Saturday, December 25, 2010

Tugu Pahlawan Surabaya

Saya sering banget dinas ke Surabaya, tapi belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Tugu Pahlawan, icon-nya kota Surabaya. Abis setiap kali ada yang diajak ke sana, ada aja alasannya : entar liat apa, cuman gitu-gitu aja, rame, panas dlsb. Cuman sekali aja saya pernah menginjakkan kaki ke daerah sana waktu malam hari untuk membeli nasi bebek Tugu Pahlawan yang tersohor itu, hohoho... tapi memang bebeknya mak nyusss, gak nyesel harus berdesak-desakan untuk membeli nasi bebek rasa petis seharga Rp 10.000 per porsi itu, hmmm... yummy...
Dan akhirnya, di suatu hari Minggu ketika saya berdinas ke Surabaya, saya iseng-iseng pergi ke Tugu Pahlawan. Supir Blue Bird yang saya tumpangi pun tampaknya agak-agak heran, ngapain saya pergi ke Tugu Pahlawan?? (mungkin dia pikir saya turis dari luar kota yang aneh...) Namanya juga iseng, Pak... Begitu tiba di sana, ternyata suasananya memang ramai banget. Kalo yang tahu bazaar yang tiap hari Minggu pagi digelar di lapangan Gasibu Bandung, kira-kira suasananya mirip seperti itu : banyak kaki lima yang menggelar dagangan, sehingga jalan di sekitar Tugu Pahlawan mirip pasar tumpah di Pantura (hanya belum serapat dan serame di lapangan Gasibu).

Untuk masuk ke area Tugu Pahlawan, tidak dipungut biaya. Di satu-satunya pintu masuk, terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta, sedang membacakan Proklamasi di antara tiang-tiang yang seolah merupakan bekas bangunan terkena pertempuran. Sayang, banyak orang nongkrong di situ, jadi malas mau foto. Banyak (sekali) orang yang duduk-duduk di dalam area Tugu Pahlawan, ada yang piknik keluarga, ada yang satu gank anak-anak muda, dan ada juga yang sibuk memadu kasih (seolah dunia jadi milik sendiri...). Terdapat 6 patung tokoh-tokoh terkemuka di Surabaya yang berperan ketika peristiwa 10 November 1945. Saya hanya sempat memfoto salah satu patung, dan kebetulan saya memilih patung Bung Tomo, yang menurut saya paling saya kenal di antara yang lain.


Di dalam area Tugu Pahlawan, terlihat ada 3 bangunan menyerupai piramid, rupanya itu museum yang menjadi bagian kelengkapan tugu tersebut. Dengan membayar tiket seharga Rp 2000, saya masuk ke museum, yang letaknya di bawah tanah (tepatnya tidak satu level dengan tugu). Di dalam museum terdapat berbagai diorama dan peninggalan sejarah yang terkait dengan peristiwa 10 November 1945, termasuk bendera, senjata, foto-foto, dan replika bambu runcing. Salah satu "benda unik" yang dipamerkan adalah diorama besar yang dilengkapi rekaman suara Bung Tomo pada tanggal 9 November 1945 malam dan 10 November 1945 pagi yang bertujuan untuk menyemangati rakyat Surabaya dalam menghadapi ultimatum tentara Sekutu. Sayangnya, ada diorama besar dalam teater kecil yang dilengkapi dengan special effect sepertinya sudah tidak berfungsi, hanya filmnya saja yang masih bisa ditonton. Walaupun demikian, ruangan berisi diorama besar itu tetap penuh dengan penonton (it's nice to see many Indonesian families go to museum!).



Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto sebentar, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan selanjutnya : memfoto Kantor Pos Krembangan Selatan, Jl. Kebonrojo. Tidak ada alasan lain selain alasan emosional : pada tahun 1950, Kakek saya pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Pos Surabaya. Karena hari Minggu, kantor posnya tutup, dan karena lahan parkirnya cukup luas, saya bisa memfoto bagian depan kantor pos dengan leluasa.
Baru saja saya menoleh ke tempat lain, saya melihat poster : pameran arkeologi yang bertempat di Kantor Pos Surabaya, dan tanggalnya masih belum terlewat! Hohoho... harus dikunjungi nih. Setelah mencari-cari sebentar, rupanya ruang pamerannya ada di sisi belakang kantor pos. Rupanya pamerannya bukan pameran benda-benda sejarah (ada sih, tapi sedikit...), lebih banyak menampilkan panel berisi keterangan-keterangan. Bagi mereka para penggemar wisata sejarah, isi pameran ini sangat menarik, karena menceritakan berbagai relief di beberapa candi di Jawa, antara lain kisah Karmawibangga di candi Borobudur dan kisah-kisah fabel di candi Penataran. Ketika saya mengisi kesan-pesan di buku tamu, ada bapak-bapak penjaga pameran yang mungkin terheran-heran melihat saya, dikira saya mahasiswa yang lagi berlibur (bukan Pak, saya pegawai yang lagi dinas dan iseng jalan-jalan mau foto kantor pos...). Eh, pulangnya malah dapet buku gratis! Ma kasih ya Pak...

Rupanya bonus "keajaiban" hari itu belum berakhir, karena ketika saya menyetop taksi untuk pergi ke toko Mirota di Jl. Sulawesi, Surabaya, supir taksinya gak tahu jalan! Haduh... untung ada teknologi GPS, dengan sedikit mencari-cari jalan menggunakan HP (sambil mencoba mengingat-ingat jalan yang biasa dilewati kalau mau ke toko itu), akhirnya ketemu juga toko Mirota. Dan untung supirnya baik, coba dia tidak mengaku gak tahu jalan, bisa-bisa aku diputar-putar gak jelas di Surabaya...

No comments: