<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216</id><updated>2011-11-27T17:51:05.117-07:00</updated><category term='bandung'/><category term='nagabonar'/><category term='vacation'/><category term='eeyore'/><category term='gas station'/><category term='music'/><category term='cross stitch'/><category term='cinta'/><category term='kebakaran'/><category term='IIDN'/><category term='pertamina'/><category term='liburan'/><category term='museum'/><category term='book'/><category term='airline'/><category term='jakarta'/><category term='lebaran'/><category term='culinary'/><category term='publisher'/><category term='outdoor'/><category term='kuliner'/><category term='jurnalistik'/><category term='leisure'/><category term='kelapa sawit'/><category term='bengkulu'/><category term='travel'/><category term='fire'/><category term='semarang'/><category term='craft'/><category term='ancol'/><category term='batik'/><category term='surabaya'/><category term='garuda indonesia'/><category term='koran'/><category term='mall'/><category term='yogyakarta'/><category term='kahlil gibran'/><category term='sam po kong'/><category term='sumatra'/><category term='star trek'/><category term='film'/><category term='kla project'/><category term='crochet'/><category term='nagabonar 2'/><category term='pesawat'/><category term='spbu'/><category term='training'/><category term='kristik'/><title type='text'>Arin's Logbook</title><subtitle type='html'>My thought, my joy, my grief, my dream...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>52</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-3542581667150505121</id><published>2011-10-22T09:25:00.001-07:00</published><updated>2011-10-22T09:27:44.206-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='museum'/><title type='text'>Museum Mainan Anak Kolong Tangga</title><content type='html'>Museum Mainan Anak Kolong Tangga barangkali merupakan salah satu museum yang paling jarang didengar. Museum ini terletak di Yogyakarta, tepatnya di dalam kompleks Taman Budaya, Jl. Sriwedani No. 1. Saya sendiri sempat kesulitan mencari letak museum ini, padahal Taman Budaya ternyata terletak di belakang Taman Pintar/Benteng Vredeburg. Sudah sampai di Taman Budaya pun masih harus cari-cari karena tidak ada petunjuk museum ini ada di gedung mana. Untung pak Satpam berbaik hati menunjukkan tempat museum ini pada saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya berhasil menemukan museum ini, yang terletak di lantai 2 gedung Taman Budaya. Rupanya nama "Kolong Tangga" memang mencerminkan posisi museum, walaupun tidak benar-benar di bawah kolong tangga. Museum ini terletak di bawah auditorium, di belakang 2 buah tangga menuju auditorium, jadi terlihat seolah-olah di kolong tangga. Tiket masuk museum juga tidak mahal, hanya Rp 4.000. Tapi di dalam museum tidak boleh memfoto koleksi, kecuali ada obyek orangnya... (berarti foto narsis boleh ya?) Sayang sekali, saya datang sendirian, jadi tidak bisa berfoto di dalam museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi museum ini memang unik dan berbeda dengan museum pada umumnya, karena berupa mainan anak-anak. Tadinya saya pikir museum ini hanya menyimpan koleksi mainan anak dari seluruh wilayah Indonesia, namun ternyata koleksi mainan di museum ini berasal dari seluruh dunia! Wow! Salah satu tampilan di museum ini adalah penjelasan dan foto-foto permainan anak-anak dari seluruh dunia. Saya rasa bukan cuman anak-anak yang senang diajak ke museum ini untuk melihat berbagai jenis mainan, bahkan saya pun bisa mendapat pengetahuan baru tentang berbagai mainan dan permainan anak yang ada di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu koleksi museum yang paling saya ingat adalah 1 lemari berisi mainan dengan tema Winnie The Pooh, dan tentu saja ada Eeyore, si keledai biru yang selalu muram. Eeyore is my favorite, so I love this collection!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-3542581667150505121?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/3542581667150505121/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=3542581667150505121' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/3542581667150505121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/3542581667150505121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2011/10/museum-mainan-anak-kolong-tangga.html' title='Museum Mainan Anak Kolong Tangga'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Yogyakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.797224 110.36879699999997</georss:point><georss:box>-7.8339385 110.33883999999998 -7.7605094999999995 110.39875399999997</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-8462875588763858591</id><published>2011-10-22T09:11:00.000-07:00</published><updated>2011-10-22T09:11:52.549-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='publisher'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='IIDN'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Penerbitan Buku Indie</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Di posting yang lalu, saya memperkenalkan buku self-publishing pertama saya, "Catatan Kecil dari Pojok Nusantara". Ini salah satu percobaan penerbitan buku secara Indie, dan ternyata tidak sulit untuk menerbitkan buku secara Indie. Postingan ini merupakan editan dari postingan original di grup Ibu-Ibu Doyan Nulis DKI :&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide untuk menerbitkan buku secara self-publishing muncul setelah saya ikut Kursus Menulis Online yang diselenggarakan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) pimpinan teteh Indari Mastuti. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Kemarin waktu saya ikut KMO, iseng-iseng saya tanya tentang penerbitan Indie, berapa modal yang harus dikeluarkan, dlsb dlsb. Teh Indari merekomendasikan untuk menghubungi mas Anang Yb, karena beliau ada paket produk Rp 800.000 utk 40 eksemplar. Dari mas Anang saya diteruskan ke Red Carpet Studio (http://redcarpetstudio.net).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Setelah saya mempelajari websitenya Red Carpet dan banyak bertanya sama bagian marketingnya, di situ ada ketentuan bahwa paket itu terbatas untuk buku maksimum 100 halaman A5, black-white, belum termasuk pengurusan ISBN, desain cover dan ongkos kirim. Tentu saja kita bisa punya desain cover sendiri untuk lebih hemat, ato mau ngurus ISBN sendiri juga bisa langsung dateng ke Perpustakaan Nasional karena prosesnya tidak sulit.... Paket ini belum termasuk editing dan layout, jadi kita harus mengedit dan melayout sendiri. Mereka ada juga jasa edit dan layout, tapi harus bayar lagi... Mereka juga "mengencourage" bahwa selain hasil cetakan ini bisa dijual secara Indie, buku cetakan ini juga bisa dilampirkan untuk penawaran naskah kita ke penerbit yang sudah mapan, jadi calon penerbit tidak hanya melihat proposal naskah, tapi sudah lihat "dummy"nya. (ada beberapa testimoni pelanggan mereka di website)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Jadi saya putuskan iseng-iseng mencoba mencetak buku di Red Carpet Studio, dengan tema antologi perjalanan wisata. Saya ambil paket yang "reguler" untuk mencetak 40 eksemplar buku. Cover saya minta dari Red Carpet yang mendesain, jadi ada tambahan biaya. Bagi saya, cover itu penting karena memberikan kesan pertama, jadi tidak masalah jika saya minta mereka saja yang mendesain cover. Dokumen yang siap dicetak dibuat dalam format PDF, kemudian dikirim ke mereka. Lama pengerjaan kira-kira 2 minggu-an.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Keuntungan dari penerbitan Indie model Red Carpet Studio ini, buku sudah tercetak, kita bisa menentukan harga sendiri, dan kendali pemasaran serta distribusi sepenuhnya ada pada kita. Memang tidak mudah memasarkan buku secara online, biarpun sudah dibantu di blog sama web social networking. Saya membuktikan sendiri, setelah 2 bulan naik cetak, buku yang laku belum ada separo dari 40 eksemplar. Tapi kalau kita sudah tahu 40 eksemplar buku ini mau diapakan (apakah kita titipkan di jaringan distribusi, toko buku, untuk hadiah, atau untuk portofolio), saya kira penerbitan model begini lebih cocok.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Model lain adalah Print-On-Demand (POD), seperti yang dilakukan oleh Leutikaprio. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Seperti tertulis di http://www.leutikaprio.com,  untuk bisa menerbitkan buku dengan mereka, kita memodali Rp 500.000  untuk edit typo dan EYD (tidak mengedit isi), layout, cover, ISBN, 1 jam  konsultasi, 1 kali proofing, serta 1 eksemplar contoh buku terbit.  Mereka juga akan bantu promo buku kita di web mereka dan FB. Harga buku ditentukan oleh Leutikaprio, dan penulis akan dapat royalti 15% dari harga buku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Untuk cara penerbitan seperti Leutikaprio, tentu ada plus minusnya juga. Di satu sisi, resiko buku tidak terjual bisa diperkecil, karena belum dicetak secara banyak. Di sisi lain, kita sudah keluar modal tapi gak langsung dapat bukunya. Cuman untuk Leutikaprio, d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;ari keterangan di webnya mereka, ada potensi bahwa  buku yang diterbitkan di Leutikaprio ini "berpindah" ke penerbit besar  di grup Leutika.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;Model lain untuk penerbitan secara Indie adalah dengan membuat e-book (format ePub) via Papataka.com. Dari segi resiko, karena tidak ada buku yang harus dicetak, sehingga resiko biaya baik bagi penulis maupun bagi Papataka sangat minim. Tapi... saat ini e-book belum terlalu populer di Indonesia, jadi e-book terbitan "indie" di Papataka masih belum laku keras. Memang ada saja yang beli, tapi tidak sebanyak buku-buku cetak.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak penerbitan Indie yang lainnya, yang juga patut untuk dicoba. Mengenai anda mau memilih model yang mana, tinggal tergantung mana yang lebih cocok. Semua ada plus minusnya, tinggal cari mana yang paling cocok, apakah model cetak sedikit seperti Red Carpet Studio, model POD seperti Leutikaprio, atau e-book seperti Papataka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: inherit;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-8462875588763858591?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/8462875588763858591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=8462875588763858591' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/8462875588763858591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/8462875588763858591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2011/10/penerbitan-buku-indie.html' title='Penerbitan Buku Indie'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-1722802018207148118</id><published>2011-09-07T06:19:00.001-07:00</published><updated>2011-09-07T07:31:14.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>My First Indie Book : Catatan Kecil dari Pojok Nusantara</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-24pR0PKuxuc/TlIFcABCQcI/AAAAAAAAAd0/rvfYTrdjn7U/s1600/cover_CKPN.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; cssfloat: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" qaa="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-24pR0PKuxuc/TlIFcABCQcI/AAAAAAAAAd0/rvfYTrdjn7U/s200/cover_CKPN.jpg" width="141" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Ini buku pertama saya yang diterbitkan secara Indie...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini berisi kumpulan artikel wisata dan perjalanan yang pernah dimuat di beberapa media, sekaligus sebagai catatan perjalanan ke tempat-tempat tersebut. Tak hanya menampilkan data teknis mengenai lokasi wisata dimaksud, anda juga diajak “berjalan-jalan” ke tempat-tempat tersebut, serta menikmati keunikan berbagai tempat wisata tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan buku ini teman perjalanan anda, and be inspired to visit many beautiful places in Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemesanan, hubungi : &lt;a href="mailto:arini_che@yahoo.com"&gt;arini_che@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-1722802018207148118?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/1722802018207148118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=1722802018207148118' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1722802018207148118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1722802018207148118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2011/09/my-first-indie-book-catatan-kecil-dari.html' title='My First Indie Book : Catatan Kecil dari Pojok Nusantara'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-24pR0PKuxuc/TlIFcABCQcI/AAAAAAAAAd0/rvfYTrdjn7U/s72-c/cover_CKPN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-8981804661032772343</id><published>2011-08-21T20:40:00.001-07:00</published><updated>2011-08-22T00:27:01.995-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Prambanan-Ratu Boko Trip</title><content type='html'>Siang itu, saya memutuskan untuk pergi ke Candi Prambanan. Semula saya tidak berniat ke Kompleks Kraton Ratu Boko, karena niat awal saya adalah mengunjungi 4 candi yang ada di Kompleks Candi Prambanan. Namun ketika saya hendak membeli tiket, saya melihat pengelola memiliki paket untuk pergi ke 2 kompleks candi tersebut, dan disediakan kendaraan untuk berpindah dari Kompleks Candi Prambanan dan Kompleks Kraton Ratu Boko. Wah, kebetulan sekali, ga perlu repot keluar dan pindah tempat sendiri! Saya kemudian membeli tiket dan menuju tempat menunggu yang disediakan oleh pengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama menunggu, akhirnya sarana transport yang mengangkut saya dan beberapa peserta paket hemat ini tiba, dan langsung mengangkut kami menuju Kompleks Kraton Ratu Boko. Ternyata perjalanan Prambanan-Ratu Boko tidak sedekat yang saya bayangkan. Dan yang lebih seru lagi, jalan masuk ke kompleks Ratu Boko ternyata sempit dan menanjak! Wah wah wah... sudah betul keputusan saya untuk beli paket hemat ini, mobil-mobil mereka semua bermesin diesel, kalau pakai Avanza bensin, jangan-jangan nanti ada acara dorong-mendorong untuk sampai ke tempat parkir! (Ehm, kayanya lebay deh...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Kompleks Kraton Ratu Boko, eh, belum, setibanya di kantor pengelola kompleks Kraton Ratu Boko, saya tidak langsung masuk ke area candi, melainkan menarik nafas terlebih dahulu sambil menikmati pemandangan di plaza yang disediakan. Pelataran tersebut menghadap ke arah Candi Prambanan, jadi saya bisa melihat pemandangan Candi Prambanan di sisi Kali Opak, sambil membayangkan barangkali raja yang dulu bertahta di kompleks keraton ini melihat pemandangan yang serupa (tentunya tanpa rumah-rumah penduduk dan jalan raya...). Kalau cuaca cerah, kita bisa melihat Gunung Merapi di kejauhan, ah, so romantic...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Ipk3SMjxRZM/TlH1e-qFNDI/AAAAAAAAAdY/XPX6if4Zul0/s1600/DSC01027.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" qaa="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-Ipk3SMjxRZM/TlH1e-qFNDI/AAAAAAAAAdY/XPX6if4Zul0/s320/DSC01027.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pemandangan Candi Prambanan dari Plaza Keraton Ratu Boko&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah mengumpulkan kekuatan, saya mulai melangkahkan kaki memasuki Kompleks Keraton Ratu Boko. Ternyata... jarak dari loket sampai ke bangunan pertama jauh banget! Akhirnya dengan ngos-ngosan, saya tiba di gerbang pertama Keraton Ratu Boko. Begitu melihat kemegahan bangunan gerbang tersebut, ngos-ngosannya langsung sirna seketika... Tak terbayangkan, di masa lalu, dengan teknologi yang (supposed to be) masih sederhana, nenek moyang kita sudah mampu membuat bangunan di puncak bukit seperti ini. Setelah gerbang pertama, masih ada gerbang kedua, yang lebih besar daripada gerbang pertama. Pengennya sih ngambil foto yang perfect (yang bangunannya aja), apa daya, ada orang pacaran sambil duduk di gerbang tersebut, sehingga saya harus mencari angle yang perfect supaya dua "nyamuk" itu tidak muncul di foto saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-kpd1wmfKS3w/TlH1jpE_VoI/AAAAAAAAAdc/tG8lbEhmuXY/s1600/DSC01037.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" qaa="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-kpd1wmfKS3w/TlH1jpE_VoI/AAAAAAAAAdc/tG8lbEhmuXY/s320/DSC01037.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Gerbang Keraton Ratu Boko (tanpa "2 nyamuk")&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengambil foto, saya melangkahkan kaki masuk ke dalam kompleks candi. Di sisi kiri sebelah bawah terdapat bangunan Candi Batu Putih, karena pondasinya terbuat dari batu putih. Niatnya sih pengen lihat lebih dekat, tapi melihat&amp;nbsp;5 ekor kambing sedang bercengkrama di bangunan tersebut, ga jadi aja deh... ga sebanding sama resikonya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-zzbfoB2vqr4/TlH1pPxwySI/AAAAAAAAAdg/CIKxCGWaetk/s1600/DSC01040.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" qaa="true" src="http://3.bp.blogspot.com/-zzbfoB2vqr4/TlH1pPxwySI/AAAAAAAAAdg/CIKxCGWaetk/s320/DSC01040.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kambing-kambing yang sedang leyeh-leyeh di Candi Batu Putih&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Akhirnya, saya sampai di tempat yang tampaknya merupakan alun-alun. Di sisi kiri terdapat tanah yang lebih tinggi, dan di atasnya ada candi pembakaran jenazah. Sayang, candinya sedang direnovasi, jadi saya kembali mengurungkan niat untuk melihat lebih dekat. Saya menyeberangi alun-alun dan menuju situs candi yang lain. O ya, walaupun kompleks ini&amp;nbsp; sudah dikelola oleh pengelola Borobudur Park, tapi di dalam masih ditemukan penduduk yang berjualan minuman, baik penjual keliling maupun warung. Tapi mengingat kompleks ini sangat luas dan terbuka, rasanya memang perlu ada para penjual minum ini. Yang nggak nahan sebenarnya bukan para pedagang minuman, tapi kambing-kambing yang pada merumput di situs ini, duh... paling takut kalau tiba-tiba kambingnya lari terus menyeruduk, males banget deh... &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Karena waktu terbatas, dan saya masih ingin mengunjungi candi Prambanan sebelum tutup, setelah melihat Kaputren dan Paseban saya kembali menuju pintu masuk. Wah, padahal masih ada Gua Lanang dan Gua Wadon yang konon ada simbol lingga dan yoni-nya... next time harus balik ke sini lagi kayanya... Dan akhirnya, saya kembali meluncur menggunakan transportasi yang disediakan pengelola menuju ke kompleks Candi Prambanan. &lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Di kompleks Candi Prambanan, wisata jalan kaki kembali dilanjutkan. Ketika melangkan menuju Candi Prambanan, saya baru "donk", ternyata dari tadi ada pengumuman mengenai candi-candi yang berada di bawah pengelolaan Kompleks Candi Prambanan. Jadi di kompleks ini ada 4 candi : Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. Candi Prambanan dibuat oleh Rakai Pikatan dari kerajaan Mataram Kuno dan merupakan candi Hindu. Uniknya, 3 candi yang lain (Lumbung, Bubrah, Sewu) adalah candi Buddha. Ini mencerminkan bahwa di masa lalu sudah terwujud kerukunan antar umat beragama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-pJ8SYaIKfDE/TlIDx-zW75I/AAAAAAAAAdw/qvTLggsDKKk/s1600/DSC01023.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" qaa="true" src="http://1.bp.blogspot.com/-pJ8SYaIKfDE/TlIDx-zW75I/AAAAAAAAAdw/qvTLggsDKKk/s320/DSC01023.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Candi Prambanan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Candi Prambanan, ternyata saya harus kecewa. Bukan kecewa karena sulit mendapat spot foto yang sempurna (saking banyaknya pengunjung, bahkan ada turis Jepang yang sangat excited di depan arca Nandi di dalam candi Wahana, dia terus bertanya kepada guide yang mendampingi, sementara teman-temannya sudah pindah ke lain candi), tapi karena beberapa candi tidak bisa dimasuki, karena sedang proses renovasi akibat gempa Yogyakarta tahun 2006 (so sad....). Salah satu candi yang tidak bisa dimasuki adalah candi Siwa, padahal arca Durga yang lebih dikenal sebagai arca Roro Jonggrang yang tersohor itu ada di dalamnya, hiks...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-wBYvt-SOsQM/TlH1ue6MLVI/AAAAAAAAAdk/mzMnsJztH9g/s1600/DSC01077.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" qaa="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-wBYvt-SOsQM/TlH1ue6MLVI/AAAAAAAAAdk/mzMnsJztH9g/s320/DSC01077.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Matahari yang nyaris terbenam di balik salah satu candi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya keluar dari Candi Prambanan, jam tangan saya sudah menunjukkan pukul 16.30, 30 menit sebelum waktu tutup. Yah, tampaknya 3 candi yang lain masih harus menunggu lain waktu... Tadinya mau mengejar kereta kelinci yang keliling, apa daya ketinggalan kereta. Jadi, setelah berjalan kaki agak jauh, akhirnya saya sampai juga ke Candi Lumbung. Namanya sudah sore, candi Lumbungnya sepiiii banget, apalagi dengan banyak batang-batang bambu untuk perbaikan, membuat penampakannya terlihat mengenaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-CJF5Ss_sKLs/TlH10zDXj6I/AAAAAAAAAdo/CGKanY2mYFs/s1600/DSC01085.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" qaa="true" src="http://4.bp.blogspot.com/-CJF5Ss_sKLs/TlH10zDXj6I/AAAAAAAAAdo/CGKanY2mYFs/s320/DSC01085.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Candi Lumbung yang sedang direnovasi&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju pintu keluar, saya masuk ke museum Arkeologi. Museum ini merupakan museum pendukung Kompleks Candi Prambanan, dan berisi penemuan arca di situs-situs sekitar candi. Di bagian akhir museum, dijelaskan sejarah penemuan dan restorasi candi Prambanan. Rupanya pekerjaan restorasi ini&amp;nbsp; sudah dimulai sejak jaman kolonial Belanda, karena beberapa lukisan menunjukkan proses restorasi candi yang cantik ini. Ah, kapan-kapan saya harus kembali kemari lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-nj27TTEiic8/TlH15hoFfUI/AAAAAAAAAds/zSHbAgife2U/s1600/DSC01088.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" qaa="true" src="http://2.bp.blogspot.com/-nj27TTEiic8/TlH15hoFfUI/AAAAAAAAAds/zSHbAgife2U/s320/DSC01088.JPG" width="240" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Arca Ganesha di Museum Arkeologi Prambanan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-8981804661032772343?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://tathagati.blogspot.com/prambanan-boko' title='Prambanan-Ratu Boko Trip'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/8981804661032772343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=8981804661032772343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/8981804661032772343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/8981804661032772343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2011/08/prambanan-ratu-boko-trip.html' title='Prambanan-Ratu Boko Trip'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Ipk3SMjxRZM/TlH1e-qFNDI/AAAAAAAAAdY/XPX6if4Zul0/s72-c/DSC01027.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Prambanan, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.755402699999999 110.48909800000001</georss:point><georss:box>-7.815293199999999 110.44940100000001 -7.6955122 110.52879500000002</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4602093498113338211</id><published>2011-06-14T21:34:00.001-07:00</published><updated>2011-06-17T19:02:22.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogyakarta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Ke Yogyakarta aku kan kembali</title><content type='html'>Tulisan ini mengawali rangkaian tulisan wisata keliling Yogyakarta yang baru saya jalani di pertengahan bulan Juni yang lalu. Saya tergelitik untuk membuat "preambule" ini, untuk menampung beberapa pengalaman menarik selama di Yogyakarta yang tak bisa saya masukkan dalam tulisan-tulisan berikutnya.&lt;br /&gt;Berawal dari ketika saya mendarat di Yogyakarta dan naik taksi menuju hotel pertama saya di Jl. Dagen, di sekitar Malioboro. Kenapa hotel pertama? Karena beberapa hari kemudian, saya pindah hotel ke Jl. Parangtritis. Alasan kepindahan ini bukan karena saya tidak suka hotel yang di Jl. Dagen, tapi karena pada hari tersebut saya bergabung dengan rombongan yang lebih besar, dan karena alasan operasional kami memilih menginap di Jl. Parangtritis. Dua daerah ini memiliki atmosfer yang berbeda, dan saya menikmati dua-duanya. &lt;br /&gt;Bagi mereka yang ingin mendekati keramaian, sangat disarankan untuk memilih hotel di dekat Malioboro, seperti Jl. Pasar Kembang (yang terkenal karena... ehm... ehm...), Jl. Sosrowijayan dan Jl. Dagen. Atau kalau memang punya anggaran lebih, silakan menginap di hotel bintang di Jl. Malioboro. Sangat mudah mencari tempat belanja dan tempat makan, karena tempat makan dan toko souvenir, baik dalam bentuk toko permanen maupun pedagang pinggir jalan, umumnya baru tutup pukul 21.00. Ketika mereka tutup pukul 21.00, keberadaan mereka digantikan oleh lesehan. Jam&amp;nbsp;7 pagi, ketika mall, toko batik dan souvenir belum buka, banyak warung-warung tenda yang menjajakan&amp;nbsp;sarapan pagi, tinggal pilih saja, mau sarapan umum seperti bubur ayam, atau sarapan khas Yogya seperti gudeg?&lt;br /&gt;Ketika pindah ke daerah Jl. Parangtritis, saya merasakan agak sulit untuk memuaskan hasrat berbelanja, karena di sepanjang Jl. Parangtritis jarang terdapat toko yang menjual souvenir atau oleh-oleh. Tak hanya hasrat berbelanja, bahkan untuk makan pun agak sulit mencari tempat yang representatif, karena restoran atau kafe yang ada umumnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan para wisman, misalnya suasananya agak remang-remang (duh, males banget deh kalau harus makan di tempat seperti ini!). Hanya ada satu-dua restoran yang representatif, itu pun terkadang harus berjalan kaki agak jauh dari hotel. Namun bagi mereka yang mencari ketenangan dan keteduhan (alih-alih mencari keramaian), atmosfer di daerah Jl. Parangtritis sangat cocok untuk anda kunjungi. Tinggal pilih, mau merenung di hotel yang pakai kolam renang, atau mau menyepi di hotel bergaya rumah Jawa klasik, semua ada di Jl. Parangtritis.&lt;br /&gt;Kembali ke saat pertama saya mendarat di Yogyakarta dan naik taksi ke Jl. Dagen. Ini bukan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Yogyakarta, namun barangkali baru kali ini saya pergi ke Yogyakarta dengan nawaitu untuk berwisata secara full-time dalam durasi yang panjang. Selama ini saya pergi ke Yogyakarta dengan tujuan untuk berdinas, acara keluarga, atau hanya numpang lewat saat pulang mudik Lebaran. Sangat jarang saya bisa berwisata secara full-time, sehingga kedatangan kali ini cukup istimewa bagi saya. Mungkin karena itu, saya merasakan atmosfer yang agak berbeda ketika melihat suasana sepanjang jalan menuju ke hotel. Selama ini saya beranggapan, Yogya lebih mirip Bali, tempat liburan favorit semua orang, apalagi dengan banyaknya wisman yang berkunjung ke Yogya. Tapi kenapa saya justru merasa kota ini lebih mirip Bandung, yang penuh dengan kreativitas warganya? Mungkin karena sepanjang jalan, saya melihat banyak poster yang mempromosikan acara-acara di kota Yogya, mengingatkan saya pada suasana Jl. Cihampelas. Namun ada satu hal unik yang saya rasakan di Yogya. Saya merasakan bahwa di tengah kota Yogya yang modern, masih terasa hawa tradisional yang sangat kental.&amp;nbsp;Sangat besar kemungkinan hal ini dipengaruhi dengan keberadaan keraton Yogyakarta,&amp;nbsp;di mana kami merasakan sendiri bahwa rakyat Yogya memang&amp;nbsp;bangga terhadap&amp;nbsp;Kesultanan Ngayogyakarta, tak hanya mereka yang masih tinggal di Yogya, tapi juga mereka-mereka yang sudah pindah ke daerah lain. Kebanggaan ini yang tidak saya rasakan di tempat lain, bahkan di "negara tetangga" keraton Solo, rasanya hiruk-pikuk masyarakatnya tidak sedinamis kota Yogyakarta.&lt;br /&gt;Hari pertama di Yogya, saya menikmati sore hari di Jl. Malioboro. Saya sempat mencoba naik delman dengan rute Kotagede-Jl. Rotowijayan-Bakpia Pathuk-kembali ke Jl. Malioboro. Untuk rute sejauh itu, saya membayar Rp 50.000. Tentu saja, pak kusir membawa saya mampir ke toko-toko suvenir, seperti toko kerajinan perak, toko Dagadu, toko batik, dan toko oleh-oleh di Pathuk. Sudah jadi rahasia umum, bahwa pak becak, pak kusir dan supir rental mendapat persenan apabila membawa tamu mengunjungi toko-toko suvenir seperti itu. Yah, namanya sama-sama cari rejeki, mudah-mudahan barokah ya Pak... Ketika saya keluar dari salah satu toko, saya baru memperhatikan, rupanya tiap kali kami berhenti, pak kusir memberi makan kudanya. Tadinya saya pikir rumput dan air itu disediakan oleh pemilik toko, rupanya rumput dan air itu dibawa dalam ember besi, dan digantung di bawah delman! Oalah, kasihan kudanya, sudah harus menarik delman, masih ketambahan beban satu ember besar air dan rumput!&lt;br /&gt;Selama melintas di Jl. Malioboro, saya baru sadar, salah satu keunikan Jl. Malioboro adalah "one-stop-shopping". Bukan sekedar karena semua oleh-oleh khas Yogya (baik makanan maupun barang) bisa diperoleh di Jl. Malioboro, namun di Jl. Malioboro kita bisa menemukan banyak hal : toko souvenir, makanan khas Yogya, pasar tradisional, mall modern, wisatawan lokal, wisatawan mancanegara, kantor pemerintahan, becak, delman, mobil, pengamen bergitar, pengamen angklung, wisata sejarah (ada benteng Vredeburg), budget hotel, dan hotel berbintang. Di mana lagi saya bisa menemukan lokasi selengkap ini?&lt;br /&gt;Salah satu kesulitan dalam mengatur perjalanan di Yogya adalah masalah itinerary. Sebenarnya, jarak antar lokasi di Yogya satu sama lain tidak terlalu jauh. Yang bermasalah justru mengatur waktunya, karena kebanyakan tempat menarik di Yogya buka jam 8-9, dan jam 2 siang sudah tutup, padahal dalam 1 tempat banyaaaak sekali yang harus dilihat. :( Dalam waktu 1 hari, paling-paling hanya bisa ke 1-2 tempat, padahal daftar tunggu yang harus dikunjungi di Yogya sudah sedemikian panjang. Untuk mengatasi ini, mau tidak mau saya harus menyusun prioritas, dan prioritas yang saya buat berdasarkan beberapa hal : tempat tersebut menarik atau tidak, ramai atau tidak, pernah dikunjungi atau tidak, aksesnya susah atau tidak, dlsb. Setelah melakukan survey kecil-kecilan di internet, akhirnya saya memutuskan mencoret beberapa tempat, karena ternyata tempat tersebut tidak ramai dikunjungi orang alias sepi, malas kan kalau harus berwisata di tempat sepi?&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah seminggu menikmati suasana kota Yogyakarta, saya berkesimpulan Yogya memang merupakan perpaduan antara Bali dan Bandung, di mana keindahan alam, peninggalan tradisional dan para wisman berpadu dengan kreativitas warga di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta. Dan dengan begitu banyak tempat menarik yang harus dikunjungi (mulai dari museum, desa wisata, tempat kerajinan, dan jangan lupakan wisata kuliner!), rasanya seminggu di Yogya tak cukup, jadi kapan-kapan saya harus kembali lagi ke Yogyakarta...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4602093498113338211?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://tathagati.blogspot.com/yogya' title='Ke Yogyakarta aku kan kembali'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4602093498113338211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4602093498113338211' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4602093498113338211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4602093498113338211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2011/06/ke-yogyakarta-aku-kan-kembali.html' title='Ke Yogyakarta aku kan kembali'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-975593470986024114</id><published>2011-02-21T02:12:00.000-07:00</published><updated>2011-02-26T19:48:45.155-07:00</updated><title type='text'>Another Episode of Mbatik Yuk : Batik dengan Cap</title><content type='html'>&lt;p&gt;Tanggal 21 Februari 2011 yang lalu, saya berkesempatan (lagi) untuk ikut kursus &lt;a href="http://mbatikyuuuk.com"&gt;&lt;font color="#776655"&gt;Mbatik Yuuk&lt;/font&gt;&lt;/a&gt; yang diberikan oleh ibu Indra Tjahjani. Kali ini temanya lain dari yang lain : membatik dengan cap. Duh, jadi penasaran...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum acara cap-capan dimulai, bu Indra kembali memberikan sedikit presentasi tentang batik, apa yang dimaksud dengan "batik", dan jenis-jenis batik yang populer serta maknanya. Ternyata, batik cap masih bisa dikategorikan "batik", karena walaupun tidak menggunakan canting, namun proses pembuatannya kurang lebih sama seperti batik tulis : malam diletakkan membentuk pola di atas kain-kain diberi warna-malamnya di"lorot" (tepatnya dilarutkan dengan air panas), and... voila! Jadilah batik cap!&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://tathagati.multiply.com/photos/hi-res/1M/406"&gt;&lt;img style="WIDTH: 82px;HEIGHT: 139px;" class="alignleft" border="0" src="http://multiply.com/mu/tathagati/image/eLSOBUR-CnXuE+bb1+kzpQ/photos/1M/300x300/406/DSC06698.JPG?et=PhokwEQHd8ZyyVavEcZbew&amp;nmid=0" width="116" height="187"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Selesai presentasi, mulailah kami bereksperimen dengan cetakan batik cap. Pas liat mas-mas yang memperagakan, kok kayanya gampang ya... begitu mencoba sendiri, haduh, ternyata cetakannya panas, euy... mana kalau malamnya kebanyakan, langsung membentuk "noda-noda yang tak diinginkan". Tapi itu tidak mengurangi semangat para peserta untuk mencoba men-cap-kan malam di atas kainnya masing-masing. Setelah acara cap-capan selesai, kainnya masih boleh dihias menggunakan canting atau parafin, sebelum kemudian diberi pewarna. Pas dikasih pewarna terus malamnya dilorot, eh, lumayan juga hasilnya, hehehe...&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img class="alignmiddleb" border="0" src="http://multiply.com/mu/tathagati/image/b+kaKVYBUx6+Yngj0KSMNg/photos/1M/300x300/407/DSC06706.JPG?et=M6yNuNu7x4ALpCOBPDR1vQ&amp;nmid=0"&gt;Lagi-lagi, setelah merasakan sendiri bagaimana (susahnya) membuat batik cap, kembali saya harus menyampaikan rasa kagum kepada bapak-bapak pengrajin batik cap. Cetakan yang mereka pakai jauh lebih besar dari yang kami gunakan saat kursus (dan tentunya lebih berat), namun mereka bisa membatik dengan cepat dan rapih, luar biasa khan? Kesimpulan dari workshop ini adalah : mari kita semakin menghargai hasil karya para pengrajin batik!&lt;/p&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-975593470986024114?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/975593470986024114/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=975593470986024114' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/975593470986024114'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/975593470986024114'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2011/02/another-episode-of-mbatik-yuk-batik.html' title='Another Episode of Mbatik Yuk : Batik dengan Cap'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-6538389063072757138</id><published>2010-12-25T05:34:00.013-07:00</published><updated>2011-01-01T03:58:24.883-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jakarta'/><title type='text'>Destinasi Wisata Pesisir : gemana seh???</title><content type='html'>Sebenernya niatan saya untuk menelusuri destinasi wisata di Jakarta Utara berawal dari keisengan semata : pengen tahu di mana ujung tol JORR di sisi Cilincing (karena sepengetahuan saya saat ini tol itu belum 'nyambung' dengan tol Wiyoto Wiyono). Berhubung sudah sampai daerah sana, masak cuman ngukur jalan, jadi kami merencanakan untuk mengunjungi beberapa obyek wisata di Jakarta Utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca-baca di &lt;a href="http://id.wisatapesisir.com/sunda-kelapa/726-promosi-12-destinasi-wisata-pesisir-kepada-ratusan-pengusaha-hiburan"&gt;website ini&lt;/a&gt;, dan menemukan 'iklan' di tol layang Wiyoto Wiyono, rupanya ada 12 Destinasi Wisata Pesisir di Jakarta Utara : Taman Margasatwa Muara Angke, Sentra Perikanan Muara Angke, Kawasan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang, Sentra Belanja Mangga Dua, Taman Impian Jaya Ancol (TIJA), Bahtera Jaya Ancol, Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Islamic Center, Gereja Kampung Tugu, Kampung Marunda, Sentra Belanja Kelapa Gading (mungkin lebih tepat klo sebutannya sentra wisata kuliner, soalnya klo belanja di Kelapa Gading kan mahal ya bo...). Karena kalau dilihat di peta yang paling dekat dengan tol JORR itu daerah Marunda, jadi kami memutuskan untuk pergi ke Marunda, rencananya pengen liat Rumah si Pitung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal keterangan dari internet dan keterangan pada buku "99 tempat liburan akhir pekan di pulau JAWA dan MADURA", begitu keluar dari tol JORR mulailah kami mencari Rumah si Pitung. Tapi ketika kami menyeberang jembatan Marunda, melihat STIP Marunda, dan mulai mencari papan berwarna kuning yang ada tulisan "Mesjid Al Alam, Rumah Pitung, Pantai Marunda" (seperti petunjuk pada buku "99 tempat liburan"), ga ketemu... bahkan kami sudah sempat menyeberang perbatasan masuk wilayah Jawa Barat yang tidak jauh lagi dari STIP Marunda. Langsung kami putuskan untuk memutar balik, logikanya sederhana aja : ga mungkin rumah si Pitung masuk wilayah Jawa Barat. (kok petunjuknya salah ya? Padahal Mbak-Mbak penulis bukunya jelas-jelas masukin foto papan kuningnya...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami memfokuskan diri pada petunjuk penting lainnya : di belakang STIP Marunda. Jadi dengan logika barangkali di sekitar STIP Marunda ada jalan keliling, kami masuk ke jalan masuk STIP Marunda (dan setelah kami perhatikan, memang tidak ada petunjuk sedikit pun di jalan masuk STIP Marunda mengenai keberadaan rumah si Pitung). Menelusuri jalan itu, sampailah kami pada jalan buntu, tepatnya jembatan yang hanya bisa dilewatin motor. Dah sempet bingung, akhirnya tanya sama penjaga warung, rupanya kami berada di jalan yang benar... jadilah mobil diparkir dekat warung, dan kami berjalan kaki ke menyeberangi jembatan yang hanya terbuat dari bambu dan kayu, menuju rumah si Pitung. Suasana di sekitar lokasi sangat unik karena berbentuk rawa-rawa, ada orang yang sedang mencari ikan, dan terlihat pohon bakau di tengah rawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tiba di sebuah rumah panggung (yang menurut perkiraan kami mestinya ini rumah si Pitung), ternyata rumah itu lagi direnov, banyak banget tukang yang lagi kerja. Sempat ragu-ragu, kami bertanya pada pak Satpam yang ada di situ, rupanya benar ini rumah si Pitung (akhirnya ketemu juga!). Tapi rumah itu lagi direnovasi, dan mereka ga bisa memastikan kapan renovasinya selesai. Jadi ya sudahlah, kami kembali ke mobil, dan berencana untuk kembali lagi di lain waktu (habis mau difoto juga isinya tukang bangunan sama tumpukan semen...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami menelusuri jalan kembali menuju jalan raya, kami masih penasaran dengan papan kuning yang katanya ada itu. Tapi sampai kembali ke jalan raya dan masuk Jl. Cilincing, sama sekali tidak ada papan kuning tersebut... Setelah baca-baca lagi buku "99 tempat liburan", di buku itu tidak ada tahun penerbitannya, jangan-jangan keterangan di buku itu yang udah kadaluwarsa... ternyata setelah dibaca lagi dengan seksama, di buku itu mbak-mbak penulisnya pergi ke Madura masih pake feri dan ada foto jembatan Suramadu masih proses konstruksi, berarti buku itu diterbitkan sebelum Juni 2009, pantes aja infonya ada yang kadaluwarsa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sudah sampai di daerah Cilincing, iseng-iseng saya mencari Krematorium Cilincing. Hampir salah masuk jalan kembali ke Jl. Akses Marunda, karena papan petunjuk jalan yang tidak jelas (doh, payah deh...). Namun akhirnya kami menemukan Jl. Cilincing Lama, dan berhasil menemukan jalan menuju Krematorium. Krematoriumnya sih biasa saja, dan sebenarnya saya ingin turun masuk jalan-jalan ke klenteng Wan Lin Chie dan vihara Lalitavistara yang ada di jalan masuk Jl. Cilincing Krematorium. Tapi ketika kami berputar di lapangan parkir krematorium dan melihat tukang parkir di parkiran Krematorium (dengan gaya seperti mau narik biaya parkir), tiba-tiba kami mengurungkan niat dan kembali ke jalan raya... O ya, kalau liat Indomaret yang ada di jalan itu, ditulis "Cilincing Rekreasi". I wonder, apakah itu merupakan jalan ke pantai Cilincing yang dulu tersohor itu ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next destination, Stasiun KA Tanjung Priok. Waktu kecil, saya ingat kalau pergi ke TIJA untuk berenang, pasti lewat stasiun Tanjung Priok, jadi tidak sulit untuk menemukan stasiun itu. Pas masuk, kok sepi ya... apa stasiunnya masih beroperasi? Namun pertanyaan saya segera terjawab, karena terlihat papan harga tiket yang masih baru, dan di situ tercantum nama dan harga tiket KA yang masih beroperasi, OK, berarti stasiunnya fully operated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 148px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5556387527793104562" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRxBBHyE1rI/AAAAAAAAAY0/okQKNLpNV4U/s200/DSC00379.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki peron stasiun, serasa tidak berada di salah satu stasiun KA di Indonesia. Di sisi kiri terdapat panel yang menceritakan sejarah perkeretaapian di Indonesia. Kami sempat foto-foto ke arah peron. Tapi ketika kami mau foto peron yang ada perkantorannya, kami dicegat pak Satpam, ditanya buat apa foto-foto, ya buat koleksi pribadi Pak... katanya kalau mau foto-foto bagian peron yang ada kantornya, harus didampingi orang kantor. Berhubung kami males berdebat, kami pergi aja dan mengurungkan niat untuk foto-foto lebih lanjut. Katanya destinasi wisata, tapi kok nggak boleh foto-foto? Emang harus bayar ya? Males dah... kalau mau disuruh bayar, sekalian aja pasang tarif karcis foto di loket! (seperti di kraton Yogyakarta, jadi bayarnya resmi, bukan sekedar salam tempel) Atau kalau nggak boleh foto, pasang aja rambu larangan berfoto, kita kan bisa baca...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Destinasi berikutnya : Gereja Tugu. Sebenernya tadinya tidak berencana mau ke Gereja Tugu, tapi setelah membaca buku "99 tempat liburan", eh, ternyata deket aja, cuman "di belakang" Depot Pertamina Plumpang! Setelah mencari-cari, sebenarnya gerejanya langsung ketemu, hanya karena hari kami berkunjung ini adalah Hari Natal, pasti gerejanya lagi sibuk banget melayani jemaat (dan kami tidak ingin dikira mau berziarah atau kebaktian...), jadi kami hanya menandai tempat ini di peta untuk dikunjungi di lain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan hasil kunjungan hari ini : program "12 Destinasi Wisata Pesisir Jakarta Utara" saat ini perlu dipertanyakan. Keterangan dan petunjuk jalan yang tidak jelas (bahkan keterangan di website, buku dan peta bisa menyesatkan, seperti ketika mau ke Rumah Pitung), suasana kurang nyaman, dan petugas yang tidak kooperatif (seperti Satpam di stasiun KA Tj Priok) membuat saya bertanya-tanya, sebenernya seberapa besar niat pemerintah (terutama Pemda Jakarta Utara) untuk menjadikan lokasi-lokasi yang katanya Destinasi Wisata ini mudah, layak, dan menyenangkan untuk dikunjungi? Beberapa lokasi memang sedang berbenah (I hope so, seperti Rumah Pitung, mudah-mudahan hasil renovasi menjadikan lokasi tersebut mudah untuk dicapai), tapi lokasi yang sudah siap, seperti Stasiun Tanjung Priok, malah menyulitkan orang yang mau berwisata, mau foto-foto aja susah. Gimana industri wisata Indonesia mau maju kalau caranya seperti ini...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-6538389063072757138?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/6538389063072757138/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=6538389063072757138' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/6538389063072757138'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/6538389063072757138'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/12/destinasi-wisata-pesisir-gemana-seh.html' title='Destinasi Wisata Pesisir : gemana seh???'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRxBBHyE1rI/AAAAAAAAAY0/okQKNLpNV4U/s72-c/DSC00379.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4157963235719143685</id><published>2010-12-25T05:00:00.012-07:00</published><updated>2010-12-31T04:19:54.424-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='surabaya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><title type='text'>Tugu Pahlawan Surabaya</title><content type='html'>Saya sering banget dinas ke Surabaya, tapi belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Tugu Pahlawan, icon-nya kota Surabaya. Abis setiap kali ada yang diajak ke sana, ada aja alasannya : entar liat apa, cuman gitu-gitu aja, rame, panas dlsb. Cuman sekali aja saya pernah menginjakkan kaki ke daerah sana waktu malam hari untuk membeli nasi bebek Tugu Pahlawan yang tersohor itu, hohoho... tapi memang bebeknya mak nyusss, gak nyesel harus berdesak-desakan untuk membeli nasi bebek rasa petis seharga Rp 10.000 per porsi itu, hmmm... yummy...&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 150px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554648100349216370" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRYTBHmdBnI/AAAAAAAAAYk/onl6b1Jm00s/s200/DSC00296.JPG" /&gt;Dan akhirnya, di suatu hari Minggu ketika saya berdinas ke Surabaya, saya iseng-iseng pergi ke Tugu Pahlawan. Supir Blue Bird yang saya tumpangi pun tampaknya agak-agak heran, ngapain saya pergi ke Tugu Pahlawan?? (mungkin dia pikir saya turis dari luar kota yang aneh...) Namanya juga iseng, Pak... Begitu tiba di sana, ternyata suasananya memang ramai banget. Kalo yang tahu bazaar yang tiap hari Minggu pagi digelar di lapangan Gasibu Bandung, kira-kira suasananya mirip seperti itu : banyak kaki lima yang menggelar dagangan, sehingga jalan di sekitar Tugu Pahlawan mirip pasar tumpah di Pantura (hanya belum serapat dan serame di lapangan Gasibu). &lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Untuk masuk ke area Tugu Pahlawan, tidak dipungut biaya. Di satu-satunya pintu masuk, terdapat patung Bung Karno dan Bung Hatta, sedang membacakan Proklamasi di antara tiang-tiang yang seolah merupakan bekas bangunan terkena pertempuran. Sayang, banyak orang nongkrong di situ, jadi malas mau foto. Banyak (sekali) orang yang duduk-duduk di dalam area Tugu Pahlawan, ada yang piknik keluarga, ada yang satu gank anak-anak muda, dan ada juga yang sibuk memadu kasih (seolah dunia jadi milik sendiri...). Terdapat 6 patung tokoh-tokoh terkemuka di Surabaya yang berperan ketika peristiwa 10 November 1945. Saya hanya sempat memfoto salah satu patung, dan kebetulan saya memilih patung Bung Tomo, yang menurut saya paling saya kenal di antara yang lain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 138px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554642914208106258" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRYOTPuDxxI/AAAAAAAAAYU/sg82TBeQONA/s200/DSC00280.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di dalam area Tugu Pahlawan, terlihat ada 3 bangunan menyerupai piramid, rupanya itu museum yang menjadi bagian kelengkapan tugu tersebut. Dengan membayar tiket seharga Rp 2000, saya masuk ke museum, yang letaknya di bawah tanah (tepatnya tidak satu level dengan tugu). Di dalam museum terdapat berbagai diorama dan peninggalan sejarah yang terkait dengan peristiwa 10 November 1945, termasuk bendera, senjata, foto-foto, dan replika bambu runcing. Salah satu "benda unik" yang dipamerkan adalah diorama besar yang dilengkapi rekaman suara Bung Tomo pada tanggal 9 November 1945 malam dan 10 November 1945 pagi yang bertujuan untuk menyemangati rakyat Surabaya dalam menghadapi ultimatum tentara Sekutu. Sayangnya, ada diorama besar dalam teater kecil yang dilengkapi dengan &lt;em&gt;special effect &lt;/em&gt;sepertinya sudah tidak berfungsi, hanya filmnya saja yang masih bisa ditonton. Walaupun demikian, ruangan berisi diorama besar itu tetap penuh dengan penonton (it's nice to see many Indonesian families go to museum!).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554645288142038514" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRYQdbUA5fI/AAAAAAAAAYc/eWnIyAjbrBg/s200/DSC00282.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Setelah puas melihat-lihat dan foto-foto sebentar, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan selanjutnya : memfoto Kantor Pos Krembangan Selatan, Jl. Kebonrojo. Tidak ada alasan lain selain alasan emosional : pada tahun 1950, Kakek saya pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Pos Surabaya. Karena hari Minggu, kantor posnya tutup, dan karena lahan parkirnya cukup luas, saya bisa memfoto bagian depan kantor pos dengan leluasa.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5554650269745984786" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRYU_ZO8tRI/AAAAAAAAAYs/mc_adm5nTdM/s200/DSC00299.JPG" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Baru saja saya menoleh ke tempat lain, saya melihat poster : pameran arkeologi yang bertempat di Kantor Pos Surabaya, dan tanggalnya masih belum terlewat! Hohoho... harus dikunjungi nih. Setelah mencari-cari sebentar, rupanya ruang pamerannya ada di sisi belakang kantor pos. Rupanya pamerannya bukan pameran benda-benda sejarah (ada sih, tapi sedikit...), lebih banyak menampilkan panel berisi keterangan-keterangan. Bagi mereka para penggemar wisata sejarah, isi pameran ini sangat menarik, karena menceritakan berbagai relief di beberapa candi di Jawa, antara lain kisah Karmawibangga di candi Borobudur dan kisah-kisah fabel di candi Penataran. Ketika saya mengisi kesan-pesan di buku tamu, ada bapak-bapak penjaga pameran yang mungkin terheran-heran melihat saya, dikira saya mahasiswa yang lagi berlibur (bukan Pak, saya pegawai yang lagi dinas dan iseng jalan-jalan mau foto kantor pos...). Eh, pulangnya malah dapet buku gratis! Ma kasih ya Pak...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Rupanya bonus "keajaiban" hari itu belum berakhir, karena ketika saya menyetop taksi untuk pergi ke toko Mirota di Jl. Sulawesi, Surabaya, supir taksinya gak tahu jalan! Haduh... untung ada teknologi GPS, dengan sedikit mencari-cari jalan menggunakan HP (sambil mencoba mengingat-ingat jalan yang biasa dilewati kalau mau ke toko itu), akhirnya ketemu juga toko Mirota. Dan untung supirnya baik, coba dia tidak mengaku gak tahu jalan, bisa-bisa aku diputar-putar gak jelas di Surabaya...&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4157963235719143685?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4157963235719143685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4157963235719143685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4157963235719143685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4157963235719143685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/12/tugu-pahlawan-surabaya.html' title='Tugu Pahlawan Surabaya'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TRYTBHmdBnI/AAAAAAAAAYk/onl6b1Jm00s/s72-c/DSC00296.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-7744261895523819222</id><published>2010-11-14T04:51:00.038-07:00</published><updated>2010-11-14T08:56:42.395-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumatra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bengkulu'/><title type='text'>Noiseless Bencoolen</title><content type='html'>Membaca artikel mengenai tempat wisata di mancanegara dengan tajuk yang diawali dengan kata “&lt;em&gt;noiseless&lt;/em&gt;”, ingatan saya melayang waktu berkunjung ke Bengkulu. Walaupun menyatakan diri sebagai Kota Semarak, namun kata “&lt;em&gt;noiseless&lt;/em&gt;” lebih tepat untuk menggambarkan situasi Bengkulu. Dengan jumlah penduduk kota hanya 400 ribu orang, Bengkulu dapat dikatakan merupakan ibukota propinsi paling sepi di wilayah Indonesia bagian Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening dan damai. Itulah kesan pertama ketika keluar dari gerbang bandara Fatmawati Soekarno. Tujuan pertama : Museum Propinsi Bengkulu. Begitu sampai di museum, udah tahu nih, sama kaya tipikal museum-museum propinsi lainnya, pasti museumnya sepi. Benar saja, bahkan penjaga loketnya pun susah banget dicari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki museum propinsi Bengkulu, nggak kaya museum lainnya yang banyak benda bersejarah, di museum ini justru lebih banyak mengenai benda kebudayaan Bengkulu. Bahkan untuk mencari keterangan lengkap tentang bunga Rafflesia pun tidak ada... Namun demikian, saya nggak menyesal masuk ke museum ini, karena ternyata banyak keterangan tentang suku lokal yang tinggal di Bengkulu, menggambarkan betapa beraneka ragam manusia yang tinggal di propinsi Bengkulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koleksi yang menurut saya &lt;em&gt;a must see &lt;/em&gt;adalah replika barang-barang yang digunakan dalam Upacara Tabot, yaitu upacara tradisional mengenang kepahlawanan Hasan dan Husein, cucu Nabi Muhammad SAW yang gugur pada perang melawan bala tentara Ubaidillah bin Zaid di Padang Karbala. Upacara ini masuk dalam agenda tahunan wisata Bengkulu. Bahkan menara yang digunakan untuk Upacara Tabot dijadikan lambang “tidak resmi” kota Bengkulu, karena hampir di setiap sudut kota dapat ditemukan menara tabot yang dijadikan hiasan kota.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_VQ33KOXI/AAAAAAAAAV4/KE91wy_r8Ok/s1600/DSC00081.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539380552538929522" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_VQ33KOXI/AAAAAAAAAV4/KE91wy_r8Ok/s200/DSC00081.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_VhkckgTI/AAAAAAAAAWA/9JTfxOX1KCs/s1600/DSC00195.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 107px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539380839384908082" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_VhkckgTI/AAAAAAAAAWA/9JTfxOX1KCs/s200/DSC00195.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kami juga melihat mesin cetak merek “Golden Press” buatan USA tahun 1931. Mesin ini pada tahun 1947 pernah digunakan oleh percetakan Dukhery Populer sebagai mesin pencetak “uang merah”, sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang dikenal sebagai Uang Merah / Mandat PMR (Persediaan Makanan Rakyat), dan berfungsi sebagai alat tukar yang sah untuk wilayah keresidenan Bengkulu. Selain itu mesin ini juga pernah digunakan oleh Soekarno, presiden pertama Indonesia untuk mencetak naskah dan undangan grup tonil Monte Carlo.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539381199554856962" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_V2iLxyAI/AAAAAAAAAWI/KtzQ8I7iaWE/s200/DSC00092.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu benda koleksi museum yang unik dan menyita perhatian kami adalah replika tongkat Raja Bengkulu. Tongkat yang terbuat dari bahan bambu kibut dan logam ini bentuknya menyerupai ular dengan bentuk badan meliuk dan ujung seperti kepala ular. Tongkat ini adalah kenang-kenangan dari raja Bengkulu kepada residen Inggris Yoseph Hurlock Esquire pada tahun 1752. Pada masa pemerintahan gubernur Razie Yahya tahun 1993, tongkat ini dikembalikan lagi ke Bengkulu. Tapi saya kok melihat tongkatnya agak-agak spooky ya... jadi takut mau foto... :( Ada juga patung yang digunakan untuk menari yang bentuknya mirip ondel-ondel, namanya Barong Landong. Boneka ini digunakan oleh suku Lembak untuk menari dalam upacara adat.&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 150px; DISPLAY: block; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539380131959326242" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_U4ZFKxiI/AAAAAAAAAVw/oTBlqSKX5Cg/s200/DSC00078.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari museum, atas saran dari salah satu pegawai museum untuk mengambil rute perjalanan yang paling efisien, kami menuju Pantai Panjang. Mobil berhenti di ujung Pantai Panjang, dan kami berkesempatan untuk menjejakkan kaki di pantai landai berpasir putih itu, sambil melihat langsung pemandangan ke arah Samudra Hindia. Pantainya bersih, dan sepi... tukang dagangan sih ada, tapi karena hari itu hari Sabtu, maka jumlahnya sedikit sekali, dan gak model ngejar-ngejar wisatawan, membuat kunjungan ke pantai ini sangat menyenangkan, sayang masih banyak obyek yang harus dikunjungi. Ketika hari Minggu-nya kami melewati lagi pantai Panjang, pantainya jauh lebih ramai, banyak tukang dagangan, dan ada berbagai atraksi untuk anak-anak, seperti odong-odong dan gajah tunggang. Namun demikian, masih terlihat banyak tempat yang kosong, tidak seperti pantai Ancol di Jakarta yang pada hari libur nyaris tidak ada lahan yang tersisa.&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Keunikan dari pantai ini, sejauh mata memandang, kami tidak melihat pohon kelapa, melainkan pohon cemara. Sebenarnya bukannya tidak ada pohon kelapa sama sekali, tapi pohon kelapa pertama yang kami temui jaraknya beberapa ratus meter dari bibir pantai... Satu hal yang menarik, ketika saya mengambil foto dan mencoba mengirimnya ke salah satu situs jejaring sosial, rupanya sinyal 3G Indosat di pantai ini full!! Keren... (dan setelah mengelilingi kota Bengkulu, satu2nya tempat yang sinyal 3G Indosatnya penuh ya di pantai Panjang... tapi mungkin karena yang pakai internet tidak banyak, hampir di setiap titik di kota Bengkulu, biar kata masuk Edge, speednya cepet bou...)&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_WQ0gOjSI/AAAAAAAAAWQ/Eq7u-EHigc8/s1600/DSC00109.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539381651149065506" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_WQ0gOjSI/AAAAAAAAAWQ/Eq7u-EHigc8/s200/DSC00109.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_W5-m805I/AAAAAAAAAWY/Q0m_sAB667o/s1600/DSC00111.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539382358236255122" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_W5-m805I/AAAAAAAAAWY/Q0m_sAB667o/s200/DSC00111.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas bermain air dan foto-foto sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Menyusuri pantai, baru kami tahu alasan pantai ini diberi nama Pantai Panjang, karena panjangnya yang mencapai 7 km. Di beberapa tempat, pantai cukup lebar, sehingga banyak keluarga yang bermain air, atau anak-anak bermain bola di pantai. Namun anda tidak akan menemukan orang yang mandi-mandi di laut. Konon ada legenda yang terkait dengan Putri Gading Cempaka yang membuat orang tak berani mandi-mandi di pantai ini, namun mungkin juga bukan karena itu, mengingat pantai ini langsung berhadapan dengan Samudra Hindia yang arus bawahnya sangat kuat sehingga berbahaya jika kita berenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula dari Pantai Panjang kami langsung menuju Benteng Marlborough yang tersohor, namun sayang cuaca mendung, sehingga kami mengurungkan niat dan melanjutkan perjalanan menuju obyek selanjutnya. Tibalah kami di rumah pengasingan Bung Karno. Bengkulu punya romantisme tersendiri dalam perjalanan hidup Bung Karno, karena selama di pengasingan di Bengkulu beliau bertemu dengan Fatmawati, yang di kemudian hari menjadi Ibu Negara pertama Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu kami tiba rumah pengasingan Bung Karno, tiba-tiba hujan! Kami lari-lari untuk berteduh ke dalam rumah. Bersamaan dengan kedatangan kami, terdapat serombongan anak sekolah yang juga berlari-lari untuk berteduh, membuat rumah yang kecil itu menjadi penuh. Rupanya mereka juga bermaksud untuk melakukan kunjungan, karena tidak lama kemudian guru pendamping mereka menyusul dan mengumpulkan mereka di beranda belakang rumah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah ini tersimpan beberapa perabot seperti kursi tamu, tempat tidur dan lemari yang dipakai keluarga Bung Karno, serta sepeda yang pernah digunakan oleh Bung Karno. Banyak juga foto-foto selama Bung Karno beraktifitas dalam pengasingan di Bengkulu. Selain itu terdapat 2 lemari yang berisikan seragam kelompok tonil Monte Carlo, grup sandiwara asuhan Bung Karno. Namun yang paling berharga dari koleksi tersebut adalah buku-buku Bung Karno yang mencapai ratusan buah, sayangnya kondisinya sebagian besar rapuh atau hancur termakan usia. Di beranda belakang rumah, terdapat kios yang menjual oleh-oleh khas Bengkulu dan buku-buku terbitan terbaru tentang Bung Karno. O ya, di halaman belakang rumah terdapat sumur keramat, konon barang siapa yang mencuci muka di sumur itu akan memperoleh kesuksesan, wallahu alam...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_XSqNSesI/AAAAAAAAAWg/qMgyFljyKC0/s1600/DSC00128.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 203px; HEIGHT: 154px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539382782256642754" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_XSqNSesI/AAAAAAAAAWg/qMgyFljyKC0/s200/DSC00128.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_XtPUNO_I/AAAAAAAAAWo/vOUUJhxZ6dw/s1600/DSC00129.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 194px; HEIGHT: 153px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539383238894369778" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_XtPUNO_I/AAAAAAAAAWo/vOUUJhxZ6dw/s200/DSC00129.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Usai dari rumah pengasingan Bung Karno, kami mencoba mencari rumah keluarga Ibu Fatmawati. Sayang, supir mobil rental yang membawa kami kurang mengetahui letak rumahnya, rupanya tempat ini kalah beken dibandingkan rumah pengasingan Bung Karno. Akhirnya dengan dipandu informasi dari internet, kami mencoba mencari rumah tersebut, dan untungnya ketemu, tak jauh dari pusat kota (dan ternyata tak terlalu jauh dari rumah pengasingan Bung Karno). Namun saat itu kami tak menemukan penjaga sama sekali, jadi kami tak berani masuk. Baru keesokan harinya kami berhasil bertemu penjaganya dan masuk ke dalam rumah. Koleksi di dalam rumah ini tidak sebanyak di rumah pengasingan Bung Karno. Walaupun sepi, rumah ini bersih dan cukup terawat. Terdapat beberapa perabot dan foto milik pribadi keluarga Ibu Fatmawati. Di salah satu kamar, kami juga melihat mesin jahit yang digunakan ibu Fatmawati untuk menjahit bendera pusaka. &lt;/div&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_Zmetj30I/AAAAAAAAAWw/geH6vy_1WJ4/s1600/DSC00133.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539385321791414082" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_Zmetj30I/AAAAAAAAAWw/geH6vy_1WJ4/s200/DSC00133.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;Setelah pada hari itu kami tidak berhasil masuk rumah Ibu Fatmawati, cuaca mulai cerah, sehingga kami buru-buru mengunjungi Benteng Marlborough, takut keburu hujan lagi. Sebelum sampai benteng, kami mampir dulu ke monumen Thomas Parr, yang berjarak hanya 600 meter dari benteng Malrborough. Monumen yang juga dikenal sebagai Kuburan Bulek ini dibangun Inggris untuk memperingati peristiwa pembunuhan residen Inggris Thomas Parr pada tahun 1807. Konon Thomas Parr dibunuh oleh orang Bugis yang menjadi salah satu anggota keamanan East India Company (EIC), karena berusaha mengurangi peranan mereka di anggota keamanan EIC. &lt;/div&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 163px; DISPLAY: block; HEIGHT: 191px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539386113101862802" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_aUikrF5I/AAAAAAAAAW4/MOfrWoZREeA/s200/DSC00134.JPG" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Selain monumen Parr, di Bengkulu juga terdapat tugu Hamilton. Tugu ini konon merupakan nisan dari Captain Robert Hamilton, kapten Angkatan Laut Inggris, namun sudah dipindahkan dari tempatnya semula dan diletakkan di pertigaan Jl. Soekarno-Hatta. Belakangan kami baru menyadari bahwa tugu ini tidak sepopuler monumen Thomas Parr, karena supir mobil rental yang membawa kami semula tidak bisa mengidentifikasi lokasi tepatnya dari tugu ini, padahal sudah beberapa kali kami melewatinya!&lt;/div&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 138px; DISPLAY: block; HEIGHT: 170px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539431528242370994" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TOADoDJ8WbI/AAAAAAAAAYA/wkwvnU5Jd5k/s200/DSC00196.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, kami berhasil mencapai Benteng Marlborough! Benteng ini merupakan benteng peninggalan Inggris, didirikan oleh EIC pada tahun 1713-1719. Pada masanya, benteng ini merupakan benteng terkuat Inggris di daerah Timur setelah benteng St. George di Madras, dan menjadi benteng terbesar Inggris di Asia Tenggara. Waktu kami bayar karcis masuk, mas-mas penjaga loketnya menawarkan jasa pemandu, dan akhirnya kami didampingi oleh pemandu dari dinas pariwisata yang bernama mas Leo. Mas Leo sangat sabar dan detail dalam menjelaskan sejarah benteng Marlborough, dimulai dari fakta bahwa benteng ini pernah berpindah tangan dan dikuasai oleh 4 negara : Inggris, Perancis, Belanda, Jepang. Benteng seluas 44100 meter persegi ini didirikan di atas bukit buatan, yang dibangun dengan menimbun karang dengan tanah. Desain dasar benteng ini berbentuk segi empat dan menyerupai kura-kura, ditandai dengan empat bastion di sudut benteng berbentuk seperti kaki, serta satu kelompok bangunan (yang sekarang menjadi pintu masuk) menyerupai bagian kepala kura-kura. Benteng dikelilingi parit selebar 3,6 meter dengan kedalaman 1,8 meter, dan pintu masuk benteng tersambung dengan jembatan ke gerbang dalam.&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 145px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539393830239174546" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_hVvJlf5I/AAAAAAAAAXA/OsrLwu9rSXs/s200/DSC00146.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu ruangan, rupanya ada eksebisi mengenai sejarah Bengkulu, sejarah kehadiran Inggris di Bengkulu, bagaimana EIC mulai beraktifitas di Bengkulu, termasuk Raffless dan penyerahan Bengkulu ke tangan Belanda. Well... saya menduga Raffless mungkin sudah melihat kalau Singapura jauh lebih strategis daripada Bengkulu, makanya dia mau aja menyerahkan Bengkulu kepada Belanda ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu ruangan yang pernah dijadikan sel tawanan, kami melihat gambar kompas yang digambar oleh orang Belanda yang ditawan oleh Jepang, serta pesan yang ditulis dalam bahasa Belanda, yang kalau diterjemahkan kira-kira bunyinya “&lt;em&gt;Barang siapa mengamati kompas ini janganlah memarahi yang membuat kompas ini, ingatlah bahwa kesengsaraan dan waktu lah yang membuat saya mencoret-coret dan waktu saya menulis ini&lt;/em&gt;.” Waduh… tak terbayangkan bagaimana perasaan si tawanan ketika ia menggambar kompas di dinding dekat jendela…&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539398011210472210" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_lJGe0mxI/AAAAAAAAAXI/JZM58CP7q-A/s200/DSC00153.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;Naik ke bastion benteng yang menghadap ke pantai Tapak Paderi, kami melihat meriam yang bisa berputar 360°. Meriam buatan Belanda ini memiliki kaki yang dapat dipasang pada rel berbentuk lingkaran, yang memungkinkan meriam berputar. Bisa dibayangkan, jaman dulu meriamnya pasti lebih berat daripada sekarang, gimana coba memutarnya... Dari bastion ini, kita bisa melihat pantai Tapak Paderi dengan leluasa. Di masa lalu, pantai Tapak Paderi merupakan pelabuhan alami kota Bengkulu. Menurut mas Leo, orang-orang tua Bengkulu lebih mengenal pelabuhan alam ini sebagai Pelabuhan Bom, konon karena banyaknya bom yang dilontarkan ke pelabuhan ini ketika musuh menyerbu benteng Marlborough. Dari kejauhan, kami bisa melihat bunker buatan Jepang tepat di area parkir mobil di pantai.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN__n5qljgI/AAAAAAAAAX4/1nYjN5LsG1E/s1600/DSC00173.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539427127648423426" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN__n5qljgI/AAAAAAAAAX4/1nYjN5LsG1E/s200/DSC00173.JPG" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_-k6rgkaI/AAAAAAAAAXw/sOpQpMKJlo4/s1600/DSC00207.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539425976869491106" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_-k6rgkaI/AAAAAAAAAXw/sOpQpMKJlo4/s200/DSC00207.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore hari, ketika berjalan-jalan menikmati angin laut di pantai Tapak Paderi, kami sempat berfoto di papan nama jalan bertuliskan “Bencoolen Street”. Barangkali pernah dengar jalan Bencoolen Street di Singapura, nama jalan ini sengaja diberikan oleh Raffles untuk mengenang kehadiran Inggris di Bengkulu. Namun tak perlu jauh-jauh ke Singapura jika ingin ke Bencoolen Street, mampir saja ke pantai Tapak Paderi dan temukan papan nama jalan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 120px; DISPLAY: block; HEIGHT: 159px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539433416268578786" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TOAFV8md_-I/AAAAAAAAAYI/25hcUuARev0/s200/bencoolen%2Bstreet.JPG" /&gt; &lt;div&gt;&lt;div&gt;Bagi yang ingin berwisata kuliner, terdapat beberapa buffet dan lepau yang menjual hidangan khas Bengkulu. supir rental yang kami sewa membawa kami ke restoran Inga Raya, Jl. Pantai Pasar Bengkulu, tepat di depan pantai Jakat. Walaupun secara sepintas makanan khas Bengkulu mirip dengan makanan Minang, namun Bengkulu memiliki makanan khas yang tidak ditemukan di tempat lain, seperti bager hiu (semacam rendang dari daging ikan hiu), pendap (dari daun keladi, ikan dan kelapa, mirip seperti buntil), pais ikan kecil-kecil (seperti pepes), lawar (seperti urap), dan balado ikan Beleberan (sejenis ikan kecil-kecil). Mmm… padek nian! Konon untuk memasak pendap, perlu 1 hari penuh untuk memastikan daun keladi yang dimasak bebas dari getah yang membuat gatal.&lt;/div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_4RptgFwI/AAAAAAAAAXY/B8Vq0-Z0dIE/s1600/DSC00184.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539419048827164418" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_4RptgFwI/AAAAAAAAAXY/B8Vq0-Z0dIE/s200/DSC00184.JPG" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_6EifBsrI/AAAAAAAAAXg/ifOj-VRydfo/s1600/DSC00186.JPG"&gt;&lt;img style="WIDTH: 200px; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539421022572360370" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_6EifBsrI/AAAAAAAAAXg/ifOj-VRydfo/s200/DSC00186.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jangan lupa beli oleh-oleh khas Bengkulu. Sentra oleh-oleh khas Bengkulu terdapat di Jl. Soekarno-Hatta, Anggut Atas, tidak jauh dari rumah pengasingan Bung Karno. Makanan khas Bengkulu yang biasa dijadikan oleh-oleh antara lain lempuk durian, emping melinjo, gelamai (semacam dodol), perut punai (makanan yang terbuat dari ketan bersalut gula aren), kacang siput, manisan terong, roti bay tat (sejenis pai nanas), dan kopi bubuk. Rata-rata makanan khas Bengkulu rasanya manis dan gurih. Selain makanan, tersedia juga kerajinan khas Bengkulu yang terbuat dari kulit lantung, umumnya dijadikan hiasan dinding, gantungan kunci, atau tas wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko oleh-oleh di Anggut Atas juga menjual batik Besurek, batik khas Bengkulu. Besurek artinya ‘bersurat’, karena ciri khas batik ini adalah adanya motif huruf Arab. Konon batik Besurek awalnya adalah kain yang sakral, karena hanya digunakan untuk upacara adat. Dalam pengembangan selanjutnya, untuk memperlihatkan khas Bengkulu, batik ini juga dilengkapi motif bunga Rafflesia. Kebanyakan batik Besurek memiliki warna-warna yang tegas. Tentu saja, saya memilih membeli batik printing, kalau mau beli yang sutra, mana tahan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menginap di hotel Samudra Dwinka, yang terletak tepat di depan Masjid Jamik. Letak masjid ini sangat unik, karena tepat di tengah pertigaan. Masjid Jamik menjadi cagar budaya yang bersejarah, karena selain merupakan masjid tertua, masjid ini pernah direnovasi oleh Bung Karno ketika beliau berada dalam pengasingan pada tahun untuk 1938. Rancangan atap mesjid ini agak berbeda dengan atap mesjid di Bengkulu yang umumnya bulat, lebih mengingatkan kepada atap mesjid Demak. Keunikan lainnya adalah atap mesjid ini terbuat dari seng. Konon kabarnya atap seng lebih tahan terhadap gempa, sehingga mengurangi resiko kerusakan apabila terjadi gempa, mengingat Bengkulu adalah daerah yang rawan gempa. Selain masjid Jamik, di Bengkulu banyak terdapat masjid di seluruh penjuru kota, mulai dari yang berukuran kecil, sedang, maupun mesjid besar. Ini menakjubkan bagi kami, mengingat penduduk kota Bengkulu hanya 400.000 jiwa, namun mesjidnya banyak dan ada di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5539422297020112546" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_7OuLDHqI/AAAAAAAAAXo/gjOqqrC0Lps/s200/DSC00221.JPG" /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu kami menghabiskan waktu di kamar hotel, dari jendela kami bisa melihat jalan-jalan utama kota Bengkulu yang ramai, namun sama sekali tidak macet. Saat kami membuka internet untuk mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia yang lain, kami melihat laporan lalu lintas yang mengatakan hari itu Jakarta macet, bahkan di daerah Lebak Bulus terjadi kemacetan total. Ahhh… rasanya hari itu kami bahagia sekali, karena untuk sejenak bisa lepas dari kemacetan Ibu Kota, mencari kedamaian di noiseless town of Bengkulu… &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-7744261895523819222?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/7744261895523819222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=7744261895523819222' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7744261895523819222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7744261895523819222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/11/noiseless-bencoolen.html' title='Noiseless Bencoolen'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TN_VQ33KOXI/AAAAAAAAAV4/KE91wy_r8Ok/s72-c/DSC00081.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4937744518819521399</id><published>2010-09-11T03:47:00.005-07:00</published><updated>2010-09-11T04:52:19.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>Merah Putih II : Darah Garuda</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TItsNPkIw7I/AAAAAAAAAU4/lhLzcBEaJ6w/s1600/darah-garuda-head.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 140px; FLOAT: left; HEIGHT: 200px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5515621143417504690" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TItsNPkIw7I/AAAAAAAAAU4/lhLzcBEaJ6w/s200/darah-garuda-head.jpg" /&gt;&lt;/a&gt; Dalam rangka libur Lebaran 1431 H, banyak film-film baru yang tayang perdana di bioskop, diantaranya adalah Merah Putih II : Darah Garuda. Mengingat diriku sudah (terlanjur) menonton film pertamanya, jadi daku berniat untuk menonton lanjutannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Cerita diawali dari usaha Empat Sekawan yang berusaha membebaskan Melati dan Senja di perkebunan kopi Lembongan Lor. Mereka berhasil membebaskan para pekerja perkebunan, namun tawanan mereka, Major van Grotten, berhasil meloloskan diri. Empat sekawan kemudian bergerilya menembus hutan, berusaha mencari pasukan Tentara Nasional Indonesia di bawah pimpinan jendral Sudirman. Setelah menemui pasukan TNI, mereka mendapat misi khusus untuk menghancurkan pangkalan udara yang baru dibangun tentara Belanda. Dalam menunaikan misi tersebut, Empat Sekawan itu menemui berbagai rintangan, termasuk di antaranya pertempuran dengan tentara Belanda, tertangkapnya anggota mereka, pertemuan dengan tentara Islam, dan adanya pengkhianat di antara pasukan TNI. Namun pada akhirnya, misi berhasil mereka tuntaskan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Melihat film ini, sekali lagi saya harus mengerutkan kening sambil (sekali lagi) berusaha mencamkan dalam hati, ini BUKAN FILM SEJARAH (kan dari awal sutradaranya udah bilang!). Banyak adegan dalam film ini yang tidak cocok dengan tempat dan waktu dalam sejarah Indonesia. Seperti adegan Jendral Sudirman yang memimpin gerilya dari atas tandu, setting film ini adalah di Jawa Tengah, namun setahu saya, pergerakan gerilya Jendral Sudirman baru dimulai pada Desember 1947 ketika mulai clash kedua, dan lebih banyak di wilayah Jawa Timur. Kemudian adanya tentara Islam, setahu saya pada masa itu memang kita menghadapi 2 musuh : NICA dan tentara DI/TII. Namun lagi-lagi setahu saya, tentara DI/TII lebih banyak bergerak di wilayah Jawa Barat, gak cocok lagi khan? Jadi kaya'nya yang menulis cerita memang hanya sekedar memasukkan fakta2 ini untuk menjadi 'bumbu' dalam cerita, dan tidak mencocokkan fakta-fakta tersebut dalam setting cerita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tapi, balik lagi, karena dari sejak film pertama sudah dinyatakan dalam disclaimer bahwa trilogi ini merupakan fiksi yang berbasis pada sejarah, jadi sah-sah saja, khan? (anggap aja seperti nonton film Rambo ato Tour of Duty, yang base on perang Vietnam, tapi seperti ga ada hubungannya sama sejarah, hehehe) Sebagai film, sinematografinya menarik, top banget, dan sama seperti film yang pertama, gayanya Hollywood banget. Tidak hanya dalam efek-efek khusus yang ditampilkan (terutama adegan tembak-menembak dan ledakan), namun juga dalam dialog-dialog para pemerannya. Secara keseluruhan, film ini lebih seru dan menegangkan dibandingkan film pertama. Namun di akhir film, saya merasa bahwa film ini tidak sedramatis film yang pertama, mungkin juga karena film pertama dirilis bertepatan dengan 17 Agustus 2009, sehingga pada saat itu tema filmnya lebih sesuai. Bisa juga ini bagian dari strategi pembuat film, supaya film terakhir dari trilogi ini bisa memberikan klimaks yang lebih dramatis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Banyak juga hal kurang logis yang ditemukan di film ini. Seperti ketika Senja menyamar menjadi bagian dari tentara elite TNI, rasanya tidak mungkin teman-temannya tidak tahu kalau ia ikut, karena mereka berjalan bersama-sama di hutan (walaupun digambarkan Sersan Yanto mengetahui bahwa ada tentara wanita di antara mereka). Kemudian bagaimana Dayan bisa menyusul teman-temannya yang sedang berusaha menghancurkan pangkalan udara Belanda, dan bahkan memberikan elemen kejutan untuk membantu meloloskan diri dari pangkalan udara tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kesimpulannya, dari segi cerita, mungkin anda akan menonton sambil sedikit mengernyitkan dahi. Tapi kalau anda terbiasa menikmati film tanpa terlalu memikirkan ceritanya, well, jauh lebih mending nonton film ini daripada nonton film horror atau komedi yang gak bermutu!&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4937744518819521399?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4937744518819521399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4937744518819521399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4937744518819521399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4937744518819521399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/09/merah-putih-ii-darah-garuda.html' title='Merah Putih II : Darah Garuda'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/TItsNPkIw7I/AAAAAAAAAU4/lhLzcBEaJ6w/s72-c/darah-garuda-head.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-2994253638306730614</id><published>2010-06-18T16:58:00.000-07:00</published><updated>2010-06-19T01:37:27.986-07:00</updated><title type='text'>Surat Pembacaku Dimuat!</title><content type='html'>  &lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;Beberapa waktu yang lalu aku mengirim surat pembaca ke majalah The World of Cross Stitching, menceritakan karyaku yang dibuat dari salah satu pola di majalah itu (pernah kuposting &lt;a href="http://tathagati.multiply.com/journal/item/1/Work_in_Progress_Smiley_Eeyore"&gt;di sini&lt;/a&gt;). Kira-kira sebulan setelah aku mengirim e-mail dan fotonya, salah satu redakturnya mengirim balasan minta alamat rumah, rupanya mereka berencana memuat suratku di edisi bulan Juni, dan apabil&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;a beneran dimuat, mereka akan mengirim suvenir ke rumah.&lt;br&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://tathagati.multiply.com/photos/hi-res/1M/208"&gt;&lt;img style="width: 167px;height: 124px;" class="alignleft" src="http://images.tathagati.multiply.com/image/ROVmi8M58QwcN6Tq6RUqVg/photos/1M/300x300/208/DSC06193.JPG?et=oCaLnKFi2tSZ66Wr5K%2BGYg&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Awal Juni, sebelum aku sempat ke toko buku untuk mencari majalahnya, rupanya kiriman suvenirnya sudah tiba di rumah, hore, berarti surat pembacaku dimuat! Suvenirnya "cu&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;man&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;" kain Aida warna hijau (termasuk barang agak langka di sini...), 1 benang sulam DMC (tapi khusus yang diedarkan di I&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;nggris, labelnya agak beda sama yang dijual di sini), sama 1 leaflet pola, tapi seneng bangeeeeettt.... &lt;br&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;Baru pada akhir minggu aku berkesempatan ke Kinokuniya untuk beli majalahnya, dan setelah melihat surat pembacanya aku baru sadar, ternyata suratku lumayan panjang... dan dikasih komentar sama redaktu&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;/span&gt;rnya. Nggak tahu apakah kebetulan atau merupakan kesengajaan, mereka memuat suratku berbarengan dengan penerbitan bonus pola Eeyore di edisi Juni itu. Senangnyaaa....&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://tathagati.multiply.com/photos/hi-res/1M/209"&gt;&lt;img style="width: 227px;height: 170px;" class="alignmiddleb" src="http://images.tathagati.multiply.com/image/EFysoPq0Icb5MygKjUXglA/photos/1M/300x300/209/DSC06216.JPG?et=v4U6vA5R3f989BnNpiEZDg&amp;nmid=0" border="0"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class='multiply:no_crosspost'&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-2994253638306730614?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/2994253638306730614/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=2994253638306730614' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2994253638306730614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2994253638306730614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/06/surat-pembacaku-dimuat.html' title='Surat Pembacaku Dimuat!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-5037750466117069888</id><published>2010-05-16T02:00:00.014-07:00</published><updated>2010-05-17T06:37:13.528-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='training'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='outdoor'/><title type='text'>Berburu Lokasi Training Outdoor</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu, kami dapat permintaan untuk membuat training tapi nggak mau di ruang kelas, tapi syaratnya jangan di luar kota, supaya memudahkan peserta untuk datang sendiri ke lokasi training. Jadi kami harus survey ke beberapa lokasi di dalam kota Jakarta yang memungkinkan untuk outdoor training, dengan syarat lokasinya masih di dalam kota Jakarta dan cukup nyaman untuk digunakan sebagai lokasi outing training.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pemberhentian pertama : Kebun Binatang Ragunan. Kenapa kebun binatang? Soalnya kliennya mengajukan syarat, mintanya temanya alam, jadi berhubung saya tahu banyak orang pernah bikin acara di kebun binatang baik indoor maupun outdoor, jadi saya survey ke sana untuk tahu bagaimana prosedurnya kalau mau sewa ruangan dan menggunakan lahan untuk kegiatan outing training. Well, nggak susah juga, datang aja ke Kantor Rekreasi, nanti di sana ada petugas yang sangat ramah yang membantu menjelaskan prosedur dan biaya-biaya yang dikenakan selama sewa tempat di wilayah Kebun Binatang. Masalahnya cuman satu : rupanya peminatnya sangat sangat banyak, jadi petugasnya sudah mewanti-wanti, kalau mau booking ruangan, harus segera di-DP, karena keburu dipakai sama orang lain.&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DEbY8H5MI/AAAAAAAAATw/3liAa_7dnP8/s1600/DSC05986.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472089522085291202" style="WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DEbY8H5MI/AAAAAAAAATw/3liAa_7dnP8/s200/DSC05986.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DEbm8sQPI/AAAAAAAAAT4/GvzlQU9PzMg/s1600/DSC05994.JPG"&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472089525845770482" style="WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DEbm8sQPI/AAAAAAAAAT4/GvzlQU9PzMg/s200/DSC05994.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pemberhentian berikutnya : Bumi Perkemahan Ragunan. Mungkin nggak banyak yang ngeh bahwa di dalam kota, tepatnya di depan halte busway Deptan di jalur 6, tersembunyi sebuah lokasi camping yang luas dan cukup rindang. Waktu masuk ke sana untuk tanya prosedur pemesanan, petugas yang ada juga cukup ramah dan sangat informatif, hanya saja di sana tidak ada ruangan tertutup yang bisa di sewa (padahal saya butuh ruangan tertutup, karena kita mau memasang "layar tancap"...), adanya aula terbuka. Hmmm... kalau mau training yang full outdoor sih kaya'nya boleh juga tuh dipertimbangkan, biayanya gak mahal kok...&lt;/div&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DE9fPYpNI/AAAAAAAAAUA/L6swP3EtCF8/s1600/DSC06002.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472090107892245714" style="WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DE9fPYpNI/AAAAAAAAAUA/L6swP3EtCF8/s200/DSC06002.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DE9i4lNuI/AAAAAAAAAUI/9gpZ3-JMZAU/s1600/DSC06003.JPG"&gt; &lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472090108870342370" style="WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DE9i4lNuI/AAAAAAAAAUI/9gpZ3-JMZAU/s200/DSC06003.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pemberhentian terakhir : Situ Babakan di Jagakarsa. Rasanya hampir tiap minggu kami lewat Jl. Jagakarsa dan melihat papan petunjuk jalan ke arah Situ Babakan, tapi kok nggak pernah keliatan danaunya bentuknya seperti apa. Akhirnya, setelah meluangkan waktu (dan meneguhkan niat), kami mencoba melihat sendiri seperti apa kondisi Situ Babakan. Begitu melihat tempatnya, untuk jadi tempat piknik ternyata menyenangkan (bayangkan, ada danau yang begitu luas dan rimbun di tengah kota Jakarta! Mmm... not really di tengah kota, tapi di tengah pemukiman, karena danaunya ada di balik rumah-rumah penduduk), tapi untuk tempat training outdoor, rupanya kurang representatif...&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_E8fZ7EamI/AAAAAAAAAUg/cnaYlNYVUoE/s1600/DSC06012.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472221532464114274" style="WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_E8fZ7EamI/AAAAAAAAAUg/cnaYlNYVUoE/s200/DSC06012.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_FF7-W-z5I/AAAAAAAAAUo/IEm3tcrbgeU/s1600/DSC06015.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5472231918885851026" style="WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_FF7-W-z5I/AAAAAAAAAUo/IEm3tcrbgeU/s200/DSC06015.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Well... sekarang tergantung kliennya, mau di mana. Kalau nggak mau di salah satu tempat di atas, kita ke Cibubur aja... :)&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-5037750466117069888?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/5037750466117069888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=5037750466117069888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5037750466117069888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5037750466117069888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/05/berburu-lokasi-training-outdoor.html' title='Berburu Lokasi Training Outdoor'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S_DEbY8H5MI/AAAAAAAAATw/3liAa_7dnP8/s72-c/DSC05986.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-7579729992188352737</id><published>2010-05-16T01:51:00.002-07:00</published><updated>2010-05-16T02:00:16.148-07:00</updated><title type='text'>Papan Reklame Aneh</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S--0DjJ-XzI/AAAAAAAAATo/XEkot_IdsqE/s1600/iklan+tol+bandara.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5471790045348126514" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S--0DjJ-XzI/AAAAAAAAATo/XEkot_IdsqE/s200/iklan+tol+bandara.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Suatu hari Minggu, saya mengantar adik saya ke bandara Soekarno-Hatta. Sepulang dari bandara, ketika bayar tol di gerbang tol Pluit, mata saya tertumbuk sebuah papan iklan yang membuat saya agak tergelitik. Iklannya sih nggak 'pa-'pa, merk dan produknya juga baik-baik aja (saya tidak punya sentimen pribadi sama merk ato produknya, beneran...), yang menggelitik adalah kombinasi dari merk yang diiklankan (Samsung) dan tulisan di bawahnya : Welcome to Jakarta. Wow... saya pikir saya baru aja mendarat di Seoul!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kenapa saya jadi tergelitik? Papan iklan itu kebetulan letaknya strategis, karena terletak di depan mata saat keluar gerbang tol Pluit, tidak seperti papan iklan lain yang terletak jauh di atas pandangan di sepanjang jalan tol bandara. Tiba-tiba saya terpikir, kenapa kok bukan perusahaan nasional yang memasang iklan di tempat yang begitu strategis itu... kenapa kok malah iklan perusahaan dari negeri antah berantah? Padahal begitu banyak perusahaan nasional yang memasang iklan di sepanjang jalan tol (cuman letaknya jauh di atas kepala), tapi yang "mengucapkan" selamat datang dan mudah terbaca kok malah perusahaan asing...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-7579729992188352737?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/7579729992188352737/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=7579729992188352737' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7579729992188352737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7579729992188352737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/05/papan-reklame-aneh.html' title='Papan Reklame Aneh'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/S--0DjJ-XzI/AAAAAAAAATo/XEkot_IdsqE/s72-c/iklan+tol+bandara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-21824185041377626</id><published>2010-04-07T19:20:00.002-07:00</published><updated>2010-04-07T23:46:03.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cross stitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><title type='text'>One Million Giraffes</title><content type='html'>Di rumah lagi ada trend baru : JERAPAH. Awalnya gara-gara ada a little stuffed animal bernama Giraffe di rumah Bentuknya mirip jerapah beneran, cuman dalam versi kartun. Sejak itu, kami melakukan penelitian lebih mendalam tentang jerapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak lama jerapah menarik perhatian manusia, karena "fitur-fitur"nya yang luar biasa. Jerapah merupakan binatang dengan tinggi badan tertinggi yang hidup di darat. Pada waktu laksamana Cheng Ho membawa jerapah untuk dipersembahkan kepada kaisar Tiongkok, karena jerapah persembahan itu tidak bisa melewati gerbang istana, bahkan kaisar pun beranjak dari singgasananya untuk melihat binatang yang menakjubkan ini. Jerapah juga binatang yang selalu ingin tahu, perhatikan kalau di kebun binatang, jerapah di kebun binatang sering menjulurkan kepalanya untuk mendekat ke arah pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu saya mencari-cari informasi tentang jerapah, saya menemukan website ini : &lt;a href="http://www.onemilliongiraffes.com/"&gt;One Million Giraffe&lt;/a&gt;. Intinya, pemilik website ini (Ola) bertaruh dengan temannya, bahwa melalui internet dia bisa mengumpulkan 1 juta jerapah. Wow... project yang kreatif! Dan saya memutuskan untuk ikut berpartisipasi menyumbang jerapah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah jerapah pertama yang saya sumbangkan buat Ola, dan masih akan menyusul jerapah-jerapah yang lain.&lt;br /&gt;&lt;span class="insertedphoto"&gt;&lt;a href="http://tathagati.multiply.com/photos/hi-res/1M/175"&gt;&lt;img style="width: 168px; height: 224px;" class="alignmiddleb" src="http://images.tathagati.multiply.com/image/Rvb49vvgmYEihbepZzQyfA/photos/1M/300x300/175/giraffe-arini.JPG?et=7HVPsAggbWseod6gaG%2Csjg&amp;amp;nmid=0" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-21824185041377626?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.onemilliongiraffes.com' title='One Million Giraffes'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/21824185041377626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=21824185041377626' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/21824185041377626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/21824185041377626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2010/04/one-million-giraffes.html' title='One Million Giraffes'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4809408266664353556</id><published>2009-12-05T22:06:00.001-07:00</published><updated>2009-12-08T01:12:49.813-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batik'/><title type='text'>mBatik is ... fun!!!</title><content type='html'>&lt;p&gt;Setelah sekian lama ditawari untuk ikut kursus mBatik (dan tiap kali tidak jadi ikut karena alasan kesibukan... alasan yang klise, tapi unfortunately itu adalah fakta...), akhirnya tanggal 6 Desember 2009 kemarin saya berkesempatan untuk ikut kursus &lt;a href="http://mbatikyuuuk.com/"&gt;Mbatik Yuuk&lt;/a&gt; yang diberikan oleh ibu Indra Tjahjani.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dari segi teori, sebelum ikut kursus, saya cukup tahu proses pembuatan batik secara tradisional, mulai dari mencuci kain-pemberian malam-pewarnaan-dijemur-malamnya dikerok-diberi malam lagi-diwarnai lagi-dijemur lagi-malamnya dikerok lagi-dst. Kemudian untuk jenis-jenis batik, saya juga cukup familiar, mengingat keluarga kami adalah penggemar batik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Namun dengan ikut kursus ini, saya merasakan banyak manfaat, selain kita bisa mendapat tambahan pengetahuan tentang batik, tujuan utamanya adalah merasakan sendiri bagaimana menggunakan canting untuk membubuhi malam pada pola di kain, kemudian melihat proses pewarnaan, dan diperoleh hasil akhir berupa kain yang jadi batik.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sebelum workshop dimulai, bu Indra memberikan sedikit presentasi tentang batik, apa yang dimaksud dengan "batik". Jadi yang namanya "batik" itu sebenarnya bukan sekedar motifnya, tapi juga proses pembuatannya. Namun dengan perkembangan jaman, ditemukan inovasi baru, dan tidak hanya motifnya yang berkembang, namun proses pembuatannya pun dimodifikasi, membuat batik dapat dikenakan oleh berbagai kalangan. Selain itu, proses membatik juga bisa dijadikan sebagai proses "meditasi", di mana untuk dapat menghasilkan karya yang baik diperlukan ketenangan dan konsentrasi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah selesai presentasi, maka workshop dimulai. Peserta membatik di atas kain yang sudah diberi pola oleh bu Indra dan tim. Kalo liat teorinya, kaya'nya gampang aja membubuhkan malam di atas kain. Ternyata sama sekali tidak... memakai canting itu ternyata perlu kesabaran, ketelatenan dan kemahiran. Soalnya, salah sedikit, garisnya nggak rata. Miring sedikit, malamnya netes ke kain, menodai pola yang indah! (Huaaa!!) Belum lagi kalau secara tidak sengaja malamnya terciprat ke tangan, wah, panas euy. But it was fun... really fun... apalagi setelah diberi warna dan terlihat hasil akhirnya,  waaa... gak nyangka ya... gue bisa membatik... (tapi soal skill sih pasti masih kalah jauh sama para pengrajin tradisional, bayangkan saat mereka membuat batik tulis motif truntum, kaya' apa ya...).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah merasakan sendiri proses membatik yang baik dan benar, saya semakin sadar bahwa betapa sulitnya menghasilkan batik yang sangat halus dengan motif yang indah.  Untuk itu mari kita menghargai para pengrajin batik tulis, betapa mereka sangat ahli dan telaten untuk dapat menghasilkan sebuah kain batik yang indah.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sx4KXhm7JWI/AAAAAAAAARg/TUfwVjsGZmw/s1600-h/DSC05477.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sx4KXhm7JWI/AAAAAAAAARg/TUfwVjsGZmw/s200/DSC05477.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412775201420813666" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt; &lt;!-- multiply:no_crosspost --&gt;&lt;p class="multiply:no_crosspost"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4809408266664353556?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://mbatikyuuk.com' title='mBatik is ... fun!!!'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4809408266664353556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4809408266664353556' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4809408266664353556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4809408266664353556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/12/mbatik-is-fun.html' title='mBatik is ... fun!!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sx4KXhm7JWI/AAAAAAAAARg/TUfwVjsGZmw/s72-c/DSC05477.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-3685943880394691399</id><published>2009-11-11T23:57:00.008-07:00</published><updated>2009-11-13T08:44:03.931-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kuliner'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='culinary'/><title type='text'>Samgyetang oh Samgyetang</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu, saya lewat di foodcourt Plasa Senayan, dan terhenti di depan counter Han Gang Kitchen. Tiba-tiba saya jadi kangen sama makanan-makanan Korea yang sempat saya cicipi di negara asalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu makanan yang tidak akan pernah saya lupakan adalah Samgyetang alias sup ayam ginseng. Pertama kali makan Samgyetang adalah waktu city tour di Seoul. Waktu tour guidenya bilang bahwa satu orang akan dapat ayam satu ekor, kok besar ya... udah gitu gak kebayang kaya' apa rasanya, sup ayam dimasak pakai ginseng. Tapi setelah melihat barangnya dan mencicipi rasanya, hmmm... mak nyusss... uenak tenan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di waktu yang lain, saya akhirnya mampir ke counter Han Gang Kitchen, dan mencoba Samgyetang yang dijual di situ (kebetulan harganya relatif gak mahal, "cuman" 40 ribu-an per porsi). Pas hidangannya keluar... alamak! (ya iya lah... harga segitu kok mintanya seperti yang asli...) Penampakannya seperti foto di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv18qfqEuqI/AAAAAAAAARQ/mDlc4zUrkLU/s1600-h/hangang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403612197408783010" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv18qfqEuqI/AAAAAAAAARQ/mDlc4zUrkLU/s200/hangang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayamnya separo, terus nasinya ga terlalu banyak dan ga lengket (tapi akibatnya nasinya agak susah untuk disendok, karena kepencar-pencar ke mana-mana). Udah gitu yang paling nggak mirip adalah kuahnya. Sejujurnya, kuahnya sebenernya lumayan enak, tapi rasanya sama sekali gak ada mirip-miripnya ama yang asli, malah lebih mirip kuah masakan Jepang. Yang paling "mengganggu" di Samgyetang versi Han Gang Kitchen ini adalah 'lautan' telur dadar, item yang gak ada di versi originalnya. Satu-satunya yang persis sama dengan yang ada di Korea adalah Korean Ice Tea-nya, rasanya benar-benar sama banget dengan teh di Korea.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, kita bandingkan dengan versi originalnya :&lt;br /&gt;Klo di versi original, ayamnya satu ekor utuh, terus nasinya agak lengket, jadi gampang disendok. Kuahnya lebih kaya' kuah opor, tapi putih. Kemudian selain ginseng, kita juga menemukan chestnut di dalamnya. Selain itu, kita juga dikasih soju, minuman (wine) khas Korea, yang katanya sih untuk menghilangkan bau amis ayamnya (padahal sih nggak terlalu amis). Katanya kalau nggak mau diminum, boleh dicampurkan ke kuahnya. Aku sih memilih nggak mencampur ke kuah, takut rasa kuahnya hilang. Tapi pas ngicipin sojunya, alamak... soju-nya lumayan "keras" bo...&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv19DvIEh7I/AAAAAAAAARY/-BMbXfFrxlg/s1600-h/original.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403612631057860530" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv19DvIEh7I/AAAAAAAAARY/-BMbXfFrxlg/s200/original.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Anyway, untuk mengobati kerinduan akan Samgyetang yang asli, Samgyetang versi Han Gang Kitchen ini hatur lumayan untuk bernostalgia akan kenikmatan Samgyetang yang asli, paling nggak gak perlu antri kaya' mau naik halilintar di Dufan (foto di bawah ini menunjukkan antrian yang terjadi di luar restoran Samgyetang di Seoul). &lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv18bNz-X9I/AAAAAAAAARI/Mv0os3sxRSo/s1600-h/antri.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5403611934920433618" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 200px; CURSOR: hand; HEIGHT: 150px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv18bNz-X9I/AAAAAAAAARI/Mv0os3sxRSo/s200/antri.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-3685943880394691399?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/3685943880394691399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=3685943880394691399' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/3685943880394691399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/3685943880394691399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/11/samgyetang-oh-syam.html' title='Samgyetang oh Samgyetang'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sv18qfqEuqI/AAAAAAAAARQ/mDlc4zUrkLU/s72-c/hangang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-7090948082686749807</id><published>2009-10-18T02:23:00.001-07:00</published><updated>2009-10-21T23:56:02.759-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cross stitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><title type='text'>Barang Handicraft di Korea</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Beberapa minggu yang lalu, saya ikut training untuk UKM di Ansan, Korea Selatan. Karena jadwal training yang padat, saya tidak sempat jalan-jalan mencari toko yang jual alat-alat handicraft, padahal saya tahu betul Korea punya produk kit kristik (Sodastitch) dan benang rajut (seperti yang dijual di toko Crayon di Bandung). &lt;/span&gt; &lt;p  style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Korea sangat terkenal dengan kerajinan jahit menjahit. Di majalah di pesawat, saya sempat ba&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ca bahwa ada ungkapan di K&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;orea, seorang wanita Korea (tradisional) seumur hidupnya akan menjahit dan menjahit. Ungkapan itu tidak berlebihan adanya, karena hampir semua oleh-oleh khas Korea yang dijual di toko umumnya terbuat dari kain, dan dihias d&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;engan teknik jahit tindas (quilt) atau bordir. Termasuk di antaranya adalah gantungan HP yang bentuknya macam-macam dan dibuat dalam aneka warna.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Waktu ada kesempatan jalan-jalan di Seoul, saya sempat menemukan satu toko grosiran benang rajut di pasar Namdaemun. Suasana pasarnya mengingatkan saya pada &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pasar Asemka, jadi toko itu mungkin&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; setara dengan toko Sunflower. Iseng-iseng saya tanya sama yang jual berapa harga benang rajutnya (sambil harap-harap cemas, apakah penjaga tokonya bisa bahasa Inggris...), dia bilang segulung 10.000 won (kalau di-kurs kira-kira Rp 80.000,-). Yah... klo harganya segitu, mendingan beli di tanah air, harganya sama&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; aja, dan gak bikin mu&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;atan koper tambah penuh... (hikmah lainnya yang bisa saya ambil : cintailah produk dalam negeri Indonesia!)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;p&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Namun saya cukup beruntung, karena menjelang kembali ke Jakarta, kami sempat mampir di toko buku, dan saya dapat buku kristik berbahasa Korea yang hargany&lt;/strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;a 15.000 won (dikurs sekitar Rp 120.000,-, masih lebih murah dibandingkan buku-buku di Kinokuniya, mengingat buku y&lt;/strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;ang saya dapat lumayan besar dan tebal), itu pun dikorting lagi menjadi 5.800 won (sekitar Rp 47.000,-). Setelah sampai di rumah dan saya lihat-lihat lagi, rupanya bukunya dikorting karea di bagian belakang ada pola yang terlipat, di situ rupanya robek. Padahal robekannya di bagian yang kosong (jadi tidak mengganggu gambarnya), sementara bagian dalam bukunya saya lihat mulus-mulus aja. Lumayan...&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p  style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;Ada hal yang menarik yang saya temukan. Di asrama &lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;tempat kami menginap di Ansan, beberapa mobil menggant&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;ung hiasan kristik di kaca depan mobilnya, tepatnya di pojok kiri (kalau dilihat dari dalam mobil). Tadinya saya pikir untuk gaya-gayaan aja, sampai saya meliha&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;t ada sederet angka, dan angkanya beda-beda tiap mobil. Begitu saya bandingkan dengan mobil lain yang tidak menggantung hiasan kristik, rupanya di tempat yang sama terpasang stiker dengan sederet angka, mungkin itu semacam stiker langganan parkir atau apa lah. Oh&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;hh... lucu juga ya...&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p  style="font-family:Verdana;"&gt;&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;strong style="font-weight: normal;"&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAUgSzRtI/AAAAAAAAAQw/zOiPa58LQwY/s1600-h/DSC05315.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 134px; height: 99px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAUgSzRtI/AAAAAAAAAQw/zOiPa58LQwY/s200/DSC05315.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395312705856030418" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAUgSzRtI/AAAAAAAAAQw/zOiPa58LQwY/s1600-h/DSC05315.JPG"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAyvTbmdI/AAAAAAAAAQ4/8ht-96W33AE/s1600-h/DSC05317.JPG"&gt;  &lt;img style="cursor: pointer; width: 132px; height: 99px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAyvTbmdI/AAAAAAAAAQ4/8ht-96W33AE/s200/DSC05317.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395313225281280466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAyvTbmdI/AAAAAAAAAQ4/8ht-96W33AE/s1600-h/DSC05317.JPG"&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span&gt;&lt;span style=";font-family:Verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAA9WkT-II/AAAAAAAAARA/-auFtAcPREM/s1600-h/DSC05316.JPG"&gt;  &lt;img style="cursor: pointer; width: 134px; height: 100px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAA9WkT-II/AAAAAAAAARA/-auFtAcPREM/s200/DSC05316.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5395313407619758210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-7090948082686749807?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/7090948082686749807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=7090948082686749807' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7090948082686749807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7090948082686749807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/10/barang-handicraft-di-korea.html' title='Barang Handicraft di Korea'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SuAAUgSzRtI/AAAAAAAAAQw/zOiPa58LQwY/s72-c/DSC05315.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-2962159401057904465</id><published>2009-08-18T06:54:00.006-07:00</published><updated>2009-08-23T18:33:02.189-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>"Merah-Putih" : Nasionalisme vs. Hollywood</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SormeHkMWaI/AAAAAAAAAPQ/g6dhYn6HjIY/s1600-h/Film_merah_putih.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371358910694054306" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 142px; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SormeHkMWaI/AAAAAAAAAPQ/g6dhYn6HjIY/s200/Film_merah_putih.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tanggal 17 Bulan 8 Tahun 2009, aku memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia dengan menonton film &lt;a href="http://www.merahputihthefilm.com/id/home.html"&gt;Merah Putih&lt;/a&gt;. Sejujurnya, salah satu alasan utamaku menonton film ini adalah karena yang main adalah Lukman Sardi (sambil ngebatin terus menerus, duh, dia main jadi apa lagi ya???). Selain itu, pengen tahu juga tentang film ini, secara menurut saya film ini termasuk salah satu terobosan yang cukup berani, dengan menampilkan film bertema perjuangan di antara film-film horror dan komedi gak jelas yang saat ini merajai bioskop di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menonton filmnya, ternyata... tidak seperti yang dibayangkan (Eits, ini tidak berarti sesuatu yang negatif!). Mungkin karena referensi film perjuangan yang dulu saya tonton adalah film seperti Janur Kuning, ato karena udah sempet tahu bahwa film ini diilhami oleh &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daan_Mogot"&gt;Peristiwa Lengkong&lt;/a&gt; pada tahun 1946 (which is sebenernya tidak ada kaitannya dengan alur cerita film), atau aku juga (terlanjur) berusaha mencocokkan kejadian di film Merah Putih dengan catatan sejarah bangsa Indonesia pada masa itu, jadi filmnya tidak cocok dengan praduga awalnya. Beberapa hal yang cukup mengganggu bagiku antara lain :&lt;br /&gt;(1) Pada jaman itu, tentara di Indonesia sudah bersatu dalam wadah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Nasional_Indonesia"&gt;Tentara Nasional Indonesia&lt;/a&gt; (tepatnya 3 Juni 1947), jadi saat Tomas diusir oleh petugas pendaftaran dan disarankan untuk pindah ke kelompok Tentara Sipil... hmmm... ada ya kelompok Tentara Sipil? Bukannya k'lo sipil itu udah pasti bukan militer? Mungkin buku sejarahnya harus sama-sama dibuka lagi...&lt;br /&gt;(2) Di dalam catatan sejarah Indonesia, rasanya Tentara Belanda tidak pernah menang kalau perang melawan gerilya di dalam hutan. Belanda itu hanya menang dalam pertempuran frontal (e.g. Puputan Margarana), ato di meja perundingan (bahkan mereka "menunggangi" Sekutu waktu mau masuk Surabaya, ya tho?). Kalau di film ini digambarkan Tentara Belanda bisa menghabisi seluruh pasukan Mayor Taufik di hutan dan menyisakan 4 pemeran utama saja... kaya'nya tentara kita nggak segitunya deh.&lt;br /&gt;(3) Pas udah sampe' rumah, baru aja mau cerita apa yang ditonton, rupanya bokap memperhatikan pada waktu melihat preview filmnya di TV, properti yang dipakai tidak sesuai dengan apa yang dipakai tentara Indonesia pada masa itu. Memang betul senjatanya berasal dari jaman Perang Dunia II, tapi tentara Indonesia belum punya, maklum... masih pake' senjata peninggalan/rampasan dari Jepang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya semua itu bisa dijelaskan oleh Yadi Suganda, sang sutradara. Rupanya memang baik ceritanya maupun properti pendukungnya &lt;a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/film/2009/07/23/brk,20090723-188596,id.html"&gt;di-fiksi-kan&lt;/a&gt;, sehingga para pembuat film tidak perlu melakukan riset yang sangat teliti, dan memungkinkan untuk melakukan berbagai "pelanggaran legal" tanpa mengurangi nilai ceritanya (dan mudah-mudahan lanjutan sequelnya gak terlalu melenceng juga dari sejarah, aamiin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengutip pernyataan Darius Sinathrya, pemeran Marius, yang &lt;a href="http://www.21cineplex.com/slowmotion/press-screening-film-merah-putih-bukan-hanya-adegan-perang,906.htm"&gt;bangga dan kecewa untuk film ini&lt;/a&gt;, aku sepakat dengan Darius. Bangga karena pada akhirnya ada yang membuat film dengan tema perjuangan dan nasionalisme, sedikit kecewa karena... ya itu, kok idenya, pembuat ceritanya, bahkan sampai tim produksinya banyak yang "produk impor", padahal di negeri kita ini dari jaman baheula sampai saat ini sangat banyak insan perfilman yang mampu membuat film yang sangat berkualitas.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Anyway, dari sisi filmnya sendiri (terlepas dari apakah ceritanya nyambung dengan sejarah perang kemerdekaan atau tidak), film ini adalah film yang layak untuk ditonton. Dengan biaya produksi yang tinggi (konon mencapai Rp 60 miliar), tentunya penonton mengharapkan film yang berkualitas, paling tidak dari sisi sinematografinya. Dari sisi pengambilan gambar, oke banget, walaupun gayanya memang gaya film Amerika banget... (dan berhubung aku penggemar film produksi Amerika, jadi buatku nggak ada masalah, tentu saja selama kualitasnya oke!). Kemudian akting para pemainnya juga top abis! Lagi-lagi two thumbs up buat Lukman Sardi, tiap kali dia main film baru, kita tidak pernah ingat perannya di film sebelumnya. Awal-awal di film ini memang terlihat senyumannya yang khas banget, namun makin ke belakang yang terlihat bukan seorang Lukman Sardi ato Umar si Pengemudi Bajaj ato Tito si Pendaki Gunung, tapi Letnan Amir. Yang lain juga oke banget, sampe' kita membahas, yang main Tomas dan Dayan itu bukan orang Manado dan orang Bali beneran khan?? Keren... Apalagi Darius, aktingnya poll... poll "nyebelin", apalagi pas melihat Marius lari dengan ketakutan meninggalkan Soerono yang hampir tewas... two thumbs up buat Darius!&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;So... setelah melihat filmnya dan membaca berbagai komentar di web, berikut adalah kesimpulannya :&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(1) Film ini belum layak disebut sebagai film perjuangan, karena bisa dibilang kaitannya kurang kuat dengan sejarah Indonesia masa itu (bandingkan dengan Enam Jam di Yogya, Kereta Api Terakhir, Doea Tanda Mata, ato film-filmnya Usmar Ismail, konon propertinya jauh lebih teliti, dan keterkaitan dengan sejarah Indonesia jauh lebih kuat)&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(2) Sebagai film yang mengangkat tema nasionalisme, film ini sudah memperlihatkan nilai-nilai yang pada saat itu diperjuangkan oleh para pejuang, termasuk di antaranya mengesampingkan segala perbedaan baik suku, agama, status, dan kemudian bersatu untuk mengusir penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan. Dan terus terang, setelah menonton filmnya, film ini masih cukup "Indonesia", dan tidak terjebak menjadi film "Rambo".&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;(3) Bagi mereka yang mencari tontonan berkualitas, rugi kalau nggak nonton... sinematografi oke, akting pemainnya oke, ceritanya lumayan... stylenya memang cenderung ke arah film Hollywood, tapi itu berarti memperkaya khasanah film Indonesia, ya kan?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mudah-mudahan, setelah Trilogi Merdeka ini keluar, banyak produsen film Indonesia yang "terpancing" untuk membuat film sejenis dengan kualitas yang juga oke... paling tidak bisa dimulai dengan me-remake film-film perjuangan Usmar Ismail... Badai Pasti Berlalu kan udah di-remake, sekarang giliran film perjuangan donk...&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-2962159401057904465?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/2962159401057904465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=2962159401057904465' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2962159401057904465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2962159401057904465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/08/merah-putih-nasionalisme-vs-hollywood.html' title='&quot;Merah-Putih&quot; : Nasionalisme vs. Hollywood'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SormeHkMWaI/AAAAAAAAAPQ/g6dhYn6HjIY/s72-c/Film_merah_putih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-3797744670890350261</id><published>2009-06-17T02:03:00.005-07:00</published><updated>2009-06-28T21:15:12.654-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='star trek'/><title type='text'>Star Trek XI : Pro dan Kontra</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SjizNRe6mMI/AAAAAAAAAO4/sXn5rvTokmc/s1600-h/star_trek_future_begins.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 136px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SjizNRe6mMI/AAAAAAAAAO4/sXn5rvTokmc/s200/star_trek_future_begins.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348221598115207362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Star Trek XI : The Future Begin mulai main di bioskop-bioskop di Indonesia sejak 9 Juni 2009. Dan di luar dugaan, "nasib"nya jauh lebih baik daripada "pada pendahulu"nya, reaksi publik sangat positif, karena selama beberapa minggu film ini tayang di bioskop, studio bioskop selalu terisi penuh, bahkan di hari kerja sekalipun. Entah apa yang membuat orang berminat untuk menonton, apakah karena penasaran (mengingat promonya yang sedemikian gencar), bosan dengan film yang "itu-itu aja", atau karena memang sudah lama merindukan kelanjutan dari Star Trek sejak terakhir Star Trek X beredar (dan saya cukup yakin dari sekian banyak penonton, mungkin maksimal hanya 40% yang beneran Trekker atau Trekkies, sisanya ya temen-temennya... :-) )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai review (dan spoiler) di milis Star Trek Indonesia, banyak yang pro, kontra, ataupun dua-duanya. Yang pasti, semua membandingkan film ST XI ini dengan serial dan film Star Trek yang universe-nya sudah dikenal sejak dulu. Bagi saya pribadi, secara sinematografis filmnya bagus (sangat mungkin ini yang bikin orang non-Trekker/non-Trekkies bisa menikmati filmnya). Dari ceritanya pun lumayan lah, gak terlalu berat sampai harus mikir, tapi gak terlalu cetek alias murahan. Dan yang lebih penting, ceritanya memang pantas untuk dijadikan film layar lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi k'lo dibandingkan dengan Star Trek Universe yang sudah dikenal sebelumnya... I miss so many things! Satu hal besar yang hilang dari film ini adalah "nyawa" Gene Roddenberry, orang yang bertanggungjawab atas lahirnya Star Trek. Sekian puluh tahun saya menonton Star Trek (bahkan hingga serial dan film yang dibuat saat Gene Roddenberry sudah tiada), "nyawa" itu selalu ada. Kalau kita simak baik-baik, Star Trek mencerminkan cita-cita Roddenberry akan sebuah alam semesta yang (hampir) ideal, di mana hampir semua serial dan film Star Trek menggambarkan tentang bagaimana nilai-nilai kemanusiaan berhadapan dengan semua permasalahan di alam semesta. Dan nilai ini nyaris hilang di film ST XI, yang bagi saya, akhirnya membuat ST XI lebih terlihat seperti film action (yang, sejujurnya, terlihat *sedikit* lebih sadis dibandingkan film-film Star Trek sebelumnya). But nothing wrong with that. Di beberapa artikel, JJ Abrams, sutradara ST XI memang menyatakan bahwa ia kurang menyukai membuat film yang slow pace, maka dia membuat ST XI dengan gaya yang cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sempat membaca sinopsis/spoiler dari Internet Movie Data Base, dan sekilas saya sempat "berburuk sangka", jangan-jangan nanti filmnya malah jadi seperti Star Wars, ups... Star Trek is not equal to Star Wars! Tapi setelah menonton sendiri filmnya, untungnya prasangka saya tidak terbukti... ST XI masih tetap sebuah "film Star Trek", karena (menurut saya) karakter, cerita dan dialog-dialognya masih "Star Trek banget".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang untuk jalan ceritanya, mungkin banyak yang mempertanyakan, kok kaya'nya beda sama 'universe' Star Trek yang kita kenal selama ini. Namun setelah membaca berbagai argumen, akhirnya saya menyetujui suatu kesimpulan bahwasanya ST XI ini bukan merupakan prequel dari ST:TOS yang kita kenal selama ini, tapi merupakan alternate universe, dan itu sah-sah aja siy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonton ST XI juga membangkitkan banyak kenangan dari serial dan film Star Trek sebelumnya (walaupun mungkin hanya para Trekkers/Trekkies yang punya kenangan akan hal ini). Banyak adegan yang mengingatkan kita pada karakter di ST:TOS (Star Trek : The Original Series) atau dialog atau kejadian dari film-film sebelumnya. Misalnya saja ketika Kirk bertanya pada Sulu dia bisa berkelahi dengan apa, Sulu menjawab dia bisa main anggar (this one is funny, karena mengingatkan saya pada adegan Sulu di ST:TOS yang bermain anggar saat terjangkit virus). Dialog paling te-o-pe yang membuat saya mengenang kembali film-film Star Trek sebelumnya adalah dialog ketika Ambassador Spock (Leonard Nimoy) di planet bersalju berhadapan dengan Kirk (Chris Pine) yang tidak percaya bahwa Kirk dan Spock (akan) bersahabat baik : "I will, and always be your friend." Kalimat ini pernah diucapkan Spock (Leonard Nimoy) kepada Kirk (William Shatner) di Star Trek II, ketika Spock mengorbankan diri untuk memperbaiki warp core Enterprise NCC 1701 agar bisa melarikan diri dari ledakan pesawat Khan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kata orang-orang masih belum 'pas' adalah karakternya, karena katanya masih kurang mirip dengan karakter di ST:TOS yang asli. Well... secara yang main udah beda gitu loh, selain pastinya gak gampang, mungkin juga emang karena permintaan sutradara... Yang main Kirk (Chris Pine) dan Spock (Zachary Quinto) dari segi fisik lumayan mirip lah, k'lo dari segi karakter, Kirk-nya cukup 'Kirk' (cukup banyak adegan berkelahi dan wanita... hehehe...), cuman untuk Spock jadi agak terlalu emosional, karena as far as I know, Spock itu Vulcan yang selalu berusaha nunjukin bahwa dia itu logis banget, walaupun sesekali ditunjukin juga pergolakan emosinya dari sisi manusianya (mungkin ini yang mau diangkat sama sutradaranya). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang paling gak mirip&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; dari segi fisik adalah McCoy (perasaan Dr. Mc Coy di ST:TOS gak terlalu tinggi dan kecil, kok di ST IX dia tiba-tiba tinggi dan berbodi ya? Tapi kesinisannya sih dah lumayan mirip). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Yang agak berlebihan mungkin Pavel Chekov (rasanya Chekov dulu logatnya gak berlebihan seperti itu, udah gitu secara fisik gak mirip), but I have to admit that he gives the fun side of the movie! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sedangkan yang karakternya paling nggak sama dari karakter aslinya adalah Montgomerry Scott, di mana Scotty-nya kurang Inggris banget... (no bloody 'bloody'...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa fakta menarik di film ST XI ini :&lt;br /&gt;1. Randy Pausch (alm), dosen yang terkenal dengan The Last Lecture, mendapat 1 peran figuran sebagai salah satu kru USS Enterprise&lt;br /&gt;2. Christopher Doohan, putra dari James Doohan (alm.), pemeran Scotty, ikut main dalam film ini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Trivia-trivia lainnya bisa dilihat di &lt;a href="http://www.imdb.com/title/tt0796366/trivia"&gt;sini&lt;/a&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, secara keseluruhan, film ini cukup bagus (4 dari skala 5), jadi kalau ada yang mau mengajak saya nonton lagi, boleh lah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-3797744670890350261?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.startrek.com' title='Star Trek XI : Pro dan Kontra'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/3797744670890350261/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=3797744670890350261' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/3797744670890350261'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/3797744670890350261'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/06/star-trek-xi-pro-dan-kontra.html' title='Star Trek XI : Pro dan Kontra'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SjizNRe6mMI/AAAAAAAAAO4/sXn5rvTokmc/s72-c/star_trek_future_begins.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-1780670970129487253</id><published>2009-04-16T06:54:00.005-07:00</published><updated>2009-04-16T07:13:27.027-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mall'/><title type='text'>Bangun Pagi Murah Rejeki!</title><content type='html'>Banyak sesepuh kita yang berkata, "bangun pagi murah rejeki". Dan itu yang saya rasakan hari ini, ketika pagi-pagi saya "terdampar" di mall Ambasador...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya berencana untuk membeli beberapa barang elektronik "titipan", dan setelah malam sebelumnya saya browsing dan survey mengenai keberadaan dan harga barang tersebut, saya memutuskan untuk membelinya di mall Ambasador.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala pertama yang saya temui adalah : saya datang kepagian! Yah, berhubung jam kantor saya di Simprug dimulai pukul 7, jadi pukul 7 lebih dikit saya sudah sampai di kantor klien di Kramat dan dengan sukses menemui beberapa klien saya. Setelah urusan dengan klien sudah selesai, dalam perjalanan pulang ke Simprug saya "mampir" ke mall Ambasador. Ternyata jam 9 pagi di mall Ambasador, tokonya masih pada tutup, gelap bo... untung resto Chow King sudah buka dan menyediakan menu sarapan, jadi sambil menunggu jam 10 (di mana aktivitas mall dimulai) saya nongkrong dulu di Chow King.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 10, rupanya belum semua toko pada buka (bahkan ada satu toko baju yang saya sempat hampiri karena pintunya terbuka, penjaganya 'mengusir' saya dan berkata toko belum buka, ealah...), jadi mampir dulu deh ke Trimedia. Dari Trimedia, saya melihat masih banyak toko-toko elektronik (baca : toko komputer dan toko handphone) yang belum buka. Di beberapa toko yang sudah mulai buka, saya mulai survey-survey sedikit mengenai keberadaan barang yang sedang saya cari. Dan ternyata, toko yang kemarin saya survey di internet belum ada yang buka! Akhirnya saya 'mendarat' di salah satu toko (toko ini tidak ada di list saya), dan saya mendapat salah satu barang yang saya cari dengan harga yang ekonomis! Yah... saya pikir kami berdua sama-sama beruntung, saya dapat barang dengan harga ekonomis, toko itu dah dapat penglaris pagi-pagi. Coba dia belum buka, pasti saya nggak jadi beli di situ dech... Sambil menunggu barangnya diproses, saya nanya-nanya, kok toko yang lain belum buka? Para penjaga toko itu bilang, kalau toko-toko lain ada yang baru buka jam 12. Lah... masa' aku disuruh nungguin dia buka?? Capek deh... mending cari di toko lain!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi terpikir, toko tempat saya beli barang itu sungguh beruntung, karena dia buka pagi-pagi, jadi saya bisa beli di toko dia. Terbukti memang kata para sesepuh, "bangun pagi murah rejeki"... gak cuman toko dapat pembeli, kita juga terhindar dari macet, masuk kantor tidak telat, ketemu klien juga bisa lebih santai dlsb dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(tapi... susah banget ya untuk bangun pagi-pagi... :P)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-1780670970129487253?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/1780670970129487253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=1780670970129487253' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1780670970129487253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1780670970129487253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/04/bangun-pagi-murah-rejeki.html' title='Bangun Pagi Murah Rejeki!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-1778143314576134506</id><published>2009-03-09T23:41:00.008-07:00</published><updated>2009-03-11T20:08:50.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='music'/><title type='text'>Opera Ganesha Dies Emas ITB 2009</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sbh8jVnHoMI/AAAAAAAAALg/8Zyf-aip1Xc/s1600-h/n46285508813_4268.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 110px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sbh8jVnHoMI/AAAAAAAAALg/8Zyf-aip1Xc/s200/n46285508813_4268.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312132707021988034" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah setahun 'vakum' dari dunia entertainment dan lebih banyak berkutat di dunia proyek (halah!), akhirnya tanggal 8 Maret 2009 ini saya 'manggung lagi bersama PSM ITB, kali ini untuk acara Opera Ganesha, dalam rangka Dies Natalis Emas ITB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang bertanya-tanya, kok ITB umurnya baru 50 tahun? Padahal katanya udah berdiri sejak 1920?? Jadi begini : pendidikan tinggi teknik di Indonesia memang dimulai tahun 1920, dengan berdirinya jurusan Teknik Sipil di kampus Ganesha 10. Jadi, kampus di Jl. Ganesha No. 10 itu memang sudah sejak 1920, tapi resmi bernama Institut Teknologi Bandung sejak tahun 1959, begicu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opera yang judulnya Opera Ganesha ini temanya adalah "Napak Tilas Gajah Kencana Meniti Kala", alias perjalanan gajah emas dari waktu ke waktu. Pengisi acaranya umumnya para mahasiswa, yang tergabung dari berbagai unit kesenian, termasuk angklung, seni tari &amp;amp; karawitan, kesenian Minang, marching band, orkestra, dan juga paduan suara. Ini pun masih ditambah dengan orkestranya kang Purwacaraka. Secara singkat, Opera ini isinya adalah tentang 'gajah', karena baik kostum maupun properti yang digunakan oleh para penari malam itu bertema gajah (mulai dari gagajahan, gajah lumping, dan semua penari mengenakan topeng gajah).  Jadilah, malam itu Sasana Budaya Ganesha penuh dengan 'gajah-gajah berwarna emas' menari di atas panggung (hmm... I wonder, barangkali Way Kambas pas tanggal 8 Maret 2009 itu kosong melompong, karena gajahnya dipanggil semua ke Bandung, hwehehe...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai (mantan) penari dan penyanyi, saya salut kepada semua pengisi acara (orkestra, musik tradisional, penari, dlsb), secara umum penampilannya lumayan banget (nilai 8 dari skala 10), bisa dibilang tidak ada 'kecelakaan' selama penampilan, walaupun latihannya dah mepet banget. Terutama salut kepada para penari, yang siangnya sempat (atau 'terpaksa'?) gladi bersih sampai 2 kali, cuman beberapa jam sebelum tampil! Staminanya bol-jug, euy! Tapi di satu sisi, saya kasian juga ama penarinya, udah tampil keren, tapi sepanjang pertunjukan harus pakai topeng gajah... duuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya merasa bahwa Opera-nya sendiri tidak terlalu berkesan. Konsep Opera-nya kaya'nya kurang mantap, soalnya instead of 'perjalanan gajah kencana meniti kala', aku malah melihat ceritanya cuman seputar "gerakan mahasiswa", dan terkesan terlalu menonjolkan jaman-jaman  kejadian era tahun 1970-an (a.l. peristiwa Rene Conrad dan saat tentara masuk kampus 1978). Bagi saya pribadi, ITB bukan cuman 'Rene Conrad' dan 'Buku Putih', ITB itu jauh lebih besar daripada itu! Udah gitu, biarpun judulnya 'Opera', tapi ternyata yang dapet porsi sangat besar adalah tim orkestra dan penari. Jadi ada juga penonton yang bertanya-tanya : mana operanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat waktu kami latian paduan suara, hampir semua penyanyi bertanya-tanya, ini Opera-nya tentang apa sih? Kita nyanyi di bagian mana? Tapi nggak ada yang bisa jawab (termasuk pimpro yang ada di Bandung), dan pada akhirnya jawabannya baru ditemukan last minute pas pertunjukannya! Capek deh... Belum lagi banyak perubahan yang terjadi waktu last minute... waduh, kaya'nya persiapannya ga mateng, ya... tapi kembali lagi, alhamdulillah final performance-nya lumayan baik, jadi persiapan yang kurang mateng itu gak terlalu keliatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya tidak menyesali keputusan untuk ikut dalam grup paduan suara yang mendukung Opera Ganesha ini. Biarpun kami cuman nyanyi 3 lagu (sebenernya yang SATB cuman 2, yang satu kan mengiringi bapak Ketua Panitia bernyanyi unison, secara lagunya baru &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;diganti&lt;/span&gt; 1 minggu sebelum acara...), tapi penampilan PSM ITB kali ini sangat khusus dan unik. Kapan lagi bisa ngumpulin penyanyi dari angkatan 1961 sampai angkatan 2008, untuk nyanyi bareng di acara-nya ITB?? Kalau diliat latar belakang, jurusannya, profesinya, etnisnya, kita beda-beda semua (ada yang mahasiswa baru masuk, ada yang dosen, ada yang pekerja kantoran, ada yang pekerja lapangan, ada yang freelance, ada juga yang pak Deputi Menteri), kita cuman sama dalam 2 hal : mahasiswa (atau minimal pernah jadi mahasiswa) ITB, dan anggota PSM ITB. Sebenernya, panitia sudah menghimbau Unit Kesenian pengisi acara lainnya untuk mendatangkan alumninya juga (secara ini kan acara Dies Emas ITB gitu loh!), tapi ternyata yang terkumpul (dan kebetulan cukup banyak) ya cuman PSM ITB. Konon kabarnya, ini lebih karena emang kitanya yang 'banci tampil' dan 'demam panggung', alias demam k'lo ga naik panggung....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyanyi, Jukie, sudah menulis tentang apa yang ia rasakan setelah melihat penampilan kami di Opera Ganesha, katanya &lt;a href="http://jukievolution.blogspot.com/2009/03/hanya-psm-itb-yang-bisa-begini.html"&gt;"Hanya PSM ITB yang bisa begini"&lt;/a&gt;, dan saya sangat setuju dengannya. Dengan bernyanyi, kita menyatukan perbedaan di antara kita, dan menjadi satu identitas : PSM ITB. Belum tentu sebulan, setahun, bahkan sepuluh tahun lagi kita bisa mengumpulkan anggota dan bernyanyi di occasion yang unik seperti ini lagi, and I'd love to be part of it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One more things, pemilihan lagu Naik Delman, yang walaupun menurut saya gak nyambung sama sekali dengan narasi di Opera-nya, itu oke banget. Lagu ini diaransir oleh alm. pak Sudjoko, sesepuh PSM ITB yang aransemennya sangat khas (walaupun pak Djoko seringkali 'menabrak' kaidah-kaidah kepaduansuaraan, but that's pak Djoko!). Biarpun banyak suara-suara protes terutama dari penyanyi sepuh yang merasa bahwa lagunya jadi 'kurang pak Djoko' (karena ada pemotongan sedikit di sana-sini), tapi karena musik pengiringnya diaransir sedemikian rupa, kemudian ditambah iringan tradisional dari angklung dan gamelan, it sounds great!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-1778143314576134506?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.itb.ac.id/news/2382.xhtml' title='Opera Ganesha Dies Emas ITB 2009'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/1778143314576134506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=1778143314576134506' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1778143314576134506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1778143314576134506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/03/opera-ganesha-dies-emas-itb-2009.html' title='Opera Ganesha Dies Emas ITB 2009'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/Sbh8jVnHoMI/AAAAAAAAALg/8Zyf-aip1Xc/s72-c/n46285508813_4268.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-1143745089457869237</id><published>2009-03-09T23:13:00.018-07:00</published><updated>2009-03-11T21:38:29.781-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Trip to Bandung, March 2009</title><content type='html'>Bandung is always a hometown for me. In fact, it is my "second hometown". If everybody goes to Bandung for shopping or eating, I go to Bandung just for "moving to the other bedroom" (a.k.a. 'pindah tidur').&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;On March 2009, my trip to Bandung is a different one than usual. I planned to go to Bandung by train. It was a nostalgic trip, since before the era of Cipularang tollroad, I always go from-to Bandung by Parahyangan train, at Business class (as students at that time, we have to be very economist, hehehe). But after the tollroad is opened, there were lot of travel, and we prefer use travels since it cut the trip duration significantly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, in the morning of March 6th 2009, I went to the Gambir station, bought Parahyangan ticket, and enjoyed the trip. It really a nostalgic one... The scene is a little bit different from the last time I went to Bandung by train. The towers, the train station buildings, and the trees still looks the same, only this time we could see many tall bridges of Cipularang tollroad across the hills. What a scene! Maybe trip by train is not as fast as by travel, but the sensation is still different. And if you took trip by train, you can enjoy the trip, even you can open your laptop and get work done while you still on the road (you may not do this on travel, it can disturb the person who sit next to you!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here are some photos from my trip to Bandung by train :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiQJ7ciRWI/AAAAAAAAAMw/mH643qwk8us/s1600-h/DSC04273.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiQJ7ciRWI/AAAAAAAAAMw/mH643qwk8us/s200/DSC04273.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312154260734100834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiFG5LCcQI/AAAAAAAAALo/4-xZ7_3dlqg/s1600-h/MOV04282_0001.jpg"&gt; &lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiFG5LCcQI/AAAAAAAAALo/4-xZ7_3dlqg/s200/MOV04282_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312142113956327682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Situation outside and inside the executive wagon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiQ24DwU2I/AAAAAAAAAM4/9FcHl5xC2sE/s1600-h/DSC04278.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiQ24DwU2I/AAAAAAAAAM4/9FcHl5xC2sE/s200/DSC04278.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312155032918971234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tall buildings of Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiJOx2hMxI/AAAAAAAAAL4/FsccqIyrxvA/s1600-h/MOV04290_0001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiJOx2hMxI/AAAAAAAAAL4/FsccqIyrxvA/s200/MOV04290_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312146647476679442" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Train passed bridge crossing above the Cipularang tollroad (around Purwakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiJ65u-OFI/AAAAAAAAAMA/lEzf5Ffhwu8/s1600-h/MOV04295_0001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiJ65u-OFI/AAAAAAAAAMA/lEzf5Ffhwu8/s200/MOV04295_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312147405506754642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jatiluhur lake from the distance&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiKfKpnq3I/AAAAAAAAAMI/jZsdwiJEN74/s1600-h/MOV04299_0001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiKfKpnq3I/AAAAAAAAAMI/jZsdwiJEN74/s200/MOV04299_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312148028522998642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Terrasering rice field at Purwakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiLRZSTdgI/AAAAAAAAAMQ/g8R6z7eRkXU/s1600-h/MOV04304_0001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiLRZSTdgI/AAAAAAAAAMQ/g8R6z7eRkXU/s200/MOV04304_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312148891445196290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiLkr2TpaI/AAAAAAAAAMY/iFay-ERnBMc/s1600-h/MOV04304_0002.jpg"&gt; &lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiLkr2TpaI/AAAAAAAAAMY/iFay-ERnBMc/s200/MOV04304_0002.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312149222845556130" border="0" /&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cikubang tollroad bridge (length 520 meter, height 60 meter) , viewed from Sasaksaat railway bridge&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiMrnPNZxI/AAAAAAAAAMg/Gs6LsNSRmcM/s1600-h/MOV04308_0001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiMrnPNZxI/AAAAAAAAAMg/Gs6LsNSRmcM/s200/MOV04308_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312150441378539282" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Cipada tollroad bridge (length 600 meter, height 45 meter)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiNTCRTLRI/AAAAAAAAAMo/HZljLUXYZvo/s1600-h/MOV04315_0001.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiNTCRTLRI/AAAAAAAAAMo/HZljLUXYZvo/s200/MOV04315_0001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312151118649961746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Near Cikamuning tollgate, we can see the arteri road (Padalarang-Purwakarta old route) and Cipularang tollroad side-by-side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiROHdVaMI/AAAAAAAAANA/QXRijg82t3g/s1600-h/DSC04328.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiROHdVaMI/AAAAAAAAANA/QXRijg82t3g/s200/DSC04328.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312155432189782210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Bandung train station tower&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiRjqEtqMI/AAAAAAAAANI/CgxGQ719FIo/s1600-h/DSC04331.JPG"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiRjqEtqMI/AAAAAAAAANI/CgxGQ719FIo/s200/DSC04331.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312155802259007682" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Train monument at old Bandung train station.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiLkr2TpaI/AAAAAAAAAMY/iFay-ERnBMc/s1600-h/MOV04304_0002.jpg"&gt; &lt;/a&gt;I also took some walking at Braga street, and bought the book about Braga at Djawa bookstore, the famous small old bookstore at the middle of Braga steet. After reading the book, I just realized, there are not much different between the people at 1900 era and 2000 era, they all come to Bandung for some refreshment and entertainment, including shows performance, fashion shopping, and last but not least : culinary tourism! The different only if at the 1900 era the visitor are Dutchs from the plantation, but in nowaday, the visitor is Indonesian who came from many places, especially Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But when I returned to Jakarta by car, things is really different. The Cipularang tollroad was very full, it was the longest traffic jam I ever seen! At 16.00 WIB, we enter the Pasteur tollgate, and near the Cimahi/Baros tollgate, the traffic just started to stuck. I turned on the radio, and found out that the traffic jam occur along the Cipularang tollroad until km 57 of Cikampek tollroad! Oooo... if we continue the trip, we would trapped in the traffic jam, and it must be a tired one. So we decide to turn back and return to my grandma's home, waiting until the traffic is not so crowded. At last, we start the trip back to Jakarta at 02.00 WIB in the middle of the night, and we safely arrive at our home at 06.00 WIB in the morning, phew... (and the traffic is not so clear at all, since we still found the jam at Karawang for several kilometres).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-1143745089457869237?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/1143745089457869237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=1143745089457869237' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1143745089457869237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1143745089457869237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/03/trip-to-bandung-march-2009.html' title='Trip to Bandung, March 2009'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SbiQJ7ciRWI/AAAAAAAAAMw/mH643qwk8us/s72-c/DSC04273.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-1715188528593729278</id><published>2009-02-08T08:10:00.003-07:00</published><updated>2009-02-08T08:15:09.730-07:00</updated><title type='text'>The Cold &amp; Freezing Jakarta</title><content type='html'>I wonder, why last week Jakarta was so so cold. At first, I thought the cold temperature only occur every time we got rain or windy weather. But I just realized that the water also very very cold (it rarely happened in Jakarta), as if someone put giant ice cube to chill it. That make me feel I was taking a bath in Bandung everytime I took a bath. So cold! Can't believe it ever happened at Jakarta!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-1715188528593729278?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/1715188528593729278/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=1715188528593729278' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1715188528593729278'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1715188528593729278'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/02/cold-freezing-jakarta.html' title='The Cold &amp; Freezing Jakarta'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-8240360146715884838</id><published>2009-01-26T22:40:00.009-07:00</published><updated>2010-12-25T06:01:47.766-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jakarta'/><title type='text'>Plesiran Tempo Doeloe Kota Tua Batavia : not worthed...</title><content type='html'>Minggu, 25 Januari 2009, aku dan adik-adikku ikut Plesiran Tempo Doeloe di Kota Tua Batavia. K'lo liat dari milis dan websitenya, acaranya menarik banget, apalagi diselenggarakan dengan jalan kaki, wah, pasti banyak yang bisa diliat nih. Belum lagi setelah baca novelnya ES Ito si Rahasia Meede, sapa tahu beneran ketemu ada terowongan di bawah (ex-)Stadhuis, huehehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari sebelum acara, aku iseng-iseng mengemail koordinatornya, nanya berapa jumlah pesertanya. Dijawablah : 900-an orang. (DOINK!!!!) Banyak banget?! Ini teh mau plesir ato mau lomba gerak jalan? (diinget-inget, perasaan jaman karyawisata dulu, k'lo 1 sekolah mau karyawisata, jumlahnya per angkatan max 600-an orang, itu pun udah dibagi jadi 3 gelombang @ 200-an peserta max) Tapi ya udahlah... cuman bisa berdoa, mudah-mudahan panitia cukup siap menghadapi peserta yang segini banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas dateng ke tempat kumpul di Museum Bank Mandiri, terlihat panitia udah membagi peserta ke loket-loket sesuai dengan nomor pendaftarannya. Ohh... lumayan... gak perlu berebut daftar ulang. Tapi ternyata, nomor terakhir pendaftaran itu 1100!! (DOINKINKINK!!!) Buset, dah... lebih mirip orang mau kampanye ato demo deh kaya'nya... Udah gitu pas jam 7, panitia keliatan belum siap, jadi aja peserta yang jumlahnya 1000-an itu pada berkeliaran di Museum Bank Mandiri, untung banyak yang diliat di sana, jadi gak bosen-bosen amat.&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX67hqH1hBI/AAAAAAAAALA/wL9KYXsL01A/s1600-h/museum+bank+mandiri+1.jpg"&gt;&lt;img style="TEXT-ALIGN: center; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 200px; DISPLAY: block; HEIGHT: 150px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295876398751515666" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX67hqH1hBI/AAAAAAAAALA/wL9KYXsL01A/s200/museum+bank+mandiri+1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah beberapa saat, loket dibuka. Alhamdulillah, peserta cukup tertib. Tapi rupanya, mulai ada yang gak 'kena'. Masa' bisa kami tidak kebagian roti buaya buat sarapan, padahal panitia sendiri yang membagi tiap loket dibatasin 100 peserta sesuai nomor pendaftaran??? Memang sih, pada akhirnya roti itu bisa diklaim ke panitia setelah acara presentasi, tapi udah keburu sebel aja (cuman masih belum bete, baru sebeleun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah proses pendaftaran, peserta "digiring" ke lantai atas untuk mendengarkan presentasi. Eh, gak disediain kursi... jadilah kita duduk di lantai. Kebayang donk, untuk masukin 1100 peserta ke dalam ruangan yang sempit, prosesnya lama... udah gitu presentasinya nggak selesai-selesai. Pas presentasi yang pertama oleh pak Liliek Suratminto, kebetulan beliau gaya presentasinya enak, ditambah yang dijelaskan itu padat-singkat-mengena (mungkin juga karena udah diwanti-wanti bahwa jam 8 harus udah jalan). Salah satu penjelasan pak Liliek yang paling berkesan untuk saya adalah bahwa ternyata JP Coen membangun kota Batavia dengan kanal-kanal seperti di Venezia, tapi kanal-kanalnya kemudian ditimbun oleh Daendels (Gubernur Jendral merangkap "pemborong bangunan") karena menjadi sumber penyakit. Oalah... rupanya bukan cuman orang Indonesia yang suka menggusur tempat-tempat bersejarah, tapi rupanya mental itu diturunkan oleh para penjajahnya jaman dahulu kala... (amit-amit!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, lah kok udah jam 8.15, presentasi diteruskan oleh pak Andy Alexander! Payah niy yang ngatur jadwal... padahal presentasinya pak Andy cukup panjang (mungkin malah buat saya terlalu panjang...). Jadi aja, jam 9 kurang masih di ruang presentasi. Terang aja semua orang udah pada gelisah, ruangannya sempit, ada 1100 orang (mungkin oksigennya udah mulai berkurang), presentasi gak selesai-selesai, jalan-jalannya gak mulai-mulai. Tiba-tiba, saat presentasi pak Andy kurang 8 slide lagi, power pointnya nggak mau nampilin gambar, malahan pet! Presentasinya tiba-tiba hilang dari layar dan tak mau kembali (mungkin laptop ama LCDnya juga dah bete kali...). Jadi aja, para peserta, yang mungkin sebagian besar udah bosen dan bete, langsung pada berdiri dan bergerak keluar. Himbauan panitia untuk berkelompok sesuai nomor pendaftaran pun udah gak didengerin, semua pengen cepet turun, semua pengen cepet acaranya segera mulai, secara matahari juga udah semakin panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama adik-adikku menunggu sampai peserta yang pada berebutan turun kira-kira hampir habis (jadi mungkin kami ada di rombongan terakhir), dan pada akhirnya, dimulailah acara jalan kaki. Tujuan pertama : Toko Merah. Pas di depan tokonya, halah... gimana mau foto-foto? Beranda Toko Merah dah berubah jadi "Lautan Manusia"! Akhirnya kami cuman bisa foto bangunannya aja, abis ga nemu posisi yang bagus buat foto, terlalu penuh bo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX6siVpV54I/AAAAAAAAAKo/E_sM6NkrZkc/s1600-h/jembatan+kota+intan.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 108px; FLOAT: left; HEIGHT: 145px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295859917760358274" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX6siVpV54I/AAAAAAAAAKo/E_sM6NkrZkc/s200/jembatan+kota+intan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Tujuan berikutnya : Jembatan Kota Intan. Lagi-lagi, susah banget cari spot foto yang optimum, abis ada 1100 orang ngantri mau foto semua... tapi lebih susah lagi mencari 4 narasumber yang disediakan, soalnya 1100 orang juga pada pengen dengerin penjelasan para narasumber. Akhirnya bisa juga foto di Jembatan Kota Intan, tapi... ya gitu deh, ga optimum (masih ditambah ngeri-ngeri dikit karena ada puluhan orang sekaligus di atas jembatan tua itu...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Jembatan Kota Intan, rombongan (yang tadinya masih berjalan per 100 orang, tapi udah jadi rombongan besar beranggotakan 1100 orang) berjalan kaki lewat kolong rel KA dan jembatan layang tol menuju ke sisa-sisa Kastil Batavia (yang udah gak bersisa sama sekali). Untuk mendengarkan penjelasan dari para narasumber, kami memilih mengikuti bapak-bapak pemegang speaker (salut sama para bapak yang memegangi speaker sepanjang perjalanan!). Dan ternyata, selain 1100 peserta yang mengikuti penjelasan para narasumber, terdapat beberapa pedagang es krim Walls yang sangat jeli menangkap kebutuhan para peserta yang sedang kepanasan ini... O ya, aku sempat melihat ada salah satu peserta yang menggunakan kursi roda, salut ya Mbak untuk semangatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX6yIqUFOUI/AAAAAAAAAKw/nHPBC-O8eWA/s1600-h/menara+syahbandar.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 109px; FLOAT: right; HEIGHT: 145px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295866073701497154" border="0" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX6yIqUFOUI/AAAAAAAAAKw/nHPBC-O8eWA/s200/menara+syahbandar.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Dari kolong layang tol, kita bergerak ke arah Museum Bahari, melewati sebuah bangunan tua yang agak tidak begitu jelas apa isinya. Ternyata itu bekas galangan kapal VOC. Tapi galangan kapalnya sendiri udah nggak keliatan bekasnya sebagai galangan, melainkan sudah jadi restoran dan toko-toko. Di sini kami sempat foto di seberang menara syahbandar (soalnya dah kebayang, kalau ada 1100 orang foto di depannya menara syahbandar, bisa-bisa antrian foto baru selesai pas Maghrib... ato Subuh hari berikutnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX602E_aWzI/AAAAAAAAAK4/n-wER4N45qY/s1600-h/museum+bahari.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 200px; FLOAT: left; HEIGHT: 150px; CURSOR: pointer" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295869052979927858" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX602E_aWzI/AAAAAAAAAK4/n-wER4N45qY/s200/museum+bahari.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah itu kita masuk ke Museum Bahari. Mau liat-liat di dalam, dah malas, soalnya di dalam penuh banget... (kaya'nya lebih penuh daripada bis PATAS kail ya...) Ceritanya kami duduk-duduk di halaman dalam, sambil mendengarkan penjelasan para narasumber, serta menunggu minuman dingin yang dijanjikan di milis dan website. Tapi sampai akhir kunjungan, minuman dingin itu tak kunjung datang!! Grrrrr.... Ya sudahlah, pasrah aja (bahkan ngeliat kotak mang-mang Walls pun udah gak berminat) ... akhirnya cuman foto di depan jendela antik ini... itu pun karena bentuk jendelanya lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Museum Bahari, gerombolan 1100 orang berpindah ke pelataran Menara Syahbandar. Ceritanya sih mau sesi tanya jawab, tapi pertanyaan kedua membuatku rada-rada bete, karena si penanya membanding-bandingkan antara Kota Tua Malaka dengan Kota Tua Batavia, dan dia bilang Batavia lebih tua dari Malaka. Salah, Mas... Malaka lebih tua daripada Batavia, secara Malaka tahun 1511 sudah diserbu Portugis, padahal JP Coen baru membangun Batavia sekitar tahun 1619. Yang lebih tua daripada Malaka adalah pelabuhan Sunda Kelapa, bukan Batavia. Pertanyaannya sebenernya nyambung banget (karena mempertanyakan kenapa kita tidak bisa mempertahankan peninggalan sejarah seperti Malaka), cuman sebel aja, kenapa nanyanya di bawah Menara Syahbandar... dah pada kepanasan niy... k'lo di forum lain (terutama yang diselenggarakan di ruangan ber-AC dengan kursi yang nyaman), mungkin pertanyaannya bisa dibahas panjang lebar dan tuntas. Eh, lah kok para narasumber malah bilang "Iya, saya kagum dengan Malaka", oi, rumput tetangga kan emang selalu lebih hijau! Kenapa sih kita malah kagum ama mereka? Daripada terkagum-kagum, ayo kita benahi yang ada di Indonesia ini! Masa' Pemda DKI kalah ama Pemda Sawahlunto, kota yang sepi begitu aja berani membangun museum Goedang Ransum dan bekas tambang dengan sangat menarik, dan mempromosikannya via website... (daripada membandingkan ama Malaka, lebih baik membandingkan ama Sawahlunto, masih sama-sama di tanah Nusantara...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Museum Bahari, kita lewat Jl. Cengkeh dan Jl. Kopi, langsung menuju Stadhuis alias Museum Fatahillah alias Museum Sejarah Jakarta (one of my favorite!). Sebenernya masih ada 1 site lagi di sekitar Jl. Cengkeh, yaitu tempat batu padrao, ato prasasti perjanjian antara Portugis dengan kerajaan Sunda. Tapi karena hari semakin siang, stamina semakin turun, dan juga perasaan semakin bete (salah satunya karena tidak menemukan minuman dingin yang dijanjikan!), jadi saat narasumber yang dikelilingi oleh para pendengar setianya masih menjelaskan di Jl. Cengkeh, sebagian besar rombongan meneruskan perjalanan ke Stadhuis. O ya, sempat juga liat bangunan Dasad Musin, I wonder, mungkinkah di dalam gedung itu si Kalek dan Batu lagi nyangkul untuk mencari pintu terowongan ke arah Istana Merdeka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Stadhuis, alamak, rame banget!! Rupanya lagi ada lomba burung berkicau, jadi ada 2 tratak besar yang isinya sangkar-sangkar burung, dan para pemiliknya sedang memancing burung-burungnya untuk berkicau. Waduh, serasa kembali ke jaman kolonial, di mana lapangan depan balai kota dipenuhi para pedagang dan rakyat untuk menikmati hiburan (which is di jaman kolonial, menurut keterangan pak Liliek atau pak Andy, salah satu hiburannya adalah hukum gantung, hiii....syerem...). Di depan pintu museum, gak ada panitia yang menunggu, jadi aja para peserta pada kleleran gak jelas di halaman museum. Haduh, makin menambah bete ajah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, salah satu panitia kelihatan mengarahkan peserta untuk kembali ke Museum Bank Mandiri. Berhubung kami bertiga sudah bosan dengan segala ketidakpastian, kami memutuskan untuk langsung pulang dengan busway... huh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O ya, buat panitia Plesiran Tempo Doeloe : Kota Tua Batavia yang kebetulan membaca blog ini, jangan marah dulu, ini adalah curahan hati dari segelintir peserta yang mungkin punya ekspektasi ketinggian terhadap acara ini. Kami ngerti kok, kalau rombongannya sangat besar, akan sangat sulit untuk bisa terus mengikuti dan mendengarkan informasi dari narasumber. Tapi paling nggak next time kami berharap pengaturan peserta dan flow acaranya bisa lebih baik daripada yang tanggal 25 Januari 2009 ini, jangan sampe' belum berangkat orang udah pada bete. Ato paling nggak jumlah pesertanya dibatasin. Ato k'lo emang niatnya mau menjaring peserta sebanyak-banyaknya (hmmm... mau dimasukin ke rekor MURI, kah?), peserta bisa dibagi jadi beberapa rombongan besar dengan rute yang berbeda. Anyway, jumlah peserta sebesar 1100 itu sebenernya mencerminkan bahwa masih banyak anak bangsa ini yang peduli terhadap peninggalan sejarah. Jadi acara semacam ini memang perlu diadakan lebih sering lagi, tapi dengan pengaturan yang lebih baik, supaya pada saat acara selesai, kita pulang ke rumah gak cuman bawa foto-foto aja, tapi juga pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai sejarah bangsa Indonesia. Karena kalau pengaturan acaranya kurang baik, selain kita jadi malas mau ikut lagi, malu juga sama beberapa bule yang ikutan, nanti dia pikir bangsa Indonesia emang mampunya cuman segini doank...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-8240360146715884838?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/8240360146715884838/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=8240360146715884838' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/8240360146715884838'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/8240360146715884838'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/01/plesiran-tempo-doeloe-kota-tua-batavia.html' title='Plesiran Tempo Doeloe Kota Tua Batavia : not worthed...'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SX67hqH1hBI/AAAAAAAAALA/wL9KYXsL01A/s72-c/museum+bank+mandiri+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-7148983146491280312</id><published>2009-01-24T09:36:00.004-07:00</published><updated>2009-01-24T10:31:56.937-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>"Rahasia Meede : Misteri Harta Karun VOC"</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SXtQYyoIChI/AAAAAAAAAKg/utWaPJRa9I8/s1600-h/harta+karun+meede.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294914173741304338" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 90px; CURSOR: hand; HEIGHT: 136px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SXtQYyoIChI/AAAAAAAAAKg/utWaPJRa9I8/s200/harta+karun+meede.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;div&gt;Pertama kali lihat dan beli novel &lt;a href="http://rahasiameede.blogspot.com/"&gt;Rahasia Meede&lt;/a&gt; karya ES Ito di toko buku, sebenernya sekedar iseng-iseng aja, lebih terdorong karena diriku adalah penggemar sejarah Indonesia (walaupun masih di bawah taraf amatir...) yang penasaran, bagaimana VOC, yang sudah bubar sejak 1799, bisa meninggalkan harta karun di Indonesia? (even itu cuman sebuah novel, tapi seru juga membayangkan seandainya VOC benar-benar meninggalkan harta karun di negeri tercinta ini, hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba di rumah dan bokap melihat novelnya (yang mana bokap adalah penggemar novel-novel terkait sejarah, terutama serial dari &lt;a href="http://www.langitkresnahariadi.com/"&gt;Langit Kresna Haryadi&lt;/a&gt;), reaksi pertama beliau adalah, "Eh, Bapak baca dulu ya...." OK... gak pa-pa, mudah-mudahan dalam 3 hari novelnya selesai dibaca, en tokh pada waktu itu diriku belum punya waktu untuk membaca. 3 hari jadi 1 minggu, 1 minggu jadi 2 minggu, barulah novel itu kembali padaku. Kok lama ya? Kata bokap, ceritanya seru, makanya nggak kelar-kelar. Waduh, padahal k'lo bokap bilang ceritanya seru... berarti itu seru beneran. Hmmm.... makin penasaran neh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya.... aku berkesempatan membaca novel itu. Halaman pertama, kedua, bab satu, bab dua... dalam waktu semalam novel itu kulalap habis, saking penasarannya. Benar, ceritanya seru banget... Yang membuat ketegangan dalam cerita itu makin seru adalah karena settingnya sangat dekat dengan keseharian kita, yaitu di bumi tercinta Indonesia, terutama di sekitar Jakarta. Banyak hal yang diceritakan dalam novel itu adalah cerminan dari realita yang terjadi di keseharian kita juga. Terlebih lagi, banyak detail-detail dalam novel yang terkait sejarah Indonesia yang membuat kita berpikir, apakah detail ini merupakan fakta atau bukan. Mungkin bisa dibilang bahwa novel ini adalah The Da Vinci Code versi VOC.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sementara besok aku mau jalan-jalan mengelilingi Kota Tua Batavia bersama &lt;a href="http://sahabatmuseum.multiply.com/"&gt;Sahabat Museum&lt;/a&gt; (untuk melihat lokasi novel Rahasia Meede sambil mencari terowongan yang ke arah Monas, hmmm.... :P), bokap mulai membaca novel ES Ito yang berjudul Negara Kelima (which is ternyata ini justru novel pertamanya ya?). Hmm... jadi ikutan penasaran, tapi kembali diriku harus sabar menunggu bokap selesai baca.... :-)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-7148983146491280312?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/7148983146491280312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=7148983146491280312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7148983146491280312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7148983146491280312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2009/01/rahasia-meede-misteri-harta-karun-voc.html' title='&quot;Rahasia Meede : Misteri Harta Karun VOC&quot;'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SXtQYyoIChI/AAAAAAAAAKg/utWaPJRa9I8/s72-c/harta+karun+meede.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-5141650845379769850</id><published>2008-12-28T01:05:00.020-07:00</published><updated>2010-08-23T20:43:41.200-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sumatra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='garuda indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Bukittinggi, I'm coming (again)!!</title><content type='html'>Finally, after long discussion with my family, we decide to have vacation at West Sumatra!! Horeee!!! :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVc28t4OLOI/AAAAAAAAAI8/xOiy5hprwV4/s1600-h/lembah+anai.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284753104478022882" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVc28t4OLOI/AAAAAAAAAI8/xOiy5hprwV4/s200/lembah+anai.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;At Day 1, with flight of GA 160, we took-off on time, and arrived at Bandara International Minangkabaru. Using rental car from &lt;a href="http://dhilla-auto-rental.blogspot.com/"&gt;Dhilla Auto Rental&lt;/a&gt;, we directly went to Bukittinggi. We stop by a very beautiful Lembah Anai Waterfall (&amp;amp; very suprising, since it is very near to the main road!) to take some photograph. After that, we stop by at Pandai Sikek store.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After travelling for 2 hours, we arrived at Bukittinggi, and directly went to Gran Malindo hotel. Just the same as before, the hotel is without aircon. But don't worry, you won't need the aircon at Bukittinggi! After lunch at a Kapau restaurant (which is far than our expectation :-( ), the rental car driver suggested that we go to Lake Maninjau via Kelok 44, so tomorrow we can go around Bukittinggi town. Okay....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVc8aIdx0NI/AAAAAAAAAJE/zS1ZdjiwnNM/s1600-h/masih+tersisa+1+kelok+lagi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284759107389214930" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVc8aIdx0NI/AAAAAAAAAJE/zS1ZdjiwnNM/s200/masih+tersisa+1+kelok+lagi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;After arriving at Embun Pagi, we continued to move to Lake Maninjau. Wow.... what a 'kelok'! (kelok = turning). We rarely found the similar contour at Java, the keloks sometimes very steep and the turning degree is almost 180 degree, maybe more (sometimes we called it "the nose of Petruk", since Petruk, one of the Punakawan Member in wayang story, has a very long nose). I think it's exagerating, but if you're not sure you have a very excellent driving skill, please don't ever try to driving at the keloks, it's very dangerous... Fortunately, the driver has excellent driving skill and he understand the road very well, so we have no problem. Every kelok is numbered, and I took photograph at Kelok 43 to prove that I was there, hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At little town of Maninjau, we didn't come to the lakeside, just watch from the distance. Althought it wasn't like the Toba Lake, but I was surprised to find some motels and guesthouse at the lake side, similar like ones at Poppy Lane, Kuta. We also bought some siluak fish, the specific small fish from the Maninjau Lake. Returning to Bukittinggi, the driver took us throught a different route, and suddenly we were at the base of Ngarai Sianok! Wowowow...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At dinner time, we go to Family Restaurant at Benteng area (near the Fort de Kock gate). When we paid the bill, surprisingly the Mamak who own the restaurant asked us, are we from near area? Wowowow.... how come he thought we were Minang-ers? We never speak Minang language! :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdAzlHeRjI/AAAAAAAAAJU/hpAdXZu2eSM/s1600-h/jembatan+limpapeh.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284763942623528498" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 150px; height: 200px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdAzlHeRjI/AAAAAAAAAJU/hpAdXZu2eSM/s200/jembatan+limpapeh.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;On Day 2, our first itinerary was to Fort de Kock and Budaya Kinantan mini zoo at Taman Bundo Kanduang. FYI, the real name of the Fort de Kock building was &lt;a href="http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0511/29/sumbagut/2251875.htm"&gt;Sterreschans&lt;/a&gt;, which mean guardian star, and "Fort de Kock" actually was to mention the surrounding area of Sterreschans fort. General Baron Hendrik Markus De Kock, whose name was immortalized as the fort's name, was Dutch general who lead the troops who battle with Paderi people at 1825 (and actually the Dutch always called Bukittinggi town as Fort de Kock town, but the Dutch name finally dissapeared on Japan colonalism era). When we entered the gate, another surprise, where was the fort??? I expected we will found a big strong building, or at least the remain of that. But no, we didn't found one. We only found a kind of water reservoir, some canons, and trenchs. But the water reservoir was at the top of the hill (the hill's name was Bukit Jirek), so we assume that the fort maybe not a big building, but the Dutch just using the contour of the hill as fort to defend from the attack of Imam Bonjol, one of our great hero from West Sumatra. After that, crossing the street via Jembatan Limpapeh, we continued our tour to mini zoo, and the rental car picked us at the zoo gate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdAfEQkEJI/AAAAAAAAAJM/71fHT7KXh4g/s1600-h/jam+gadang.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284763590205902994" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 150px; height: 200px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdAfEQkEJI/AAAAAAAAAJM/71fHT7KXh4g/s200/jam+gadang.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Next destination : Jam Gadang! Last time I went to Bukittinggi (just click &lt;a href="http://tathagati.blogspot.com/2007/09/bukittinggi-ill-be-back-soon.html"&gt;here&lt;/a&gt;), I only got chance to take photograph at Jam Gadang at night, since I was working for the gas station training. But now, we got plenty of time to take photograph of Jam Gadang, and I can make sure that we got the picture much better than before, since I can "trust" the person who take my picture this time!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After having lunch, we go to Taman Panorama. First destination : Lubang Jepang. It was a net of tunnels built and used by Japanese soldier as headquarter at Bukittinggi. The tunnel was made at 1942, but abandoned at 1945 when Japan surrendered to Allied at WW II. Before found at 1946 by the local villager, nobody ever guess that there was a man-made cave under the town! Bukittinggi district government already renovated the cave and added some additional facilities (such as stairs, lamps and also licensed guides) so we could enter the cave and go around it comfortably, and also can find out the history of the cave at the same time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdCqsbUPCI/AAAAAAAAAJc/xUrE9Jucv1M/s1600-h/ngarai+sianok.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284765988990237730" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdCqsbUPCI/AAAAAAAAAJc/xUrE9Jucv1M/s200/ngarai+sianok.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;After the cave, we took some photograph of Ngarai Sianok. Once again, since this time I can trust the person who took my photo, the photograph is much much better than before. Have a look!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdFL_fo9-I/AAAAAAAAAJk/ZiEAhXc6LVg/s1600-h/lembah+harau.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284768760067586018" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 150px; height: 200px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdFL_fo9-I/AAAAAAAAAJk/ZiEAhXc6LVg/s200/lembah+harau.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Satisfied from the scene of Ngarai Sianok, our driver suggested that if we still had some energy, we could go to Lembah Harau. Why not? So we continued our trip to Lembah Harau, via Payakumbuh (another big town of West Sumatra). According to some survey, Lembah Harau is a "hidden paradise" of West Sumatra. Well, they're &lt;strong&gt;not exagerrating&lt;/strong&gt;. It was really a hidden paradise... the rock wall, the cascading waterfall, and the vegetation is so natural... and fortunately, we got a chance to see a rainbow at the waterfall!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Night was falling, and we're hungry. We decided to go to Kubang restaurant, who sell Martabak Mesir (Egyptian Martabak) and Roti Cane (Cane Bread). Kubang is the name of village at Payakumbuh, and famous for the martabak (and I still can't figured out, why it is call Martabak Mesir, since it didn't come from Egypt). And yes, the taste of martabak was much better than martabak Kubang I bought near my grandma's house at Bandung... and also the roti cane, it was great, just missing the curry...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVi52POo9aI/AAAAAAAAAJ0/nNgCpYVoPnk/s1600-h/mesjid+antik+tanah+datar.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285178504171287970" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 150px; height: 200px;" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVi52POo9aI/AAAAAAAAAJ0/nNgCpYVoPnk/s200/mesjid+antik+tanah+datar.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Day 3, we check-out from the Gran Malindo Hotel, with our next itinerary to Sawahlunto via Solok. The driver suggested we go via Singkarak lake, so the scene will be beautiful. The lake is a very long long one, as far as the eyes see, it was lake, lake and lake. We also pass the Tanah Datar (=flat land) area, which is not flat at all... At Tanah Datar, we took photograph of an antique old mosque, which has gonjong roof (the bull's-horn-like roof specific to Minang traditional house). Nowaday, only a few mosque at West Sumatra who had gonjong roof, mostly they had rounded roof as influence of Middle East or Turkey culture. But we got information, West Sumatra has plan to build great central mosque (mesjid raya) at Padang who has gonjong roof. I guess it's a good plan, since it preserved the real culture of Minangkabau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdJ3XbPVQI/AAAAAAAAAJs/vy94BLmDsx4/s1600-h/lubang+mbah+suro.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284773903272465666" style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right; width: 150px; height: 200px;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVdJ3XbPVQI/AAAAAAAAAJs/vy94BLmDsx4/s200/lubang+mbah+suro.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Arriving at Sawahlunto, we were a little bit confuse. We couldn't ask anyone where are the tourist destination, cause it was time of Shalat Jum'at. At last, we found the tourist destination : Lubang Mbah Soero. At first, we thought it was kind of cave for meditation or kind of that, but later we found out that Lubang Mbah Soero is one of the main attraction of Sawahlunto : coal mining! The mining was built at 1889, and abandoned at 1932 for many reason. At 2007, the mining was opened for tourism. Entering the Lubang Mbah Soero was not as comfort as entering the Lubang Jepang, since it was built for mining, and there were lot of water flowing thought the mining. But we also got a guide who was the former worker of PT Bukit Asam, the state company who owned the coal mining at Sawahlunto. There are complete information at Inbox Building about the Lubang Mbah Soero, or about the history of coal mining at Sawahlunto itself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVi6lpQwt-I/AAAAAAAAAJ8/A7t6Y0IyV5o/s1600-h/mak+itam.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285179318613358562" style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 200px; height: 150px;" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVi6lpQwt-I/AAAAAAAAAJ8/A7t6Y0IyV5o/s200/mak+itam.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;After Lubang Mbah Soero, we went to Musem Goedang Ransoem, which we saw old (and very big) kithen utensils used to cook for the mining worker, and it was continued as Dapur Umum (public kithen) at the independence war of Indonesia. We also took photograph of Mak Itam (Mr. Black), the locomotive sent from Train Museum Ambarawa to Train Museum Sawahlunto, to be used as tourist train from Sawahlunto to Muara Kelaban vv. They even put the flyer on Minang language 'Mak Itam, Salamaik Datang di Ranah Minang, Akhirnyo Pulang Kampuang Juo, Ambo Lah Taragak Bana Andak Basuo', which can be translated as : 'Mr. Black, welcome to Ranah Minang, finally you're back home, we were longing to see you'. I give two thumbs and salute for Sawahlunto government, they had prepared the town for the tourist seriously, one thing they still have to do is to promote them to the world!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At the evening, we arrived at Hotel Ambacang, Padang. The hotel was at renovation, but the renovation wasn't disturbing the guests. They had antique atmosphere, the building was old one, and the staff wearing uniform as if it was at colonialism era. The hotel was good enough, and you can find more information &lt;a href="http://www.theambacanghotel.com/"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 4, after took the breakfast, our first destination is rock of Malin Kundang. According to legend, Malin Kundang is a rebellious son, and his mother cursed him to become rock. Long long time ago, some people said the rock of Malin Kundang was stand still, as if he was really cursed by his mother. But right now, the rock is very low, some people said that Malin Kundang already repent and prostrated, ask for appologize and forgiveness from his mother.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leaving pantai Air Manis where the rock of Malin Kundang stood, we went to Teluk Bayur. Remember the famous song from Erni Johan, "nantikanlah aku di Teluk Bayur..."? Well, since nowaday is the era of airlines, the passenger's ships from Padang to other port of Indonesia is very rare. But we can still watch the port's activities, since it was lot of ship waiting for docking at the port.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;After watching the scene of Teluk Bayur, we were back to hotel for check-out. After having lunch at small restaurant Talago Surya at Jl. Taman Siswa (but the food's taste is much better than a big one!), we went to Adityawarman Museum. It was a cultural museum, as the collection showed the history, tradition and culture of West Sumatra people.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And then, at 18.00, with GA 165, we have to leave West Sumatra, the beautiful country and full of cultural attraction. See you, West Sumatra, can't wait to be back there soon...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-5141650845379769850?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/5141650845379769850/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=5141650845379769850' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5141650845379769850'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5141650845379769850'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/12/bukittinggi-im-coming.html' title='Bukittinggi, I&apos;m coming (again)!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SVc28t4OLOI/AAAAAAAAAI8/xOiy5hprwV4/s72-c/lembah+anai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-772765341746196211</id><published>2008-12-10T02:35:00.005-07:00</published><updated>2008-12-10T10:52:39.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='airline'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesawat'/><title type='text'>Fenomena Aneh Pelanggan Airline</title><content type='html'>Sebulan terakhir ini saya mengamati fenomena aneh dalam perjalanan menggunakan pesawat udara. Selama ini kita tahu (dan dalam logika kita) bahwa low cost airline seharusnya lebih laku dibandingkan full service airline (walaupun kita tahu juga, di antara perusahaan penerbangan yang mengaku "low cost", sebenernya ada perusahaan yang ngasih tarif nggak jauh beda dengan full service airline, cuman layanannya low cost... ironis bo...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kurang lebih sebulan yang lalu, saya mencari tiket untuk Ibu saya yang mendadak harus mengunjungi kerabatnya di Jawa Tengah. Yang pertama kami lakukan adalah menelfon call center full service airline, yang konon memasang tarif tiket paling mahal, dengan asumsi mestinya tiketnya lebih mudah dicari, karena harganya lebih mahal dibandingkan tiket airline lain. Guess what? Tiket untuk hari itu hampir semua jadwal full booked, bahkan sampai kelas bisnis! Rasanya pengen nyeletuk, busyet... hari gini ternyata banyak juga yang naik pesawat mahal ya? (padahal airline itu punya banyak jadwal, dan hampir semuanya penuh, baru available di jadwal sore). Terus kita mampir ke loket airline yang (katanya) low cost carrier dengan harga premium, ehh... penuh juga! Akhirnya kita ke loket airline lain yang harganya lebih miring dibandingkan 2 airline sebelumnya, baru deh dapat tiket...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian serupa juga saya alami baru-baru ini saat memesan tiket untuk ke Surabaya, hampir semua penerbangan full booked/harus waiting list, padahal harga tiketnya juga nggak lagi murah. Baru saya sadar, tingkat kemahalan tiket pesawat sebuah airline ternyata tidak memiliki korelasi tertentu dengan tingkat occupancy pesawatnya... mau harganya mahal, tetep aja pesawatnya penuh, malah beberapa low cost carrier ternyata tidak selalu terisi penuh walaupun harganya 'agak' miring... kenapa ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-772765341746196211?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/772765341746196211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=772765341746196211' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/772765341746196211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/772765341746196211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/12/fenomena-aneh-pelanggan-airline.html' title='Fenomena Aneh Pelanggan Airline'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-7581661624567508917</id><published>2008-12-10T01:33:00.004-07:00</published><updated>2008-12-23T07:43:57.557-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='crochet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='book'/><title type='text'>Difference Between American &amp; Japanese Crochet Pattern</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/ST-FgaHxZpI/AAAAAAAAAIE/dfbzsEAPSKE/s1600-h/bouquet.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278084080115738258" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; WIDTH: 200px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 108px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/ST-FgaHxZpI/AAAAAAAAAIE/dfbzsEAPSKE/s200/bouquet.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;I just bought 3 books of crocheted bouquet pattern, one in American style pattern (by narration/description) and two in Japanese style (by picture/graphic). I just realized, b'coz I'm used to read description crochet pattern since 1997, it's a little bit confusing for me to follow the Japanese/graphic style pattern, although I was using graphic style pattern when I learned to crochet for the 1st time in 1987. Once when I started to learn reading description pattern at 1997, I thought it would be difficult, coz at that time I'm not used to imagine the final result of the crocheted things (even with the photograph of the final result, it still hard to imagine how the crochet process will be done!). But after years of practice, once I got any description crochet pattern, mostly I can imagine form, the process, and the final result of the crochet work. And now, since I bought two Japanese crochet pattern books (which has graphic style pattern, and notes in Japanese font, hiks...), I have to recover my ability to read the graphic pattern, since I already (almost) forgot it years ago...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But anyway, it was a great challenge, and I'm happy with the result. For the bouquet I made from the books, please visit my masterpiece gallery &lt;a href="http://rhien-craft.blogspot.com/2008/12/corsage-corsage-these-corsage-are-made.html"&gt;here&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-7581661624567508917?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/7581661624567508917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=7581661624567508917' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7581661624567508917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/7581661624567508917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/12/difference-between-american-japanese.html' title='Difference Between American &amp; Japanese Crochet Pattern'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/ST-FgaHxZpI/AAAAAAAAAIE/dfbzsEAPSKE/s72-c/bouquet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-9095342856446514141</id><published>2008-11-23T22:16:00.005-07:00</published><updated>2008-11-24T22:18:46.320-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><title type='text'>"Pencarian Terakhir"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SSo7W7iBJqI/AAAAAAAAAHw/pwBhl9HmLBo/s1600-h/pencarianterakhir_poster_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 146px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SSo7W7iBJqI/AAAAAAAAAHw/pwBhl9HmLBo/s200/pencarianterakhir_poster_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5272091578914121378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sabtu kemarin aku 'curi-curi waktu' nonton film "Pencarian Terakhir" (soalnya takut filmnya keburu hilang dari peredaran, hiks...). Udah sempet baca-baca di internet, banyak yang bilang filmnya lumayan. Dan sejujurnya, alasanku nonton adalah selain karena tertarik melihat posternya di Jl. Kemang Raya, adalah karena temanya yang lain daripada yang lain : naik gunung! Jadi pengen tahu, apa bener filmnya seperti yang dibilang di internet...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah aku nonton, walaupun dari awal aku tahu film ini nasibnya tidak akan seperti Laskar Pelangi (yang menurutku memang film yang bagus banget!), menurutku film "Pencarian Terakhir" ini OK banget. Aku takjub karena pada akhirnya ada orang yang berani membuat film seperti ini di Indonesia. Ceritanya emang nggak terlalu berat (mungkin buat para penggemar drama 'berat' yang nontonnya mesti pake' mikir, film ini konon 'terlalu datar', seperti komentar yang ditulis di salah satu harian Nasional), tapi cukup logis dan realistis. Lokasi, penggambaran tokoh, kostum dan propertinya juga cukup realistis, tidak seperti film Indonesia ato sinetron pada umumnya. Banyak juga adegan yang kita pikir bakalan 'klise' (karena sebenernya mudah ditebak apa yang terjadi selanjutnya), ternyata justru ditampilkan dengan cara yang 'kreatif'. Karena film ini 'katanya' termasuk thriller, film ini cukup membuat merinding... dan yang membuat film ini menjadi menarik untuk ditonton adalah penggambaran hal-hal yang 'membuat merinding' itu memang hal-hal yang sangat mungkin ada atau terjadi di atas gunung (demikian menurut pengakuan mereka-mereka yang pernah naik gunung). Jadi kalau ada yang bilang film ini 'nyaris terjebak menjadi horor picisan', aku jadi bingung, apa yang membuat film ini terlihat seperti horor picisan, dibandingkan sama horor picisan beneran???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini bagus, karena selain cerita dan penggambarannya cukup realistis, banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini, termasuk bagaimana sikap kita saat berhadapan dengan alam, bagaimana sikap sebagai teman, serta proses gimana kalau tim SAR itu mencari orang hilang di gunung. Jadi, daripada nonton film yang nggak genah, kusarankan untuk nonton film ini, dijamin gak menyesal...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-9095342856446514141?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.pencarianterakhir.com/' title='&quot;Pencarian Terakhir&quot;'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/9095342856446514141/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=9095342856446514141' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/9095342856446514141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/9095342856446514141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/11/pencarian-terakhir.html' title='&quot;Pencarian Terakhir&quot;'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SSo7W7iBJqI/AAAAAAAAAHw/pwBhl9HmLBo/s72-c/pencarianterakhir_poster_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4963740975206273335</id><published>2008-03-31T18:30:00.007-07:00</published><updated>2008-03-31T19:01:24.844-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='leisure'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='music'/><title type='text'>Kembali ke ShowBiz!!</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R_GRb8MwDXI/AAAAAAAAAE0/gfjFbsbPonc/s1600-h/foto+marinir+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5184084555282255218" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R_GRb8MwDXI/AAAAAAAAAE0/gfjFbsbPonc/s200/foto+marinir+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Finally, after years of hard working in training &amp;amp; consultation environment, I'm return to showbiz!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When was the last time I stood on-stage? Not really remember... maybe on 2002, either in ballet performance, or choir performance. Sometimes I missed those times, doing something different than my formal "occupation", to be someone a little bit different than my daily "images" known by my colleague.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And couple of days ago, on March 28th 2008, after vacuum for a long time, suddenly I felt it once again : the centerstage! It was quite an experience to be involved in a unique performance of &lt;a href="http://pihs-itb.blogspot.com/2008/02/itb-voices-night-great-movie-theme.html"&gt;ITB Voices Night, Great Movie Theme&lt;/a&gt;. The concept of the show was great, by combining live singers' performance supporting with video clip of the movie we sung to build the 'feel' of the movie. Even though it wasn't a perfect performance (smooth enough, but not really smooth as we expected), but for me it was good, since everybody only got time less than 2 months to prepare the whole performance!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And here is the photograph of 15 members of "Marine Team" after the performance, with "James Bond" costumes...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4963740975206273335?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4963740975206273335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4963740975206273335' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4963740975206273335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4963740975206273335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/03/kembali-ke-showbiz.html' title='Kembali ke ShowBiz!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R_GRb8MwDXI/AAAAAAAAAE0/gfjFbsbPonc/s72-c/foto+marinir+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-6034030576146104291</id><published>2008-03-24T09:19:00.005-07:00</published><updated>2008-03-24T09:46:22.743-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><title type='text'>Kenapa Pesawat Bisa Delay</title><content type='html'>K'lo kita lagi nungguin pesawat mau berangkat ato ngejemput orang, k'lo dah delay, biar kata cuman 30 menit, rasanya bisa jadi sangat menyebalkan. K'lo delaynya karena cuaca, oke lah... gak ada penerbangan yang kebal ama cuaca buruk, bahkan airline-airline "jagoan" pun harus ngalah ama cuaca buruk. Ato k'lo ada kendala teknis, dan diumumkan secara jelas, kita sebagai penumpang mungkin ngomel, tapi rasanya kita bisa terima alasannya, daripada tiba-tiba terjadi hal-hal yang tidak diinginkan waktu terbang... Yang bikin sebal kan kalau penyebab delaynya gak jelas, seperti yang pernah kualamin di Pontianak, naik Batavia Air kena delay hampir 5 jam, yang 3 jam jelas karena cuaca buruk, tapi yang 2 jam karena ketidakjelasan yang tidak pernah ada penjelasannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rupanya ada penyebab delay yang sangat tidak terduga, dan ternyata bisa saja terjadi, seperti kejadian berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah "Mendadak Dinas" ke Singapore, aku kembali ke Singapore, kali ini memang terencana, bawa serombongan peserta tour yang mau jalan-jalan. Karena satu dan lain hal, terjadi kekisruhan dalam pemesanan tiket dan hotel, jadilah kita terbang ke Singapore naik Lion Air! Wow! Tapi boleh juga dicoba... kalau nggak pernah nyoba, kan gak akan pernah tahu... Sehari sebelum berangkat, aku sempat menelfon ke Lion, pengen tahu ada service apa aja di atas pesawat. Ternyata... gak ada bedanya antara penerbangan domestik dan internasional Lion Air&lt;br /&gt; : sama-sama cuman ngasih aqua gelas! Dan yang sempet bikin rada sebel, kalau di penerbangan internasional dengan airline lain, sebelum mendarat di bandara tujuan mereka membagikan kartu imigrasi. Pas kemaren mau mendarat di Changi, aku baru sadar, kok kartu imigrasi Singapore-nya belum dapat. Pas nanya sama pramugarinya, eh, katanya dah dibagikan di belakang, dan abis.... hu-uh... masa' sih bisa kehabisan??? Ngerepotin penumpang ajah... kan jadi gak bisa ngisi di atas pesawat, padahal lumayan lho k'lo ngisi kartu imigrasi di atas pesawat, bisa mengurangi waktu di "wahana antrian" Imigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas mau pulang ke Jakarta, naik Lion Air lagi. Waktu masuk ruang tunggu (tepatnya aku lagi ngantri untuk diperiksa boarding passnya), tiba-tiba terlihat sedikit keributan di dalam ruang tunggu, sampe' ada yang berantem-berantem segala (sampai sekuriti bandara Changi di ruang tunggu dah teriak-teriak minta tolong ama temennya di luar). Setelah aku nanya sama temen-temen yang udah di ruang tunggu, katanya sih ada penumpang yang hiperaktif (kebetulan perempuan), terus ribut dan berkelahi ama kakaknya sendiri. Ohhh... family matter... Ibu-ibu yang ngantri pemeriksaan boarding pass di belakangku dah sempet komentar : nanti kalau dia kumat di atas pesawat, gimana ya? Wah, bener juga yaaa... Kita sempet liat petugas bandaranya berdiskusi, tapi kita juga gak tahu apa kesimpulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu dipanggil untuk boarding, everybody was very happy to go home. Semua udah duduk di kursinya masing-masing. Boardingnya cukup cepat, jadi sebenarnya kita bisa berangkat on-time. Pas pesawat udah lepas dari garbarata dan mundur untuk siap-siap ke taxi way, waktu mbak pramugarinya lagi ngecek para penumpang yang seharusnya semua sudah duduk dan mengenakan seat belt, tiba-tiba si Ms. Hiperaktif itu berdiri, dan mulai memukul-mukul penumpang di sebelahnya! Oooo... kejadian... Si mbak pramugari sebenarnya sudah mencoba menenangkan Ms. Hiperaktif, tapi gak bisa. Akhirnya dia lapor sama pilot-nya, dan kemudian kita kembali ke apron, terus membuka pintu pesawat dan pasang garbarata lagi... Waktu itu terasa banget, semua penumpang pada tegang dan gelisah, karena nggak kebayang bagaimana penyelesaianya masalahnya, sementara kita juga nggak bisa donk ditahan terlalu lama... Gak lama, ada petugas bandara yang naik, tapi masalah masih belum teratasi, malah Ms. Hiperaktif makin parah, karena semakin banyak penumpang yang dia pukul-pukul. Setelah itu ada petugas sekuriti bandara, dia mencoba menyuruh Ms. Hiperaktif untuk turun pesawat, tapi masih tetep ngotot gak mau turun. Akhirnya petugas sekuriti memaksa Ms. Hiperaktif untuk turun dengan cara mengambil tasnya, dan doi akhirnya jalan keluar pesawat, tadinya masih sambil marah-marah. Di bagian depan, Ms. Hiperaktif ketemu sama salah satu peserta rombonganku, nggak tahu dibacain apa, tiba-tiba Ms. Hiperaktif lemas, terus akhirnya digotong keluar pesawat, dan gak lama kemudian pramugari mengambil barang-barangnya dan dibawa keluar pesawat. Baru setelah itu pintu pesawat ditutup, pesawat keluar apron, melewati taxi way, dan akhirnya take-off menuju Cengkareng (finally...) Kejadian ini berlangsung agak lama juga, ada sekitar 30 menit atau lebih, bahkan sampai pesawat Garuda yang harusnya berangkat 20 menit lebih belakangan dari Lion Air bisa berangkat duluan. Baru kali ini aku mengalami pesawat didelay bukan karena cuaca atau masalah teknis, tapi masalah yang bener-bener non-teknis...Dan kita semua mengakui, keputusan pilot untuk kembali ke apron dan menurunkan penumpang bermasalah itu adalah keputusan yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, lain kali kalau menemukan pesawat delay, tanya dulu, adakah sebuah kejadian luar biasa terjadi di atas pesawat?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-6034030576146104291?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/6034030576146104291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=6034030576146104291' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/6034030576146104291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/6034030576146104291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/03/kenapa-pesawat-bisa-delay.html' title='Kenapa Pesawat Bisa Delay'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-6556768390705719635</id><published>2008-03-05T06:01:00.005-07:00</published><updated>2008-03-24T09:19:06.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='garuda indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='training'/><title type='text'>Mendadak Dinas!!!</title><content type='html'>&lt;div&gt;Seumur-umur gue kerja di tempat yang sekarang (tepatnya dah hampir 5 tahun), baru kali ini ngalamin dinas mendadak, super duper mendadak, luar biasa mendadak. Kenapa juga dinas mendadak harus ke Singapore... (bener-bener mengalahkan rekor "dinas mendadak" sebelumnya yang antara perintah dan tanggal keberangkatan jaraknya kurang dari 24 jam, dan kali ini kurang dari 12 jam...)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Hari itu hari Selasa, 26 Februari 2008. Pas sampe' kantor, tiba-tiba diriku dipanggil oleh pak Dirut, kirain aya naon, ternyata aku diminta untuk menggantikan beliau menghadiri seminar. Guess, seminarnya di mana? Di Singapore... masa' mau nolak?? :-) Pas aku tanya seminarnya kapan, ternyata jadwalnya tanggal 27 Februari 2008. Loh, itu kan berarti.... BESOK?!?!?! Oooooo..... berarti nanti malam aku harus berangkat ke Singapore?!?!?! Hah?!?!?! Oh God.... Astagfirullah.... Subhanallah... dan berbagai kata-kata lain yang sudah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Setelah minta tolong cariin tiket dan hotel, aku ngibrit pulang untuk ngepak barang, terus balik lagi ke kantor untuk ambil tiket sama voucher hotel (sambil degdegan juga di jalan, soalnya hujan deras dan jalanan pastinya macet). Aji gile... selama ini dinas domestik kagak pernah sangat mendadak kaya' begini... kenapa juga sekali-kalinya dinas sangat mendadak terjadi pada my first overseas assignment???&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Akhirnya, dengan GA 834, diriku berangkat ke Singapore. Sebenernya sih daku punya "cita-cita luhur", pengennya naik SQ, boleh donk sekali-sekali... tapi apa daya, "nasionalisme" mengalahkan segalanya, akhirnya aku memilih naik Garuda. Sebenernya ini bukan pertama kalinya aku ke luar negeri, dan juga bukan pertama kalinya aku ke Singapore, makanya aku berani berangkat mendadak, malam-malam, sendirian pula... gelo... Pas nunggu di ruang tunggu E2, kepikiran aja, udah berapa kali aku dinas domestik naik Garuda, dan sebenernya aku sangat jarang terbang malam dari Cengkareng, kecuali ke Yogya sama Denpasar. Suasana di ruang tunggu gak jauh beda sama di terminal F, karena isinya banyakan juga orang Indonesia, dan di penerbangan ke Yogya sama Denpasar kan banyak bule-nya juga. Pas dipanggil untuk boarding, baru aku sadar, iya ya, kali ini gue kan bukan mau ke Denpasar ato Yogya, tapi mau ke Singapura, pertama kali dinas keluar negeri, sendirian pula...&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Begitu masuk pesawat, baru sadar, ada yang beda antara penerbangan domestik dan penerbangan internasional dengan Garuda. Pertama, di kursi ada bantalnya. Kedua, instead dikasih permen, pas dateng dikasih juice jeruk, yummm.... K'lo makan sih sebenernya sama, maksudnya sama aja dengan makanan waktu terbang ke Medan ato Makassar, malah gak bisa milih, menunya cuman ada 1 macam.&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Mendarat di Changi, seperti biasa, ambil brosur sebanyak-banyaknya... Beda banget ama Indonesia, Singapore itu sangat informatif, mereka emang sangat niat dalam mempromosikan pariwisatanya. Udah gitu, berhubung masih menganut "aji pengiritan", jadi aku pergi dari airport ke hotel naik MRT, hehehe... padahal mendarat di Singapore udah jam 10.30 waktu setempat, dah malem bo. Setelah keluar di stasiun Lavender, ternyata hotelnya jauuuh.... mas-mas yang di loket MRT bilangnya "15 minutes walk", haa-aah... jadi dalam kondisi malam-malam, rada "buta" ama kondisi jalan, bawa-bawa koper (untung gak becek, dan di sana gak ada ojek...), akhirnya diriku "mendarat" dengan selamat di hotel. Waktu itu di Singapore hotel lagi penuh-penuhnya, jadi diriku kebagian hotelnya di 81 Elegance, deket Lavender Street. K'lo menurut internet, katanya di Bugis Vicinity, tapi itu teh kaya'nya lebih deket ke Little India gak seh? Teuing ah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, dah lumayan segar. Dan mulailah perjalanan menyusuri kembali jalan yang tadi malam menuju ke stasiun MRT, mau ke tempat seminar di Hotel Marriot. Alhamdulillah, hotelnya persis di atas stasiun MRT, jadi jalannya gak jauh! Horeh! Setelah urusan pendaftaran selesai (yang mana ternyata daku kurang bawa duit pendaftaran, gara-gara pak Dirut salah baca formulir, hiks...), mbak-mbak panitianya ada yang sempet nanya : "nginep di mana?" Aku bilang di Little India, soalnya di Orchard hotel semua dah penuh. Terus dia nanya lagi : "ke sininya naik apa?" Naik MRT atuh Mbak, namanya juga ngirit.... Si Mbak kaya'nya sempet bingung, tapi komentar berikutnya adalah sebagai berikut : "pilihan yang bagus, soalnya jalanan sering macet!" (andaikan busway bisa seoptimum MRT...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seminar selama 2,5 hari, ternyata orang Indonesia-nya banyak lho... mungkin 1/3 dari isi ruangan itu isinya orang Indonesia. Yang bikin rada-rada sungkan adalah pertanyaan "nginepnya di mana?". Meni malu, soalnya tidurnya di budget hotel, abis dapetnya itu sih (secara aku juga gak sempat cari sendiri, mana sempaaaaaat.....), sementara peserta Indonesia lainnya tidurnya di Marriot, atau Meritus Mandarin. Untung terbangnya naik Garuda, coba naik "budget airline" juga, kebayang peserta Indonesia lainnya pasti mikirnya ni' company niat gak seh ngirim pegawainya dinas keluar negeri... meni pengiritan pisan... Udah gitu sempet rada jiper juga, peserta lain kan memang job-desnya untuk pengembangan pembelajaran pekerja di setiap perusahaannya (dan isi seminarnya emang pas banget buat mereka), sementara kalau aku kan dari training provider dan consultation company, jadi  menurutku sebenernya ada orang lain yang lebih pantas untuk ikut seminar ini.  Tapi gak pa-pa, kita mah seneng aja, dikasih dinas keluar negeri, ketemu hal baru, dan pasti kepake koq... Dan sebenernya ada hikmahnya juga dapet nginep di budget hotel (yang untungnya bagus, k'lo cuman buat tidur ama mandi mah cukup banget!) dan bukan di Orchard, jadi sempat melihat juga "sisi lain" dari Singapore, eniwei, orang Singapore kan juga manusia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung minggu depan perusahaanku ada acara lagi di Singapore (tepatnya bawa klien ke Singapore), jadi selain ikut seminar, aku juga punya "misi" untuk mengatur tour di Singapore-nya. Jadilah, selama 2 hari aku pulang malam terus, ketemu sama kenalan kami yang akan meng-arrange tour-nya. Tapi shopping mah gak ketinggalan... dah sampe' Orchard gitu loh... Rada nyebelinnya, aku dah sempet beli-beli di Border (toko buku), eh, pas di Seminar ada game ice breaking, terus karena aku ada dalam kelompok yang berhasil "memenangkan" games-nya, moderatornya ngebagiin voucher SGD 10 untuk belanja di Border! Huh, tahu gitu belanjanya ke Border ditunda dulu, lumayan khan... (jadi terpaksa balik lagi dech...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sendiri kadang gak mudheng, orang-orang Indonesia yang pada belanja ke Singapore itu beli apa ya? Mau beli baju? Mendingan ke ITC, lebih seru! Beli makanan aneh? Di supermarket Indonesia juga mulai banyak... Beli buku pun sekarang dah banyak toko buku di Indonesia yang jual buku dan stationary impor, tapi memang banyak buku yang (kaya'nya) gak bakalan masuk ke Indonesia.  Bahkan barang-barang handicraft kaya' benang wool ama jarum rajut pun sekarang gak susah ditemukan di Indonesia (dan sekarang banyak juga benang-benang rajut bikinan Bandung yang sama lucunya dengan benang impor), tapi tetep aja, selalu ada barang yang nggak ada di Indonesia. Jadilah kemarin itu aku rada "kalap", ngeborong majalah kristik, abis di Indonesia itu kan barang langka, dan k'lo pun ada, edisinya udah lewat 2 tahun... Sempet juga ke Spotlight dan menemukan 1/3 isi toko itu terdiri dari benang wool, buku kristik, benang sulam, jarum rajut, dan barang-barang handicraft lainnya... rasanya seisi toko pengen dibeli semua....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, ada 1 barang lagi yang agak susah carinya di Indonesia (sebenernya gak susah amat, tapi jarang dapat yang bagus), tapi di Singapore ada dan lumayan banyak : Eeyore... di mana-mana ada Eeyore : di 7-11, di Takashimaya, di Watsons, di Mustafa Center dan bahkan di airport!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas pulang, berhubung barang bawaan dah banyak (yah, namanya juga belanja... dan salah bawa koper, kopernya terlalu kecil, hehehe...), terpaksalah diriku membatalkan "niat mulia" untuk pergi ke airport naik MRT, dan akhirnya naik taksi. Eh, ternyata supir taksinya pernah jadi supplier untuk salah satu kilang minyak dengan kapasitas terbesar di Indonesia, jadi nyambung banget ngomongnya... saking asiknya ngobrol, sampe' doi sempet salah belok. Dan akhirnya, setelah sekali lagi terbang dengan Garuda Indonesia (dengan layanan yang... yah, standar lah!), aku mendarat dengan selamat di tanah air...&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-6556768390705719635?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/6556768390705719635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=6556768390705719635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/6556768390705719635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/6556768390705719635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/03/mendadak-dinas.html' title='Mendadak Dinas!!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-5920462395946212100</id><published>2008-02-27T09:25:00.003-07:00</published><updated>2008-03-05T06:01:16.141-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spbu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gas station'/><title type='text'>Negeri Anging Mamiri yang Harus Dikunjungi Lagi</title><content type='html'>Finally, setelah selama kwartal terakhir 2007 aku "singgah" di beberapa kota besar di Indonesia, akhirnya sampai juga ke Makassar... Dalam sejarah perjalanan keluargaku, Makassar adalah kota di mana kakek dan nenekku bertemu dan menikah (bayangkan, itu Makassar berapa puluh tahun yang lalu...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari Cengkareng dengan Lion Air 737 seri 900 (yang katanya pesawat baru dan Lion merupakan pembeli pertama). Pesawatnya lumayan panjang... sempet kaget juga dapet nomor kursi 32, seumur-umur naik 737 belum pernah dapet di kursi nomor kepala 3... tapi ini juga belum paling belakang, karena yang paling belakang ternyata nomor 38... tapi tetep, jarak antar tempat duduk kurang dari 30 cm... tadinya sama petugas check-in ditaruh di 32E, alah, kejepit lagi deh, untung ternyata Ibu-ibu yang harusnya duduk di gang memilih di 32E, ma kasih ya Bu... Sepanjang jalan cuaca konstan, maksudnya konstan berawan, sama sekali tidak terlihat daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bandara Hasanuddin, ternyata pada saat yang bersamaan trainer yang dari Surabaya juga sudah mendarat dengan selamat, jadi kita bisa bareng-bareng pergi ke hotelnya. Dan ternyata.... seperti yang sudah disampaikan oleh rekan-rekan seperjuangan di kantor, bandaranya jauh nian dari kota! Padahal tempat trainingnya direncanakan di SPBU punya Pertamina yang dekat bandara, wah, para trainer harus pindah hotel neh. Tapi sementara kita nginep di Bumi Asih, yang sebenernya lokasinya lumayan strategis, dekat mall, dekat fotokopi, dekat toko ATK, dan dekat Kantor Unit Pertamina... cuman tetep jauh dari tempat training (nah lo!). Hotelnya lumayan enak, dan pas dapet kamar di pojok, jadi jendelanya ada 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, ceritanya bangun pagi, ikut waktu lokal. Ternyata... jam 5.30 waktu setempat itu masih gelap bo! Akhirnya jam 8,20 sampai juga kami di Kantor Pertamina UPms 7. Setelah berkoordinasi sejenak, kita cari bank dulu, terus cari makan. Eh, Bapak mobil rental-nya membawa kita ke pantai Losari, jadi foto2 dulu deh. Sayangnya cuaca kurang mendukung alias mendung, jadi pemandangan kurang begitu bagus. Unfortunately, salah satu trainerku ada yang nggak doyan daging dan seafood, jadi agak susah mau wisata kuliner ala Makassar, hhhh.... (soalnya cotto sama konro kan isinya daging...). Dari makan siang, kita balik ke Kantor Pertamina, terus menuju SPBU tempat pelatihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di SPBU tempat pelatihan, kita "dikeroyok" para pengawas dan cleanernya, jadi persiapan yang biasanya bisa makan waktu 2,5 jam, selesai dalam waktu 1 jam! Cuman sayang, hari udah sore, jadi kita belum sempat mampir ke mana-mana lagi. Dan besoknya dah harus ngadain training, udah nggak akan sempet ke mana-mana lagi, karena aku harus pulang duluan ke Jakarta... (soalnya waiting list training udah menanti neh...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung pemandangan di Losari lagi gak bagus, wisata kuliner gak tuntas, belum mampir Fort Rotterdam, makanya harus balik lagi ke Makassar...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-5920462395946212100?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/5920462395946212100/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=5920462395946212100' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5920462395946212100'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5920462395946212100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/02/negeri-anging-mamiri-yang-harus.html' title='Negeri Anging Mamiri yang Harus Dikunjungi Lagi'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4095238250212805825</id><published>2008-02-14T01:15:00.005-07:00</published><updated>2008-02-14T01:37:20.312-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cross stitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><title type='text'>My First Book</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R7P8fwWeR-I/AAAAAAAAAEc/-L8Hsx4Bqoo/s1600-h/cover+kristik.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5166750820009396194" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R7P8fwWeR-I/AAAAAAAAAEc/-L8Hsx4Bqoo/s200/cover+kristik.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Akhirnya... buku pertamaku terbit, dan sudah bisa diperoleh di toko-toko buku dengan harga Rp 35.000 per eksemplar. Jangan lupa beli ya!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4095238250212805825?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4095238250212805825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4095238250212805825' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4095238250212805825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4095238250212805825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/02/my-first-book.html' title='My First Book'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R7P8fwWeR-I/AAAAAAAAAEc/-L8Hsx4Bqoo/s72-c/cover+kristik.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-1416354101485124692</id><published>2008-01-30T21:23:00.001-07:00</published><updated>2008-01-30T22:03:10.076-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><title type='text'>Kebon strawberry di Selabintana, yummy....</title><content type='html'>Sabtu 26 Januari 2008 yang lalu, kami pergi ke Selabintana (k'lo ada yang gak tahu Selabintana letaknya di mana, Selabintana itu 7 km dari Sukabumi ke arah utara), ceritanya bokap mau ada reuni-an Mahawarman. Seminggu sebelumnya, kami sudah mencari tahu dulu gimana caranya pergi ke sana naik kendaraan umum, karena rencananya aku sama adikku mau menyusul bokap dan nyokap (yang sudah pergi ke sana hari Jum'atnya). Ternyata gak ada bou... aneh sekali ke Sukabumi itu, bener-bener gak ada travel, gak ada bis eksekutif, jalur kereta api Bogor-Sukabumi juga ada tutup, adanya cuman angkot, elf dan bis ekonomi (yang berhenti di tiap tikungan). Terpaksa deh, memberangkatkan 1 mobil lagi dari rumah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pagi, nyusul nih ke Selabintana. Tol Jagorawi, lancarr.... di Ciawi, seperti yang sudah diprediksi, mulai terjadi antrian-antrian. Ditotal-total, perjalanan Jakarta-Sukabumi itu menghabiskan waktu 4 jam, dan yang 3 jam itu cuman dari Ciawi sampe' Sukabumi yang jaraknya cuman 50 km! (padahal udah ngirit jarak dan waktu dengan lewat tol JORR) Masa' jarak cuman 110 km dari Jakarta, waktu tempuhnya lebih lama daripada Jakarta-Bandung! Tapi karena emang udah siap-siap bakalan lama di jalan, jadi perbekalannya dah lengkap. Ada dodol coklat asli dari Aceh, kacang Rahayu asli dari Bali (oleh-oleh travelling sebelumnya), sama kue-kue lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jalan menuju Selabintana, tiba-tiba ditarikin retribusi! Ya ampun.... emangnya kita angkot??? Pas udah sampe' di hotel venue reuninya (tepatnya hotel pariwisata Selabintana, yang ada di dalam tempat wisatanya), ternyata bokap udah sampe' sana (dan berpesan, jangan lupa k'lo lewat gerbang hotelnya, bilang aja mau ikut acara reuni Mahawarman, biar kagak ditarikin bayaran). Di hotel Selabintana, tempatnya sih luas dan asik, cuman terlalu banyak orang (soalnya terbuka untuk umum). Karena satu dan lain hal, kami nggak nginep di situ, tapi di "sebelah"nya, tepatnya di hotel Pangrango (yang kondisi kamarnya lebih baik daripada hotel Selabintana, tapi harganya juga "jauh lebih baik"...). Bungalownya lucu juga (ini "lucu"nya orang Bandung nya'!), berbentuk rumah panggung, lantainya kayu, ada 2 kamar, lengkap ama TV, kulkas, termos air panas, dan kamar mandinya dilengkapi air panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R6FVfiAgdDI/AAAAAAAAAD8/RcPI0ED71Hc/s1600-h/kebon+strawberi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161500648136537138" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R6FVfiAgdDI/AAAAAAAAAD8/RcPI0ED71Hc/s200/kebon+strawberi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pada dasarnya di Selabintana itu enak banget, soalnya hawanya dingin (dah lama gak liburan ke tempat dingin, biasanya k'lo dinas ke tempat yang panasnya luar biasa...), sempet juga ngeliat kabut, dah lama bo gak liat kabut... Waktu liat &lt;a href="http://www.resorpangrango.com/"&gt;websitenya hotel Pangrango&lt;/a&gt;, banyak obyek wisata yang seolah-olah deket dari hotelnya, seperti tea walk di perkebunan Warnasari, budidaya jamur merang (yang cuman 10 meter dari hotel, begitu kata websitenya), budidaya ikan koi, dlsb. Ehhh... pas disurvey (tepatnya mencari Pondok Halimun, dan pondoknya tetep aja gak ketemu), ternyata budidaya jamurnya dah tutup, perkebunan Warnasarinya juga jauh banget, apalagi Curug Cibeureumnya! (tepatnya kami dah sempet offroad sebentar di kebun teh, jalurnya jalan tanah dan cuman cukup untuk 1,25 mobil) Alah.... Tapi ternyata kami menemukan obyek lain yang gak ada di daftar obyek wisata hotel Pangrango : kebon strawberry.... hmmm.... &lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R6FU2iAgdCI/AAAAAAAAAD0/-THpdNGCQkw/s1600-h/kebon+strawberi+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5161499943761900578" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R6FU2iAgdCI/AAAAAAAAAD0/-THpdNGCQkw/s200/kebon+strawberi+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pas hari Minggu-nya, sementara yang reuni lagi punya acara, kami bikin acara sendiri : pergi ke kebon strawberry. Ternyata di jalur menuju Pondok Halimun itu ada 2 kebon strawberry, dan kami memilih satu yang keliatannya fasilitasnya paling lengkap dan paling rame. Ternyata emang bener, di tempat yang kita datangi jualan bibit strawberry, juice strawberry, souvenir strawberry, dan juga tanaman lain. Masuknya nggak bayar, strawberry-nya boleh metik sendiri (terus ditimbang dan dihargain Rp 6.000/ons), dan pohonnya yang boleh dipetik banyak bangettttt... (gak cuman seuprit seperti wisata strawberry lainnya di sekitar Bandung). Setelah "berjuang" di seantero kebon strawberry mencari strawberry yang besar dan merah, ternyata cuman kekumpul 1,5 ons... tapi strawberry-nya enak banget, segar dan manis, gak kaya' strawberry yang beli di Pasar Minggu...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Perjalanan pulang, yang kita perkirakan macet banget, ternyata jauh lebih cepat dari waktu berangkat. Untuk jalur Selabintana-Ciawi yang diperkirakan akan ditempuh dalam waktu 4 jam, ternyata karena jalannya lancar, cuman 2 jam perjalanan, jadi kami bisa mampir dulu untuk mengicipi makroni panggang di Bogor yang tersohor itu. Sayangnya, di Selabintana belum sempet wisata kuliner, jadi belum sempat makan bubur ayam Sukabumi di Sukabumi deh... (berarti harus balik ke Sukabumi dech...)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-1416354101485124692?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/1416354101485124692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=1416354101485124692' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1416354101485124692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/1416354101485124692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2008/01/kebon-strawberry-di-selabintana-yummy.html' title='Kebon strawberry di Selabintana, yummy....'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R6FVfiAgdDI/AAAAAAAAAD8/RcPI0ED71Hc/s72-c/kebon+strawberi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-2379202908892622785</id><published>2007-12-10T23:15:00.000-07:00</published><updated>2007-12-18T20:48:25.399-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bandung'/><title type='text'>Bandung : Kota Kembang (???)</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;div&gt;9 Desember 2007, my beloved grandma has passed away. Kami seluruh keluarga besar berduka, dan kami sudah mengikhlaskan beliau untuk kembali ke Rahmatullah. Mudah-mudahan perjalanan beliau di alam barzah memperoleh kemudahan, dan dikaruniai surga yang indah di sisi-Nya, aamiin...&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Karena almarhumah tinggal di Bandung, dan beliau berwasiat untuk dimakamkan di Bandung di sisi almarhum kakekku, jadi kami semua berangkat ke Bandung. Jam 10 malam, baru kepikir, kita belum beli bunga tabur untuk di makam dan melati untuk dirangkai di keranda jenasah-nya. Jadi kita langsung keluar mencari bunga. Katanya, tadi siang ibu-ibu sudah banyak yang mencari di pasar Wastukencana, tapi katanya tidak ada. Menurut budeku yang perias pengantin, bulan-bulan ini lagi banyak perkawinan, jadi cari bunga agak susah, ooo.... Tapi Bandung khan kota kembang, mestinya nggak susah ya cari bunga.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pertama-tama, kita mencoba lagi di pasar Wastukencana. Walah, cari bunga tabur, apalagi mawar, ternyata susah bo! Kita udah masuk dari toko ke toko, ternyata pada nggak punya bunga tabur yang mawar, dan pedagang bunganya juga nggak mau ngasih alternatif mencari di tempat lain (walaupun akhirnya kami menemukan 1 toko yang menjual dengan harga relatif murah --&gt; soalnya ternyata bunga di Bandung itu mahal! --&gt; soalnya dibandingkan dengan di Jawa Tengah, dengan harga yang sama, di Bandung cuman dapet 1 keranjang kecil, di Jawa Tengah bisa dapet 2 karung...). Akhirnya aku meng-SMS salah satu temanku yang lama tinggal di Bandung, dan dapet alternatif untuk pergi ke Jl. Pandu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R2iUQM1Mq5I/AAAAAAAAAC8/KXqWJWk26rA/s1600-h/bunga+tabur.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145525580313963410" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R2iUQM1Mq5I/AAAAAAAAAC8/KXqWJWk26rA/s200/bunga+tabur.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Jl. Pandu, ternyata cuman ada 1 toko yang jualan mawar, itu pun harganya gak bisa dibilang murah. Setelah dengan sedikit "perang urat saraf" dalam tawar menawar (untungnya mang penjualnya baik, dan dia punya melati), akhirnya kami memborong beberapa ikat mawar aneka warna, dan 1 kg melati. Untungnya (lagi), besok paginya, mawar-mawar aneka warna itu mekar dengan indahnya, dan kakak-kakak sepupuku menata bunga-bunga tabur itu demikian cantik, untuk mengiringi kepergian nenek tercinta kami ke peristirahatan terakhirnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dengan pengalaman cari bunga di Bandung yang syusyah banget, aku jadi mikir, apakah Bandung masih layak dinamai "Kota Kembang"? Atau memang ada "kembang" lain yang lebih mudah dicari di Bandung?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R2iS_81Mq4I/AAAAAAAAAC0/O8_1quki4ag/s1600-h/VOJ.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5145524201629461378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R2iS_81Mq4I/AAAAAAAAAC0/O8_1quki4ag/s200/VOJ.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PS. Ini salah satu fotoku dengan my beloved grandma, waktu kami ziarah ke makam bu Tien Suharto di Karanganyar, Jawa Tengah, dalam rangka reuni besar Varia Orang Jauhari tahun 1996.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-2379202908892622785?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/2379202908892622785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=2379202908892622785' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2379202908892622785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2379202908892622785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2007/12/bandung-kota-kembang.html' title='Bandung : Kota Kembang (???)'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/R2iUQM1Mq5I/AAAAAAAAAC8/KXqWJWk26rA/s72-c/bunga+tabur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-5821746029617589604</id><published>2007-09-25T21:30:00.001-07:00</published><updated>2007-09-27T08:47:44.183-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spbu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='garuda indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='training'/><title type='text'>Manado, Kota Tinutuan</title><content type='html'>Belum ada seminggu mendarat dari Banda Aceh, udah harus berangkat lagi ke Manado, eleuh-eleuh... Tapi ya gimana lagi, demi tugas (tepatnya demikian...), harus berangkat deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu, perjalanan dimulai dari bandara Cengkareng terminal 1 (again!). Kali ini terbangnya naik Batavia, dan katanya direct Jakarta-Manado, nggak pake' mampir-mampir. Pas nimbang bagasi, alamak, kelebihannya 113 kg! (again!) Tapi ternyata ongkos kelebihan bagasi di Batavia gak semahal waktu Lion ke Banda Aceh (padahal jarak kan kira-kira sama...), jadi kami cuman bayar sekitar 1,8 juta (dan masih tetap lebih mahal daripada tiket sekali jalan Jakarta-Manado, even pake' Garuda sekalipun...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, penerbangannya tepat waktu. Ternyata kita naik pesawat Airbus A319 (yang tidak segede Airbus 330, cuman lebih gede sedikit daripada Boeing 737 seri 400). Pesawatnya lumayan enak, jarak antar kursi cukup lebar, cukup buat leyeh-leyeh ... dan yang penting, masih dapet kue kotak (biarpun cuman roti dan lemper, tapi kan nggak cuman aqua gelas doank!). Dan ternyata, memang kita terbang direct dari Jakarta ke Manado, tanpa transit. Pilotnya cukup informatif dengan memberi informasi rute penerbangan, ditambah sedikit keterangan " di atas Kalimantan cuaca berawan dan sangat mungkin terjadi goncangan-goncangan kecil..." (walaupun goncangannya cukup sering, tapi ternyata nggak terlalu parah kok...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendarat di Manado, ternyata bandara Sam Ratulangi sudah jadi bandara yang canggih dan modern (ditandai dengan banyaknya garbarata di mana-mana). Dari bandara Sam Ratulangi menuju hotel Sahid Kawanua kita menggunakan taksi. Di sana ternyata taksi nggak terlalu ramai, dan walaupun dilengkapi dengan argo, tapi harus pake' "argo mulut" alias tawar-menawar (macam bajaj saja!). Dan ternyata hotelnya terletak persis di depan kantor Pertamina Cabang Manado, jadi kalau mau ke Pertamina, tinggal kepleset sajah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung perjalanan dari bandara menuju ke hotel kita melintasi daerah yang agak berbukit-bukit, dalam bayangan kita Manado hawanya agak dingin. Ternyata, salah besar... Hotelnya itu cuman sepelemparan batu dari pantai, dan hawanya luar biasa panas... panasnya makin terasa karena matahari bersinar terik, dan jarang ada angin, hhh.... Makanya selama 3 hari di sana, jalan-jalannya baru setelah matahari terbenam, selain menunggu setelah buka puasa dan shalat Maghrib, juga sambil nunggu hawanya lebih bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumpung udah di Manado, aku mencari tahu tentang tempat wisata di sana. Ternyata k'lo di dalam kota, nggak ada tempat wisata yang spesifik, dan tempat tujuan wisata yang disebut ya selalu B yang satu itu : BUNAKEN (yang mana masih harus naik kapal sekitar 30-45 menit dari pelabuhan...). Di kota Manado, adanya malah mall dan pertokoan di Jl. Boulevard (yang katanya merupakan hasil reklamasi pantai), dan isinya mah sama kaya' mall di Jakarta. Tapi wisata kulinernya lumayan lengkap... dan ternyata di kota Manado tidak susah mencari makanan halal, masih banyak rumah makan Padang, Cotto Makassar dan ikan bakar di mana-mana (dan jaraknya dari hotel juga gak jauh, masih bisa ditempuh dengan jalan kaki). Unfortunately, lagi-lagi karena bulan puasa, jadi belum sempat mencicipi Tinutuan alias Bubur Manado yang tersohor itu, karena katanya adanya cuman di pagi hari sampai tengah hari (wah, harus balik ke Manado lagi nih...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Senin, mulailah kita siap-siap di kantor Pertamina Cabang Manado. Ternyata di dalam kantornya lebih "sauna" daripada di luar, karena AC sentralnya tidak dinyalakan (tepatnya, AC cuman dinyalakan di ruangan-ruangan, karena setelah restrukturisasi di Pertamina Penjualan, kantornya yang begitu besar jadi kosong, pegawai organiknya tinggal beberapa orang, jadilah harus berhemat listrik...). Untung Kepala Cabangnya berbaik hati untuk menambah 1 AC lagi di ruangan training, supaya ruangannya nggak terlalu panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malamnya, kami makan di resto seafood di Malalayang. Kata yang nganterin, jenis ikannya adalah ikan karang. Tapi pas kita konfirmasikan sama mbak-mbak pelayannya, dia aja nggak tau itu ikan jenis apa.... Ikannya besar, kita aja cuman makan sepotong dari badannya (lengkap dengan sambal dabu-dabu dan sayur pepaya, slurp!) udah kekenyangan.... Di luar, sempat kelihatan juga ada orang yang jalan-jalan di pantai mencari ikan dengan lampu TL, dan juga terlihat lampu-lampu dari pantai yang direklamasi, cantiknya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Selasa, training dimulai. Waktu kita mendata peserta, ternyata yang puasa mencapai 50%, wow... untung konsumsinya sudah disiapkan dalam kotak, jadi bisa dibawa pulang dengan mudah. Sempet 2x kebagian mati lampu, wah, wah... Dan walaupun AC-nya sudah ditambah satu, tapi ternyata tetep aja hawanya panas. Untungnya peserta terlihat cukup aktif, jadi instrukturnya cukup senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvvQX-blN-I/AAAAAAAAACs/0Tk4n29x_2s/s1600-h/pal+manado+0-2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvvQX-blN-I/AAAAAAAAACs/0Tk4n29x_2s/s200/pal+manado+0-2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114910912123582434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Jam 11.30, aku harus meninggalkan 2 instrukturku itu kembali ke Jakarta. Sebelum kembali ke hotel untuk mengambil bagasi yang dititipkan di sana, aku menyempatkan diri memotret pal yang menandai titik nol kota Manado (yang ternyata pal-nya tersembunyi di dekat lampu lalu lintas di perempatan jalan, dekat pagar gedung, nyaris tak terperhatikan...). Dari hotel, tadinya mau langsung ke Bandara, tapi setelah iseng-iseng tanya sama pak supir di mana tempat beli oleh-oleh, akhirnya aku mampir sebentar ke toko oleh-oleh, beli kipas Krawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvvPweblN9I/AAAAAAAAACk/SeaXQuRcPZk/s1600-h/pal+manado+0-1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvvPweblN9I/AAAAAAAAACk/SeaXQuRcPZk/s200/pal+manado+0-1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114910233518749650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Bandara Sam Ratulangi, what a surprise! Waktu cek in di counter Garuda, ternyata kalau member GFF Silver di bandara ini ada lounge-nya. Walaupun nggak pakai AC (dan snack-nya nggak bisa dimakan karena lagi puasa), tapi lumayan banget, nggak perlu rebutan kursi dengan penumpang lain di luar. Sengaja pulang ke Jakarta milih naik Garuda, biar merasakan transit di Makassar... Waktu masuk ruang tunggu, tiba-tiba petugas bandara memberi pengumuman : "Para penumpang Garuda dengan tujuan Makasar, Denpasar dan Jakarta..." Ooo... masa' gue mesti transit di Denpasar lagi??? Toloooong..... Tapi ternyata, setelah di dalam pesawat, flight attendant memberi pengumuman yang lebih jelas, bahwa penerbangan ini adalah tujuan Jakarta yang transit di Makasar, thanks God.... (ternyata penumpang yang ke Denpasar itu pindah pesawatnya di Makasar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu transit di Makasar, proses transitnya jauuuuuh lebih nyaman daripada di Polonia. Tidak ada antrian panjang. Jadi masih sempat liat-liat suvenir, walaupun akhirnya nggak beli apa-apa. Dan akhirnya, setelah terbang kurang lebih 3,5 jam, akhirnya liat Cengkareng lagi.... (dan entah kenapa, akhir-akhir ini cuaca Jakarta kurang begitu bersahabat, sangat berawan, untung pendaratan tidak ada masalah....)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-5821746029617589604?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/5821746029617589604/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=5821746029617589604' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5821746029617589604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5821746029617589604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2007/09/manado-kota-tinutuan.html' title='Manado, Kota Tinutuan'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvvQX-blN-I/AAAAAAAAACs/0Tk4n29x_2s/s72-c/pal+manado+0-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-4866249791475556958</id><published>2007-09-21T01:52:00.000-07:00</published><updated>2007-10-04T15:14:43.822-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='spbu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='garuda indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='training'/><title type='text'>Semalam di NAD</title><content type='html'>Pergi ke Aceh?? Gak pernah kebayang sebelumnya... apalagi kalau dengar cerita mengenai syariah Islam yang ditegakkan dengan sangat ketat, wah, wah, wah....Tapi ya begitulah, setelah sukses memberangkatkan 2 orang trainer ke wilayah Indonesia Timur (yang ternyata "nggak segitunya"), akhirnya tiba juga giliran para operator SPBU dari ujung Barat Indonesiauntuk mendapatkan training.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat naik Lion, waktu cek-in di Cengkareng 2 rekan perjalananku dengan gagah perkasanya mengangkat kardus-kardus berisi peralatan training (ceritanya sih mau ngirit biaya portir). Ehhh, pas ditimbang, ternyata 2 dari 5 kardus yang kami bawa itu beratnya 60 kg! Kata mas-mas yang jaga di counternya Lion, kasian kan yang angkat, jadi harus dikasih uang kopi, yah, tetep aja.... Setelah diitung-itung, kelebihannya aja 113 kg (padahal kita udah punya allowance sampe' 90 kg, buseeet....), jadi mesti bayar sekitar Rp 2,5 jt! Ya ampun, lebih mahal dari harga tiketnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nunggu di ruang A-1, maaaak, pinuh pisang! Pasti ada yang delay... Akhirnya kita memutuskan untuk nunggu di luar. Di luar, pengumumannya agak kurang terdengar, sampe takut juga, jangan-jangan udah kelewat panggilannya. Dan ternyata, seperti yang sudah diduga, delay 45 menit (biasa....).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan ke Aceh ditempuh dalam waktu 4 jam (sebenernya sih 3 jam, yang 1 jam untuk transit di Medan). Naik Lion?? Hhhh.... jarak antar tempat duduk &lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;cuman 20 cm!! &lt;/span&gt;Tapi gimana, for the sake of penghematan, gimana lagi... Akhirnya, dengan posisi kaki terjepit, dan duduk terjepit di 11E (dan terpisah dari 2 temanku yang lain), diriku menempuh perjalanan selama 3 jam di udara. Udah gitu, selama di pesawat, flight attendantnya "lumayan" cerewet, dikit-dikit ada pengumuman, tapi pengumumannya gak tuntas. Masak waktu turun di Medan, sama sekali gak ada pengumuman tentang yang transit untuk ke Aceh, jadi seolah-olah kita ini pesawat jurusan Jakarta-Medan, terus yang mau ke Aceh gak jelas, akan naik pesawat yang sama, atau pindah pesawat. Yang parahnya, pesawat belum mendarat dengan sempurna, masa' udah terdengar ada HP yang bunyi!! Please donk! Di Bandara Polonia, gak kalah kacau, antrian transit panjang banget, sampe' pada waktu kita masuk ruang tunggu, masih ngantri di X-Ray kedua, ehhh, udah dipanggil naik ke pesawat! Gak sempet window shopping neh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda, liat kiri-kanan dulu, kok gak pada pake' kerudung ya? Oh, mungkin belum lewat "batas suci", hehehe. Di Bandara, setelah dijemput sama orang Pertamina (dan yang mana barang-barang kita yang begitu banyak ternyata cukup dalam 1 bagasi Kijang Innova... memang, Kijang tiada duanya...), kita ke kantor Pertamina Cabang Pemasaran Banda Aceh. Begitu memasuki batas kota, langsung deh, kerudungnya dipake (hahaha!). Setelah koordinasi kiri dan kanan, akhirnya kita berangkat ke Hotel Sulthan (konon satu-satunya hotel bintang 3 yang tersisa setelah tsunami, dan ternyata lumayan deket dari kantor Pertamina).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvnNyeblN7I/AAAAAAAAACU/LBupn5e5Adc/s1600-h/mesjid+baiturahman+1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114345118901811122" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvnNyeblN7I/AAAAAAAAACU/LBupn5e5Adc/s200/mesjid+baiturahman+1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah puas leyeh-leyeh di hotel, tibalah saatnya untuk ngabuburit. "Cilaka"nya, tadi pagi kan sahurnya masih ikut waktu Jakarta, bukanya kan harus ikut waktu setempat, which is 45 menit lebih lambat daripada Jakarta! Alamak! Jadilah, ngabuburit sore itu kita jalan-jalan ke Mesjid Baiturahman (yang ternyata nggak terlalu jauh dari hotel, jalan kaki paling 20 menit...). Tadinya sih mau cari ta'jil gratisan di mesjid, tapi kok gak ada tanda-tandanya ya?? Jam 18.00 WIB (di mana di Jakarta sudah waktu buka), masih terang donk... Akhirnya jam 18.40, kira-kira 5 menit sebelum buka, kita ber-3 udah nongkrong di tukang es campur di depan mesjid Baiturahman. Ditunggu-tunggu, kok nggak ada bunyi beduk atau adzan... Ternyata penanda waktu berbuka puasa-nya nggak pake' beduk, tapi pake' sirine, dan lama juga, ada kali 2-3 menit bunyi sirinenya sebelum adzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke hotel, shalat, terus jam 9 baru cari makan malam. Berhubung di deket hotel tidak ada yang jualan mie Aceh, akhirnya masuk aja ke tukang jualan sate Lamongan. Ternyata pas pesen soto, sotonya more spicy daripada yang di Jawa... Tapi suasananya emang... gimana gitu ya, mau berkeliaran sendiri rasanya nggak nyaman, apalagi pasti ketahuan bukan orang lokal (belum lagi k'lo pas apes, ditangkap gara-gara pergi sama bukan muhrimnya, wah, jangan sampe' deh...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besok paginya, sahur di hotel. Lumayan banyak pilihan, karena hotelnya nyediain buffet, dan yang sahur juga lumayan banyak, serasa jam breakfast aja. Pagi-pagi, tadinya dah SMS minta dijemput dari Pertamina, tapi kok gak dijawab-jawab ya? Akhirnya dengan gagah berani, kita jalan kaki ke Pertamina Cabang Banda Aceh (which is ternyata jauh, bo.... puasa gitu loh...), dan begitu sampai di Cabang Banda Aceh, untungnya mereka belum jadi ngirim mobil untuk menjemput....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvnR6-blN8I/AAAAAAAAACc/3d2uwXHe56I/s1600-h/pompa+Aceh+3.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5114349662977210306" style="FLOAT: right; MARGIN: 0pt 0pt 10px 10px; WIDTH: 97px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 129px" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvnR6-blN8I/AAAAAAAAACc/3d2uwXHe56I/s200/pompa+Aceh+3.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Pembukaan training, biasa-biasa aja. Pesertanya juga keliatan gak bersemangat, entah karena bulan puasa, atau karena dasarnya emang begitu (padahal instrukturnya sudah cukup bersemangat...). Waktu break (yang tanpa coffee, karena lagi bulan puasa), aku turun ke lapangan parkir, khusus untuk memotret pompa dispenser model super jadul, seperti yang ada di foto sebelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 12, aku meninggalkan 2 trainerku itu untuk kembali ke Jakarta. Begitu masuk airport Sultan Iskandar Muda, serasa udah sampe' di Medan.... langsung deh, kerudungnya dicopot (kembali ke dunia nyata, ehm...). Pulang ke Jakarta naik Garuda, wah, beda banget dari waktu berangkatnya. Jarak antar tempat duduknya lebih lebar, dapet konsumsi (yang bisa dibawa pulang, karena puasa gitu loh...), dan yang lebih menyenangkan lagi, antrian transitnya di Bandara Polonia gak separah Lion, jadi masih sempat mampir toko untuk beli Bolu Meranti (abis dari Aceh nggak bisa bawa apa-apa, karena gak jelas oleh-olehnya apa, masa' mau bawa ganja???). Udah gitu flight attendantnya gak terlalu cerewet, pengumuman seperlunya aja, dan cukup jelas (terutama buat penumpang transit, jadi jelas kita mesti ngapain). Memang, naik Garuda itu emang enak....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendarat nih di Cengkareng. Pas masih di atas, wah, syerem.... cuacanya berawan, entah jarak pandangnya berapa, pokoknya daratannya seperti tidak kelihatan. Udah gitu ada anak kecil yang rewel, hhh, suasananya jadi (makin) mencekam. Namun akhirnya kita mendarat dengan selamat di Cengkareng (dan paling tidak penumpang Garuda masih lebih "sopan", nggak terlalu banyak terdengar bunyi HP waktu pesawat belum berhenti di landasan...). Di ruang pengambilan bagasi, ternyata banyak counter-counter ta'jil gratis, dan alhamdulillah, terdengar adzan Maghrib... (karena tadi sahurnya di Aceh, jadi puasanya di"korting" 45 menit...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-4866249791475556958?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/4866249791475556958/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=4866249791475556958' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4866249791475556958'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/4866249791475556958'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2007/09/semalam-di-nad.html' title='Semalam di NAD'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RvnNyeblN7I/AAAAAAAAACU/LBupn5e5Adc/s72-c/mesjid+baiturahman+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-673229589569450316</id><published>2007-09-03T18:23:00.000-07:00</published><updated>2007-09-05T00:10:27.017-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='travel'/><title type='text'>Bukittinggi, I'll be back (soon)!!</title><content type='html'>On last week of August 2007, I went to Padang and Bukittinggi, preparing gas station training for Pertamina. Wow.... I've been planned this for months, and I'm glad I got chance to survey the  location before planning a "real vacation".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We (me and training team) arrived on Minangkabau International Airport (which was not so big, as I assumed before...), then we went to Pertamina Cabang Padang (which is 25 km from the airport). Padang is a nice city : not big (but not so small), not crowded and clean. Unfortunately we didn't have much time to city tour in Padang, because we have to prepare the classroom in Bukittinggi.&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RtzBuklO0qI/AAAAAAAAAB8/kyZUDFehtH8/s1600-h/terowongan+lembah+anai.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RtzBuklO0qI/AAAAAAAAAB8/kyZUDFehtH8/s200/terowongan+lembah+anai.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106169083369280162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;After lunch (which was on Padang restaurant, of course! But the taste is rather different than Padang restaurant at Jakarta), we travelled to Bukittinggi.  The scene was very beautiful, very green. The road looked like Bandung-Sumedang route at Cadas Pangeran, along the route we found rock cliff everywhere. We passed Lembah Anai and waterfall on the road side, wow, what a scene... What made the tour more dramatic was the railroad along the route, there were lot of railroad bridge and tunnel crossing the road (unfortunately, the train is not operated regularly anymore....). After Padang Panjang, we passed many village, looked very traditional and unique (although not in remote area). The village's (or disctrict, perhaps) name were sounds cute, for example, we saw a name plate written X Koto, it was read Sepuluh Koto, mean 10 villages.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RtzAkUlO0pI/AAAAAAAAAB0/OZXyDkBYfj8/s1600-h/jam+gadang+malam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 160px;" src="http://bp1.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RtzAkUlO0pI/AAAAAAAAAB0/OZXyDkBYfj8/s200/jam+gadang+malam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106167807763993234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;After 2 hours, we arrived at Bukittinggi. It was cool, and the air was clean (not polluted by big industries gas emission). Guess what? Our room at the hotel was without air-con, but when I wake up on the next morning, it was COLD! After we prepare the meeting room for the next day, at night we went to supermarket to buy couple of things, and have dinner at Kapau restaurant (the taste was different than Padang, more spicy, I thought). I took photo on Jam Gadang, the landmark of Bukittinggi. Not a perfect photo (because it was dark, and the clock was tall), but enough to show that I has take a step at Bukittinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/Rt5V1UlO0sI/AAAAAAAAACM/DPQXjZTGgDQ/s1600-h/ngarai+sianok+2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/Rt5V1UlO0sI/AAAAAAAAACM/DPQXjZTGgDQ/s200/ngarai+sianok+2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5106613402031018690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;On the next day, after lunch, I got to go back to Padang, catch the flight to Jakarta. Before leaving Bukittinggi, I stopped by Ngarai Sianok, the famous canyon at Bukittinggi (which was only a stone throw away from the hotel!).  The scene is very beautiful, very unique. After that, I bought some souvenirs at Pasar Atas. The most popular souvenirs was needleworks clothes, it was very beautiful, and also rather expensive... :-)  Unfortunately, since I didn't have much time, I haven't survey the Rumah Gadang, Bung Hatta's house, and other interesting place at Bukittinggi. So, after buying some special food from Bukittinggi (the famous krupuk Sanjay, of course!), I left Bukittinggi to the airport at Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He-uh, what a travelling, should be back there soon...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-673229589569450316?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/673229589569450316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=673229589569450316' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/673229589569450316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/673229589569450316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2007/09/bukittinggi-ill-be-back-soon.html' title='Bukittinggi, I&apos;ll be back (soon)!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RtzBuklO0qI/AAAAAAAAAB8/kyZUDFehtH8/s72-c/terowongan+lembah+anai.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-5697558948108828350</id><published>2007-06-26T01:09:00.000-07:00</published><updated>2007-07-18T22:11:36.381-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Bali, unforgetable getaway</title><content type='html'>Early of June, I made a trip to Bali (this is my 9th trip to Bali!). Since I had to stay there on weekend (before my program started on the next Monday), then I arranged trip to some tourism and historical object (later, my plan was interrupted by the car rental owner! Anyway, I still have lots of fun...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoDLWZucRgI/AAAAAAAAAAU/rh2wGxMWB-8/s1600-h/bedugul.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoDLWZucRgI/AAAAAAAAAAU/rh2wGxMWB-8/s200/bedugul.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080283965397157378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;One of the interesting place is Bedugul, a cool and peaceful place. You can find a Hindu temple on Bratan lake (like a floating temple), and also a Budhist stupa (I think the place is suitable for meditation, it is cool, calm, with beautiful scenery). See the photo, you can see the Ulun Danu temple on the background.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoivjkAGHZI/AAAAAAAAAAc/maVaw3gsRO8/s1600-h/dreamland.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 140px; height: 105px;" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoivjkAGHZI/AAAAAAAAAAc/maVaw3gsRO8/s200/dreamland.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5082505204981964178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoizckAGHaI/AAAAAAAAAAk/ghqNwiYUsT4/s1600-h/sunset.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 138px; height: 104px;" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoizckAGHaI/AAAAAAAAAAk/ghqNwiYUsT4/s200/sunset.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5082509482769391010" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;My trip ended at Dreamland, a "virgin" beach (but not so virgin after all... many tourists, still), where I watched sunset. The sunset scenery looks very awesomeeee... Just a perfect place to forget all your troubles (for a while, before returning to reality, hehehe...).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-5697558948108828350?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/5697558948108828350/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=5697558948108828350' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5697558948108828350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/5697558948108828350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2007/06/bali-unforgetable-getaway.html' title='Bali, unforgetable getaway'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_nUwzT0R93vw/RoDLWZucRgI/AAAAAAAAAAU/rh2wGxMWB-8/s72-c/bedugul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-2297212146948085671</id><published>2007-04-16T20:32:00.000-07:00</published><updated>2007-04-19T02:40:52.431-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kelapa sawit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nagabonar'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nagabonar 2'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='film'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><title type='text'>Nagabonar (jadi) 2 : Apa Kata Dunia??</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/Ric4LbJMMlI/AAAAAAAAAAM/gt1P1f821GE/s1600-h/image.php.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/Ric4LbJMMlI/AAAAAAAAAAM/gt1P1f821GE/s200/image.php.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5055070875662692946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;2 minggu yang lalu, kami baru aja nonton film Nagabonar (Jadi) 2. Setelah melalui perjuangan yang cukup heboh (udah sempet mau nonton di Plangi, tapi ternyata di Plangi 21 gak ada, hiks....), sambil sempet icip-icip masakan India di Sarinah (which very very Indian taste... gak nyesel sih ke sana, tapi k'lo mau ke sana lagi, tunggu ada yang traktir dech, hehehe), akhirnya kami berhasil mencapai Jakarta Theatre XXI. Buat aku (yang mana terakhir kali nonton di Jakarta Theatre mungkin udah lebih dari 15 tahun yang lalu), udah banyak banget yang berubah di Jakarta Theatre, termasuk setting bioskop yang lebih canggih dibandingin 15 tahun yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah filmnya diputar. Adegan pertama, Bonaga yang bergaya metroseksual, sedang naik mobil melintasi perkebunan kelapa sawit, sambil dengerin i-Pod. Alamak, E'i' s'kalee!! (note : E'i' itu teman kami yang juragan kelapa sawit beneran dari Medan :-) ) Jadi, pada saat penonton yang lain (mungkin) baru berpikir "ooh... ini si Bonaga", kami udah tertawa duluan, karena langsung kebayang si E'i' yang lagi inspeksi kebun kelapa sawitnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan demi adegan bergulir, menggambarkan konflik antar generasi yang dikemas ala komedi satire yang (cukup) ringan, tapi dalem banget. Bagi mereka yang belum pernah nonton Nagabonar 1 (which is ternyata salah satu adekku juga belum pernah nonton), ada beberapa hal (baik yang lucu maupun serius) yang mungkin perlu waktu untuk dipahami (soalnya k'lo gak ngerti, ketawanya suka telat, hehehe). Misalnya tentang paman Bujang, yang mati saat ia memakai seragam Nagabonar dan bertempur melawan Belanda hingga tewas. Kalau kita nggak pernah nonton Nagabonar 1, ada kemungkinan kita nggak faham kenapa Nagabonar marah-marah kepada Bujang yang sudah terbujur kaku di liang kubur, dimakan cacing pula. Dan mungkin juga kita nggak tahu bahwa paman Bujang itu bukan adiknya Nagabonar, tapi sobatnya Nagabonar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;K'lo secara keseluruhan, filmnya cukup menghibur. Memang mungkin ada beberapa hal yang gak pas, ato gak logis, ato maksa. Salah satunya adalah adegan bajaj di Bundaran HI, mana mungkin bajaj bisa masuk wilayah itu, lah wong semua akses ke Bundaran HI ketutup buat bajaj... (anyway, adegannya cukup lucu, dan nyindir abissss....) Untuk akting para aktornya, berhubung filmnya judulnya Nagabonar (jadi) 2, sah-sah aja k'lo bang Deddy Mizwar mendominasi hampir semua bagian cerita di film itu (karena kaya'nya yang ditonjolin di film ini adalah konflik batin tokoh Nagabonar yang masih kebayang-bayang jaman kemerdekaan, sementara jaman sudah berubah dan yang ada di depan mata adalah jaman internet), dan aktingnya Bang Deddy masih tetep oke (sambil berusaha ngebayangin kembali, 20 tahun yang lalu Nagabonar kaya' apa ya?). Sedangkan untuk tokoh Bonaga yang dimainkan Tora Sudiro, buat kami para penggemar Extravaganza, susah banget untuk menghilangkan image Tora sebagai komedian Extravaganza.  Film ini ngingetin kita juga, bahwa Tora punya sisi lain dalam kemampuannya berakting, di mana Tora gak cuman bisa ngocol di sketsa Extravaganza, tapi bisa juga berakting di film yang serius. Anyway, aku gak kebayang k'lo tokoh Bonaga ini dimainin aktor lain, mengingat tokoh Nagabonar yang sableng abis, mestinya anaknya juga rada sableng, jadi harus diperankan oleh aktor yang bisa berakting sableng (walopun ternyata Bonaga gak sesableng bapaknya, hahahaha...). K'lo aktor-aktor lain, well done, terutama buat Lukman Sardi yang memerankan Umar si tukang bajaj ngerangkep guru ngaji, sama Indra Birowo si tukang karpet (yang namanya udah muncul dari credit title awal, tapi orangnya baru nongol menjelang akhir, kita nunggu-nunggu loh, kapan Indra-nya keluar...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pesan yang sangat dalam dari film ini adalah : segala permasalahan bisa diselesaikan dengan cinta. Yang aku suka dari film ini, dari awal kita tahu bahwa film ini akan menampilkan konflik antar generasi, tapi konflik itu ditampilkan dengan sangat indah, tidak ditunjukkan dengan kekerasan, lebih banyak ke main kata-kata dan ekspresi. Digambarkan juga bahwa kesuksesan Bonaga tidak membuat ia lupa diri, karena digambarkan Bonaga seorang yang idealis dan sangat menghormati Bapak-nya. Nilai-nilai seperti ini yang sangat jarang kita temukan di televisi kita, yang cenderung lebih banyak menonjolkan kekerasan, anak berkelahi dan tidak hormat sama orang tua, dlsb dlsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi mereka para pecinta sinema yang mengharapkan film ini bisa setara dengan Nagabonar 1, siap-siap aja, karena mungkin ekspektasi anda tidak akan terpenuhi.  K'lo penilaianku, k'lo Nagabonar 1 nilainya 9 skala 10, Nagabonar (Jadi) 2 ini nilainya 8, lah. Dari segi alur cerita, kadang-kadang terasa agak kurang enak ngikutinnya, kaya' loncat-loncat. Kemudian ada beberapa adegan terasa gak logis ato maksa. Tapi dari segi ide cerita, dialog, sentilan, dan berbagai nilai yang disampaikan, film ini sangat orisinil, beda banget dengan film-film lokal lain yang saat ini beredar di pasaran, dan lebih bisa dinikmati semua umur, gak terbatas penonton dewasa (bisa dianggap film keluarga lah). Maka, bagi mereka yang nonton film ini untuk cari hiburan, film ini Te-O-Pe Be-Ge-Te alias TOPH BUANGETTT!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-2297212146948085671?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.nagabonar2.com' title='Nagabonar (jadi) 2 : Apa Kata Dunia??'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/2297212146948085671/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=2297212146948085671' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2297212146948085671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/2297212146948085671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2007/04/nagabonar-jadi-2-apa-kata-dunia.html' title='Nagabonar (jadi) 2 : Apa Kata Dunia??'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_nUwzT0R93vw/Ric4LbJMMlI/AAAAAAAAAAM/gt1P1f821GE/s72-c/image.php.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-116227135348044976</id><published>2006-10-30T21:06:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T11:09:17.172-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='lebaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ancol'/><title type='text'>Lebaran di Ancol</title><content type='html'>Lebaran di Ancol? Pasti udah pada liat fotonya di koran. Penuh banget!! (mungkin lebih penuh daripada cendol ato es campur...) Mulai dari mereka yang naik kendaraan umum, sampai mereka-mereka yang "mengungsi" ke hotel karena ditinggal mudik para pramuwisma. Wahana yang paling banyak diminati : "wahana antrian", karena di mana-mana ada antrian, mulai dari pintu masuk Ancol, di dalam Ancol, bahkan sampai di lobby hotel pun penuh dengan antrian. Anyway, salut untuk pengelola Ancol Bay City, karena dalam kondisi yang sangat penuh (koran Kompas bahkan menyebutkan bahwa pada weekend setelah Lebaran, jumlah pengunjung mencapai 300 ribu!), mereka masih berusaha menjaga kelancaran lalu lintas di dalam kompleks Ancol.&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa "oleh-oleh" dari Ancol :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Dugong.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 256px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 192px" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Dugong.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baby Dugong di Sea World lagi menghisap jempol&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Arapaima.jpg"&gt;&lt;img style="WIDTH: 252px; CURSOR: pointer; HEIGHT: 191px" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Arapaima.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Arapaima.jpg"&gt; &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ikan Purba (looks like alien from Star Trek!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/sebastian.jpg"&gt;&lt;img style="CURSOR: pointer" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/sebastian.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebastian, the lost crab from Little Mermaid ("adopted" from Sea World Ancol)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/cendol.jpg"&gt;&lt;img style="CURSOR: pointer" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/cendol.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alamak, penuhnya.... nyaris tak tersisa....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-116227135348044976?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/116227135348044976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=116227135348044976' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/116227135348044976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/116227135348044976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/10/lebaran-di-ancol.html' title='Lebaran di Ancol'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-116104803124868571</id><published>2006-10-16T17:46:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T18:08:47.011-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebakaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fire'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pertamina'/><title type='text'>Kantor Pertamina KEBAKARAN!!</title><content type='html'>Senin pagi (16/10/06), kami menerima SMS yang sangat mengejutkan : Kantor Pusat Pertamina KEBAKARAN!! OMG.... Terus kita ngecek di Metro TV, katanya yang kebakaran lantai 19-20, lah, itu khan kantornya Direksi... Akhirnya pagi-pagi kami melewati daerah Gambir (yang pada jam 07.30 ternyata tidak semacet yang dibayangkan), apinya masih keliatan di sisi utara gedung (yang mana menurut saksi mata yang dapat dipercaya, jam 08.00 api mulai terlihat menjalar di sisi selatan gedung). Di kantor, berita tentang kantor pusat Pertamina yang kebakaran terus dimonitor, mulai dari jam 10.40 katanya api mulai padam, tapi jam 11.00 ada api menyala lagi. Untungnya berita jam 12.00 menyatakan bahwa api dapat dipadamkan seluruhnya.&lt;br /&gt;Di bawah ini adalah 2 foto kondisi gedung Pertamina pada hari Senin pagi jam 07.30, diambil dari dalam mobil. Hiks....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Pertamina161006-1.0.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 268px; height: 211px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Pertamina161006-1.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;  &lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Pertamina161006-2.0.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 281px; height: 212px;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Pertamina161006-2.0.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Pertamina161006-1.0.jpg"&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-116104803124868571?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/116104803124868571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=116104803124868571' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/116104803124868571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/116104803124868571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/10/kantor-pertamina-kebakaran.html' title='Kantor Pertamina KEBAKARAN!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-115483128062987191</id><published>2006-08-05T19:22:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T19:12:14.759-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kahlil gibran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cinta'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kla project'/><title type='text'>Bekerja Dengan Cinta</title><content type='html'>Saat ini aku sedang duduk di gerbong kereta yang membawaku menuju tanah kelahiranku. Beberapa hari yang lalu, aku masih berkutat dengan teman-temanku di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, menyelesaikan sebuah pekerjaan yang sangat menantang. Tanpa terasa, sudah lebih dari sebulan kami jungkir-balik menyelesaikan pekerjaan ini, dengan penuh suka duka, dalam canda dan air mata. Aku merenungi kembali masa-masa itu, sungguh tak kukira, bahwa kami memiliki tekad yang sama : menyelesaikan pekerjaan ini dengan sebaik-baiknya, dengan penuh totalitas, demi sesuatu yang lebih berharga daripada materi, yaitu nama baik. Sayup-sayup di headsetku terdengar lantunan merdu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bekerja dengan cinta, bagai sang pencipta&lt;br /&gt;Membentuk citra insaninya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersentak. Ah, apakah ini yang sesungguhnya pantas disebut sebagai "Bekerja dengan Cinta"? Bekerja dengan mencurahkan segala perasaan dan penuh totalitas untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan sebaik-baiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deru roda kereta semakin kencang. Terik matahari semakin menerpa kaca jendela gerbong kereta. Aku merenung kembali, mengingat apa yang pernah dilontarkan temanku tentang "Bekerja dengan Cinta", bahwa "Bekerja dengan Cinta" itu adalah bekerja untuk seseorang yang semata-mata dilandasi oleh cinta kita pada orang itu. Namun aku melihat hasil pekerjaannya tidak menunjukkan suatu kualitas seperti yang dapat dicapai bila pekerjaan itu dilakukan dengan sepenuh hati. Apakah "cinta" yang dimaksud hanya sedangkal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumengingat kata Sang Pujangga :&lt;br /&gt;"Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan mengenakannya nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Sang Pujangga telah menyiratkan, bahwa bekerja dengan rasa cinta itu adalah mencurahkan segala perasaan dengan penuh totalitas, sehingga akan menghasilkan suatu mahakarya yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemarin itu, setelah segala daya upaya tercurah, setelah segala rasa tertumpah, setelah pada akhirnya semua totalitas itu dituangkan menjadi suatu hasil karya, barulah aku sadar, mungkin inikah yang disebut dengan "Bekerja dengan Cinta"...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi peluit kereta api menyadarkanku dari lamunan, ah, ternyata kami sedang berhenti di sebuah stasiun, menunggu giliran lewat. Tanpa sadar, kaset di walkmanku sudah mencapai akhir. Aku membalik kaset di walkmanku, dan terdengarlah lantunan merdu : "Bulan merah jambu...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Posting ini dipersembahkan bagi sahabat-sahabat terdekatku yang telah memberiku inspirasi dalam memaknai "Bekerja dengan Cinta".&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-115483128062987191?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/115483128062987191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=115483128062987191' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/115483128062987191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/115483128062987191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/08/bekerja-dengan-cinta.html' title='Bekerja Dengan Cinta'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-115439519500263750</id><published>2006-07-31T17:55:00.000-07:00</published><updated>2010-04-11T08:54:52.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='garuda indonesia'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='airline'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pesawat'/><title type='text'>Gift from Garuda Indonesia</title><content type='html'>Bulan Juli yang lalu aku dapet "rejeki" dari Garuda. They upgraded my flight seat from Economy to Executive Class! Dan kejadian ini bukan cuman terjadi 1x, tapi 2x. K'lo bayar sendiri, mana mungkin diriku duduk di Executive Class (kecuali kepepet, tentu saja), apalagi untuk penerbangan dengan durasi kurang dari 1 jam, belum sempat menikmati &lt;em&gt;indulgence &lt;/em&gt;di Executive Class, pesawatnya udah keburu turun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian pertama, penerbangan Semarang-Jakarta tanggal 9 Juli 2006 jam 18.10. Hari itu sebenarnya sudah diwarnai dengan berbagai ketidaknyamanan di bandara A. Yani Semarang. Mulai dari bandara yang lagi direnovasi, nyaris ditolak masuk Exec Lounge yang dijaga oleh penjaga pintu yang amat sangat tidak kooperatif (padahal untuk penumpang Garuda dan pemegang Gold Credit Card, sebenarnya bisa langsung masuk ke Garuda Lounge!), ditambah ternyata pesawatnya delay 30 menit. Sempet ngobrol sama seorang Ibu di Garuda Lounge, bahwa beda antara Economy dan Executive Class itu cuman handuk panas dan jus jeruk, dan berhubung si Ibu duduk di Executive Class dan suaminya duduk di Economy, beliau berjanji akan membelikan jus jeruk sebotol untuk suaminya sebagai kompensasi. :) Lah kok tiba-tiba pada waktu boarding &lt;em&gt;ujug-ujug &lt;/em&gt;boarding passku ditukar dan aku disuruh duduk di Executive Class.... Sempet terkejut-kejut, gak percaya dan bolak-balik nanya ama ground crew-nya Garuda, apa yang sebenarnya terjadi? Katanya sih karena pesan tiketnya dengan Garuda Frequent Flyer. Ohh... Jadilah diriku menikmati jus jeruk dan handuk panas seharga Rp 250 rebong, for free (of course!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian kedua, penerbangan Jakarta-Solo tanggal 27 Juli 2006 jam 09.30. Semalam sebelumnya, karena Eyang di Solo meninggal dan kami harus terbang ke Solo, kami sudah booking 2 tiket Ekonomi (yang mana itu 2 seat terakhir!). Ceritanya kami sudah mengenyangkan diri di Exec Lounge (siap-siap untuk tidak makan siang, karena kami harus menghadiri pemakaman Eyang). Lah kok pas boarding, &lt;em&gt;ujug-ujug &lt;/em&gt;ground crew-nya bilang bahwa tiketku diupgrade ke Executive Class! Ohh... rejeki nomplok lagi. Ya sudah, akhirnya diriku dan adekku menikmati (kembali) &lt;em&gt;indulgence&lt;/em&gt; di Executive Class. Hmmm... yummy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/mag_058.jpg" border="0" /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-115439519500263750?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/115439519500263750/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=115439519500263750' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/115439519500263750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/115439519500263750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/07/gift-from-garuda-indonesia.html' title='Gift from Garuda Indonesia'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-115163919559755264</id><published>2006-06-29T20:38:00.001-07:00</published><updated>2007-04-18T19:27:49.632-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='semarang'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sam po kong'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><title type='text'>Gado-Gado Semarangan</title><content type='html'>Bulan lalu, perusahaanku menyelenggarakan training di Semarang, dan mengirim aku untuk dinas ke Semarang. This is my little thought about Semarang....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah Ibu Kota Propinsi, Semarang terlalu sepi. But it's a nice and unique city. Buat orang yang senang ketenangan, Semarang cocok banget untuk tempat tinggal. Suasana Semarang mengingatkanku pada Bandung di tahun 1980-an, di mana kontur kota berbentuk pegunungan dengan lalu lintas tidak terlalu ramai (please note : Bandung mah sekarang sudah *terlalu* ramai!). Kontur Semarang menjadi unik, karena Semarang terletak di tepi pantai, namun sebagian kota Semarang terletak di daerah pegunungan. Saking sepinya, pusat perbelanjaan di Semarang pun gak terlalu banyak (dan yang *agak* menyedihkan : suplai kelengkapan komputer ternyata susah dicari di Semarang, hiks....).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Chengho02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Chengho02.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Di Semarang ternyata gak banyak tempat wisata, yang menjadikan salah satu kendala kami dalam menentukan tempat tujuan wisata buat peserta training. Pusyiiiing..... Pilihan yang ada cuma gedung Lawang Sewu (yang konon merupakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;the most haunted building &lt;/span&gt;di Semarang), taman Maerokoco (yang udah sepiiii banget), museum Ronggowarsito, dan wisata budaya klenteng Sam Po Kong (seperti yang terlihat di gambar sebelah kiri, foto ini diambil tahun 2005, saat persiapan menjelang festival 600 tahun pelayaran Cheng Ho keliling dunia), yang k'lo kita masuk ke dalamnya, serasa berada di Cina (padahal kuil di Cina ternyata nggak seperti ini loh...). Jadinya kalau mau piknik, kita terpaksa harus mencari ke arah Ungaran, atau ke arah Demak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anyway, tapi asik juga sih berlibur, eh, berdinas ke Semarang, soalnya di sana jarang banget  ketemu sama yang namanya macet.... :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-115163919559755264?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/115163919559755264/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=115163919559755264' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/115163919559755264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/115163919559755264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/06/gado-gado-semarangan.html' title='Gado-Gado Semarangan'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-114886761119245336</id><published>2006-05-28T18:44:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T19:29:57.052-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jurnalistik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='koran'/><title type='text'>Media oh Media...</title><content type='html'>Kadang-kadang aku heran, kenapa semakin hari, pemberitaan di koran semakin "tidak beretika" (but maybe that's only my opinion!), dan bahkan cenderung membesar-besarkan berita yang sebenarnya. Mulai dari kasus sampah di Bandung, sampai penanganan tragedi gempa tektonik di Yogyakarta. Of course, kita gak bisa menutup mata dengan kenyataan bahwa sampah di Bandung memang tidak ditangani secara benar, atau penanganan korban bencana gempa di Yogya berjalan lambat. Tapi pemberitaan yang mengesankan seolah-olah seluruh kota Bandung penuh dengan sampah (yang mana sampah sebenarnya terkonsentrasi dalam jumlah besar di titik-titik tertentu), atau seolah-olah pemerintah tidak mengambil tindakan apa pun dalam menangani korban bencana gempa Yogya (tentunya penanganan bencana sebesar ini harus direncanakan dan di-manage dengan seksama, supaya bantuan betul-betul sampai kepada yang membutuhkan), terkadang disampaikan terlalu berlebihan (belum lagi wawancara dengan orang-orang yang hanya bisa NATO : no action talk only). I wonder, betulkah jurnalistik sudah tidak punya etika lagi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-114886761119245336?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/114886761119245336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=114886761119245336' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114886761119245336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114886761119245336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/05/media-oh-media.html' title='Media oh Media...'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-114820060573206535</id><published>2006-05-21T01:23:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T19:37:32.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='vacation'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='liburan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bandung'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><title type='text'>Bandung oh Bandung...</title><content type='html'>This afternoon I've returned from Bandung to Jakarta. Yesterday I made a trip to Pasar Baru and Alun-Alun Bandung, to visit my favorite handicraft supply stores.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First stop is at Dunia Baru, which I used to buy cute buttons and cords. Sad to say, the buttons sold there are not as cute as they used to sell couple of years ago. I saw some beads, hmmm..  that's give me inspiration to try some new craft in beads jewelry! So I bought some, and as soon as I finish the jewelry, I'll publish it. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Next stop was handicraft store in front of Toko Jopankar. I think it's the most complete handicraft store in Bandung, but unfortunately, I didn't need anything at the moment, so I just bought a bunch of acrylic wool. One of the shopkeepers still recognized me (although I haven't been there for 3 years!). If you have a handicraft hobby, and you stay in Bandung, you better take a look at this store.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alun-Alun Bandung is a nice place for "economic" shopping. You just need one stop shopping there and you can get all the things you need!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-114820060573206535?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/114820060573206535/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=114820060573206535' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114820060573206535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114820060573206535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/05/bandung-oh-bandung.html' title='Bandung oh Bandung...'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-114611763139794353</id><published>2006-04-26T22:59:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T19:43:29.611-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebakaran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='training'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fire'/><title type='text'>Fire Drill!!!!</title><content type='html'>Today me and my friends went to Pelita Air Services headquarter to discuss about training program to be. While waiting in their office, the alarm is start to sound. Oh my God, are we on fire?! The person whom we met said it just a fire drill. Fyuh.... But after few minutes, he requested us to participate the drill, and run through the stair! So, as good visitors, we participated the drill, and follow the employees to assembly area. Hehehe.... I think it's a good drill, because they used real fire, real fire engine, real firemen, and all the employees and visitor should follow the drill. Thanks God it's only a drill...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-114611763139794353?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/114611763139794353/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=114611763139794353' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114611763139794353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114611763139794353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/04/fire-drill_26.html' title='Fire Drill!!!!'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-114593591370212174</id><published>2006-04-24T20:28:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T19:47:29.700-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cross stitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kristik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><title type='text'>New Craft Workshop</title><content type='html'>&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Arthur%20tidur.0.jpg" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;I just start my (commercial) craft publication, find it on &lt;a href="http://rhien-craft.blogspot.com/"&gt;L'atelier d'Arin&lt;/a&gt;. Oh, and please meet Arthur, one of my favorite craft model. :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-114593591370212174?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/114593591370212174/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=114593591370212174' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114593591370212174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114593591370212174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/04/new-craft-workshop.html' title='New Craft Workshop'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-114523719521182336</id><published>2006-04-16T17:55:00.000-07:00</published><updated>2007-04-18T20:05:18.238-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cross stitch'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='eeyore'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='craft'/><title type='text'>My Recent Craft</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Recent Project&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Marylin.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 10px 10px 0px; float: left; width: 178px; height: 124px;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/320/Marylin.jpg" border="0" height="131" width="207" /&gt;&lt;/a&gt;Finally, I've finished (another) ready-to-stitch with Bearylinn Monroe. She's a cute lady bear, isn't she? Actually I plan to make this bag as a gift to a friend, but unfortunately the zipper is not working appropriately, so I decide to give my friend another gift, and this bag become one of my properties. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;strong&gt;Eeyore oh Eeyore!!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/1600/Tower1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px 0px 10px 10px; float: right;" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/5885/2713/200/Tower1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Here is another Eeyores formation : the tower. Watchout Eeyore, you're climbing too high!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-114523719521182336?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/114523719521182336/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=114523719521182336' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114523719521182336'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114523719521182336'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/04/my-recent-craft.html' title='My Recent Craft'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-25916216.post-114481094531911297</id><published>2006-04-11T19:59:00.000-07:00</published><updated>2006-04-11T20:02:25.326-07:00</updated><title type='text'>First Posting</title><content type='html'>Akhirnya...... gue "terpaksa" bikin blog juga. Masih belum tahu, nih, mau diisi apa. Mungkin diisi tentang Eeyore aja kali yaa..... :-)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/25916216-114481094531911297?l=tathagati.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://tathagati.blogspot.com/feeds/114481094531911297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=25916216&amp;postID=114481094531911297' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114481094531911297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/25916216/posts/default/114481094531911297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://tathagati.blogspot.com/2006/04/first-posting.html' title='First Posting'/><author><name>arini</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00919190979218256822</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_nUwzT0R93vw/SUKZNI3B4lI/AAAAAAAAAIM/0kNE7fcAvl4/S220/graphic+pen.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
