk portofolio), saya kira penerbitan model begini lebih cocok.


Model lain adalah Print-On-Demand (POD), seperti yang dilakukan oleh Leutikaprio. Seperti tertulis di http://www.leutikaprio.com, untuk bisa menerbitkan buku dengan mereka, kita memodali Rp 500.000 untuk edit typo dan EYD (tidak mengedit isi), layout, cover, ISBN, 1 jam konsultasi, 1 kali proofing, serta 1 eksemplar contoh buku terbit. Mereka juga akan bantu promo buku kita di web mereka dan FB. Harga buku ditentukan oleh Leutikaprio, dan penulis akan dapat royalti 15% dari harga buku.

Untuk cara penerbitan seperti Leutikaprio, tentu ada plus minusnya juga. Di satu sisi, resiko buku tidak terjual bisa diperkecil, karena belum dicetak secara banyak. Di sisi lain, kita sudah keluar modal tapi gak langsung dapat bukunya. Cuman untuk Leutikaprio, dari keterangan di webnya mereka, ada potensi bahwa buku yang diterbitkan di Leutikaprio ini "berpindah" ke penerbit besar di grup Leutika.

Model lain untuk penerbitan secara Indie adalah dengan membuat e-book (format ePub) via Papataka.com. Dari segi resiko, karena tidak ada buku yang harus dicetak, sehingga resiko biaya baik bagi penulis maupun bagi Papataka sangat minim. Tapi... saat ini e-book belum terlalu populer di Indonesia, jadi e-book terbitan "indie" di Papataka masih belum laku keras. Memang ada saja yang beli, tapi tidak sebanyak buku-buku cetak.


Masih banyak penerbitan Indie yang lainnya, yang juga patut untuk dicoba. Mengenai anda mau memilih model yang mana, tinggal tergantung mana yang lebih cocok. Semua ada plus minusnya, tinggal cari mana yang paling cocok, apakah model cetak sedikit seperti Red Carpet Studio, model POD seperti Leutikaprio, atau e-book seperti Papataka.




Wednesday, September 07, 2011

My First Indie Book : Catatan Kecil dari Pojok Nusantara

Ini buku pertama saya yang diterbitkan secara Indie...

Buku ini berisi kumpulan artikel wisata dan perjalanan yang pernah dimuat di beberapa media, sekaligus sebagai catatan perjalanan ke tempat-tempat tersebut. Tak hanya menampilkan data teknis mengenai lokasi wisata dimaksud, anda juga diajak “berjalan-jalan” ke tempat-tempat tersebut, serta menikmati keunikan berbagai tempat wisata tersebut.

Jadikan buku ini teman perjalanan anda, and be inspired to visit many beautiful places in Indonesia!

Untuk pemesanan, hubungi : arini_che@yahoo.com

Sunday, August 21, 2011

Prambanan-Ratu Boko Trip

Siang itu, saya memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan. Semula saya tidak berniat ke Kompleks Kraton Ratu Boko, karena niat awal saya adalah mengunjungi 4 candi yang ada di Kompleks Candi Prambanan. Namun ketika saya hendak membeli tiket, saya melihat pengelola memiliki paket untuk pergi ke 2 kompleks candi tersebut, dan disediakan kendaraan untuk berpindah dari Kompleks Candi Prambanan dan Kompleks Kraton Ratu Boko. Wah, kebetulan sekali, ga perlu repot keluar dan pindah tempat sendiri! Saya kemudian membeli tiket dan menuju tempat menunggu yang disediakan oleh pengelola.

Setelah agak lama menunggu, akhirnya sarana transport yang mengangkut saya dan beberapa peserta paket hemat ini tiba, dan langsung mengangkut kami menuju Kompleks Kraton Ratu Boko. Ternyata perjalanan Prambanan-Ratu Boko tidak sedekat yang saya bayangkan. Dan yang lebih seru lagi, jalan masuk ke kompleks Ratu Boko ternyata sempit dan menanjak! Wah wah wah... sudah betul keputusan saya untuk beli paket hemat ini, mobil-mobil mereka semua bermesin diesel, kalau pakai Avanza bensin, jangan-jangan nanti ada acara dorong-mendorong untuk sampai ke tempat parkir! (Ehm, kayanya lebay deh...)

Setibanya di Kompleks Kraton Ratu Boko, eh, belum, setibanya di kantor pengelola kompleks Kraton Ratu Boko, saya tidak langsung masuk ke area candi, melainkan menarik nafas terlebih dahulu sambil menikmati pemandangan di plaza yang disediakan. Pelataran tersebut menghadap ke arah Candi Prambanan, jadi saya bisa melihat pemandangan Candi Prambanan di sisi Kali Opak, sambil membayangkan barangkali raja yang dulu bertahta di kompleks keraton ini melihat pemandangan yang serupa (tentunya tanpa rumah-rumah penduduk dan jalan raya...). Kalau cuaca cerah, kita bisa melihat Gunung Merapi di kejauhan, ah, so romantic...


Pemandangan Candi Prambanan dari Plaza Keraton Ratu Boko

Akhirnya, setelah mengumpulkan kekuatan, saya mulai melangkahkan kaki memasuki Kompleks Keraton Ratu Boko. Ternyata... jarak dari loket sampai ke bangunan pertama jauh banget! Akhirnya dengan ngos-ngosan, saya tiba di gerbang pertama Keraton Ratu Boko. Begitu melihat kemegahan bangunan gerbang tersebut, ngos-ngosannya langsung sirna seketika... Tak terbayangkan, di masa lalu, dengan teknologi yang (supposed to be) masih sederhana, nenek moyang kita sudah mampu membuat bangunan di puncak bukit seperti ini. Setelah gerbang pertama, masih ada gerbang kedua, yang lebih besar daripada gerbang pertama. Pengennya sih ngambil foto yang perfect (yang bangunannya aja), apa daya, ada orang pacaran sambil duduk di gerbang tersebut, sehingga saya harus mencari angle yang perfect supaya dua "nyamuk" itu tidak muncul di foto saya...


Gerbang Keraton Ratu Boko (tanpa "2 nyamuk")

Setelah mengambil foto, saya melangkahkan kaki masuk ke dalam kompleks candi. Di sisi kiri sebelah bawah terdapat bangunan Candi Batu Putih, karena pondasinya terbuat dari batu putih. Niatnya sih pengen lihat lebih dekat, tapi melihat 5 ekor kambing sedang bercengkrama di bangunan tersebut, ga jadi aja deh... ga sebanding sama resikonya...


Kambing-kambing yang sedang leyeh-leyeh di Candi Batu Putih
 
Akhirnya, saya sampai di tempat yang tampaknya merupakan alun-alun. Di sisi kiri terdapat tanah yang lebih tinggi, dan di atasnya ada candi pembakaran jenazah. Sayang, candinya sedang direnovasi, jadi saya kembali mengurungkan niat untuk melihat lebih dekat. Saya menyeberangi alun-alun dan menuju situs candi yang lain. O ya, walaupun kompleks ini  sudah dikelola oleh pengelola Borobudur Park, tapi di dalam masih ditemukan penduduk yang berjualan minuman, baik penjual keliling maupun warung. Tapi mengingat kompleks ini sangat luas dan terbuka, rasanya memang perlu ada para penjual minum ini. Yang nggak nahan sebenarnya bukan para pedagang minuman, tapi kambing-kambing yang pada merumput di situs ini, duh... paling takut kalau tiba-tiba kambingnya lari terus menyeruduk, males banget deh...
 
Karena waktu terbatas, dan saya masih ingin mengunjungi candi Prambanan sebelum tutup, setelah melihat Kaputren dan Paseban saya kembali menuju pintu masuk. Wah, padahal masih ada Gua Lanang dan Gua Wadon yang konon ada simbol lingga dan yoni-nya... next time harus balik ke sini lagi kayanya... Dan akhirnya, saya kembali meluncur menggunakan transportasi yang disediakan pengelola menuju ke kompleks Candi Prambanan.
 
Di kompleks Candi Prambanan, wisata jalan kaki kembali dilanjutkan. Ketika melangkan menuju Candi Prambanan, saya baru "donk", ternyata dari tadi ada pengumuman mengenai candi-candi yang berada di bawah pengelolaan Kompleks Candi Prambanan. Jadi di kompleks ini ada 4 candi : Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. Candi Prambanan dibuat oleh Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Kuno dan merupakan candi Hindu. Uniknya, 3 candi yang lain (Lumbung, Bubrah, Sewu) adalah candi Buddha. Ini mencerminkan bahwa di masa lalu sudah terwujud kerukunan antar umat beragama di Indonesia.


Candi Prambanan

Sesampainya di Candi Prambanan, ternyata saya harus kecewa. Bukan kecewa karena sulit mendapat spot foto yang sempurna (saking banyaknya pengunjung, bahkan ada turis Jepang yang sangat excited di depan arca Nandi di dalam candi Wahana, dia terus bertanya kepada guide yang mendampingi, sementara teman-temannya sudah pindah ke lain candi), tapi karena beberapa candi tidak bisa dimasuki, karena sedang proses renovasi akibat gempa Yogyakarta tahun 2006 (so sad....). Salah satu candi yang tidak bisa dimasuki adalah candi Siwa, padahal arca Durga yang lebih dikenal sebagai arca Roro Jonggrang yang tersohor itu ada di dalamnya, hiks...


Matahari yang nyaris terbenam di balik salah satu candi

Ketika saya keluar dari Candi Prambanan, jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.30, 30 menit sebelum waktu tutup. Yah, tampaknya 3 candi yang lain masih harus menunggu lain waktu... Tadinya mau mengejar kereta kelinci yang keliling, apa daya ketinggalan kereta. Jadi, setelah berjalan kaki agak jauh, akhirnya saya sampai juga ke Candi Lumbung. Namanya sudah sore, candi Lumbungnya sepiiii banget, apalagi dengan banyak batang-batang bambu untuk perbaikan, membuat penampakannya terlihat mengenaskan.


Candi Lumbung yang sedang direnovasi

Dalam perjalanan menuju pintu keluar, saya masuk ke museum Arkeologi. Museum ini merupakan museum pendukung Kompleks Candi Prambanan, dan berisi penemuan arca di situs-situs sekitar candi. Di bagian akhir museum, dijelaskan sejarah penemuan dan restorasi candi Prambanan. Rupanya pekerjaan restorasi ini  sudah dimulai sejak jaman kolonial Belanda, karena beberapa lukisan menunjukkan proses restorasi candi yang cantik ini. Ah, kapan-kapan saya harus kembali kemari lagi...


Arca Ganesha di Museum Arkeologi Prambanan


Monday, August 01, 2011

Dan "Kampret" pun Turut Memperkuat Kekuatan Udara Kita

Gara-gara membaca majalah Angkasa edisi koleksi yang berjudul Pesawat Kombatan TNI AU dan membahas pesawat-pesawat tempur milik TNI AU dengan ayah saya, saya jadi terpikir untuk datang kembali ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala terletak di dalam Kompleks Perumahan TNI AU Wonocatur. Museum ini tidak terlihat dari jalan raya, sehingga untuk mencapai ke museum ini harus mengikuti papan petunjuk. Jalan masuk ke museum adalah melalui Jl. Janti, kemudian mengikuti petunjuk masuk ke dalam kompleks perumahan TNI AU. Sebelum masuk, saya harus melapor dulu kepada petugas di pos jaga, dan membayar tiket mobil sebesar Rp 5000. Sambil mencatat nomor mobil yang mengantar saya, petugas bertanya apakah saya mengantar anak. Saya jawab tidak, sambil bertanya apa hari ini ada rombongan anak sekolah. Rupanya sudah ada 6 bis anak sekolah yang akan berkunjung ke museum! Langsung saya membayangkan, museumnya pasti ramai sekali...

Setelah mobil parkir di halaman museum, saya mulai berkeliling, sambil mencoba mengingat ketika pertama kali saya datang ke museum ini di tahun 1991. Setelah mencoba mengingat-ingat, saya sudah tidak ingat seperti apa dulu museumnya, kecuali koleksi pesawat yang ada di dalam hanggar.Ketika melihat pesawat yang dipasang di luar museum, rasanya seperti anak kecil yang melihat mainan kesayangannya, saya ingin berlari dan memeluk pesawat-pesawat tersebut. O ya, perlu diketahui bahwa kompleks ini sangat dekat dengan bandara Adisucipto, sehingga pemandangan yang ada di foto di bawah ini pasti bukan merupakan pemandangan asing...


Pesawat Bronco, dengan latar belakang Lion Air sedang manuver mendarat

Pesawat pertama yang saya lihat dari dekat adalah Tu-16, pesawat pembom yang pernah digunakan TNI AU dalam Operasi Trikora merebut kembali Irian Barat. Konon pada masanya pesawat ini merupakan salah satu pesawat pembom yang paling ditakuti, membuat Indonesia kala itu menjadi salah satu negara yang paling ditakuti di Asia Tenggara.


It's very big!!!

Koleksi pesawat terbaru milik museum adalah pesawat OV-10 Bronco dengan nomor registrasi TT 1015, yang bergabung menjadi koleksi museum pada bulan Januari 2011. Pesawat ini merupakan pengganti pesawat tempur P-51D Mustang, dan termasuk pesawat militer TNI AU yang paling lama dioperasikan sejak tahun 1976 hingga 2004. Barangkali saking barunya, bahkan terpal penutup kokpit pun belum sempat dicopot.

Ini bukan Bronco, ini A4 Skyhawk

Memasuki ruangan museum, di ruangan pertama, terlihat Panji-panji dan pataka TNI AU, lambang TNI AU dengan semboyan “Swa Bhuwana Paksa”, serta patung empat orang perintis TNI AU : Marsekal Muda Anumerta Iswahyudi, Marsekal Muda Anumerta Abdul Halim Perdanakusuma, Marsekal Muda Anumerta Prof. Dr. Abdulrachman Saleh, dan Marsekal Muda Anumerta Agustinus Adisutjipto.

Masuk ke ruangan berikutnya, saya melihat replika pesawat ringan WEL-I RI-X, pesawat pertama buatan anak bangsa. Perancang pesawat ini, Wiweko Soepono, merupakan salah satu perintis industri dunia penerbangan Indonesia. Pesawat berawak tunggal yang dikenal dengan nama WEL (Wiweko Experimental Lightplane) ini terbang pertama kali pada tanggal 27 Oktober 1948 di pangkalan udara Maospati Madiun (sekarang pangkalan udara Iswahyudi), dengan menggunakan mesin sepeda motor Harley Davidson 750 cc. Sayang sekali, pesawat ini hancur ketika dimuat dalam gerbong kereta api karena terkena granat pemberontak PKI Madiun. Di ruangan ini juga terdapat foto-foto dan benda-benda terkait peristiwa bersejarah TNI Angkatan Udara.


WEL-I RI-X, pesawat pertama buatan anak bangsa

Memasuki bagian berikutnya, saya melihat foto-foto Operasi Militer yang pernah dilakukan TNI AU, antara lain Operasi Penumpasan DI/TII, Operasi Penumpasan Permesta (yang terkenal dengan peristiwa pengejaran pembom B-25 dengan pilot Allan Pope), Operasi Trikora, Operasi Dwikora, Operasi Penumpasan G-30-S/PKI, dan Operasi Seroja di Timor Timur. TNI AU juga melaksanakan berbagai Operasi Militer selain perang, misalnya dalam menangani bencana alam. Di salah satu vitrin terdapat foto-foto RI-001 Seulawah dan sejarah Indonesian Airways sebagai penerbangan niaga pertama milik Indonesia.

Di ruangan berikutnya, kami melihat berbagai seragam yang dikenakan TNI Angkatan Udara, mulai dari Pakaian Dinas Upacara, Pakaian Dinas Harian, Pakaian WARA (Wanita Angkatan Udara), pakaian penerbang, dan seragam Paskhas. Di bagian tengah ruangan, terdapat benda-benda memorabilia empat pahlawan perintis TNI Angkatan Udara, mulai dari foto-foto, surat keputusan pengangkatan sebagai pahlawan, dan tanda-tanda jasa yang pernah mereka terima.

Setelah melihat-lihat perjalanan sejarah TNI Angkatan Udara, saya memasuki ruangan berikutnya. Ruangan ini merupakan ruangan yang menyimpan dokumentasi berbagai pendidikan yang dilaksanakan oleh TNI Angkatan Udara, antara lain Sesko, Koharmat, Koops AU, Kohanudnas, dan Akademi Angkatan Udara. Di salah satu dinding bahkan terpampang nama lulusan Sekolah Pendidikan Sekbang TNI AU. Tak hanya masalah pendidikan, di tengah ruangan saya melihat patung dada dan berbagai benda milik KSAU dari masa ke masa. Salah satu KSAU yang paling saya ingat adalah Chappy Hakim, yang gemar menulis dan main saksofon. Buku-buku beliau juga ditampilkan dalam museum ini, antara lain yang berjudul “Awas! Ketabrak Pesawat Terbang”.

Dan akhirnya, saya masuk ke bagian hanggar, bagian favorit saya. Hanggar ini penuh sesak dengan koleksi pesawat berjumlah kurang lebih 46 buah, berbagai peralatan radar, dan persenjataan udara. Ditambah lagi para pengunjung yang terdiri dari anak-anak (dan para pengantarnya) turut memenuhi ruangan dan melihat-lihat koleksi pesawat, sehingga suasana menjadi sangat ramai. Saya sempat mengambil foto beberapa pesawat, antara lain adalah Cureng, P-51 Mustang, DC-3 Dakota dan Mig-21. Tiga pesawat yang saya sebut belakangan merupakan pesawat yang sukses di masanya. Khususnya untuk Cureng, pesawat ini merupakan pesawat bersejarah, karena digunakan Agustinus Adisucipto untuk melakukan penerbangan pertama dengan pesawat berbendera merah putih. Di salah satu sudut hanggar terdapat studio foto, yang melayani foto menggunakan seragam penerbang dengan latar belakang pesawat. Studio ini laris manis dirubung anak-anak yang ingin berfoto.

P-51 Mustang, pesawat tempur yang berjaya di masanya

Mig-21, "tanda mata" hubungan RI dengan blok Timur
DC-3 Dakota versi militer
Di salah satu hanggar, terdapat Ruang Hipobarik, atau Ruang Bertekanan Rendah. Ruangan ini digunakan untuk melatih para penerbang mengenai pengaruh ruang tekanan rendah terhadap kondisi fisik maupun kondisi mental awak pesawat, terutama untuk mendeteksi gejala-gejala Hipoksia. Tak hanya ruangannya, bahkan di luar terdapat kompresor yang digunakan untuk mengatur tekanan di dalam Ruang Hipobarik. Karena peralatannya masih utuh, saya jadi penasaran, alat yang di museum ini kira-kira masih dipakai atau tidak ya?

Menjelang pintu keluar hanggar untuk menuju ruang diorama, di dekat pintu terdapat replika Dakota VT-CLA. Dakota VT-CLA adalah kode pesawat yang ditembak Belanda pada 29 Juli 1947 di dusun Ngoto. Peristiwa ini merupakan aksi balas dendam pengeboman di Semarang, Salatiga dan Ambarawa yang dilakukan para kadet AURI pada pagi harinya. Dalam peristiwa ini gugur beberapa tokoh perintis TNI Angkatan Udara, yaitu Agustinus Adisucipto, Abdulrahman Saleh, dan Adisumarmo Wirjokusumo. Replika di museum ini menampilkan bagian ekor pesawat, serta miniatur Monumen Perjuangan TNI-AU. Monumen yang asli berada di dusun Ngoto, desa Tamanan, Banguntapan, Bantul.

Ruangan berikutnya adalah ruang diorama perjuangan, yang berfokus pada sejarah TNI Angkatan Udara Republik Indonesia. Beberapa diorama peristiwa penting yang sempat saya amati adalah Pembentukan TKR Bagian Penerbangan, Pembukaan Pangkalan Angkatan Udara di Gadut Bukittinggi pada tanggal 24 Maret 1947, Penerbangan Pesawat Merah Putih Pertama oleh Agustinus Adisutjipto menggunakan pesawat Cureng peninggalan Jepang pada tanggal 27 Oktober 1945, dan Penerobosan Blokade Udara oleh RI-001 Seulawah dari Birma ke Aceh tanggal 8 Juni 1949. Masih terdapat beberapa diorama lain yang menampilkan operasi militer yang pernah dilaksanakan oleh TNI AU.

Ruangan berikutnya adalah ruang diorama satelit komunikasi Palapa. Di dalam ruangan terdapat peragaan yang menunjukkan posisi dan cara kerja satelit komunikasi Palapa. Salah satu vitrin menunjukkan miniatur pesawat ulang alik Challenger yang pernah membawa salah satu satelit Palapa ke orbit.

Akhirnya saya tiba di ruangan terakhir. Di ruangan ini terdapat lambang berbagai skuadron milik TNI Angkatan Udara, serta foto-foto perkembangan skuadron dari masa ke masa. Di bagian tengah ruangan, sebelum toko cenderamata, dipajang berbagai miniatur pesawat, yang merupakan sumbangan dari penggemar miniatur pesawat. Setelah puas melihat miniatur pesawat, saya bergegas keluar museum, untuk menuju tempat wisata lain di Yogyakarta.

Setelah membaca tulisan saya di atas, barangkali anda penasaran, “Kampret”nya mana? Ternyata “Kampret” adalah nama glider (pesawat peluncur) GX-001 hasil modifikasi Sekolah Teknik Udara Perwira. Sekolah ini didirikan pada tahun 1951 di bawah pimpinan Letkol Ir. C.W.A. Oyen, dan mereka menyelidiki pembuatan pesawat udara. Glider Kampret merupakan hasil modifikasi glider Gruno-Baby, yang dibuat berdasarkan data glider buatan pabrik Father Belanda di Amsterdam dengan perbaikan dan sedikit perubahan. Uniknya, sang "Kampret" tidak dipajang di bawah bersama pesawat-pesawat lain, melainkan digantung di langit-langit, entah karena hanggarnya sudah penuh sesak, atau memang ia terlihat lebih cantik jika dipajang di langit-langit hanggar.
Inilah si "Kampret", glider buatan anak bangsa