Thursday, June 13, 2013

Komplain Tidak Untuk Ditakuti

Posting ini berawal dari pengalaman saya hari ini, yang dikecewakan oleh oknum pengemudi dari perusahaan taksi terbesar di Indonesia. Hari ini saya memesan taksi melalui aplikasi ponsel untuk pukul 16.00. Ketika saya sedang berusaha mengetahui posisi taksi di aplikasi, tiba-tiba status pemesanan saya menunjukkan "done", berarti taksi sudah menyalakan argo, atau mengangkut penumpang. Buru-buru saya pergi ke parkiran, siapa tahu taksi ini hanya menyalakan argo. Tapi saya sangat kecewa, karena tidak menemukan taksi tersebut. Terpaksa saya memesan kembali taksi melalui aplikasi ponsel, dan sampai dengan 2 jam kemudian, saya belum berhasil mendapatkan taksi pengganti, bahkan perusahaan taksi tersebut "menyerah" dengan memberikan status "no taksi available". Ini semua gara-gara oknum pengemudi tersebut!

Karena hal ini, saya mengajukan komplain ke perusahaan taksi tersebut. Bagian layanan pelanggan menerima komplain saya, meminta maaf, dan mengatakan bahwa komplain saya akan ditindaklanjuti. Walaupun masih sangat jengkel karena saya sudah kehilangan waktu, dan rasanya saya sudah gatal untuk memposting service yang tidak memuaskan ini ke berbagai socmed atau bahkan mempostingnya melalui surat pembaca di surat kabar, namun saya mencoba menahan diri. Saya yakin, sesuai dengan reputasinya, perusahaan taksi ini akan menindaklanjuti laporan saya. Apapun tindakan yang dilakukan perusahaan taksi terhadap oknum pengemudi tersebut, itu kebijakan mereka. Namun bagi saya, perusahaan taksi tersebut telah mendapatkan laporan bahwa ada oknum pengemudinya yang bekerja tidak baik, sehingga ada pelanggan yang dikecewakan.

Dari kejadian ini, ada hal yang tiba-tiba terpicu kembali dalam ingatan saya. Inilah yang menjadi ide judul postingan saya ini : komplain tidak untuk ditakuti. Ya, hal ini kembali menyegarkan ingatan saya tentang materi yang diajarkan tim kami untuk para Operator SPBU, tentang bagaimana cara mengelola komplain pelanggan. Dan hari ini, saya ada di posisi pelanggan yang merasa dikecewakan dan merasa perlu melakukan komplain. Saya melakukan komplain bukan sekadar karena dikecewakan dan butuh tempat untuk marah-marah. Lebih dari itu, saya menyadari bahwa komplain adalah sebuah umpan balik. Komplain merupakan satu mekanisme bagi perusahaan untuk mengetahui apabila ada layanan mereka yang tidak sesuai dengan harapan pelanggan. Sebuah perusahaan yang mementingkan kepuasan pelanggan biasanya akan melayani komplain pelanggannya dengan baik. Walaupun memang dengan resiko pelanggannya akan marah-marah, bahkan mungkin hingga menghujat perusahaan tersebut, tapi sebuah komplain adalah indikasi bahwa pelanggan punya perhatian pada perusahaan, dan berharap perusahaan akan senantiasa mempertahankan dan meningkatkan kualitas layanannya.

Sebaliknya, jika perusahaan tidak pernah menerima komplain, tidak berarti bahwa selama ini layanannya baik-baik saja. Seringkali pelanggan hanya menggerutu sendiri, karena malas menyampaikan komplain. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini. Mungkin karena pelanggannya memang malas, atau cara perusahaan menangani komplain yang kurang baik. Kalau pelanggan yang malas, kerugian ada di pelanggan, karena pelanggan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan harapannya kepada perusahaan. Sebaliknya, ketika perusahaan kurang baik dalam menangani komplain, bukan tidak mungkin pelanggan akan menyebarkan informasi bahwa perusahaan tersebut tidak baik dalam menangani komplain, dan lebih lanjut, akan meninggalkan perusahaan tersebut dan beralih ke pesaing.

Saya sendiri pernah dikecewakan oleh sebuah hotel, yang menanggapi komplain saya dengan terkesan main-main. Waktu itu saya komplain karena ada orang yang menelfon saya subuh-subuh, minta dikirim wanita ke kamar. Edan! Padahal saya menginap di hotel (yang mengaku) syariah. Hotel syariah kok lebih parah daripada hotel abu-abu, di mana letak keamanan dan kesyariahannya, ketika tamu perempuan yang menginap sendiri dengan mudah mendapatkan intimidasi seperti ini? Ketika saya menyampaikan komplain, resepsionis malah mengatakan "mungkin teman ibu yang bercanda." Ini penanganan komplain macam apa? Masak anak buah saya yang dituduh melakukan ini? Karena komplain saya ditangani seperti ini, saya bertekad tidak akan menginap di hotel tersebut, dan saya akan menyarankan kepada teman-teman saya untuk tidak menginap di hotel tersebut, karena hotel tersebut tidak bisa menjamin keselamatan tamunya.

Dengan refleksi pengalaman saya ini, saat ini saya bisa memahami perasaan ketika ada orang yang mengirimkan komplain kepada perusahaan tempat saya bekerja. Setiap ada komplain yang masuk, membuat saya bertanya-tanya, barangkali memang ada tindakan kami yang belum sesuai dengan harapan pelanggan. Sebaliknya, ketika pelanggan kami tidak ada yang komplain atau memberikan umpan balik, saya malah jadi waswas, betulkah kami sudah melakukan sesuai harapan pelanggan? Atau jangan-jangan pelanggan tidak puas dan meninggalkan kami, pindah ke lain hati? Di sinilah baru terasa pentingnya komplain. Komplain bukan untuk ditakuti, karena komplain adalah salah satu mekanisme perusahaan untuk mendengar suara pelanggannya.

Saturday, May 25, 2013

Menyebar Virus Travel Writing Bersama IIDN

Travel Writing. Istilah ini mungkin terdengar baru, namun sebenarnya sudah dilakukan sejak masa silam. Genre ini menitikberatkan tulisannya tentang sebuah tempat atau daerah dan perjalanan menuju dan selama berada di tempat tersebut. Gaya penulisan travel writing pun bermacam-macam, mulai dari yang naratif hingga deskriptif, dari tulisan jurnalistik hingga karya sastra, dan bahkan bisa ditulis secara ringan hingga sangat serius. Saat ini travel writing biasanya diasosiasikan dengan perjalanan wisata, dengan tujuan memberikan informasi mengenai destinasi wisata tersebut kepada pembacanya.

Travel writing ternyata tidak semata-mata berbentuk trip guide, yang menuliskan tentang deskripsi tempat wisata, data-data teknis, dan cara menuju ke sana. Bentuk travel writing sangat banyak, namun yang dianggap sebagai jenis travel writing yang banyak dimuat di media adalah travel feature. Travel feature umumnya berbentuk artikel, dan diulas dari sudut pandang orang pertama, atau penulis sebagai pelaku perjalanan. Ciri khas dari artikel feature adalah sentuhan personal tentang aktivitas dan perasaan penulis selama melakukan perjalanan.

Sejak tahun 2005 saya membuat artikel travel writing, dengan menggabungkan ketiga hobi saya yaitu travelling, foto-foto, sama menulis. Namun saat itu artikel saya masih bercampur baur antara trip guide dan travel feature. Baru setelah saya mengikuti kursus travel writing di tahun 2009, tulisan-tulisan travelling saya menjadi semakin bervariasi. Artikel-artikel ini masih terbatas diterbitkan di majalah internal korporat, karena saya belum percaya diri untuk mengirimkan artikel-artikel saya ke media-media yang cakupannya lebih luas.

Saat saya bergabung dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pada awal tahun 2011, di pertengahan tahun 2011 ada pengumuman kebutuhan penulis untuk proyek pembuatan Kamus Wisata Indonesia. Tertarik dengan proyek tersebut karena sangat berkaitan dengan travel writing, saya pun bergabung. Niat semula hanya menulis beberapa artikel tentang DKI Jakarta, namun karena masih banyak tulisan-tulisan yang dibutuhkan, pada akhirnya saya menulis tidak kurang dari 95 artikel untuk mensupport proyek tersebut. Pengalaman mengerjakan proyek Kamus Wisata Indonesia bersama Komunitas IIDN ini membuat pengalaman saya dalam travel writing menjadi lebih kaya, selain saya juga mendapat kesempatan berkenalan dengan ibu-ibu yang canggih  dalam menulis.

Februari 2012, saya ikut kopi darat Komunitas IIDN wilayah Jabodetabek. Di sinilah untuk pertama kalinya saya bertemu sosok Indari Mastuti, pemilik Agensi Naskah Indscript Creative sekaligus pendiri Komunitas IIDN yang selama ini hanya saya temui di dunia maya. Sayang sekali, dalam acara kopi darat tersebut, saya belum berhasil bertemu Lygia Pecanduhujan, markom dari IIDN yang selama ini tulisan-tulisannya selalu berkibar di Komunitas IIDN. Usai acara, setiap peserta diminta untuk mengumpulkan proposal outline buku. Semula saya tidak terpikir untuk mengumpulkan karena sedang menunggu ide, namun desakan dari panitia yang terus menerus menelfon agar saya mengumpulkan proposal outline buku pun membuat saya akhirnya mengumpulkan proposal buku tersebut.

Sempat bingung, buku seperti apa yang mau saya buat berikutnya? Apakah buku ketrampilan? Saat itu ide saya sedang buntu, dan saya tahu sebuah buku ketrampilan membutuhkan usaha yang tidak sedikit, karena tidak hanya membuat tulisan, tetapi kita juga harus menyiapkan contoh barang dan fotografinya. Akhirnya setelah merenung beberapa lama, saya mendapat ide untuk menulis tentang Travel Writing. Ide ini muncul dari kenyataan di mana hingga saat ini sudah banyak guide book dan buku kisah perjalanan yang diterbitkan, namun belum banyak yang menulis mengenai cara menulis travel feature dan foto perjalanan secara komprehensif.

Gayung bersambut, kurang lebih 2 bulan kemudian, sebuah penerbit major sedang membutuhkan banyak naskah perjalanan, dan mbak Indari Mastuti membuat pengumuman proposal mana saja yang diterima penerbit major tersebut. Rupanya proposal buku Travel Writing saya ikut disetujui! Dalam waktu 1 bulan, saya ngebut menyelesaikan buku tersebut, dan menyerahkannya kembali pada Indscript Creative untuk ditindaklanjuti.

Sambil menunggu buku Travel Writing diterbitkan, saya kembali aktif memantau informasi di Komunitas IIDN. Kalau ada audisi antologi, iseng-iseng saya mencoba ikut, dan lebih sering tidak terpilih. Tapi tidak masalah, karena setelah saya pikirkan lagi, yang penting adalah menambah jam terbang, kalau tulisannya terpilih, itu bonus. Salah satu “bonus” yang akhirnya saya dapatkan adalah masuk sebagai kontributor buku Hot Chocolate for Broken Heart yang digawangi oleh markom IIDN Lygia Pecanduhujan. Selain informasi audisi antologi, saya juga menunggu informasi mengenai alamat-alamat media, khususnya media yang menerima artikel Travel Writing. Alhamdulillah, salah satu artikel perjalanan saya akhirnya diterbitkan di Republika edisi 10 Juli 2012.

Setelah 10 bulan menunggu, di akhir Februari 2013 saat yang dinanti-nanti tiba : Travel Writing 101 diterbitkan oleh Elex Media Komputindo! Saya pun menyebarkan berita gembira ini di Komunitas IIDN. Sebagai sarana untuk memperkenalkan buku ini, saya bekerjasama dengan Duta Buku IIDN untuk menyelenggarakan kuis. Melihat animo para peserta kuis, terlihat bahwa banyak ibu-ibu khususnya anggota Komunitas IIDN yang berminat untuk menulis karya travel writing, dan buku ini bisa menjadi jawaban atas keingintahuan mengenai travel writing tersebut.





Ya, walaupun selama ini travel writing lebih identik dengan para backpacker atau mereka yang bepergian ke tempat yang eksotik. Namun sejatinya, tidak ada batasan bahwa travel writing harus ditulis oleh kalangan tertentu, atau mengenai destinasi dengan kriteria tertentu. Bukan tidak mungkin para wanita yang tergabung dalam komunitas IIDN dapat memberikan sentuhan tersendiri pada artikel-artikel travel writing, khususnya melihat pengalaman suatu perjalanan dari sudut pandang wanita. Dan saya berharap, para anggota komunitas IIDN dapat turut menyebarkan virus Travel Writing ini, untuk bersama-sama menggugah para wanita dalam melakukan perjalanannya dan berbagi pengalaman perjalanan tersebut melalui travel writing.


Note: posting dimuat di http://iidn.satukan.com/2013/05/menyebar-virus-travel-writing-bersama-iidn/

Thursday, March 07, 2013

Travel Writing 101

Alhamdulillah, buku kedua saya akhirnya terbit!

Mungkin ada yang bertanya-tanya : sudah buku kedua? Ya, ini adalah buku kedua yang diterbitkan oleh penerbit. Buku pertama saya adalah buku kerajinan tangan yang diterbitkan oleh Puspa Swara di awal tahun 2008. Dan tepat 5 tahun kemudian, buku kedua dengan tema yang sama sekali "tidak nyambung" dengan kerajinan tangan ini terbit. Di antara buku pertama dan kedua, ada satu buku lagi yang saya terbitkan secara indie. Yang diterbitkan secara indie memang belum memberikan hasil yang signifikan, namun dampak intangible-nya adalah saya merasakan sendiri pengalaman bagaimana proses penerbitan, distribusi dan pemasaran buku secara mendalam.

Buku ini merupakan buah karya dari passion saya yang lain, selain kristik dan crochet. Saya baru menulis artikel perjalanan sejak tahun 2005, tapi perjalanan wisata sebenarnya telah menjadi bagian hidup saya sejak kecil. Demikian juga memotret, ehm, tepatnya mendokumentasikan perjalanan. Walaupun hasil fotonya tidak hebat dan canggih seperti foto-foto di National Geographic, tapi ternyata kebiasaan ini membantu saya berlatih untuk menangkap momen-momen menarik di perjalanan, yang menjadi salah satu nilai tambah bagi seorang travel writer. Jadi, buku ini menggabungkan passion-passion saya : jalan-jalan, motret, sama menulis.

Pertama-tama saya ucapkan terima kasih kepada Teh Indari Mastuti dan Agensi Naskah Indscript Creative, karena tanpa mereka buku ini belum tentu bisa terwujud. Terima kasih juga diucapkan kepada tim Elex Media, khususnya Mbak Satwika, yang banyak mensupport hingga buku ini bisa terbit.

Akhir kata, sebelum Anda pergi ke toko buku dan mencari buku ini, saya kutip tulisan di cover belakang buku untuk memberi gambaran Anda mengenai isi bukunya :

Melakukan perjalanan wisata saat ini telah menjadi kegiatan yang digemari banyak orang. Dengan semakin banyak orang melakukan wisata dan perjalanan, maka semakin banyak media, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memuat artikel-artikel wisata yang didukung foto-foto yang menawan.

Buku “Travel Writing 101” ini berawal dari ide bahwa semakin banyak orang yang menulis tentang perjalanan wisata serta membuat foto-foto perjalanan, namun belum banyak buku panduan penulisan artikel perjalanan dan foto pelengkapnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Buku ini dapat dipergunakan sebagai panduan bagaimana menjadi seorang travel writer dan travel photographer.

Berawal dari hobi travelling, menulis, dan membuat foto dokumentasi perjalanannya, Arin memadukan ketiga hal tersebut dan memulai penjelajahan dalam bidang travel writing dan travel photography. Beberapa artikel yang pernah ditulisnya terpilih menjadi pemenang dalam event Adira Best 100 Faces of Indonesia 2011. Penulis dapat dihubungi melalui e-mail arini.tathagati@gmail.com atau Twitter @tathagati.

Banner4

Wednesday, February 13, 2013

Buku Panduan Museum

Gara-gara pernah terlibat pembicaraan soal buku panduan museum di timeline @museumceria, saya jadi terpikir sesuatu.

Sempat geli sendiri pas ada yang nulis bahwa setahu dia kalau di museum pemerintah buku panduan gratis, karena sudah masuk anggaran pemerintah. Tapi karena itu saya jadi berpikir, betulkah itu? Itu di museum pemerintah RI yang mana ya? Seumur-umur saya ke museum pemerintah, belum pernah tuh ada yang ngasih buku panduan gratis. Paling-paling brosur, itu pun kalau tidak kehabisan (namanya juga gratis, cepat habis!). Saya lebih sering beli buku panduan, dan alhamdulillah banget kalau museumnya bisa mencetak buku panduan, karena ada beberapa museum yang ga punya buku panduan sama sekali (Museum Propinsi Bengkulu, misalnya)

Karena ada pembicaraan itu, saya jadi punya pertanyaan-pertanyaan lainnya :

  • Ada ya anggaran bikin brosur/buku panduan untuk museum pemerintah?
  • Sebenernya anggaran untuk perawatan museum itu dikasih berapa sih? Cukup apa nggak?
  • Toh di museum2 swasta yang bayarnya mahal, tetep aja musti beli buku panduan juga. Perlu diketahui, cetak buku itu gak murah ya! Klo mau murah, bukunya cetakannya jelek. Klo mau bagus, modalnya ga dapet 10.000. Emang uangnya cuman buat buku? Berapa banyak museum pemerintah yang harus didanai? Banyak lho!

    Mungkin tiket masuk museum pemerintah itu keliatannya murah ya. Tapi coba kita hitung-hitung, berapa banyak dana yg harus dikeluarkan utk perawatan koleksi museum? Berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan utk operasional museum, perawatan bangunan, gaji para petugasnya, dan lain sebagainya? Jadi kalau saya sih maklum aja kalau tiba-tiba ada yang jualan buku tentang panduan museum, selama hasil penjualannya memang digunakan kembali untuk kepentingan museum, atau setidaknya untuk peningkatan kesejahteraan para pegawainya. Asal jangan hasil penjualannya dikorup aja, amit-amit!

    Tuesday, January 29, 2013

    Senang Berbatik? Kenali dan Rawat Batik Dengan Tepat!

    Hare gene gak berbatik? Ketinggalan jaman! Batik memang merupakan warisan budaya Nusantara sejak masa silam yang saat ini kembali menjadi populer. Dimulai dengan himbauan mengenakan batik di kantor pemerintahan dan kantor BUMN setiap hari Jumat mulai tahun 2004, serta diperkuat oleh ketetapan UNESCO bahwa batik merupakan Warisan Kemanusiaan Untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2 Oktober 2009, maka batik kembali populer dan menjadi identitas bangsa.

    Kata “batik” berasal dari kata “amba” yang berarti menulis, dan kata “titik” yang bermakna bahwa motif batik merupakan hasil dari rangkaian titik yang dituliskan pada kain. Batik tidak sekedar merujuk pada motif yang dihasilkan, melainkan juga pada cara pembuatannya berupa pembuatan rangkaian titik menggunakan malam dan canting.

    Saat ini batikdapat diperoleh dengan mudah. Mulai dari toko batik dan butik batik yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan, sentra-sentra pengrajin batik, serta tempat-tempat wisata, hingga berbagai toko batik online, seperti www.berbatik.com. Dengan berbagai pilihan batik yang ditawarkan oleh toko-toko tersebut, ada baiknya kita memiliki pengetahuan dasar tentang batik, agar kita cermat dan tidak salah dalam membeli, khususnya ketika kita belanja dari toko batik online di mana kita tidak melihat secara langsung batik yang ditawarkan.

    Cara Pembuatan Batik
    Batik dapat dibedakan dari cara pembuatannya, yang juga akan mempengaruhi harga jual batik. Semakin rumit cara pembuatannya, maka harganya pun akan semakin mahal.

    Batik yang dibuat secara tradisional adalah batik tulis. Untuk membuat batik tulis, kain yang digunakan biasanya adalah kain katun prima, katun primis, rayon, atau birkolin. Sebelum diberi malam, kain katun prima dan katun primis harus dikanji dan dikemplong terlebih dahulu, agar malam dan zat warna dapat melekat dengan mudah. Sedangkan kain rayon dan birkolin yang merupakan kain sintetis tidak perlu diolah terlebih dahulu, karena malam dan zat warna lebih mudah melekat. Setelah diolah, kain kemudian diberi pola batik menggunakan malam dan canting. Setelah diberi pola, kain kemudian dicelupkan pada zat warna, dan bagian kain yang tertutup malam tidak akan terkena zat warna dan akan tetap berwarna putih, sehingga akan meninggalkan pola. Proses pemberian malam dan pencelupan zat warna bisa dilakukan berulang kali, bergantung pada pola yang akan dibuat. Setelah didapatkan pola batik sesuai dengan yang diinginkan, maka kain kemudian dilorot dalam air panas untuk melarutkan malam pada kain.

    Belajar Membatik dengan Canting


    Selain batik tulis, batik juga dibuat dengan teknologi cap, dan dikenal dengan nama Batik Cap. Pola batik dibuat dalam cap yang terbuat dari tembaga, kemudian cap tersebut dicelupkan ke dalam malam, dan dicapkan pada kain.

    Belajar Membatik Dengan Cap

    Dengan kemajuan teknologi, saat ini batik juga sudah dibuat dengan menggunakan teknologi printing, atau pencetakan motif langsung pada kain. Kain yang dihasilkan tentunya harganya lebih murah dibandingkan kain batik yang dibuat dengan canting atau cap. Untuk membedakan apakah sebuah kain batik dibuat dengan canting, cap, atau printing, Anda bisa membolak balik kain batik. Batik yang dibuat dengan canting akan memiliki kualitas pewarnaan yang sama pada kedua permukaannya, sedangkan pada batik printing salah satu permukaannya akan berwarna lebih pucat/putih dibandingkan permukaan lainnya.

    Aneka Motif dan Warna Batik
    Selain dibedakan dari cara pembuatan, batik juga dibedakan dari jenis-jenis motifnya. Jenis motif batik dapat dibedakan terutama berdasarkan asal daerah, serta berdasarkan fungsinya.

    Pada awalnya, batik merupakan busana yang dipakai oleh keluarga Keraton keturunan kerajaan Mataram Islam (Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, Pakualaman) dan para abdi dalemnya, sehingga kebanyakan motif batik yang ada sekarang merupakan pengembangan dari motif-motif batik yang dibuat di keraton-keraton tersebut. Motif-motif batik yang dikembangkan di keraton merupakan hasil perpaduan budaya Jawa, Hindu dan Islam. Beberapa motif batik keraton yang saat ini masih digunakan secara luas antara lain adalah :
  • Gurdo : Gurdo merupakan penggambaran Garuda, burung suci kendaraan Sang Hyang Wisnu. Motif Gurdo berbentuk dua buah sayap, yang bermakna menaungi kehidupan di bumi.
  • Truntum : pola truntum merupakan simbolisasi dari kuncup bunga melati, yang melambangkan cinta yang bersemi. Batik truntum biasanya digunakan oleh orang tua pengantin pada hari pernikahan, bermakna orang tua bisa menuntun calon pengantin.
  • Kawung : batik kawung dicirikan dengan 4 buah elips yang mengelilingi satu titik di tengah, melambangkan raja dan 4 “bawahannya”. Kawung juga merupakan kata lain dari “aren”, tumbuhan dengan berbagai macam kegunaan, ditafsirkan bahwa siapa pun yang mengenakan motif ini harus berguna bagi banyak pihak, seperti pohon kawung. Motif ini dikenakan raja dan keluarga terdekatnya sebagai lambang keperkasaan dan keadilan.
  • Parang : “parang” merupakan senjata yang melambangkan kekuasaan, kekuatan, dan kecepatan, sehingga ksatria yang mengenakan batik ini bisa berlipat kekuasaannya. Di masa lalu, motif parang hanya boleh dikenakan oleh raja atau kerabat keraton, dan ukuran motifnya akan menunjukkan status seseorang . Semakin tinggi kedudukan seseorang, maka motif parang yang dikenakan akan semakin besar.
  • Sekarjagat : nama Sekarjagat berasal dari kata “Kar Jagat”, yang bermakna harfiah peta dunia. Ciri dari batik ini adalah banyak motif yang dimasukkan dalam selembar kain batik. Makna dari motif ini adalah siapa yang memakainya akan menaklukan dunia.


  • Motif Kawung Versi Yogyakarta

    Dengan adanya pemerintah kolonial Belanda, terjadi konflik dan peperangan yang menyebabkan banyak kerabat keraton dan para pengrajin batik yang mengungsi dan menetap di daerah baru. Sebaliknya, masyarakat juga mulai meniru motif batik yang dikenakan oleh kerabat kerajaan, untuk dikenakan sehari-hari. Perkembangan batik juga didukung dengan munculnya para pengusaha batik di wilayah-wilayah pengrajin batik, baik dari kalangan pribumi, keturunan Tionghoa, maupun pengusaha Belanda. Dari mereka inilah muncul berbagai macam motif batik yang merupakan hasil perpaduan dengan budaya setempat, menghasilkan batik dengan motif dan warna khas masing-masing daerah.

    Berikut ini adalah berbagai jenis batik dengan ciri motif dan warna khasnya :
  • Surakarta : Batik Surakarta dicirikan dengan motif yang anggun, dengan warna-warna didominasi warna sogan/coklat kekuningan
  • Yogyakarta : Batik Yogyakarta adalah jenis batik yang berkembang setelah kerajaan Mataram Islam pecah menjadi 4. Batik ini dicirikan dengan motif yang lebih sederhana, dengan warna dasar batik umumnya putih.
  • Pekalongan : Batik Pekalongan merupakan salah satu contoh batik pesisir dengan ciri khas warna cerah. Motif batik Pekalongan banyak dipengaruhi oleh budaya Cina dan Belanda, seperti motif buketan atau bunga.
  • Madura : Batik Madura didominasi warna hitam dan warna merah, dengan ciri motif yang egaliter, seperti karakter masyarakat Madura pada umumnya.
  • Garut : Batik Garut memiliki motif serupa dengan batik Keraton, namun didominasi warna-warna cerah. Konon para pengrajinnya merupakan keturunan pengrajin batikdari Yogyakarta dan Surakarta yang mengungsi ke Garut.
  • Cirebon : motif batik Cirebon juga merupakan jenis batik pesisir yang dikembangkan oleh Keraton Cirebon, serta banyak mendapat pengaruh Cina, seperti motif Mega Mendung.
  • Lasem : Ciri khas batik Lasem adalah motifnya yang merupakan kombinasi budaya Jawa dan Cina, serta memiliki warna merah cerah yang khas dengan nama merah getih pithik (merah darah ayam). Warna merah ini terbentuk akibat pengaruh air tanah yang digunakan di daerah tersebut untuk memproduksi batik.
  • Batik Jawa Hokokai : Jenis batik ini merupakan varian Batik Pekalongan, yang motifnya dipengaruhi dari budaya Jepang, seperti bunga sakura, bunga krisan, dan kupu-kupu. Ciri khas batik ini adalah jenis pola yang disebut “pagi-sore”, karena dalam 1 helai kain terdapat 2 tipe motif, yang satu berwarna terang untuk dikenakan pagi hari, dan yang berwarna lebih gelap untuk dikenakan pada malam hari
  • Batik Lawasan : jenis batik ini merupakan batik yang dibuat seolah-olah warnanya pudar karena sudah lama (lawas = lama).


  • Batik Pekalongan yang Didominasi Warna-Warna Cerah


    Cara Merawat Batik
    Setelah mengetahui jenis batik dari cara pembuatan dan dari jenis motif serta warnanya, tentunya kita akan semakin cermat saat memilih dan membeli batik, baik dari toko batik, butik batik, maupun belanja batik online, sehingga kita bisa mendapatkan produk batik dengan kualitas yang sepadan dengan harga yang kita bayarkan.

    Setelah mendapatkan batik sesuai dengan keinginan kita, jangan lupa untuk merawatnya dengan baik, agar batik kita, khususnya batik tulis atau batik cap, tetap awet, cerah, dan nyaman dikenakan. Berikut ini adalah beberapa tips perawatan batik yang perlu diperhatikan :
  • Batik sebaiknya dicuci menggunakan lerak. Lerak biasanya dapat dibeli di pasar tradisional, namun saat ini sudah tersedia lerak cair di supermarket.
  • Jika batik tidak terlalu kotor, cukup dibilas dengan air hangat. Namun jika terdapat kotoran, cuci kocoran tersebut dengan sabun mandi atau kulit jeruk, dengan menggosokkan sabun atau kulit jeruk pada tempat yang kotor saja
  • Jangan mencuci batikdengan detergen
  • Jangan mengucek atau memelintir batik, karena akan melarutkan pewarnanya sehingga batik berwarna mbladus/pucat
  • Jemur batik pada tempat yang teduh, jangan dijemur di bawah terik matahari. Tarik ujung batik agar serat-seratnya tidak mengerut
  • Hindari penyetrikaan. Namun jia terpaksa harus disetrika, gunakan temperatur rendah,dan letakkan kain tipis antara batik dan setrika
  • Simpan batik di dalam plastik untuk menghindari ngengat. Jangan gunakan bola kamper/phenolphtalein ball, karena senyawanya dapat merusak batik
  • Sebulan sekali keluarkan batik dari lemari, angin-anginkan untuk menghilangkan debu dan ngengat, gantungkan di luar lemari kurang lebih selama 1 jam
  • Gunakan kertas roti untuk mengalasi batik jika disimpan di lemari. Jangan gunakan kertas koran karena tintanya dapat merusak batik.
  • Jangan semprotkan parfum atau eau de toilette pada permukaan batik sutera


  • Daftar Pustaka
  • http://id.wikipedia.org/wiki/Batik
  • Aep S. Hamidin (2010). Batik Warisan Budaya Asli Indonesia. Yogyakarta : Penerbit Narasi.
  • Abdul Aziz Sa’du (2010). Buku Panduan Mengenal dan Membuat Batik. Jakarta : Diva Press.
  • Kunjungan ke Museum Batik Kuno Danar Hadi, Surakarta

  • Foto-foto merupakan koleksi pribadi

    Tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog Berbatik dari www.berbatik.com.



    Thursday, January 03, 2013

    #LiburanLokal? Siapa Takut!



    Membaca kicauan @mrshananto pada akhir Desember 2012 yang lalu tentang #LiburanLokal, hati saya tergelitik untuk menulis opini ini, sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan #LiburanLokal di Nusantara.

    Saya yakin, banyak yang kepingin pergi ke luar negeri untuk berlibur. Saya pun juga begitu. Dan saya percaya, dana yang saya miliki cukup untuk melakukan hal itu (apalagi setelah ikut kursus FinPlan-nya@mrshananto, jadi makin pede untuk menabung dana liburan, hihihi). Kendala saya hanya masalah jadwal, jadi untuk berlibur lebih dari 2 hari, persiapan di kantor pun harus matang, karena saya tidak ingin liburan saya terganggu.

    Tapi, akhirnya muncul pertanyaan, apakah yang namanya berlibur itu harus ke luar negeri? Apalagi kalau dalihnya "keluar negeri lebih murah daripada di dalam negeri". Coba kita hitung-hitung lagi. Kalau ke luar negeri, kenapa bisa lebih murah? Karena kita akan pakai tiket promo, menginap di hotel bintang 2 atau 3, terus ke mana-mana naik angkutan umum, atau pergi secara berombongan. Kalau kita melakukan hal yang sama di sini, pasti #LiburanLokal kita juga bisa hemat kok.

    Saya mulai belajar merencanakan #LiburanLokal secara hemat ketika saya sering berdinas keluar kota. Kebanyakan travelling saya adalah “travelling abidin”, alias "atas biaya dinas". Berhubung project yang saya tangani memiliki anggaran akomodasi yang pas-pasan, saya harus mencari hotel bintang 2 atau 3 untuk akomodasi. Dari sini saya belajar bahwa ada hotel-hotel murah dengan layanan yang baik, dan sebaliknya, tinggal di hotel mahal tidak menjamin kenyamanan saat bepergian. Sebagai contoh, Anda memilih menginap di hotel resort yang terletak di jalan menuju Kaliurang, padahal tujuan Anda ke Yogyakarta adalah pergi belanja ke Malioboro. Jadi musti keluar ongkos lagi khan? Belum lagi kalau di resort bintang 5, yang namanya internet seringkali tidak gratis. Kalau saya, saya akan memilih menginap di hotel budget yang bersih, nyaman dan aman, dekat keramaian (jadi tak perlu keluar ongkos terlalu besar), dan internetnya gratis.

    Bukan di Malibu tapi di Bukit Malimbu, Lombok

    Demikian juga dengan transportasi di tempat tujuan, saya berkesempatan mempelajari ada transport umum apa saja, murah atau tidak, nyaman atau tidak, dan praktis atau tidak. Beberapa kota di Indonesia memang belum memiliki transportasi umum yang memadai, sehingga seringkali kita harus menyewa kendaraan. Tapi bagi kota-kota di Indonesia dengan fasilitas transportasi umum yang memadai, walaupun mungkin kita harus sering naik taksi dari satu tempat ke tempat lain, namun jika dihitung-hitung bisa jauh lebih murah daripada sewa mobil seharian. Dari kedua hal ini, saya bisa merencanakan perjalanan #LiburanLokal saya atas biaya sendiri, biayanya bisa lebih hemat daripada kalau pakai tour, namun dengan standar kenyamanan dan keamanan yang tetap terjaga.

    Bukan di Eropa tapi di Tangkubanperahu
    Tentang tiket pesawat, kasusnya lain lagi. Memang betul, tiket murah dari low cost airline memungkinkan kita pergi ke mana-mana dengan biaya sangat ekonomis. Tapi saya orang yang butuh kenyamanan dalam naik pesawat : ruang tunggu yang nyaman, kabin pesawat dengan jarak tempat duduk agak longgar (secara kaki saya panjang), dan kelakuan penumpang lain yang tidak annoying. Oleh karena itu, airline favorit saya adalah airline plat merah yang warna catnya biru (ehm!). Mengingat harga tiketnya yang tidak murah (tapi berbanding lurus dengan segala kenyamanan yang diberikan, baik sebelum maupun saat terbang), ada beberapa trik yang saya lakukan untuk mendapat tiket murah airline tersebut : cari jam aneh untuk terbang, pesan jauh-jauh hari, atau manfaatkan poin program loyalti. Namun demikian, tidak ada yang salah dengan low cost airline, hanya kita perlu sadar bahwa ketika kita memilih menggunakan low cost airline, berarti kita sudah bersedia dan siap menerima sepaket konsekuensinya. Pada kenyataannya, beberapa destinasi #LiburanLokal favorit saya tidak dilayani oleh airline favorit saya, seperti Belitung dan Raja Ampat, sehingga saya pun harus menggunakan airline lainnya.


    Bukan di Bencoolen Street Singapura, tapi di Bengkulu (the real Bencoolen)
    Salah satu #LiburanLokal hasil travelling abidin saya adalah liburan keluarga ke Ranah Minang. Sudah lama saya bercita-cita liburan ke Sumatra Barat, tapi belum pernah menemukan alasan yang tepat untuk ke sana. Tahun 2007, saya berkesempatan untuk berdinas ke Bukittinggi, sehingga saya mendapatkan gambaran singkat mengenai suasana di Ranah Minang. Enam bulan kemudian, saya memprovokasi keluarga untuk berlibur ke Ranah Minang (tentunya dengan segala bujuk rayu dan daftar apa saja yang bisa dilihat di sana). Akhirnya provokasi saya berhasil, dan kami memesan tiket 3 bulan sebelumnya. Hasil akhir dari perjalanan ini memuaskan semua orang, karena apa yang kami peroleh selama liburan melebihi ekspektasi awal. #LiburanLokal ke Ranah Minang di tahun 2008 itu akan menjadi salah satu kenangan manis liburan kami.

    Bukan di Cina tapi di Sam Poo Kong, Semarang
    Bagi saya, liburan bukan cuman sekedar pindah tidur ke hotel mewah sambil berenang di kolam renangnya. Dalam liburan harus ada sesuatu yang baru, memiliki pengetahuan baru, atau menikmati/melakukan hal yang berbeda dengan rutinitas sehari-hari. Dan yang paling betul adalah liburan itu harus bebas dari urusan pekerjaan (namanya juga libur!). Kalau masih diganggu juga sama urusan kerjaan, itu namanya pindah tidur (atau lebih parah lagi, pindah kantor).

    Kembali ke urusan #LiburanLokal. Gara-gara dijadikan project officer pelatihan yang diselenggarakan di seluruh antero Nusantara, saya berkesempatan melihat banyak kota, baik di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Ternyata kata orang-orang memang betul, Indonesia memiliki kekayaan pariwisata yang sangat beragam. Dari perjalanan-perjalanan itu, menurut saya kalau kita ada niatan melakukan #LiburanLokal, pasti bisa! Di era informasi seperti sekarang ini, info liburan itu sangat banyak, tinggal tanya mbah Google, langsung keluar berbagai info tempat wisata, akomodasi, dan transportasi. Malas buka mbah Google? Di toko buku juga banyak buku2 panduan wisata dalam negeri hasil karya anak bangsa.

    Masih teringat dalam benak saya, ketika saya mewawancara seorang kandidat anggota tim pengajar di Surabaya. Suatu hari, dalam percakapan via messenger, sang kandidat (yang akhirnya terpilih sebagai anggota tim) bertanya, saya di Surabaya sudah ke mana saja? Menurut dia (yang notabene orang lokal), di Surabaya tidak ada obyek menarik selain mall dan wisata kuliner, paling banter Jembatan Suramadu. Saya bilang, saya sudah pernah ke Kebon Binatang Surabaya, Jembatan Suramadu hingga Bangkalan, Monumen Kapal Selam, Patung Joko Dolog, House of Sampoerna dan Surabaya Heritage Tour, Tugu Pahlawan,dan saat itu saya baru saja mengunjungi 4-Faced Buddha di Kenjeran, yang belum tinggal Museum Mpu Tantular. Sang kandidat hanya bisa berkata : Owww. Ternyata, permasalahan minimnya info #LiburanLokal bukan karena kita gak mau, tapi karena kebanyakan dari kita gak sadar kalau sebenarnya banyak hal menarik di sekitar kita yang berpotensi untuk dijadikan destinasi #LiburanLokal.


    Bukan di Eropa, tapi di Stasiun Tanjung Priok
    Oh ya, sebelum lupa. #LiburanLokal juga tidak berarti kita harus pergi keluar kota dan menginap. Lihat dulu di sekeliling rumah kita, jangan-jangan ada obyek yang menarik yang perlu disambangi. Misalnya bagi kita yang tinggal di Jakarta, sebelum pergi menjebakkan diri di tengah kemacetan Bandung untuk berlibur, sempatkan diri untuk mengunjungi Museum Nasional dengan gedung barunya. Atau yang tadinya berencana mau ke Malioboro tapi kehabisan tiket, tengok dulu Petak Sembilan dan Pasar Asemka, bisa jadi Anda menemukan hal menarik yang tidak akan Anda temukan di Malioboro. Keliling Kota Jakarta dengan busway atau KRL Commuter juga merupakan hal menarik yang bisa dicoba.
      
    Bukan di Smithsonian tapi di Museum Geologi, Bandung
    So, apa saja keuntungan #LiburanLokal? Bagi kita yang melakoninya, kita bisa dapat pengetahuan baru, pengalaman baru, teman-teman baru, networking baru. Di sisi lain, #LiburanLokal juga merupakan kesempatan untuk memajukan perekonomian bangsa dari industri pariwisata. Bayangkan dengan melakukan #LiburanLokal, akan meningkatkan pendapatan perusahaan transportasi domestik (mulai dari PT KAI, perusahaan penerbangan), akomodasi (terutama penginapan dan jaringan hotel domestik), rumah makan, tempat wisata, dan lain sebagainya.  Jangan lupakan juga pendapatan para penduduk setempat, mulai dari mereka yang berusaha di kaki lima, hingga para pegawai hotel bintang lima. Jadi, dengan #LiburanLokal, kita untung bangsa untung.

    Monday, December 03, 2012

    [EnjoyJakarta] Rumah Si Pitung, Warisan Budaya Pesisir di Jakarta Utara

    Rumah Si Pitung adalah obyek wisata sejarah dan budaya yang terletak di Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara. Rumah yang terletak di lahan seluas 700 meter persegi ini sebenarnya bukan rumah kelahiran atau milik keluarga Si Pitung, melainkan milik Haji Syafiuddin, seorang pengusaha “sero” yang menurut masyarakat setempat pernah dirampok oleh Pitung, jawara Betawi yang terkenal akan perjuangannya melawan ketidakadilan penguasa Hindia Belanda di Betawi, dengan merampok orang-orang kaya dan membagikan hasil rampokannya kepada rakyat miskin. Berdasarkan peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 9 tahun 1999, rumah ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya.

    Rumah Si Pitung berbentuk rumah panggung dengan gaya arsitektur Bugis. Gaya arsitektur rumah panggung ini sesuai dengan lokasi rumah yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai, sehingga berpotensi terkena ombak besar atau banjir rob. Dari sumber yang mengatakan bahwa rumah ini dirampok Pitung pada tahun 1883, rumah ini diperkirakan berdiri pada abad 19. Rumah panggung sepanjang 15 meter, lebar 5 meter dengan tinggi 2 meter ini ditopang oleh 40 buah tiang setinggi 2 meter, sehingga penduduk menyebutnya sebagai Rumah Tinggi. Rumah ini dilengkapi dengan dua buah beranda, masing-masing di sisi depan dan belakang rumah yang dilengkapi tangga setinggi 1,5 meter. Rumah ini memiliki empat buah pintu dan sepuluh buah jendela.
    Saat ini di dalam Rumah Si Pitung terdapat beberapa perabot khas Betawi, seperti kursi tamu, tempat tidur, meja rias, permainan congklak, dan peralatan dapur. Sebagian perabot kuno ini bukan berasal dari interior asli rumah, melainkan sumbangan dari berbagai pihak. Di dinding rumah terdapat panel yang menceritakan kisah Si Pitung, yang diambil dari artikel “Si Pitung, Perampok atau Pemberontak?” yang ditulis Ridwan Saidi dan dimuat di Majalah Tani pada tahun 2009.

    Rumah ini pernah direnovasi beberapa kali. Renovasi pertama dilakukan pada tahun 1972, dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. Beberapa penggantian yang dilakukan pada renovasi ini adalah perubahan interior rumah dari semula memiliki 3 kamar menjadi tinggal 1 kamar, penggantian lantai bambu menjadi lantai kayu jati, dan pengecatan dinding kayu rumah dengan warna merah delima. Renovasi terakhir dilakukan pada tahun 2010, dengan penambahan panggung beton setinggi 50 cm, untuk memastikan rumah ini tidak terendam banjir saat air pasang menggenangi pekarangan dan kolong rumah.

    Untuk mencapai Rumah Si Pitung, bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menggunakan angkutan umum arah Marunda. Patokannya adalah papan petunjuk menuju kampus Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Marunda, Jl. Marunda Makmur, Cilincing. Jika menggunakan angkutan umum, turun di depan jalan masuk Kampus STIP, sedangkan jika menggunakan kendaraan pribadi, telusuri jalan di samping kampus menuju ke arah pantai. Di sisi kanan akan tampak tanah lapang dengan warung-warung yang dijadikan tempat parkir untuk kendaraan pribadi. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyeberangi jembatan beton di atas Sungai Blencong ke arah Marunda Pulo. Rumah Si Pitung berjarak kurang lebih 300 meter dari jembatan Sungai Blencong, menelusuri pematang beton yang melintasi rawa-rawa.

    Sunday, August 12, 2012

    [Love Journey] - Kembali ke Bukittinggi


    Saya sudah banyak melakukan perjalanan ke berbagai penjuru Nusantara, namun baru kali ini ada sebuah destinasi wisata yang memberikan perasaan seperti “jatuh cinta pada pandangan pertama”, dan tempat itu adalah Bukittinggi. Ya, ketika pertama kali saya menginjakkan kaki di kota ini di tahun 2007, saya langsung jatuh cinta pada keindahan alamnya. Sayangnya waktu itu saya hanya punya waktu satu malam, sehingga saya tak sempat menjelajahi Bukittinggi yang juga terkenal dengan berbagai peninggalan sejarahnya. Saya pun bertekad suatu hari saya harus kembali lagi untuk menjelajahi Bukittinggi. 

    Akhirnya, setahun setelah kunjungan pertama saya, saya berhasil mengajak keluarga saya untuk berwisata di Bukittinggi, tentu saja dengan bujukan-bujukan yang mengatakan bahwa banyak tempat menarik yang bisa dilihat di sana. Persiapan kami lakukan kurang lebih selama sebulan untuk mengatur itinerary, tiket pesawat, transportasi dan akomodasi selama di sana. Dan akhirnya, bertepatan dengan libur Hari Natal tahun 2008, saya dan keluarga menginjakkan kaki ke Bukittinggi.

    Setelah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau, dengan menggunakan kendaraan sewaan kami langsung berangkat ke Bukittinggi. Sepanjang perjalanan menuju Bukittinggi, kami melewati jalur Padang-Padangpanjang-Bukittinggi yang berbukit-bukit. Dengan pemandangan yang begitu hijau dan rimbun, membuat anggota keluarga saya yang lain langsung ikut jatuh cinta pada panorama alam Sumatra Barat. Pertama kali kami berhenti di Aia Tajun Lembah Anai. Berbeda dengan air terjun yang umumnya terletak jauh di dalam hutan atau kebun raya, air terjun setinggi 30 meter ini terletak di pinggir jalan utama, sehingga melihatnya saja sudah memberikan sensasi tersendiri, apalagi saat kami turun dan menyentuhkan tangan di air yang dingin. Perasaan ini ditambah dengan suasana segar di sekitar air terjun, serta pemandangan dramatis berupa paduan jembatan rel kereta api dan jalan raya yang melintas area dekat Aia Tajun Lembah Anai. Sulit mencari pemandangan seperti ini di tempat lain yang pernah kami kunjungi.

    Setelah 2 jam perjalanan dari Bandara Minangkabau, kami tiba di Bukittinggi. Sebelum memasuki kota, dari kejauhan terlihat panorama Gunung Singgalang, salah satu gunung yang mengapit Kota Bukittinggi. Begitu kami keluar dari kendaraan, terasa hawa dingin khas pegunungan. Bukittinggi memang kota paling dingin di Sumatra Barat, dengan ketinggian 930 meter di atas permukaan laut, dan suhu udara pada rentang 16-25 derajat Celcius. Saya teringat kembali saat pertama kali menginjakkan kaki di kota ini dan menghirup udara dingin beraroma bersih dan segar, mungkin hal inilah yang membuat saya jatuh cinta dan ingin kembali ke Bukittinggi.

    Ketika kami meletakkan barang-barang di hotel dan membuka jendela, terlihat panorama kota yang penuh bangunan, yang merupakan perpaduan bangunan modern dan bangunan bergaya tradisional. Yang membuat lebih menarik, bangunan-bangunan ini berpadu dengan panorama alam berupa gunung yang mengelilingi Kota Bukittinggi. Rasanya tidak bosan melihat pemandangan yang unik seperti ini. Namun kami tak bisa berlama-lama di hotel, karena tak sabar lagi untuk menjelajahi Kota Bukittinggi.

    Salah satu tujuan kami ke Bukittinggi adalah melakukan wisata sejarah, sebuah kegiatan wisata yang merupakan passion kami. Banyak bangunan lama dan peninggalan sejarah yang masih terawat di kota ini, di antaranya adalah Fort de Kock, Rumah Kelahiran Bung Hatta, Museum Rumah Adat Baanjuang, dan Lubang Jepang. Tempat yang menjadi tujuan pertama kami adalah Taman Bundo Kanduang, untuk melihat Fort de Kock dan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Benteng Fort de Kock berdiri di atas Bukit Jirek, didirikan oleh Captain Bauer pada tahun 1825. Sebenarnya nama asli dari Fort de Kock adalah “Sterreschans”, yang berarti bintang pelindung. Sedangkan yang disebut sebagai “Fort de Kock” sebenarnya adalah area di sekitar benteng Sterreschans, yang sekarang menjadi Kota Bukittinggi. Nama Fort de Kock diambil dari nama Jendral Baron Hendrik Markus De Kock yang ketika itu menjabat sebagai Wakil Gubernur Jendral Hindia Belanda. 

    Ketika kami memasuki area benteng, kami mendapatkan sebuah “kejutan” : mana bentengnya? Tadinya saya berharap akan melihat sebuah bangunan yang kokoh, atau setidaknya sisa bangunan tersebut. Kami hanya menemukan menara air, beberapa meriam dan parit perlindungan di atas bukit. Jadi sepertinya yang disebut benteng Fort de Kock adalah area berkontur tinggi yang digunakan sebagai sarana pertahanan terhadap serangan Kaum Paderi di bawah pimpinan Tuanku Imam Bonjol. Setelah puas melihat-lihat di Fort de Kock, kami menyeberangi jembatan cantik yang dihiasi tiang beratap gonjong (atap khas rumah gadang) bernama Jembatan Limpapeh. Saking cantiknya, saya mencoba memotret jembatan ini dari berbagai sudut, untuk bisa memperoleh foto yang “sempurna”. Dari atas jembatan, kami menikmati pemandangan yang menakjubkan : keindahan alam Bukittinggi dengan gunung dan sawah menghijau, berpadu dengan keramaian Jl. Ahmad Yani yang berada di bawah jembatan. Rasanya tidak bosan-bosan kami melintas bolak-balik di atas jembatan yang cantik ini.

    Di sisi seberang jembatan, kami menuju Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan. Kebun binatang ini satu-satunya kebun binatang di Sumatra Barat, dan merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Area ini dibangun pada tahun 1900 oleh Controlleur Strom Van Govent, dan dijadikan kebun binatang oleh Dr. J Hock pada tahun 1929. Di dekat kebun binatang, terdapat rumah gadang yang merupakan tempat Museum Rumah Adat Baanjuang. Rumah adat Minangkabau ini dibangun oleh Mr. Modelar Countrolleur di tahun 1935, untuk menghimpun benda-benda sejarah dan budaya Minangkabau. Di museum ini kami melihat bukti-bukti kekayaan budaya khas Minangkabau, seperti pakaian adat, alat musik, alat ketrampilan, dan senjata.

    Keluar dari Taman Bundo Kanduang, kami bergegas menuju Jam Gadang, landmark Bukittinggi yang terletak di Taman Sabai Nan Aluih, tepat di pusat Kota Bukittinggi. Ibaratnya, belum ke Bukittinggi kalau belum menginjakkan kaki di Jam Gadang. Pada kunjungan saya untuk pertama kalinya di tahun 2007, saya hanya berkesempatan melihat landmark ini di malam hari. Namun ketika saya datang lagi, melihat menara Jam Gadang yang begitu megah dan unik, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah bosan untuk mengunjungi tempat ini. Secara harfiah, “Jam Gadang” berarti jam besar, dan tidak mengherankan karena diameter jam ini berukuran 80 centimeter, jauh lebih besar daripada ukuran jam pada umumnya. Menara Jam Gadang setinggi 26 meter ini didirikan oleh Controlleur Rook Maker pada tahun 1926, sebagai tempat untuk meletakkan jam besar yang merupakan hadiah dari Ratu Belanda. Bangunan menara yang ada sekarang memiliki bentuk atap gonjong khas rumah adat Minangkabau, dan merupakan rancangan Jazid dan Sutan Gigih Amen. Karena saat itu suasana tidak terlalu ramai, kami pun berfoto-foto dalam berbagai posisi, sekaligus untuk menunjukkan bahwa tak hanya London yang punya Big Ben, Bukittinggi pun punya Jam Gadang.

    Setelah makan siang, kami pergi ke Taman Panorama. Sebelum menikmati keindahan Ngarai Sianok, kami mengunjungi Lubang Jepang. Walaupun namanya berawal dengan kata “lubang”, tempat ini sebenarnya adalah jaringan terowongan buatan yang digunakan tentara Jepang sebagai markas di Kota Bukittinggi. Terowongan ini dibuat pada tahun 1942 di bawah pimpinan Jendral Watanabe, dan ditinggalkan saat Jepang menyerah pada Sekutu di tahun 1945. Tahun 1946, penduduk secara tak sengaja menemukan terowongan ini. Pemda Bukittinggi kemudian merenovasi terowongan dan menambahkan fasilitas seperti tangga, lampu dan pemandu bersertifikat, sehingga wisatawan dapat masuk ke dalam terowongan dengan nyaman, sekaligus mendapatkan informasi mengenai kisah sejarah terowongan tersebut.
    Hari itu kami dipandu pak Jeffri, pemandu bersertifikat di Taman Panorama. Ia menjelaskan bahwa Lubang Jepang merupakan jaringan terowongan di kedalaman 50 meter dengan total panjang mencapai 1470 meter, membuat Lubang Jepang sebagai gua Jepang terpanjang di Indonesia. Untuk memasuki terowongan, pak Jeffri membawa kami ke pintu masuk yang terletak di Taman Panorama. Pintu ini sebenarnya adalah lubang ventilasi, yang kemudian diperbesar dan diberi anak tangga berjumlah 128 buah. Ketika kami menuruni anak tangga tersebut, ternyata 40 meter itu tidak dekat, karena rasanya tidak sampai-sampai.
    Di dalam terowongan, Pak Jeffri menjelaskan bahwa terowongan ini dibangun dengan tangan manusia tanpa menggunakan alat berat. Terowongan ini tak hanya berupa lorong-lorong, tetapi juga terdapat beberapa ruangan seperti barak militer, tempat tidur, ruang amunisi, ruang makan romusha dan ruang sidang. Sebagai pelengkap, terdapat ruang dapur dan ruang penjara. Pak Jeffri bercerita bahwa di dekat ruang dapur terdapat lubang tempat pembuangan sampah dapur dan mayat tahanan tentara Jepang yang sudah tewas. Rasanya merinding membayangkan keadaan pada masa itu, mengingat para romusha bekerja membangun terowongan dengan tangannya, serta bagaimana para tahanan tewas dengan mengenaskan dan dibuang keluar. Setelah melihat-lihat di sepanjang terowongan, kami pun kembali mendaki anak tangga sejauh 40 meter, dan rasanya lega sekali setelah kami tiba di permukaan.
    Keluar dari Lubang Jepang, mulailah kami menikmati panorama Ngarai Sianok, “The Grand Canyon of Indonesia”. Ngarai Sianok adalah lembah curam sedalam 100 meter yang terletak di jantung kota Bukittinggi, dan memanjang sejauh 15 km dari selatan Koto Gadang hingga Palupuh, Agam. Nama “Sianok” berarti diam, yang diberikan karena pada jaman dahulu di dasar ngarai banyak ditemukan jenasah korban penyiksaan tentara Jepang, yang hanya ‘membisu’ ketika dilempar dari atas ngarai. Di dasar ngarai, terdapat sungai Batang Sianok yang jernih. Kami berkesempatan untuk naik ke menara pandang, agar dapat menyaksikan pemandangan Ngarai Sianok dengan lebih leluasa. Melihat betapa panjang dan luasnya Ngarai Sianok, hati ini bergetar, betapa indahnya panorama Kota Bukittinggi.

    Paduan keindahan panorama alam yang menakjubkan, hawa sejuk segar tanpa polusi, serta banyaknya peninggalan sejarah dan kekayaan budaya Bukittinggi, membuat sulit untuk tidak jatuh cinta pada kota ini. Sayang sekali, waktu kami di Bukittinggi terbatas, sehingga kami belum bisa menjelajahi seluruh penjuru kota. Masih banyak obyek peninggalan sejarah yang belum sempat kami kunjungi, seperti Rumah Kelahiran Bung Hatta dan Museum Perjuangan Eka Sapta Darma. Seandainya diberi kesempatan lagi, saya ingin sekali kembali ke Bukittinggi, untuk meneruskan penjelajahan di kota yang penuh romansa ini.


    Note : Kenang-kenangan posting di Multiply untuk ikut lomba travelling blog [Love Journey], pindahan dari : http://tathagati.multiply.com/journal/item/111/Love-Journey-Kembali-ke-Bukittinggi