Thursday, June 13, 2013
Komplain Tidak Untuk Ditakuti
Karena hal ini, saya mengajukan komplain ke perusahaan taksi tersebut. Bagian layanan pelanggan menerima komplain saya, meminta maaf, dan mengatakan bahwa komplain saya akan ditindaklanjuti. Walaupun masih sangat jengkel karena saya sudah kehilangan waktu, dan rasanya saya sudah gatal untuk memposting service yang tidak memuaskan ini ke berbagai socmed atau bahkan mempostingnya melalui surat pembaca di surat kabar, namun saya mencoba menahan diri. Saya yakin, sesuai dengan reputasinya, perusahaan taksi ini akan menindaklanjuti laporan saya. Apapun tindakan yang dilakukan perusahaan taksi terhadap oknum pengemudi tersebut, itu kebijakan mereka. Namun bagi saya, perusahaan taksi tersebut telah mendapatkan laporan bahwa ada oknum pengemudinya yang bekerja tidak baik, sehingga ada pelanggan yang dikecewakan.
Dari kejadian ini, ada hal yang tiba-tiba terpicu kembali dalam ingatan saya. Inilah yang menjadi ide judul postingan saya ini : komplain tidak untuk ditakuti. Ya, hal ini kembali menyegarkan ingatan saya tentang materi yang diajarkan tim kami untuk para Operator SPBU, tentang bagaimana cara mengelola komplain pelanggan. Dan hari ini, saya ada di posisi pelanggan yang merasa dikecewakan dan merasa perlu melakukan komplain. Saya melakukan komplain bukan sekadar karena dikecewakan dan butuh tempat untuk marah-marah. Lebih dari itu, saya menyadari bahwa komplain adalah sebuah umpan balik. Komplain merupakan satu mekanisme bagi perusahaan untuk mengetahui apabila ada layanan mereka yang tidak sesuai dengan harapan pelanggan. Sebuah perusahaan yang mementingkan kepuasan pelanggan biasanya akan melayani komplain pelanggannya dengan baik. Walaupun memang dengan resiko pelanggannya akan marah-marah, bahkan mungkin hingga menghujat perusahaan tersebut, tapi sebuah komplain adalah indikasi bahwa pelanggan punya perhatian pada perusahaan, dan berharap perusahaan akan senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas layanannya.
Sebaliknya, jika perusahaan tidak pernah menerima komplain, tidak berarti bahwa selama ini layanannya baik-baik saja. Seringkali pelanggan hanya menggerutu sendiri, karena malas menyampaikan komplain. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini. Mungkin karena pelanggannya memang malas, atau cara perusahaan menangani komplain yang kurang baik. Kalau pelanggan yang malas, kerugian ada di pelanggan, karena pelanggan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan harapannya kepada perusahaan. Sebaliknya, ketika perusahaan kurang baik dalam menangani komplain, bukan tidak mungkin pelanggan akan menyebarkan informasi bahwa perusahaan tersebut tidak baik dalam menangani komplain, dan lebih lanjut, akan meninggalkan perusahaan tersebut dan beralih ke pesaing.
Saya sendiri pernah dikecewakan oleh sebuah hotel, yang menanggapi komplain saya dengan terkesan main-main. Waktu itu saya komplain karena ada orang yang menelfon saya subuh-subuh, minta dikirim wanita ke kamar. Edan! Padahal saya menginap di hotel (yang mengaku) syariah. Hotel syariah kok lebih parah daripada hotel abu-abu, di mana letak keamanan dan kesyariahannya, ketika tamu perempuan yang menginap sendiri dengan mudah mendapatkan intimidasi seperti ini? Ketika saya menyampaikan komplain, resepsionis malah mengatakan "mungkin teman ibu yang bercanda." Ini penanganan komplain macam apa? Masak anak buah saya yang dituduh melakukan ini? Karena komplain saya ditangani seperti ini, saya bertekad tidak akan menginap di hotel tersebut, dan saya akan menyarankan kepada teman-teman saya untuk tidak menginap di hotel tersebut, karena hotel tersebut tidak bisa menjamin keselamatan tamunya.
Dengan refleksi pengalaman saya ini, saat ini saya bisa memahami perasaan ketika ada orang yang mengirimkan komplain kepada perusahaan tempat saya bekerja. Setiap ada komplain yang masuk, membuat saya bertanya-tanya, barangkali memang ada tindakan kami yang belum sesuai dengan harapan pelanggan. Sebaliknya, ketika pelanggan kami tidak ada yang komplain atau memberikan umpan balik, saya malah jadi waswas, betulkah kami sudah melakukan sesuai harapan pelanggan? Atau jangan-jangan pelanggan tidak puas dan meninggalkan kami, pindah ke lain hati? Di sinilah baru terasa pentingnya komplain. Komplain bukan untuk ditakuti, karena komplain adalah salah satu mekanisme perusahaan untuk mendengar suara pelanggannya.
Saturday, May 25, 2013
Menyebar Virus Travel Writing Bersama IIDN
Travel writing ternyata tidak semata-mata berbentuk trip guide, yang menuliskan tentang deskripsi tempat wisata, data-data teknis, dan cara menuju ke sana. Bentuk travel writing sangat banyak, namun yang dianggap sebagai jenis travel writing yang banyak dimuat di media adalah travel feature. Travel feature umumnya berbentuk artikel, dan diulas dari sudut pandang orang pertama, atau penulis sebagai pelaku perjalanan. Ciri khas dari artikel feature adalah sentuhan personal tentang aktivitas dan perasaan penulis selama melakukan perjalanan.
Sejak tahun 2005 saya membuat artikel travel writing, dengan menggabungkan ketiga hobi saya yaitu travelling, foto-foto, sama menulis. Namun saat itu artikel saya masih bercampur baur antara trip guide dan travel feature. Baru setelah saya mengikuti kursus travel writing di tahun 2009, tulisan-tulisan travelling saya menjadi semakin bervariasi. Artikel-artikel ini masih terbatas diterbitkan di majalah internal korporat, karena saya belum percaya diri untuk mengirimkan artikel-artikel saya ke media-media yang cakupannya lebih luas.
Saat saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada awal tahun 2011, di pertengahan tahun 2011 ada pengumuman kebutuhan penulis untuk proyek pembuatan Kamus Wisata Indonesia. Tertarik dengan proyek tersebut karena sangat berkaitan dengan travel writing, saya pun bergabung. Niat semula hanya menulis beberapa artikel tentang DKI Jakarta, namun karena masih banyak tulisan-tulisan yang dibutuhkan, pada akhirnya saya menulis tidak kurang dari 95 artikel untuk mensupport proyek tersebut. Pengalaman mengerjakan proyek Kamus Wisata Indonesia bersama Komunitas IIDN ini membuat pengalaman saya dalam travel writing menjadi lebih kaya, selain saya juga mendapat kesempatan berkenalan dengan ibu-ibu yang canggih dalam menulis.
Februari 2012, saya ikut kopi darat Komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu sosok Indari Mastuti, pemilik Agensi Naskah Indscript Creative sekaligus pendiri Komunitas IIDN yang selama ini hanya saya temui di dunia maya. Sayang sekali, dalam acara kopi darat tersebut, saya belum berhasil bertemu Lygia Pecanduhujan, markom dari IIDN yang selama ini tulisan-tulisannya selalu berkibar di Komunitas IIDN. Usai acara, setiap peserta diminta untuk mengumpulkan proposal outline buku. Semula saya tidak terpikir untuk mengumpulkan karena sedang menunggu ide, namun desakan dari panitia yang terus menerus menelfon agar saya mengumpulkan proposal outline buku pun membuat saya akhirnya mengumpulkan proposal buku tersebut.
Sempat bingung, buku seperti apa yang mau saya buat berikutnya? Apakah buku ketrampilan? Saat itu ide saya sedang buntu, dan saya tahu sebuah buku ketrampilan membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena tidak hanya membuat tulisan, tetapi kita juga harus menyiapkan contoh barang dan fotografinya. Akhirnya setelah merenung beberapa lama, saya mendapat ide untuk menulis tentang Travel Writing. Ide ini muncul dari kenyataan di mana hingga saat ini sudah banyak guide book dan buku kisah perjalanan yang diterbitkan, namun belum banyak yang menulis mengenai cara menulis travel feature dan foto perjalanan secara komprehensif.
Gayung bersambut, kurang lebih 2 bulan kemudian, sebuah penerbit major sedang membutuhkan banyak naskah perjalanan, dan mbak Indari Mastuti membuat pengumuman proposal mana saja yang diterima penerbit major tersebut. Rupanya proposal buku Travel Writing saya ikut disetujui! Dalam waktu 1 bulan, saya ngebut menyelesaikan buku tersebut, dan menyerahkannya kembali pada Indscript Creative untuk ditindaklanjuti.
Sambil menunggu buku Travel Writing diterbitkan, saya kembali aktif memantau informasi di Komunitas IIDN. Kalau ada audisi antologi, iseng-iseng saya mencoba ikut, dan lebih sering tidak terpilih. Tapi tidak masalah, karena setelah saya pikirkan lagi, yang penting adalah menambah jam terbang, kalau tulisannya terpilih, itu bonus. Salah satu “bonus” yang akhirnya saya dapatkan adalah masuk sebagai kontributor buku Hot Chocolate for Broken Heart yang digawangi oleh markom IIDN Lygia Pecanduhujan. Selain informasi audisi antologi, saya juga menunggu informasi mengenai alamat-alamat media, khususnya media yang menerima artikel Travel Writing. Alhamdulillah, salah satu artikel perjalanan saya akhirnya diterbitkan di Republika edisi 10 Juli 2012.
Setelah 10 bulan menunggu, di akhir Februari 2013 saat yang dinanti-nanti tiba : Travel Writing 101 diterbitkan oleh Elex Media Komputindo! Saya pun menyebarkan berita gembira ini di Komunitas IIDN. Sebagai sarana untuk memperkenalkan buku ini, saya bekerjasama dengan Duta Buku IIDN untuk menyelenggarakan kuis. Melihat animo para peserta kuis, terlihat bahwa banyak ibu-ibu khususnya anggota Komunitas IIDN yang berminat untuk menulis karya travel writing, dan buku ini bisa menjadi jawaban atas keingintahuan mengenai travel writing tersebut.
Ya, walaupun selama ini travel writing lebih identik dengan para backpacker atau mereka yang bepergian ke tempat yang eksotik. Namun sejatinya, tidak ada batasan bahwa travel writing harus ditulis oleh kalangan tertentu, atau mengenai destinasi dengan kriteria tertentu. Bukan tidak mungkin para wanita yang tergabung dalam komunitas IIDN dapat memberikan sentuhan tersendiri pada artikel-artikel travel writing, khususnya melihat pengalaman suatu perjalanan dari sudut pandang wanita. Dan saya berharap, para anggota komunitas IIDN dapat turut menyebarkan virus Travel Writing ini, untuk bersama-sama menggugah para wanita dalam melakukan perjalanannya dan berbagi pengalaman perjalanan tersebut melalui travel writing.
Note: posting dimuat di http://iidn.satukan.com/2013/05/menyebar-virus-travel-writing-bersama-iidn/
Thursday, March 07, 2013
Travel Writing 101
Alhamdulillah, buku kedua saya akhirnya terbit!
Mungkin ada yang bertanya-tanya : sudah buku kedua? Ya, ini adalah buku kedua yang diterbitkan oleh penerbit. Buku pertama saya adalah buku kerajinan tangan yang diterbitkan oleh Puspa Swara di awal tahun 2008. Dan tepat 5 tahun kemudian, buku kedua dengan tema yang sama sekali "tidak nyambung" dengan kerajinan tangan ini terbit. Di antara buku pertama dan kedua, ada satu buku lagi yang saya terbitkan secara indie. Yang diterbitkan secara indie memang belum memberikan hasil yang signifikan, namun dampak intangible-nya adalah saya merasakan sendiri pengalaman bagaimana proses penerbitan, distribusi dan pemasaran buku secara mendalam.
Buku ini merupakan buah karya dari passion saya yang lain, selain kristik dan crochet. Saya baru menulis artikel perjalanan sejak tahun 2005, tapi perjalanan wisata sebenarnya telah menjadi bagian hidup saya sejak kecil. Demikian juga memotret, ehm, tepatnya mendokumentasikan perjalanan. Walaupun hasil fotonya tidak hebat dan canggih seperti foto-foto di National Geographic, tapi ternyata kebiasaan ini membantu saya berlatih untuk menangkap momen-momen menarik di perjalanan, yang menjadi salah satu nilai tambah bagi seorang travel writer. Jadi, buku ini menggabungkan passion-passion saya : jalan-jalan, motret, sama menulis.
Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Agensi Naskah Indscript Creative, karena tanpa mereka buku ini belum tentu bisa terwujud. Terima kasih juga diucapkan kepada tim Elex Media, khususnya Mbak Satwika, yang banyak mensupport hingga buku ini bisa terbit.
Akhir kata, sebelum Anda pergi ke toko buku dan mencari buku ini, saya kutip tulisan di cover belakang buku untuk memberi gambaran Anda mengenai isi bukunya :
Melakukan perjalanan wisata saat ini telah menjadi kegiatan yang digemari banyak orang. Dengan semakin banyak orang melakukan wisata dan perjalanan, maka semakin banyak media, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memuat artikel-artikel wisata yang didukung foto-foto yang menawan.
Buku “Travel Writing 101” ini berawal dari ide bahwa semakin banyak orang yang menulis tentang perjalanan wisata serta membuat foto-foto perjalanan, namun belum banyak buku panduan penulisan artikel perjalanan dan foto pelengkapnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat dipergunakan sebagai panduan bagaimana menjadi seorang travel writer dan travel photographer.
Berawal dari hobi travelling, menulis, dan membuat foto dokumentasi perjalanannya, Arin memadukan ketiga hal tersebut dan memulai penjelajahan dalam bidang travel writing dan travel photography. Beberapa artikel yang pernah ditulisnya terpilih menjadi pemenang dalam event Adira Best 100 Faces of Indonesia 2011. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail arini.tathagati@gmail.com atau Twitter @tathagati.
Wednesday, February 13, 2013
Buku Panduan Museum
Gara-gara pernah terlibat pembicaraan soal buku panduan museum di timeline @museumceria, saya jadi terpikir sesuatu.
Sempat geli sendiri pas ada yang nulis bahwa setahu dia kalau di museum pemerintah buku panduan gratis, karena sudah masuk anggaran pemerintah. Tapi karena itu saya jadi berpikir, betulkah itu? Itu di museum pemerintah RI yang mana ya? Seumur-umur saya ke museum pemerintah, belum pernah tuh ada yang ngasih buku panduan gratis. Paling-paling brosur, itu pun kalau tidak kehabisan (namanya juga gratis, cepat habis!). Saya lebih sering beli buku panduan, dan alhamdulillah banget kalau museumnya bisa mencetak buku panduan, karena ada beberapa museum yang ga punya buku panduan sama sekali (Museum Propinsi Bengkulu, misalnya)
Karena ada pembicaraan itu, saya jadi punya pertanyaan-pertanyaan lainnya :
Mungkin tiket masuk museum pemerintah itu keliatannya murah ya. Tapi coba kita hitung-hitung, berapa banyak dana yg harus dikeluarkan utk perawatan koleksi museum? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan utk operasional museum, perawatan bangunan, gaji para petugasnya, dan lain sebagainya? Jadi kalau saya sih maklum aja kalau tiba-tiba ada yang jualan buku tentang panduan museum, selama hasil penjualannya memang digunakan kembali untuk kepentingan museum, atau setidaknya untuk peningkatan kesejahteraan para pegawainya. Asal jangan hasil penjualannya dikorup aja, amit-amit!
Tuesday, January 29, 2013
Senang Berbatik? Kenali dan Rawat Batik Dengan Tepat!
Kata “batik” berasal dari kata “amba” yang berarti menulis, dan kata “titik” yang bermakna bahwa motif batik merupakan hasil dari rangkaian titik yang dituliskan pada kain. Batik tidak sekedar merujuk pada motif yang dihasilkan, melainkan juga pada cara pembuatannya berupa pembuatan rangkaian titik menggunakan malam dan canting.
Saat ini batikdapat diperoleh dengan mudah. Mulai dari toko batik dan butik batik yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan, sentra-sentra pengrajin batik, serta tempat-tempat wisata, hingga berbagai toko batik online, seperti www.berbatik.com. Dengan berbagai pilihan batik yang ditawarkan oleh toko-toko tersebut, ada baiknya kita memiliki pengetahuan dasar tentang batik, agar kita cermat dan tidak salah dalam membeli, khususnya ketika kita belanja dari toko batik online di mana kita tidak melihat secara langsung batik yang ditawarkan.
Cara Pembuatan Batik
Batik dapat dibedakan dari cara pembuatannya, yang juga akan mempengaruhi harga jual batik. Semakin rumit cara pembuatannya, maka harganya pun akan semakin mahal.
Batik yang dibuat secara tradisional adalah batik tulis. Untuk membuat batik tulis, kain yang digunakan biasanya adalah kain katun prima, katun primis, rayon, atau birkolin. Sebelum diberi malam, kain katun prima dan katun primis harus dikanji dan dikemplong terlebih dahulu, agar malam dan zat warna dapat melekat dengan mudah. Sedangkan kain rayon dan birkolin yang merupakan kain sintetis tidak perlu diolah terlebih dahulu, karena malam dan zat warna lebih mudah melekat. Setelah diolah, kain kemudian diberi pola batik menggunakan malam dan canting. Setelah diberi pola, kain kemudian dicelupkan pada zat warna, dan bagian kain yang tertutup malam tidak akan terkena zat warna dan akan tetap berwarna putih, sehingga akan meninggalkan pola. Proses pemberian malam dan pencelupan zat warna bisa dilakukan berulang kali, bergantung pada pola yang akan dibuat. Setelah didapatkan pola batik sesuai dengan yang diinginkan, maka kain kemudian dilorot dalam air panas untuk melarutkan malam pada kain.
| Belajar Membatik dengan Canting |
Selain batik tulis, batik juga dibuat dengan teknologi cap, dan dikenal dengan nama Batik Cap. Pola batik dibuat dalam cap yang terbuat dari tembaga, kemudian cap tersebut dicelupkan ke dalam malam, dan dicapkan pada kain.
| Belajar Membatik Dengan Cap |
Dengan kemajuan teknologi, saat ini batik juga sudah dibuat dengan menggunakan teknologi printing, atau pencetakan motif langsung pada kain. Kain yang dihasilkan tentunya harganya lebih murah dibandingkan kain batik yang dibuat dengan canting atau cap. Untuk membedakan apakah sebuah kain batik dibuat dengan canting, cap, atau printing, Anda bisa membolak balik kain batik. Batik yang dibuat dengan canting akan memiliki kualitas pewarnaan yang sama pada kedua permukaannya, sedangkan pada batik printing salah satu permukaannya akan berwarna lebih pucat/putih dibandingkan permukaan lainnya.
Aneka Motif dan Warna Batik
Selain dibedakan dari cara pembuatan, batik juga dibedakan dari jenis-jenis motifnya. Jenis motif batik dapat dibedakan terutama berdasarkan asal daerah, serta berdasarkan fungsinya.
Pada awalnya, batik merupakan busana yang dipakai oleh keluarga Keraton keturunan kerajaan Mataram Islam (Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Pakualaman) dan para abdi dalemnya, sehingga kebanyakan motif batik yang ada sekarang merupakan pengembangan dari motif-motif batik yang dibuat di keraton-keraton tersebut. Motif-motif batik yang dikembangkan di keraton merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Hindu dan Islam. Beberapa motif batik keraton yang saat ini masih digunakan secara luas antara lain adalah :
![]() |
| Motif Kawung Versi Yogyakarta |
Dengan adanya pemerintah kolonial Belanda, terjadi konflik dan peperangan yang menyebabkan banyak kerabat keraton dan para pengrajin batik yang mengungsi dan menetap di daerah baru. Sebaliknya, masyarakat juga mulai meniru motif batik yang dikenakan oleh kerabat kerajaan, untuk dikenakan sehari-hari. Perkembangan batik juga didukung dengan munculnya para pengusaha batik di wilayah-wilayah pengrajin batik, baik dari kalangan pribumi, keturunan Tionghoa, maupun pengusaha Belanda. Dari mereka inilah muncul berbagai macam motif batik yang merupakan hasil perpaduan dengan budaya setempat, menghasilkan batik dengan motif dan warna khas masing-masing daerah.
Berikut ini adalah berbagai jenis batik dengan ciri motif dan warna khasnya :
| Batik Pekalongan yang Didominasi Warna-Warna Cerah |
Cara Merawat Batik
Setelah mengetahui jenis batik dari cara pembuatan dan dari jenis motif serta warnanya, tentunya kita akan semakin cermat saat memilih dan membeli batik, baik dari toko batik, butik batik, maupun belanja batik online, sehingga kita bisa mendapatkan produk batik dengan kualitas yang sepadan dengan harga yang kita bayarkan.
Setelah mendapatkan batik sesuai dengan keinginan kita, jangan lupa untuk merawatnya dengan baik, agar batik kita, khususnya batik tulis atau batik cap, tetap awet, cerah, dan nyaman dikenakan. Berikut ini adalah beberapa tips perawatan batik yang perlu diperhatikan :
Daftar Pustaka
Foto-foto merupakan koleksi pribadi
Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog Berbatik dari www.berbatik.com.
Thursday, January 03, 2013
#LiburanLokal? Siapa Takut!
| Bukan di Malibu tapi di Bukit Malimbu, Lombok |
| Bukan di Eropa tapi di Tangkubanperahu |
![]() |
| Bukan di Bencoolen Street Singapura, tapi di Bengkulu (the real Bencoolen) |
| Bukan di Cina tapi di Sam Poo Kong, Semarang |
| Bukan di Eropa, tapi di Stasiun Tanjung Priok |
![]() |
| Bukan di Smithsonian tapi di Museum Geologi, Bandung |
Monday, December 03, 2012
[EnjoyJakarta] Rumah Si Pitung, Warisan Budaya Pesisir di Jakarta Utara
Rumah Si Pitung berbentuk rumah panggung dengan gaya arsitektur Bugis. Gaya arsitektur rumah panggung ini sesuai dengan lokasi rumah yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai, sehingga berpotensi terkena ombak besar atau banjir rob. Dari sumber yang mengatakan bahwa rumah ini dirampok Pitung pada tahun 1883, rumah ini diperkirakan berdiri pada abad 19. Rumah panggung sepanjang 15 meter, lebar 5 meter dengan tinggi 2 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, sehingga penduduk menyebutnya sebagai Rumah Tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan dua buah beranda, masing-masing di sisi depan dan belakang rumah yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter. Rumah ini memiliki empat buah pintu dan sepuluh buah jendela.
Saat ini di dalam Rumah Si Pitung terdapat beberapa perabot khas Betawi, seperti kursi tamu, tempat tidur, meja rias, permainan congklak, dan peralatan dapur. Sebagian perabot kuno ini bukan berasal dari interior asli rumah, melainkan sumbangan dari berbagai pihak. Di dinding rumah terdapat panel yang menceritakan kisah Si Pitung, yang diambil dari artikel “Si Pitung, Perampok atau Pemberontak?” yang ditulis Ridwan Saidi dan dimuat di Majalah Tani pada tahun 2009.
Rumah ini pernah direnovasi beberapa kali. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1972, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Beberapa penggantian yang dilakukan pada renovasi ini adalah perubahan interior rumah dari semula memiliki 3 kamar menjadi tinggal 1 kamar, penggantian lantai bambu menjadi lantai kayu jati, dan pengecatan dinding kayu rumah dengan warna merah delima. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010, dengan penambahan panggung beton setinggi 50 cm, untuk memastikan rumah ini tidak terendam banjir saat air pasang menggenangi pekarangan dan kolong rumah.
Untuk mencapai Rumah Si Pitung, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan angkutan umum arah Marunda. Patokannya adalah papan petunjuk menuju kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jl. Marunda Makmur, Cilincing. Jika menggunakan angkutan umum, turun di depan jalan masuk Kampus STIP, sedangkan jika menggunakan kendaraan pribadi, telusuri jalan di samping kampus menuju ke arah pantai. Di sisi kanan akan tampak tanah lapang dengan warung-warung yang dijadikan tempat parkir untuk kendaraan pribadi. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan beton di atas Sungai Blencong ke arah Marunda Pulo. Rumah Si Pitung berjarak kurang lebih 300 meter dari jembatan Sungai Blencong, menelusuri pematang beton yang melintasi rawa-rawa.
Sunday, August 12, 2012
[Love Journey] - Kembali ke Bukittinggi
Note : Kenang-kenangan posting di Multiply untuk ikut lomba travelling blog [Love Journey], pindahan dari : http://tathagati.multiply.com/journal/item/111/Love-Journey-Kembali-ke-Bukittinggi



