No, ini bukan USDEK yang berbau-bau politik Orde Lama. Ini USSDEK yang membawa kenikmatan, alias tata cara jamuan khas Surakarta.
Apa yang dimaksud dengan USSDEK? Rupanya USSDEK merupakan singkatan dari Unjukan-Snack-Sop-Dahar-Es-Kondur. Ini merupakan urutan dari hidangan yang disajikan dalam sebuah jamuan makan, baik dalam sebuah hajatan pernikahan (yang paling umum ditemui) maupun hajatan-hajatan lain.
Kemungkinan besar USSDEK merupakan modifikasi tata cara jamuan makan gaya Eropa, yang disesuaikan dengan kearifan lokal Jawa Tengah, sebab banyak kemiripan yang bisa kita temukan. Mari kita bandingkan dengan jamuan makan gaya Eropa, yang kita pelajari di kursus table manner.
Dari sisi perbedaannya, jamuan makan gaya Eropa biasanya dilakukan di round table atau meja panjang, jamuan USSDEK hanya menyediakan tempat duduk saja tanpa meja. Sedangkan dari sisi persamaannya adalah pada menunya. Jika jamuan USSDEK diawali dengan Unjukan (biasanya teh manis hangat), di jamuan gaya Eropa para pelayan akan mengisi gelas-gelas kita dengan air putih. Untuk Snack, di jamuan makan gaya Eropa merupakan appetizer. Sedangkan Sop, di jamuan makan gaya Eropa ya tetap sop. Bedanya kalau jamuan USSDEK sopnya umumnya sop bening, di jamuan gaya Eropa umumnya berbentuk cream soup. Selanjutnya adalah Dahar atau main course. Jika di USSDEK dahar-nya bisa berbentuk selat Solo atau paket nasi dan lauknya, main course di jamuan makan Eropa biasanya adalah steak lengkap dengan ubo rampe-nya. Menu selanjutnya adalah Es atau dessert, dalam bentuk es buah atau puding. Biasanya, kalau Es alias dessert-nya sudah dikeluarkan, para tamu bersiap-siap untuk Kondur alias pulang. Saatnya tuan rumah berdiri di pintu, bersalaman dengan para tamu dan mengucapkan terima kasih atas kehadirannya.
Jamuan makan gaya USSDEK ternyata bukan monopoli wilayah Surakarta. Saya pernah menemui tata cara serupa di daerah Banyumas. Dan jamuan di Banyumas tersebut tidak diselenggarakan di gedung pertemuan, melainkan di rumah. Takjub ketika saya tahu bahwa gaya jamuan seperti ini lumrah dilakukan di daerah lain di Jawa Tengah, karena sebelumnya saya pikir USSDEK hanya ada di daerah-daerah kekuasaan keraton Mataram saja.
Apakah jamuan gaya USSDEK kurang praktis? Mungkin iya untuk beberapa orang yang terbiasa dengan jamuan gaya prasmanan. Apalagi kalau tinggal di Jakarta yang dalam satu waktu harus menghadiri hajatan di 2-3 tempat yang berbeda. Namun menurut saya, itulah keunikan dari USSDEK. Di satu sisi, setiap tamu dihormati karena mereka tinggal duduk manis dan dilayani oleh pelayan. Di sisi lain, dipastikan semua tamu yang hadir akan kebagian makanan, tidak ada issue kehabisan makanan.
Btw, ini salah satu hidangan Snack atau appetizer USSDEK favorit saya: kroket ala Solo. Dan kroket di foto ini dibuat oleh salah satu catering tertua dan terbaik (menurut saya) dalam penyelenggaraan USSDEK di Solo. Mudah-mudahan budaya USSDEK ini jangan hilang ditelan masa...
Saturday, February 09, 2019
Sunday, August 12, 2018
Creating Beautiful Travel Photography
Nowadays, taking photo is the most popular activities doing (almost) by everybody. Especially when travelling, people taking photo of the objects they've seen, people they've met, or just taking selfie for keeping personal memories of the journey. Since everybody wants to keep good memories, how can we create beautiful travel photos?
First of all, travel photography is all about moments. Making a beautiful travel photos mean catching the right moments, i.e. right person, right time, right situation, or combination of them.
But how do you know when you meet the right moments? It depends on your judgement.
To find the right moments, you have to wait patiently and be considerate. Pick point of interest, and wait for the right person, right time, or right situation to come.
Practice make perfect, so taking more photos means practicing your judgement to find the right moments.
Mastering basic photography technique is also important: composition, lighting, exposure.
Composition is the most important, since this is the one that (almost) cannot be manipulated by software. You should master photo composition by practice, practice and practice.
Try to take photo of one object/spot from many angles or point of view, to get the sense of composition.
Never worry about the camera, because travel photography is never about the camera. Whether you use pocket camera, smartphone camera, or sophisticated DSLR camera, all of that can make a good travel photos.
But whatever camera you use, you have to know how to use it very well. Better understand all camera features, so you can maximize it to get the excellent travel photos.
Making travel photography is a fun things to do. But please remember that there are some objects or moments you should avoid. For example, don’t take photo if it disturbing someone’s privacy. Or if you find interesting objects but it related to military or politics, please ask permission before taking photo.
Last but not least, don’t take photo if it threaten your or your object’s safety (i.e. taking photo in the edge of a cliff). Travel photography is fun, of course, but safety also important.
First of all, travel photography is all about moments. Making a beautiful travel photos mean catching the right moments, i.e. right person, right time, right situation, or combination of them.
But how do you know when you meet the right moments? It depends on your judgement.
To find the right moments, you have to wait patiently and be considerate. Pick point of interest, and wait for the right person, right time, or right situation to come.
Practice make perfect, so taking more photos means practicing your judgement to find the right moments.
Mastering basic photography technique is also important: composition, lighting, exposure.
Composition is the most important, since this is the one that (almost) cannot be manipulated by software. You should master photo composition by practice, practice and practice.
Try to take photo of one object/spot from many angles or point of view, to get the sense of composition.
Never worry about the camera, because travel photography is never about the camera. Whether you use pocket camera, smartphone camera, or sophisticated DSLR camera, all of that can make a good travel photos.
But whatever camera you use, you have to know how to use it very well. Better understand all camera features, so you can maximize it to get the excellent travel photos.
Making travel photography is a fun things to do. But please remember that there are some objects or moments you should avoid. For example, don’t take photo if it disturbing someone’s privacy. Or if you find interesting objects but it related to military or politics, please ask permission before taking photo.
Last but not least, don’t take photo if it threaten your or your object’s safety (i.e. taking photo in the edge of a cliff). Travel photography is fun, of course, but safety also important.
Thursday, June 14, 2018
[Travel Writing Mash-Up] Gili Keadilan di Bali dan Lombok
Dalam bahasa Bali dan Lombok, “gili” berarti pulau kecil, dan di antara gili-gili yang ada, gili yang paling terkenal adalah Gili Trawangan. Namun ternyata yang disebut “gili” tidak melulu pulau-pulau kecil yang berada di tengah laut. Baik Bali maupun Lombok memiliki gili yang terletak di tengah pulau, dan bisa dikatakan keduanya berfungsi sebagai “Gili Keadilan”.
Taman Gili Kerta Gosa
Terletak di Kota Semarapura, 40 km di sisi timur Kota Denpasar, Taman Gili Kerta Gosa semula merupakan bagian dari Kompleks Keraton Semarapura atau keraton Kerajaan Klungkung. Dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe, saat ini Kompleks Keraton Semarapura nyaris tak bersisa akibat dihancurkan saat perang puputan Klungkung tahun 1908, hanya menyisakan Taman Gili Kerta Gosa dan Pemedal Agung (Gapura Keraton Semarapura).
Taman Gili Kerta Gosa terdiri dari dua bangunan utama, yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang. Kedua bangunan tersebut memiliki ciri arsitektur tradisional Bali yang sangat kental. Keunikan dari kedua bangunan ini adalah di langit-langitnya yang dihiasi lukisan tradisional Bali gaya Kamasan. Semula lukisan ini terbuat dari kain dan parba. Pada tahun 1930, langit-langit ini diganti dengan bahan yang lebih awet, kemudian lukisan tersebut direstorasi sesuai gambar aslinya. Restorasi yang dilakukan para seniman lukis Kamasan tersebut baru selesai pada tahun 1960.
Bale Kerta Gosa yang terletak di sudut kompleks berfungsi sebagai tempat pengadilan tradisional yang dipimpin oleh raja sebagai hakim tertinggi. Fungsi ini sangat terkait dengan kisah yang ditampilkan pada lukisan di langit-langit bangunan, yaitu kisah Tantri Kamandaka serta hukuman karma phala (akibat dari baik-buruknya perbuatan manusia). Ketika kerajaan Klungkung ditaklukan oleh Belanda, Kerta Gosa masih digunakan sebagai balai pengadilan adat. Saat ini di dalam bangunan tersebut dapat dilihat replika kursi dan meja dari kayu berukir yang digunakan untuk pengadilan adat tradisional di masa lalu. Balai Kerta Gosa juga menyimpan jejak hubungan kerajaan Bali dengan dunia internasional di masa lampau, dengan adanya patung orang Portugis, Belanda, dan Cina. Inilah bukti bahwa Kerajaan Klungkung telah menjalin kerjasama dengan bangsa-bangsa tersebut sejak masa lalu, jauh sebelum Bali dikuasai oleh pemerintah kolonial Belanda.
Sedangkan Bale Kambang merupakan bangunan pendopo yang terletak di Taman Gili atau pulau diatas kolam teratai. Bale ini berfungsi sebagai tempat pertemuan, jamuan makan, atau tempat upacara keagamaan. Lukisan-lukisan yang terdapat di langit-langit Bale Kambang serupa dengan lukisan di atas Bale Kerta Gosa, namun temanya lebih kepada tata cara kehidupan masyarakat Bali, tata cara upacara, serta kisah Sutasoma yang melawan Purusadha. Di sepanjang dinding jembatan menuju Bale Kambang terdapat patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh dari kisah pada lukisan di langit-langit.
Antara Bale Kambang dengan Museum Semarajaya terdapat Gapura Pemedalan Agung yang merupakan sisa gapura Keraton Semarapura. Semula gapura ini merupakan pintu gerbang masuk ke Jeroan Puri atau tempat tinggal raja dan keluarganya. Walau hanya berupa pintu gerbang, Pemedalan Agung tersebut disucikan sehingga hanya mereka yang akan beribadah yang bisa memasuki area dekat gerbang tersebut.
Taman Mayura
Dari Klungkung kita menyeberang Selat Lombok menuju Taman Mayura di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Kompleks Taman Mayura pertama kali dibangun oleh Raja Anak Agung Made Karangasem pada tahun 1744, ketika kerajaan Karangasem menguasai sebagian Lombok Barat. Tempat ini diperuntukkan sebagai Istana Musim Hujan dengan nama Taman Istana Kelepug, di mana nama “Kelepug” berasal dari bunyi air yang mengalir dan jatuh di kolam istana.
Tahun 1866, atas perintah Raja Anak Agung Ngurah Karangasem, taman ini direnovasi, dan berganti nama menjadi Taman Mayura. Nama “Mayura” berasal dari kata Mayora, yang dalam bahasa Sansekerta berarti burung merak. Burung merak ini didatangkan dari Makassar untuk mengusir ular berbisa, yang pada saat itu berkeliaran di sekitar taman dan mengganggu aktivitas umat dalam beribadah.
Primadona dari Taman Mayura adalah Bale Kambang yang terletak di atas pulau kecil (gili) di atas kolam. Bale Kambang ini dikenal dengan nama Rat Kerte, yang berasal dari kata Raad Kerta (Raad Van Kerta), yaitu nama lembaga hukum adat Hindu. Bale Kambang ini dulu berfungsi sebagai tempat musyawarah atau ruang sidang pengadilan milik istana kerajaan Karangasem di Lombok.
Untuk memasuki Raad Kerta pengunjung harus melalui sebuah gerbang indah yang dikawal sepasang dwarapala. Gerbang ini merupakan simbolisasi hal-hal yang harus dilakukan sebelum memasuki Raad Kerta dan mencapai kesepakatan yang adil. Pintu gerbang dengan hiasan berwarna emas merupakan lambang hati yang bisa membedakan antara baik dan buruk. Di sisi atas terdapat sepasang piring keramik Delft yang melambangkan mata sebagai pintu pertama masuknya pengaruh. Bagian atas gerbang berbentuk seperti mahkota yang melambangkan akal pikiran manusia untuk memilih antara baik dan buruk. Sedangkan daun pintu berwarna biru merupakan lambang keimanan sebagai pertahanan terakhir untuk menyingkirkan segala keburukan sebelum memasuki Raad Kerta.
Walaupun pendopo di Raad Kerta dan di Bale Kambang Kerta Gosa sama-sama memiliki arsitektur gaya Bali, namun bangunan ini tidak memiliki ornamen seindah Bale Kambang di Kerta Gosa. Jika Bale Kambang Kerta Gosa dikelilingi patung para dewa, maka Raad Kerta juga dikelilingi beberapa candi kecil dan beberapa patung. Candi-candi kecil melambangkan umat Hindu, sedangkan patung-patung orang melambangkan para penyebar agama Islam yang masuk ke Lombok, yaitu pedagang dari Sulawesi, Jawa dan Sumatera. Sedangkan patung-patung binatang yang ada di sekitar pendopo juga memiliki beberapa makna, seperti patung kuda yang bermakna pengendalian nafsu, serta patung singa yang bermakna sifat manusia jika tidak bisa mengendalikan hawa nafsu.
Jika Taman Gili Kerta Gosa dilengkapi dengan Pamedalan Agung yang berfungsi sebagai tempat pemujaan, Taman Mayura dilengkapi 2 buah pura. Pura pertama adalah Pura Kelepug yang digunakan untuk raja Mataram Karangasem dan keluarganya. Pura ini dibangun bersamaan dengan pembangunan Taman Kelepug. Yang unik, pura ini memiliki pancuran berbentuk kepala naga, yang melambangkan ular-ular berbisa yang dulu pernah banyak terdapat di tempat ini. Sedangkan pura yang kedua adalah Pura Jagatnata, yang merupakan pura pusat agama Hindu di Lombok, dan digunakan untuk beribadah kaum Brahmana. Di dalam Pura Jagatnatha terdapat 3 pelinggih yang melambangkan 3 gunung yang dikeramatkan umat Hindu: Gunung Semeru di Jawa, mengingatkan bahwa agama Hindu berasal dari Majapahit, Gunung Agung di Bali, dan Gunung Rinjani.
Taman Gili Kerta Gosa
Terletak di Kota Semarapura, 40 km di sisi timur Kota Denpasar, Taman Gili Kerta Gosa semula merupakan bagian dari Kompleks Keraton Semarapura atau keraton Kerajaan Klungkung. Dibangun pada tahun 1686 oleh raja pertama Kerajaan Klungkung Ida I Dewa Agung Jambe, saat ini Kompleks Keraton Semarapura nyaris tak bersisa akibat dihancurkan saat perang puputan Klungkung tahun 1908, hanya menyisakan Taman Gili Kerta Gosa dan Pemedal Agung (Gapura Keraton Semarapura).
| Lukisan Kamasan di langit-langit bangunan |
| Kursi untuk pengadilan adat |
| Bale Kambang |
| Pamedalan Agung |
Taman Mayura
Dari Klungkung kita menyeberang Selat Lombok menuju Taman Mayura di Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram. Kompleks Taman Mayura pertama kali dibangun oleh Raja Anak Agung Made Karangasem pada tahun 1744, ketika kerajaan Karangasem menguasai sebagian Lombok Barat. Tempat ini diperuntukkan sebagai Istana Musim Hujan dengan nama Taman Istana Kelepug, di mana nama “Kelepug” berasal dari bunyi air yang mengalir dan jatuh di kolam istana.
| Pura Kelepug |
| Raad Kerta |
| Gerbang Biru untuk masuk ke Raad Kerta |
| Patung Penyebar Agama Islam |
| Patung Kuda yang melambangkan pengendalian nafsu |
Label:
bali,
cakranegara,
gili,
karangasem,
kerta gosa,
kerthagosa,
klungkung,
lombok,
mash-up,
mataram,
taman mayura,
travel writing
Sunday, June 03, 2018
[Travel Writing Mash-Up] The Sleeping Buddha Statue
The Biggest Sleeping Buddha in The World
Dalam agama Buddha, rupang atau patung digunakan sebagai simbol yangmewakili sosok Sang Buddha sebagai teladan hidup. Setiap rupang memiliki makna yang berbeda, sesuai dengan karakter kebuddhaan yang disimbolkan. Salah satu bentuk rupang yang paling dikenal adalah Sleeping Buddha, atau rupang Buddha Parinibbana. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha sedang berbaring di bawah pohon Sala, sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia terletak di Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan, atau kita kenal sebagai Wat Pho. Vihara ini merupakan vihara tertua dan terbesar di Bangkok. Wat Pho dibangun pada abad ke-16, di masa kerajaan Ayutthaya. Dana untuk membangun Wat Pho berasal dari donasi orang-orang Tiongkok, sehingga tak heran jika di Wat Pho terlihat patung-patung dan ornamen bangunan dengan ciri arsitektur Tiongkok.
Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia. Sedemikan besarnya, sangat sulit untuk memotret rupang secara utuh dalam satu frame. Rupang Sleeping Buddha ini dibuat dari batu bata yang dilapis kertas emas, dengan mata dan telapak kaki dihiasi ornamen 108 karakter Buddha yang terbuat dari mother of pearl (bagian dalam tiram/remis yang memproduksi mutiara). Selain menjadi rumah bagi rupang Sleeping Buddha, Wat Pho juga menyimpan tidak kurang dari 394 arca Buddha yang berasal dari candi-candi yang hancur atau ditinggalkan selama perang di luar Kota Bangkok.
The Biggest Sleeping Buddha in Indonesia
Jika belum berkesempatan ke Bangkok untuk melihat rupang Sleeping Buddha di Wat Pho, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia di Mahavihara Majapahit, Trowulan. Mahavihara Majapahit didirikan pada tahun 1985 oleh Banthe Viriyanadi Mahathera, biksu asal Mojokerto.
Rupang Sleeping Buddha berwarna emas di Mahavihara Majapahit memiliki ukuran panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia, dan terbesar ketiga di dunia setelah rupang Sleeping Buddha di Thailand dan Nepal. Rupang Sleeping Buddha ini diletakkan tempat terbuka, di atas landasan berhias relief kehidupan Buddha Gautama, hukum karmaphala dan hukum tumimbal lahir. Landasan ini dikelilingi sebuah kolam yang indah, dengan latar belakang berupa dinding batu buatan yang menggambarkan suasana pegunungan.
Keunikan rupang ini dibandingkan rupang Sleeping Buddha di tempat-tempat lain adalah rupang ini dijaga oleh sepasang patung Dwarapala, dengan bentuk khas Dwarapala di Jawa. Dwarapala adalah patung penjaga gerbang, yang dipasang untuk melindungi tempat suci atau tempat yang dianggap keramat.
Sleeping Buddha Under Cannonball Tree
Indonesia ternyata tidak hanya memiliki satu rupang Sleeping Buddha. Jika Anda berada di sekitar Semarang, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha yang berada di kompleks Vihara Buddhagaya Watugong. Vihara yang didirikan pada tahun 1955 ini merupakan vihara pertama yang didirikan di Indonesia sejak kehancuran kerajaan Majapahit yang bersamaan dengan lenyapnya umat Buddha di Nusantara. Keunikan dari vihara ini adalah adanya bangunan Pagoda Avalokitesvara yang kental dengan nuansa budaya Tiongkok, serta Ruang Dhammasala yang memiliki altar dengan rupang Sang Buddha bergaya India.
Namun rupang Sleeping Buddha justru terletak di luar bangunan, tepatnya di sisi timur bangunan Pagoda, dan terletak agak ke bawah. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha dalam posisi berbaring dengan mengenakan jubah warna coklat. Penggambaran ini sangat bersahaja jika dibandingkan rupang di Wat Pho atau di Mahavihara Majapahit. Rupang Sleeping Buddha ini digambarkan sedang tidur di bawah pohon sala (Couroupita guianensis atau cannonball tree), sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh Pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Kompleks Vihara Buddhagaya Watugong sangat mudah dikenali dengan adanya Pagoda Avalokitesvara setinggi 45 meter sebagai landmark kompleks tersebut. Pagoda Avalokitesvara dibangun untuk menghormati Boddhisatwa Avalokitesvara (Buddha Welas Asih), yang dalam agama Buddha gaya Tiongkok digambarkan sebagai perwujudan Dewi Kwan Im. Di atas altar pagoda terdapat rupang Boddhisatwa Avalokitesvara yang terbuat dari logam kuning berukuran tinggi 5 meter. Rupang ini digambarkan dengan posisi telapak tangan kanan terbuka dan menghadap ke depan, menggambarkan Sang Buddha sedang memberi pelajaran atau restu keselamatan bagi umat manusia.
Sebelum memasuki area pagoda, terdapat pohon boddhi (Ficus religiosa) yang menjadi tempat Sang Buddha Gautama mendapat Pencerahan Sempurna untuk pertama kali. Pohon ini adalah salah satu dari 2 pohon yang dibawa pada tahun 1934 oleh Bhante Narada Mahathera, yang semula ditanam di Borobudur. Tahun 1955, salah satu pohon dipindahkan ke halaman Vihara Watugong. Di bawah pohon boddhi ini terdapat patung Buddha bersemadi dengan posisi wara mudra, atau memberikan anugrah.
Jangan lupa untuk mengunjungi Bangunan Dhammasala yang merupakan bangunan induk kompleks vihara. Di lantai atas bangunan terdapat Ruang Dhammasala yang menjadi tempat ibadah umat Buddha. Di altar yang terdapat dalam Ruang Dhammasala terdapat rupang Sang Buddha dengan posisi duduk dan posisi tangan “dharma cakra pravartana mudra” (memutar roda dharma). Posisi rupang seperti ini sama seperti patung Dhyani Buddha Vairocana yang terdapat di Candi Mendut.
Sleeping Buddha Near Borobudur
Apabila berkesempatan mengunjungi Borobudur, Anda bisa singgah di Vihara Buddha Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha. Vihara ini terletak bersebelahan dengan Candi Mendut, dan didirikan di atas tanah yang semula ditempati oleh biara Katholik. Ketika tanah ini dibagi-bagikan kepada rakyat pada tahun 1950-an, sebuah yayasan Buddha membeli tanah ini dan membangun vihara.
Rupang Sleeping Buddha di vihara ini terletak di halaman depan vihara, dinaungi sebuah pendopo kecil. Rupang ini terbuat dari marmer berwarna gading dengan detail ornamen berwarna emas. Rupang Sleeping Buddha yang seolah berbaring di atas hamparan bunga teratai ini diletakkan di atas landasan batu yang dihiasi ornamen berbentuk bunga, dan di bagian tengah landasan terdapat ornamen kura-kura.
Bersebelahan dengan Rupang Sleeping Buddha di vihara ini, terdapat rupang Buddha Amithaba yang tengah dinaungi ular kobra. Rupang ini merupakan simbol peristiwa ketika Sang Buddha tengah bermeditasi di bawah pohon Mucalinda. Tiba-tiba langit mendung, halilitan menyambar-nyambar, dan turun hujan lebat. Namun Sang Buddha tak beringsut dari tempatnya, beliau tetap khusuk bermeditasi. Tiba-tiba datang seekor ular kobra raksasa dan melilitkan badannya tujuh kali memutari Sang Buddha, kemudian memayungi Sang Buddha dengan kepalanya agar tidak kehujanan.
Dalam agama Buddha, rupang atau patung digunakan sebagai simbol yangmewakili sosok Sang Buddha sebagai teladan hidup. Setiap rupang memiliki makna yang berbeda, sesuai dengan karakter kebuddhaan yang disimbolkan. Salah satu bentuk rupang yang paling dikenal adalah Sleeping Buddha, atau rupang Buddha Parinibbana. Rupang ini menggambarkan Sang Buddha sedang berbaring di bawah pohon Sala, sebagai momen terakhir Sang Buddha memperoleh pencerahan sebelum menghembuskan nafas terakhir.
| Patung Bernuansa Tiongkok di Wat Pho |
Tampak Kepala dan Tampak Kaki Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho
Rupang Sleeping Buddha di Wat Pho memiliki panjang 46 meter dan tinggi 15 meter, sehingga merupakan rupang Sleeping Buddha terbesar di dunia. Sedemikan besarnya, sangat sulit untuk memotret rupang secara utuh dalam satu frame. Rupang Sleeping Buddha ini dibuat dari batu bata yang dilapis kertas emas, dengan mata dan telapak kaki dihiasi ornamen 108 karakter Buddha yang terbuat dari mother of pearl (bagian dalam tiram/remis yang memproduksi mutiara). Selain menjadi rumah bagi rupang Sleeping Buddha, Wat Pho juga menyimpan tidak kurang dari 394 arca Buddha yang berasal dari candi-candi yang hancur atau ditinggalkan selama perang di luar Kota Bangkok.
| Sebagian Deretan Arca Buddha di Wat Pho |
The Biggest Sleeping Buddha in Indonesia
Jika belum berkesempatan ke Bangkok untuk melihat rupang Sleeping Buddha di Wat Pho, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha terbesar di Indonesia di Mahavihara Majapahit, Trowulan. Mahavihara Majapahit didirikan pada tahun 1985 oleh Banthe Viriyanadi Mahathera, biksu asal Mojokerto.
| Rupang Sleeping Buddha di Mahavihara Majapahit |
Tampak Kepala dan Tampak Kaki Rupang Sleeping Buddha di Mahavihara Majapahit
| Salah Satu Dwarapala Penjaga Rupang Sleeping Buddha |
Sleeping Buddha Under Cannonball Tree
Indonesia ternyata tidak hanya memiliki satu rupang Sleeping Buddha. Jika Anda berada di sekitar Semarang, Anda bisa mengunjungi rupang Sleeping Buddha yang berada di kompleks Vihara Buddhagaya Watugong. Vihara yang didirikan pada tahun 1955 ini merupakan vihara pertama yang didirikan di Indonesia sejak kehancuran kerajaan Majapahit yang bersamaan dengan lenyapnya umat Buddha di Nusantara. Keunikan dari vihara ini adalah adanya bangunan Pagoda Avalokitesvara yang kental dengan nuansa budaya Tiongkok, serta Ruang Dhammasala yang memiliki altar dengan rupang Sang Buddha bergaya India.
| Rupang Sleeping Buddha di Pagoda Avalokitesvara Watugong |
| Pagoda Avalokitesvara di Kala Senja |
| Rupang Buddha di bawah Pohon Boddhi |
| Rupang Sang Buddha di Ruang Dhammasala |
Sleeping Buddha Near Borobudur
Apabila berkesempatan mengunjungi Borobudur, Anda bisa singgah di Vihara Buddha Mendut untuk melihat rupang Sleeping Buddha. Vihara ini terletak bersebelahan dengan Candi Mendut, dan didirikan di atas tanah yang semula ditempati oleh biara Katholik. Ketika tanah ini dibagi-bagikan kepada rakyat pada tahun 1950-an, sebuah yayasan Buddha membeli tanah ini dan membangun vihara.
| Rupang Sleeping Buddha di Vihara Mendut |
| Pendopo yang Menaungi Rupang Sleeping Buddha |
| Rupang Sang Buddha Dinaungi Ular Kobra |
Label:
avalokitesvara,
bangkok,
borobudur,
buddha,
mendut. vihara,
pagoda,
semarang,
sleeping buddha,
travel writing,
trowulan,
wat pho,
watugong
Thursday, May 31, 2018
[Travel Writing Mash-Up] 4-Faced Buddha Erawan vs 4-Faced Buddha Kenjeran
Four-Faced Buddha Erawan
Four-Faced Buddha di Kuil Erawan, atau nama lengkapnya San Thao Maha Phrom (Shrine of Lord Brahma The Great), merupakan arca Dewa Brahma yang terletak di pusat Kota Bangkok. Kuil ini terletak di halaman Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, tidak jauh dari stasiun Bangkok Skytrain Chitlom, dan dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan seperti Gaysorn, Central World, dan Amarin Plaza.
Dewa Brahma adalah dewa agama Hindu, dan arca Phra Phrom mewujudkan Dewa Brahma memiliki empat wajah yang menghadap ke empat penjuru mata angin. Hal ini yang membuat arca ini secara salah kaprah sering disebut sebagai Four-Faced Buddha. Keempat wajah Phra Phrom melambangkan kekuatan Brahma, serta melambangkan 4 sifat baik, yaitu welas asih, murah hati, adil, dan meditasi. Phra Phrom digambarkan memiliki 8 tangan, yang melambangkan kehadiran dan kekuatan. Dari 8 tangan tersebut, 4 tangan memegang benda suci, sedangkan 4 tangan lainnya memegang senjata untuk mengusir kebathilan.
Kuil Erawan sendiri didirikan bersamaan dengan pembangunan Hotel Erawan pada tahun 1956, di lahan yang saat ini ditempati Hotel Grand Hyatt Erawan. Saat Hotel Erawan didirikan, banyak hambatan dalam pembangunannya, sehingga pemerintah Thailand sebagai pemiliknya merasa perlu untuk membangun sebuah kuil untuk menetralisir karma buruk tersebut. Adapun patung Phra Phrom merupakan hasil rancangan Departemen Seni Rupa, dan didirikan pada tanggal 9 November 1956. Percaya atau tidak, setelah pendirian kuil ini, pembangunan Hotel Erawan berjalan lancar. Tahun 1987, hotel ini diruntuhkan, dan di atas lahannya digunakan untuk Hotel Grand Hyatt Erawan.
Dengan lokasi yang berada di sudut persimpangan besar dan merupakan kuil terbuka, Kuil Erawan banyak dikunjungi orang, baik mereka yang akan beribadah ataupun wisatawan yang hanya melihat-lihat. Di trotoar sekitar Kuil Erawan banyak deretan penjual bunga dan perlengkapan untuk ibadah, sehingga kuil ini terlihat hidup dan penuh warna. Para penziarah mempersembahkan karangan bunga marigold, dupa, dan lilin, serta memanjatkan doa meminta perlindungan dan agar segala hambatan disingkirkan. Sesekali terdapat pertunjukan dari para penari tradisional Thailand yang melambangkan persembahan doa kepada Dewa Brahma dari para penziarah, atau sebagai perwujudan rasa syukur setelah doa di kuil tersebut dikabulkan.
Selain Kuil Erawan, dalam radius 500 meter dari kuil tersebut terdapat beberapa kuil Hindu lainnya, yaitu Phra Trimurati (Trimurti) dan Phra Phi Khanet (Ganesha) yang terletak di depan Central World, Phra Mae Umadhevi (Uma) yang terletak di depan Big-C Supercenter, serta Thao Amarindradhiraja (Indra), dan Phra Narai Song Suban (Narayana di atas Garuda) di depan Amarin Plaza.
Four-Faced Buddha Kenjeran
Namun untuk melihat arca Four-Faced Buddha, Anda tak perlu jauh-jauh ke Bangkok. Di Kawasan Wisata Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, terdapat arca Four-Faced Buddha yang merupakan tiruan Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca ini diresmikan pada tanggal 9 November 2004, dan pembangunannya menghabiskan dana kurang lebih 4 miliar Rupiah. Patung ini berlapis emas, dan untuk menyempurnakan lapisan emasnya digunakan kertas kimpo atau kertas emas dari Thailand.
Ukuran arca Four-Faced Buddha di Kenjeran jauh lebih besar dibandingkan arca Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca dengan panjang sisi alas 9 meter dan tinggi 9 meter ini diletakkan di dalam bangunan yang disangga 4 pilar berwarna hijau emas, dengan panjang sisi alas 15 meter dan total tinggi 36 meter. Ukuran-ukuran ini banyak mengandung angka 9, karena angka 9 memiliki makna khusus sebagai angka tunggal tertinggi, sekaligus merupakan lambang kesempurnaan.
Karena ukurannya yang besar, maka kita bisa melihat lebih jelas detail dari arca tersebut. Sama seperti Phra Phrom, arca ini memiliki 8 tangan, dan masing-masing tangan memegang 1 benda. Salah satu dari tangan kanan memegang dada, sedangkan di 3 tangan kanan yang lain memegang cupu berisi air suci, tongkat kebesaran dan cakram (sejenis senjata berbentuk piringan). Adapun tangan kiri patung terlihat sedang memegang tasbih, teratai, kitab suci dan kerang. Air suci merupakan perlambang energi penciptaan semesta, sedangkan teratai merupakan lambang kekuatan yang memunculkan alam semesta. Kedua hal ini merupakan perwujudan sifat Brahma sebagai dewa pencipta dalam agama Hindu.
Berbeda dengan kuil Erawan yang ramai, arca Four-Faced Buddha tidak banyak dikunjungi orang. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung memiliki maksud untuk beribadah. Mereka membakar hio dan berdoa di depan arca tersebut, dan sebagian ada yang berdoa sambil mengelilingi patung searah jarum jam. Selain beribadah di depan arca, penziarah juga bisa menggunakan Ruang Meditasi.
Four-Faced Buddha di Kuil Erawan, atau nama lengkapnya San Thao Maha Phrom (Shrine of Lord Brahma The Great), merupakan arca Dewa Brahma yang terletak di pusat Kota Bangkok. Kuil ini terletak di halaman Grand Hyatt Erawan Hotel, di daerah Pathum Wan, tidak jauh dari stasiun Bangkok Skytrain Chitlom, dan dikelilingi beberapa pusat perbelanjaan seperti Gaysorn, Central World, dan Amarin Plaza.
| San Thao Maha Phrom |
| Penjual Perlengkapan Ibadah di Sekitar Kuil Erawan |
| Para Penari Tradisional Thailand |
| Phra Phi Khanet di depan Central World |
Four-Faced Buddha Kenjeran
Namun untuk melihat arca Four-Faced Buddha, Anda tak perlu jauh-jauh ke Bangkok. Di Kawasan Wisata Pantai Ria Kenjeran, Surabaya, terdapat arca Four-Faced Buddha yang merupakan tiruan Phra Phrom di Kuil Erawan. Arca ini diresmikan pada tanggal 9 November 2004, dan pembangunannya menghabiskan dana kurang lebih 4 miliar Rupiah. Patung ini berlapis emas, dan untuk menyempurnakan lapisan emasnya digunakan kertas kimpo atau kertas emas dari Thailand.
| Four Faced Buddha di Pantai Ria Kenjeran |
| Detail dari Four-Faced Buddha |
Berbeda dengan kuil Erawan yang ramai, arca Four-Faced Buddha tidak banyak dikunjungi orang. Kebanyakan dari mereka yang berkunjung memiliki maksud untuk beribadah. Mereka membakar hio dan berdoa di depan arca tersebut, dan sebagian ada yang berdoa sambil mengelilingi patung searah jarum jam. Selain beribadah di depan arca, penziarah juga bisa menggunakan Ruang Meditasi.
| Arca Ganesha di Pantai Ria Kenjeran |
Jika di sekitar Kuil Erawan terdapat beberapa kuil Hindu, Four-Faced Buddha di Kenjeran hanya “ditemani” oleh arca Ganesha. Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan dalam mitologi Hindu, yang dengan mudah dikenali karena berbentuk manusia berkepala gajah dengan perut buncit. Arca Ganesha ini diletakkan di dalam sebuah pendopo kecil yang terletak di sisi utara arca Four-Faced Buddha.
Monday, May 28, 2018
[Travel Writing Mash-Up] Berliner Mauer vs Tembok Berlin
Situs Berliner Mauer, Sisa-Sisa Kejayaan Perang Dingin Eropa
Tembok Berlin (Berliner Mauer) adalah obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi jika kita singgah di ibukota negara Jerman. Namun hari ini kita tidak akan menemukan bangunan tembok besar yang semula membelah Kota Berlin secara fisik dan ideologi tersebut. Yang bisa kita temukan hanyalah situs tapak tembok, sisa-sisa tembok, dan beberapa bekas pos perbatasan di sepanjang tembok.
Tembok Berlin dibangun oleh pihak Jerman Timur mulai 13 Agustus 1961, membentang dari barat ke timur, membentuk wilayah enklave di sisi barat Berlin. Bukan sekadar tembok beton, tembok ini juga dilengkapi menara pengawas, parit berisi ranjau, dan perangkat pertahanan lainnya. Keberadaan tembok ini seolah menjadi saksi bisu perang dingin antara dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Sovyet.
Dengan adanya perubahan politik yang radikal di kawasan Blok Timur, serta berkurangnya pengaruh Uni Sovyet, pada tanggal 9 November 1989 pemerintah Jerman Timur mengumumkan bahwa rakyat Jerman Timur boleh pergi ke Jerman Barat dan Berlin Barat. Mereka serta merta memanjat dan menyeberangi Tembok Berlin untuk merayakan atmosfer kebebasan. Tembok Berlin secara resmi mulai dibongkar sejak 13 Juni 1990, hingga terbongkar seluruhnya di tahun 1992. Pembongkaran Tembok Berlin ini juga menandai reunifikasi Jerman yang diresmikan pada tanggal 3 Oktober 1990.
Antara tahun 1947 sampai dengan 1991, terdapat 9 pintu perbatasan yang tersebar di antara Berlin Timur hingga Berlin Barat, namun yang paling terkenal adalah Checkpoint Charlie, yang terletak di pojokan Friedrichstrasse dan Zimmerstrasse. Saat itu Checkpoint Charlie secara terbatas hanya digunakan untuk lalu lintas orang asing dan tentara Sekutu. Hari ini, lokasi yang semula merupakan Checkpoint Charlie dijadikan semacam monumen Perang Dingin yang membelah Berlin dan Jerman. Di tempat yang saat ini merupakan salah satu daya tarik wisata Kota Berlin, masih tersisa pos penjagaan, dan di dekatnya terdapat Museum Sekutu serta eksibisi terkait Tembok Berlin.
Menikmati Sunset di Tembok Berlin
Namun tahukah jika Anda bisa menikmati sunset dari Tembok Berlin? Tentu saja bukan dari Checkpoint Charlie yang sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi, melainkan dari Pantai Dofior di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.
Pantai Dofior adalah pantai sempit yang merupakan pantai Kota Sorong. Pantai ini lebih dikenal sebagai Pantai “Tembok Berlin”, karena terdapat tembok setinggi 1,5 meter dengan lebar 1 meter yang membentang di sepanjang Pantai Dofior, dengan panjang tak kurang dari 3 km. Tembok pembatas antara jalan dan pantai ini berfungsi sebagai tanggul sekaligus pemecah ombak.
Posisi pantai menghadap ke arah barat, sehingga sangat ideal untuk melihat panorama sunset.
Di sore hari, banyak penduduk Kota Sorong yang duduk-duduk di tembok pantai ini untuk melihat panorama matahari terbenam, serta menikmati sejuknya hembusan angin laut. Jika air sedang tenang, banyak di antara pengunjung yang berenang di pantai ini. Menjelang malam, para penggemar wisata kuliner bisa menikmati kudapan ringan atau bersantap malam di warung-warung tenda yang berdiri di sepanjang Pantai Tembok Berlin.
Tak hanya pemandangan matahari terbenam, dari pantai ini anda bisa melihat pemandangan kapal yang akan berlabuh atau baru saja bertolak dari pelabuhan Sorong, serta pulau-pulau kecil yang terletak di depan Kota Sorong, seperti Pulau Doom dan Pulau Raam.
Tembok Berlin (Berliner Mauer) adalah obyek wisata sejarah yang wajib dikunjungi jika kita singgah di ibukota negara Jerman. Namun hari ini kita tidak akan menemukan bangunan tembok besar yang semula membelah Kota Berlin secara fisik dan ideologi tersebut. Yang bisa kita temukan hanyalah situs tapak tembok, sisa-sisa tembok, dan beberapa bekas pos perbatasan di sepanjang tembok.
| Sisa Tembok Berlin |
| Checkpoint Charlie |
Menikmati Sunset di Tembok Berlin
Namun tahukah jika Anda bisa menikmati sunset dari Tembok Berlin? Tentu saja bukan dari Checkpoint Charlie yang sudah dikelilingi bangunan-bangunan tinggi, melainkan dari Pantai Dofior di Kota Sorong, salah satu pintu gerbang provinsi Papua Barat.
| "Tembok Berlin" di Kota Sorong |
| Pantai Dofior dan "Tembok Berlin" |
| Panorama Sunset di Pantai Dofior |
Saturday, February 20, 2016
Kuliah Jurusan Apa? Teknik Kimia Aja!
Alhamdulillah, buku ini sudah terbit sejak November 2015...
Buku ini merupakan satu dari rangkaian
judul seri “Kuliah Jurusan Apa?” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Penulisan
buku ini berawal dari peluang yang ditawarkan Agensi Naskah Indscript Creative,
untuk menuliskan buku-buku tentang bagaimana kuliah di perguruan tinggi. Gayung
bersambut, sudah lama saya dan beberapa teman punya ide menulis buku tentang
Teknik Kimia untuk orang awam. Dan buku ini pun didasari kegalauan saya, karena
masih banyak orang yang mengira Teknik Kimia itu hanya berkutat di bidang ilmu kimia
dan laboratorium. In fact, Chemical Engineering is much more fun and
interesting!
Kenapa di buku ini saya kembali
menggunakan nama asli saya? Yes, it’s still a matter of "Personal Branding".
Walaupun nama “Arini Tathagati” awalnya digunakan untuk branding buku-buku
craft dan traveling, tapi Teknik Kimia is always be part of my life, jauh
sebelum saya tergila-gila dengan handicraft, dan jauh sebelum saya mendalami genre
travel writing. Dengan memakai nama asli, saya tidak hanya memperkenalkan
kepada publik mengenai latar belakang pendidikan saya. Lebih dari itu, branding
saya akan diperkuat oleh para civitas akademika Teknik Kimia, termasuk
bapak-ibu dosen, para alumni, dan rekan-rekan yang dulu sama-sama kuliah
bersama saya.
Label:
book,
buku,
chemical engineering,
gramedia,
IIDN,
teknik kimia
Friday, August 15, 2014
Asyik, Jelajah Nusantara!
Alhamdulillah, antologi kedua saya akhirnya terbit ...
Masih dari grup Diva Press, dan masih berhubungan dengan passion saya akan traveling, buku antologi Asyik Jelajah Nusantara yang ditulis oleh para penulis dari Komunitas Kampung Sastra ini sejatinya ditulis sebelum Love Journey #2, namun atas kebijakan dari Diva Press, Love Journey #2 ternyata diterbitkan terlebih dulu daripada buku ini. Mari kita lihat sinopsisnya.
Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan tempat-tempat eksotis. Hal inilah yang menyebabkan banyak wisatawan, baik dari manca maupun lokal, yang tertarik untuk mengunjunginya, walaupun sangat jauh dari tempat tinggal. Selain menawarkan keindahan pesona alam, ada juga tempat yang menyajikan kekayaan budaya atau sejarah masa lalu. Tidak banyak negara yang mempunyai potensi negara yang sedemikian elok. Hanya di negara kita, negara Indonesia.
Lalu, tempat-tempat wisata apa sajakah yang menawarkan banyak pesona itu? Baca saja buku ini! Di dalamnya, diberikan gambaran beberapa tempat wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari Gua Jepang dan Gua Belanda di Jawa Barat sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Semuanya disajikan secara lugas dalam penuturan beberapa penulis yang benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut.
Buku terbitan Diva Press ini dibandrol dengan harga Rp 50.000, dan sudah beredar di toko-toko buku sejak pertengahan tahun 2014. Segera dapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda!
Masih dari grup Diva Press, dan masih berhubungan dengan passion saya akan traveling, buku antologi Asyik Jelajah Nusantara yang ditulis oleh para penulis dari Komunitas Kampung Sastra ini sejatinya ditulis sebelum Love Journey #2, namun atas kebijakan dari Diva Press, Love Journey #2 ternyata diterbitkan terlebih dulu daripada buku ini. Mari kita lihat sinopsisnya.
Selain kekayaan alam, Indonesia juga kaya akan tempat-tempat eksotis. Hal inilah yang menyebabkan banyak wisatawan, baik dari manca maupun lokal, yang tertarik untuk mengunjunginya, walaupun sangat jauh dari tempat tinggal. Selain menawarkan keindahan pesona alam, ada juga tempat yang menyajikan kekayaan budaya atau sejarah masa lalu. Tidak banyak negara yang mempunyai potensi negara yang sedemikian elok. Hanya di negara kita, negara Indonesia.
Lalu, tempat-tempat wisata apa sajakah yang menawarkan banyak pesona itu? Baca saja buku ini! Di dalamnya, diberikan gambaran beberapa tempat wisata dari Sabang sampai Merauke, mulai dari Gua Jepang dan Gua Belanda di Jawa Barat sampai Kepulauan Raja Ampat di Papua. Semuanya disajikan secara lugas dalam penuturan beberapa penulis yang benar-benar pernah berkunjung ke tempat-tempat tersebut.
Buku terbitan Diva Press ini dibandrol dengan harga Rp 50.000, dan sudah beredar di toko-toko buku sejak pertengahan tahun 2014. Segera dapatkan di toko-toko buku terdekat di kota Anda!
Label:
asyik jelajah nusantara,
book,
buku,
diva press,
travel,
vacation
Wednesday, May 14, 2014
Step by Step Membuat SOP
Alhamdulillah, buku keempat saya terbit...
Penantian selama 6 bulan rupanya tak terlalu lama, namun sama seperti sebelumnya, terbitnya buku ini pun tanpa sepengetahuan penulis, saya baru tahu kalau buku ini sudah terbit gara-gara ada yang komplain karena salah cetak :(.
Awal dari buku ini juga tidak terduga. Berawal dari adanya permintaan penulisan buku tentang SOP di Agensi Naskah Indscript Creative, karena setelah sekian lama belum ada yang merespon, saya coba-coba mengirimkan proposal naskah, dan voila! Segera setelah outline disetujui, saya pun langsung menuliskan buku ini. Semula agak sulit untuk menuliskan bagaimana menyusun SOP secara gamblang agar mudah dimengerti dengan bahasa awam, karena saya terbiasa dengan sistem prosedur di korporat yang sudah sangat terstruktur (dan kadang-kadang menggunakan "bahasa dewa"). Namun akhirnya hambatan ini bisa terselesaikan, dan inilah hasilnya.
Lagi-lagi, mungkin banyak yang bertanya, kok saya tidak konsisten dengan "Personal Branding" saya sendiri sebagai travel writer dan penggemar handicraft, karena kali ini saya kembali menggunakan nama asli saya untuk menulis di buku manajemen. Betul sekali, saya tetap konsisten dengan branding saya sebagai penulis dan tukang jalan-jalan. Saya juga sempat terpikir barangkali saya perlu punya nama pena lain. Namun setelah saya renungkan kembali, membuat SOP adalah salah satu kompetensi inti saya di pekerjaan formal saya. Jadi kali ini, saya memutuskan untuk kembali menggunakan nama asli saya, agar pembaca teringat bahwa seorang Arini Tathagati yang hobby traveling dan handicraft itu memiliki kompetensi formal dalam pembuatan SOP.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Bang Rony Nugroho atas dukungan mereka sehingga buku ini bisa terwujud. Mudah-mudahan buku ini bisa memberikan setitik sumbangsih bagi dunia manajemen Indonesia, untuk meningkatkan kompetensi dari bangsa kita tercinta.
Tuesday, December 24, 2013
Love Journey #2 : Mengeja Seribu Wajah Indonesia
Buku ini berisi kumpulan kisah-kisah perjalanan para traveler di Indonesia. Berbeda dengan tulisan traveling yang umumnya menceritakan tentang keindahan sebuah tempat, buku ini justru mengupas sisi lain dari perjalanan tersebut. Ada suka, duka, perayaan, tragedi, kekayaan budaya, dan hal-hal lain yang terkadang luput dari perhatian kita selama melakukan perjalanan.
Tulisan dalam buku ini berasal dari peserta kompetisi yang digawangi Lalu Abdul Fatah dan Dee An, setelah mereka berdua menelurkan buku antologi Love Journey : Ada Cinta di Tiap Perjalanan. Melalui seleksi dan penilaian, terpilih 20 tulisan dan 3 yang mengisi buku ini, dan salah satunya adalah kisah perjalanan saya blusukan ke para pengrajin batik di Pekalongan. Bagaimana kisah lengkap lahirnya buku ini, Anda bisa mengikutinya dari blog Lalu Abdul Fatah berikut ini: http://lafatah.wordpress.com/2013/12/24/di-balik-mengeja-seribu-wajah-indonesia/.
Buku terbitan de Teens (imprint dari Diva Press) ini dibandrol dengan harga Rp 58.000, dan rencananya akan beredar di toko-toko buku pada awal tahun 2014. Nantikan kehadirannya di toko-toko buku terdekat di kota Anda!
Label:
#LiburanLokal,
batik,
book,
buku,
love journey #2,
travel writing 101,
vacation
Saturday, December 21, 2013
Bung Karno Sang Singa Podium (dari website Bpk Roso Daras)
Diambil dari website Bapak Roso Daras : http://rosodaras.wordpress.com/2013/12/12/bung-karno-sang-singa-podium/
Sungguh saya bersyukur sekaligus mengapresiasi langkah Rhien Soemohadiwidjojo yang telah menulis dan memplublikasikan buku: “Bung Karno Sang Singa Podium”. Syahdan, penulis yang bernama asli Arini Tathagati ini beberapa bulan lalu menghubungi saya, meminta tulisan untuk endorsement buku setebal 427 halaman itu.
Seperti biasa, saya merasa tersanjung disusul mongkog hati, besar rasa, untuk meluluskan permintaan Arini, sesibuk apa pun. Apalah arti kesibukan rutin, dibanding memenuhi permintaan seorang penulis yang telah bersusah payah menulis buku tentang Bung Besar.
Buku terbitan Second Hope ini sudah beredar di pasaran. Akan tetapi, terus terang, saya baru tahu setelah Arini berkirim email, mengabarkan ihwal telah beredarnya buku itu. Alhamdulillah, dia menanyakan alamat diiringi niatnya mengirim satu copy buku sebagai komplimen buat saya, tentu saja disertai bubuhan tanda tangan sang penulis. Terima kasih. Buku sudah saya terima.
Buku ini berisi 8 (delapan) bab. Bab 1 Siapa tak Kenal Bung Karno. Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Bab 3 Pidato Bung Karno Pra Proklamasi. Bab 4 Pidato Bung Karno di Masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (1945 – 1950). Bab 5 Pidato Bung Karno di Masa 1950 – 1958. Bab 6 Pidato Bung Karno di Masa Demokrasi Terpimpin. Bab 7 Pidato Bung Karno Setelah 1965. Bab 8 Kutipan-kutipan BungKarno.
Sekalipun judulnya Bung Karno Sang Singa Podium, tetapi Arini yang menggunakan nama penulis Rhien Soemohadiwidjojo itu melengkapinya dengan sejarah Bung Karno. Akan tetapi, ruh buku ini sejatinya tersaji di Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Tak heran jika penulis dan penerbit menyepakati bab ini sebagai judul besar buku.
Bab 2 ini diawali dengan sub bab tentang Bung Karno Sang Orator Ulung. Sub bab kedua, tentang tema pidatto-pidato Bung Karno. Sub bab ketiga mengupas rahasia pidato-pidato Bung Karno. Sub bab keempat tentang tanggapan para pendengar pidato-pidato Bung Karno. Sub bab kelima tentang pidato religius Bung Karno. Sub bab keenam tentang penerjemah pidato Bung Karno. Terakhir, sub bab ketujuh tentang peran para ajudan Bung Karno.
Seperti biasa, saya selalu risih jika melihat atau membaca penulisan Sukarno dengan “oe” (Soekarno). Sayangnya, saya menemukannya di buku ini. Tentang penulisan Sukarno dan Soekarno, saya pernah menulis secara khusus di blog ini, mengutip statemen Bung Karno kepada Cindy Adams. Intinya, dia yang memberlakukan ejaan yang disempurnakan, maka secara konsekuen dia pun mengubah penulisan namanya dari Soekarno menjadi Sukarno. Ihwal tanda tangannya yang menggunakan “oe” dia berdalih, sebagai hal yang berbeda. Tanda tangan yang sudah diguratkannya dengan “oe” sejak ia sekolah, tentu tidak mudah untuk diubah.
Terakhir, (ehm…) buku ini tetap menarik karena di halaman belakang ada endorsement dari pemilik blog ini…. (rosodaras)
Sungguh saya bersyukur sekaligus mengapresiasi langkah Rhien Soemohadiwidjojo yang telah menulis dan memplublikasikan buku: “Bung Karno Sang Singa Podium”. Syahdan, penulis yang bernama asli Arini Tathagati ini beberapa bulan lalu menghubungi saya, meminta tulisan untuk endorsement buku setebal 427 halaman itu.
Seperti biasa, saya merasa tersanjung disusul mongkog hati, besar rasa, untuk meluluskan permintaan Arini, sesibuk apa pun. Apalah arti kesibukan rutin, dibanding memenuhi permintaan seorang penulis yang telah bersusah payah menulis buku tentang Bung Besar.
Buku terbitan Second Hope ini sudah beredar di pasaran. Akan tetapi, terus terang, saya baru tahu setelah Arini berkirim email, mengabarkan ihwal telah beredarnya buku itu. Alhamdulillah, dia menanyakan alamat diiringi niatnya mengirim satu copy buku sebagai komplimen buat saya, tentu saja disertai bubuhan tanda tangan sang penulis. Terima kasih. Buku sudah saya terima.
Buku ini berisi 8 (delapan) bab. Bab 1 Siapa tak Kenal Bung Karno. Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Bab 3 Pidato Bung Karno Pra Proklamasi. Bab 4 Pidato Bung Karno di Masa Proklamasi dan Perang Kemerdekaan (1945 – 1950). Bab 5 Pidato Bung Karno di Masa 1950 – 1958. Bab 6 Pidato Bung Karno di Masa Demokrasi Terpimpin. Bab 7 Pidato Bung Karno Setelah 1965. Bab 8 Kutipan-kutipan BungKarno.
Sekalipun judulnya Bung Karno Sang Singa Podium, tetapi Arini yang menggunakan nama penulis Rhien Soemohadiwidjojo itu melengkapinya dengan sejarah Bung Karno. Akan tetapi, ruh buku ini sejatinya tersaji di Bab 2 Bung Karno Sang Singa Podium. Tak heran jika penulis dan penerbit menyepakati bab ini sebagai judul besar buku.
Bab 2 ini diawali dengan sub bab tentang Bung Karno Sang Orator Ulung. Sub bab kedua, tentang tema pidatto-pidato Bung Karno. Sub bab ketiga mengupas rahasia pidato-pidato Bung Karno. Sub bab keempat tentang tanggapan para pendengar pidato-pidato Bung Karno. Sub bab kelima tentang pidato religius Bung Karno. Sub bab keenam tentang penerjemah pidato Bung Karno. Terakhir, sub bab ketujuh tentang peran para ajudan Bung Karno.
Seperti biasa, saya selalu risih jika melihat atau membaca penulisan Sukarno dengan “oe” (Soekarno). Sayangnya, saya menemukannya di buku ini. Tentang penulisan Sukarno dan Soekarno, saya pernah menulis secara khusus di blog ini, mengutip statemen Bung Karno kepada Cindy Adams. Intinya, dia yang memberlakukan ejaan yang disempurnakan, maka secara konsekuen dia pun mengubah penulisan namanya dari Soekarno menjadi Sukarno. Ihwal tanda tangannya yang menggunakan “oe” dia berdalih, sebagai hal yang berbeda. Tanda tangan yang sudah diguratkannya dengan “oe” sejak ia sekolah, tentu tidak mudah untuk diubah.
Terakhir, (ehm…) buku ini tetap menarik karena di halaman belakang ada endorsement dari pemilik blog ini…. (rosodaras)
Thursday, November 21, 2013
[Wonderful Indonesia] Harta Karun Destinasi Wisata Budaya di Lombok
Siapa yang tak kenal Lombok? Pulau Pedas yang terkenal dengan kecantikan panoramanya ini telah menarik hati wisatawan, baik dari domestik maupun mancanegara. Pantai-pantai Lombok yang berpasir putih dengan laut yang biru bagaikan ratna mutu manikam telah memanggil para pecinta pantai di seluruh dunia untuk mengunjunginya. Ditambah kemegahan Gunung Rinjani dengan telaga berwarnanya seolah menjadi saksi bisu keaslian dan keasrian alam di Pulau Lombok.
Namun destinasi wisata di Lombok tidak terbatas pada kekayaan panorama alamnya. Lombok juga memiliki obyek wisata budaya yang unik dan menarik untuk dikunjungi. Kekayaan dan keunikan wisata budaya ini tak lepas dari sejarah dan peradaban yang ada di Pulau Lombok . Di satu sisi, Lombok memiliki penduduk asli Suku Sasak yang umumnya memeluk agama Islam. Di sisi lain, sebagian wilayah Pulau Lombok pernah menjadi bagian dari Kerajaan Karangasem, sehingga banyak peninggalan dari Kerajaan Karangasem dan umat Hindu yang terdapat di pulau ini.
Salah satu destinasi wisata budaya yang diperkenalkan oleh laman web pariwisata resmi Indonesia.Travel adalah Desa Adat Sade. Desa Adat Sade terletak di Kecamatan Rembitan, Kabupaten Lombok Tengah, 20 menit perjalanan ke arah selatan dari Bandara Internasional Lombok di Praya. Desa adat yang merupakan tempat tinggal Suku Sasak ini telah berdiri selama 600 tahun. Untuk berkeliling di Desa Sade, Anda akan dipandu para pemuda Sasak yang akan membawa Anda memasuki Bale Tani atau rumah tinggal Suku Sasak. Salah satu keistimewaan Bale Tani adalah perawatan lantainya yang digosok menggunakan kotoran kerbau. Menurut kepercayaan Suku Sasak, kotoran kerbau dapat mengusir serangga, menghangatkan lantai rumah, serta berfungsi untuk menangkal serangan magis. Saat mengunjungi Desa Adat Sade, Anda juga bisa membeli cenderamata berupa pernak-pernik dari tanduk kerbau, atau tenunan songket hasil karya wanita Suku Sasak.
Anda juga bisa mengunjungi Taman Narmada di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, kurang lebih 15 menit perjalanan ke arah timur dari Kota Mataram. Taman seluas 2 hektar ini dibangun oleh Rasa Anak Agung Ngurah Karang Asem pada tahun 1727, sebagai istana musim panas tempat keluarga Kerajaan Mataram Karangasem beristirahat. Filosofi dari arsitektur di taman ini adalah miniatur Gunung Rinjani, yang dibangun untuk melaksanakan ritual Upacara Pakelem, atau upacara kurban untuk minta hujan. Sebelumnya, Upacara Pakelem dilaksanakan di puncak Gunung Rinjani, namun karena usia Raja sudah terlalu tua, maka Taman Narmada dibangun sebagai miniatur Gunung Rinjani, dan Upacara Pakelem dilaksanakan di tempat ini. Selain memiliki bangunan kuno dengan hawa khas taman yang sejuk, Taman Narmada juga memiliki sumber air suci dan Pura Kalasa, yang saat ini masih digunakan sebagai sarana ibadah umat Hindu.
Masih di Kecamatan Narmada, tak jauh dari Taman Narmada, terdapat Kompleks Pura Lingsar, yang telah berdiri sejak abad ke-15. Walau disebut “pura”, namun tempat ini tidak hanya digunakan oleh umat Hindu, tetapi juga digunakan sebagai tempat ibadah pemeluk IslamWetu Telu. Tradisi unik khas Pura Lingsar yang diadakan setiap tahun adalah Perang Topat, yang diselenggarakan secara bersama-sama oleh penganut agama Hindu dan Islam Wetu Telu sebelum masa menanam padi, sebagai perwujudan rasa syukur atas limpahan karunia dari Sang Pencipta.
Lombok dapat dikunjungi dari Jakarta atau Bali dengan menggunakan pesawat udara melalui Bandara Internasional Lombok di Praya. Lombok juga bisa dikunjungi dari Bali dan Sumbawa menggunakan kapal ferry. Untuk menginap, tersedia penginapan mulai dari hotel melati hingga hotel bintang 5. Penginapan terkonsentrasi di pusat Kota Mataram, Pantai Senggigi di sisi barat Lombok, atau Pantai Kuta di sisi selatan Lombok. Untuk berkeliling di tempat wisata seputar Lombok, sangat disarankan untuk menyewa kendaraan, karena keterbatasan rute dan jumlah angkutan umum di Pulau Lombok.
![]() |
| Pantai Malimbu |
| Desa Adat Sade |
| Taman Narmada |
| Pura Lingsar |
Lombok dapat dikunjungi dari Jakarta atau Bali dengan menggunakan pesawat udara melalui Bandara Internasional Lombok di Praya. Lombok juga bisa dikunjungi dari Bali dan Sumbawa menggunakan kapal ferry. Untuk menginap, tersedia penginapan mulai dari hotel melati hingga hotel bintang 5. Penginapan terkonsentrasi di pusat Kota Mataram, Pantai Senggigi di sisi barat Lombok, atau Pantai Kuta di sisi selatan Lombok. Untuk berkeliling di tempat wisata seputar Lombok, sangat disarankan untuk menyewa kendaraan, karena keterbatasan rute dan jumlah angkutan umum di Pulau Lombok.
Label:
indonesia.travel,
lombok,
wonderful indonesia
Lokasi:
Lombok, Indonesia
Monday, November 04, 2013
Bung Karno Sang Singa Podium
Alhamdulillah, buku ketiga saya akhirnya terbit!
Ternyata saya tak perlu menunggu hingga 5 tahun lagi untuk menerbitkan buku ketiga. Buku "Bung Karno Sang Singa Podium" terbitan Second Hope ini terbit hanya berselang 7 bulan sejak "Travel Writing 101" diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.
Penulisan buku ini agak unik, karena berawal dari sebuah peluang yang ditawarkan Agensi Naskah Indscript Creative untuk menulis buku biografi dengan tema pidato Bung Karno. Saya penggemar Bung Karno (namun saya merasa belum pantas disebut sebagai "Sukarnois"), dan bagi saya hal ini adalah salah satu modal utama saya memberanikan diri mengambil peluang yang menurut saya cukup "berat" ini. Sedemikian beratnya topik ini, sehingga saya membutuhkan waktu cukup lama untuk melakukan riset hingga menghasilkan buku setebal 423 halaman ini.
Banyak pertanyaan, mengapa saya menggunakan nama pena "Rhien Soemohadiwidjojo" untuk buku yang satu ini, kenapa saya tidak menggunakan nama asli saya? It's just a matter of "Personal Branding". Semula saya bercita-cita punya personal branding sebagai handicraft lover, yang mempunyai toko online handicraft dan rajin menulis buku-buku handicraft. Namun karena kesibukan pekerjaan di kantor, personal branding saya sebagai handicraft lover ternyata tak berkembang. Belakangan, ternyata personal branding saya lebih kuat sebagai tukang jalan-jalan yang banyak menghasilkan artikel wisata, sehingga saya mencoba mengembangkan personal branding seorang Arini Tathagati sebagai travel writer. Lalu, bagaimana rencana branding awal saya sebagai handicraft lover? Memang sudah terlanjur nama "Arini Tathagati" digunakan untuk menulis buku handicraft, tapi tidak masalah, karena saya masih akan mempertahankan brand handicraft lover tersebut.
Akan tetapi, buku "Bung Karno Sang Singa Podium" ini genrenya sangat berbeda dengan "handicraft lover" dan "travel writer". Saya tidak ingin brand "Arini Tathagati" menimbulkan kerancuan, sebenarnya "Arini Tathagati" itu penulis handicraft, penulis travel, atau penulis buku sejarah? Untuk itulah saya memilih nama pena "Rhien Soemohadiwidjojo" untuk buku-buku ini, serta buku-buku "berat" lain yang (mudah-mudahan) akan saya tulis. Soemohadiwidjojo adalah nama kakek saya, dan penggunaan nama ini adalah sebagai penghormatan kepada almarhum kakek saya yang merupakan penggemar berat Bung Karno. Dapat saya ceritakan juga, sebagian besar referensi yang saya gunakan untuk penulisan buku "Bung Karno Sang Singa Podium" ini adalah buku-buku Bung Karno miliki kakek saya.
Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Mbak Anisa Januwarti atas dukungan mereka sehingga buku ini bisa terwujud. Terima kasih saya sampaikan juga kepada Bapak Roso Daras dan Kang Asep Kambali dari Komunitas Historia Indonesia yang telah berkenan memberikan endorsement pada buku ini. Saya berharap buku ini bisa memberikan kontribusi bagi para penggemar sejarah mengenai nilai-nilai nasionalisme yang pernah disampaikan Bung karno melalui pidato-pidatonya.
Label:
book,
buku,
bung karno,
IIDN,
sejarah,
singa podium
Friday, October 18, 2013
Journey to Wonderful Indonesia through Indonesia.Travel
Indonesia, negeri yang sangat indah. Tak ada yang menyangkal
akan keindahan Indonesia, baik dari segi alam maupun kekayaan budayanya. Namun
saat ini masih banyak yang belum kenal Indonesia, bukan saja mereka yang berada
di mancanegara, namun juga masih banyak orang-orang Indonesia yang belum
mengetahui kekayaan alam dan budaya negerinya sendiri. Salah satu cara yang
efektif untuk memperkenalkan Indonesia adalah melalui situs informasi pariwisata
Indonesia.Travel.
Ketika pertama kali saya memasuki situs ini, menurut
pendapat saya situs ini seharusnya dapat menjadi sarana memperkenalkan
Indonesia secara komprehensif, baik kepada dunia internasional maupun kepada bangsa
Indonesia sendiri. Misalnya ketika saya yang tinggal di Jakarta ingin pergi ke
Raja Ampat, idealnya saya bisa mencari informasi yang selengkap-lengkapnya dari
web ini. Atau ketika rekan saya yang tinggal di London ingin mengunjungi
Bandung, idealnya ia bisa mencari informasi dari web ini.
Namun demikian, menurut saya masih ada beberapa hal yang
perlu diperbaiki. Dari sisi desain web, Indonesia.Travel memiliki tampilan
halaman pertama yang mencoba menarik perhatian mereka yang berkunjung, dengan
menampilkan berbagai warna-warni Indonesia. Namun bagi saya, tampilan yang
seharusnya menarik ini malah menjadi terlalu “berat”. Apabila halaman pertama situs
dibuat lebih sederhana, halaman tersebut bisa dibuka lebih cepat, membuat orang
lebih cepat mendapatkan informasi. Foto yang ditampilkan juga tidak perlu
terlalu banyak, namun cukup sebagai “teaser” yang membuat pengunjung ingin memasuki
situs lebih dalam lagi. Terlalu banyak widget yang tumpang tindih di halaman
pertama membuat pengunjung agak kesulitan untuk berselancar. Saya juga
mengalami kesulitan mencari pilihan bahasa, sehingga sebaiknya pilihan bahasa
diletakkan di tempat yang mudah dilihat. Dan mengingat hari ini banyak orang
yang mengakses situs melalui mobile device (ponsel dan tablet), sebaiknya
dibuat laman khusus untuk mobile device yang lebih sederhana, sehingga lebih
mudah untuk dilihat bagi para pengguna mobile device.
Secara umum, situs ini sudah mencoba menampilkan informasi
mengenai Indonesia yang cukup komprehensif. Informasi masing-masing destinasi sebenarnya
sudah cukup lengkap, walaupun untuk beberapa destinasi wisata masih ada
informasi yang kurang to-the-point, terkesan berbelit-belit, namun tidak
detail. Saya juga banyak menemukan informasi yang kurang up-to-date, khususnya
pada laman berbahasa Inggris, seperti informasi bandara di Sumatera Utara yang
masih tertulis Polonia, masih ada Batavia Airline, dan bandara di Sorong yang sejak
tahun 2005 berganti menjadi Domine Eduard Osok, namun masih tertulis bandara
Jefman.
Saya juga menemukan informasi yang kurang lengkap untuk
destinasi-destinasi terkenal. Misalnya untuk mencapai Yogyakarta, dalam laman
berbahasa Inggris tidak disebutkan mengenai bandara internasional Adisucipto. Contoh
lainnya adalah propinsi Jawa Timur, tidak diberi keterangan bahwa entry point
untuk menuju Jawa Timur dengan pesawat bisa melalui Surabaya dan Malang.
Demikian juga untuk propinsi Papua Barat, seharusnya bisa disebutkan Sorong
sebagai salah satu pintu gerbang propinsi tersebut (di samping Manokwari),
karena jumlah penerbangan dari arah Barat menuju ke Sorong lebih banyak
dibandingkan ke Manokwari. Menurut saya sayang sekali jika info-info praktis
tersebut tidak dicantumkan, karena sebenarnya informasi tersebut dapat membuat
perjalanan wisata kita menjadi lebih praktis, lebih efisien, dan lebih nyaman.
Sebagai contoh, ketika saya mau menuju Kepulauan Raja Ampat, dari Jakarta saya
tidak perlu naik pesawat dari Jakarta ke Ambon kemudian disambung dengan
pesawat kecil dari Ambon ke Sorong, tetapi saya bisa naik Express Air yang
terbang dari Jakarta langsung ke Sorong menggunakan Boeing 737-200. Biaya tiket
pesawat saya bisa lebih hemat, dan saya tidak capek karena harus pindah-pindah
pesawat.
Banyak keterangan pada konten yang menurut saya kurang
terstruktur dan terlalu panjang, misalnya pada bagian “sekilas Indonesia” versi
bahasa Indonesia. Kemudian ada beberapa kalimat yang menurut saya sebaiknya
tidak dicantumkan, seperti ketika menyebutkan bangsa Eropa “menancapkan
pemerintahan penjajahan dan pendudukan”, apakah kalimat ini akan menarik
wisatawan Eropa untuk datang ke Indonesia? Kemudian ada beberapa hal yang
menurut saya masih salah tempat, seperti di bagian “Iklim”, seharusnya tidak
perlu dituliskan “Pastikan kunjungan Anda tidak bertepatan dengan hari libur
seperti Idul Fitri”, karena hal tersebut tidak relevan dengan iklim. Informasi seperti
ini tentunya lebih cocok apabila diletakkan di bagian “Tips”.
Ada juga konten-konten yang bisa digabungkan, misalnya “Tips”
dan “Do and Don’t”, dan dibuat baik dalam versi bahasa Inggris maupun bahasa
Indonesia. Mengapa Do and Don’t dalam bahasa Indonesia masih diperlukan?
Menurut saya, masih banyak wisatawan Indonesia yang belum tahu anjuran atau
larangan yang berlaku di beberapa tempat wisata, seperti misalnya wanita yang
sedang berhalangan tidak dianjurkan untuk melihat-lihat ke dalam pura atau
tempat yang dianggap suci di Bali. Atau bagi wanita yang akan mengunjungi
mesjid untuk melihat-lihat, dianjurkan untuk mengenakan kerudung.
Saat saya memasuki laman “Trip Planner”, sayang sekali,
halaman ini tampaknya tidak pernah diupdate. Fasilitas ini sebenarnya bisa
sangat membantu, khususnya bagi para wisatawan yang tidak ingin repot
merencanakan perjalanannya sendiri, atau mereka yang membutuhkan informasi
tambahan mengenai transportasi dan akomodasi. Laman ini sebenarnya bisa
dilengkapi dengan link website perusahaan yang terkait perjalanan wisata,
seperti agen perjalanan, perusahaan penerbangan, kereta api, hotel, dan lain
sebagainya.
Untuk Events, wisatawan tentunya tidak ingin menghadiri
meeting atau seminar pariwisata. Kami sebagai wisatawan lebih berminat
mengunjungi event-event yang unik, misalnya Bau Nyale di Lombok, Jember Fashion
Carnaval, Festival Khatulistiwa di Pontianak, atau Sail Komodo. Seharusnya
informasi event pariwisata seperti ini bisa lebih menonjol, sekaligus menarik
minat wisatawan untuk hadir. Demikian juga dengan News, wisatawan umumnya lebih
tertarik jika berita yang diperoleh adalah mengenai kegiatan pariwisata yang
baru saja terjadi, dibandingkan berita tentang seminar pariwisata atau event
kenegaraan yang tidak melibatkan wisatawan.
Salah satu hal yang membuat web Indonesia.Travel bisa lebih
menarik adalah dengan memuat travel story yang ditulis oleh para wisatawan. Hal
ini sudah dilakukan oleh beberapa portal pariwisata, seperti Detik Ttravel, Adira
Faces of Indonesia, dan Citilink Story. Saya melihat laman ini sudah disiapkan,
namun saya tidak bisa menemukan link untuk membaca travel story yang sudah
dimuat. Travel story bisa menjadi sarana interaktif antara web Indonesia.Travel
dengan para kontributornya, sekaligus menarik minat orang untuk berkunjung ke
web tersebut. Bagi wisatawan, travel story seperti menjadi testimoni mengenai apa
yang dialami atau dirasakan selama berada di tempat wisata. Untuk mengumpulkan
travel story tersebut, bisa dilakukan dengan membuat kuis atau event, seperti
yang telah dilakukan oleh banyak komunitas.
Dari hasil pengamatan saya, saya mengambil kesimpulan bahwa
web Indonesia.Travel masih memiliki potensi untuk dikembangkan. Banyak hal yang
bisa diperbaiki dan ditingkatkan, termasuk di antaranya memberikan informasi
destinasi wisata yang komprehensif, namun to-the-point dan up-to-date. Selain
itu masih banyak potensi yang bisa dikembangkan dalam membuat web ini bisa
lebih interaktif, misalnya dengan mengadakan lomba travel story, lomba foto, atau kuis-kuis singkat tentang destinasi wisata Indonesia.
Referensi:
Subscribe to:
Posts (Atom)





