Tuesday, July 26, 2011

Ullen Sentalu, Menyingkap Kehebatan Para Putri dari balik tembok Keraton

Hari ini hari Jum'at, jadi setelah selesai Shalat Jum'at kami bergegas menuju ke daerah Kaliurang. Karena kami sempat berhenti dulu untuk makan siang, kami baru tiba di museum Ullen Sentalu pukul 15.00, 1 jam menjelang waktu tutup museum. Ketika kami pergi ke loket untuk membeli tiket, petugas museum berkata bahwa kami belum bisa membeli tiket, karena saat ini museum sedang mati listrik, dan karena museum terletak di bawah tanah, maka kondisi museum akan gelap gulita. Kami sempat kecewa, sudah jauh-jauh kami mencapai museum ini, masa' harus kembali dengan tangan hampa?

Papan Nama Museum Ullen Sentalu

Pada akhirnya, petugas museum menawarkan apakah kami mau masuk ke museum dengan lampu darurat. Pikir punya pikir, tidak ada salahnya juga, barangkali malah jadi petualangan yang seru dan unik, melakukan kunjungan di museum dengan lampu darurat, macam Night of the Museum. Akhirnya kami membeli tiket seharga Rp 25.000,-, dan setelah menunggu sejenak di gerbang museum, kami dijemput mbak Tya, tour guide kami hari ini. Sebelum memasuki museum, di dekat pintu masuk terpasang peraturan yang menyatakan bahwa kami tidak boleh memotret di dalam museum. Yaaaaaa… (sebenarnya sudah tahu sejak lama sih, tapi tetap saja : yaaa..... )

Melangkahkan kaki melewati pintu masuk, kami disambut pemandangan hutan pinus dan hawa khas pegunungan yang sejuk. Duh, serasa masuk dunia lain, sangat berbeda dengan hiruk pikuk kota Yogyakarta. Tempat pertama yang kami masuki adalah Guwa Selo Giri. Sebenarnya ini bukan gua alam, tapi lorong berdinding batu yang dibangun mengikuti bentuk Sumur Gumuling. Dinding lorong ini terbuat dari batu andesit gunung Merapi, dengan rancangan bergaya Gothic. Sebenarnya lorong ini dilengkapi lampu, namun berhubung listriknya (masih) mati, jadi lampu darurat yang dibawa mbak Tya membuat suasana yang sudah gelap menjadi semakin syahdu dan mendebarkan! (serasa ikut syuting Dunia Lain...)

Akhirnya kami tiba di ruangan pertama, yaitu Ruang Selamat Datang. Di ruangan ini terdapat panel yang menjelaskan sejarah pendirian Museum Ullen Sentalu. Dari keterangan mbak Tya, kami tahu bahwa museum ini bertujuan untuk melestarikan peninggalan budaya Jawa yang merupakan keturunan Mataram Islam, yaitu keraton Yogyakarta, keraton Surakarta, pura Mangkunegaran dan puri Pakualaman. Sebagian besar koleksi museum berfokus pada putri-putri keraton, di mana pada masanya kisah tentang peranan mereka tidak pernah muncul dan tersimpan di balik tembok keraton. Di tengah ruangan terdapat patung Dewi Laksmi, atau di Indonesia dikenal sebagai Dewi Sri, dewi tanaman padi yang melambangkan kesuburan. Patung ini berasal dari masa kerajaan Mataram Hindu, barangkali untuk mengingatkan kembali bahwa kerajaan-kerajaan besar di Jawa lahir di sekitar gunung Merapi.

Ruangan berikutnya adalah Ruang Seni Tari dan Gamelan di sisi kanan Ruang Selamat Datang. Masih di tengah kegelapan (dan hanya diterangi lampu darurat, sambil degdegan mudah-mudahan baterainya tidak habis di tengah-tengah...), di tengah ruangan terdapat seperangkat gamelan yang merupakan hibah dari GBPH Yudha Ningrat, adik Sultan HB X dari Yogyakarta. Di dinding terdapat beberapa lukisan yang menampilkan tari-tarian yang diciptakan atau ditarikan oleh keluarga keraton. Rupanya di masa lalu, seorang Raja tidak boleh hanya tahu masalah politik, mereka juga harus menguasai kesenian, sehingga setidaknya mereka menciptakan sebuah tarian. Salah satu lukisan menampilkan tarian ciptaan HB IX mengenai putri dari Jawa dan putri Campa yang memperebutkan pangeran Jayengrono.

Kami melanjutkan perjalanan ke lorong di sisi kiri Ruang Selamat Datang. Ketika mbak Tya mencoba menyalakan lampu, ternyata listrik sudah menyala! Hore, dunia kembali terang! Kami pun kembali menyimak penjelasan mbak Tya. Di sepanjang dinding lorong terpasang foto dan lukisan yang melukiskan raja-raja dan putri-putri dari empat kerajaan keturunan Mataram Islam : Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran dan Pakualaman. Masing-masing foto dan lukisan memiliki cerita yang menarik, misalnya Sultan HB IX yang memiliki nama Belanda Henkie, kemudian Sunan PB XII yang ganteng dan sangat dekat dengan ibundanya, Raden Ayu Kuspariyah - ibunda Sunan PB XII yang merupakan wanita modern dan pintar main piano, Sunan PB X yang merupakan raja terkaya di Jawa, Paku Alam VII dan permaisurinya Gusti Retno Puwoso yang berbusana Jawa dengan gaya modern, Gusti Nurul - putri Mangkunegara VII yang modern dan menolak poligami, serta Gusti Partini - putri Mangkunegara VII yang senang menulis dan pernah menerbitkan cerita rakyat Ande-Ande Lumut dengan nama samaran Antipurbani. Rasanya saya tidak akan bosan jika disuruh mengulang kembali memasuki lorong ini, ternyata begitu banyak peranan dan prestasi para putri di balik suksesnya kerajaan-kerajaan keturunan Mataram ini! Satu hal lagi, ketika mbak Tya mematikan lampu lorong dan kami beranjak meninggalkan lorong yang penuh foto dan lukisan ini, saya bisa menduga kenapa kami tidak boleh memfoto. Bukan karena museum ini takut lukisannya ditiru, tapi lebih karena mereka mengharapkan kita menghargai nilai-nilai yang terkandung dibalik kisah yang melatarbelakangi foto atau lukisan yang dipajang.

Kami kemudian beralih ke lokasi berikutnya, yaitu areal Kampung Kambang. Tempat ini dibangun mengikuti konsep Bale Kambang, di mana setiap ruangan terletak di atas kolam air. Ruangan pertama yang kami masuki adalah Ruang Syair untuk Tineke. Ruangan ini berisi surat-surat untuk GRAj Koes Sapariyam, putri Sunan PB XI, yang memiliki panggilan akrab Tinneke. Surat-surat yang ditulis antara tahun 1939-1947 ini ditemukan dalam buku kecil di ruangan Kaputren Keraton Surakarta, berisi puisi dan syair tersebut ditulis oleh kerabat dan teman-teman beliau dalam bahasa Belanda. Surat-surat ini ditujukan untuk menghibur Tineke yang sedang bersedih hati, karena ibunda beliau, Ibu Ageng, tidak menyetujui kekasih pujaan hatinya. Para putri penulis surat tersebut juga tak lupa menempelkan foto di surat tersebut, ah, rupanya tak hanya pandai dalam seni sastra, mereka pun ingin ikut eksis dalam surat mereka!

Beralih ke ruang berikutnya, kami masuk ke Royal Room Ratu Mas. Ratu Mas adalah permaisuri Sri Susuhunan Pakubuwono X, penguasa Keraton Surakarta. Di dalam ruangan ini dipamerkan lukisan Ratu Mas, foto-foto beliau bersama Sunan PB X dan putri mereka, serta pernak-pernik kelengkapan busana beliau. Salah satu koleksi yang menarik perhatian kami adalah koleksi topi beliau. Konon, topi-topi yang lucu tersebut adalah rancangan beliau sendiri, dan dibuat di Perancis. Wah, ternyata di masa lalu, para permaisuri ini tidak hanya modis dalam berbusana Jawa, mereka pun modis dalam berbusana ala Eropa!

Dari Royal Room Ratu Mas, kami beranjak ke ruangan batik. Terdapat dua ruangan yang menampilkan koleksi batik, satu ruangan khusus batik keraton gaya Surakarta dari masa PB X hingga PB XII, ruangan satunya adalah khusus batik keraton gaya Yogyakarta dari masa HB VII dan HB VIII. Keterangan mbak Tya tentang batik-batik ini mengingatkan kembali pada kami bahwa batik tidak sekedar kain dengan motif hias, namun memiliki makna filosofis yang mendalam. Salah satunya adalah motif Parang Sujen, parang bermakna pedang yang berarti perang, sehingga jika kita ingin menghadap raja, maka jangan sekali-sekali mengenakan motif ini, karena bisa dianggap menentang raja.

Ruangan berikutnya adalah ruangan yang wajib diinikmati, yaitu Ruang Putri Idaman. Ruang ini merupakan album hidup GRAy Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani Soerjosoejarso, atau lebih dikenal dengan nama Gusti Nurul. Putri tunggal HRH Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur Mursudariyah ini merupakan salah satu putri tercantik di masanya, sehingga banyak pangeran yang ingin meminangnya. Walaupun tinggal di dalam lingkungan keraton, Gusti Nurul memiliki gaya dan pandangan hidup yang cukup modern untuk masa itu. Beliau bersekolah di sekolah Belanda, serta gemar melakukan hal-hal yang tidak lazim dilakukan oleh putri keraton pada masa itu, seperti main tenis, berenang, dan berkuda. Kegemaran berkudanya tidak main-main, karena beliau beberapa kali memenangkan berbagai perlombaan berkuda.

Gusti Nurul juga dikenal dengan keberaniannya dalam mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama, salah satu diantaranya adalah beliau berprinsip tidak mau dipoligami. Akhirnya beliau menikah dengan KPH Soerjosoerarso, seorang perwira Angkatan Darat, dan mereka tinggal di Bandung. Saya sendiri pernah melihat Gusti Nurul dari dekat di Keraton Mangkunegaran, ketika sedang mengantarkan nenek saya (almh.) mengikuti acara reuni Varia Orang Jauhari (VOJ) di Solo tahun 1996. Gusti Nurul merupakan salah satu aktivis VOJ di Cabang Bandung, dan bukan main, walaupun usia beliau sudah sepuh, namun aura kebangsawanan beliau masih terpancar dengan jelas!

Akhirnya, kami tiba di area luar museum. Mbak Tya kemudian membawa kami ke Sasana Sekar Bawana, melewati koridor Retja Landa. Koridor ini memajang arca dewa dewi dari abad 8-9 Masehi, atau dari masa perkembangan agama Hindu dan Buddha di tanah Jawa. Salah satu arca yang saya ingat adalah arca Ganesha, dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu.

Di belakang koridor Retja Landa, terdapat ruang Sasana Sekar Bawana. Di dalam ruangan ini terdapat lukisan dan patung. Lukisan pertama yang kami temui adalah lukisan Sri Sultan HB X dan permaisuri Ratu Hemas sedang menerima kunjungan kenegaraan dari Pangeran Charles dan Putri Diana almh. Lukisan ini mencerminkan bahwa hubungan antara Kerajaan Inggris dan Kesultanan Yogyakarta berlangsung sangat harmonis. Di sisi kiri lukisan PB X, terdapat lukisan tari Bedaya Ketawang sedang ditarikan di hadapan Panembahan Senapati. Bedaya Ketawang termasuk tarian yang sakral, dan hanya boleh ditarikan oleh para gadis yang sedang dalam masa suci. Tarian ini ditarikan oleh 9 orang, dan dipercaya bahwa di tengah-tengah tarian, Kanjeng Ratu Kidul akan turut menari sebagai penari ke-10. Dalam lukisan tersebut, kehadiran Kanjeng Ratu Kidul ditampilkan dalam bentuk penari ke-10 yang menerawang di atas penari-penari lainnya.

Lukisan terakhir yang wajib dilihat adalah lukisan Paes Ageng, atau tata rias pengantin wanita gaya Yogyakarta. Paes Ageng merupakan busana pengantin dari keraton, dan sampai dengan masa pemerintahan Sultan HB VIII hanya boleh digunakan oleh kerabat raja. Namun pada masa pemerintahan Sultan HB IX, Paes Ageng boleh digunakan untuk masyarakat umum. Tak hanya dalam bentuk lukisan, pengantin wanita yang mengenakan Paes Ageng ini juga diabadikan dalam bentuk patung.

Di akhir kunjungan, kami beristirahat sejenak di ruangan Bale Nitik Rengganis. Tak lupa kami disuguhi minuman spesial, resepnya merupakan warisan Gusti Kanjeng Ratoe Mas, permaisuri Sunan PB X. Sambil icip-icip minumannya, kami menduga-duga, barangkali isinya terdiri dari jahe, cengkeh dan gula jawa, serta kandungan lain yang kita tidak tahu. Konon, minuman ini memberi kesehatan dan awet muda.


Bale Nitik Rengganis


Sebelum pulang, kami sempat mampir ke toko souvenir Muse yang terletak di bawah Restoran Beukenhof. Toko Muse menjual berbagai produk UKM yang dibina yayasan Ulating Blencong. Banyak diantara pernik-pernik yang dijual bergambar lukisan-lukisan yang ada di dalam museum, seperti yang tergambar pada gantungan kunci, magnet kulkas, atau mug. Sayang sekali, hari telah senja, dan masih banyak agenda yang harus kami laksanakan di Yogyakarta, sehingga setelah memberi beberapa cenderamata kami bergegas meninggalkan tempat yang indah ini, dengan membawa sejuta kenangan dan pengetahuan yang tak mudah kami lupakan.


Salah Satu Sudut Museum Ullen Sentalu


Tuesday, June 14, 2011

Ke Yogyakarta aku kan kembali

Tulisan ini mengawali rangkaian tulisan wisata keliling Yogyakarta yang baru saya jalani di pertengahan bulan Juni yang lalu. Saya tergelitik untuk membuat "preambule" ini, untuk menampung beberapa pengalaman menarik selama di Yogyakarta yang tak bisa saya masukkan dalam tulisan-tulisan berikutnya.
Berawal dari ketika saya mendarat di Yogyakarta dan naik taksi menuju hotel pertama saya di Jl. Dagen, di sekitar Malioboro. Kenapa hotel pertama? Karena beberapa hari kemudian, saya pindah hotel ke Jl. Parangtritis. Alasan kepindahan ini bukan karena saya tidak suka hotel yang di Jl. Dagen, tapi karena pada hari tersebut saya bergabung dengan rombongan yang lebih besar, dan karena alasan operasional kami memilih menginap di Jl. Parangtritis. Dua daerah ini memiliki atmosfer yang berbeda, dan saya menikmati dua-duanya.
Bagi mereka yang ingin mendekati keramaian, sangat disarankan untuk memilih hotel di dekat Malioboro, seperti Jl. Pasar Kembang (yang terkenal karena... ehm... ehm...), Jl. Sosrowijayan dan Jl. Dagen. Atau kalau memang punya anggaran lebih, silakan menginap di hotel bintang di Jl. Malioboro. Sangat mudah mencari tempat belanja dan tempat makan, karena tempat makan dan toko souvenir, baik dalam bentuk toko permanen maupun pedagang pinggir jalan, umumnya baru tutup pukul 21.00. Ketika mereka tutup pukul 21.00, keberadaan mereka digantikan oleh lesehan. Jam 7 pagi, ketika mall, toko batik dan souvenir belum buka, banyak warung-warung tenda yang menjajakan sarapan pagi, tinggal pilih saja, mau sarapan umum seperti bubur ayam, atau sarapan khas Yogya seperti gudeg?
Ketika pindah ke daerah Jl. Parangtritis, saya merasakan agak sulit untuk memuaskan hasrat berbelanja, karena di sepanjang Jl. Parangtritis jarang terdapat toko yang menjual souvenir atau oleh-oleh. Tak hanya hasrat berbelanja, bahkan untuk makan pun agak sulit mencari tempat yang representatif, karena restoran atau kafe yang ada umumnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan para wisman, misalnya suasananya agak remang-remang (duh, males banget deh kalau harus makan di tempat seperti ini!). Hanya ada satu-dua restoran yang representatif, itu pun terkadang harus berjalan kaki agak jauh dari hotel. Namun bagi mereka yang mencari ketenangan dan keteduhan (alih-alih mencari keramaian), atmosfer di daerah Jl. Parangtritis sangat cocok untuk anda kunjungi. Tinggal pilih, mau merenung di hotel yang pakai kolam renang, atau mau menyepi di hotel bergaya rumah Jawa klasik, semua ada di Jl. Parangtritis.
Kembali ke saat pertama saya mendarat di Yogyakarta dan naik taksi ke Jl. Dagen. Ini bukan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Yogyakarta, namun barangkali baru kali ini saya pergi ke Yogyakarta dengan nawaitu untuk berwisata secara full-time dalam durasi yang panjang. Selama ini saya pergi ke Yogyakarta dengan tujuan untuk berdinas, acara keluarga, atau hanya numpang lewat saat pulang mudik Lebaran. Sangat jarang saya bisa berwisata secara full-time, sehingga kedatangan kali ini cukup istimewa bagi saya. Mungkin karena itu, saya merasakan atmosfer yang agak berbeda ketika melihat suasana sepanjang jalan menuju ke hotel. Selama ini saya beranggapan, Yogya lebih mirip Bali, tempat liburan favorit semua orang, apalagi dengan banyaknya wisman yang berkunjung ke Yogya. Tapi kenapa saya justru merasa kota ini lebih mirip Bandung, yang penuh dengan kreativitas warganya? Mungkin karena sepanjang jalan, saya melihat banyak poster yang mempromosikan acara-acara di kota Yogya, mengingatkan saya pada suasana Jl. Cihampelas. Namun ada satu hal unik yang saya rasakan di Yogya. Saya merasakan bahwa di tengah kota Yogya yang modern, masih terasa hawa tradisional yang sangat kental. Sangat besar kemungkinan hal ini dipengaruhi dengan keberadaan keraton Yogyakarta, di mana kami merasakan sendiri bahwa rakyat Yogya memang bangga terhadap Kesultanan Ngayogyakarta, tak hanya mereka yang masih tinggal di Yogya, tapi juga mereka-mereka yang sudah pindah ke daerah lain. Kebanggaan ini yang tidak saya rasakan di tempat lain, bahkan di "negara tetangga" keraton Solo, rasanya hiruk-pikuk masyarakatnya tidak sedinamis kota Yogyakarta.
Hari pertama di Yogya, saya menikmati sore hari di Jl. Malioboro. Saya sempat mencoba naik delman dengan rute Kotagede-Jl. Rotowijayan-Bakpia Pathuk-kembali ke Jl. Malioboro. Untuk rute sejauh itu, saya membayar Rp 50.000. Tentu saja, pak kusir membawa saya mampir ke toko-toko suvenir, seperti toko kerajinan perak, toko Dagadu, toko batik, dan toko oleh-oleh di Pathuk. Sudah jadi rahasia umum, bahwa pak becak, pak kusir dan supir rental mendapat persenan apabila membawa tamu mengunjungi toko-toko suvenir seperti itu. Yah, namanya sama-sama cari rejeki, mudah-mudahan barokah ya Pak... Ketika saya keluar dari salah satu toko, saya baru memperhatikan, rupanya tiap kali kami berhenti, pak kusir memberi makan kudanya. Tadinya saya pikir rumput dan air itu disediakan oleh pemilik toko, rupanya rumput dan air itu dibawa dalam ember besi, dan digantung di bawah delman! Oalah, kasihan kudanya, sudah harus menarik delman, masih ketambahan beban satu ember besar air dan rumput!
Selama melintas di Jl. Malioboro, saya baru sadar, salah satu keunikan Jl. Malioboro adalah "one-stop-shopping". Bukan sekedar karena semua oleh-oleh khas Yogya (baik makanan maupun barang) bisa diperoleh di Jl. Malioboro, namun di Jl. Malioboro kita bisa menemukan banyak hal : toko souvenir, makanan khas Yogya, pasar tradisional, mall modern, wisatawan lokal, wisatawan mancanegara, kantor pemerintahan, becak, delman, mobil, pengamen bergitar, pengamen angklung, wisata sejarah (ada benteng Vredeburg), budget hotel, dan hotel berbintang. Di mana lagi saya bisa menemukan lokasi selengkap ini?
Salah satu kesulitan dalam mengatur perjalanan di Yogya adalah masalah itinerary. Sebenarnya, jarak antar lokasi di Yogya satu sama lain tidak terlalu jauh. Yang bermasalah justru mengatur waktunya, karena kebanyakan tempat menarik di Yogya buka jam 8-9, dan jam 2 siang sudah tutup, padahal dalam 1 tempat banyaaaak sekali yang harus dilihat. :( Dalam waktu 1 hari, paling-paling hanya bisa ke 1-2 tempat, padahal daftar tunggu yang harus dikunjungi di Yogya sudah sedemikian panjang. Untuk mengatasi ini, mau tidak mau saya harus menyusun prioritas, dan prioritas yang saya buat berdasarkan beberapa hal : tempat tersebut menarik atau tidak, ramai atau tidak, pernah dikunjungi atau tidak, aksesnya susah atau tidak, dlsb. Setelah melakukan survey kecil-kecilan di internet, akhirnya saya memutuskan mencoret beberapa tempat, karena ternyata tempat tersebut tidak ramai dikunjungi orang alias sepi, malas kan kalau harus berwisata di tempat sepi?
Akhirnya, setelah seminggu menikmati suasana kota Yogyakarta, saya berkesimpulan Yogya memang merupakan perpaduan antara Bali dan Bandung, di mana keindahan alam, peninggalan tradisional dan para wisman berpadu dengan kreativitas warga di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta. Dan dengan begitu banyak tempat menarik yang harus dikunjungi (mulai dari museum, desa wisata, tempat kerajinan, dan jangan lupakan wisata kuliner!), rasanya seminggu di Yogya tak cukup, jadi kapan-kapan saya harus kembali lagi ke Yogyakarta...

Friday, May 27, 2011

Surabaya Heritage Track

Beberapa minggu yang lalu saya menyempat(-nyempat)kan diri untuk ikut Surabaya Heritage Track (SHT). Udah lama tahu ada program ini, tapi baru berkesempatan untuk mengikutinya kali ini.
Begitu pesawat mendarat di Juanda, setelah mengambil bagasi dan menemukan mobil rental yang saya pesan sebelumnya, kami meluncur ke kawasan Surabaya Utara, tepatnya ke House of Sampoerna (HoS), sebuah gedung sekaligus museum yang menyimpan benda-benda bersejarah milik PT Sampoerna, salah satu korporasi besar Indonesia yang lahir di Surabaya.
Saya sudah 2 kali ke HoS, dan ini kali ke-3 saya ke sana. Situasi masih tetap sama, ketika memasuki pintu museum, tercium aroma tembakau yang kuat, diiringi musik-musik jazz klasik, ditambah perabot-perabot antik koleksi pendiri PT Sampoerna, membuat saya sejenak kembali ke masa lalu. Benda-benda yang dulu saya lihat sebagian besar masih ada, namun banyak juga yang sudah tidak terlihat, seperti fasilitas multimedia di bagian belakang museum. Ketika saya ke lantai atas untuk liat toko suvenir, perasaan kios yang jualan suvenir ukurannya makin kecil, tapi jualan batik (khususnya batik Madura) malah makin banyak. Berarti batik Madura lagi trend neh...
Namun saya tak bisa berlama-lama menikmati suasana jadul di museum, karena hari itu perjalanan SHT hanya ada 3 kali, dan saya harus segera mendaftar sebelum kehabisan tempat. Benar saja, hampir aja saya kehabisan tempat, untung masih ada tempat untuk 1 orang! Karena hari ini adalah akhir pekan, jadi saya kebagian rute panjang (1,5 jam).
Sebelum berangkat, untuk mengisi waktu saya masuk ke cafe di sisi Timur museum. Bagi mereka yang senang wisata kuliner tradisional, apalagi mencari makanan khas Surabaya/Jawa Timur, cafe ini mungkin kurang cocok, soalnya mereka menjual makanan Asia yang umum, sama makanan Barat. Tapi buat mereka yang suka nongkrong, kafe in te o pe be ge te, karena menampilkan suasana jadul yang cozy, namun dengan pelayanan yang modern. Di saat bersamaan, terdapat 20 orang bule yang lagi makan di sana. Klo liat bahasanya, kemungkinan orang Belanda, tapi kayanya ga mungkin mereka-mereka yang lagi bernostalgia pernah tinggal di Indonesia, soalnya kelihatan relatif muda. Dan kayanya mereka menikmati banget suasana kafe dan makanannya... saya juga kok...
Usai makan, masih ada sedikit waktu menunggu keberangkatan, jadi saya menyempatkan diri melihat pameran di galeri yang terletak di belakang kafe. Rupanya hari itu lagi ada pameran tenun ikat dari suku Sikka, pulau Flores, NTT. Dengan ramah tamah mereka menjelaskan cara membuat tenun ikat, mulai dari panen kapas, memintal benang dari kapas, membuat pola dengan mengikat benang (kira-kira mirip tie-dye, tapi ikatannya kecil-kecil dan banyak), mencelup benang dengan warna alam, baru kemudian ditenun. Seru, karena cara membuatnya diperagakan secara live! Untuk pewarna alam, warna biru mereka dapatkan dari pohon nila, warna merah dari kulit kayu ditambah kemiri, warna kuning dari kunyit dan kulit pohon nangka, warna hijau dari buah nila, kunyit dan daun pohon nangka. Gara-gara melihat ini semua, saya jadi maklum kenapa harga tenun ikat jadi mahal sekali, dan membuat saya makin menghargai karya seni anak bangsa ini.

Jam 14.55, pintu "trem" SHT dibuka (tepatnya itu adalah bis tanggung yang casing-nya dibuat mirip trem, kendaraan umum yang dulu malang melintang di Surabaya), dan para tracker (demikian mereka menyebut peserta SHT) mulai mengambil tempat di trem. Tepat pukul 15.00, trem berangkat dari HoS. Saat berangkat, Mas-Mas Guide menjelaskan bahwa program SHT ini terselenggara atas kerjasama PT Sampoerna dengan Pemda Surabaya (duh, harus ada sponsor dulu ya baru bisa ada program bagus kaya beginian...) Mas-Mas Guide mulai menjelaskan bangunan bersejarah dan gedung-gedung tua (dan terkadang tak terawat :( ) yang ada di seputar Surabaya Utara, mulai dari (mantan) Penjara Kalisosok, gedung Internatio tempat tewasnya Brigjen Mallaby, Jembatan Merah, Tugu Pahlawan, Siola (yang rencananya akan direvitalisasi lagi jadi pusat perbelanjaan), Hotel Majapahit (d/h hotel Oranje tempat perobekan bendera Belanda jadi merah putih), Gedung Grahadi dan Balai Pemuda. Sayang, si Mas-Mas Guide ga mention patung Joko Dolog yang tersembunyi di taman Apsari, yang letaknya kira-kira di depan Gedung Grahadi.
Di Balai Kota, para tracker turun dan dibawa ke lobi Balai Kota untuk melihat patung suro-boyo dan sejarah kota Surabaya (dan gedung balai kota khususnya). Bangunan ini sebenarnya bangunan tua, tapi tidak terlihat jadul. Rupanya terdapat banyak versi tentang asal mula nama suro-boyo, mulai dari versi fabel dari Von Faber, sampai versi sejarah untuk memperingati kemenangan pasukan Majapahit atas serbuan tentara Mongol. Wait, kemaren mas-masnya menyebut kemenangan pasukan Singosari, waduh, kayanya kita harus baca buku sejarah lagi, yang perang ama tentara Mongol itu pasukan Majapahit!

Dari Balai Kota, rombongan bergerak lagi ke pemberhentian selanjutnya di Gedung Cak Durasim. Di perjalanan, Mas-Mas Guide ga lupa menyebutkan titik-titik wisata kuliner terkenal di Surabaya, seperti salah satunya sate klopo Ondemohen. Wah, harus dicoba bo... Mas-mas Guide juga menyebutkan, bahwa HoS kadang-kadang punya program SHT tematik di luar program reguler yang gratisan, misalnya bulan Mei 2011 ini mereka punya program kunjungan ke museum-museum ga umum di Surabaya, seperti Museum Loka Jala Srana (yang terletak di kompleks AAL), Museum Kesehatan (yang lebih dikenal sebagai Museum Santet), dan Museum Perjuangan (1 kompleks dengan Tugu Pahlawan). Tarifnya murah meriah juga, berkisar antara Rp 1500-3000 per orang. Kalau saya hitung-hitung, itu sebenernya cuman untuk mengganti tiket masuk ke museum, tapi kan lumayan, masuk museumnya raramean!
Di Gedung Cak Durasim, para tracker dipersilakan turun lagi. Konon gedung ini tadinya merupakan kraton Kanoman Kadipaten Surabaya, di bawah pimpinan Adipati Jayengsrono. Mengenai kebenarannya, akan kita cek lagi di Wikipedia. Gedung ini merupakan gedung kesenian yang menjadi pusat pengembangan kebudayaan Jawa Timur. Sayangnya, pas kami berkunjung sedang tidak ada event kebudayaan, jadi kami hanya melihat-lihat saja. Sayangnya juga, si Mas-Mas Guide ga menjelaskan siapakah Cak Durasim, dan apa jasanya sehingga namanya diabadikan menjadi nama gedung kesenian tersebut.

Tanpa terasa, sudah 1 jam 20 menit kami keliling Surabaya Utara, dan sudah waktunya mengakhiri perjalanan yang seru ini. Bagi saya, orang luar Surabaya yang cukup sering ke Surabaya (dan pernah melintasi rute tersebut sehingga gedung-gedung itu tidak asing lagi bagi saya), ide tournya OK banget (pengennya di Jakarta juga ada yang kaya begini, ada ga ya?), cuman kurang "nendang" sedikit, perlu tambahan polesan-polesan dan pengetahuan yang lebih dalam, sehingga Mas-Mas Guide-nya bisa "ngoceh" lebih seru lagi mengenai sejarah masing-masing gedung bersejarah itu. Tapi klo melihat para tracker, kayanya cuman saya aja yang bukan orang Surabaya, sisanya adalah orang Surabaya, and they all enjoy the trip, so it's worthed to have the trip!

Saturday, February 26, 2011

Kebun Raya Bogor, Riwayatmu Kini

Hari Sabtu yang lalu, saya akhirnya "berhasil" ke Bogor (secara pergi ke Bogor belum tentu setahun sekali...), dan tentu saja, tak lupa saya mengunjungi Kebun Raya Bogor, the most popular tourist attraction in Bogor.

Sebenernya, dari rumah saya sudah membuat list tempat-tempat menarik untuk dikunjungi selain Kebun Raya Bogor, seperti Museum Peta, Museum Tanah, Museum Etnobotani, dlsb dlsb. Tapi begitu dicek lagi di internet, ternyata museum-museum itu tidak buka pada hari Sabtu atau Minggu! Ooo... (kumaha atuh, niat gak sih memajukan wisata Bogor? Gimana gak kalah populer ama Kota Tua Batavia...) Jadi balik lagi deh ke Kebun Raya, yang udah pasti buka pada hari Sabtu dan Minggu. (btw, pantesan aja Mbak-Mbak penulis buku 99 Tempat Wisata Akhir Pekan di Jawa dan Madura itu ga memasukkan museum-museum ini dalam buku mereka...wong tiap akhir pekan mereka tutup!)

Pertama kali mencapai wilayah sekitar Istana Bogor dan Kebun Raya, kami sempat memutari area itu 1x untuk mencari parkir, sebelum akhirnya memutuskan memasukkan mobil ke area Kebun Raya. Ceritanya sebenarnya kami ingin melakukan "green tourism", namanya ke Kebun Raya, harusnya area itu bebas kendaraan bermotor, ya tho? Tapi kenyataannya malah mobil-mobil dan motor-motor pengunjung bisa masuk ke area Kebun Raya, dan justru sepeda, kendaraan yang bebas polusi (tapi tidak bebas ngos-ngosan) ini yang gak boleh masuk! Aneh... tapi ada hikmahnya juga, karena mobil masuk ke area Kebun Raya, Insya Allah bisa parkir di tempat yang enak, ga perlu kuatir lecet kena senggolan angkot-angkot yang berada di jalan raya seputar area Kebun Raya. Kami juga berpikir, mungkin sepeda ga boleh masuk area Kebun Raya, karena takut dipake' untuk off road di antara tumbuh-tumbuhan cantik itu. O ya, kalau mobil boleh masuk dan boleh berkeliling di Kebun Raya, motor pengunjung hanya boleh parkir di dalam dan ga boleh dipake keliling Kebun Raya. Jadi lumayan juga, selama kami berjalan keliling Kebun Raya, walaupun sesekali ada "gangguan" berupa mobil yang mau lewat, tapi tidak ada motor pengunjung, paling-paling ketemu motor petugas Kebun Raya. Bisa kebayang, klo motor pengunjung boleh keliling Kebun Raya, jangan-jangan nanti bikin macet di dalam...

Setelah membayar tiket masuk Rp 9500 per orang dan Rp 15.500 per mobil, kami menuju lokasi pertama : Museum Zoologi. Dulu, sampai dengan tahun 2005 (terakhir kali saya ke sini), Museum Zoologi dikelola secara terpisah dari Kebun Raya Bogor, walaupun pengunjung Kebun Raya bisa masuk ke Museum Zoologi lewat pintu belakang, dan harus beli karcis lagi. Sekarang, karcisnya memang mahal, tapi dengan harga segitu kita bisa masuk ke 2 tempat. Dan dari dulu, Museum Zoologi selalu buka setiap akhir pekan, mungkin karena dari dulu peminatnya cukup banyak, terutama "limpahan" dari pengunjung Kebun Raya. Saat kami datang ke Museum Zoologi, di taman depan area museum sedang ada acara reuni yang cukup ramai. Wah, boleh juga nih idenya, kapan-kapan bikin arisan di Kebun Raya...

Masuk ke Museum Zoologi, sempat berpikir, rasanya kok ada yang aneh... (padahal koleksinya dari dulu tidak berubah, masih itu-itu saja). Ketika saya mencoba menelusuri nomor pajangan secara urut, kelihatannya masih urut kok, cuman arahnya memang jadi rada aneh... Baru ketika kami melewati sebuah ruangan kecil yang tidak ada koleksinya, kami baru sadar, dulu tempat itu adalah lobi/pintu depan Museum Zoologi. Sekarang pintu itu ditutup, dan pengunjung harus masuk lewat Kebun Raya Bogor. Memang koleksi Museum Zoologi dari dulu masih itu-itu saja dan cuman segitu-gitu aja, tapi menurut saya museum ini sangat informatif dan sangat bernilai edukatif. Primadona museum ini adalah (masih) kerangka ikan paus biru yang mati terdampar di Pameungpeuk tahun 1916. Dan yang menyenangkan mengunjungi museum ini, museumnya sangat ramai... Apalagi hari itu ada kunjungan dari beberapa rombongan, salah satunya adalah SMP dari Bekasi, mereka mungkin ada 10 kelas yang lagi karyawisata, membuat museum Zoologi dan Kebun Raya jadi penuh (soalnya hampir di setiap sudut Kebun Raya kami bertemu mereka atau guru-gurunya!).

Kerangka Ikan Paus Biru

Setelah puas melihat-lihat Museum Zoologi, kami lanjut ke Kebun Raya. Target pencarian kami adalah taman-taman yang merupakan peringatan atas jasa-jasa para pendiri dan kepala Kebun Raya terdahulu. Yang menyenangkan adalah Kebun Raya tetap dijaga bersih, tidak jorok atau terlihat banyak sampah di mana-mana. Untuk berjalan santai mengelilingi Kebun Raya, dibutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, wah, rasanya keringat sudah di mana-mana. Kami sempat melihat ada makam Belanda yang tersembunyi di antara koleksi tanaman bambu, ketika kami melihat ke sana, tiba-tiba angin bertiup kencang, membuat rumpun-rumpun bambu itu berbunyi seperti menyayat hati... kok jadi merinding ya...

Selama berkeliling Kebun Raya, di setiap sudut terlihat banyak pengunjung melakukan berbagai kegiatan. Ada yang hanya duduk-duduk di tepi danau, ada yang berkumpul sambil berdiskusi, ada juga yang hunting foto, ada juga yang lagi foto gaya (bukan cuman foto narsis, tapi memang foto untuk pre-wed atau model) ada yang berjalan-jalan (terutama kalau ketemu turis asing, biasanya mereka berjalan keliling Kebun Raya), ada juga yang lagi ehem... ehem.... Walaupun sesekali ada mobil melintas, membuat para pejalan kaki ini harus minggir sejenak, tapi pada umumnya hawa di Kebun Raya cukup segar, mengingatkan kita akan kebutuhan untuk berelaksasi di tempat yang menyenangkan setelah selama seminggu dihujani kesibukan.

Ada beberapa spot yang harus dikunjungi, antara lain Monumen Lady Raffless, Kolam Teratai (yang berbatasan langsung dengan bagian belakang Istana Bogor), Taman Mexico (berisi berbagai jenis kaktus yang cantik), Taman Teysmann dan Taman Sujana Kassan (taman terbuka untuk relaksasi), Orchidarium (the real Taman Anggrek, surga para pecinta anggrek), Jalan Astrid (boulevard yang ditanami bunga untuk menyambut kedatangan putri Astrid dari Belgia tahun 1928), dan Jembatan Gantung. Bagi para pecinta tumbuhan, tempat ini bagaikan surga tumbuh-tumbuhan, karena terdapat berbagai macam tumbuhan yang ditanam di sini. Kalau beruntung, anda bisa menemukan Bunga Bangkai yang berbunga setiap 3-4 tahun sekali (biasanya ketika bunga ini mekar, dari pihak Kebun Raya akan mengumumkan, karena bunga ini hanya mekar selama seminggu). O ya, bunga bangkai primadona Kebun Raya ini bukan bunga Rafflesia, walaupun bunga Rafflesia juga seringkali disebut sebagai Bunga Bangkai.

Jalan Astrid

Menjelang pulang dari Kebun Raya, saya menyempatkan untuk mampir ke toko suvenir yang terletak di dekat pintu masuk (sebenernya tadinya gak niat masuk, karena yang kelihatan cuman tumbuh-tumbuhan, tapi rupanya di situ dijual juga suvenir seperti kaos dan buku-buku). Saya membeli pin bergambar Rafflesia Patma (karena gak nemu pin bundar bergambar Bunga Bangkai yang satunya). Doh, kemaren dah jauh-jauh ke Bengkulu, kok nemu pin Rafflesia-nya malah di sini... Klo menurut Mbak penjaga toko suvenir, Kebun Raya Bogor punya koleksi Rafflesia Patma, dan merupakan satu-satunya bunga Rafflesia yang tumbuh di luar Bengkulu. Hanya saja, bunga itu tumbuhnya 81 tahun setelah ditanam... (duh, berapa puluh tahun lagi kami harus menunggu bunga itu mekar di Kebun Raya Bogor?)

Monday, February 21, 2011

Another Episode of Mbatik Yuk : Batik dengan Cap

Tanggal 21 Februari 2011 yang lalu, saya berkesempatan (lagi) untuk ikut kursus Mbatik Yuuk yang diberikan oleh ibu Indra Tjahjani. Kali ini temanya lain dari yang lain : membatik dengan cap. Duh, jadi penasaran...

Sebelum acara cap-capan dimulai, bu Indra kembali memberikan sedikit presentasi tentang batik, apa yang dimaksud dengan "batik", dan jenis-jenis batik yang populer serta maknanya. Ternyata, batik cap masih bisa dikategorikan "batik", karena walaupun tidak menggunakan canting, namun proses pembuatannya kurang lebih sama seperti batik tulis : malam diletakkan membentuk pola di atas kain-kain diberi warna-malamnya di"lorot" (tepatnya dilarutkan dengan air panas), and... voila! Jadilah batik cap!

Selesai presentasi, mulailah kami bereksperimen dengan cetakan batik cap. Pas liat mas-mas yang memperagakan, kok kayanya gampang ya... begitu mencoba sendiri, haduh, ternyata cetakannya panas, euy... mana kalau malamnya kebanyakan, langsung membentuk "noda-noda yang tak diinginkan". Tapi itu tidak mengurangi semangat para peserta untuk mencoba men-cap-kan malam di atas kainnya masing-masing. Setelah acara cap-capan selesai, kainnya masih boleh dihias menggunakan canting atau parafin, sebelum kemudian diberi pewarna. Pas dikasih pewarna terus malamnya dilorot, eh, lumayan juga hasilnya, hehehe...

Lagi-lagi, setelah merasakan sendiri bagaimana (susahnya) membuat batik cap, kembali saya harus menyampaikan rasa kagum kepada bapak-bapak pengrajin batik cap. Cetakan yang mereka pakai jauh lebih besar dari yang kami gunakan saat kursus (dan tentunya lebih berat), namun mereka bisa membatik dengan cepat dan rapih, luar biasa khan? Kesimpulan dari workshop ini adalah : mari kita semakin menghargai hasil karya para pengrajin batik!

Saturday, December 25, 2010

Destinasi Wisata Pesisir : gemana seh???

Sebenernya niatan saya untuk menelusuri destinasi wisata di Jakarta Utara berawal dari keisengan semata : pengen tahu di mana ujung tol JORR di sisi Cilincing (karena sepengetahuan saya saat ini tol itu belum 'nyambung' dengan tol Wiyoto Wiyono). Berhubung sudah sampai daerah sana, masak cuman ngukur jalan, jadi kami merencanakan untuk mengunjungi beberapa obyek wisata di Jakarta Utara.

Baca-baca di website ini, dan menemukan 'iklan' di tol layang Wiyoto Wiyono, rupanya ada 12 Destinasi Wisata Pesisir di Jakarta Utara : Taman Margasatwa Muara Angke, Sentra Perikanan Muara Angke, Kawasan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang, Sentra Belanja Mangga Dua, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Bahtera Jaya Ancol, Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Islamic Center, Gereja Kampung Tugu, Kampung Marunda, Sentra Belanja Kelapa Gading (mungkin lebih tepat klo sebutannya sentra wisata kuliner, soalnya klo belanja di Kelapa Gading kan mahal ya bo...). Karena kalau dilihat di peta yang paling dekat dengan tol JORR itu daerah Marunda, jadi kami memutuskan untuk pergi ke Marunda, rencananya pengen liat Rumah si Pitung.

Berbekal keterangan dari internet dan keterangan pada buku "99 tempat liburan akhir pekan di pulau JAWA dan MADURA", begitu keluar dari tol JORR mulailah kami mencari Rumah si Pitung. Tapi ketika kami menyeberang jembatan Marunda, melihat STIP Marunda, dan mulai mencari papan berwarna kuning yang ada tulisan "Mesjid Al Alam, Rumah Pitung, Pantai Marunda" (seperti petunjuk pada buku "99 tempat liburan"), ga ketemu... bahkan kami sudah sempat menyeberang perbatasan masuk wilayah Jawa Barat yang tidak jauh lagi dari STIP Marunda. Langsung kami putuskan untuk memutar balik, logikanya sederhana aja : ga mungkin rumah si Pitung masuk wilayah Jawa Barat. (kok petunjuknya salah ya? Padahal Mbak-Mbak penulis bukunya jelas-jelas masukin foto papan kuningnya...)

Akhirnya kami memfokuskan diri pada petunjuk penting lainnya : di belakang STIP Marunda. Jadi dengan logika barangkali di sekitar STIP Marunda ada jalan keliling, kami masuk ke jalan masuk STIP Marunda (dan setelah kami perhatikan, memang tidak ada petunjuk sedikit pun di jalan masuk STIP Marunda mengenai keberadaan rumah si Pitung). Menelusuri jalan itu, sampailah kami pada jalan buntu, tepatnya jembatan yang hanya bisa dilewatin motor. Dah sempet bingung, akhirnya tanya sama penjaga warung, rupanya kami berada di jalan yang benar... jadilah mobil diparkir dekat warung, dan kami berjalan kaki ke menyeberangi jembatan yang hanya terbuat dari bambu dan kayu, menuju rumah si Pitung. Suasana di sekitar lokasi sangat unik karena berbentuk rawa-rawa, ada orang yang sedang mencari ikan, dan terlihat pohon bakau di tengah rawa.

Setelah tiba di sebuah rumah panggung (yang menurut perkiraan kami mestinya ini rumah si Pitung), ternyata rumah itu lagi direnov, banyak banget tukang yang lagi kerja. Sempat ragu-ragu, kami bertanya pada pak Satpam yang ada di situ, rupanya benar ini rumah si Pitung (akhirnya ketemu juga!). Tapi rumah itu lagi direnovasi, dan mereka ga bisa memastikan kapan renovasinya selesai. Jadi ya sudahlah, kami kembali ke mobil, dan berencana untuk kembali lagi di lain waktu (habis mau difoto juga isinya tukang bangunan sama tumpukan semen...).

Ketika kami menelusuri jalan kembali menuju jalan raya, kami masih penasaran dengan papan kuning yang katanya ada itu. Tapi sampai kembali ke jalan raya dan masuk Jl. Cilincing, sama sekali tidak ada papan kuning tersebut... Setelah baca-baca lagi buku "99 tempat liburan", di buku itu tidak ada tahun penerbitannya, jangan-jangan keterangan di buku itu yang udah kadaluwarsa... ternyata setelah dibaca lagi dengan seksama, di buku itu mbak-mbak penulisnya pergi ke Madura masih pake feri dan ada foto jembatan Suramadu masih proses konstruksi, berarti buku itu diterbitkan sebelum Juni 2009, pantes aja infonya ada yang kadaluwarsa...

Karena sudah sampai di daerah Cilincing, iseng-iseng saya mencari Krematorium Cilincing. Hampir salah masuk jalan kembali ke Jl. Akses Marunda, karena papan petunjuk jalan yang tidak jelas (doh, payah deh...). Namun akhirnya kami menemukan Jl. Cilincing Lama, dan berhasil menemukan jalan menuju Krematorium. Krematoriumnya sih biasa saja, dan sebenarnya saya ingin turun masuk jalan-jalan ke klenteng Wan Lin Chie dan vihara Lalitavistara yang ada di jalan masuk Jl. Cilincing Krematorium. Tapi ketika kami berputar di lapangan parkir krematorium dan melihat tukang parkir di parkiran Krematorium (dengan gaya seperti mau narik biaya parkir), tiba-tiba kami mengurungkan niat dan kembali ke jalan raya... O ya, kalau liat Indomaret yang ada di jalan itu, ditulis "Cilincing Rekreasi". I wonder, apakah itu merupakan jalan ke pantai Cilincing yang dulu tersohor itu ya...

Next destination, Stasiun KA Tanjung Priok. Waktu kecil, saya ingat kalau pergi ke TIJA untuk berenang, pasti lewat stasiun Tanjung Priok, jadi tidak sulit untuk menemukan stasiun itu. Pas masuk, kok sepi ya... apa stasiunnya masih beroperasi? Namun pertanyaan saya segera terjawab, karena terlihat papan harga tiket yang masih baru, dan di situ tercantum nama dan harga tiket KA yang masih beroperasi, OK, berarti stasiunnya fully operated.



Memasuki peron stasiun, serasa tidak berada di salah satu stasiun KA di Indonesia. Di sisi kiri terdapat panel yang menceritakan sejarah perkeretaapian di Indonesia. Kami sempat foto-foto ke arah peron. Tapi ketika kami mau foto peron yang ada perkantorannya, kami dicegat pak Satpam, ditanya buat apa foto-foto, ya buat koleksi pribadi Pak... katanya kalau mau foto-foto bagian peron yang ada kantornya, harus didampingi orang kantor. Berhubung kami males berdebat, kami pergi aja dan mengurungkan niat untuk foto-foto lebih lanjut. Katanya destinasi wisata, tapi kok nggak boleh foto-foto? Emang harus bayar ya? Males dah... kalau mau disuruh bayar, sekalian aja pasang tarif karcis foto di loket! (seperti di kraton Yogyakarta, jadi bayarnya resmi, bukan sekedar salam tempel) Atau kalau nggak boleh foto, pasang aja rambu larangan berfoto, kita kan bisa baca...

Destinasi berikutnya : Gereja Tugu. Sebenernya tadinya tidak berencana mau ke Gereja Tugu, tapi setelah membaca buku "99 tempat liburan", eh, ternyata deket aja, cuman "di belakang" Depot Pertamina Plumpang! Setelah mencari-cari, sebenarnya gerejanya langsung ketemu, hanya karena hari kami berkunjung ini adalah Hari Natal, pasti gerejanya lagi sibuk banget melayani jemaat (dan kami tidak ingin dikira mau berziarah atau kebaktian...), jadi kami hanya menandai tempat ini di peta untuk dikunjungi di lain waktu.

Kesimpulan hasil kunjungan hari ini : program "12 Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara" saat ini perlu dipertanyakan. Keterangan dan petunjuk jalan yang tidak jelas (bahkan keterangan di website, buku dan peta bisa menyesatkan, seperti ketika mau ke Rumah Pitung), suasana kurang nyaman, dan petugas yang tidak kooperatif (seperti Satpam di stasiun KA Tj Priok) membuat saya bertanya-tanya, sebenernya seberapa besar niat pemerintah (terutama Pemda Jakarta Utara) untuk menjadikan lokasi-lokasi yang katanya Destinasi Wisata ini mudah, layak, dan menyenangkan untuk dikunjungi? Beberapa lokasi memang sedang berbenah (I hope so, seperti Rumah Pitung, mudah-mudahan hasil renovasi menjadikan lokasi tersebut mudah untuk dicapai), tapi lokasi yang sudah siap, seperti Stasiun Tanjung Priok, malah menyulitkan orang yang mau berwisata, mau foto-foto aja susah. Gimana industri wisata Indonesia mau maju kalau caranya seperti ini...

Tugu Pahlawan Surabaya

Saya sering banget dinas ke Surabaya, tapi belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Tugu Pahlawan, icon-nya kota Surabaya. Abis setiap kali ada yang diajak ke sana, ada aja alasannya : entar liat apa, cuman gitu-gitu aja, rame, panas dlsb. Cuman sekali aja saya pernah menginjakkan kaki ke daerah sana waktu malam hari untuk membeli nasi bebek Tugu Pahlawan yang tersohor itu, hohoho... tapi memang bebeknya mak nyusss, gak nyesel harus berdesak-desakan untuk membeli nasi bebek rasa petis seharga Rp 10.000 per porsi itu, hmmm... yummy...
Dan akhirnya, di suatu hari Minggu ketika saya berdinas ke Surabaya, saya iseng-iseng pergi ke Tugu Pahlawan. Supir Blue Bird yang saya tumpangi pun tampaknya agak-agak heran, ngapain saya pergi ke Tugu Pahlawan?? (mungkin dia pikir saya turis dari luar kota yang aneh...) Namanya juga iseng, Pak... Begitu tiba di sana, ternyata suasananya memang ramai banget. Kalo yang tahu bazaar yang tiap hari Minggu pagi digelar di lapangan Gasibu Bandung, kira-kira suasananya mirip seperti itu : banyak kaki lima yang menggelar dagangan, sehingga jalan di sekitar Tugu Pahlawan mirip pasar tumpah di Pantura (hanya belum serapat dan serame di lapangan Gasibu).

Untuk masuk ke area Tugu Pahlawan, tidak dipungut biaya. Di satu-satunya pintu masuk, terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta, sedang membacakan Proklamasi di antara tiang-tiang yang seolah merupakan bekas bangunan terkena pertempuran. Sayang, banyak orang nongkrong di situ, jadi malas mau foto. Banyak (sekali) orang yang duduk-duduk di dalam area Tugu Pahlawan, ada yang piknik keluarga, ada yang satu gank anak-anak muda, dan ada juga yang sibuk memadu kasih (seolah dunia jadi milik sendiri...). Terdapat 6 patung tokoh-tokoh terkemuka di Surabaya yang berperan ketika peristiwa 10 November 1945. Saya hanya sempat memfoto salah satu patung, dan kebetulan saya memilih patung Bung Tomo, yang menurut saya paling saya kenal di antara yang lain.


Di dalam area Tugu Pahlawan, terlihat ada 3 bangunan menyerupai piramid, rupanya itu museum yang menjadi bagian kelengkapan tugu tersebut. Dengan membayar tiket seharga Rp 2000, saya masuk ke museum, yang letaknya di bawah tanah (tepatnya tidak satu level dengan tugu). Di dalam museum terdapat berbagai diorama dan peninggalan sejarah yang terkait dengan peristiwa 10 November 1945, termasuk bendera, senjata, foto-foto, dan replika bambu runcing. Salah satu "benda unik" yang dipamerkan adalah diorama besar yang dilengkapi rekaman suara Bung Tomo pada tanggal 9 November 1945 malam dan 10 November 1945 pagi yang bertujuan untuk menyemangati rakyat Surabaya dalam menghadapi ultimatum tentara Sekutu. Sayangnya, ada diorama besar dalam teater kecil yang dilengkapi dengan special effect sepertinya sudah tidak berfungsi, hanya filmnya saja yang masih bisa ditonton. Walaupun demikian, ruangan berisi diorama besar itu tetap penuh dengan penonton (it's nice to see many Indonesian families go to museum!).



Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto sebentar, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan selanjutnya : memfoto Kantor Pos Krembangan Selatan, Jl. Kebonrojo. Tidak ada alasan lain selain alasan emosional : pada tahun 1950, Kakek saya pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Pos Surabaya. Karena hari Minggu, kantor posnya tutup, dan karena lahan parkirnya cukup luas, saya bisa memfoto bagian depan kantor pos dengan leluasa.
Baru saja saya menoleh ke tempat lain, saya melihat poster : pameran arkeologi yang bertempat di Kantor Pos Surabaya, dan tanggalnya masih belum terlewat! Hohoho... harus dikunjungi nih. Setelah mencari-cari sebentar, rupanya ruang pamerannya ada di sisi belakang kantor pos. Rupanya pamerannya bukan pameran benda-benda sejarah (ada sih, tapi sedikit...), lebih banyak menampilkan panel berisi keterangan-keterangan. Bagi mereka para penggemar wisata sejarah, isi pameran ini sangat menarik, karena menceritakan berbagai relief di beberapa candi di Jawa, antara lain kisah Karmawibangga di candi Borobudur dan kisah-kisah fabel di candi Penataran. Ketika saya mengisi kesan-pesan di buku tamu, ada bapak-bapak penjaga pameran yang mungkin terheran-heran melihat saya, dikira saya mahasiswa yang lagi berlibur (bukan Pak, saya pegawai yang lagi dinas dan iseng jalan-jalan mau foto kantor pos...). Eh, pulangnya malah dapet buku gratis! Ma kasih ya Pak...

Rupanya bonus "keajaiban" hari itu belum berakhir, karena ketika saya menyetop taksi untuk pergi ke toko Mirota di Jl. Sulawesi, Surabaya, supir taksinya gak tahu jalan! Haduh... untung ada teknologi GPS, dengan sedikit mencari-cari jalan menggunakan HP (sambil mencoba mengingat-ingat jalan yang biasa dilewati kalau mau ke toko itu), akhirnya ketemu juga toko Mirota. Dan untung supirnya baik, coba dia tidak mengaku gak tahu jalan, bisa-bisa aku diputar-putar gak jelas di Surabaya...

Sunday, November 14, 2010

Noiseless Bencoolen

Membaca artikel mengenai tempat wisata di mancanegara dengan tajuk yang diawali dengan kata “noiseless”, ingatan saya melayang waktu berkunjung ke Bengkulu. Walaupun menyatakan diri sebagai Kota Semarak, namun kata “noiseless” lebih tepat untuk menggambarkan situasi Bengkulu. Dengan jumlah penduduk kota hanya 400 ribu orang, Bengkulu dapat dikatakan merupakan ibukota propinsi paling sepi di wilayah Indonesia bagian Barat.

Hening dan damai. Itulah kesan pertama ketika keluar dari gerbang bandara Fatmawati Soekarno. Tujuan pertama : Museum Propinsi Bengkulu. Begitu sampai di museum, udah tahu nih, sama kaya tipikal museum-museum propinsi lainnya, pasti museumnya sepi. Benar saja, bahkan penjaga loketnya pun susah banget dicari...

Memasuki museum propinsi Bengkulu, nggak kaya museum lainnya yang banyak benda bersejarah, di museum ini justru lebih banyak mengenai benda kebudayaan Bengkulu. Bahkan untuk mencari keterangan lengkap tentang bunga Rafflesia pun tidak ada... Namun demikian, saya nggak menyesal masuk ke museum ini, karena ternyata banyak keterangan tentang suku lokal yang tinggal di Bengkulu, menggambarkan betapa beraneka ragam manusia yang tinggal di propinsi Bengkulu.

Koleksi yang menurut saya a must see adalah replika barang-barang yang digunakan dalam Upacara Tabot, yaitu upacara tradisional mengenang kepahlawanan Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur pada perang melawan bala tentara Ubaidillah bin Zaid di Padang Karbala. Upacara ini masuk dalam agenda tahunan wisata Bengkulu. Bahkan menara yang digunakan untuk Upacara Tabot dijadikan lambang “tidak resmi” kota Bengkulu, karena hampir di setiap sudut kota dapat ditemukan menara tabot yang dijadikan hiasan kota.

Kami juga melihat mesin cetak merek “Golden Press” buatan USA tahun 1931. Mesin ini pada tahun 1947 pernah digunakan oleh percetakan Dukhery Populer sebagai mesin pencetak “uang merah”, sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang dikenal sebagai Uang Merah / Mandat PMR (Persediaan Makanan Rakyat), dan berfungsi sebagai alat tukar yang sah untuk wilayah keresidenan Bengkulu. Selain itu mesin ini juga pernah digunakan oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia untuk mencetak naskah dan undangan grup tonil Monte Carlo.


Salah satu benda koleksi museum yang unik dan menyita perhatian kami adalah replika tongkat Raja Bengkulu. Tongkat yang terbuat dari bahan bambu kibut dan logam ini bentuknya menyerupai ular dengan bentuk badan meliuk dan ujung seperti kepala ular. Tongkat ini adalah kenang-kenangan dari raja Bengkulu kepada residen Inggris Yoseph Hurlock Esquire pada tahun 1752. Pada masa pemerintahan gubernur Razie Yahya tahun 1993, tongkat ini dikembalikan lagi ke Bengkulu. Tapi saya kok melihat tongkatnya agak-agak spooky ya... jadi takut mau foto... :( Ada juga patung yang digunakan untuk menari yang bentuknya mirip ondel-ondel, namanya Barong Landong. Boneka ini digunakan oleh suku Lembak untuk menari dalam upacara adat.

Selesai dari museum, atas saran dari salah satu pegawai museum untuk mengambil rute perjalanan yang paling efisien, kami menuju Pantai Panjang. Mobil berhenti di ujung Pantai Panjang, dan kami berkesempatan untuk menjejakkan kaki di pantai landai berpasir putih itu, sambil melihat langsung pemandangan ke arah Samudra Hindia. Pantainya bersih, dan sepi... tukang dagangan sih ada, tapi karena hari itu hari Sabtu, maka jumlahnya sedikit sekali, dan gak model ngejar-ngejar wisatawan, membuat kunjungan ke pantai ini sangat menyenangkan, sayang masih banyak obyek yang harus dikunjungi. Ketika hari Minggu-nya kami melewati lagi pantai Panjang, pantainya jauh lebih ramai, banyak tukang dagangan, dan ada berbagai atraksi untuk anak-anak, seperti odong-odong dan gajah tunggang. Namun demikian, masih terlihat banyak tempat yang kosong, tidak seperti pantai Ancol di Jakarta yang pada hari libur nyaris tidak ada lahan yang tersisa.
Keunikan dari pantai ini, sejauh mata memandang, kami tidak melihat pohon kelapa, melainkan pohon cemara. Sebenarnya bukannya tidak ada pohon kelapa sama sekali, tapi pohon kelapa pertama yang kami temui jaraknya beberapa ratus meter dari bibir pantai... Satu hal yang menarik, ketika saya mengambil foto dan mencoba mengirimnya ke salah satu situs jejaring sosial, rupanya sinyal 3G Indosat di pantai ini full!! Keren... (dan setelah mengelilingi kota Bengkulu, satu2nya tempat yang sinyal 3G Indosatnya penuh ya di pantai Panjang... tapi mungkin karena yang pakai internet tidak banyak, hampir di setiap titik di kota Bengkulu, biar kata masuk Edge, speednya cepet bou...)

Setelah puas bermain air dan foto-foto sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri pantai, baru kami tahu alasan pantai ini diberi nama Pantai Panjang, karena panjangnya yang mencapai 7 km. Di beberapa tempat, pantai cukup lebar, sehingga banyak keluarga yang bermain air, atau anak-anak bermain bola di pantai. Namun anda tidak akan menemukan orang yang mandi-mandi di laut. Konon ada legenda yang terkait dengan Putri Gading Cempaka yang membuat orang tak berani mandi-mandi di pantai ini, namun mungkin juga bukan karena itu, mengingat pantai ini langsung berhadapan dengan Samudra Hindia yang arus bawahnya sangat kuat sehingga berbahaya jika kita berenang.

Semula dari Pantai Panjang kami langsung menuju Benteng Marlborough yang tersohor, namun sayang cuaca mendung, sehingga kami mengurungkan niat dan melanjutkan perjalanan menuju obyek selanjutnya. Tibalah kami di rumah pengasingan Bung Karno. Bengkulu punya romantisme tersendiri dalam perjalanan hidup Bung Karno, karena selama di pengasingan di Bengkulu beliau bertemu dengan Fatmawati, yang di kemudian hari menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.

Waktu kami tiba rumah pengasingan Bung Karno, tiba-tiba hujan! Kami lari-lari untuk berteduh ke dalam rumah. Bersamaan dengan kedatangan kami, terdapat serombongan anak sekolah yang juga berlari-lari untuk berteduh, membuat rumah yang kecil itu menjadi penuh. Rupanya mereka juga bermaksud untuk melakukan kunjungan, karena tidak lama kemudian guru pendamping mereka menyusul dan mengumpulkan mereka di beranda belakang rumah tersebut.

Di rumah ini tersimpan beberapa perabot seperti kursi tamu, tempat tidur dan lemari yang dipakai keluarga Bung Karno, serta sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno. Banyak juga foto-foto selama Bung Karno beraktifitas dalam pengasingan di Bengkulu. Selain itu terdapat 2 lemari yang berisikan seragam kelompok tonil Monte Carlo, grup sandiwara asuhan Bung Karno. Namun yang paling berharga dari koleksi tersebut adalah buku-buku Bung Karno yang mencapai ratusan buah, sayangnya kondisinya sebagian besar rapuh atau hancur termakan usia. Di beranda belakang rumah, terdapat kios yang menjual oleh-oleh khas Bengkulu dan buku-buku terbitan terbaru tentang Bung Karno. O ya, di halaman belakang rumah terdapat sumur keramat, konon barang siapa yang mencuci muka di sumur itu akan memperoleh kesuksesan, wallahu alam...
Usai dari rumah pengasingan Bung Karno, kami mencoba mencari rumah keluarga Ibu Fatmawati. Sayang, supir mobil rental yang membawa kami kurang mengetahui letak rumahnya, rupanya tempat ini kalah beken dibandingkan rumah pengasingan Bung Karno. Akhirnya dengan dipandu informasi dari internet, kami mencoba mencari rumah tersebut, dan untungnya ketemu, tak jauh dari pusat kota (dan ternyata tak terlalu jauh dari rumah pengasingan Bung Karno). Namun saat itu kami tak menemukan penjaga sama sekali, jadi kami tak berani masuk. Baru keesokan harinya kami berhasil bertemu penjaganya dan masuk ke dalam rumah. Koleksi di dalam rumah ini tidak sebanyak di rumah pengasingan Bung Karno. Walaupun sepi, rumah ini bersih dan cukup terawat. Terdapat beberapa perabot dan foto milik pribadi keluarga Ibu Fatmawati. Di salah satu kamar, kami juga melihat mesin jahit yang digunakan ibu Fatmawati untuk menjahit bendera pusaka.

Setelah pada hari itu kami tidak berhasil masuk rumah Ibu Fatmawati, cuaca mulai cerah, sehingga kami buru-buru mengunjungi Benteng Marlborough, takut keburu hujan lagi. Sebelum sampai benteng, kami mampir dulu ke monumen Thomas Parr, yang berjarak hanya 600 meter dari benteng Malrborough. Monumen yang juga dikenal sebagai Kuburan Bulek ini dibangun Inggris untuk memperingati peristiwa pembunuhan residen Inggris Thomas Parr pada tahun 1807. Konon Thomas Parr dibunuh oleh orang Bugis yang menjadi salah satu anggota keamanan East India Company (EIC), karena berusaha mengurangi peranan mereka di anggota keamanan EIC.

Selain monumen Parr, di Bengkulu juga terdapat tugu Hamilton. Tugu ini konon merupakan nisan dari Captain Robert Hamilton, kapten Angkatan Laut Inggris, namun sudah dipindahkan dari tempatnya semula dan diletakkan di pertigaan Jl. Soekarno-Hatta. Belakangan kami baru menyadari bahwa tugu ini tidak sepopuler monumen Thomas Parr, karena supir mobil rental yang membawa kami semula tidak bisa mengidentifikasi lokasi tepatnya dari tugu ini, padahal sudah beberapa kali kami melewatinya!

Akhirnya, kami berhasil mencapai Benteng Marlborough! Benteng ini merupakan benteng peninggalan Inggris, didirikan oleh EIC pada tahun 1713-1719. Pada masanya, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di daerah Timur setelah benteng St. George di Madras, dan menjadi benteng terbesar Inggris di Asia Tenggara. Waktu kami bayar karcis masuk, mas-mas penjaga loketnya menawarkan jasa pemandu, dan akhirnya kami didampingi oleh pemandu dari dinas pariwisata yang bernama mas Leo. Mas Leo sangat sabar dan detail dalam menjelaskan sejarah benteng Marlborough, dimulai dari fakta bahwa benteng ini pernah berpindah tangan dan dikuasai oleh 4 negara : Inggris, Perancis, Belanda, Jepang. Benteng seluas 44100 meter persegi ini didirikan di atas bukit buatan, yang dibangun dengan menimbun karang dengan tanah. Desain dasar benteng ini berbentuk segi empat dan menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bastion di sudut benteng berbentuk seperti kaki, serta satu kelompok bangunan (yang sekarang menjadi pintu masuk) menyerupai bagian kepala kura-kura. Benteng dikelilingi parit selebar 3,6 meter dengan kedalaman 1,8 meter, dan pintu masuk benteng tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam.

Di salah satu ruangan, rupanya ada eksebisi mengenai sejarah Bengkulu, sejarah kehadiran Inggris di Bengkulu, bagaimana EIC mulai beraktifitas di Bengkulu, termasuk Raffless dan penyerahan Bengkulu ke tangan Belanda. Well... saya menduga Raffless mungkin sudah melihat kalau Singapura jauh lebih strategis daripada Bengkulu, makanya dia mau aja menyerahkan Bengkulu kepada Belanda ya...

Di salah satu ruangan yang pernah dijadikan sel tawanan, kami melihat gambar kompas yang digambar oleh orang Belanda yang ditawan oleh Jepang, serta pesan yang ditulis dalam bahasa Belanda, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya “Barang siapa mengamati kompas ini janganlah memarahi yang membuat kompas ini, ingatlah bahwa kesengsaraan dan waktu lah yang membuat saya mencoret-coret dan waktu saya menulis ini.” Waduh… tak terbayangkan bagaimana perasaan si tawanan ketika ia menggambar kompas di dinding dekat jendela…

Naik ke bastion benteng yang menghadap ke pantai Tapak Paderi, kami melihat meriam yang bisa berputar 360°. Meriam buatan Belanda ini memiliki kaki yang dapat dipasang pada rel berbentuk lingkaran, yang memungkinkan meriam berputar. Bisa dibayangkan, jaman dulu meriamnya pasti lebih berat daripada sekarang, gimana coba memutarnya... Dari bastion ini, kita bisa melihat pantai Tapak Paderi dengan leluasa. Di masa lalu, pantai Tapak Paderi merupakan pelabuhan alami kota Bengkulu. Menurut mas Leo, orang-orang tua Bengkulu lebih mengenal pelabuhan alam ini sebagai Pelabuhan Bom, konon karena banyaknya bom yang dilontarkan ke pelabuhan ini ketika musuh menyerbu benteng Marlborough. Dari kejauhan, kami bisa melihat bunker buatan Jepang tepat di area parkir mobil di pantai.

Sore hari, ketika berjalan-jalan menikmati angin laut di pantai Tapak Paderi, kami sempat berfoto di papan nama jalan bertuliskan “Bencoolen Street”. Barangkali pernah dengar jalan Bencoolen Street di Singapura, nama jalan ini sengaja diberikan oleh Raffles untuk mengenang kehadiran Inggris di Bengkulu. Namun tak perlu jauh-jauh ke Singapura jika ingin ke Bencoolen Street, mampir saja ke pantai Tapak Paderi dan temukan papan nama jalan tersebut.

Bagi yang ingin berwisata kuliner, terdapat beberapa buffet dan lepau yang menjual hidangan khas Bengkulu. supir rental yang kami sewa membawa kami ke restoran Inga Raya, Jl. Pantai Pasar Bengkulu, tepat di depan pantai Jakat. Walaupun secara sepintas makanan khas Bengkulu mirip dengan makanan Minang, namun Bengkulu memiliki makanan khas yang tidak ditemukan di tempat lain, seperti bager hiu (semacam rendang dari daging ikan hiu), pendap (dari daun keladi, ikan dan kelapa, mirip seperti buntil), pais ikan kecil-kecil (seperti pepes), lawar (seperti urap), dan balado ikan Beleberan (sejenis ikan kecil-kecil). Mmm… padek nian! Konon untuk memasak pendap, perlu 1 hari penuh untuk memastikan daun keladi yang dimasak bebas dari getah yang membuat gatal.


Jangan lupa beli oleh-oleh khas Bengkulu. Sentra oleh-oleh khas Bengkulu terdapat di Jl. Soekarno-Hatta, Anggut Atas, tidak jauh dari rumah pengasingan Bung Karno. Makanan khas Bengkulu yang biasa dijadikan oleh-oleh antara lain lempuk durian, emping melinjo, gelamai (semacam dodol), perut punai (makanan yang terbuat dari ketan bersalut gula aren), kacang siput, manisan terong, roti bay tat (sejenis pai nanas), dan kopi bubuk. Rata-rata makanan khas Bengkulu rasanya manis dan gurih. Selain makanan, tersedia juga kerajinan khas Bengkulu yang terbuat dari kulit lantung, umumnya dijadikan hiasan dinding, gantungan kunci, atau tas wanita.

Toko oleh-oleh di Anggut Atas juga menjual batik Besurek, batik khas Bengkulu. Besurek artinya ‘bersurat’, karena ciri khas batik ini adalah adanya motif huruf Arab. Konon batik Besurek awalnya adalah kain yang sakral, karena hanya digunakan untuk upacara adat. Dalam pengembangan selanjutnya, untuk memperlihatkan khas Bengkulu, batik ini juga dilengkapi motif bunga Rafflesia. Kebanyakan batik Besurek memiliki warna-warna yang tegas. Tentu saja, saya memilih membeli batik printing, kalau mau beli yang sutra, mana tahan...

Kami menginap di hotel Samudra Dwinka, yang terletak tepat di depan Masjid Jamik. Letak masjid ini sangat unik, karena tepat di tengah pertigaan. Masjid Jamik menjadi cagar budaya yang bersejarah, karena selain merupakan masjid tertua, masjid ini pernah direnovasi oleh Bung Karno ketika beliau berada dalam pengasingan pada tahun untuk 1938. Rancangan atap mesjid ini agak berbeda dengan atap mesjid di Bengkulu yang umumnya bulat, lebih mengingatkan kepada atap mesjid Demak. Keunikan lainnya adalah atap mesjid ini terbuat dari seng. Konon kabarnya atap seng lebih tahan terhadap gempa, sehingga mengurangi resiko kerusakan apabila terjadi gempa, mengingat Bengkulu adalah daerah yang rawan gempa. Selain masjid Jamik, di Bengkulu banyak terdapat masjid di seluruh penjuru kota, mulai dari yang berukuran kecil, sedang, maupun mesjid besar. Ini menakjubkan bagi kami, mengingat penduduk kota Bengkulu hanya 400.000 jiwa, namun mesjidnya banyak dan ada di mana-mana.

Malam itu kami menghabiskan waktu di kamar hotel, dari jendela kami bisa melihat jalan-jalan utama kota Bengkulu yang ramai, namun sama sekali tidak macet. Saat kami membuka internet untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia yang lain, kami melihat laporan lalu lintas yang mengatakan hari itu Jakarta macet, bahkan di daerah Lebak Bulus terjadi kemacetan total. Ahhh… rasanya hari itu kami bahagia sekali, karena untuk sejenak bisa lepas dari kemacetan Ibu Kota, mencari kedamaian di noiseless town of Bengkulu…

Saturday, September 11, 2010

Merah Putih II : Darah Garuda

Dalam rangka libur Lebaran 1431 H, banyak film-film baru yang tayang perdana di bioskop, diantaranya adalah Merah Putih II : Darah Garuda. Mengingat diriku sudah (terlanjur) menonton film pertamanya, jadi daku berniat untuk menonton lanjutannya.

Cerita diawali dari usaha Empat Sekawan yang berusaha membebaskan Melati dan Senja di perkebunan kopi Lembongan Lor. Mereka berhasil membebaskan para pekerja perkebunan, namun tawanan mereka, Major van Grotten, berhasil meloloskan diri. Empat sekawan kemudian bergerilya menembus hutan, berusaha mencari pasukan Tentara Nasional Indonesia di bawah pimpinan jendral Sudirman. Setelah menemui pasukan TNI, mereka mendapat misi khusus untuk menghancurkan pangkalan udara yang baru dibangun tentara Belanda. Dalam menunaikan misi tersebut, Empat Sekawan itu menemui berbagai rintangan, termasuk di antaranya pertempuran dengan tentara Belanda, tertangkapnya anggota mereka, pertemuan dengan tentara Islam, dan adanya pengkhianat di antara pasukan TNI. Namun pada akhirnya, misi berhasil mereka tuntaskan.

Melihat film ini, sekali lagi saya harus mengerutkan kening sambil (sekali lagi) berusaha mencamkan dalam hati, ini BUKAN FILM SEJARAH (kan dari awal sutradaranya udah bilang!). Banyak adegan dalam film ini yang tidak cocok dengan tempat dan waktu dalam sejarah Indonesia. Seperti adegan Jendral Sudirman yang memimpin gerilya dari atas tandu, setting film ini adalah di Jawa Tengah, namun setahu saya, pergerakan gerilya Jendral Sudirman baru dimulai pada Desember 1947 ketika mulai clash kedua, dan lebih banyak di wilayah Jawa Timur. Kemudian adanya tentara Islam, setahu saya pada masa itu memang kita menghadapi 2 musuh : NICA dan tentara DI/TII. Namun lagi-lagi setahu saya, tentara DI/TII lebih banyak bergerak di wilayah Jawa Barat, gak cocok lagi khan? Jadi kaya'nya yang menulis cerita memang hanya sekedar memasukkan fakta2 ini untuk menjadi 'bumbu' dalam cerita, dan tidak mencocokkan fakta-fakta tersebut dalam setting cerita.

Tapi, balik lagi, karena dari sejak film pertama sudah dinyatakan dalam disclaimer bahwa trilogi ini merupakan fiksi yang berbasis pada sejarah, jadi sah-sah saja, khan? (anggap aja seperti nonton film Rambo ato Tour of Duty, yang base on perang Vietnam, tapi seperti ga ada hubungannya sama sejarah, hehehe) Sebagai film, sinematografinya menarik, top banget, dan sama seperti film yang pertama, gayanya Hollywood banget. Tidak hanya dalam efek-efek khusus yang ditampilkan (terutama adegan tembak-menembak dan ledakan), namun juga dalam dialog-dialog para pemerannya. Secara keseluruhan, film ini lebih seru dan menegangkan dibandingkan film pertama. Namun di akhir film, saya merasa bahwa film ini tidak sedramatis film yang pertama, mungkin juga karena film pertama dirilis bertepatan dengan 17 Agustus 2009, sehingga pada saat itu tema filmnya lebih sesuai. Bisa juga ini bagian dari strategi pembuat film, supaya film terakhir dari trilogi ini bisa memberikan klimaks yang lebih dramatis.

Banyak juga hal kurang logis yang ditemukan di film ini. Seperti ketika Senja menyamar menjadi bagian dari tentara elite TNI, rasanya tidak mungkin teman-temannya tidak tahu kalau ia ikut, karena mereka berjalan bersama-sama di hutan (walaupun digambarkan Sersan Yanto mengetahui bahwa ada tentara wanita di antara mereka). Kemudian bagaimana Dayan bisa menyusul teman-temannya yang sedang berusaha menghancurkan pangkalan udara Belanda, dan bahkan memberikan elemen kejutan untuk membantu meloloskan diri dari pangkalan udara tersebut.

Kesimpulannya, dari segi cerita, mungkin anda akan menonton sambil sedikit mengernyitkan dahi. Tapi kalau anda terbiasa menikmati film tanpa terlalu memikirkan ceritanya, well, jauh lebih mending nonton film ini daripada nonton film horror atau komedi yang gak bermutu!

Friday, June 18, 2010

Surat Pembacaku Dimuat!

Beberapa waktu yang lalu aku mengirim surat pembaca ke majalah The World of Cross Stitching, menceritakan karyaku yang dibuat dari salah satu pola di majalah itu (pernah kuposting di sini). Kira-kira sebulan setelah aku mengirim e-mail dan fotonya, salah satu redakturnya mengirim balasan minta alamat rumah, rupanya mereka berencana memuat suratku di edisi bulan Juni, dan apabila beneran dimuat, mereka akan mengirim suvenir ke rumah.

Awal Juni, sebelum aku sempat ke toko buku untuk mencari majalahnya, rupanya kiriman suvenirnya sudah tiba di rumah, hore, berarti surat pembacaku dimuat! Suvenirnya "cuman" kain Aida warna hijau (termasuk barang agak langka di sini...), 1 benang sulam DMC (tapi khusus yang diedarkan di Inggris, labelnya agak beda sama yang dijual di sini), sama 1 leaflet pola, tapi seneng bangeeeeettt....

Baru pada akhir minggu aku berkesempatan ke Kinokuniya untuk beli majalahnya, dan setelah melihat surat pembacanya aku baru sadar, ternyata suratku lumayan panjang... dan dikasih komentar sama redakturnya. Nggak tahu apakah kebetulan atau merupakan kesengajaan, mereka memuat suratku berbarengan dengan penerbitan bonus pola Eeyore di edisi Juni itu. Senangnyaaa....

Sunday, May 16, 2010

Berburu Lokasi Training Outdoor




Beberapa waktu yang lalu, kami dapat permintaan untuk membuat training tapi nggak mau di ruang kelas, tapi syaratnya jangan di luar kota, supaya memudahkan peserta untuk datang sendiri ke lokasi training. Jadi kami harus survey ke beberapa lokasi di dalam kota Jakarta yang memungkinkan untuk outdoor training, dengan syarat lokasinya masih di dalam kota Jakarta dan cukup nyaman untuk digunakan sebagai lokasi outing training.

Pemberhentian pertama : Kebun Binatang Ragunan. Kenapa kebun binatang? Soalnya kliennya mengajukan syarat, mintanya temanya alam, jadi berhubung saya tahu banyak orang pernah bikin acara di kebun binatang baik indoor maupun outdoor, jadi saya survey ke sana untuk tahu bagaimana prosedurnya kalau mau sewa ruangan dan menggunakan lahan untuk kegiatan outing training. Well, nggak susah juga, datang aja ke Kantor Rekreasi, nanti di sana ada petugas yang sangat ramah yang membantu menjelaskan prosedur dan biaya-biaya yang dikenakan selama sewa tempat di wilayah Kebun Binatang. Masalahnya cuman satu : rupanya peminatnya sangat sangat banyak, jadi petugasnya sudah mewanti-wanti, kalau mau booking ruangan, harus segera di-DP, karena keburu dipakai sama orang lain.


Pemberhentian berikutnya : Bumi Perkemahan Ragunan. Mungkin nggak banyak yang ngeh bahwa di dalam kota, tepatnya di depan halte busway Deptan di jalur 6, tersembunyi sebuah lokasi camping yang luas dan cukup rindang. Waktu masuk ke sana untuk tanya prosedur pemesanan, petugas yang ada juga cukup ramah dan sangat informatif, hanya saja di sana tidak ada ruangan tertutup yang bisa di sewa (padahal saya butuh ruangan tertutup, karena kita mau memasang "layar tancap"...), adanya aula terbuka. Hmmm... kalau mau training yang full outdoor sih kaya'nya boleh juga tuh dipertimbangkan, biayanya gak mahal kok...


Pemberhentian terakhir : Situ Babakan di Jagakarsa. Rasanya hampir tiap minggu kami lewat Jl. Jagakarsa dan melihat papan petunjuk jalan ke arah Situ Babakan, tapi kok nggak pernah keliatan danaunya bentuknya seperti apa. Akhirnya, setelah meluangkan waktu (dan meneguhkan niat), kami mencoba melihat sendiri seperti apa kondisi Situ Babakan. Begitu melihat tempatnya, untuk jadi tempat piknik ternyata menyenangkan (bayangkan, ada danau yang begitu luas dan rimbun di tengah kota Jakarta! Mmm... not really di tengah kota, tapi di tengah pemukiman, karena danaunya ada di balik rumah-rumah penduduk), tapi untuk tempat training outdoor, rupanya kurang representatif...


Well... sekarang tergantung kliennya, mau di mana. Kalau nggak mau di salah satu tempat di atas, kita ke Cibubur aja... :)

Papan Reklame Aneh


Suatu hari Minggu, saya mengantar adik saya ke bandara Soekarno-Hatta. Sepulang dari bandara, ketika bayar tol di gerbang tol Pluit, mata saya tertumbuk sebuah papan iklan yang membuat saya agak tergelitik. Iklannya sih nggak 'pa-'pa, merk dan produknya juga baik-baik aja (saya tidak punya sentimen pribadi sama merk ato produknya, beneran...), yang menggelitik adalah kombinasi dari merk yang diiklankan (Samsung) dan tulisan di bawahnya : Welcome to Jakarta. Wow... saya pikir saya baru aja mendarat di Seoul!

Kenapa saya jadi tergelitik? Papan iklan itu kebetulan letaknya strategis, karena terletak di depan mata saat keluar gerbang tol Pluit, tidak seperti papan iklan lain yang terletak jauh di atas pandangan di sepanjang jalan tol bandara. Tiba-tiba saya terpikir, kenapa kok bukan perusahaan nasional yang memasang iklan di tempat yang begitu strategis itu... kenapa kok malah iklan perusahaan dari negeri antah berantah? Padahal begitu banyak perusahaan nasional yang memasang iklan di sepanjang jalan tol (cuman letaknya jauh di atas kepala), tapi yang "mengucapkan" selamat datang dan mudah terbaca kok malah perusahaan asing...