Thursday, July 28, 2011
Museum Sonobudoyo, belajar sejarah wong Jogja
Kalau membaca sejarah museum Sonobudoyo, keberadaan museum ini ternyata jauh lebih tua daripada Republik Indonesia. Museum Sonobudoyo berawal dari Java Instituut yang diresmikan pada tahun 1935 atas prakarsa Sultan Hamengkubuwono VIII. Plakat pendirian museum dalam bahasa Belanda masih terpasang di gerbang masuk museum. Sebenarnya ada 2 plakat, plakat pertama adalah plakat pendirian, sedangkan plakat kedua saya sendiri kurang bisa memahami, karena bentuk gambanya lebih mirip orang Mesir daripada orang Jawa.
Masuk ke pendapa depan museum, kita akan disambut seperangkat gamelan. Ya, gamelan merupakan salah satu pusaka bagi keraton, sehingga mereka pun memberi nama 'Kyai' kepada gamelan tersebut. Kemudian kita akan masuk ke dalam gedung museum, melihat berbagai peninggalan prasejarah dan sejarah khususnya di wilayah DI Yogyakarta.
Beberapa koleksi yang unik di museum ini adalah sarkofagus (peti mati) yang ditemukan di bukit kapur di Gunung Kidul. Sarkofagus ini tidak dipajang seperti koleksi lainnya, melainkan "dipendam" (diletakkan di bawah lantai) dan diberi kaca, sehingga kita bisa melihat bagian dalamnya.
Koleksi lain yang juga banyak dan menarik adalah berbagai jenis wayang yang ada di Indonesia. Wayang yang dipamerkan dalam museum ini tidak terbatas pada wayang kulit yang berkembang di DI Yogyakarta, tetapi juga wayang-wayang lain, seperti Wayang Golek, Wayang Menak dari Tegal dan Karawang, Wayang Purwa Bali, dan juga wayang-wayang modern seperti Wayang Suluh, Wayang Wahyu dan Wayang Kancil.
Di bagian akhir museum, terdapat koleksi peninggalan budaya dari Bali. Selain koleksi patung dan peralatan budaya lainnya, di bagian belakang museum terdapat replika bale-bale di Bali, di mana untuk memasuki bale-bale tersebut harus melewati gapura bentar gaya Bali. Kalau foto di situ, tidak serasa di Yogya deh...
Ketika kami akan keluar museum, di dekat pintu gerbang terdapat meriam yang digunakan oleh pasukan milik Hamengkubuwana III. Tidak seperti meriam peninggalan Belanda, di badan meriam ini tertulis dalam huruf Jawa. Bisa dibayangkan, rupanya persenjataan Kesultanan Yogyakarta di masa lalu tidak kalah canggih dengan pemerintah kolonial Belanda.
Malam harinya, kami kembali ke Museum Sonobudoyo untuk menonton pertunjukan wayang kulit. Tidak seperti wayang kulit klasik yang ditampilkan semalam suntuk, wayang kulit di museum Sonobudoyo ini hanya berdurasi 2 jam, dari pukul 20.00-22.00 WIB. Pertunjukan menampilkan cerita Ramayana yang dibagi dalam 8 episode, masing-masing episode berdurasi 2 jam dan dimainkan secara bergiliran setiap malam. Karena dalang memainkan wayang kulit sesuai pakem, termasuk penggunaan bahasa Jawa yang tidak umum didengarkan sehari-hari, maka bagi mereka yang tidak mengerti jalan ceritanya mungkin akan merasa pertunjukkannya membosankan. Namun saya kebetulan seorang penggemar wayang, sehingga walaupun tidak mengerti bahasanya, saya bisa mengira-ngira jalan ceritanya. Malam itu kami menonton episode Hanoman Duta, di mana Hanoman, kera putih sakti, diutus Sri Rama untuk datang ke Alengka melihat kondisi Sinta yang diculik Rahwana. Setelah bertemu Sinta, dalam perjalanan kembali ke Sri Rama, Hanoman sempat memporak-porandakan dan membakar Alengka. Dari sekian banyak penonton, barangkali selain dalang dan pemain gamelan serta sinden, hanya kami ber-4 yang pribumi, selebihnya adalah turis mancanegara. Namun para turis tersebut silih berganti keluar-masuk ruang pertunjukan, dan di akhir pertunjukan hanya tersisa 2 orang turis yang setia menonton dari awal. Yang menarik dari pertunjukan ini, panggung dibuat sedemikian rupa, sehingga penonton dapat memilih mau menonton dari mana, mau dari belakang dalang atau dari balik layar. Keduanya memberikan sensasi yang berbeda, jika kita menonton dari belakang dalang kita dapat melihat warna tokoh-tokoh wayang dan dapat dengan mudah membedakan masing-masing tokoh, sedangkan jika kita menonton dari balik layar, kita dapat melihat bayangan tokoh-tokoh wayang, di mana tatahan pada kulit membuat bayangan tersebut menjadi indah dan hidup.
Tuesday, July 26, 2011
Ullen Sentalu, Menyingkap Kehebatan Para Putri dari balik tembok Keraton
![]() |
| Papan Nama Museum Ullen Sentalu |
Beralih ke ruang berikutnya, kami masuk ke Royal Room Ratu Mas. Ratu Mas adalah permaisuri Sri Susuhunan Pakubuwono X, penguasa Keraton Surakarta. Di dalam ruangan ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan PB X dan putri mereka, serta pernak-pernik kelengkapan busana beliau. Salah satu koleksi yang menarik perhatian kami adalah koleksi topi beliau. Konon, topi-topi yang lucu tersebut adalah rancangan beliau sendiri, dan dibuat di Perancis. Wah, ternyata di masa lalu, para permaisuri ini tidak hanya modis dalam berbusana Jawa, mereka pun modis dalam berbusana ala Eropa!
Dari Royal Room Ratu Mas, kami beranjak ke ruangan batik. Terdapat dua ruangan yang menampilkan koleksi batik, satu ruangan khusus batik keraton gaya Surakarta dari masa PB X hingga PB XII, ruangan satunya adalah khusus batik keraton gaya Yogyakarta dari masa HB VII dan HB VIII. Keterangan mbak Tya tentang batik-batik ini mengingatkan kembali pada kami bahwa batik tidak sekedar kain dengan motif hias, namun memiliki makna filosofis yang mendalam. Salah satunya adalah motif Parang Sujen, parang bermakna pedang yang berarti perang, sehingga jika kita ingin menghadap raja, maka jangan sekali-sekali mengenakan motif ini, karena bisa dianggap menentang raja.
Ruangan berikutnya adalah ruangan yang wajib diinikmati, yaitu Ruang Putri Idaman. Ruang ini merupakan album hidup GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Soerjosoejarso, atau lebih dikenal dengan nama Gusti Nurul. Putri tunggal HRH Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur Mursudariyah ini merupakan salah satu putri tercantik di masanya, sehingga banyak pangeran yang ingin meminangnya. Walaupun tinggal di dalam lingkungan keraton, Gusti Nurul memiliki gaya dan pandangan hidup yang cukup modern untuk masa itu. Beliau bersekolah di sekolah Belanda, serta gemar melakukan hal-hal yang tidak lazim dilakukan oleh putri keraton pada masa itu, seperti main tenis, berenang, dan berkuda. Kegemaran berkudanya tidak main-main, karena beliau beberapa kali memenangkan berbagai perlombaan berkuda.
Gusti Nurul juga dikenal dengan keberaniannya dalam mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama, salah satu diantaranya adalah beliau berprinsip tidak mau dipoligami. Akhirnya beliau menikah dengan KPH Soerjosoerarso, seorang perwira Angkatan Darat, dan mereka tinggal di Bandung. Saya sendiri pernah melihat Gusti Nurul dari dekat di Keraton Mangkunegaran, ketika sedang mengantarkan nenek saya (almh.) mengikuti acara reuni Varia Orang Jauhari (VOJ) di Solo tahun 1996. Gusti Nurul merupakan salah satu aktivis VOJ di Cabang Bandung, dan bukan main, walaupun usia beliau sudah sepuh, namun aura kebangsawanan beliau masih terpancar dengan jelas!
Akhirnya, kami tiba di area luar museum. Mbak Tya kemudian membawa kami ke Sasana Sekar Bawana, melewati koridor Retja Landa. Koridor ini memajang arca dewa dewi dari abad 8-9 Masehi, atau dari masa perkembangan agama Hindu dan Buddha di tanah Jawa. Salah satu arca yang saya ingat adalah arca Ganesha, dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu.
Di belakang koridor Retja Landa, terdapat ruang Sasana Sekar Bawana. Di dalam ruangan ini terdapat lukisan dan patung. Lukisan pertama yang kami temui adalah lukisan Sri Sultan HB X dan permaisuri Ratu Hemas sedang menerima kunjungan kenegaraan dari Pangeran Charles dan Putri Diana almh. Lukisan ini mencerminkan bahwa hubungan antara Kerajaan Inggris dan Kesultanan Yogyakarta berlangsung sangat harmonis. Di sisi kiri lukisan PB X, terdapat lukisan tari Bedaya Ketawang sedang ditarikan di hadapan Panembahan Senapati. Bedaya Ketawang termasuk tarian yang sakral, dan hanya boleh ditarikan oleh para gadis yang sedang dalam masa suci. Tarian ini ditarikan oleh 9 orang, dan dipercaya bahwa di tengah-tengah tarian, Kanjeng Ratu Kidul akan turut menari sebagai penari ke-10. Dalam lukisan tersebut, kehadiran Kanjeng Ratu Kidul ditampilkan dalam bentuk penari ke-10 yang menerawang di atas penari-penari lainnya.
Lukisan terakhir yang wajib dilihat adalah lukisan Paes Ageng, atau tata rias pengantin wanita gaya Yogyakarta. Paes Ageng merupakan busana pengantin dari keraton, dan sampai dengan masa pemerintahan Sultan HB VIII hanya boleh digunakan oleh kerabat raja. Namun pada masa pemerintahan Sultan HB IX, Paes Ageng boleh digunakan untuk masyarakat umum. Tak hanya dalam bentuk lukisan, pengantin wanita yang mengenakan Paes Ageng ini juga diabadikan dalam bentuk patung.
| Bale Nitik Rengganis |
| Salah Satu Sudut Museum Ullen Sentalu |
Tuesday, June 14, 2011
Ke Yogyakarta aku kan kembali
Berawal dari ketika saya mendarat di Yogyakarta dan naik taksi menuju hotel pertama saya di Jl. Dagen, di sekitar Malioboro. Kenapa hotel pertama? Karena beberapa hari kemudian, saya pindah hotel ke Jl. Parangtritis. Alasan kepindahan ini bukan karena saya tidak suka hotel yang di Jl. Dagen, tapi karena pada hari tersebut saya bergabung dengan rombongan yang lebih besar, dan karena alasan operasional kami memilih menginap di Jl. Parangtritis. Dua daerah ini memiliki atmosfer yang berbeda, dan saya menikmati dua-duanya.
Bagi mereka yang ingin mendekati keramaian, sangat disarankan untuk memilih hotel di dekat Malioboro, seperti Jl. Pasar Kembang (yang terkenal karena... ehm... ehm...), Jl. Sosrowijayan dan Jl. Dagen. Atau kalau memang punya anggaran lebih, silakan menginap di hotel bintang di Jl. Malioboro. Sangat mudah mencari tempat belanja dan tempat makan, karena tempat makan dan toko souvenir, baik dalam bentuk toko permanen maupun pedagang pinggir jalan, umumnya baru tutup pukul 21.00. Ketika mereka tutup pukul 21.00, keberadaan mereka digantikan oleh lesehan. Jam 7 pagi, ketika mall, toko batik dan souvenir belum buka, banyak warung-warung tenda yang menjajakan sarapan pagi, tinggal pilih saja, mau sarapan umum seperti bubur ayam, atau sarapan khas Yogya seperti gudeg?
Ketika pindah ke daerah Jl. Parangtritis, saya merasakan agak sulit untuk memuaskan hasrat berbelanja, karena di sepanjang Jl. Parangtritis jarang terdapat toko yang menjual souvenir atau oleh-oleh. Tak hanya hasrat berbelanja, bahkan untuk makan pun agak sulit mencari tempat yang representatif, karena restoran atau kafe yang ada umumnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan para wisman, misalnya suasananya agak remang-remang (duh, males banget deh kalau harus makan di tempat seperti ini!). Hanya ada satu-dua restoran yang representatif, itu pun terkadang harus berjalan kaki agak jauh dari hotel. Namun bagi mereka yang mencari ketenangan dan keteduhan (alih-alih mencari keramaian), atmosfer di daerah Jl. Parangtritis sangat cocok untuk anda kunjungi. Tinggal pilih, mau merenung di hotel yang pakai kolam renang, atau mau menyepi di hotel bergaya rumah Jawa klasik, semua ada di Jl. Parangtritis.
Kembali ke saat pertama saya mendarat di Yogyakarta dan naik taksi ke Jl. Dagen. Ini bukan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Yogyakarta, namun barangkali baru kali ini saya pergi ke Yogyakarta dengan nawaitu untuk berwisata secara full-time dalam durasi yang panjang. Selama ini saya pergi ke Yogyakarta dengan tujuan untuk berdinas, acara keluarga, atau hanya numpang lewat saat pulang mudik Lebaran. Sangat jarang saya bisa berwisata secara full-time, sehingga kedatangan kali ini cukup istimewa bagi saya. Mungkin karena itu, saya merasakan atmosfer yang agak berbeda ketika melihat suasana sepanjang jalan menuju ke hotel. Selama ini saya beranggapan, Yogya lebih mirip Bali, tempat liburan favorit semua orang, apalagi dengan banyaknya wisman yang berkunjung ke Yogya. Tapi kenapa saya justru merasa kota ini lebih mirip Bandung, yang penuh dengan kreativitas warganya? Mungkin karena sepanjang jalan, saya melihat banyak poster yang mempromosikan acara-acara di kota Yogya, mengingatkan saya pada suasana Jl. Cihampelas. Namun ada satu hal unik yang saya rasakan di Yogya. Saya merasakan bahwa di tengah kota Yogya yang modern, masih terasa hawa tradisional yang sangat kental. Sangat besar kemungkinan hal ini dipengaruhi dengan keberadaan keraton Yogyakarta, di mana kami merasakan sendiri bahwa rakyat Yogya memang bangga terhadap Kesultanan Ngayogyakarta, tak hanya mereka yang masih tinggal di Yogya, tapi juga mereka-mereka yang sudah pindah ke daerah lain. Kebanggaan ini yang tidak saya rasakan di tempat lain, bahkan di "negara tetangga" keraton Solo, rasanya hiruk-pikuk masyarakatnya tidak sedinamis kota Yogyakarta.
Hari pertama di Yogya, saya menikmati sore hari di Jl. Malioboro. Saya sempat mencoba naik delman dengan rute Kotagede-Jl. Rotowijayan-Bakpia Pathuk-kembali ke Jl. Malioboro. Untuk rute sejauh itu, saya membayar Rp 50.000. Tentu saja, pak kusir membawa saya mampir ke toko-toko suvenir, seperti toko kerajinan perak, toko Dagadu, toko batik, dan toko oleh-oleh di Pathuk. Sudah jadi rahasia umum, bahwa pak becak, pak kusir dan supir rental mendapat persenan apabila membawa tamu mengunjungi toko-toko suvenir seperti itu. Yah, namanya sama-sama cari rejeki, mudah-mudahan barokah ya Pak... Ketika saya keluar dari salah satu toko, saya baru memperhatikan, rupanya tiap kali kami berhenti, pak kusir memberi makan kudanya. Tadinya saya pikir rumput dan air itu disediakan oleh pemilik toko, rupanya rumput dan air itu dibawa dalam ember besi, dan digantung di bawah delman! Oalah, kasihan kudanya, sudah harus menarik delman, masih ketambahan beban satu ember besar air dan rumput!
Selama melintas di Jl. Malioboro, saya baru sadar, salah satu keunikan Jl. Malioboro adalah "one-stop-shopping". Bukan sekedar karena semua oleh-oleh khas Yogya (baik makanan maupun barang) bisa diperoleh di Jl. Malioboro, namun di Jl. Malioboro kita bisa menemukan banyak hal : toko souvenir, makanan khas Yogya, pasar tradisional, mall modern, wisatawan lokal, wisatawan mancanegara, kantor pemerintahan, becak, delman, mobil, pengamen bergitar, pengamen angklung, wisata sejarah (ada benteng Vredeburg), budget hotel, dan hotel berbintang. Di mana lagi saya bisa menemukan lokasi selengkap ini?
Salah satu kesulitan dalam mengatur perjalanan di Yogya adalah masalah itinerary. Sebenarnya, jarak antar lokasi di Yogya satu sama lain tidak terlalu jauh. Yang bermasalah justru mengatur waktunya, karena kebanyakan tempat menarik di Yogya buka jam 8-9, dan jam 2 siang sudah tutup, padahal dalam 1 tempat banyaaaak sekali yang harus dilihat. :( Dalam waktu 1 hari, paling-paling hanya bisa ke 1-2 tempat, padahal daftar tunggu yang harus dikunjungi di Yogya sudah sedemikian panjang. Untuk mengatasi ini, mau tidak mau saya harus menyusun prioritas, dan prioritas yang saya buat berdasarkan beberapa hal : tempat tersebut menarik atau tidak, ramai atau tidak, pernah dikunjungi atau tidak, aksesnya susah atau tidak, dlsb. Setelah melakukan survey kecil-kecilan di internet, akhirnya saya memutuskan mencoret beberapa tempat, karena ternyata tempat tersebut tidak ramai dikunjungi orang alias sepi, malas kan kalau harus berwisata di tempat sepi?
Akhirnya, setelah seminggu menikmati suasana kota Yogyakarta, saya berkesimpulan Yogya memang merupakan perpaduan antara Bali dan Bandung, di mana keindahan alam, peninggalan tradisional dan para wisman berpadu dengan kreativitas warga di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta. Dan dengan begitu banyak tempat menarik yang harus dikunjungi (mulai dari museum, desa wisata, tempat kerajinan, dan jangan lupakan wisata kuliner!), rasanya seminggu di Yogya tak cukup, jadi kapan-kapan saya harus kembali lagi ke Yogyakarta...
Friday, May 27, 2011
Surabaya Heritage Track
Jam 14.55, pintu "trem" SHT dibuka (tepatnya itu adalah bis tanggung yang casing-nya dibuat mirip trem, kendaraan umum yang dulu malang melintang di Surabaya), dan para tracker (demikian mereka menyebut peserta SHT) mulai mengambil tempat di trem. Tepat pukul 15.00, trem berangkat dari HoS. Saat berangkat, Mas-Mas Guide menjelaskan bahwa program SHT ini terselenggara atas kerjasama PT Sampoerna dengan Pemda Surabaya (duh, harus ada sponsor dulu ya baru bisa ada program bagus kaya beginian...) Mas-Mas Guide mulai menjelaskan bangunan bersejarah dan gedung-gedung tua (dan terkadang tak terawat :( ) yang ada di seputar Surabaya Utara, mulai dari (mantan) Penjara Kalisosok, gedung Internatio tempat tewasnya Brigjen Mallaby, Jembatan Merah, Tugu Pahlawan, Siola (yang rencananya akan direvitalisasi lagi jadi pusat perbelanjaan), Hotel Majapahit (d/h hotel Oranje tempat perobekan bendera Belanda jadi merah putih), Gedung Grahadi dan Balai Pemuda. Sayang, si Mas-Mas Guide ga mention patung Joko Dolog yang tersembunyi di taman Apsari, yang letaknya kira-kira di depan Gedung Grahadi.
Di Balai Kota, para tracker turun dan dibawa ke lobi Balai Kota untuk melihat patung suro-boyo dan sejarah kota Surabaya (dan gedung balai kota khususnya). Bangunan ini sebenarnya bangunan tua, tapi tidak terlihat jadul. Rupanya terdapat banyak versi tentang asal mula nama suro-boyo, mulai dari versi fabel dari Von Faber, sampai versi sejarah untuk memperingati kemenangan pasukan Majapahit atas serbuan tentara Mongol. Wait, kemaren mas-masnya menyebut kemenangan pasukan Singosari, waduh, kayanya kita harus baca buku sejarah lagi, yang perang ama tentara Mongol itu pasukan Majapahit!
Dari Balai Kota, rombongan bergerak lagi ke pemberhentian selanjutnya di Gedung Cak Durasim. Di perjalanan, Mas-Mas Guide ga lupa menyebutkan titik-titik wisata kuliner terkenal di Surabaya, seperti salah satunya sate klopo Ondemohen. Wah, harus dicoba bo... Mas-mas Guide juga menyebutkan, bahwa HoS kadang-kadang punya program SHT tematik di luar program reguler yang gratisan, misalnya bulan Mei 2011 ini mereka punya program kunjungan ke museum-museum ga umum di Surabaya, seperti Museum Loka Jala Srana (yang terletak di kompleks AAL), Museum Kesehatan (yang lebih dikenal sebagai Museum Santet), dan Museum Perjuangan (1 kompleks dengan Tugu Pahlawan). Tarifnya murah meriah juga, berkisar antara Rp 1500-3000 per orang. Kalau saya hitung-hitung, itu sebenernya cuman untuk mengganti tiket masuk ke museum, tapi kan lumayan, masuk museumnya raramean!
Di Gedung Cak Durasim, para tracker dipersilakan turun lagi. Konon gedung ini tadinya merupakan kraton Kanoman Kadipaten Surabaya, di bawah pimpinan Adipati Jayengsrono. Mengenai kebenarannya, akan kita cek lagi di Wikipedia. Gedung ini merupakan gedung kesenian yang menjadi pusat pengembangan kebudayaan Jawa Timur. Sayangnya, pas kami berkunjung sedang tidak ada event kebudayaan, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Sayangnya juga, si Mas-Mas Guide ga menjelaskan siapakah Cak Durasim, dan apa jasanya sehingga namanya diabadikan menjadi nama gedung kesenian tersebut.
Tanpa terasa, sudah 1 jam 20 menit kami keliling Surabaya Utara, dan sudah waktunya mengakhiri perjalanan yang seru ini. Bagi saya, orang luar Surabaya yang cukup sering ke Surabaya (dan pernah melintasi rute tersebut sehingga gedung-gedung itu tidak asing lagi bagi saya), ide tournya OK banget (pengennya di Jakarta juga ada yang kaya begini, ada ga ya?), cuman kurang "nendang" sedikit, perlu tambahan polesan-polesan dan pengetahuan yang lebih dalam, sehingga Mas-Mas Guide-nya bisa "ngoceh" lebih seru lagi mengenai sejarah masing-masing gedung bersejarah itu. Tapi klo melihat para tracker, kayanya cuman saya aja yang bukan orang Surabaya, sisanya adalah orang Surabaya, and they all enjoy the trip, so it's worthed to have the trip!
Saturday, February 26, 2011
Kebun Raya Bogor, Riwayatmu Kini
| Kerangka Ikan Paus Biru |
Setelah puas melihat-lihat Museum Zoologi, kami lanjut ke Kebun Raya. Target pencarian kami adalah taman-taman yang merupakan peringatan atas jasa-jasa para pendiri dan kepala Kebun Raya terdahulu. Yang menyenangkan adalah Kebun Raya tetap dijaga bersih, tidak jorok atau terlihat banyak sampah di mana-mana. Untuk berjalan santai mengelilingi Kebun Raya, dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, wah, rasanya keringat sudah di mana-mana. Kami sempat melihat ada makam Belanda yang tersembunyi di antara koleksi tanaman bambu, ketika kami melihat ke sana, tiba-tiba angin bertiup kencang, membuat rumpun-rumpun bambu itu berbunyi seperti menyayat hati... kok jadi merinding ya...
Selama berkeliling Kebun Raya, di setiap sudut terlihat banyak pengunjung melakukan berbagai kegiatan. Ada yang hanya duduk-duduk di tepi danau, ada yang berkumpul sambil berdiskusi, ada juga yang hunting foto, ada juga yang lagi foto gaya (bukan cuman foto narsis, tapi memang foto untuk pre-wed atau model) ada yang berjalan-jalan (terutama kalau ketemu turis asing, biasanya mereka berjalan keliling Kebun Raya), ada juga yang lagi ehem... ehem.... Walaupun sesekali ada mobil melintas, membuat para pejalan kaki ini harus minggir sejenak, tapi pada umumnya hawa di Kebun Raya cukup segar, mengingatkan kita akan kebutuhan untuk berelaksasi di tempat yang menyenangkan setelah selama seminggu dihujani kesibukan.
Ada beberapa spot yang harus dikunjungi, antara lain Monumen Lady Raffless, Kolam Teratai (yang berbatasan langsung dengan bagian belakang Istana Bogor), Taman Mexico (berisi berbagai jenis kaktus yang cantik), Taman Teysmann dan Taman Sujana Kassan (taman terbuka untuk relaksasi), Orchidarium (the real Taman Anggrek, surga para pecinta anggrek), Jalan Astrid (boulevard yang ditanami bunga untuk menyambut kedatangan putri Astrid dari Belgia tahun 1928), dan Jembatan Gantung. Bagi para pecinta tumbuhan, tempat ini bagaikan surga tumbuh-tumbuhan, karena terdapat berbagai macam tumbuhan yang ditanam di sini. Kalau beruntung, anda bisa menemukan Bunga Bangkai yang berbunga setiap 3-4 tahun sekali (biasanya ketika bunga ini mekar, dari pihak Kebun Raya akan mengumumkan, karena bunga ini hanya mekar selama seminggu). O ya, bunga bangkai primadona Kebun Raya ini bukan bunga Rafflesia, walaupun bunga Rafflesia juga seringkali disebut sebagai Bunga Bangkai.
| Jalan Astrid |
Monday, February 21, 2011
Another Episode of Mbatik Yuk : Batik dengan Cap
Tanggal 21 Februari 2011 yang lalu, saya berkesempatan (lagi) untuk ikut kursus Mbatik Yuuk yang diberikan oleh ibu Indra Tjahjani. Kali ini temanya lain dari yang lain : membatik dengan cap. Duh, jadi penasaran...
Sebelum acara cap-capan dimulai, bu Indra kembali memberikan sedikit presentasi tentang batik, apa yang dimaksud dengan "batik", dan jenis-jenis batik yang populer serta maknanya. Ternyata, batik cap masih bisa dikategorikan "batik", karena walaupun tidak menggunakan canting, namun proses pembuatannya kurang lebih sama seperti batik tulis : malam diletakkan membentuk pola di atas kain-kain diberi warna-malamnya di"lorot" (tepatnya dilarutkan dengan air panas), and... voila! Jadilah batik cap!
Selesai presentasi, mulailah kami bereksperimen dengan cetakan batik cap. Pas liat mas-mas yang memperagakan, kok kayanya gampang ya... begitu mencoba sendiri, haduh, ternyata cetakannya panas, euy... mana kalau malamnya kebanyakan, langsung membentuk "noda-noda yang tak diinginkan". Tapi itu tidak mengurangi semangat para peserta untuk mencoba men-cap-kan malam di atas kainnya masing-masing. Setelah acara cap-capan selesai, kainnya masih boleh dihias menggunakan canting atau parafin, sebelum kemudian diberi pewarna. Pas dikasih pewarna terus malamnya dilorot, eh, lumayan juga hasilnya, hehehe...
Lagi-lagi, setelah merasakan sendiri bagaimana (susahnya) membuat batik cap, kembali saya harus menyampaikan rasa kagum kepada bapak-bapak pengrajin batik cap. Cetakan yang mereka pakai jauh lebih besar dari yang kami gunakan saat kursus (dan tentunya lebih berat), namun mereka bisa membatik dengan cepat dan rapih, luar biasa khan? Kesimpulan dari workshop ini adalah : mari kita semakin menghargai hasil karya para pengrajin batik!
Saturday, December 25, 2010
Destinasi Wisata Pesisir : gemana seh???
Baca-baca di website ini, dan menemukan 'iklan' di tol layang Wiyoto Wiyono, rupanya ada 12 Destinasi Wisata Pesisir di Jakarta Utara : Taman Margasatwa Muara Angke, Sentra Perikanan Muara Angke, Kawasan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang, Sentra Belanja Mangga Dua, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Bahtera Jaya Ancol, Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Islamic Center, Gereja Kampung Tugu, Kampung Marunda, Sentra Belanja Kelapa Gading (mungkin lebih tepat klo sebutannya sentra wisata kuliner, soalnya klo belanja di Kelapa Gading kan mahal ya bo...). Karena kalau dilihat di peta yang paling dekat dengan tol JORR itu daerah Marunda, jadi kami memutuskan untuk pergi ke Marunda, rencananya pengen liat Rumah si Pitung.
Berbekal keterangan dari internet dan keterangan pada buku "99 tempat liburan akhir pekan di pulau JAWA dan MADURA", begitu keluar dari tol JORR mulailah kami mencari Rumah si Pitung. Tapi ketika kami menyeberang jembatan Marunda, melihat STIP Marunda, dan mulai mencari papan berwarna kuning yang ada tulisan "Mesjid Al Alam, Rumah Pitung, Pantai Marunda" (seperti petunjuk pada buku "99 tempat liburan"), ga ketemu... bahkan kami sudah sempat menyeberang perbatasan masuk wilayah Jawa Barat yang tidak jauh lagi dari STIP Marunda. Langsung kami putuskan untuk memutar balik, logikanya sederhana aja : ga mungkin rumah si Pitung masuk wilayah Jawa Barat. (kok petunjuknya salah ya? Padahal Mbak-Mbak penulis bukunya jelas-jelas masukin foto papan kuningnya...)
Akhirnya kami memfokuskan diri pada petunjuk penting lainnya : di belakang STIP Marunda. Jadi dengan logika barangkali di sekitar STIP Marunda ada jalan keliling, kami masuk ke jalan masuk STIP Marunda (dan setelah kami perhatikan, memang tidak ada petunjuk sedikit pun di jalan masuk STIP Marunda mengenai keberadaan rumah si Pitung). Menelusuri jalan itu, sampailah kami pada jalan buntu, tepatnya jembatan yang hanya bisa dilewatin motor. Dah sempet bingung, akhirnya tanya sama penjaga warung, rupanya kami berada di jalan yang benar... jadilah mobil diparkir dekat warung, dan kami berjalan kaki ke menyeberangi jembatan yang hanya terbuat dari bambu dan kayu, menuju rumah si Pitung. Suasana di sekitar lokasi sangat unik karena berbentuk rawa-rawa, ada orang yang sedang mencari ikan, dan terlihat pohon bakau di tengah rawa.
Setelah tiba di sebuah rumah panggung (yang menurut perkiraan kami mestinya ini rumah si Pitung), ternyata rumah itu lagi direnov, banyak banget tukang yang lagi kerja. Sempat ragu-ragu, kami bertanya pada pak Satpam yang ada di situ, rupanya benar ini rumah si Pitung (akhirnya ketemu juga!). Tapi rumah itu lagi direnovasi, dan mereka ga bisa memastikan kapan renovasinya selesai. Jadi ya sudahlah, kami kembali ke mobil, dan berencana untuk kembali lagi di lain waktu (habis mau difoto juga isinya tukang bangunan sama tumpukan semen...).
Ketika kami menelusuri jalan kembali menuju jalan raya, kami masih penasaran dengan papan kuning yang katanya ada itu. Tapi sampai kembali ke jalan raya dan masuk Jl. Cilincing, sama sekali tidak ada papan kuning tersebut... Setelah baca-baca lagi buku "99 tempat liburan", di buku itu tidak ada tahun penerbitannya, jangan-jangan keterangan di buku itu yang udah kadaluwarsa... ternyata setelah dibaca lagi dengan seksama, di buku itu mbak-mbak penulisnya pergi ke Madura masih pake feri dan ada foto jembatan Suramadu masih proses konstruksi, berarti buku itu diterbitkan sebelum Juni 2009, pantes aja infonya ada yang kadaluwarsa...
Karena sudah sampai di daerah Cilincing, iseng-iseng saya mencari Krematorium Cilincing. Hampir salah masuk jalan kembali ke Jl. Akses Marunda, karena papan petunjuk jalan yang tidak jelas (doh, payah deh...). Namun akhirnya kami menemukan Jl. Cilincing Lama, dan berhasil menemukan jalan menuju Krematorium. Krematoriumnya sih biasa saja, dan sebenarnya saya ingin turun masuk jalan-jalan ke klenteng Wan Lin Chie dan vihara Lalitavistara yang ada di jalan masuk Jl. Cilincing Krematorium. Tapi ketika kami berputar di lapangan parkir krematorium dan melihat tukang parkir di parkiran Krematorium (dengan gaya seperti mau narik biaya parkir), tiba-tiba kami mengurungkan niat dan kembali ke jalan raya... O ya, kalau liat Indomaret yang ada di jalan itu, ditulis "Cilincing Rekreasi". I wonder, apakah itu merupakan jalan ke pantai Cilincing yang dulu tersohor itu ya...
Next destination, Stasiun KA Tanjung Priok. Waktu kecil, saya ingat kalau pergi ke TIJA untuk berenang, pasti lewat stasiun Tanjung Priok, jadi tidak sulit untuk menemukan stasiun itu. Pas masuk, kok sepi ya... apa stasiunnya masih beroperasi? Namun pertanyaan saya segera terjawab, karena terlihat papan harga tiket yang masih baru, dan di situ tercantum nama dan harga tiket KA yang masih beroperasi, OK, berarti stasiunnya fully operated.
Memasuki peron stasiun, serasa tidak berada di salah satu stasiun KA di Indonesia. Di sisi kiri terdapat panel yang menceritakan sejarah perkeretaapian di Indonesia. Kami sempat foto-foto ke arah peron. Tapi ketika kami mau foto peron yang ada perkantorannya, kami dicegat pak Satpam, ditanya buat apa foto-foto, ya buat koleksi pribadi Pak... katanya kalau mau foto-foto bagian peron yang ada kantornya, harus didampingi orang kantor. Berhubung kami males berdebat, kami pergi aja dan mengurungkan niat untuk foto-foto lebih lanjut. Katanya destinasi wisata, tapi kok nggak boleh foto-foto? Emang harus bayar ya? Males dah... kalau mau disuruh bayar, sekalian aja pasang tarif karcis foto di loket! (seperti di kraton Yogyakarta, jadi bayarnya resmi, bukan sekedar salam tempel) Atau kalau nggak boleh foto, pasang aja rambu larangan berfoto, kita kan bisa baca...
Destinasi berikutnya : Gereja Tugu. Sebenernya tadinya tidak berencana mau ke Gereja Tugu, tapi setelah membaca buku "99 tempat liburan", eh, ternyata deket aja, cuman "di belakang" Depot Pertamina Plumpang! Setelah mencari-cari, sebenarnya gerejanya langsung ketemu, hanya karena hari kami berkunjung ini adalah Hari Natal, pasti gerejanya lagi sibuk banget melayani jemaat (dan kami tidak ingin dikira mau berziarah atau kebaktian...), jadi kami hanya menandai tempat ini di peta untuk dikunjungi di lain waktu.
Kesimpulan hasil kunjungan hari ini : program "12 Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara" saat ini perlu dipertanyakan. Keterangan dan petunjuk jalan yang tidak jelas (bahkan keterangan di website, buku dan peta bisa menyesatkan, seperti ketika mau ke Rumah Pitung), suasana kurang nyaman, dan petugas yang tidak kooperatif (seperti Satpam di stasiun KA Tj Priok) membuat saya bertanya-tanya, sebenernya seberapa besar niat pemerintah (terutama Pemda Jakarta Utara) untuk menjadikan lokasi-lokasi yang katanya Destinasi Wisata ini mudah, layak, dan menyenangkan untuk dikunjungi? Beberapa lokasi memang sedang berbenah (I hope so, seperti Rumah Pitung, mudah-mudahan hasil renovasi menjadikan lokasi tersebut mudah untuk dicapai), tapi lokasi yang sudah siap, seperti Stasiun Tanjung Priok, malah menyulitkan orang yang mau berwisata, mau foto-foto aja susah. Gimana industri wisata Indonesia mau maju kalau caranya seperti ini...
Tugu Pahlawan Surabaya
Sunday, November 14, 2010
Noiseless Bencoolen
Hening dan damai. Itulah kesan pertama ketika keluar dari gerbang bandara Fatmawati Soekarno. Tujuan pertama : Museum Propinsi Bengkulu. Begitu sampai di museum, udah tahu nih, sama kaya tipikal museum-museum propinsi lainnya, pasti museumnya sepi. Benar saja, bahkan penjaga loketnya pun susah banget dicari...
Memasuki museum propinsi Bengkulu, nggak kaya museum lainnya yang banyak benda bersejarah, di museum ini justru lebih banyak mengenai benda kebudayaan Bengkulu. Bahkan untuk mencari keterangan lengkap tentang bunga Rafflesia pun tidak ada... Namun demikian, saya nggak menyesal masuk ke museum ini, karena ternyata banyak keterangan tentang suku lokal yang tinggal di Bengkulu, menggambarkan betapa beraneka ragam manusia yang tinggal di propinsi Bengkulu.
Koleksi yang menurut saya a must see adalah replika barang-barang yang digunakan dalam Upacara Tabot, yaitu upacara tradisional mengenang kepahlawanan Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur pada perang melawan bala tentara Ubaidillah bin Zaid di Padang Karbala. Upacara ini masuk dalam agenda tahunan wisata Bengkulu. Bahkan menara yang digunakan untuk Upacara Tabot dijadikan lambang “tidak resmi” kota Bengkulu, karena hampir di setiap sudut kota dapat ditemukan menara tabot yang dijadikan hiasan kota.
Kami juga melihat mesin cetak merek “Golden Press” buatan USA tahun 1931. Mesin ini pada tahun 1947 pernah digunakan oleh percetakan Dukhery Populer sebagai mesin pencetak “uang merah”, sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang dikenal sebagai Uang Merah / Mandat PMR (Persediaan Makanan Rakyat), dan berfungsi sebagai alat tukar yang sah untuk wilayah keresidenan Bengkulu. Selain itu mesin ini juga pernah digunakan oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia untuk mencetak naskah dan undangan grup tonil Monte Carlo.
Salah satu benda koleksi museum yang unik dan menyita perhatian kami adalah replika tongkat Raja Bengkulu. Tongkat yang terbuat dari bahan bambu kibut dan logam ini bentuknya menyerupai ular dengan bentuk badan meliuk dan ujung seperti kepala ular. Tongkat ini adalah kenang-kenangan dari raja Bengkulu kepada residen Inggris Yoseph Hurlock Esquire pada tahun 1752. Pada masa pemerintahan gubernur Razie Yahya tahun 1993, tongkat ini dikembalikan lagi ke Bengkulu. Tapi saya kok melihat tongkatnya agak-agak spooky ya... jadi takut mau foto... :( Ada juga patung yang digunakan untuk menari yang bentuknya mirip ondel-ondel, namanya Barong Landong. Boneka ini digunakan oleh suku Lembak untuk menari dalam upacara adat.
Selesai dari museum, atas saran dari salah satu pegawai museum untuk mengambil rute perjalanan yang paling efisien, kami menuju Pantai Panjang. Mobil berhenti di ujung Pantai Panjang, dan kami berkesempatan untuk menjejakkan kaki di pantai landai berpasir putih itu, sambil melihat langsung pemandangan ke arah Samudra Hindia. Pantainya bersih, dan sepi... tukang dagangan sih ada, tapi karena hari itu hari Sabtu, maka jumlahnya sedikit sekali, dan gak model ngejar-ngejar wisatawan, membuat kunjungan ke pantai ini sangat menyenangkan, sayang masih banyak obyek yang harus dikunjungi. Ketika hari Minggu-nya kami melewati lagi pantai Panjang, pantainya jauh lebih ramai, banyak tukang dagangan, dan ada berbagai atraksi untuk anak-anak, seperti odong-odong dan gajah tunggang. Namun demikian, masih terlihat banyak tempat yang kosong, tidak seperti pantai Ancol di Jakarta yang pada hari libur nyaris tidak ada lahan yang tersisa.
Setelah puas bermain air dan foto-foto sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri pantai, baru kami tahu alasan pantai ini diberi nama Pantai Panjang, karena panjangnya yang mencapai 7 km. Di beberapa tempat, pantai cukup lebar, sehingga banyak keluarga yang bermain air, atau anak-anak bermain bola di pantai. Namun anda tidak akan menemukan orang yang mandi-mandi di laut. Konon ada legenda yang terkait dengan Putri Gading Cempaka yang membuat orang tak berani mandi-mandi di pantai ini, namun mungkin juga bukan karena itu, mengingat pantai ini langsung berhadapan dengan Samudra Hindia yang arus bawahnya sangat kuat sehingga berbahaya jika kita berenang.
Semula dari Pantai Panjang kami langsung menuju Benteng Marlborough yang tersohor, namun sayang cuaca mendung, sehingga kami mengurungkan niat dan melanjutkan perjalanan menuju obyek selanjutnya. Tibalah kami di rumah pengasingan Bung Karno. Bengkulu punya romantisme tersendiri dalam perjalanan hidup Bung Karno, karena selama di pengasingan di Bengkulu beliau bertemu dengan Fatmawati, yang di kemudian hari menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.
Waktu kami tiba rumah pengasingan Bung Karno, tiba-tiba hujan! Kami lari-lari untuk berteduh ke dalam rumah. Bersamaan dengan kedatangan kami, terdapat serombongan anak sekolah yang juga berlari-lari untuk berteduh, membuat rumah yang kecil itu menjadi penuh. Rupanya mereka juga bermaksud untuk melakukan kunjungan, karena tidak lama kemudian guru pendamping mereka menyusul dan mengumpulkan mereka di beranda belakang rumah tersebut.
Di rumah ini tersimpan beberapa perabot seperti kursi tamu, tempat tidur dan lemari yang dipakai keluarga Bung Karno, serta sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno. Banyak juga foto-foto selama Bung Karno beraktifitas dalam pengasingan di Bengkulu. Selain itu terdapat 2 lemari yang berisikan seragam kelompok tonil Monte Carlo, grup sandiwara asuhan Bung Karno. Namun yang paling berharga dari koleksi tersebut adalah buku-buku Bung Karno yang mencapai ratusan buah, sayangnya kondisinya sebagian besar rapuh atau hancur termakan usia. Di beranda belakang rumah, terdapat kios yang menjual oleh-oleh khas Bengkulu dan buku-buku terbitan terbaru tentang Bung Karno. O ya, di halaman belakang rumah terdapat sumur keramat, konon barang siapa yang mencuci muka di sumur itu akan memperoleh kesuksesan, wallahu alam...
Di salah satu ruangan, rupanya ada eksebisi mengenai sejarah Bengkulu, sejarah kehadiran Inggris di Bengkulu, bagaimana EIC mulai beraktifitas di Bengkulu, termasuk Raffless dan penyerahan Bengkulu ke tangan Belanda. Well... saya menduga Raffless mungkin sudah melihat kalau Singapura jauh lebih strategis daripada Bengkulu, makanya dia mau aja menyerahkan Bengkulu kepada Belanda ya...
Di salah satu ruangan yang pernah dijadikan sel tawanan, kami melihat gambar kompas yang digambar oleh orang Belanda yang ditawan oleh Jepang, serta pesan yang ditulis dalam bahasa Belanda, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya “Barang siapa mengamati kompas ini janganlah memarahi yang membuat kompas ini, ingatlah bahwa kesengsaraan dan waktu lah yang membuat saya mencoret-coret dan waktu saya menulis ini.” Waduh… tak terbayangkan bagaimana perasaan si tawanan ketika ia menggambar kompas di dinding dekat jendela…
Naik ke bastion benteng yang menghadap ke pantai Tapak Paderi, kami melihat meriam yang bisa berputar 360°. Meriam buatan Belanda ini memiliki kaki yang dapat dipasang pada rel berbentuk lingkaran, yang memungkinkan meriam berputar. Bisa dibayangkan, jaman dulu meriamnya pasti lebih berat daripada sekarang, gimana coba memutarnya... Dari bastion ini, kita bisa melihat pantai Tapak Paderi dengan leluasa. Di masa lalu, pantai Tapak Paderi merupakan pelabuhan alami kota Bengkulu. Menurut mas Leo, orang-orang tua Bengkulu lebih mengenal pelabuhan alam ini sebagai Pelabuhan Bom, konon karena banyaknya bom yang dilontarkan ke pelabuhan ini ketika musuh menyerbu benteng Marlborough. Dari kejauhan, kami bisa melihat bunker buatan Jepang tepat di area parkir mobil di pantai.
Sore hari, ketika berjalan-jalan menikmati angin laut di pantai Tapak Paderi, kami sempat berfoto di papan nama jalan bertuliskan “Bencoolen Street”. Barangkali pernah dengar jalan Bencoolen Street di Singapura, nama jalan ini sengaja diberikan oleh Raffles untuk mengenang kehadiran Inggris di Bengkulu. Namun tak perlu jauh-jauh ke Singapura jika ingin ke Bencoolen Street, mampir saja ke pantai Tapak Paderi dan temukan papan nama jalan tersebut.
Toko oleh-oleh di Anggut Atas juga menjual batik Besurek, batik khas Bengkulu. Besurek artinya ‘bersurat’, karena ciri khas batik ini adalah adanya motif huruf Arab. Konon batik Besurek awalnya adalah kain yang sakral, karena hanya digunakan untuk upacara adat. Dalam pengembangan selanjutnya, untuk memperlihatkan khas Bengkulu, batik ini juga dilengkapi motif bunga Rafflesia. Kebanyakan batik Besurek memiliki warna-warna yang tegas. Tentu saja, saya memilih membeli batik printing, kalau mau beli yang sutra, mana tahan...
Kami menginap di hotel Samudra Dwinka, yang terletak tepat di depan Masjid Jamik. Letak masjid ini sangat unik, karena tepat di tengah pertigaan. Masjid Jamik menjadi cagar budaya yang bersejarah, karena selain merupakan masjid tertua, masjid ini pernah direnovasi oleh Bung Karno ketika beliau berada dalam pengasingan pada tahun untuk 1938. Rancangan atap mesjid ini agak berbeda dengan atap mesjid di Bengkulu yang umumnya bulat, lebih mengingatkan kepada atap mesjid Demak. Keunikan lainnya adalah atap mesjid ini terbuat dari seng. Konon kabarnya atap seng lebih tahan terhadap gempa, sehingga mengurangi resiko kerusakan apabila terjadi gempa, mengingat Bengkulu adalah daerah yang rawan gempa. Selain masjid Jamik, di Bengkulu banyak terdapat masjid di seluruh penjuru kota, mulai dari yang berukuran kecil, sedang, maupun mesjid besar. Ini menakjubkan bagi kami, mengingat penduduk kota Bengkulu hanya 400.000 jiwa, namun mesjidnya banyak dan ada di mana-mana.
Malam itu kami menghabiskan waktu di kamar hotel, dari jendela kami bisa melihat jalan-jalan utama kota Bengkulu yang ramai, namun sama sekali tidak macet. Saat kami membuka internet untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia yang lain, kami melihat laporan lalu lintas yang mengatakan hari itu Jakarta macet, bahkan di daerah Lebak Bulus terjadi kemacetan total. Ahhh… rasanya hari itu kami bahagia sekali, karena untuk sejenak bisa lepas dari kemacetan Ibu Kota, mencari kedamaian di noiseless town of Bengkulu…
Saturday, September 11, 2010
Merah Putih II : Darah Garuda
Dalam rangka libur Lebaran 1431 H, banyak film-film baru yang tayang perdana di bioskop, diantaranya adalah Merah Putih II : Darah Garuda. Mengingat diriku sudah (terlanjur) menonton film pertamanya, jadi daku berniat untuk menonton lanjutannya.Friday, June 18, 2010
Surat Pembacaku Dimuat!
Beberapa waktu yang lalu aku mengirim surat pembaca ke majalah The World of Cross Stitching, menceritakan karyaku yang dibuat dari salah satu pola di majalah itu (pernah kuposting di sini). Kira-kira sebulan setelah aku mengirim e-mail dan fotonya, salah satu redakturnya mengirim balasan minta alamat rumah, rupanya mereka berencana memuat suratku di edisi bulan Juni, dan apabila beneran dimuat, mereka akan mengirim suvenir ke rumah.
Awal Juni, sebelum aku sempat ke toko buku untuk mencari majalahnya, rupanya kiriman suvenirnya sudah tiba di rumah, hore, berarti surat pembacaku dimuat! Suvenirnya "cuman" kain Aida warna hijau (termasuk barang agak langka di sini...), 1 benang sulam DMC (tapi khusus yang diedarkan di Inggris, labelnya agak beda sama yang dijual di sini), sama 1 leaflet pola, tapi seneng bangeeeeettt....
Baru pada akhir minggu aku berkesempatan ke Kinokuniya untuk beli majalahnya, dan setelah melihat surat pembacanya aku baru sadar, ternyata suratku lumayan panjang... dan dikasih komentar sama redakturnya. Nggak tahu apakah kebetulan atau merupakan kesengajaan, mereka memuat suratku berbarengan dengan penerbitan bonus pola Eeyore di edisi Juni itu. Senangnyaaa....
